Berita BorneoTribun: Vladimir Putin hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Vladimir Putin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vladimir Putin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Moskow Kecam Rencana Blokade Selat Hormuz Oleh AS, Dinilai Sepihak

Moskow mengecam rencana blokade Selat Hormuz oleh AS dan menyebutnya ilegal serta berisiko memicu ketegangan global di jalur minyak dunia.
Moskow mengecam rencana blokade Selat Hormuz oleh AS dan menyebutnya ilegal serta berisiko memicu ketegangan global di jalur minyak dunia.

Kamis, (17/4/2026) — Ketegangan global kembali memanas setelah Rusia melontarkan kritik keras terhadap rencana Amerika Serikat yang ingin memberlakukan blokade laut di wilayah Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai sepihak dan berpotensi memperburuk situasi keamanan internasional.

Pemerintah Rusia secara tegas menyebut rencana tersebut sebagai tindakan ilegal yang melanggar prinsip hukum internasional. Menurut pihak Moskow, kebijakan semacam itu tidak boleh dilakukan secara sepihak tanpa adanya persetujuan internasional.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur strategis dunia. Banyak kapal pengangkut minyak dari kawasan Timur Tengah melintasi wilayah ini setiap hari. Karena itu, setiap kebijakan militer di kawasan tersebut langsung menjadi perhatian global.

Rusia Nilai Blokade Bisa Memicu Konflik Lebih Besar

Dalam pernyataan resminya, pihak Rusia menilai bahwa langkah pemblokiran jalur laut berisiko memicu eskalasi konflik baru. Mereka juga menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer di kawasan sensitif seperti Selat Hormuz harus dipertimbangkan secara matang.

Menurut pandangan Moskow, tindakan sepihak dapat menimbulkan ketidakstabilan regional yang berpotensi berdampak pada ekonomi global. Jalur perdagangan energi dunia bisa terganggu jika situasi di Selat Hormuz semakin tidak kondusif.

Selain itu, Rusia juga menekankan pentingnya pendekatan diplomatik sebagai jalan utama dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Perhatian Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sebagian besar pasokan minyak global melewati wilayah ini setiap hari. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak negara.

Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas militer di kawasan itu meningkat. Beberapa kapal bahkan dilaporkan harus memutar arah setelah adanya pengawasan ketat di wilayah laut tersebut. Kondisi ini membuat pelaku industri energi mulai waspada terhadap potensi gangguan distribusi.

Para analis menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga minyak global. Jika konflik meningkat, bukan tidak mungkin harga energi melonjak dan berdampak pada ekonomi berbagai negara.

Rusia Serukan Dialog Internasional

Pemerintah Rusia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog. Mereka menilai bahwa konflik bersenjata atau tekanan militer hanya akan memperburuk situasi yang sudah sensitif.

Pendekatan diplomatik dianggap sebagai jalan terbaik untuk menghindari konflik berkepanjangan. Selain itu, kerja sama internasional dinilai penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi jalur perdagangan global.

Moskow juga mengingatkan bahwa keputusan yang berkaitan dengan jalur laut internasional seharusnya melibatkan banyak pihak, bukan hanya satu negara saja.

Dampak Global Mulai Terasa

Ketegangan di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung. Banyak negara lain mulai merasakan efeknya, terutama yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Sejumlah perusahaan pelayaran dan energi dilaporkan mulai meninjau ulang rute pengiriman mereka. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi konflik.

Jika situasi terus memanas, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.

Situasi Masih Berkembang

Hingga saat ini, perkembangan situasi di Selat Hormuz masih terus dipantau oleh berbagai pihak internasional. Ketegangan yang terjadi membuat dunia menaruh perhatian besar terhadap langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya.

Banyak pengamat berharap agar semua pihak dapat menahan diri dan memilih jalur diplomasi. Stabilitas kawasan dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga keamanan jalur perdagangan dunia.

Dengan posisi Selat Hormuz yang sangat strategis, setiap keputusan yang diambil di kawasan ini akan berdampak luas, tidak hanya bagi negara di sekitarnya, tetapi juga bagi perekonomian global.

Ancaman Rudal Rusia Disebut Bisa Lumpuhkan Rencana Drone Uni Eropa

Ancaman rudal Rusia disebut mampu melumpuhkan rencana drone Uni Eropa untuk Ukraina, memicu kekhawatiran soal keamanan proyek militer masa depan.
Ancaman rudal Rusia disebut mampu melumpuhkan rencana drone Uni Eropa untuk Ukraina, memicu kekhawatiran soal keamanan proyek militer masa depan.

Jumat, (17/4/2026) — Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali menjadi sorotan setelah muncul analisis dari seorang pakar militer yang menyebut bahwa rencana besar Uni Eropa untuk memperkuat Ukraina dengan drone bisa langsung runtuh jika Rusia melancarkan serangan rudal skala besar.

Rencana Uni Eropa sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu langkah strategis untuk membantu Ukraina menghadapi tekanan militer yang terus meningkat. Namun, sejumlah pihak kini mulai mempertanyakan seberapa aman proyek tersebut jika terjadi eskalasi konflik.

Proyek Drone Eropa Dinilai Rentan

Dalam analisis yang beredar, seorang pakar militer menilai bahwa fasilitas produksi drone dan infrastruktur pendukung di Eropa berpotensi menjadi target strategis apabila konflik semakin memanas.

Menurutnya, serangan rudal Rusia yang presisi dan berdaya hancur tinggi dapat langsung merusak fasilitas vital dalam waktu singkat. Jika hal itu terjadi, maka rencana pengiriman drone dalam jumlah besar ke Ukraina berisiko gagal total.

Pandangan ini memicu diskusi panjang di kalangan pengamat militer. Sebab, proyek drone yang sedang disiapkan oleh negara-negara Eropa memang dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina di medan perang modern.

Drone Jadi Senjata Utama Perang Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, drone telah berubah menjadi salah satu alat tempur paling penting dalam konflik bersenjata. Teknologi ini memungkinkan serangan presisi tanpa harus mengirim banyak pasukan ke garis depan.

Penggunaan drone juga dinilai lebih efisien dari sisi biaya dibandingkan dengan sistem persenjataan berat lainnya. Karena itulah, banyak negara kini berlomba-lomba memperkuat produksi drone, termasuk negara-negara di kawasan Eropa.

Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap drone juga membuka celah baru. Jika fasilitas produksi atau pusat logistik berhasil diserang, maka rantai pasokan bisa terhenti secara mendadak.

Risiko Eskalasi Konflik Semakin Besar

Situasi geopolitik yang semakin tegang membuat banyak pihak khawatir bahwa konflik bisa melebar. Ancaman terhadap fasilitas militer di wilayah Eropa disebut dapat memicu respons besar dari negara-negara terkait.

Beberapa analis menilai bahwa jika Rusia benar-benar menargetkan infrastruktur drone, dampaknya tidak hanya dirasakan Ukraina, tetapi juga negara-negara Eropa yang terlibat dalam proyek tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa perang modern bukan hanya terjadi di garis depan, tetapi juga di sektor produksi, teknologi, dan logistik.

Eropa Dihadapkan Pada Tantangan Strategis

Di tengah meningkatnya ancaman, Uni Eropa kini menghadapi tantangan besar dalam memastikan keamanan proyek drone mereka. Selain memperkuat produksi, perlindungan terhadap fasilitas penting juga menjadi prioritas utama.

Penguatan sistem pertahanan udara di sekitar fasilitas produksi disebut sebagai salah satu langkah yang harus segera dilakukan. Tanpa perlindungan maksimal, proyek drone berisiko menjadi target yang mudah.

Para pengamat juga menilai bahwa strategi jangka panjang perlu disiapkan agar proyek tidak mudah terganggu oleh serangan mendadak.

Masa Depan Perang Dipengaruhi Teknologi

Perkembangan teknologi militer membuat pola perang berubah drastis. Drone, rudal presisi, dan sistem pertahanan canggih kini menjadi faktor utama dalam menentukan kemenangan di medan konflik.

Karena itu, setiap langkah strategis harus diperhitungkan dengan matang. Kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berdampak besar terhadap jalannya operasi militer.

Ancaman terhadap proyek drone Uni Eropa menjadi pengingat bahwa dalam konflik modern, keamanan teknologi sama pentingnya dengan kekuatan militer itu sendiri.

Eropa Kirim Drone Ke Ukraina, Analis Sebut Bisa Jadi Target Rusia

Jalur pasokan drone Eropa ke Ukraina disebut berisiko menjadi target Rusia. Analis menilai konflik bisa melebar jika dukungan militer terus meningkat.
Jalur pasokan drone Eropa ke Ukraina disebut berisiko menjadi target Rusia. Analis menilai konflik bisa melebar jika dukungan militer terus meningkat.

Jumat, (17/4/2026) — Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali meningkat setelah muncul peringatan dari sejumlah analis militer terkait jalur pasokan drone menuju Ukraina. Jalur tersebut disebut berpotensi menjadi sasaran strategis jika konflik terus berkembang.

Dalam beberapa waktu terakhir, dukungan militer dari negara-negara Eropa kepada Ukraina semakin intens, terutama dalam bentuk produksi dan pengiriman drone. Teknologi tanpa awak ini kini menjadi salah satu alat utama dalam peperangan modern dan dianggap mampu mengubah jalannya pertempuran di lapangan.

Seorang analis militer menilai bahwa fasilitas produksi drone serta jalur distribusinya di kawasan Eropa bisa menjadi target penting bagi Rusia. Hal ini karena keberadaan jalur tersebut dinilai sangat vital untuk mendukung operasi militer Ukraina.

