Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2026

Taufik Hidayat "Monster Berwajah Manusia" Akhirnya Ditangkap

Taufik Hidayat "Monster Berwajah Manusia" Akhirnya Ditangkap.
Bisa dinobatkan, Taufik Hidayat ini (bukan yang itu) lelaki paling kejam abad ini. Pacarnya disiksa udah kayak binatang. Sambil menunggu laga Portugal vs Uzbekistan, siapkan Koptagulnya, dan nikmati narasinya, wak!

Tiga tahun. Bukan tiga hari, bukan tiga minggu, melainkan tiga tahun penuh YTR, seorang perempuan berusia 29 tahun asal Rancaekek, harus menanggung siksa lahir dan batin di sebuah kontrakan kumuh di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Semua atas nama hubungan yang keliru disebut "pacaran". Di usianya terbilang muda, cakrawala YTR bukan lagi langit Bandung yang sejuk, melainkan kegelapan abadi. Karena, kedua bola matanya telah padam selamanya, buta permanen. Ini sebuah vonis dijatuhkan bukan oleh hakim, melainkan oleh tangan kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat. 

Namun, keganasan Taufik tidak berhenti di situ. Ia merampas enam gigi depan korban hingga copot, lalu dengan sadis menyumpal bibir YTR dengan gunting hingga robek dan sumbing, seolah-olah ingin memastikan, perempuan itu tak hanya kehilangan penglihatan, tapi juga kehilangan martabat untuk tersenyum. Di sekujur tubuhnya, luka melepuh menghiasi kulit layaknya kanvas abstrak, bekas sundutan rokok menjadi ritual kekejaman rutin selama 1.095 hari. Sungguh sebuah mahakarya biadab yang membuat bulu kuduk merinding dan perut mual.

Sementara YTR terbaring luka-luka di RSHS Bandung. Ia menunggu operasi demi operasi tak kunjung selesai, publik digemparkan oleh ulah sang tersangka. Taufik Hidayat, pria berusia 30 tahun dengan nyali selubung langit ini, sempat menjadi buronan. Hal ini membuat seluruh penjuru Jabar gempar. Sampai-sampai Gubernur Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM harus menggelontorkan uang pribadinya Rp250 juta untuk sekadar sayembara. 

Ya, betapa ironisnya, harga kepalanya dihargai ratusan juta. Ini lebih mahal dari seekor sapi unggul. Padahal nyawa dan masa depan seorang perempuan hanya ia nodai dengan tiga tahun siksa tanpa bayaran. 

Ketika tim gabungan Polda Jabar akhirnya meringkusnya di kawasan Majalaya pada Selasa malam, 23 Juni 2026, apa yang dilakukan oleh monster berwajah manusia ini? Ia memotong rambutnya pendek-pendek. Sungguh strategi kabur yang brilian! Seakan-akan dengan mencukur habis surai di kepalanya, ia bisa menghapus jejak kekejaman yang tertancap di tulang korban. Seakan-akan rambut pendek adalah jubah tembus pandang yang membuatnya luput dari murka Tuhan dan manusia.

Ketika ia duduk santai di dalam mobil polisi, dengan tangan terikat namun raut muka datar tanpa penyesalan. Di situlah puncak sandiwara tragis ini. Ia tidak gemetar, tidak menangis, apalagi meminta maaf. Ia hanya duduk selayaknya penumpang angkutan kota yang kehabisan rokok. Publik dibuat naik pitam oleh sikap dinginnya yang keterlaluan. Sementara KDM memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada Polda Jabar. 

Luar biasa! Penangkapan yang katanya hasil jerih payah tim gabungan ini memang patut dirayakan. Namun jangan lupa, hadiah ratusan juta rupiah itu kini berpindah tangan ke aparat. Sementara YTR masih buta, masih meraba-raba dinding rumah sakit mencari cahaya yang tak akan pernah ia temui lagi. Darah mendidih mendengar Taufik tidak menunjukkan setetes pun rasa bersalah. Ia seolah-olah mencabut enam gigi dan mengguntung bibir hanyalah kesalahan kecil seperti lupa mematikan kompor. 

Masyarakat bertanya, apakah hukum mampu membayar lunas keadilan untuk seorang gadis yang kini hanya bisa mendengar deru amarah kita, tapi tak pernah lagi bisa melihat wajah para pendukungnya? Jika surga punya pintu, sudah seharusnya tertutup rapat-rapat untuk Taufik. Biarkan ia merasakan bagaimana gelapnya dunia yang telah ia ciptakan untuk YTR, selama-lamanya.

Wahai kaum hawa, seandainya Taufik ada di depan kalian saat ini, ekspresi apa yang akan kalian lakukan?

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Sabtu, 20 Juni 2026

Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir

Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir
Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir.
Tahun 2016, Jepang membuat sebuah film berjudul Survival Family. Film garapan Shinobu Yaguchi itu bercerita tentang satu kejadian yang awalnya tampak sederhana, listrik tiba-tiba hilang. ATM mati. Kereta berhenti. Ponsel menjadi benda purbakala. Kota Tokyo yang modern mendadak lumpuh. Pada akhirnya, satu keluarga terpaksa meninggalkan kota dan bermigrasi ke desa demi bertahan hidup.

Saat itu banyak penonton tertawa. Ceritanya terasa terlalu berlebihan. Namun Juni 2026 ini, sebagian rakyat Indonesia mungkin mulai menontonnya dengan ekspresi yang berbeda.

Sebab ancaman pemadaman bergilir kini bukan lagi cerita layar lebar. Ia mulai menghantui dunia nyata.

Wilayah yang disebut-sebut berpotensi terdampak bukan daerah kecil yang jauh dari peradaban. Yang disebut justru kawasan paling padat dan paling produktif di Indonesia. Jabodetabek. Jawa Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Hingga Bali.

Nuan bayangkan sebentar. Jakarta yang biasanya terang benderang seperti tidak pernah tidur tiba-tiba bergelap-gelapan. Bekasi mendadak lebih gelap dari masa depan pencari kerja. Bandung kehilangan cahaya yang selama ini menerangi kafe-kafe hingga dini hari.

Kawasan industri Jawa Tengah berhenti berdenyut. Pabrik-pabrik Jawa Timur mendadak sunyi seperti kuburan mesin. Bali yang hidup dari pariwisata harus menjelaskan kepada turis mengapa hotel berbintang tiba-tiba mengandalkan genset. Kalau itu benar-benar terjadi, bukan hanya lampu yang padam. Urat nadi ekonomi ikut tersendat.

Masalahnya terdengar sederhana, batu bara. PLN membutuhkan sekitar 154 juta ton batu bara tahun ini. Namun kontrak yang sudah diamankan baru sekitar 134 juta ton. Artinya terdapat kekurangan sekitar 18 hingga 20 juta ton.

Angka itu mungkin terlihat seperti deretan angka biasa di laporan rapat. Tetapi di dunia nyata, angka itulah yang bisa menentukan apakah jutaan rumah tetap terang atau berubah menjadi adegan film horor.

Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang setiap tahun menjual batu bara ke seluruh dunia. Indonesia seperti pemilik depot air terbesar di kota, tetapi keluarganya sendiri antre membawa ember.

Di sisi lain, harga DMO yang dipatok US$70 per ton sejak 2018 dianggap tidak lagi menarik oleh sebagian perusahaan tambang. Sementara harga ekspor bisa mencapai US$84 hingga US$121 per ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang kenaikan harga DMO menjadi US$80 hingga US$90 per ton agar pasokan untuk PLN tetap aman. Kalau harga dinaikkan, perusahaan tambang tersenyum. Kalau harga tidak dinaikkan, pasokan bisa seret. PLN berdiri di tengah seperti wasit yang disuruh membela dua tim sekaligus. 

Yang membuat publik semakin gelisah adalah ingatan tentang blackout besar di Sumatera bulan lalu masih sangat segar. Memang pemerintah menjelaskan, blackout tersebut terjadi akibat gangguan sistem kelistrikan, bukan karena krisis energi. Tetapi rakyat tentu berhak bertanya.

Bulan lalu Sumatera gelap. Bulan ini Jawa dan Bali diancam pemadaman bergilir. Besok wilayah mana lagi? Belum tentu ini krisis energi.

Tetapi beginilah biasanya sebuah krisis datang. Tidak memakai sirene. Tidak membawa spanduk. Tidak mengirim surat pemberitahuan. Ia datang diam-diam. Diawali satu gangguan. Lalu gangguan berikutnya.

Kemudian muncul kekurangan pasokan. Lalu muncul kebijakan darurat. Sampai akhirnya semua orang baru sadar ketika keadaan sudah telanjur kacau. Mungkin itulah bagian paling tragis dari cerita ini.

Indonesia tidak sedang kekurangan batu bara. Negeri yang dijuluki “Negeri MBG” sedang menghadapi paradoks jauh lebih menakutkan, negeri yang duduk di atas gunung energi, tetapi rakyatnya mulai khawatir menghadapi kegelapan.

Kalau “Survival Family” adalah film fiksi, maka Indonesia hari ini seperti sedang menulis naskah sekuelnya sendiri. Bedanya, yang menjadi pemeran utamanya bukan keluarga di Tokyo. Melainkan 280 juta rakyat yang hanya berharap satu hal sederhana setiap malam, saat saklar ditekan, lampu tetap menyala. Satu-satunya yang tertawa dengan kondisi tersebut, kampung yang sampai hari ini belum dialiri listrik.

“Wah, gawat kalau di Pontianak juga padam listrik, Bang. Susah nak ngopi.”

“Tenang, ngopinya siang hari, wak. Malam, di rumah ngopinya,” ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan

Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan
Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan.
Ada satu spesies selalu diremehkan penguasa Indonesia dari zaman ke zaman. Bukan oposisi. Bukan partai politik. Bukan influencer TikTok yang jualan affiliate sambil ngomong demokrasi. Spesies itu bernama mahasiswa.

Makhluk ini unik. Dompetnya tipis, tugasnya tebal. Makan kadang mi instan, minum kopi sachet, tidur tiga jam sehari, tapi punya hobi membuat penguasa berkeringat dingin, bertanya terlalu banyak.

Hari ini, Sabtu 20 Juni 2026, mahasiswa kembali turun ke jalan. Di Jakarta, mahasiswa dari Trisakti, Esa Unggul, Mercu Buana, HMI, hingga UGM memadati kawasan DPR/MPR dan Patung Kuda. Mereka menuntut pemulihan ekonomi, turunkan Pertamax, evaluasi total Program MBG, penolakan UU Polri, penolakan militerisme di ranah sipil, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Di Surabaya dan Banjarmasin, mahasiswa menyuarakan keresahan ekonomi. Di Banyuwangi, sekitar 200 mahasiswa sampai mengirim surat tuntutan ke rumah Ketua DPRD karena kecewa pejabat yang ditunggu tak kunjung muncul. Ini sudah seperti pelanggan galak yang mencari pemilik warung karena pesanan tak kunjung datang. Di Kendari, demonya ricuh.

Lalu muncullah babak lebih menarik.

Ketika mahasiswa bergerak, tiba-tiba lahir aksi tandingan. Di Malang dan Pontianak, ribuan pendukung MBG dari kalangan pengusaha, UMKM, petani, dan relawan menggelar apel akbar. Mereka mengenakan pakaian putih, membawa poster bertuliskan "Prabowo Baik", mendukung penuh MBG, dan menolak penghentian program tersebut.

Di sinilah naluri politik liar mulai bekerja.

Kalau tujuannya menyampaikan dukungan kepada pemerintah, silakan. Demokrasi memang memberi ruang bagi semua pihak. Tetapi kalau tujuannya untuk menandingi gerakan mahasiswa, ini seperti menantang ikan hiu berenang di laut sambil membawa pelampung bebek.

