Berita BorneoTribun: Warisan Miliarder hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Warisan Miliarder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warisan Miliarder. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2026

Warisan Rp 86 Triliun Dibagi 1750 Tahun, Anak Cuma Dapat Uang Bulanan Rp 4 M

Warisan Rp 86 Triliun Dibagi 1750 Tahun, Anak Cuma Dapat Uang Bulanan Rp 4 M
Warisan Rp 86 Triliun Dibagi 1750 Tahun, Anak Cuma Dapat Uang Bulanan Rp 4 M.

JAKARTA -- Bayangkan punya kekayaan puluhan triliun rupiah, tapi anak cucu tidak bisa menikmatinya sekaligus. 

Inilah kisah mengejutkan dari Hui Sai Fun, miliarder properti asal Hong Kong, yang hingga kini masih jadi bahan perbincangan dunia bisnis dan publik.

Hui Sai Fun meninggal dunia pada 2018 di usia 97 tahun. Alih-alih meninggalkan warisan dalam jumlah besar secara langsung, ia justru merancang skema pembagian harta yang tak lazim. 

Total kekayaannya yang diperkirakan mencapai 42 miliar dolar Hong Kong atau sekitar Rp 86,8 triliun tidak dibagikan sekaligus, melainkan dicairkan secara bertahap hingga 1.750 tahun ke depan.

Seluruh aset itu dimasukkan ke dalam sebuah perwalian (trust). Melalui skema ini, sebanyak 15 anggota keluarga Hui, termasuk putra tunggalnya Julian Hui, hanya menerima tunjangan bulanan sekitar 2 juta dolar Hong Kong atau setara Rp 4,1 miliar. 

Jumlahnya memang besar, tapi jika dibandingkan dengan total kekayaan yang ada, banyak pihak menilai pembagian ini terlalu ketat.

Tak heran, media Hong Kong sempat memberi Hui Sai Fun julukan kontroversial sebagai “miliarder paling pelit”. 

Julian Hui dan istrinya bahkan sempat menjadi sasaran sindiran publik karena dianggap hidup dari “uang saku” sang ayah, bukan mengelola warisan secara bebas.

Namun, jika menilik ke belakang, keputusan Hui Sai Fun tidak muncul begitu saja. Kekayaan keluarga Hui dibangun dari nol oleh ayahnya, Hui Oi Chow. 

Berasal dari keluarga petani miskin di Guangdong dan tanpa pendidikan formal, Oi Chow memulai hidup sebagai kuli angkut di pelabuhan sejak usia belasan tahun. 

Dengan kerja keras dan disiplin menabung, ia berhasil membeli kapal kargo pertamanya hingga dikenal sebagai “raja kapal” di industri transportasi laut, sebelum akhirnya merambah bisnis properti.

Hui Sai Fun, anak bungsu Oi Chow, mengambil alih bisnis keluarga setelah dua kakak laki-lakinya meninggal dunia. 

Berbeda dengan sang ayah yang gemar tampil mencolok, Hui justru hidup sederhana dan jauh dari sorotan. 

Ia memilih strategi bisnis yang aman dan stabil, tetap fokus di sektor logistik dan properti, lalu memperluas usaha ke perbankan dan media. Perlahan tapi pasti, namanya masuk jajaran 10 orang terkaya di Hong Kong.

Awalnya, Hui berencana menyerahkan kendali bisnis kepada putra sulungnya. Namun takdir berkata lain, sang putra meninggal dunia akibat sakit. Pilihan pun jatuh kepada Julian Hui, putra tunggal yang tersisa. 

Sayangnya, Julian lebih dikenal publik sebagai “pewaris playboy”, gemar berpesta dan sering dikaitkan dengan kehidupan glamor bersama selebritas. 

Minat dan kemampuannya dalam mengelola bisnis keluarga pun kerap dipertanyakan.

Banyak pengamat menilai, inilah alasan utama Hui Sai Fun memilih skema perwalian superpanjang. 

Ia ingin memastikan kekayaan keluarga tetap terjaga lintas generasi, tidak habis karena gaya hidup, dan tidak runtuh akibat salah kelola.

Kisah Hui Sai Fun memberi pelajaran penting: harta melimpah tidak selalu berarti kebebasan tanpa batas. 

Bagi Hui, warisan bukan sekadar soal uang, melainkan cara menjaga nilai kerja keras dan kesinambungan keluarga, bahkan jika harus membentang hingga ribuan tahun ke depan.