Drone kini bukan sekadar alat pengintai. Dalam konflik modern, drone sudah berkembang menjadi senjata serang yang mampu menghantam target bernilai tinggi dengan biaya relatif murah. Karena itu, pasokan drone menjadi elemen penting dalam strategi pertahanan Ukraina.

Di sisi lain, negara-negara Eropa terlihat semakin aktif dalam memperkuat kerja sama industri militer. Beberapa fasilitas produksi dan perakitan drone disebut telah tersebar di berbagai negara. Dukungan ini tidak hanya dalam bentuk teknologi, tetapi juga pelatihan dan pengembangan sistem operasi drone.

Namun, langkah tersebut dinilai membawa risiko tersendiri. Jika fasilitas produksi atau jalur distribusi drone dianggap sebagai bagian dari upaya militer, maka potensi serangan balasan bisa saja meningkat.

Sejumlah pengamat menilai bahwa situasi ini menunjukkan adanya perubahan pola konflik modern. Tidak hanya garis depan yang menjadi sasaran, tetapi juga infrastruktur pendukung di luar wilayah perang.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perang teknologi semakin dominan. Drone yang awalnya hanya digunakan untuk pengintaian kini berkembang menjadi senjata utama yang mampu menekan pergerakan lawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan drone dalam konflik memang meningkat tajam. Kedua pihak dalam konflik diketahui terus meningkatkan kapasitas produksi drone dalam jumlah besar untuk mempertahankan posisi masing-masing.

Selain itu, perkembangan teknologi drone juga membuat negara-negara Eropa semakin waspada terhadap potensi ancaman terhadap infrastruktur penting. Sistem energi, transportasi, hingga fasilitas industri dinilai rentan terhadap serangan berbasis drone.

Analis memperingatkan bahwa jika ketegangan terus meningkat, konflik bisa meluas tidak hanya di wilayah Ukraina, tetapi juga berdampak pada stabilitas keamanan di kawasan Eropa secara keseluruhan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa serangan terhadap fasilitas di luar wilayah konflik benar-benar terjadi. Banyak pihak masih berharap situasi dapat dikendalikan melalui jalur diplomasi dan negosiasi internasional.

Di tengah situasi yang belum menentu, perkembangan teknologi militer seperti drone diprediksi akan terus menjadi faktor penentu dalam konflik masa depan. Negara-negara di berbagai belahan dunia kini berlomba meningkatkan kemampuan teknologi pertahanan mereka untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

Dengan kondisi yang terus berubah, jalur pasokan drone dari Eropa ke Ukraina diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama dalam dinamika konflik global ke depan.

Kremlin Sebut Rusia Sudah Terbiasa Hadapi Sanksi Barat Selama Bertahun-Tahun

Kremlin menyatakan Rusia telah bertahun-tahun hidup di bawah sanksi Barat dan kini mengklaim mampu meminimalkan dampaknya melalui berbagai strategi adaptasi ekonomi.
Kremlin menyatakan Rusia telah bertahun-tahun hidup di bawah sanksi Barat dan kini mengklaim mampu meminimalkan dampaknya melalui berbagai strategi adaptasi ekonomi.

Moskow, Kamis (17/4/2026) — Pemerintah Rusia kembali menegaskan bahwa negaranya sudah terbiasa hidup di bawah tekanan sanksi internasional selama bertahun-tahun. Bahkan, pihak Kremlin menyebut dampak sanksi tersebut kini bisa diminimalkan berkat berbagai strategi adaptasi yang telah dijalankan.

Juru bicara Kremlin menyampaikan bahwa Rusia telah menghadapi berbagai sanksi sejak lama, sehingga pemerintah dan pelaku ekonomi di dalam negeri sudah memiliki pengalaman menghadapi kondisi tersebut. Menurutnya, sanksi yang terus datang dari negara Barat dianggap sebagai tekanan yang tidak sah, namun Rusia tetap berusaha menyesuaikan diri agar dampaknya tidak terlalu besar.

Rusia Disebut Sudah Terbiasa Hidup Dengan Sanksi

Dalam pernyataan resmi, pihak Kremlin menjelaskan bahwa kehidupan di bawah sanksi bukan hal baru bagi Rusia. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai pembatasan ekonomi telah diterapkan oleh negara-negara Barat, terutama setelah konflik yang melibatkan Rusia di kawasan Eropa Timur.

Meski tekanan terus bertambah, pemerintah Rusia mengklaim telah mengembangkan berbagai cara untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mencari jalur perdagangan alternatif serta memperkuat produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada negara lain.

Pihak Kremlin juga menilai bahwa setiap sanksi baru memang membawa tantangan, namun pada saat yang sama memaksa Rusia untuk menjadi lebih mandiri dalam berbagai sektor, termasuk energi dan industri.

Strategi Adaptasi Jadi Kunci Bertahan

Pemerintah Rusia menyebut bahwa strategi adaptasi menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak negatif dari sanksi internasional. Selama bertahun-tahun, berbagai kebijakan telah diterapkan untuk menjaga pergerakan ekonomi tetap stabil.

Langkah-langkah tersebut meliputi memperluas kerja sama dengan negara-negara yang tidak ikut menjatuhkan sanksi serta memperkuat jaringan distribusi barang melalui jalur alternatif. Dengan cara ini, Rusia tetap dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri meski menghadapi pembatasan perdagangan.

Selain itu, sektor energi juga menjadi perhatian utama. Rusia terus berupaya mempertahankan ekspor energi sebagai sumber pendapatan penting bagi negara. Upaya ini dianggap sebagai salah satu faktor yang membantu ekonomi Rusia tetap berjalan di tengah tekanan global.

Tekanan Internasional Masih Terus Berlanjut

Meski pemerintah Rusia menyatakan mampu meminimalkan dampak sanksi, tekanan internasional terhadap negara tersebut masih terus berlangsung. Negara-negara Barat tetap memberlakukan berbagai pembatasan ekonomi sebagai respons terhadap konflik geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

Dalam beberapa waktu terakhir, paket sanksi baru terus diperkenalkan, termasuk pembatasan pada sektor energi, perdagangan, serta teknologi. Tujuannya adalah untuk membatasi kemampuan Rusia dalam menjalankan aktivitas ekonomi tertentu.

Namun di sisi lain, pihak Kremlin menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Pemerintah berjanji akan terus mengembangkan strategi baru agar ekonomi tetap bertahan dan masyarakat tidak terlalu merasakan dampak berat dari sanksi internasional.

Tantangan Ekonomi Masih Menjadi Perhatian

Para pengamat menilai bahwa meski Rusia mengklaim mampu bertahan, tantangan ekonomi tetap menjadi perhatian serius. Sanksi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, investasi, serta perdagangan internasional.

Di tengah kondisi global yang tidak menentu, Rusia dituntut untuk terus berinovasi dan menjaga stabilitas dalam negeri. Pemerintah juga diharapkan mampu memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meski tekanan ekonomi terus berlangsung.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat di dalam negeri.

Rusia Tegaskan Akan Terus Bertahan

Menutup pernyataannya, pihak Kremlin menegaskan bahwa Rusia akan terus bertahan menghadapi sanksi internasional. Pemerintah percaya bahwa pengalaman panjang menghadapi tekanan ekonomi telah membuat negara tersebut semakin siap menghadapi tantangan di masa depan.

Meski tekanan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Rusia tetap optimistis mampu mempertahankan stabilitas ekonomi serta melanjutkan pembangunan nasional dalam jangka panjang.

Rabu, 15 April 2026

Putin Undang Prabowo Hadiri Forum Ekonomi Dan Pameran Industri Rusia 2026

Putin undang Prabowo hadiri KazanForum Mei dan expo industri Rusia Juli 2026. Agenda ini disebut memperkuat kerja sama ekonomi dan hubungan strategis Indonesia–Rusia.
Putin undang Prabowo hadiri KazanForum Mei dan expo industri Rusia Juli 2026. Agenda ini disebut memperkuat kerja sama ekonomi dan hubungan strategis Indonesia–Rusia.

JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin secara langsung mengundang Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk kembali berkunjung ke Rusia pada tahun 2026. Undangan tersebut berkaitan dengan agenda forum ekonomi internasional serta pameran industri besar yang dijadwalkan berlangsung pada Mei dan Juli mendatang.

Undangan itu disampaikan saat kedua pemimpin negara bertemu dalam pertemuan bilateral di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin (13/4).

Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa Presiden Putin secara khusus mengajak Presiden Prabowo menghadiri dua agenda penting di Rusia.

Dalam tayangan video resmi yang direkam di Moskow dan disiarkan oleh Sekretariat Presiden RI, Sugiono menyebut undangan tersebut sebagai bagian dari penguatan hubungan antara Indonesia dan Rusia.

"Presiden Putin juga menyampaikan undangan bagi Presiden Prabowo untuk menghadiri acara di Kazan yang akan diselenggarakan pada bulan Mei, dan juga pameran industri besar yang akan dilaksanakan pada bulan Juli yang akan datang," ujar Sugiono.

Pertemuan bilateral tersebut merupakan agenda utama dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Rusia.

Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo turut didampingi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Selepas pertemuan bilateral resmi, kedua pemimpin negara melanjutkan diskusi dalam format pertemuan empat mata.

Sugiono menjelaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana makan siang dan membahas berbagai isu strategis, termasuk perkembangan geopolitik global yang menjadi perhatian bersama.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Rusia tidak hanya terbatas pada kerja sama ekonomi, tetapi juga mencakup dialog strategis mengenai stabilitas kawasan dan dunia.