Salah pilih lawan, Wak.

Mahasiswa itu tidak bergerak karena kontrak. Mereka tidak turun ke jalan karena ada surat tugas. Mereka tidak bangun pagi karena honor kegiatan cair. Mereka bergerak karena marah. Orang marah jauh lebih sulit dihentikan dibanding orang yang sedang bekerja atau dibayar nasbung karet dua.

Inilah yang sering gagal dipahami para ahli strategi politik yang mungkin terlalu lama melihat survei dan terlalu jarang melihat kantin kampus. Mereka mengira mahasiswa bisa dihadapi dengan metode mobilisasi massa.

Padahal sejarah Indonesia sudah berkali-kali memberi tutorial gratis. Orde Lama tumbang, mahasiswa ada di depan. Orde Baru tumbang, mahasiswa juga ada di depan. Setiap kali kekuasaan mulai merasa dirinya abadi, mahasiswa selalu muncul seperti notifikasi sistem tidak bisa di-skip.

Yang lucu, mahasiswa selalu dituduh sama. Katanya ditunggangi oligarki. Katanya ada sponsor besar. Katanya ada Soros. Katanya ada kekuatan asing, antek asing. 

Padahal sebagian besar mahasiswa yang turun ke jalan masih bingung membagi uang antara fotokopi materi kuliah atau membeli ayam geprek level lima. Kalau benar mereka dibiayai kekuatan global, minimal demonstran sudah datang naik Alphard, makan di restoran mewah, atau bagi-bagi amplop usai demo.

Masalah terbesar bagi penguasa bukanlah mahasiswa yang turun hari ini. Masalah sebenarnya adalah efek domino. Karena setiap upaya melawan gerakan mahasiswa sering menghasilkan satu hal yang tidak diinginkan, solidaritas.

Mahasiswa yang tadinya diam jadi ikut bergerak. Kampus yang tadinya netral mulai bersuara. Organisasi yang biasanya sibuk rapat internal tiba-tiba menemukan musuh bersama. Semakin ditekan, semakin rapat barisan mereka.

Nuan byangkan bila seluruh mahasiswa Indonesia benar-benar kompak. Dari Aceh sampai Papua. Dari kampus negeri sampai kampus swasta. Dari organisasi ekstra sampai BEM kampus.

Itu bukan demonstrasi lagi. Itu sudah seperti patch update nasional yang memaksa seluruh sistem politik melakukan restart.

Karena itu, kalau ada yang berpikir gerakan mahasiswa bisa dikalahkan dengan demo tandingan, mungkin perlu membuka kembali buku sejarah yang sudah berdebu di rak perpustakaan.

Mahasiswa cuma takut dua hal, nilai E dan dosen pembimbing yang berkata, “Besok revisi lagi.”

Selain itu? Mereka relatif sulit ditakut-takuti. Tak bisa dihadang dengan warter canon, kawat berduri, gas air mata. Ketika mereka sudah parah, jangan sampai ada yang kabur ke luar negeri lagi.

Itulah sebabnya, sejak republik ini berdiri, tidak pernah ada penguasa yang benar-benar menang melawan mahasiswa. Yang ada hanya penguasa yang terlambat menyadari, suara paling keras di negeri ini sering kali berasal dari anak-anak muda yang datang membawa spanduk kusut, toa rusak, dan sebotol air mineral. Namun anehnya, selalu berhasil membuat istana mendengar.

“Bang, di Bundaran Untan tadi ada juga emak-emak demo dukung MBG.”

“Biarkan saja. Kita tetap gelar tikar sambil seruput Koptagul, wak!” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalian pasti dengar teriak para pendemo pro MBG. “Kalau ada masalah, diperbaiki." "Kalau ada kebocoran, dibenahi." "Kalau ada korupsi, pelakunya ditangkap." "Jangan programnya yang dihentikan." Begitukan? 

Sekilas terdengar masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Siapa juga yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Siapa yang berani terang-terangan bilang anak sekolah tidak perlu makan siang?

Masalahnya bukan di situ. Masalahnya justru ada pada pertanyaan paling sederhana yang terus dihindari, “Diperbaiki bagaimana?”

Karena yang sedang dihadapi bukan sekadar kesalahan teknis. Bukan sekadar nasi kurang matang atau lauk kurang garam. Yang sedang dihadapi adalah penyakit kronis bernama korupsi yang sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ birokrasi. Sudah jadi budaya, local wisdom, ciri khas negeri.

Kalau pipa bocor, ya diganti. Kalau jalan berlubang, ya ditambal. Kalau mental korupsi sudah akut, mau ditambal pakai apa? Lem Korea? Lakban anti-air? Atau doa bersama tiga malam berturut-turut?

Publik sudah terlalu sering mendengar janji "perbaikan tata kelola". Kalimat itu sudah seperti ringtone lama yang diputar berulang-ulang sejak KPK ngejar Harun Masiku.

Setiap ada skandal, jawabannya sama. Perbaiki tata kelola. Perkuat pengawasan. Tingkatkan transparansi. Evaluasi menyeluruh.

Hasilnya? Koruptor baru lahir lebih cepat dari laporan evaluasinya selesai.

Lihat saja apa yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Baru seumur jagung, belum juga program berjalan penuh ke seluruh Indonesia, publik sudah disuguhi parade tersangka. Gerombolan Haji Dadan cs betapa rakus mengeruk uang rakyat. Siswa dapat jatah MBG seharga Rp10 ribu, mereka sehari Rp1 miliar. Sudah enam jadi tersangka. 

Enam. Bukan satu. Bukan dua. Enam. Jumlah yang cukup untuk membuat satu tim futsal korupsi lengkap dengan pemain cadangan.

Lalu muncul lagi pernyataan yang lebih bikin jidat berkerut. Menurut Sony, ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Empat puluh satu. Kalau angka itu benar, berarti yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus.

Yang ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Yang lebih menarik, Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman.

Artinya apa? Artinya cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka. Karena itulah publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi. Bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan. Bukan juga karena mereka membenci MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi.

Hari ini ditemukan korupsi. Besok diumumkan perbaikan. Lusa ditemukan korupsi baru. Minggu depan diumumkan reformasi. Bulan depan muncul tersangka tambahan. Siklusnya berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan. Lalu ada pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program.

Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?

Karena masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu. Bukan soal telur atau susu. Bukan soal ayam atau tempe. Masalah terbesar MBG adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang.

Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya. Maka ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik.

Baik. Diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju?

Sebab kalau jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir, yang sedang diperbaiki bukan programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.

Semoga dibaca yang masih bersemangat mendukung MBG. Kalau merasa baper, yok kita seruput Koptagul, malam minggu ni, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Minggu, 14 Juni 2026

Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan

Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan
Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan.
Akhir-akhir ini nama Tyo Ardianto bikin sebagian elite politik seperti mendengar alarm kebakaran berbunyi di dalam kamar tidur. Mantan Ketua BEM KM UGM periode 2025-2026 ini kalau bicara membuat dua politisi gaek, udah tua seperti kebakaran jenggot. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Tyo ini cuma anak muda yang ngomong. Tidak membawa tank. Tidak membawa pasukan. Tidak membobol APBN. Tidak pula ketahuan mengemplang uang rakyat. Senjatanya cuma satu, mulut yang masih berfungsi normal dan keberanian yang belum dijual ke pasar Pramuka.

Yang lucu, ketika korupsi bermunculan seperti jamur setelah hujan nuklir, sebagian orang terlihat biasa-biasa saja. Ada kasus di BGN. Ada kasus di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ada persoalan di bea cukai. Belum lagi berbagai skandal lain yang membuat rakyat seperti sedang menonton serial "Maling Uang Negara" musim ke-78. Setiap bulan muncul episode baru, pemain baru, modus baru, tetapi korban tetap sama, rakyat.

Wakil rakyat pun kadang menunjukkan bakat luar biasa. Saat mahasiswa berteriak dari pagi sampai malam, sebagian justru terlihat lebih akrab dengan kursi empuk dari aspirasi publik. Mahasiswa kepanasan di jalan. Mereka kedinginan di ruangan ber-AC. Mahasiswa berteriak sampai suara serak. Mereka kadang tertidur dengan kualitas tidur yang membuat bayi iri.

Nah, di tengah kondisi seperti itu, muncul Tyo. Anak muda asal Kudus, Jawa Tengah, lahir 26 April, mahasiswa S1 Filsafat UGM angkatan 2021. Bukan anak dinasti politik. Bukan anak konglomerat. Bahkan jalannya menuju UGM tidak melalui SMA formal, melainkan lewat Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah. Dari jalur yang sering diremehkan, ia justru berhasil menembus UGM dan memimpin organisasi mahasiswa paling bergengsi di kampus tersebut.

Lalu dia mulai bersuara keras. Mengkritik Program MBG yang dianggapnya ugal-ugalan. Mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Mengkritik penangkapan aktivis. Mengkritik banyak hal yang menurutnya tidak beres. Gaya bicaranya kasar, ceplas-ceplos, kadang meledak-ledak seperti petasan tahun baru yang dilempar ke gudang kembang api.

Di sinilah drama dimulai. Adhyaksa Dault, mantan Menpora, mengaku sangat geram. Berkali-kali beristigfar saat mendengar ucapan Tyo. Menurutnya, ucapan Tyo bukan lagi kritik, melainkan penghinaan terhadap Presiden Prabowo. Respons beliau viral setelah dibagikan Hotman Paris di Instagram.

Sementara itu Idrus Marham, Wakil Ketua Umum Golkar sekaligus mantan Menteri Sosial, residivis korupsi, juga ikut menyentil keras. Ia menyebut bahasa Tyo tidak pantas dan bukan contoh yang baik bagi generasi muda. Bahkan ia mempertanyakan, bayangkan kalau orang seperti Tyo menjadi pemimpin, negeri ini akan jadi apa.

Pertanyaannya justru bisa dibalik. Nuan bayangkan kalau tidak ada anak muda yang berani mengkritik. Bayangkan kalau semua mahasiswa berubah menjadi patung taman yang tugasnya hanya mengangguk. Bayangkan kalau generasi muda melihat korupsi di mana-mana lalu memilih diam. Mau jadi apa negeri ini?

Maaf saja Pak, tapi sudahlah. Kalian sudah tua. Serius. Saatnya menikmati masa pensiun dengan damai. Nimang cucu. Menyiram cabai di belakang rumah. Memelihara ikan lele. Mengawasi pohon mangga yang mulai berbuah. Atau berburu resep obat asam urat di grup WA keluarga. Jangan sampai sisa energi masa tua habis hanya untuk tersinggung oleh mahasiswa.

Ini zamannya anak muda seperti Tyo. Mereka yang nanti akan hidup paling lama dengan akibat dari setiap kebijakan hari ini. Mereka yang akan mewarisi utang, mewarisi masalah, mewarisi kerusakan, sekaligus dipaksa memperbaiki semuanya. Jadi wajar kalau mereka marah.

Yang aneh justru sebaliknya. Negeri dipenuhi berita korupsi, tetapi yang membuat sebagian orang paling geram malah mahasiswa yang bicara keras. Uang rakyat hilang miliaran bahkan triliunan, responsnya kadang santai seperti sedang membahas cuaca. Begitu ada anak muda melontarkan kritik pedas, reaksinya seperti kiamat tinggal dua jam lagi.

