Ikuti kami:
Saat saya memprediksi PSG bakal juara, mengalahkan Arsenal, tepat hasilnya. Saya coba prediksi Fajar/Fikir bisa juara di Singapore Open, karena lawannya ganda India. Eh..ternyata meleset. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ya sudahlah. Fajar/Fikri kalah di final. Posisi kedua masih lebih baik dari pulang membawa koper penuh harapan dan nol gelar. Setidaknya masih ada medali, hadiah, dan alasan untuk tersenyum sambil sedikit menggerutu.
Sebelum sampai ke Singapura, bulu tangkis Indonesia sebenarnya sedang mengalami masa-masa yang lebih suram dari dompet menjelang akhir bulan. Semua berawal dari tragedi Piala Thomas 2026 pada April lalu. Indonesia mencatat sejarah yang begitu menyakitkan hingga rasanya layak masuk museum nasional.
Untuk pertama kalinya sejak debut tahun 1958, Indonesia gagal lolos dari fase grup. Betul. Sejak zaman televisi masih dipukul dulu kalau gambarnya kabur, Indonesia selalu lolos. Kali ini tidak.
Puncak kesedihan terjadi ketika Prancis mengalahkan Indonesia 4-1 pada laga terakhir Grup D. Rasanya seperti ditolak mantan di depan penghulu. Satu-satunya poin Indonesia saat itu justru datang dari pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri. Di tengah kapal yang bocor dari segala arah, mereka menjadi dua awak yang masih sibuk menimba air pakai sendok.
Setelah tragedi tersebut, Indonesia menjalani tur Eropa yang hasilnya mirip acara undian berhadiah tetapi semua peserta cuma dapat ucapan terima kasih. Dari All England Super 1000, German Open, Swiss Open, Orleans Masters, hingga Kejuaraan Asia BAC, tidak ada satu pun gelar yang berhasil dibawa pulang.
Untung semesta masih menyisakan sedikit belas kasihan. Pada 17 Mei 2026, pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin yang baru saja kembali dipasangkan setelah dua tahun berpisah berhasil menjuarai Thailand Open 2026.
Kisah mereka seperti sinetron sore hari. Lama berpisah, bertemu lagi, lalu langsung juara. Lebih hebat lagi, mereka mengalahkan pasangan nomor satu dunia asal India, Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, dengan skor 21-12 dan 25-23. Kutukan gelar pun pecah.
Lalu datanglah Singapore Open 2026, turnamen Super 750 dengan total hadiah 1 juta dolar AS atau sekitar Rp17,7 miliar. Harapan kembali bertumpu pada Fajar/Fikri. Mereka melaju ke final setelah mengalahkan ganda China Liang Wei Keng dan Wang Chang dengan skor 23-21 dan 21-14.
Saat itu saya sudah membayangkan Indonesia Raya berkumandang dan trofi terbang menuju tanah air. Ternyata yang terbang justru prediksi saya.
Di final yang berlangsung 73 menit, Fajar/Fikri kembali bertemu Rankireddy dan Shetty. Gim pertama berhasil dimenangkan Indonesia 21-18 setelah empat poin beruntun yang membuat pendukung Merah Putih mulai tersenyum lebar.
Namun pada gim kedua, pasangan India bangkit. Dari posisi 8-8 mereka melesat dengan enam poin beruntun dan menang 21-17. Di gim ketiga, Fajar/Fikri sempat mendekat menjadi 13-14. Harapan kembali muncul. Sayangnya India menjauh dan mengunci kemenangan dengan skor 18-21, 21-17, dan 21-16.
Sebagai runner up, Fajar/Fikri membawa pulang 35 ribu dolar AS atau sekitar Rp620 juta. Andai juara, mereka bisa mengantongi 74 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,31 miliar. Selisihnya cukup membuat kalkulator ikut patah hati.
Usai laga, Fajar mengakui lawan tampil sangat percaya diri dengan serangan mematikan. Fikri menambahkan perubahan pola servis dan pengembalian lawan pada gim kedua dan ketiga membuat mereka lebih tertekan.
After Singapore Open, bulutangkis dunia tertuju ke Indonesia Open. Kita tuan rumah. Usahakan dapat gelar lah di hadapan ribuan pendukung yang teriak “Uu….Aa…” Malu kalau tak dapat gelar di kandang sendiri. Mr Taufik Hidayat, come on, jangan evaluasi melulu.
Sumber foto: bolasport.com
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
REKOMENDASI KAMI
- Memuat artikel...

