Kredit UMKM Terus Anjlok, Bank Indonesia Bongkar Penyebabnya
![]() |
| Kredit UMKM Terus Anjlok, Bank Indonesia Bongkar Penyebabnya. (Gambar ilustrasi) |
JAKARTA - Seiring berjalannya waktu, kabar kurang menggembirakan datang dari dunia usaha kecil dan menengah di Indonesia. Kredit yang diberikan kepada segmen UMKM ternyata terus menurun, padahal pemerintah sudah meluncurkan berbagai program prioritas untuk mendongkrak pertumbuhan mereka. Lalu, apa sih yang sebenarnya terjadi?
Data terbaru menunjukkan tren yang cukup mengejutkan. Selama 2025, total kredit UMKM mengalami kontraksi 0,3% dibanding tahun sebelumnya. Kalau dibedah lebih detail, usaha mikro turun hingga 4,68%, usaha menengah turun 2,02%, sementara usaha kecil justru naik tipis 6,8%. Dari sisi pangsa kredit, UMKM juga terlihat merosot. Dari 20,55% di akhir 2023, turun jadi 17,49% di akhir 2025. Artinya, porsi UMKM dari total kredit perbankan makin mengecil.
Menurut pengamatan Bank Indonesia, perlambatan ini terjadi karena risiko yang ditanggung perbankan semakin tinggi. Bank jadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Mereka harus menimbang, seberapa besar risiko yang siap diambil agar tidak mengalami kerugian. Situasi ini membuat banyak UMKM sulit mendapatkan modal tambahan, padahal modal adalah darah kehidupan bagi usaha skala kecil dan menengah.
Meski begitu, BI tetap optimis. Tahun 2026, pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan ditargetkan antara 8%-12%. Hal ini diyakini bisa tercapai karena fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Artinya, kalau risiko bisa dikelola, peluang bagi UMKM untuk mendapatkan kredit juga masih terbuka.
Bagi para pelaku UMKM, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk tetap mendapatkan akses kredit. Pertama, perhatikan laporan keuangan dan catatan bisnis agar lebih transparan bagi bank. Kedua, manfaatkan program pemerintah yang ada, seperti pembiayaan dengan bunga rendah atau skema penjaminan kredit. Ketiga, bangun reputasi usaha yang sehat, karena bank cenderung memilih debitur yang track record-nya jelas.
Menurunnya kredit UMKM memang menjadi tantangan serius, tapi bukan berarti jalan tertutup. Dengan memahami faktor risiko yang menjadi perhatian bank dan mempersiapkan usaha dengan lebih matang, UMKM masih punya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Kuncinya, kesadaran akan manajemen risiko dan pemanfaatan program pemerintah secara optimal.
Kesimpulannya, kredit UMKM menurun bukan karena salah satu pihak semata, tapi karena kombinasi risiko usaha dan selektivitas perbankan. Namun, peluang tetap ada. Dengan strategi yang tepat, UMKM bisa memanfaatkan kredit sebagai bahan bakar untuk ekspansi usaha, membuka lapangan kerja baru, dan ikut menggerakkan ekonomi nasional. Jadi, jangan patah semangat, karena modal bisa dicari dengan cara yang lebih cerdas.