Banyak anak muda membela Tyo bukan karena mereka setuju dengan semua kata-katanya. Mereka juga tahu kritik bisa diperdebatkan. Tetapi mereka melihat sesuatu yang semakin langka di republik ini, keberanian. Dalam negeri yang kadang lebih alergi terhadap kritik dari terhadap korupsi, keberanian memang sering dianggap penyakit. Sementara diam justru diperlakukan seperti prestasi. Itulah ironi terbesar yang sedang dipertontonkan di depan mata kita semua.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor
Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor.
Kalau kalian mengikuti sidang bos PT Blueray Cargo, luar biasa memuakkan praktik suap di Bea Cukai. Yang disuap itu para petinggi yang nanti bisa tersentuh atau hanya habis di persidangan. Negeri ini sudah semakin parah, wajar bila mahasiswa terus demo. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Jumat lalu di Pengadilan Tipikor Jakarta, John Field, bos PT Blueray Cargo, akhirnya mengakui kesalahannya. "Ya, saya bersalah, Yang Mulia." Kalimat pendek. Tiga detik selesai. Tetapi nilai di belakangnya mencapai sekitar Rp91 miliar. Itu bukan angka. Itu sudah setara benda mistis bagi sebagian rakyat yang setiap akhir bulan berdebat dengan saldo rekening sambil berharap ada transfer dari alam gaib.

Yang membuat publik geleng-geleng kepala adalah bagian curhatnya. John mengaku sudah mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar tetapi tetap masuk penjara. Kalimat itu terdengar seperti perampok bank protes karena setelah membeli topeng mahal dan mobil cepat, ternyata polisi masih datang menangkapnya. Seolah tragedi terbesar dalam hidupnya bukan dugaan korupsinya, melainkan buruknya tingkat pengembalian investasi.

Menurut dakwaan, sekitar Rp63,1 miliar mengalir ke sejumlah oknum Bea Cukai. Angka yang cukup untuk membuat rakyat biasa menatap tembok selama tiga jam tanpa berkedip. Belum cukup sampai di situ. Ada pula sekitar Rp30 miliar yang disebut diberikan kepada Ahmad Dedi yang kemudian dikabarkan melarikan diri. Kalau benar demikian, ini bukan lagi cerita kucing-kucingan. Ini sudah seperti lomba lari estafet sambil membawa koper berisi reputasi yang hancur.

Nominalnya disebut mencapai Rp5 miliar per bulan. Per bulan. Sebagian rakyat menghitung diskon mi instan di minimarket. Sebagian lainnya diduga bermain di liga yang berbeda sama sekali. Liga tempat angka miliaran rupiah berpindah tangan dengan santainya seperti orang meminjam korek api.

Nama-nama yang muncul juga bukan sedikit. Djaka Budhi Utama disebut menerima Rp3 miliar. Rizal Rp2 miliar. Sisprian Rp1 miliar. Ada pula kode BC1, BC2, dan BC3. Kedengarannya seperti nama robot tempur produksi masa depan. Padahal isinya dugaan pembagian uang yang membuat rakyat ingin mengecek ulang apakah mereka masih hidup di dunia nyata atau sedang terjebak dalam serial satir politik tanpa episode terakhir.

Penyerahan uang disebut berlangsung di berbagai tempat. Ada di mal. Ada di kantor Kemenkopolkam. Rasanya seperti tur konser nasional. Bedanya, bukan penyanyi yang keliling kota, melainkan amplop yang sedang menjalani perjalanan spiritual menuju tujuan akhir.

Kisahnya lalu menjalar ke BPOM dan Kemendag. Nama Deputi Tubagus, Direktur Partomo, Aldison, Ronald, Rangga, dan Michael ikut disebut menerima aliran dana dari Andreas Budi Santoso. Bukan sekali. Dakwaan menyebut praktik itu berlangsung berulang kali sepanjang 2025. Berulang kali. Kalimat yang seharusnya membuat alarm moral berbunyi sampai baterainya habis.

Sementara itu, rakyat tetap sibuk dengan rutinitas harian yang tidak pernah mengenal angka miliaran. Bayar pajak. Bayar listrik. Bayar sekolah anak. Bayar cicilan. Bayar biaya hidup yang makin lihai bermain petak umpet dengan penghasilan. Mereka berusaha hidup lurus di lintasan yang berkelok, sementara sebagian orang diduga justru menjadikan tikungan sebagai jalan utama.

Lalu datanglah babak penyesalan. Dedy dan Andri, anak buah John, juga mengaku menyesal dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Tentu semua orang berhak menyesal. Namun publik juga berhak bertanya, apakah penyesalan itu lahir karena hati nurani bangun, atau karena pintu sel mulai terlihat dari kejauhan?

Kasus ini bukan cuma soal uang. Ini soal kepercayaan publik yang dicincang sedikit demi sedikit sampai bentuknya sulit dikenali. Korupsi tidak sekadar menguras kas negara. Ia menggerogoti keadilan, menghancurkan persaingan yang sehat, dan membuat rakyat merasa sedang menonton Australia yang mengalahkan Turki 2-0 yang wasitnya ikut mencetak gol. Karena itu, dibutuhkan bukan sekadar vonis. Yang dibutuhkan adalah keberanian membongkar semuanya sampai ke akar. Sebab jika akar busuk dibiarkan hidup, pohon yang tumbuh akan selalu menghasilkan buah yang sama. Rakus, licin, dan memalukan. Rakyat sudah terlalu lama dipaksa menjadi penonton sirkus ini tanpa pernah mendapat bagian dari tiketnya.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Sabtu, 13 Juni 2026

Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui

Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui
Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui.
Tak terasa drama skandal megakorupsi BGN sudah masuk episode 21. Cerita kali ini soal Kepala BNG yang baru. Ente lihat ndak di beranda, si Nanik cengengesan ke sana ke mari, masuk podcast ini dan itu. Seolah-olah ia paling jujur, bersih, selangkah lagi malaikat. Ia begitu menikmati peran barunya di saat Haji Dadan, Sony, dan Pusung meringkuk di penjara. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di tengah gegap-gempita skandal yang menyeret petinggi Badan Gizi Nasional, tiga rekannya sudah lebih dulu menikmati fasilitas negara berupa jeruji besi. Sementara itu, Nanik S Deyang masih terlihat cengengesan ke sana ke mari menjalankan tugasnya sebagai Kepala BGN pengganti Dadan Hindayana.

Tenang dulu. Sampai hari ini Nanik belum diperiksa Kejaksaan Agung. Belum pula berstatus tersangka. Namun, publik tetap menyorot karena namanya disebut dalam BAP Sony Sonjaya, salah satu tersangka kasus tersebut. Kejagung sendiri menyatakan siapa pun yang mengetahui perkara ini berpotensi dimintai keterangan.

Bahasa rakyat sederhana saja. Surat undangan belum datang, tetapi namanya sudah mulai disebut-sebut di ruang tamu.

Yang paling menghibur tentu jurus andalan Nanik saat membela diri.

"Saya dari lahir sudah kaya."

Duarrr!

Kalimat ini langsung melesat menjadi kandidat kuat Kutipan Komedi Politik Tahun Ini.

Entah siapa yang pertama kali menciptakan teori, orang kaya otomatis kebal korupsi. Kalau teori itu benar, penjara koruptor seharusnya penuh tukang bakso, tukang tambal ban, dan penjual gorengan, termasuk kang ngopi, ups. Kenyataannya malah sering sebaliknya. Korupsi bukan olahraga rakyat miskin. Ini olahraga kaum elite dengan fasilitas lengkap dan pelatih profesional.

Data LHKPN Januari 2025 menunjukkan kekayaan Nanik mencapai Rp6,3 miliar tanpa utang. Sebagian besar berasal dari tanah dan bangunan di Depok dan Bekasi senilai lebih dari Rp5,4 miliar. Lumayan. Cukup untuk membuat rakyat biasa mendadak rajin membuka aplikasi m-banking lalu menyesali nasib.

Namun masalahnya bukan soal jumlah harta. Publik penasaran karena nama Nanik muncul dalam BAP tersangka. Ketika wartawan mencoba bertanya, Nanik beberapa kali terlihat enggan memberi penjelasan panjang. Kadang senyum. Kadang jalan cepat. Kadang mendadak sibuk. Gerakannya lincah seperti Muhammad Al Gazani Dwi Sugandi yang menjebol gawang Kamboja, dan mengantarkan Timnas U19 juara III Piala AFF.

Padahal MBG awalnya dijual sebagai program mulia. Tujuannya jelas, anak-anak Indonesia makan lebih bergizi, tumbuh sehat, dan menjadi generasi emas. Sebuah cita-cita yang sulit ditolak oleh siapa pun yang masih memiliki akal sehat.

Namun seperti biasa, negeri ini memiliki bakat unik. Apa pun programnya, selalu ada saja yang diduga melihatnya sebagai kesempatan bisnis keluarga besar Persatuan Maling Anggaran Indonesia.

Anak-anak menunggu telur. Orang tua menunggu susu. Rakyat malah mendapat bonus berita penahanan. Sungguh paket komplit.

Tentu saja, sampai saat ini tidak ada putusan hukum yang menyatakan Nanik bersalah. Asas praduga tak bersalah wajib dihormati. Tetapi rakyat juga punya hak untuk bertanya dan curiga. Apalagi mereka sudah terlalu sering menonton film dengan alur yang sama.

Awalnya semua bilang aman. Lalu bilang tidak tahu. Kemudian bilang tidak terlibat. Setelah itu... ya sudahlah, rakyat hafal sendiri episode lanjutannya.

Apakah Nanik kelak akan dimintai keterangan Kejagung? Belum ada yang tahu. Apakah namanya hanya kebetulan muncul dalam pusaran kasus? Publik juga belum tahu. Kalau Nanik tidak dimintai keterangan, tandanya ia memiliki beking super. 

Yang pasti, ketika tiga rekannya sudah lebih dulu masuk bui, Nanik masih cengengesan ke sana ke mari. Rakyat kembali menjadi penonton setia serial terpanjang republik ini, "Maling Uang Negara, Season Tak Berujung."

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein

Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein
Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein.
Pagi tadi kita bicara jilatan Menteri Pendidikan, Abdul Mu’ti. Gila respons netizen, dahsyat. Baca komentar, sampai tersedak nyeruput Koptagul. Kali ini, lebih dahsyat lagi jilatan seorang pembantu presiden. Sudah masuk kategori, jilatan tingkat dewa, udah tak ada tandingannya lagi. Simak narasinya, wak!

Indonesia kembali mencatat sejarah. Bukan sejarah ekonomi. Bukan sejarah teknologi. Tapi sejarah perjilatan nasional yang levelnya sudah tidak bisa diukur memakai Richter Scale, melainkan harus memakai alat ukur milik NASA.

Baru dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada 8 Juni 2026, Said Iqbal langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang membuat netizen tersedak kopi, jatuh dari motor, lalu bangun lagi hanya untuk memastikan berita itu bukan editan AI.

Dulu, setiap ada isu buruh, beliau muncul seperti Godzilla yang baru bangun setelah tidur 300 tahun. BBM naik? Demo. Upah seret? Demo. Pengusaha batuk? Demo. Angin bertiup dari arah yang salah? Hampir demo.

Pokoknya aura perlawanannya begitu kuat sampai pagar DPR punya PTSD setiap mendengar nama Said Iqbal. Tapi kini kita menyaksikan keajaiban yang bahkan Nabi Musa mungkin akan mengernyitkan dahi melihatnya.

Singa berubah jadi kucing. Harimau berubah jadi hamster. Toa demonstrasi berubah jadi pengeras suara karaoke keluarga. Lalu muncullah kalimat yang membuat internet mendidih seperti panci mi instan ditinggal emak ke warung.

Said Iqbal menyebut Prabowo memiliki kecerdasan setara Einstein. Setara Einstein!