Menurut Sugiono, Rusia merupakan salah satu mitra strategis penting bagi Indonesia, baik dalam bidang perdagangan maupun hubungan diplomatik jangka panjang.

Beberapa rencana kerja sama yang tengah disiapkan mencakup:

  • Penguatan kerja sama ekonomi

  • Perluasan hubungan perdagangan

  • Peningkatan interaksi antarwarga negara

  • Kolaborasi industri dan teknologi

Langkah-langkah ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi kedua negara dalam jangka panjang.

KazanForum Jadi Agenda Penting Pada Mei 2026

Salah satu acara yang diundang untuk dihadiri Presiden Prabowo adalah International Economic Forum Russia–Islamic World: KazanForum.

Forum ekonomi internasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada:

Tanggal: 12–17 Mei 2026
Lokasi: Kazan Expo, Kota Kazan, Republik Tatarstan, Rusia

Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Rusia bekerja sama dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Forum tersebut dikenal sebagai ajang penting yang mempertemukan pelaku bisnis, investor, serta pemerintah dari berbagai negara, khususnya negara-negara dengan populasi Muslim besar.

Partisipasi Indonesia dalam forum ini dinilai berpotensi membuka peluang investasi baru, terutama di sektor energi, infrastruktur, dan industri halal.

Expo Industri INNOPROM 2026 Digelar Juli

Selain KazanForum, Presiden Prabowo juga diundang menghadiri pameran industri internasional International Innovation Industry Expo (INNOPROM) 2026.

Agenda ini dijadwalkan berlangsung pada:

Tanggal: 6–9 Juli 2026
Lokasi: Ekaterinburg, Rusia

INNOPROM dikenal sebagai salah satu pameran industri terbesar di Rusia yang menampilkan inovasi teknologi terbaru di berbagai sektor, termasuk manufaktur, energi, otomotif, dan digitalisasi industri.

Keikutsertaan Indonesia dalam acara tersebut berpotensi memperluas peluang kerja sama industri dan transfer teknologi.

Undangan dari Presiden Putin kepada Presiden Prabowo menunjukkan bahwa hubungan bilateral Indonesia–Rusia terus bergerak menuju arah yang lebih strategis.

Diplomasi ekonomi menjadi salah satu fokus utama dalam hubungan kedua negara, terutama dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.

Para analis hubungan internasional menilai bahwa keterlibatan Indonesia dalam forum internasional seperti KazanForum dan INNOPROM dapat memperkuat posisi Indonesia di panggung ekonomi global.

Keikutsertaan Presiden Prabowo dalam agenda internasional di Rusia memiliki beberapa arti penting bagi Indonesia, antara lain:

  1. Memperluas akses pasar internasional

  2. Meningkatkan investasi asing

  3. Menguatkan hubungan diplomatik

  4. Mendukung transformasi industri nasional

  5. Meningkatkan kerja sama teknologi

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diplomasi ekonomi Indonesia dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

FAQ

1. Kapan Presiden Prabowo diundang menghadiri acara di Rusia?
Presiden Prabowo diundang menghadiri forum ekonomi pada 12–17 Mei 2026 dan pameran industri pada 6–9 Juli 2026.

2. Apa itu KazanForum?
KazanForum adalah forum ekonomi internasional yang mempertemukan negara-negara dari Rusia dan dunia Islam untuk membahas kerja sama ekonomi dan investasi.

3. Apa tujuan undangan dari Presiden Putin?
Undangan tersebut bertujuan memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, dan kerja sama strategis antara Indonesia dan Rusia.

4. Apa manfaat bagi Indonesia jika hadir di forum tersebut?
Indonesia berpeluang mendapatkan investasi baru, memperluas pasar ekspor, serta menjalin kerja sama teknologi dan industri.

5. Siapa saja yang mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan di Kremlin?
Presiden Prabowo didampingi oleh Menlu Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Seskab Teddy Indra Wijaya.

Minggu, 29 Maret 2026

Rusia Klaim Tembak Jatuh 26 Drone Ukraina Dalam Satu Malam

Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh 26 drone Ukraina dalam satu malam, menandai meningkatnya serangan udara dalam konflik yang terus memanas.
Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh 26 drone Ukraina dalam satu malam, menandai meningkatnya serangan udara dalam konflik yang terus memanas.

Sistem pertahanan udara Rusia dilaporkan berhasil menggagalkan puluhan serangan drone yang diduga berasal dari Ukraina dalam satu malam. Serangan ini menjadi bagian dari dinamika konflik yang terus memanas, terutama di wilayah perbatasan dan area strategis Rusia yang belakangan semakin sering menjadi target. Informasi ini disampaikan oleh pihak militer Rusia melalui pernyataan resmi mereka, Minggu, (28/3/2026).

Menurut laporan tersebut, sebanyak 26 drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia di beberapa wilayah berbeda. Otoritas setempat menyebutkan bahwa upaya ini dilakukan untuk mencegah kerusakan infrastruktur vital serta menghindari potensi korban jiwa di kalangan warga sipil.

Serangan drone sendiri dalam beberapa waktu terakhir memang semakin sering digunakan dalam konflik modern. Selain lebih fleksibel, drone juga dinilai lebih sulit dideteksi dibandingkan dengan serangan konvensional. Hal ini membuat sistem pertahanan udara menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman tersebut.

Pihak Rusia menegaskan bahwa semua drone yang terdeteksi langsung ditindak cepat begitu memasuki wilayah udara mereka. Sistem pertahanan yang digunakan disebut mampu bekerja secara efektif dalam mengidentifikasi dan menghancurkan target sebelum mencapai sasaran.

Meski demikian, belum ada laporan rinci mengenai dampak langsung dari insiden ini di lapangan. Otoritas Rusia menyatakan situasi tetap terkendali, namun tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi serangan lanjutan.

Di sisi lain, konflik antara Rusia dan Ukraina hingga kini masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. Kedua pihak sama-sama meningkatkan strategi militer, termasuk penggunaan teknologi seperti drone yang semakin canggih.

Pengamat militer menilai bahwa peningkatan serangan drone ini bisa menjadi indikasi perubahan taktik dalam peperangan modern. Selain lebih hemat biaya, penggunaan drone juga dapat meminimalkan risiko bagi personel militer di lapangan.

Dengan situasi yang masih belum stabil, masyarakat internasional terus memantau perkembangan konflik ini. Upaya diplomasi masih dilakukan, namun hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan untuk meredakan ketegangan.

Rusia Soroti Serangan Ke Fasilitas Nuklir Iran Yang Ancam Stabilitas Global

Rusia memperingatkan serangan ke fasilitas nuklir Iran dapat melemahkan perjanjian non-proliferasi dan memicu ketegangan global yang lebih luas.
Rusia memperingatkan serangan ke fasilitas nuklir Iran dapat melemahkan perjanjian non-proliferasi dan memicu ketegangan global yang lebih luas.

Ketegangan global kembali meningkat setelah Rusia menyoroti potensi ancaman serius terhadap perjanjian non-proliferasi nuklir. 

Dalam pernyataan resminya, pihak Kementerian Luar Negeri Rusia mengkritik keras tindakan negara-negara yang menyerang fasilitas nuklir Iran, yang dinilai bisa merusak stabilitas keamanan dunia. 

Isu ini pun langsung menjadi perhatian internasional karena menyangkut keseimbangan kekuatan global dan keamanan jangka panjang, Minggu (29/3/2026).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran bukan hanya tindakan militer biasa, tetapi juga berpotensi melemahkan fondasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). 

Perjanjian ini selama puluhan tahun menjadi pilar utama dalam mencegah penyebaran senjata nuklir di berbagai negara.

Menurut Rusia, langkah agresif terhadap infrastruktur nuklir suatu negara justru bisa menjadi preseden berbahaya. 

Negara lain dapat merasa terancam dan akhirnya memilih untuk memperkuat program nuklir mereka sebagai bentuk pertahanan diri. Kondisi ini dinilai bisa memicu perlombaan senjata nuklir yang lebih luas.

Di sisi lain, Iran sendiri selama ini berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. 

Namun, kecurigaan dari sejumlah negara Barat masih terus berlangsung, sehingga memicu ketegangan geopolitik yang belum juga mereda hingga saat ini.

Rusia juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, bukan dengan kekuatan militer. 

Dialog dinilai sebagai satu-satunya cara efektif untuk menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik yang lebih besar.

Para pengamat menilai situasi ini bisa berdampak luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah tetapi juga pada hubungan internasional secara keseluruhan. 

Ketegangan yang meningkat berpotensi memengaruhi ekonomi global, terutama sektor energi, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak penting di dunia.

Selain itu, isu ini juga memicu kekhawatiran akan melemahnya sistem hukum internasional. Jika serangan terhadap fasilitas strategis seperti nuklir dianggap wajar, maka aturan global bisa kehilangan legitimasi di mata banyak negara.

Dengan kondisi yang semakin kompleks, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari negara-negara besar. 

Apakah konflik akan mereda melalui diplomasi, atau justru semakin memanas menjadi krisis global yang lebih besar.

Minggu, 15 Maret 2026

Putin Berpotensi Bertemu Pemimpin Baru Iran Di KTT Laut Kaspia, Dunia Soroti Diplomasi Rusia

Putin berpotensi bertemu pemimpin baru Iran dalam KTT Laut Kaspia 2026. Pertemuan ini dinilai penting bagi hubungan Rusia-Iran di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Putin berpotensi bertemu pemimpin baru Iran dalam KTT Laut Kaspia 2026. Pertemuan ini dinilai penting bagi hubungan Rusia-Iran di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Putin Berpotensi Bertemu Pemimpin Baru Iran Di KTT Laut Kaspia, Dunia Soroti Diplomasi Rusia

RUSIA -- Rencana pertemuan penting antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan pemimpin baru Iran mulai menjadi perhatian dunia internasional. Pertemuan tersebut diperkirakan dapat terjadi dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Laut Kaspia yang akan digelar pada tahun 2026.

