Prabowo Percepat Solusi Sampah Nasional, 34 Proyek Waste to Energy Siap Jalan
![]() |
| Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. |
JAKARTA -- Pemerintah di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto semakin serius membenahi persoalan sampah yang kian meresahkan masyarakat. Tak ingin masalah ini berlarut-larut, Presiden meminta agar riset dan inovasi diarahkan lebih tajam untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, terutama soal sampah rumah tangga dan lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi usai mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga di Gedung Bappenas, Jakarta. Menurutnya, Presiden ingin hasil penelitian tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Bapak Presiden menekankan agar penelitian difokuskan pada solusi yang cepat dan tepat untuk persoalan masyarakat, salah satunya penanganan sampah rumah tangga dan sampah lingkungan,” ujar Prasetyo.
Ia menjelaskan, sebenarnya Indonesia sudah memiliki banyak produk riset yang mampu mengatasi persoalan sampah, mulai dari skala kecil seperti rumah tangga, RT, RW, hingga desa. Inovasi-inovasi ini diharapkan bisa segera diterapkan agar masalah sampah tidak terus menumpuk tanpa solusi nyata.
Dalam pendekatan penanganan sampah, pemerintah membaginya ke dalam beberapa tingkatan. Pada skala mikro, fokusnya adalah sampah rumah tangga hingga lingkungan desa. Sementara pada skala makro, tantangan terbesar datang dari sampah perkotaan yang volumenya jauh lebih besar dan kompleks.
Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah menyiapkan 34 proyek waste to energy, yakni program pengolahan sampah menjadi energi listrik. Proyek ini dirancang untuk mengatasi penumpukan sampah sekaligus membantu memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Presiden Prabowo menilai program waste to energy sangat krusial, mengingat kondisi sampah di kota-kota besar sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Jika dibiarkan, tumpukan sampah berpotensi memicu bencana lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat.
Melalui proyek ini, sampah tidak hanya dibersihkan dari kawasan perkotaan, tetapi juga diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Prasetyo mengungkapkan, proyek tersebut akan diterapkan di 34 kabupaten dengan produksi sampah lebih dari 1.000 ton per hari.
“Jika volumenya sudah sebesar itu, maka teknologi dan peralatan yang digunakan tentu berbeda dengan skala mikro,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah membutuhkan teknologi yang adaptif dan cepat diterapkan, seperti pembangunan insinerator yang disesuaikan dengan kapasitas sampah di tiap daerah. Namun, Prasetyo menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Pemilahan sampah sejak dari rumah dinilai sangat menentukan agar sistem waste to energy bisa berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Penyelesaian masalah sampah bukan hanya soal membangun fasilitasnya, tapi juga bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar ikut terlibat,” tegas Prasetyo.
Dengan kolaborasi teknologi dan kesadaran publik, pemerintah optimistis persoalan sampah bisa ditangani lebih efektif, sekaligus memberi manfaat nyata berupa energi bagi masyarakat. Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya bersih, tetapi juga bernilai ekonomi dan lingkungan.