Belum cukup sampai di situ. Katanya lagi, Prabowo membaca 50 buku sehari. Lima puluh buku. Per hari. Ya, Per Hari! Bukan 50 halaman. Bukan 50 tweet. Bukan 50 status Facebook yang isinya "selamat pagi semoga sehat selalu". Tapi 50 buku.

Perpustakaan Nasional langsung minder. Kutu buku pensiun massal. Mahasiswa yang belum selesai membaca skripsinya sejak 2023 langsung merasa hidupnya gagal.

Sementara Einstein di alam sana mungkin sedang rapat darurat dengan Newton. "Bro, katanya ada yang IQ-nya setara saya." Newton menjawab, "Santai. Katanya juga baca 50 buku sehari."

Einstein langsung menjatuhkan biola. Belum selesai rakyat tertawa sampai masuk angin, muncul lagi petuah ekonomi yang membuat para pengembang perumahan bersujud syukur.

"Kau boleh kaya tapi jangan miskinkan kami. Kau boleh punya rumah mewah tapi rakyat, buruh setidak-tidaknya punya rumah type 21 atau 30."

Wah mantap. Dulu narasinya terdengar seperti ingin membongkar ketimpangan ekonomi global. Sekarang target revolusinya terdengar seperti brosur perumahan subsidi dekat kuburan, bebas banjir, cicilan ringan, bonus galon. Netizen langsung bingung. Ini manifesto perjuangan buruh atau iklan developer?

Lalu datang episode paling epik, Pertamax. Harga Pertamax melompat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Naiknya bukan lagi naik. Ini kabur dari gravitasi.

Publik sudah membayangkan jalanan dipenuhi lautan massa. Spanduk dicetak. Toa dicas penuh. Ban bekas mulai pemanasan. Ternyata...tidak ada kiamat, gempa demonstrasi, tsunami perlawanan. Yang muncul justru ketenangan tingkat dewa.

Said Iqbal mengatakan kenaikan itu terjadi pada BBM non-subsidi. Sementara Pertalite masih Rp10.000 dan pemerintah berjanji tidak naik sampai akhir tahun.

Netizen langsung melongo seperti ayam melihat rekening gaji anggota DPR. Dulu bensin naik recehan saja suasana seperti trailer film Armageddon. Sekarang naik Rp3.950 per liter, reaksinya seperti mendengar pengumuman diskon deterjen.

Puncak komedinya terjadi saat ribuan mahasiswa turun ke Bundaran HI pada 12 Juni 2026. Mahasiswa berteriak, berorasi, berkeringat, diblokade. Lalu rakyat bertanya, "Mana buruh?"

Jawabannya datang lembut seperti lagu pengantar tidur. "Belum ada rencana aksi." Karena fokus revisi Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 tentang outsourcing. Dialog menjadi pilihan.  Advokasi menjadi jalan. Musyawarah menjadi kendaraan. Toa demonstrasi mungkin menangis sendirian di gudang.

Akhirnya netizen membuat kesimpulan yang beredar dari warung kopi sampai kolom komentar. Ternyata amarah buruh tidak bisa diredam polisi. Tidak bisa diredam pagar besi, gas air mata. Yang paling ampuh ternyata kursi kekuasaan. Sekali duduk, emosi turun. Dua kali rapat, tensi stabil. Tiga kali pujian, Einstein ikut terseret ke dalam obrolan.

Entah ini strategi politik tingkat galaksi atau jurus bertahan hidup tingkat naga putih bermata merah, yang jelas rakyat sedang menyaksikan sebuah fenomena langka. Perjuangan buruh yang dulu menggelegar seperti konser metal, kini terdengar selembut musik lift hotel.

Di puncak semua itu, berdirilah satu legenda baru yang akan dikenang netizen bertahun-tahun, Said Iqbal, Sang Master Jilatan Tingkat Dewa, penemu teori baru bahwa IQ Prabowo setara Einstein dan satu kursi jabatan bisa lebih ampuh dari seribu toa demonstrasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Jumat, 12 Juni 2026

Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko

Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko
Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko.
Lupakan kegagalan Timnas U19 ke final. Sekarang kita beralih ke Piala Dunia. Tak ada even megah di dunia selain World Cup. Even terakbar ini telah dibuka ditandai dengan kekalahan Afrika Selatan 2-0 oleh tuan rumah, Meksiko. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Akhirnya Piala Dunia 2026 resmi dimulai. Bukan dimulai biasa-biasa saja. FIFA tampaknya bangun pagi, minum kopi ukuran toren air, lalu berkata, "Kalau pembukaan satu negara terlalu sederhana, kenapa tidak tiga negara sekaligus?" Jadilah turnamen terbesar dalam sejarah manusia, mamalia, dan mungkin beberapa spesies alien yang kebetulan menangkap siaran satelit bumi.

Nuan bayangkan. Ada 48 tim. Ada 104 pertandingan. Ada tiga negara tuan rumah. Kalau Piala Dunia sebelumnya seperti hajatan RT, edisi 2026 ini sudah seperti pesta pernikahan galaksi yang EO-nya sedang kerasukan semangat lembur.

Meksiko mendapat giliran pertama pada 11 Juni 2026 di Estadio Azteca. Stadion berkapasitas sekitar 87 ribu orang itu mendadak berubah menjadi blender raksasa yang mengaduk musik, budaya, lampu, tarian, dan teriakan penonton menjadi satu adonan kegilaan.

Shakira naik panggung. Burna Boy ikut bergoyang. Lagu resmi "Dai Dai" menggema ke seluruh penjuru stadion. J Balvin, Tyla, Belinda, Maná, Alejandro Fernández, Danny Ocean, Lila Downs, hingga Los Ángeles Azules ikut meramaikan suasana. Salma Hayek muncul sebagai tamu spesial. Lengkap sudah. Kurang Godzilla menari salsa saja.

Budaya Meksiko ditampilkan habis-habisan. Papel picado beterbangan. Warna-warni memenuhi stadion. Penonton dibuat bingung apakah mereka sedang menonton pembukaan Piala Dunia atau sedang tersedot ke dalam piñata raksasa.

Lalu laga dimulai. Meksiko melawan Afrika Selatan.

Baru menit ke-9, Julián Quiñones mencetak gol. Stadion langsung bergetar seperti mesin cuci yang sedang mencuci batu bata. Menit ke-67, Raúl Jiménez menambah gol. Skor menjadi 2-0.

Tapi tunggu. Itu belum cukup.

Entah karena terlalu semangat atau lupa, ini sepak bola, laga itu menghasilkan tiga kartu merah. Tiga! Wasit tampaknya mengira kartu merah sedang diskon dan harus dihabiskan sebelum masa berlaku berakhir. Dua pemain Afsel keluar. Satu pemain Meksiko ikut menyusul. Rekor kartu merah laga pembuka pun tercipta.

Jumlah kartu merah ini membuat sebagian netizen Indonesia teringat berita-berita korupsi. Bedanya, pemain yang dapat kartu merah langsung keluar lapangan. Kalau yang satu lagi kadang perlu proses panjang, rapat panjang, konferensi pers panjang, dan alasan panjangnya mengalahkan antrean sembako.

Hari ini Kanada mendapat giliran. Toronto menjadi pusat perhatian dunia. Michael Bublé, Alanis Morissette, Alessia Cara, dan kemungkinan Nora Fatehi akan tampil.

Kanada terkenal sopan. Bahkan ada rumor kalau pemain Kanada menekel lawan, mereka akan berkata, "Maaf ya, tidak sengaja menjatuhkan Tuan." Lalu membantu lawan berdiri, menyuguhkan kopi, dan mengantar pulang ke hotel.

Kanada menghadapi Bosnia-Herzegovina dalam pertandingan yang diprediksi bakal seru. Meski jujur saja, banyak penonton juga penasaran apakah suhu stadion lebih dingin atau ekspresi bek Bosnia saat menghadapi serangan Kanada.

Kemudian Amerika Serikat datang membawa sifat khasnya, kalau bisa besar, kenapa tidak dibuat kelewat besar?

SoFi Stadium di Los Angeles menjadi panggung berikutnya. Katy Perry tampil sebagai bintang utama. Future hadir. Lisa Blackpink hadir. Anitta hadir. Rema hadir. Tyla hadir.

Kalau semua artis itu dikumpulkan dalam satu tempat, kemungkinan sinyal ponsel di radius 50 kilometer akan menyerah dan pensiun dini.

Laga AS melawan Paraguay menjadi penutup rangkaian pembukaan. Stadion akan dipenuhi lampu, musik, efek visual, dan mungkin cukup energi untuk menghidupkan satu kabupaten selama seminggu.

Piala Dunia 2026 akan berlangsung hingga 19 Juli dengan final di MetLife Stadium. Total 104 pertandingan siap membuat penggemar sepak bola lupa waktu, lupa pekerjaan, lupa cicilan, dan lupa besok Sabtu.

Sementara itu, di Indonesia, sebagian rakyat menyaksikan dua kompetisi sekaligus. Yang pertama Piala Dunia. Yang kedua lomba siapa paling kreatif menjelaskan hilangnya uang negara. Yang pertama mengejar trofi emas. Yang kedua kadang mengejar sesuatu yang juga berwarna emas.

Untunglah sepak bola masih memberi hiburan. Di lapangan, pemain berlari mengejar bola. Di luar lapangan, kita cukup duduk santai menikmati laga tanpa perlu memikirkan siapa yang sedang mengejar proyek, siapa yang sedang mengejar jabatan, dan siapa yang tiba-tiba mengejar pengacara.

Selamat datang di Piala Dunia 2026. Turnamen yang begitu besar sampai pembukaannya dibagi tiga negara. Kalau diperbesar lagi, kemungkinan pembukaannya harus dilakukan di Bumi, Mars, dan Jupiter sekaligus. 

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Kamis, 11 Juni 2026

Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0

Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0
Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0.
Garuda Muda turun ke gelanggang menghadapi Australia pada semifinal Piala AFF U-19 Boys Championship 2026. Misinya mulia. Menembus final. Mengibarkan panji merah putih. Sayang berakhir duka. Dihancurkan Australia 1-0. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Australia datang bukan sebagai tim biasa. Mereka datang seperti pasukan Kanguru Sakti. Sejak menit awal, pasukan Trevor Brian Morgan langsung mengeluarkan Jurus Hujan Audit Mendadak. Serangan datang bertubi-tubi. Untung Dafa di bawah mistar gawang sudah menguasai Jurus Tameng KPK. Semua serangan berhasil dipantulkan.

Baru beberapa menit berjalan, Alexander Lech Garbowski dikartu kuning. Dari tribun langsung terdengar teriakan sakti. "Woi bule, ini Medan, Bung!" Seketika aura stadion naik tiga tingkat.

Australia terus mengurung pertahanan Indonesia. Dafa sampai tak sempat ngopi. Padahal dalam dunia persilatan nusantara, kopi adalah sumber tenaga kedua setelah doa ibu dan gorengan hangat.

Nazril kemudian mendapat kartu kuning. Coach Nova terlihat termenung seperti guru silat yang melihat muridnya memakai Jurus Tendangan Salah Sasaran.

"Itu anak siapa yang ngajarin kasar begitu?"

Menit demi menit berlalu. Australia menyerang seperti tagihan yang datang sebelum gajian. Penonton dagdigdug. Jantung naik turun seperti grafik janji kampanye.

Menit 30 dan 34, Dafa kembali mempertontonkan Jurus Benteng Antikorupsi Bukit Kelam. Bola ditepis ke sana kemari. Seorang penonton cewek  hampir mengajukan proposal hubungan serius. "Dafa, aku milikmu!" Untung panitia belum menyediakan formulir lamaran.