Isyarat mengenai pertemuan ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali. Ia menyebutkan bahwa pertemuan antara Putin dan pemimpin baru Iran sangat mungkin terjadi di sela-sela forum regional tersebut.

KTT Laut Kaspia sendiri merupakan forum yang mempertemukan lima negara yang berbatasan langsung dengan Laut Kaspia, yaitu Rusia, Iran, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Pertemuan ini biasanya membahas berbagai isu strategis, mulai dari kerja sama ekonomi hingga stabilitas kawasan.

Momentum Diplomasi Rusia Dan Iran

Hubungan antara Rusia dan Iran selama beberapa tahun terakhir memang terlihat semakin erat. Kedua negara kerap melakukan koordinasi dalam berbagai isu geopolitik, termasuk keamanan regional dan kerja sama ekonomi.

Jika pertemuan tersebut benar-benar terjadi, momen ini bisa menjadi pertemuan resmi pertama Putin dengan pemimpin baru Iran, yakni Mojtaba Khamenei.

Sebagaimana diketahui, Mojtaba Khamenei resmi menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah proses pemilihan oleh Majelis Ahli Iran pada awal Maret 2026. Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang sebelumnya memimpin Iran selama puluhan tahun.

Perubahan kepemimpinan ini menjadi salah satu momen penting dalam politik Iran, sekaligus membuka babak baru dalam hubungan diplomatik negara tersebut dengan berbagai mitra internasional.

KTT Kaspia Jadi Ajang Pertemuan Strategis

KTT Laut Kaspia sendiri dikenal sebagai forum strategis bagi negara-negara kawasan untuk memperkuat kerja sama lintas sektor.

Selain isu keamanan kawasan, forum ini juga kerap membahas berbagai topik penting seperti:

  • kerja sama energi

  • perdagangan regional

  • perlindungan lingkungan Laut Kaspia

  • penguatan transportasi dan logistik

Para pemimpin negara yang hadir biasanya juga memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pertemuan bilateral, termasuk pembahasan kerja sama strategis antarnegara.

Dunia Menanti Arah Hubungan Rusia–Iran

Banyak pengamat menilai bahwa kemungkinan pertemuan antara Putin dan pemimpin baru Iran akan memberikan sinyal kuat mengenai arah hubungan kedua negara di masa depan.

Apalagi, Rusia dan Iran selama ini dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dalam berbagai isu geopolitik global. Kerja sama tersebut mencakup bidang energi, pertahanan, hingga diplomasi regional.

Jika pertemuan tersebut benar-benar terlaksana di KTT Laut Kaspia nanti, dunia akan melihat bagaimana kedua negara ini menyusun strategi baru di tengah dinamika politik internasional yang terus berubah.

Dengan situasi geopolitik global yang semakin kompleks, setiap langkah diplomasi antara Rusia dan Iran tentu akan menjadi perhatian banyak pihak.

Jumat, 14 Maret 2025

Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!

Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!
Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!

Moskow, Rusia – Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya buka suara soal usulan gencatan senjata dalam konflik Rusia-Ukraina. Dalam pidatonya pada Kamis (13/3) malam, Putin menyatakan bahwa Rusia menyetujui gencatan senjata, namun dengan satu syarat penting: harus ada jaminan perdamaian jangka panjang.

“Kami setuju dengan usulan untuk menghentikan permusuhan, tetapi kami beranggapan bahwa gencatan senjata ini haruslah sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan perdamaian jangka panjang dan menghilangkan akar penyebab krisis ini,” ujar Putin dalam pernyataannya.

AS Usul Gencatan Senjata 30 Hari, Rusia Skeptis

Sebelumnya, Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Namun, Asisten Kebijakan Luar Negeri utama Putin menolak gagasan itu. Menurutnya, jeda 30 hari hanya akan memberi kesempatan bagi militer Ukraina untuk mengatur ulang strategi mereka.

Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin sekaligus mantan Duta Besar Rusia untuk AS, mengatakan dalam wawancara dengan media Rusia bahwa tujuan Rusia bukan hanya sekadar jeda perang, melainkan penyelesaian damai jangka panjang yang mempertimbangkan kepentingan Rusia.

“Tujuan kami adalah penyelesaian damai jangka panjang. Dan kami menantikan penyelesaian damai yang mempertimbangkan kepentingan sah kami dan kekhawatiran kami yang sudah diketahui,” ujar Ushakov.

Ia juga menambahkan bahwa Rusia tidak menginginkan langkah-langkah yang hanya berpura-pura membawa perdamaian tanpa menyentuh akar permasalahan konflik.

Diplomasi Masih Berjalan, Tapi Rahasia

Dalam upaya mencari titik temu, utusan khusus AS, Steve Witkoff, telah tiba di Moskow untuk melanjutkan pembicaraan dengan pejabat Rusia. Ushakov mengonfirmasi bahwa ia telah berkomunikasi dengan Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Walz. Menariknya, komunikasi ini diklaim tetap bersifat rahasia.

Menurut Ushakov, AS mulai memahami bahwa ada beberapa poin yang tidak bisa dinegosiasikan, seperti keanggotaan Ukraina di NATO yang semakin sulit terwujud.

Ukraina Sambut Baik Usulan AS

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy merespons usulan gencatan senjata AS dengan positif. Ia menyatakan bahwa Ukraina siap menerima gencatan senjata 30 hari sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai yang lebih luas.

“Penghentian pertempuran bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan kesepakatan damai yang lebih besar,” kata Zelenskyy.

Sementara itu, pembicaraan damai terus berlangsung, terutama setelah pertemuan antara pejabat AS dan Ukraina di Arab Saudi awal pekan ini.

Rusia Kembali Kuasai Sudzha

Di tengah negosiasi diplomatik, situasi di lapangan masih panas. Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pasukannya telah merebut kembali kendali atas kota Sudzha di wilayah Kursk, yang sebelumnya dikuasai Ukraina sejak Agustus lalu.

Pasukan Ukraina dilaporkan telah melakukan perlawanan sengit untuk mempertahankan kota itu, namun akhirnya harus mundur setelah serangan Rusia yang semakin intens.

Gencatan Senjata atau Lanjut Perang?

Saat ini, dunia menanti apakah pernyataan Putin benar-benar akan berujung pada gencatan senjata yang nyata atau hanya sekadar strategi politik. Dengan sikap Rusia yang masih ragu terhadap usulan AS dan pertempuran yang masih terjadi di beberapa wilayah, masa depan konflik ini masih belum jelas.

Akankah Rusia dan Ukraina benar-benar duduk bersama untuk mencari solusi damai? Atau konflik ini akan terus berlanjut tanpa titik temu? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!

Sabtu, 01 Maret 2025

Trump Yakin Putin Akan Penuhi Janji Jika Perjanjian Akhiri Perang Ukraina Tercapai

Trump Yakin Putin Akan "Penuhi Janji" Jika Perjanjian Akhiri Perang Ukraina Tercapai
Trump Yakin Putin Akan "Penuhi Janji" Jika Perjanjian Akhiri Perang Ukraina Tercapai.

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan keyakinannya bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, akan menepati janjinya jika kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina dapat tercapai. 

Hal ini disampaikan Trump dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, di Gedung Putih pada Kamis (27/2).

Pembicaraan Damai Sedang Berjalan

Trump menyebut bahwa pembicaraan untuk mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina saat ini "berjalan dengan sangat baik." Dalam pertemuan tersebut, Starmer menekankan pentingnya peran kepemimpinan Amerika dalam menjaga perdamaian di Ukraina, yang hingga kini masih berada dalam situasi perang selama hampir empat tahun.

“Saya rasa dia akan menepati janjinya,” ujar Trump tentang Putin.

Trump juga menegaskan bahwa dirinya telah mengenal Putin sejak lama dan pernah menghadapi isu kontroversial bersama, merujuk pada dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS 2016 yang disebutnya sebagai "hoaks Rusia."

Kekhawatiran Eropa terhadap Pendekatan Trump

Kunjungan Starmer ke AS terjadi tidak lama setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga melakukan lawatan serupa. 

Negara-negara Eropa semakin khawatir bahwa pendekatan agresif Trump dalam menyelesaikan konflik ini bisa diartikan sebagai bentuk kelembutan terhadap Putin.

Sejumlah sekutu AS di Eropa merasa tidak nyaman dengan kebijakan luar negeri Trump yang berfokus pada "America First." Terlebih lagi, pekan lalu, pemerintahan Trump diketahui melakukan pembicaraan langsung dengan Rusia tanpa melibatkan Ukraina atau sekutu Eropa lainnya.

Situasi semakin menjadi perhatian setelah AS menolak menandatangani resolusi PBB yang menyalahkan Rusia atas invasi ke Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari 2022. 

Sikap ini membuat hubungan transatlantik antara AS dan negara-negara Eropa mengalami perubahan besar.

Kesepakatan Kontroversial dengan Ukraina

Pada Jumat (28/2), Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, untuk menandatangani perjanjian kontroversial. 

Kesepakatan ini memberikan akses bagi AS terhadap mineral-mineral penting Ukraina yang digunakan dalam industri kedirgantaraan, pertahanan, dan nuklir. 

Sebagai imbalan, Ukraina akan menerima kompensasi berupa bantuan senjata dari AS untuk melawan invasi Rusia.

Namun, yang menjadi sorotan adalah kesepakatan ini tidak secara langsung membahas pengakhiran perang atau menjamin keamanan jangka panjang bagi Ukraina. 

Hanya ada satu pernyataan yang menyebutkan bahwa "Pemerintah Amerika Serikat mendukung upaya Ukraina untuk mendapatkan jaminan keamanan yang diperlukan guna membangun perdamaian yang langgeng."

Zelenskyy Kecewa dengan Sikap AS

Presiden Zelenskyy dikabarkan tidak puas dengan perjanjian tersebut karena tidak adanya jaminan keamanan khusus dari AS. 

Sementara itu, Trump tampaknya lebih fokus pada kepentingan ekonomi dan menekankan bahwa Rusia akan berpikir dua kali untuk menyerang Ukraina jika negara tersebut memiliki perekonomian yang kuat, salah satunya dengan mengekstraksi mineral-mineral penting.

Pendekatan Trump terhadap konflik ini masih menimbulkan banyak pertanyaan, terutama mengenai seberapa besar komitmen AS dalam mendukung Ukraina. 

Dengan sikap yang lebih condong pada penyelesaian diplomasi ekonomi daripada keamanan militer, arah kebijakan luar negeri Trump terhadap konflik ini masih menjadi tanda tanya bagi banyak pihak, terutama di Eropa.

Bagaimana kelanjutan dari perjanjian ini? Apakah Putin benar-benar akan memenuhi janjinya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Senin, 24 Februari 2025

Pertemuan Tatap Muka Trump dan Putin Sedang Dipersiapkan

Pertemuan Tatap Muka Trump dan Putin Sedang Dipersiapkan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan pada awal pertemuan di Helsinki, Finlandia, 16 Juli 2018. (Foto: Pablo Martinez Monsivais/AP Photo)
JAKARTA - Persiapan untuk pertemuan tatap muka antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin kini sedang berlangsung. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengungkapkan pada Sabtu (22/2) bahwa pertemuan ini bisa menjadi momen penting dalam hubungan kedua negara dan membahas berbagai isu global, termasuk perang di Ukraina.

Fokus Pembicaraan: Lebih dari Sekadar Ukraina

Ryabkov menyatakan bahwa pembicaraan antara Trump dan Putin tidak hanya akan membahas konflik di Ukraina tetapi juga upaya untuk menormalkan hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat.

“Pertanyaannya adalah tentang bagaimana kita mulai bergerak menuju normalisasi hubungan antar negara, menemukan solusi untuk berbagai situasi berbahaya, termasuk Ukraina,” kata Ryabkov.

Namun, ia juga menegaskan bahwa rencana ini masih dalam tahap awal dan memerlukan persiapan yang sangat intensif sebelum bisa terwujud.

Pertemuan Awal di Arab Saudi

Sebelumnya, pada Selasa (18/2), perwakilan Rusia dan Amerika Serikat bertemu di Arab Saudi untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina serta meningkatkan hubungan diplomatik dan ekonomi. Kesepakatan ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.

Dalam pertemuan tersebut, para pejabat senior Amerika bahkan menyarankan agar Ukraina tidak lagi mengejar keanggotaan dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menerima kondisi kehilangan sekitar 20 persen wilayahnya yang kini dikuasai oleh Rusia.

Setelah pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan awal untuk tiga hal penting:
1. Memulihkan staf diplomatik di kedutaan masing-masing di Washington dan Moskow.
2. Membentuk tim negosiasi tingkat tinggi untuk mendukung perundingan damai Ukraina.
3. Menjajaki kerja sama ekonomi yang lebih erat antara Rusia dan Amerika Serikat.

Namun, Rubio menekankan bahwa ini baru tahap awal dari perundingan dan masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai kesepakatan final.

Reaksi Beragam dari Ukraina dan Sekutu Eropa

Meskipun pertemuan ini membawa angin perubahan dalam hubungan Rusia dan Amerika, Ukraina tidak dilibatkan dalam diskusi tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima hasil apa pun dari perundingan yang tidak melibatkan Kyiv. Ia bahkan menunda perjalanannya ke Arab Saudi yang sebelumnya dijadwalkan pada Rabu (19/2).

Di sisi lain, sekutu-sekutu Eropa juga menyuarakan kekhawatiran karena merasa tidak dilibatkan dalam pembicaraan yang menyangkut keamanan regional.

## Sikap Trump terhadap Ukraina
Trump tampaknya mulai melunakkan kritiknya terhadap Ukraina. Dalam wawancara radio dengan Brian Kilmeade dari Fox News pada Jumat (21/2), ia menarik kembali pernyataan sebelumnya yang menyalahkan Kyiv atas konflik ini.

Namun, ia tetap menekankan bahwa baik Zelenskyy maupun mantan Presiden AS Joe Biden seharusnya lebih proaktif dalam mencari solusi damai dengan Rusia.

“Rusia memang menyerang, tapi mereka seharusnya tidak membiarkan itu terjadi,” ujar Trump.

Pertemuan puncak antara Trump dan Putin berpotensi menjadi titik balik dalam hubungan Amerika Serikat dan Rusia serta upaya penyelesaian konflik di Ukraina. Meski masih dalam tahap awal, diskusi ini menunjukkan adanya kemungkinan perubahan besar dalam politik global, terutama terkait peran Amerika dalam perang di Ukraina.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam mengakomodasi kepentingan Ukraina dan sekutu-sekutu Barat yang masih ragu dengan pendekatan ini. Apakah pertemuan ini akan membawa perdamaian atau justru membuka babak baru dalam ketegangan geopolitik? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Kamis, 21 April 2022

Putin mengucapkan selamat kepada Angkatan Bersenjata atas keberhasilan peluncuran ICBM Sarmat

Putin mengucapkan selamat kepada Angkatan Bersenjata atas keberhasilan peluncuran ICBM Sarmat. (Foto: Mikhail Klimentyev/Kantor Pers dan Informasi Kepresidenan Rusia/TASS)
Putin mengucapkan selamat kepada Angkatan Bersenjata atas keberhasilan peluncuran ICBM Sarmat. (Foto: Mikhail Klimentyev/Kantor Pers dan Informasi Kepresidenan Rusia/TASS)


BorneoTribun Jakarta -- Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberi selamat kepada militer atas keberhasilan peluncuran rudal balistik antarbenua Sarmat (ICBM), mencatat bahwa senjata unik ini akan memaksa semua orang yang mencoba membuat ancaman terhadap Rusia untuk berpikir dua kali.


Sebelum peluncuran Sarmat, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan kepada presiden bahwa persiapan untuk menguji coba rudal telah selesai, dan kemudian rekaman peluncuran itu ditayangkan dan ditonton oleh presiden.


"Saya mengucapkan selamat kepada Anda atas keberhasilan peluncuran rudal balistik antarbenua Sarmat. Ini adalah peristiwa besar dan penting dalam pengembangan sistem senjata canggih di tentara Rusia," kata Putin.


Menurut presiden, sistem baru memiliki karakteristik taktis dan teknis tertinggi dan mampu menghindari sistem pertahanan rudal modern.


“Ini tidak memiliki analog di dunia dan tidak akan memiliki waktu yang lama untuk datang."


"Senjata yang benar-benar unik ini akan meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Bersenjata kita, secara andal akan menjaga keamanan Rusia dari ancaman eksternal dan akan membuat mereka yang hiruk-pikuk retorika fanatik dan agresif mencoba mengancam negara kita, berpikir dua kali," tegas presiden Rusia itu.


Putin menekankan bahwa hanya suku cadang dan komponen buatan Rusia yang digunakan untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua Sarmat.


“Saya ingin tekankan bahwa dalam pembuatan Sarmat digunakan suku cadang atau komponen yang hanya diproduksi di dalam negeri."


"Tentu saja, ini akan memudahkan produksi batch dan mempercepat proses penyediaannya untuk Pasukan Rudal Strategis,” kata Putin.


Peluncuran Sarmat

Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa peluncuran pertama rudal balistik antarbenua (ICBM) Sarmat dilakukan dari kosmodrom Plesetsk di Wilayah Arkhangelsk pada hari Rabu pukul 15:12 waktu Moskow.


Menurut kementerian, "tugas peluncuran telah tercapai sepenuhnya. Karakteristik yang ditentukan dikonfirmasi pada semua tahap penerbangannya. Hulu ledak latihan tiba di area yang ditentukan di tempat pengujian Kura di Semenanjung Kamchatka," tambah kementerian itu.


(YK/ER)

Uji coba Rusia luncurkan rudal balistik antarbenua di tengah perang

Presiden Rusia Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin.


BorneoTribun Jakarta -- Rusia pada hari Rabu mengadakan uji peluncuran rudal balistik antarbenua, Sarmat, menurut kementerian pertahanan negara itu. 


Dikutip The Hill pada Kamis (21/4), Rudal itu diluncurkan pada pukul 15:12 waktu Moskow dari silo di Kosmodrom Pengujian Negara Plesetsk di Wilayah Arkhangelsk, sebuah area di Rusia barat sekitar 1.640 mil utara Moskow.   


Kementerian pertahanan mengatakan rudal itu terbang menuju lokasi uji Kura di Semenanjung Kamchatka, yang terletak di sepanjang Laut Bering, sebelum mendarat di “daerah yang ditentukan” di Kamchatka. 


Sekretaris pers Pentagon John Kirby mengatakan Rabu malam bahwa Rusia telah memberi tahu Amerika Serikat sebelum tes, jadi "kami tidak terkejut dengan itu dan tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi Amerika Serikat atau sekutu."