Babak pertama berakhir 0-0. Australia menguasai 54 persen permainan dan lima kali menembak. Indonesia? Nol tembakan ke gawang.

Di ruang ganti, Coach Nova memberikan tausiyah tingkat dewa. "Jangan kalah sama bule. Kalian makan sambal tiap hari!" Sementara di ruang ganti Australia, Trevor Brian Morgan juga membakar semangat pasukannya. "Kalian makan roti dan keju. Masa kalah sama anak yang habis makan sambal?" Dua filosofi kuliner bertabrakan. Sambal melawan keju. Cabe melawan mentega. Nusantara versus supermarket Australia.

Babak kedua dimulai. Australia langsung mengeluarkan Jurus Serangan Anggaran Tak Bersisa. Gelombangnya tidak berhenti. Matthew Baker dan kawan-kawan sampai tak sempat menarik napas.

Menit 54, Arkan Kaka hampir mencetak gol. Seluruh Kota Medan nyaris meledak. Ada yang menumpahkan kopi. Ada yang memukul meja. Ada yang memeluk kulkas. Sayangnya bola melebar.

Australia terus menekan. Dafa terus bekerja lembur tanpa tunjangan. Menit 64, tendangan bebas Jai Diesel Rose membuat jutaan rakyat Indonesia menahan napas bersama-sama. Untung bola melenceng. Untuk beberapa detik, angka harapan hidup bangsa kembali naik.

Menit 66, Amlani Tatu menendang wajah pemain Indonesia. Tribun langsung bergemuruh. "Woi Tatu, hantu ente!" Wasit memberi kartu kuning. Keadilan masih bekerja walau kadang jalannya seperti internet desa saat hujan.

Menit 70 sampai 88 adalah episode bertahan hidup. Australia menyerang. Dafa menepis. Australia menyerang lagi. Dafa menepis lagi. Australia menyerang lagi. Dafa masih menepis.

Rasanya seperti petugas antikorupsi menghadapi seribu modus baru setiap pagi. Namun petaka datang menjelang menit 89. Neil menceploskan bola membuat gawang Dafa bergetar. Gol. VAR diperiksa. Rakyat Indonesia menatap layar seperti menunggu hasil sidang skripsi.

Dan...Gol dinyatakan sah. 1-0 untuk Australia. Stadion mendadak sunyi seperti ruang rapat ketika auditor masuk tanpa pemberitahuan. Sebagian penonton marah. Sebagian kecewa. Sebagian langsung menyalahkan takdir, cuaca, posisi bulan, hingga merek kopi yang diminum sebelum pertandingan.

Garuda Muda mencoba membalas dengan Jurus Pukulan Harapan Terakhir. Sayangnya semua mental di tembok pertahanan Australia. Peluit panjang berbunyi. Selesai.

Garuda Muda gugur. Australia melaju ke final menghadapi Thailand yang sebelumnya membantai Kamboja 4-0.

Malam ini Kanguru tersenyum. Garuda tertunduk. Yang jelas, Dafa pulang sebagai pendekar yang membuat jutaan orang bangga. Sementara rakyat Indonesia kembali ke rutinitas semula. Ngopi, mengelus dada, dan berharap suatu hari nanti ada jurus bisa menghancurkan kedigdayaan Australia.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima'

 
Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima'
Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima.
Disclaimer, yang belum akil baligh diharapkan jangan baca ini. "Nak, belikan abah rokok di warung dekat kantor BGN. Nanti di sana jangan dengar nyanyian Sony ya, nih duit 200, kembaliannya, ambil." Ini khusus orang dewasa. Saya mau bahas kitab legend, Hukum Jima’. Siapkan minyak wangi, dan jangan lupa dua telur ayam kampung plus madu Kapuas Hulu, ups. 

Kalau ada mengira urusan hubungan suami-istri baru ditemukan para motivator cinta modern dengan mikrofon wireless dan slide presentasi bertabur emoji hati, berarti ia belum pernah berkenalan dengan Kitab Hukum Jima' terjemahan dari kitab aslinya, Al-Ubab. Kitab tipis sekitar 28 halaman ini adalah buku panduan diplomasi bilateral paling legendaris dalam sejarah rumah tangga. Tipis memang, tetapi isinya padat seperti rendang yang dimasak tiga hari tiga malam.

Kitab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu klasik sekitar abad ke-18. Lalu, dinisbahkan kepada Al-Fadhil al-Mawla Ahmad bin Sulaiman Kamal Basya, seorang ulama Turki Utsmani yang wafat sekitar tahun 1534 M. Di dunia pesantren Nusantara, kitab ini sering nongkrong satu rak dengan Fathul Izar, Qurratul Uyun, dan Uqud al-Lujain. Misinya sederhana namun mulia. Ia seperti menjaga kehormatan rumah tangga, menghadirkan pahala, serta membantu proses produksi generasi masa depan agar tidak lahir dengan sistem operasi yang masih versi beta.

Yang menarik, kitab ini tidak melihat jima' sebagai penyerbuan sepihak. Tidak ada konsep invasi mendadak atau operasi kilat. Semua harus melalui prosedur diplomatik yang santun. Sebelum konferensi tingkat tinggi dimulai, suami dan istri dianjurkan memakai wewangian. Logikanya sederhana. Tidak ada negara yang mau menandatangani kerja sama strategis dengan aroma delegasi yang mengingatkan pada gudang ikan asin saat listrik padam tiga hari.

Lalu masuk ke tahap yang lebih menarik. Suami dianjurkan bergurau, bercanda, dan melempar rayuan lembut. Dalam bahasa hubungan internasional, ini adalah fase lobi tingkat tinggi sebelum penandatanganan memorandum kesepahaman. Tidak boleh langsung mengerahkan armada tempur utama, apalagi melepas Black Mamba Diplomatik dari kandangnya tanpa lampu hijau dari mitra koalisi. Istri harus siap terlebih dahulu. Kalau belum ada persetujuan bilateral, ya tahan dulu rudalnya di hanggar.

Bahkan Syekh Zaruq dari mazhab Maliki memberikan peringatan cukup unik. Menurut beliau, hubungan dilakukan secara paksa tanpa gairah dan kesiapan pasangan berpotensi menghasilkan keturunan kurang cemerlang. Bahasa sederhananya, jangan berharap panen semangka manis kalau benih ditanam di atas trotoar beton sambil dikejar deadline.

Setelah proses negosiasi berjalan mulus, kitab ini menekankan pentingnya kepuasan bersama. Kalau bisa, kedua pihak mencapai garis finis dalam suasana harmonis. Ini bukan lomba lari di mana satu peserta sudah berdiri di podium membawa piala, sementara peserta lain masih mencari nomor dada. Jika suami selesai lebih dahulu, dianjurkan membantu istri agar turut merasakan kebahagiaan yang sama. Sebab tujuan diplomasi bukan mencari pemenang dan pecundang, melainkan menciptakan aliansi yang makin kokoh.

Posisi yang dianjurkan adalah berhadapan muka atau face to face. Mungkin karena kontak visual membuat komunikasi lebih efektif. Sulit membangun kerja sama strategis jika kedua kepala negara saling membelakangi seperti peserta rapat yang sedang ngambek karena jatah konsumsi habis duluan.

Kitab ini juga menyebut beberapa hal yang dianggap makruh, seperti jima' sambil berdiri, miring, posisi istri di atas yang menurut pandangan klasik tertentu dianggap kurang baik bagi tubuh dan keturunan, serta dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti lohor, asar, saat perjalanan, di kapal, atau malam dua hari raya. Sedangkan yang haram lebih tegas lagi: hubungan saat haid atau nifas, anal seks, dan membawa tulisan Al-Qur'an atau jimat ayat saat jima'.

Soal kebersihan, kitab ini sangat serius. Sebelum dan sesudah konferensi bilateral berlangsung, seluruh peserta diwajibkan menjaga standar sanitasi. Jika telah keluar mani, maka mandi janabah menjadi kewajiban. Tidak ada istilah selesai rapat lalu langsung tidur sambil berharap malaikat bagian kebersihan turun lembur.

Kitab ini juga memuat doa-doa sebelum dan sesudah jima'. Tujuannya bukan hanya kenikmatan sesaat, melainkan memohon keberkahan, perlindungan dari gangguan setan, dan lahirnya keturunan saleh yang kelak berguna bagi agama, bangsa, dan keluarga. Misi akhirnya bukan sekadar menerbangkan Black Mamba Diplomatik menuju wilayah kerja sama, melainkan memastikan hasil proyek biologis tersebut menjadi aset strategis jangka panjang.

Bab-bab penutup membahas larangan membuka rahasia ranjang kepada orang lain, kebolehan jima' saat istri hamil, hingga nama-nama anak yang dianjurkan berdasarkan hari kelahiran serta beberapa ramuan kesehatan seksual tradisional.

Pada akhirnya, Kitab Hukum Jima' menunjukkan, para ulama klasik ternyata sudah lama membahas seni menjaga hubungan suami-istri. Bedanya, mereka tidak memakai istilah "chemistry", "romantic vibes", atau "love language". Mereka menyebutnya adab, mahabbah, dan keberkahan. Sebuah diplomasi biologis mengajarkan, seekor Black Mamba Diplomatik pun harus tunduk pada protokol, etika, dan aturan main jika ingin menghasilkan kerja sama yang langgeng dan penuh manfaat. 

Ngerti ora son! Kalau ngerti, segera pasang kelambu, nikmati keseruannya. Qiqiqiq…

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar 
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya

Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya
Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya.
Satu per satu tikus got gorong-gorong di Kantor BGN dikerangkeng. Tersangka baru, Asep Yusuf Somantri, kaki tangan dari Sony Sonjaya sudah dijebloskan. Sambil menunggu Timnas U19 vs Australia, nikmati drama BGN ke-18 sambil seruput Koptagul, wak!

Asep Yusuf Somantri, tak masuk dalam daftar 26 nama yang dinyanyikan Sony Sonjaya. Ia sosok yang menurut Kejagung, orang kepercayaan Sony “Malaikat” Sonjaya. Sony yang selalu berucap “Demi Allah” orang super bersih dan jujur, pemain penting di balik layar. Sementara Kang Asep ini diduga seperti operator remote control, mondar-mandir mengatur kanal sesuka hati.

Menurut penyidik, Asep mendapat tugas langsung dari Sony untuk mencari dan memfasilitasi mitra pelaksana Program MBG, sekaligus mengurus titik-titik SPPG atau dapur sentral. Sampai di sini masih terdengar seperti pekerjaan biasa.

Terungkap, portal pendaftaran resmi titip SPPG sudah ditutup. Normalnya, kalau pendaftaran ditutup ya selesai. Sama seperti kondangan. Kalau pengantin sudah pulang dan bersiap gituan, lalu tenda dibongkar, tamu baru tidak bisa datang sambil berkata, “Saya kenal sepupu fotografer.”

Tapi menurut dugaan Kejagung, justru setelah portal ditutup, permainan baru dimulai. Asep diduga mengintervensi tim verifikator. Mitra yang sudah dinyatakan lolos dan disetujui bisa dibatalkan. Yang sudah siap menjalankan program bisa dicoret.

Lalu masuklah pihak-pihak tertentu yang menjadi klien kesayangan meskipun masa pendaftaran sudah lewat. Ini bukan lagi pintu belakang. Ini sudah seperti menemukan gerbang rahasia menuju Narnia yang hanya bisa dibuka dengan password “orang dalam.”

Dapur-dapur seharusnya menjadi tempat lahirnya menu bergizi bagi anak-anak. Nyatanya, mendadak menjadi papan monopoli raksasa. Titik dipindah. Nama dicoret. Pemain diganti. Semua bergerak seperti bidak catur yang diduga dikendalikan dari belakang layar. 