Kirby menambahkan bahwa Departemen Pertahanan “tetap fokus pada agresi Rusia yang melanggar hukum dan tidak beralasan terhadap Ukraina.”


Di bawah perjanjian START Baru antara Washington dan Moskow, kedua pihak berkewajiban untuk memberi tahu pihak lain sebelumnya jika berencana untuk menguji peluncuran senjata jarak antarbenua. 


Kementerian pertahanan Rusia mengatakan bahwa setelah menyelesaikan program uji Sarmat, senjata itu akan digunakan oleh Pasukan Rudal Strategis negara itu.  


Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Maret 2018 bahwa sistem rudal baru negaranya akan membuat sistem pertahanan rudal AS "tidak berguna" dan memperingatkan Barat bahwa sistem itu "gagal menahan Rusia." 


Pada hari Rabu, Putin memberi selamat kepada militernya atas peluncuran uji coba dan mengatakan akan "memikirkan mereka yang mencoba mengancam Rusia," kantor berita TASS mengutip pernyataan kementerian. 


Seorang pejabat senior pertahanan AS menyebut pujian Putin retorika tidak membantu, "mengingat konteks saat ini."


"Tentu saja, itu bukan hal yang kami harapkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir yang bertanggung jawab," kata pejabat itu kepada wartawan, Rabu.


(YK/ER)

Selasa, 19 April 2022

Putin katakan Situasi ekonomi Rusia stabil dan Nilai Tukar Rubel Kembali ke Level di Bulan Februari

Putin katakan Situasi ekonomi Rusia stabil dan Nilai Tukar Rubel Kembali ke Level di Bulan Februari
Presiden Vladimir Putin. (Foto: Tass.com)


Borneo Tribun, Jakarta -- Situasi ekonomi Rusia stabil, sementara nilai tukar rubel kembali ke level awal di bulan Februari, Presiden Vladimir Putin mengatakan saat pertemuan tentang masalah ekonomi, Senin (18/4) kemarin.


"Rusia telah bertahan dari tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Situasinya stabil, nilai tukar rubel telah kembali ke level paruh pertama Februari dan ditentukan oleh keseimbangan pembayaran yang kuat secara objektif," katanya, dikutip Tass.com.


Surplus neraca pembayaran berjalan di Rusia melebihi $58 miliar di Q1, "mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa," kata presiden, menambahkan bahwa uang tunai valuta asing kembali ke sistem perbankan negara dan volume deposito warga meningkat.


Inflasi di Rusia stabil sekarang, kata Putin. "Saya secara terpisah akan mencatat masalah inflasi. Sekarang stabil," katanya, menambahkan bahwa "harga konsumen tumbuh terutama selama 1,5 bulan terakhir - sebesar 9,4%, sementara secara tahunan pada 8 April inflasi sebesar 17,5%."


Menurut presiden, stabilitas keuangan jangka panjang Rusia baik di tingkat federal maupun regional harus tetap menjadi tugas utama otoritas negara. Dia mencatat rekor tingkat surplus sistem anggaran untuk kuartal pertama tahun ini.


"Keputusan tambahan diperlukan di sini, dan perlu untuk menerapkannya tepat pada saat ekonomi paling membutuhkannya," kata Putin, seraya menambahkan bahwa "stabilitas jangka panjang sistem keuangan baik di tingkat federal maupun regional tetap ada. syarat utama".


Langkah-langkah dukungan permintaan domestik

Presiden Vladimir Putin menunjukkan bahwa otoritas Rusia perlu mendukung permintaan domestik, termasuk dengan meningkatkan ketersediaan pinjaman untuk bisnis.


"Sangat penting untuk mendukung permintaan internal saat ini, menghindari kontraksi yang berlebihan," kata pemimpin Rusia itu. "Tindakan harus diambil sesuai dengan sistem anggaran dan dengan mendukung ketersediaan sumber daya kredit yang lebih besar untuk bisnis," kata Putin.


Yang terakhir mengacu pada lingkup operasi Bank Sentral, kata kepala negara. “Bank Sentral telah memulai penurunan suku bunga, yang tentunya akan membuat kredit dalam perekonomian lebih murah,” tambahnya.


Persediaan di rantai ritel Rusia

Menurut Presiden, stok di rantai ritel Rusia pulih dan permintaan telah normal.


"Permintaan ritel telah normal setelah pembelian panik jangka pendek atas barang-barang tertentu - dan ini terus-menerus, selalu terjadi dalam situasi seperti itu. Stok dalam rantai ritel sedang pulih," kata Putin.


Pihak berwenang Rusia "membuat langkah yang tepat ketika mereka tidak menggunakan manual, regulasi pasar buatan, tetapi menawarkan kebebasan kepada bisnis swasta sebagai gantinya untuk mencari solusi yang paling cocok dan efisien," kata kepala negara.


"Solusi seperti itu dimungkinkan untuk mendukung kelancaran pengiriman barang ke rantai ritel, ketersediaan produk yang dibutuhkan di toko-toko," tambah Putin.


Tingkat pengangguran

Presiden Rusia Vladimir Putin mencatat bahwa jumlah pengangguran yang terdaftar secara resmi di Rusia tetap pada tingkat yang agak rendah.


"Penciptaan lapangan kerja baru yang dibayar dengan baik, penguatan dinamika ekonomi, pengembangan industri dan sektor lainnya" adalah kondisi kunci untuk mengamankan pertumbuhan pendapatan masyarakat yang sebenarnya, kata Putin. "Situasi saat ini di sana stabil secara luas," kata kepala negara.


"Hal ini dapat dinilai secara khusus dengan indikator seperti pembangkit tenaga listrik. Ini adalah indikator yang baik yang menunjukkan dinamika ekonomi. Jumlah pengangguran yang terdaftar secara resmi juga pada tingkat yang cukup rendah," kata Putin.


(YK/ER)

Sabtu, 16 April 2022

Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina

Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina
Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina.


BorneoTribun, Moskow -- Rusia telah mengirim surat resmi kepada AS yang memperingatkan bahwa pengiriman senjata sensitif dari Amerika Serikat dan NATO memperburuk ketegangan di Ukraina dan dapat menyebabkan "konsekuensi yang tidak dapat diprediksi," lapor The Washington Post .


Surat itu, yang dilihat oleh He Post, menambahkan bahwa AS telah melanggar aturan yang mengatur transfer senjata ke zona konflik.


Menurut surat tertanggal Selasa, Rusia menuduh NATO menghalangi negosiasi perdamaian awal dengan Ukraina "untuk melanjutkan pertumpahan darah."


Departemen Luar Negeri menolak untuk mengkonfirmasi korespondensi diplomatik pribadi. 


Namun, seorang juru bicara menambahkan bahwa itu dapat mengkonfirmasi bahwa bersama dengan sekutu dan mitra, “kami menyediakan Ukraina dengan bantuan keamanan senilai miliaran dolar, yang mitra Ukraina kami gunakan untuk efek luar biasa untuk mempertahankan negara mereka dari agresi tak beralasan dan tindakan mengerikan Rusia. dari kekerasan.” 


Berita tentang surat diplomatik itu muncul ketika Presiden  Biden  mengumumkan tambahan bantuan militer senilai $800 juta ke Ukraina minggu ini, yang untuk pertama kalinya termasuk amunisi canggih yang diminta oleh negara yang dilanda perang itu.


“Militer Ukraina telah menggunakan senjata yang kami sediakan untuk efek yang menghancurkan. Saat Rusia bersiap untuk mengintensifkan serangannya di wilayah Donbas, Amerika Serikat akan terus memberi Ukraina kemampuan untuk mempertahankan diri,”  kata Biden  .


Putaran terbaru bantuan keamanan AS mencakup campuran senjata dan pasokan lain yang telah diberikan Washington kepada Kyiv, serta kemampuan baru yang sebelumnya belum pernah dikirim. 


Menurut Pentagon, paket bantuan termasuk 11 helikopter Mi-17, 300 drone Switchblade, 200 pengangkut personel lapis baja M113, 18 howitzer dan 40.000 peluru artileri, 10 radar kontra-artileri, 500 rudal Javelin, kapal pertahanan pantai tak berawak dan peralatan pelindung di peristiwa serangan senjata kimia atau biologi.


Presiden juga telah memberlakukan serangkaian sanksi terhadap Rusia sebagai tanggapan atas invasi tersebut.


Rusia telah menarik pasukan dari sekitar ibukota Ukraina setelah berminggu-minggu mencoba untuk menangkap Kyiv tidak berhasil dan diperkirakan akan memfokuskan serangan di selatan dan timur, termasuk wilayah Donbas.


(YK/ER)

Kamis, 14 April 2022

Biden menjadi pribadi dengan serangan terhadap Putin

Biden menjadi pribadi dengan serangan terhadap Putin
Biden menjadi pribadi dengan serangan terhadap Putin.


BorneoTribun Jakarta -- Presiden Biden meningkatkan tekanan pada Vladimir Putin , menargetkan pemimpin Rusia, keluarganya, dan lingkaran dalamnya dengan kata-kata dan tindakan.  


Pemerintahan Biden telah memberikan sanksi kepada Putin sendiri, putri-putrinya dan beberapa teman pribadinya serta para pembantu utamanya dalam upaya untuk menekan pemimpin Rusia itu atas invasi negaranya ke Ukraina. 


Biden juga telah meningkatkan retorikanya dengan Putin , menyebutnya sebagai penjahat perang, mengatakan dia tidak bisa tetap berkuasa dan yang terbaru menggambarkan tindakannya sebagai genosida pada hari Selasa.  


Retorika keras telah mencakup beberapa momen tanpa naskah — seperti ketika Biden dalam pidatonya di Warsawa, Polandia, menganjurkan untuk mengakhiri kekuasaan Putin di Rusia. Gedung Putih dengan cepat terpaksa menarik kembali komentar-komentar itu, dan Biden, kembali ke tanah Amerika beberapa hari kemudian, mengatakan dia tidak mendorong perubahan dalam kebijakan AS. 


Baru-baru ini, pembicaraan keras itu kembali mengangkat alis di luar negeri — dan beberapa kritik implisit. 


Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah wawancara dengan penyiar France 2 menolak untuk menggunakan istilah "genosida" ketika merujuk pada perang Rusia di Ukraina.  


“Saya ingin terus mencoba, sebanyak yang saya bisa, untuk menghentikan perang ini dan membangun kembali perdamaian. Saya tidak yakin bahwa eskalasi retorika mendukung tujuan itu, ”kata Macron.  


Biden telah menunjukkan sedikit tanda kekhawatiran atas komentar kerasnya, yang kadang-kadang dikritik oleh para analis di luar Macron karena berpotensi menyudutkan Putin .  


Selama pidato hari Selasa di Iowa, Biden meratapi bahwa orang Amerika seharusnya tidak merasakan pukulan di dompet mereka karena “seorang diktator menyatakan perang dan melakukan genosida di belahan dunia lain.”  


Ini menandai pertama kalinya Biden atau pejabat AS secara terbuka menyebut invasi Putin ke Ukraina dan kekejaman yang dihasilkan sebagai genosida. 


Biden kemudian menjelaskan bahwa pernyataan itu bukan omong kosong dan cerminan kemarahannya atas tindakan Putin , meskipun ia mengindikasikan penentuan resmi genosida belum dibuat oleh pemerintah AS.  


Sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pada briefing hari Rabu bahwa Biden akan mengizinkan proses hukum yang diperlukan seputar kemungkinan genosida, tetapi dia mendasarkan komentarnya pada pelaporan dan intelijen yang muncul tentang apa yang terjadi di Ukraina. 


Psaki menunjuk ke kekejaman yang dilaporkan di Bucha, pemboman stasiun kereta api di Mariupol yang menewaskan puluhan warga sipil dan laporan PBB bahwa setidaknya ada 4.450 korban sipil sejak Rusia melancarkan invasi pada pertengahan Februari. 


"Kami juga telah melihat, saya pikir dari awal ini, retorika Kremlin dan media Rusia menyangkal identitas rakyat Ukraina," kata Psaki. “Jadi presiden berbicara dengan apa yang kita semua lihat, apa yang dia rasakan sangat jelas dalam hal kekejaman yang terjadi di lapangan.” 


Evelyn Farkas, pejabat tinggi pertahanan untuk Rusia, Ukraina, dan Eurasia selama pemerintahan Obama, mengatakan Biden kemungkinan mendapatkan lebih banyak informasi daripada publik—dari Ukraina dan intelijen AS—yang mengarah ke beberapa komentarnya yang paling nyaring.  


“Presiden memiliki hak dan harus menggunakan mimbarnya untuk membuat penilaian yang dia anggap akurat secara politik dan geopolitik,” katanya.  


Tetapi retorika Biden telah memicu beberapa kritik.  


"Saya khawatir komentar tersebut semakin mengurangi prospek diplomasi apa pun yang mungkin ada," kata Michael O'Hanlon, rekan senior di Brookings Institution, tentang komentar genosida.  


“Ditambah lagi, saya khawatir pemerintahan ini, seperti yang terakhir, menyalahgunakan istilah genosida — menerapkannya misalnya pada perlakuan China terhadap Uyghur juga. Ini merendahkan istilah dan membingungkan pembunuhan massal – sudah cukup buruk – dengan upaya untuk memusnahkan orang secara sistematis,” katanya. 


Psaki mengatakan pada hari Rabu bahwa AS akan selalu mendukung pembicaraan damai dan menolak anggapan bahwa Putin akan memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam pembicaraan damai “karena beberapa kata yang keluar dari mulut presiden Amerika Serikat.” 


Farkas berpendapat bahwa tidak ada kerugian dari retorika keras Biden terhadap Putin , mencatat bahwa AS perlu membantu Ukraina mengalahkan Rusia secara militer untuk mengakhiri perang.  


“Jika saya adalah Joe Biden, saya tidak akan pernah ingin menjabat tangan Vladimir Putin lagi,” katanya. 


Dia juga mengatakan bahwa kritik Biden terhadap Putin dapat membantu menyatukan sekutu dan Amerika untuk mendukung Ukraina. 


Memang, jajak pendapat Universitas Quinnipiac  yang  dirilis pada hari Rabu menemukan bahwa lebih dari 8 dari 10 orang Amerika percaya bahwa Putin adalah penjahat perang.  


Kremlin membalas pada hari Rabu, menyebut komentar itu tidak dapat diterima dan menuduh Biden munafik. 


Pejabat Gedung Putih menyalahkan Putin atas kenaikan harga gas di dalam negeri, dengan alasan pemimpin Rusia adalah orang yang bertanggung jawab atas ketidakstabilan di pasar minyak dan mengakibatkan kenaikan biaya. 


Dan pemerintah tidak hanya memberikan sanksi kepada Putin tetapi juga orang-orang terdekatnya. Pemerintah pekan lalu mengumumkan akan membekukan aset dua putri dewasa Putin, Maria Putin a dan Katerina Tikhonova.  


Sanksi sebelumnya telah menargetkan oligarki Rusia dan pejabat Kremlin yang merupakan sekutu dan anggota lingkaran dalam Putin ketika AS berupaya meningkatkan tekanan padanya secara langsung dan mengubah opini publik terhadapnya di antara elit Rusia. 


Dalam potensi pukulan lain untuk Putin secara pribadi, Ukraina pada hari Selasa mengumumkan penangkapan Viktor Medvedchuk, sekutu dekat dan teman Putin , dan memposting foto dirinya tampak acak-acakan. Medvedchuk sebelumnya memimpin gerakan politik pro-Moskow di Ukraina. 


Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang berbicara dengan Biden pada hari Selasa, memuji deklarasi Amerika bahwa serangan Rusia adalah “genosida,” dengan mengatakan itu adalah bukti kepemimpinan yang sebenarnya. 


Pejabat Gedung Putih telah merobohkan pembicaraan tentang perubahan rezim atau mengakhiri konflik dengan mencopot Putin dari kekuasaan, menjauhkan diri dari saran Senator Lindsey Graham (RS.C.) agar Putin dibunuh dan membantah komentar Biden di Polandia berasal dari tempat moral. kebiadaban. 


Sebaliknya, fokusnya adalah menghukum Putin dan menjadikan Rusia paria global. 


“Saya tidak ingin jalan keluar untuk Vladimir Putin . Saya rasa itu bukan urusan kami,” kata kepala staf Gedung Putih Ron Klain kepada Chuck Todd dari NBC minggu ini. “Kekhawatiran kami adalah menghukum agresi Rusia dan membela hak-hak Ukraina untuk memiliki masa depan yang layak mereka dapatkan.”


(YK/ER)

Rusia menjatuhkan sanksi kepada 398 anggota Kongres

Rusia menjatuhkan sanksi kepada 398 anggota Kongres
Presiden Rusia Vladimir Putin. AP


Borneo Tribun, Moskow - Rusia mengumumkan Rabu bahwa mereka telah memberlakukan sanksi pembalasan terhadap anggota Kongres AS sebagai tanggapan atas sanksi serupa yang dikenakan terhadap lebih dari 300 anggota parlemen Rusia bulan lalu.


Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah rilis bahwa mereka memberlakukan sanksi "cermin" terhadap 398 anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS. Langkah tersebut merupakan yang terbaru dalam serangkaian pembalasan dari pemerintah Rusia sebagai tanggapan atas sanksi AS.


"Orang-orang ini, termasuk pimpinan dan ketua komite majelis rendah Kongres AS, ditempatkan di 'daftar berhenti' Rusia secara permanen," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam rilisnya.


Daftar tersebut mencakup perwakilan dari kedua sisi lorong, termasuk Reps  Pete Aguilar  (D-Calif.) dan Lauren Boebert  (R-Colo.), di antara ratusan lainnya.


Perwakilan  Dean Phillips  (DN.Y.) menanggapi berita tentang sanksi yang dijatuhkan kepadanya oleh Rusia di Twitter, mengatakan bahwa keluarganya lolos dari “pogrom Rusia” pada akhir abad ke-19 dan diberikan perlindungan di AS


“Hari ini, 120 tahun kemudian, saya diberi sanksi oleh Rusia karena menentang genosida, otoritarianisme, dan tirani yang saya janjikan kepada kakek buyut saya, saya akan bertarung,” tambahnya.


Rep. Brendan Boyle (D-Pa.) bereaksi terhadap berita dimasukkannya dia ke dalam daftar dalam sebuah tweet, dengan mengatakan, "Baiklah, ini dia rencana Liburan Musim Semi saya!"


Rep. Republik Utah John Curtis mengatakan bahwa itu adalah "kehormatan untuk dimasukkan" dalam daftar.


Kementerian mengatakan bahwa mereka berencana untuk memperluas daftar larangan perjalanan dalam waktu dekat. Disebutkan bahwa anggota parlemen AS lainnya, termasuk Ketua Nancy Pelosi (D-Calif.) sebelumnya telah dilarang memasuki Rusia.