Kalau tuduhan ini terbukti di pengadilan, yang terjadi bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini seperti lomba lari 100 meter, pemenangnya sudah ditentukan sebelum pistol start ditembakkan.

Belum habis rasa pusing rakyat, muncul lagi dugaan yang membuat alis naik ke ubun-ubun. Setelah mengatur urusan mitra dan dapur, Asep diduga memberikan uang secara melawan hukum kepada Sony Sonjaya.

Nah, di sinilah aroma masakan berubah. Yang tadinya rakyat berharap mencium aroma ayam, telur, susu, dan sayuran bergizi, yang tercium justru aroma transaksi. Program yang dibuat untuk anak-anak Indonesia malah diduga menjadi ladang bagi permainan para pemburu proyek.

Pada 6 Juni 2026, Kejagung resmi menetapkan Asep Yusuf Somantri sebagai tersangka. Ia langsung ditahan di Rutan Salemba cabang Kejari Jakarta Selatan selama 20 hari. Pasal yang dikenakan bukan pasal main-main: Pasal 12 huruf a dan b UU Tipikor serta Pasal 605 ayat (2) dan Pasal 606 KUHP.

Asep menjadi tersangka keempat dalam perkara yang sudah berkembang seperti serial Netflix tanpa tanda-tanda tamat. Sebelumnya sudah ada nama Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.

Yang membuat rakyat marah bukan sekadar jumlah tersangkanya. Melainkan pola ceritanya. Program negara. Orang kepercayaan. Akses khusus. Pengaturan proyek. Dugaan suap. Lalu tersangka. Polanya begitu berulang sampai-sampai lebih hafal dari lirik lagu “Saya Tak Kenal Sony.”

Kini Kejagung menyebut kemungkinan masih ada tersangka baru. Bahkan, Sony Sonjaya dikabarkan berpotensi menjadi justice collaborator dengan membawa daftar nama yang konon tidak pendek.

Kalau memang ada daftar itu, buka saja semuanya. Karena rakyat sudah terlalu kenyang oleh janji pemberantasan korupsi, tetapi terlalu sering kelaparan melihat hasil akhirnya.

Ironisnya, program ini bernama Makan Bergizi Gratis. Faktanya, Maling Berkedok Gizi. Saat banyak SPPG tutup, tak terdengar anak-anak kelaparan. Justru yang kelaparan para maling uang rakyat secara berjamaah ini. Si Nanik, bos BGN terbaru, masih ngeles di depan wartawan. Ia masih mengaku orang paling bersih di skandal ini. Tunggu episode ke-19 tentu lebih dramatis.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Senin, 01 Juni 2026

Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar

Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar
Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar.
Siang tadi saya diajak makan siang oleh Direktur KBIHU Arafah, H Ahmad Khalil. Saya kira beliau mau membahas menu makan siang atau kabar jamaah haji yang sedang berjuang melawan suhu Arab Saudi. Ternyata yang dibahas justru seekor kambing. Bukan satu sih, seribu lebih tepatnya.

Dari obrolan itulah saya baru tahu ada sesuatu yang baru dalam penyelenggaraan haji tahun 2026. Namanya tidak seksi. Tidak viral. Tidak bikin netizen perang komentar. Tapi cukup menarik. Kini penyembelihan hewan dam jamaah haji mulai diterapkan di tanah air melalui Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berada di Mega Timur, Kabupaten Kubu Raya.

Jangan remehkan berita kambing. Dalam sejarah manusia, banyak keributan besar berawal dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Bahkan urusan dam ini sanggup membuat organisasi Islam besar di Indonesia berbeda pandangan.

Forum KBIHU Kalbar menunjuk Ahmad Khalil, direktur KBIHU Arafah menjadi panitia dam untuk mengelola program tersebut. Kurang lebih seribu ekor domba dam dari jamaah haji Kalimantan Barat ditangani melalui RPH itu. Dam domba itu berasal jamaah haji bimbingan KBIHU resmi di Kalbar. 

Yang membuat saya tertarik bukan jumlah kambingnya. Seribu kambing memang banyak, tetapi masih kalah ramai dibanding grup WA ormas menjelang Lebaran. Yang menarik adalah sistem transparansinya.

Nuan bayangkan. Jamaah sedang berada di Makkah, sementara kambingnya berada di Kubu Raya. Namun pemilik bisa melihat proses dam itu secara langsung melalui dokumentasi foto dan video. Saat dipotong, difoto. Saat dibagikan, difoto lagi. Saat disalurkan ke penerima manfaat, divideokan lagi.

Kambing-kambing ini mungkin lebih sering masuk kamera dari sebagian pejabat daerah.

Biasanya masyarakat hanya mendengar kalimat, "Tenang Pak, sudah diproses." Kalimat yang dalam sejarah Nusantara sering kali mengandung unsur misteri lebih tinggi dari cerita Segitiga Bermuda. Namun di Mega Timur, proses dam diperlihatkan dari awal sampai akhir. Jamaah bisa melihat dengan mata kepala sendiri, uang yang dibayarkan benar-benar berubah menjadi kambing, lalu berubah menjadi daging, lalu berubah menjadi manfaat bagi masyarakat.

Daging hasil dam itu disalurkan kepada masyarakat sekitar dan sebagian besar ke pondok pesantren. Di RPH juga tersedia dokter hewan dan berbagai kelengkapan teknis lainnya. Termasuk juga Juru Sembelih Halal (Juleha) bersertifikat. Memang masih ada kekurangan karena ini program baru. Namanya juga barang baru. Bahkan ponsel terbaru saja masih suka error setelah dibeli. Apalagi program sebesar ini.

Yang menarik lagi, kambing-kambing tersebut didatangkan dari Lombok. Kalimantan Barat yang wilayahnya luas ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan dam dalam jumlah besar. Jadi ada migrasi kambing antarpulau yang mungkin lebih tertib dari sebagian perjalanan manusia.

Namun tunggu dulu. Di sinilah cerita berubah menjadi lebih seru dari sinetron ijazah 700 episode.

Muhammadiyah memperbolehkan penyembelihan dam dilakukan di Indonesia berdasarkan hasil ijtihad Majelis Tarjih. Sementara Nahdlatul Ulama melalui Munas Alim Ulama 2025 memutuskan dam wajib disembelih di Tanah Haram, meskipun dagingnya boleh didistribusikan ke Indonesia. Adapun MUI melalui Fatwa Nomor 41 Tahun 2011 menyatakan penyembelihan dam di luar Tanah Haram tidak sah.

Lihatlah. Seekor kambing ternyata mampu mengundang perdebatan yang panjang. Kalau kambing bisa bicara, mungkin dia juga bingung harus berangkat ke Makkah atau cukup ke Mega Timur.

Bagi yang mengikuti pandangan NU dan MUI, pembayaran dam dilakukan melalui Adahi, lembaga resmi yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi. Biayanya sekitar 720 Riyal Saudi atau sekitar Rp3,3 juta.

Adahi bukan lembaga kecil-kecilan. Kapasitasnya mampu menyembelih lebih dari 400.000 ekor hewan per hari dengan melibatkan sekitar 17.000 pekerja. Angka itu membuat sebagian rumah pemotongan hewan di dunia mungkin merasa dirinya hanya warung kelontong.

Arab Saudi menetapkan seluruh transaksi dam di luar Adahi sebagai tindakan ilegal. Alasannya cukup masuk akal. Praktik dam ilegal memang marak. Tahun 2025 enam WNI ditangkap di Madinah karena mempromosikan dam ilegal. Empat ekspatriat ditangkap di Makkah karena menjual bon kurban palsu. Tahun 2026 sepuluh WNI kembali diamankan terkait penipuan haji ilegal dan jasa dam. Tiga WNI lainnya ditangkap membawa sertifikat kurban palsu. KJRI Jeddah bahkan melaporkan sedikitnya 19 WNI diamankan pada Mei 2026, sebagian terkait kasus dam ilegal.

Luar biasa memang kreativitas manusia. Di tengah jutaan orang yang datang untuk beribadah, selalu ada saja yang melihat peluang bisnis lebih cepat dari rudal Fatah Iran.

Di tengah kondisi itulah Muhammadiyah melihat pelaksanaan dam di Indonesia sebagai jalan yang lebih aman, lebih transparan, dan lebih memberikan kepastian hukum bagi jamaah. 

Lalu muncul pertanyaan yang membuat saya hampir tersedak kopi. Kalbar tahun 2026 memberangkatkan sekitar 1.858 hingga 1.859 jamaah haji. Jumlah itu turun dibanding tahun 2025 yang mencapai 2.519 orang. Dari jumlah tersebut tentu tidak semuanya membayar dam di tanah air. Sebagian masih memilih membayar di Arab Saudi sesuai keyakinan masing-masing.

Tetapi coba bayangkan kalau skalanya nasional. Kuota haji Indonesia mencapai sekitar 221 ribu jamaah. Memang tidak semuanya wajib dam. Namun andaikan seluruh jamaah yang wajib dam membayarnya di Indonesia, apa yang terjadi?

Saya curiga para peternak kambing akan mendadak tersenyum lebih lebar dari pemain PSG juara UCL. Pondok pesantren akan kebanjiran daging. Rumah pemotongan hewan akan sibuk seperti bandara menjelang mudik. Warga yang jarang ketemu sate, inilah momen makan sepuasnya.

Bahkan bukan tidak mungkin aroma sate dan rendang menjadi salah satu indikator ekonomi nasional. Bank Indonesia mungkin suatu hari terpaksa menambahkan indeks baru bernama "Indeks Optimisme Kambing Nasional."

Tentu itu hiperbola. Jangan langsung dikutip sebagai kajian akademik.

Namun ada hal serius di balik candaan itu. Selama ini perdebatan dam sering berhenti pada soal sah atau tidak sah, boleh atau tidak boleh. Padahal ada dimensi ekonomi yang sangat besar. Ada peternak, ada pesantren, ada masyarakat miskin, ada distribusi pangan, dan ada perputaran uang yang nilainya tidak kecil.

Karena itu RPH Mega Timur bukan sekadar tempat memotong domba. Ia adalah persimpangan antara ibadah, ekonomi umat, transparansi, dan perdebatan fiqih yang panjang. Dan tahun 2026 menjadi babak baru ketika sebagian jamaah haji Kalbar bisa menyaksikan sendiri proses dam mereka dari layar telepon genggam.

Di zaman ketika masyarakat kadang lebih mudah percaya ramalan cuaca tujuh hari ke depan dari laporan pertanggungjawaban sebuah kegiatan, transparansi semacam ini terasa seperti barang mewah. Siapa sangka, pelajaran besar tentang akuntabilitas itu justru datang dari seekor kambing.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Prediksi Meleset, Fajar-Fikri Cuma Runner Up di Singapore Open

Prediksi Meleset, Fajar-Fikri Cuma Runner Up di Singapore Open
Prediksi Meleset, Fajar-Fikri Cuma Runner Up di Singapore Open.
Saat saya memprediksi PSG bakal juara, mengalahkan Arsenal, tepat hasilnya. Saya coba prediksi Fajar/Fikir bisa juara di Singapore Open, karena lawannya ganda India. Eh..ternyata meleset. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ya sudahlah. Fajar/Fikri kalah di final. Posisi kedua masih lebih baik dari pulang membawa koper penuh harapan dan nol gelar. Setidaknya masih ada medali, hadiah, dan alasan untuk tersenyum sambil sedikit menggerutu.

Sebelum sampai ke Singapura, bulu tangkis Indonesia sebenarnya sedang mengalami masa-masa yang lebih suram dari dompet menjelang akhir bulan. Semua berawal dari tragedi Piala Thomas 2026 pada April lalu. Indonesia mencatat sejarah yang begitu menyakitkan hingga rasanya layak masuk museum nasional.