Kementerian menambahkan bahwa tindakan itu dilakukan sebagai tanggapan atas sanksidiumumkan oleh Presiden Biden pada 24 Maret, yang menargetkan 328 anggota Duma, badan legislatif Rusia, serta Duma itu sendiri sebagai entitas.


Pengumuman itu muncul ketika hubungan antara AS dan Rusia memburuk setelah invasi terakhir ke Ukraina pada 24 Februari.


Rusia juga mengumumkan akan memberikan sanksi kepada 87 senator Kanada.


Perkembangan ini terjadi beberapa minggu setelah Kremlin mengusir beberapa diplomat Amerika dari negara itu setelah AS memecat 12 diplomat Rusia akhir bulan lalu.


(YK/ER)

Rabu, 13 April 2022

Putin: Sanksi Barat telah 'mencapai hasil tertentu' pada ekonomi Rusia

Putin: Sanksi Barat telah 'mencapai hasil tertentu' pada ekonomi Rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin.


BorneoTribun -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Selasa bahwa sanksi Barat telah "mencapai hasil tertentu" dalam mempengaruhi ekonomi Rusia tetapi memproyeksikan pembangkangan tentang perang Kremlin di Ukraina.


Pemimpin Rusia mengatakan selama konferensi pers bahwa kampanye sanksi global yang dipimpin AS adalah "blitzkrieg" yang telah "mencapai hasil tertentu" dan mengatakan Moskow "harus menaikkan suku bunga bank sentral menjadi 20 persen" tetapi itu telah turun dalam beberapa hari terakhir, menurut pernyataan yang diterjemahkan oleh outlet media milik negara RT.


Ekonom global mengatakan bahwa pemerintah Rusia sedang melatih keterampilan teknokratis kreatif untuk menstabilkan mata uang dan ekonomi Rusia di tengah kampanye sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi tidak mungkin untuk dapat menahan kontraksi ekonomi skala besar dalam jangka panjang. 


Rachel Ziemba, seorang rekan di Center for a New American Security, menulis dalam sebuah artikel untuk Barron's bahwa “Tampaknya ketahanan finansial Rusia, terutama dalam hal rubel, adalah semacam fatamorgana.” 


Mantan Menteri Keuangan Rusia Alexei Kudrin dikutip oleh media milik negara mengatakan bahwa ekonomi negara itu berada di jalur untuk berkontraksi sebesar 10 persen pada tahun 2022, penurunan terbesar dalam produk domestik bruto sejak muncul dari Uni Soviet pada tahun 1991, Reuters melaporkan .


Putin, yang membuat pernyataannya selama konferensi pers bersama Presiden Belarusia Alexander Lukashenko , juga mengakui bahwa pemerintah Rusia perlu "mengalokasikan lebih banyak sumber daya ... dalam situasi saat ini" untuk mendukung ekonomi, tetapi disebut-sebut bekerja dengan negara-negara yang belum bergabung dengan AS. -dipimpin rezim sanksi.


“Ekonomi akan beradaptasi dengan lingkungan baru, jangan salah. Jika Anda tidak dapat mengekspor ke satu negara, selalu ada negara ketiga. Jika Anda dapat membeli sesuatu di satu negara, ada juga negara keempat di mana Anda bisa mendapatkan ini, ini tidak bisa dihindari ... satu negara tidak dapat mendominasi dunia lagi.”


Putin juga mengancam pasokan makanan global, mengkritik negara-negara Barat yang menyatakan bahwa “jika mereka tidak dapat bekerja dengan kami secara efektif, tidak akan ada cukup makanan di pasar global.”


PBB dan kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan bahwa pertempuran Rusia di Ukraina, dikombinasikan dengan sanksi, telah mengganggu pengiriman global dan meningkatkan harga gandum dan pupuk dan berdampak pada 1,2 miliar orang.


“Harga-harga ini terus meningkat dan ini semua disebabkan oleh kesalahan negara-negara Barat,” keluh  Putin .


“Jika mitra Barat kami memperburuk situasi dalam hal keuangan, dalam hal asuransi dan pengiriman laut, situasinya akan menjadi lebih buruk, termasuk bagi mereka. Harga makanan yang tinggi dan masalah ini akan menyebabkan kelaparan di banyak wilayah di seluruh dunia dan ini akan menyebabkan lebih banyak arus migrasi termasuk ke Eropa.”


(YK/ER) 

Kamis, 31 Maret 2022

Miris! Trump Minta Putin Membeberkan Informasi Buruk Mengenai Keluarga Biden

Miris! Trump Minta Putin Membeberkan Informasi Buruk Mengenai Keluarga Biden
Mantan Presiden AS Donald Trump menunjukkan dokumen dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, Washington, ketika ia masih menjabat pada 20 April 2020. (Foto: AP/Alex Brandon)


BorneoTribun.com - Dalam sebuah wawancara, pada Selasa (29/3), mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara khusus meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk merilis informasi, yang menurut Trump, akan membeberkan peran keluarga Presiden AS Joe Biden dalam penyalahgunaan keuangan.


Dalam wawancara dengan program televisi Just the News di jaringan Real America's Voice, Trump mengindikasikan bahwa Putin mungkin akan memberikan informasi tersebut karena menurutnya itu akan merugikan Amerika.


“Selama Putin sekarang bukan penggemar negara kita,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa pemimpin Rusia itu mungkin bersedia menjelaskan mengapa pada tahun 2014 pengusaha Rusia Elena Baturina, istri mendiang mantan Wali Kota Moskow, Yuri Luzhkov, membayar $3,5 juta ke sebuah perusahaan yang para pendukung Trump percaya bahwa perusahaan tersebut terkait dengan Hunter Biden, putra presiden.


"Saya rasa Putin akan tahu jawabannya," kata Trump. "Saya rasa ia harus merilisnya." Trump menyebut pembayaran itu untuk "keluarga Biden", tetapi sebenarnya kepada entitas bernama Rosemont Seneca Thornton.


Hunter Biden adalah pendiri pertama perusahaan dana investasi Rosemont Seneca, tetapi pengacaranya mengatakan ia tidak terkait atau punya kepentingan pada Rosemont Seneca Thornton.


"Hunter Biden tidak tertarik dan bukan 'salah seorang pendiri' Rosemont Seneca Thornton, jadi klaim bahwa ia dibayar $3,5 juta adalah palsu," kata pengacara George Mesires kepada PolitiFact pada September 2020.


Sementara urusan bisnis Hunter Biden diselidiki oleh jaksa federal setidaknya sejak 2018, informasi tentang pembayaran dari Baturina terungkap dalam penyelidikan Senat yang dipimpin Partai Republik.


Laporan tersebut tidak memberikan bukti bahwa pembayaran tersebut korup atau terkait sama sekali dengan dana investasi Hunter Biden. [my/jm]


Oleh: VOA Indonesia

Sabtu, 29 Januari 2022

Presiden Kuba dan Putin Bertemu, Bahas 'Situasi Internasional' Saat Ini

Presiden Kuba dan Putin Bertemu, Bahas 'Situasi Internasional' Saat Ini
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan konferensi pers bersama setelah melangsungkan pertemuan di Moskow, Rusia, pada 2 November 2018. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov)

BorneoTribun.com - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, mengacu pada percakapannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin kemarin (24/1/2022), mengatakan dalam sebuah tweet bahwa dia dan Putin berbicara "tentang hubungan baik negara kita dan ... tentang situasi saat ini. situasi internasional." ini."

Merujuk pada kompleksitas hubungan Amerika Serikat (AS) dan Rusia saat ini, kicauan Diaz-Canel menjadi rujukan resmi pertama atas kebuntuan diplomatik antara kedua negara adidaya tersebut.

Rusia sekali lagi menunjukkan penentangannya di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan kekuatan barat atas Ukraina, dan mengisyaratkan bahwa penolakan AS untuk mengindahkan tuntutannya dapat memacu kerja sama militer yang lebih erat dengan sekutu di Amerika Latin.

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa pejabat senior Rusia telah memperingatkan bahwa Moskow dapat mengerahkan pasukan atau aset militer ke Kuba dan Venezuela jika AS dan NATO bersikeras untuk campur tangan di depan pintu Rusia.

Di tengah penumpukan pasukan besar-besaran di perbatasannya dengan Ukraina, kemampuan Rusia untuk memobilisasi pasukan di Belahan Barat, ribuan mil jauhnya, sangat terbatas, kata para ahli.

Tetapi bahkan jika pembicaraan tentang pengerahan pasukan sebagian besar hanyalah gertakan, perkembangan strategis Rusia di Amerika Latin adalah nyata, dan dapat menimbulkan ancaman keamanan nasional. Wilayah Amerika Latin telah lama disebut oleh pembuat kebijakan Amerika sebagai “halaman belakang Washington.”

Dalam dekade terakhir, ketika pengaruh Amerika di kawasan itu telah berkurang, Moskow — dan pada tingkat lebih rendah musuh lainnya seperti China dan Iran — diam-diam memperkuat hubungan dengan pemerintah otoriter di Nikaragua, Kuba, dan Venezuela melalui penjualan senjata, perjanjian pembiayaan dan keterlibatan diplomatik yang intensif.

Moskow membantu Venezuela merancang cryptocurrency, menghapus utang Kuba senilai $35 juta, dan mengoperasikan kompleks anti-narkotika berteknologi tinggi di Nikaragua yang diyakini banyak orang sebagai pijakan rahasia mata-mata di seluruh wilayah.

Berkali-kali, Rusia telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan militernya yang cukup besar sebagai alat tawar-menawar setiap kali merasa terancam oleh Amerika. [lt/k]