Untuk pertama kalinya sejak debut tahun 1958, Indonesia gagal lolos dari fase grup. Betul. Sejak zaman televisi masih dipukul dulu kalau gambarnya kabur, Indonesia selalu lolos. Kali ini tidak.

Puncak kesedihan terjadi ketika Prancis mengalahkan Indonesia 4-1 pada laga terakhir Grup D. Rasanya seperti ditolak mantan di depan penghulu. Satu-satunya poin Indonesia saat itu justru datang dari pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri. Di tengah kapal yang bocor dari segala arah, mereka menjadi dua awak yang masih sibuk menimba air pakai sendok.

Setelah tragedi tersebut, Indonesia menjalani tur Eropa yang hasilnya mirip acara undian berhadiah tetapi semua peserta cuma dapat ucapan terima kasih. Dari All England Super 1000, German Open, Swiss Open, Orleans Masters, hingga Kejuaraan Asia BAC, tidak ada satu pun gelar yang berhasil dibawa pulang.

Untung semesta masih menyisakan sedikit belas kasihan. Pada 17 Mei 2026, pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin yang baru saja kembali dipasangkan setelah dua tahun berpisah berhasil menjuarai Thailand Open 2026.

Kisah mereka seperti sinetron sore hari. Lama berpisah, bertemu lagi, lalu langsung juara. Lebih hebat lagi, mereka mengalahkan pasangan nomor satu dunia asal India, Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, dengan skor 21-12 dan 25-23. Kutukan gelar pun pecah.

Lalu datanglah Singapore Open 2026, turnamen Super 750 dengan total hadiah 1 juta dolar AS atau sekitar Rp17,7 miliar. Harapan kembali bertumpu pada Fajar/Fikri. Mereka melaju ke final setelah mengalahkan ganda China Liang Wei Keng dan Wang Chang dengan skor 23-21 dan 21-14.

Saat itu saya sudah membayangkan Indonesia Raya berkumandang dan trofi terbang menuju tanah air. Ternyata yang terbang justru prediksi saya.

Di final yang berlangsung 73 menit, Fajar/Fikri kembali bertemu Rankireddy dan Shetty. Gim pertama berhasil dimenangkan Indonesia 21-18 setelah empat poin beruntun yang membuat pendukung Merah Putih mulai tersenyum lebar.

Namun pada gim kedua, pasangan India bangkit. Dari posisi 8-8 mereka melesat dengan enam poin beruntun dan menang 21-17. Di gim ketiga, Fajar/Fikri sempat mendekat menjadi 13-14. Harapan kembali muncul. Sayangnya India menjauh dan mengunci kemenangan dengan skor 18-21, 21-17, dan 21-16.

Sebagai runner up, Fajar/Fikri membawa pulang 35 ribu dolar AS atau sekitar Rp620 juta. Andai juara, mereka bisa mengantongi 74 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,31 miliar. Selisihnya cukup membuat kalkulator ikut patah hati.

Usai laga, Fajar mengakui lawan tampil sangat percaya diri dengan serangan mematikan. Fikri menambahkan perubahan pola servis dan pengembalian lawan pada gim kedua dan ketiga membuat mereka lebih tertekan.

After Singapore Open, bulutangkis dunia tertuju  ke Indonesia Open. Kita tuan rumah. Usahakan dapat gelar lah di hadapan ribuan pendukung yang teriak “Uu….Aa…” Malu kalau tak dapat gelar di kandang sendiri. Mr Taufik Hidayat, come on, jangan evaluasi melulu.

Sumber foto: bolasport.com
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan

Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan
Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan.
Sebenarnya tak enak nulis yang jelek-jelek. Tapi, ini fakta dunia pendidikan kita hari ini. Ambruknya nilai TKA siswa kita dari SD sampai SMP. Banyak bertanya, lantas apakah program MBG berpengaruh atau tidak? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang kabar yang membuat kalkulator masuk mode pesawat dan buku Matematika memilih mengasingkan diri ke puncak Gunung Semeru. Kemendikdasmen baru saja merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD dan SMP. Hasilnya bukan sekadar kurang memuaskan. Ini levelnya seperti menonton tim favorit kalah 0-7 di kandang sendiri, lalu kiper ikut mencetak gol bunuh diri.

Nilai rata-rata nasional Matematika SD sederajat tercatat hanya 43,41. Bahasa Indonesia masih mampu bertahan dengan 60,14. Sementara di SMP, Bahasa Indonesia memperoleh 60,83, tetapi Matematika kembali terkapar di angka 40,34. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati mengakui, Matematika menjadi mata pelajaran dengan nilai rata-rata paling rendah di kedua jenjang.

Kalau angka 40-an ini manusia, mungkin sudah duduk di warung kopi sambil berkata, "Aku menyerah, Bang. Jangan tanya lagi soal integral."

Yang bikin suasana makin horor, penyakit ini ternyata sudah lama bersarang. Hasil TKA SMA 2025 menunjukkan Bahasa Indonesia hanya 55,38, Matematika 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93.

Ya, dua puluh empat koma sembilan tiga. Angka itu begitu kecil sampai sempat dikira nomor antrean fotokopi, bukan nilai rata-rata Bahasa Inggris siswa SMA.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, secara terbuka menyebut hasil TKA ini "jeblok". Sebuah kata yang biasanya hanya muncul saat melihat genteng rumah diterbangkan angin puting beliung atau saham nyungsep tanpa rem.

Jika dibandingkan dengan KKM yang umumnya berada di kisaran 70 sampai 75, nilai Matematika Indonesia saat ini seperti sepeda tanpa rantai. Bentuknya ada, rodanya ada, tetapi susah diajak melaju.

JPPI kemudian membuka arsip lama yang membuat suasana semakin sendu. Ketika membandingkan hasil UN 2019 dengan TKA 2025, semua mata pelajaran mengalami penurunan. Matematika turun dari 39,2 menjadi 36,1. Bahasa Indonesia turun dari 67,8 menjadi 55,3. Bahasa Inggris paling mengenaskan, dari 54,6 menjadi 24,9. Apalagi Bahasa Prancis nanti.

Grafiknya bukan lagi turun gunung. Ini sudah terjun dari stratosfer tanpa payung sambil membawa kulkas dua pintu. 

Lalu datanglah tamparan berikutnya dari arena ASEAN. Berdasarkan PISA 2022, Singapura menjadi raja Matematika ASEAN sekaligus dunia dengan skor 575. Vietnam menyusul dengan 469. Brunei 442. Malaysia 409. Thailand 394.

Indonesia? 366. Peringkat keenam ASEAN.

Kita hanya unggul dari Filipina yang memperoleh 355 dan Kamboja 336. Selisih Indonesia dengan Vietnam mencapai lebih dari 100 poin. Menurut OECD, itu setara tiga hingga lima tahun pembelajaran.

Nuan bayangkan dua anak berangkat bersamaan menuju garis finis. Saat anak Vietnam sudah masuk stadion, naik podium, dan selfie membawa medali, kita masih sibuk mencari lokasi parkir.

Di tengah kondisi itulah Program MBG mulai ikut terseret ke meja pemeriksaan publik. Program yang digadang-gadang menjadi salah satu andalan pemerintah ini menghabiskan anggaran sekitar Rp223,5 triliun atau 29 persen dari total anggaran pendidikan.

Pada Agustus 2025, Wakil Menteri Pendidikan Stella Christie pernah menyampaikan, MBG berpotensi meningkatkan kemampuan Matematika dan Bahasa Inggris apabila dikemas secara kreatif dalam proses pembelajaran.

Logikanya sederhana. Anak kenyang, otak terang. Sayangnya, hasil TKA 2026 belum menunjukkan keajaiban tersebut.

Kritik pun bermunculan. Koordinator JPPI, Ubaid Matraji, menilai persoalan pendidikan Indonesia bukan semata-mata urusan makan siang. Menurutnya, masalah utama justru terletak pada kualitas guru, distribusi tenaga pendidik yang tidak merata, kurikulum yang sering berganti wajah, dan pembelajaran yang kehilangan arah.

Bahasa sederhananya, perut siswa memang mulai terisi, tetapi nilai Matematikanya masih seperti sinyal internet di tengah hutan.

Belum cukup sampai di situ. Profesor Martadi menemukan fakta yang membuat dahi berkerut. Saat supervisi TKA, ada siswa yang bermain TikTok ketika ujian berlangsung. Bahkan ditemukan peserta yang mengerjakan soal dengan pendamping di sampingnya.

Ini bukan lagi ujian akademik. Ini reality show pendidikan dengan unsur komedi, drama, misteri, dan sedikit sentuhan supranatural.

Para pengamat akhirnya hampir satu suara. Mereka menyebut persoalan ini bersifat sistemik. Kurikulum terlalu sering berganti, kualitas guru belum merata, pengawasan ujian lemah, budaya hafalan masih dominan, sementara kemampuan bernalar belum menjadi panglima.

Maka, ketika nilai TKA siswa Indonesia ambruk dan Program MBG mulai dipertanyakan, yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya kemampuan anak menghitung angka. Yang sedang diuji adalah arah pendidikan nasional itu sendiri.

Sebab kalau ratusan triliun rupiah sudah berputar, slogan sudah berkibar, seminar sudah digelar, baliho sudah terpasang, tetapi nilai Matematika tetap nyangkut di angka 40-an, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya muridnya.

Mungkin seluruh orkestra pendidikan sedang memainkan lagu yang salah, lalu heran mengapa penontonnya tidak ikut bernyanyi. 

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Senin, 11 Mei 2026

Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak

Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak
Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak.
Kita lanjutkan kisah kezaliman juri LCC 4 Pilar MPR RI. Kita sudah bejjek Dyastasita WB, juri yang ngasih skor -5. Sekarang giliran kawan jurinya yang meng-skakmat regu SMAN 1 Pontianak dengan teriakan “artikulasi.” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Namanya Indri Wahyun. Sekarang ia bukan lagi sekadar nama pejabat di lingkungan Setjen MPR RI. Di mata netizen, dia sudah berubah jadi simbol kemarahan nasional. Simbol bagaimana anak SMA bisa dipermalukan di depan publik hanya gara-gara satu mantra sakti yang diucapkan berkali-kali seperti kaset rusak, “artikulasi”.

Dia adalah Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi Setjen MPR RI. Jabatan elite. ASN eselon III. Orang penting dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar kebangsaan. Tapi ironinya luar biasa. Saat rakyat berharap melihat lomba cerdas cermat penuh sportivitas, yang muncul justru drama penilaian yang bikin publik merasa sedang menonton pengadilan anak SMA dengan hakim paling dingin sedunia.

Dalam Final LCC 4 Pilar Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026, Indri Wahyuni bersama Dyastasita Widya Budi langsung menjadi pusat amarah publik. Bukan karena ketegasan yang bijak. Tapi karena dianggap terlalu ngotot membela keputusan juri sampai publik merasa akal sehat sedang ditabrak truk kontainer.

Kalimat legendarisnya langsung meledak di internet, “Artikulasi itu penting... Dewan juri berhak memberikan nilai -5.”

Selesai. Tamat. Indonesia mendidih.

Netizen langsung bereaksi seperti gunung meletus. Timeline X berubah jadi arena gladiator digital. Nama Indri Wahyuni dilempar ke mana-mana dengan julukan “Mrs Artikulasi”, “Bu Artikulasi”, sampai “Ratu Minus Lima”. Orang-orang marah bukan cuma karena skor. Tapi karena melihat siswa SMA seperti sedang diadili oleh birokrasi yang kehilangan rasa empati.

Publik merasa para peserta diperlakukan seperti robot pidato Istana. Sedikit pelafalan meleset langsung dihukum brutal. Seolah lomba kebangsaan berubah jadi audisi penyiar radio tahun 1987. Netizen pun ngamuk karena yang dipermasalahkan bukan substansi jawaban, melainkan cara pengucapan. Indonesia yang tiap hari ribut soal korupsi, jalan rusak, dan harga pangan tiba-tiba dipaksa percaya masa depan bangsa ditentukan huruf “R”.

Yang bikin kemarahan makin liar, Indri dianggap paling defensif. Bukannya meredakan suasana, publik justru melihat sikap yang dianggap menyalahkan siswa. Internet Indonesia punya aturan tak tertulis. Jangan pernah terlihat arogan di depan anak sekolah. Sekali publik merasa pelajar dizalimi, gelombang amarahnya bisa lebih ganas dari suporter bola kalah final.

Netizen mulai membongkar profilnya. Jabatan. Aktivitas kelembagaan. Sampai LHKPN. Data tahun 2025 menunjukkan total kekayaan bersihnya mencapai Rp3.986.628.752. Aset tanah dan bangunan di Palembang mencapai Rp4,35 miliar. Ada harta bergerak Rp525 juta, kas Rp110 juta, serta utang hampir Rp1 miliar. Semua angka itu kini ikut diseret ke tengah kemarahan publik, seolah rakyat sedang berkata, “Dengan jabatan dan fasilitas sebesar itu, masa menangani anak SMA saja publik merasa tidak adil?”

Yang lebih ironis lagi, Indri selama ini aktif dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan dan berbagai LCC daerah. Tapi kini namanya justru viral sebagai tokoh yang dianggap merusak citra lomba pendidikan. Belum ditemukan akun media sosial pribadinya. Hanya muncul di akun resmi kelembagaan seperti Instagram Badan Sosialisasi MPR, IG @badsosmpr,  dan akun resmi MPR, IG @mprgoid. 

Sekarang, setiap kata “artikulasi” di internet terasa seperti sirene perang. Publik telanjur marah besar. Di mata netizen, ini bukan lagi soal lomba. Ini soal kesombongan kekuasaan kecil yang dianggap menghancurkan semangat anak-anak daerah di depan jutaan orang.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi

Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi
Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi.
Tulisan ini agak panjang. Mirip laporan investigasi. Saya mesti riset dulu karena isunya sangat sensitif. Saat riset ditemani Koptagul asal Sorong, Kopi Senang. Masih ada di rak dapur, oleh-oleh pernah empat hari berada di ibukota Papua Barat Daya. Simak narasinya sambil seruput Kopi Senang, wak!

Papua sekarang seperti meja makan raksasa. Di atas meja itu ada peta hutan, tanah adat, sungai, rawa, sagu, babi, manusia. Duduklah para bangsawan proyek nasional sambil membawa istilah manis: ketahanan pangan, hilirisasi, bioetanol, transisi energi, dan PSN. Semua terdengar ilmiah, modern, futuristik. Padahal kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat, “Hutan kalian kami pinjam dulu, mungkin selamanya.”

Film dokumenter Pesta Babi seolah membuka tirai kasino raksasa bernama Papua Selatan. Di sana, sekitar 2 juta hektare hutan disiapkan untuk tebu bioetanol, padi, sawit, dan agribisnis skala dewa. Dua juta hektare. Itu bukan lagi proyek pembangunan. Itu operasi bedah geografi. Hutan dibuka seperti kaleng sarden. Sementara rakyat adat diminta percaya, semua ini demi masa depan bangsa. Bangsa yang mana dulu nih?

Di tengah hiruk-pikuk proyek itu, satu kalimat terus menggema dari masyarakat adat, mahasiswa Papua, aktivis lingkungan, sampai diskusi-diskusi kampus yang dibubarkan, “Papua bukan tanah kosong.” Kalimat sederhana, tapi seperti tamparan keras ke wajah logika investasi yang melihat hutan hanya sebagai lahan tidur. Sebab bagi banyak elite pembangunan, tanah dianggap hidup kalau sudah ada alat berat, pagar perusahaan, dan papan bertuliskan “Proyek Strategis Nasional.” Sebelum itu? Dianggap kosong. Sunyi. Belum produktif. Seolah manusia yang hidup turun-temurun di sana cuma wallpaper alam.

Padahal bagi suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, hutan bukan tanah kosong. Itu supermarket, rumah sakit, sekolah, pasar, bank kehidupan, sekaligus rumah leluhur. Sungai bukan sekadar aliran air, tapi jalur sejarah. Pohon sagu bukan sekadar tanaman, tapi jaminan hidup. Maka ketika negara dan korporasi datang membawa peta konsesi, masyarakat adat merasa bukan hanya tanah mereka yang diambil, tapi juga ingatan dan masa depan mereka.

Tradisi Pesta Babi dalam film itu menjadi simbol yang menyakitkan. Orang Papua memelihara babi bertahun-tahun untuk pesta antar-klan. Babi bukan sekadar hewan. Ia simbol relasi sosial, harga diri, budaya, dan ikatan komunitas. Tapi bagaimana mau pelihara babi kalau hutannya dibabat? Mau kasih makan apa? PowerPoint kementerian?

Lalu datanglah ironi paling mahal di republik ini, proyek yang katanya untuk ketahanan pangan justru mengancam sumber pangan asli masyarakat adat. Ini seperti orang merampas dapur ibunya lalu berkata, “Tenang Bu, nanti kami kirim mi instan.”

Data 2025 memperlihatkan lonjakan deforestasi Papua yang seperti roket lepas kendali. Tahun 2024 sekitar 17.341 hektare hilang. Tahun 2025 melonjak jadi 77.678 hektare. Naik 348 persen. Tambahan lebih dari 60 ribu hektare dalam setahun. Kalau hutan bisa teriak, mungkin seluruh Papua sudah terdengar sampai Jakarta. Kabupaten Merauke jadi salah satu titik paling brutal. Sementara Sorong ikut masuk daftar nasional dengan sekitar 7.168 hektare kehilangan hutan pada 2025. Global Forest Watch mencatat Papua Selatan sebagai hotspot kehilangan hutan primer. Tapi tenang, di konferensi pers nanti biasanya ada kata-kata “tetap memperhatikan keberlanjutan.”

Yang lebih membuat bulu kuduk berdiri adalah pola pengamanannya. Berdasarkan riset independen Project Multatuli dan Suara Papua akhir 2025, total personel TNI dan Polri organik di Tanah Papua mencapai 83.177 orang. Sekitar 56.517 TNI dan 26.660 Polri. Rasio kasarnya hampir 1 aparat untuk 70 penduduk. Ini Papua atau kompleks NATO tropis?

Lucunya, semua ini disebut demi menjaga stabilitas investasi dan keamanan nasional. Di republik ini, pohon sagu ditebang demi ketahanan pangan, lalu aparat ditambah demi menjaga keamanan akibat konflik yang lahir dari penebangan itu sendiri. Siklusnya indah sekali. Seperti ular memakan ekornya sambil tersenyum.

Film itu juga memperlihatkan sesuatu yang sangat mengganggu para pemuja pembangunan absolut. Rakyat Papua ternyata bisa bicara sendiri. Mereka tidak sedang menunggu diselamatkan. Mereka marah. Mereka sadar. Mereka melawan. Itu rupanya lebih menakutkan dari hutan terbakar.

Jangan heran kalau pemutaran film ini dibubarkan di berbagai tempat. Di Universitas Mataram pada 7 Mei 2026, rektorat dan satpam membubarkan acara sebelum film tayang. Alasannya menjaga kondusivitas kampus. Ada Wakil Rektor III yang menyarankan mahasiswa lebih baik nonton bola. Mungkin karena dribble sepak bola dianggap lebih aman dari dribble fakta.

Besoknya di UIN Mataram, film baru berjalan tiga menit sebelum proyektor dimatikan. Tiga menit saja sudah bikin panik. Kalau satu setengah jam penuh, mungkin langsung dianggap ancaman terhadap stabilitas galaksi.

Di Benteng Oranje, nobar yang diadakan AJI dan SIEJ dibubarkan aparat TNI karena dianggap provokatif. Menarik sekali. Hutan dibabat jutaan hektare tidak provokatif. Tapi film dokumenternya yang dianggap bahaya.

Padahal reaksi banyak orang Papua justru mendukung film itu. Esau Klagilit di Sorong bilang apa yang ditampilkan adalah kenyataan hidup Orang Asli Papua. Aktivis LBH Pos Sorong juga menyebut masyarakat adat terus menjadi korban di tanah sendiri. Banyak mahasiswa Papua di Kalimantan, Bandung, hingga Papua sendiri mendukung pemutaran film karena merasa inilah wajah asli yang selama ini ditutupi jargon pembangunan.

Di tengah semua itu, konflik bersenjata tetap membara. Pemerintah menyebut mereka KKB. Mereka menyebut diri TPNPB-OPM. Tahun 2025 saja tercatat 104 kasus kekerasan. Korbannya 94 orang tewas: 9 TNI, 6 Polri, 64 warga sipil, 15 anggota KKB. Ada 120 orang luka-luka. Ironisnya, warga sipil Papua lagi-lagi jadi korban utama. Papua seperti dipaksa hidup di tengah dua mesin, mesin investasi dan mesin konflik.

Sementara itu mahasiswa Papua turun ke jalan pada 27 April 2026 membawa tema “Papua Darurat Militer” dan “Papua Darurat Kemanusiaan.” Bentrok terjadi di Jayapura, Waena, dan Abepura. Gas air mata ditembakkan. Sekolah diliburkan. Aspirasi diterima DPR Papua dengan janji klasik paling terkenal di Indonesia: “akan diteruskan ke pusat.” Kalimat yang mungkin sudah lebih tua dari pohon-pohon Papua sendiri.

Lalu beberapa hari setelahnya, Persipura kalah 0-1 dari Adhyaksa FC dan gagal promosi ke Liga 1. Stadion ricuh. Kursi rusak. Mobil dibakar. Gas air mata lagi. Bagi banyak orang Papua, Persipura bukan sekadar klub bola. Itu simbol harga diri. Ketika identitas ditekan bertahun-tahun, sepak bola kadang menjadi satu-satunya tempat orang merasa masih punya kebanggaan.

Di sinilah benang merahnya mulai terlihat seperti kabel listrik telanjang. Hutan hilang. Aparat bertambah. Film dibungkam. Mahasiswa turun jalan. Konflik bersenjata berlanjut. Simbol kebanggaan rakyat runtuh. Semua terjadi hampir bersamaan. Seolah Papua sedang diperas dalam kecepatan tinggi agar segera cocok dengan cetak biru investasi nasional.

Yang paling tragis, rakyat Papua sering diposisikan seperti figuran di tanah sendiri. Mereka diminta bersyukur atas pembangunan yang tidak mereka minta, diam atas hutan yang hilang, dan tepuk tangan saat hidup mereka dikonversi menjadi statistik pertumbuhan ekonomi.

Mungkin benar ini bukan kolonialisme lama. Tidak ada lagi topi baja dan kapal perang. Sekarang kolonialisme datang memakai drone, presentasi investasi, istilah green energy, dan rompi proyek strategis nasional. Lebih modern. Lebih wangi. Tapi bagi rakyat yang hutannya hilang, hasil akhirnya tetap sama, mereka disuruh minggir dari meja makan. Sementara pesta besar terus berlangsung di atas tanah leluhur mereka sendiri.

“Bang, bagaimana dengan Kalbar sendiri?”

“Mulai mirip Papua juga, wak. Cuma belum ada filmnya saja.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM