Iklan Tutup X

Sabtu, 20 Juni 2026

Warga Tigur Jaya Mulai Bergerak, UPZ Masjid Resmi Dibentuk oleh BAZNAS Sekadau

BAZNAS Sekadau menggelar sosialisasi ZIS dan membentuk UPZ Masjid Nurul Huda Tigur Jaya untuk memperkuat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di masyarakat.
BAZNAS Sekadau menggelar sosialisasi ZIS dan membentuk UPZ Masjid Nurul Huda Tigur Jaya untuk memperkuat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di masyarakat.

SEKADAU – Badan Amil Zakat Nasional BAZNAS Kabupaten Sekadau menggelar sosialisasi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sekaligus pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di Masjid Nurul Huda, Desa Tigur Jaya, Kecamatan Sekadau Hilir, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola zakat di tingkat masjid serta mendorong optimalisasi pengumpulan dan penyaluran dana umat secara lebih terstruktur dan tepat sasaran.

Penguatan Peran UPZ Masjid untuk Optimalisasi Zakat

Ketua BAZNAS Kabupaten Sekadau, Rusmin Nuryadin, menegaskan bahwa Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masjid memiliki peran vital karena menjadi garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Menurutnya, keberadaan UPZ dapat memperkuat penghimpunan ZIS sekaligus mempercepat penyaluran kepada mustahik di lingkungan sekitar.

“UPZ masjid memiliki posisi strategis karena langsung bersentuhan dengan umat. Sosialisasi ini bertujuan memperkuat pemahaman pengurus masjid terkait tata kelola zakat yang sesuai regulasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, sinergi antara UPZ dan BAZNAS Kabupaten Sekadau menjadi kunci dalam memperluas dampak sosial zakat, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah.

Kemenag Sekadau Tekankan Zakat Sebagai Instrumen Sosial

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Sekadau H. Damsir menekankan bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang kuat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menyebut potensi zakat di Kabupaten Sekadau sangat besar apabila dikelola secara profesional dan terorganisir.

“UPZ masjid dapat menjadi ujung tombak dalam mengedukasi dan memfasilitasi umat Islam untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi dan terpercaya,” katanya.

Damsir juga menegaskan pentingnya integritas pengurus UPZ dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Menurutnya, kepercayaan publik menjadi faktor utama dalam keberhasilan pengelolaan zakat yang berkelanjutan.

Dukungan Lintas Lembaga untuk Penguatan UPZ

Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur, termasuk Ketua Dewan Masjid Indonesia Dewan Masjid Indonesia Sekadau Ahmad Urabi, Penjabat Kepala Desa Tigur Jaya Ari Suhana, Ketua Masjid Nurul Huda Badri, serta para tokoh agama dan pengurus UPZ setempat.

Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya dukungan lintas lembaga dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat pemberdayaan umat melalui pengelolaan zakat yang lebih efektif.

Dengan terbentuknya UPZ di Masjid Nurul Huda Tigur Jaya, diharapkan sistem penghimpunan dan distribusi zakat di tingkat desa semakin terarah dan transparan.

Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menunaikan ZIS, sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kolaborasi antara BAZNAS Kabupaten Sekadau, Kementerian Agama, dan pengurus masjid menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem zakat di Kabupaten Sekadau.

“Perut Kenyang, Sekolah Tenang”, Pesan dari Aksi Damai Warga Kalbar untuk Program MBG

Aliansi Masyarakat Kalbar bersama Ormas di Kalbar menggelar aksi damai dukungan penuh MBG. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto, di Bundaran Digulis Untan Pontianak, Sabtu 20 Juni 2026. Foto:ist
Aliansi Masyarakat Kalbar bersama Ormas di Kalbar menggelar aksi damai dukungan penuh MBG. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto, di Bundaran Digulis Untan Pontianak, Sabtu 20 Juni 2026. Foto:ist

Aliansi Masyarakat Kalbar Aksi Damai, Nyatakan Dukungan Penuh Program MBG

PONTIANAK -Aliansi Masyarakat Kalbar bersama organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kalimantan Barat menggelar aksi damai sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program prioritas Presiden Prabowo Subianto, di Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, Sabtu 20 Juni 2026.

Koordinator Aliansi Masyarakat Kalbar, Hidayat, menyatakan pihaknya mendukung pelaksanaan Program MBG karena dinilai menjadi langkah konkret negara dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Perut Kenyang, Sekolah Tenang”, Pesan dari Aksi Damai Warga Kalbar untuk Program MBG
Aliansi Masyarakat Kalbar bersama Ormas di Kalbar menggelar aksi damai dukungan penuh MBG. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto, di Bundaran Digulis Untan Pontianak, Sabtu 20 Juni 2026. Foto:ist
"Bagi kami, MBG bukan sekadar program bagi-bagi makanan. Ini adalah langkah konkret negara hadir memastikan tidak ada anak Indonesia yang belajar dalam keadaan lapar. Ini adalah investasi paling dasar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045," katanya.

Menurut Hidayat, salah satu alasan utama mendukung MBG adalah untuk memutus rantai stunting di Kalimantan Barat. 

Ia menyebut berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di Kalbar masih mencapai 22,1 persen atau sekitar satu dari lima anak berisiko mengalami gagal tumbuh.

Ia mengatakan program tersebut menyasar langsung sekolah dan posyandu sehingga intervensi gizi dapat diberikan kepada anak pada usia emas.

Selain itu, Hidayat menilai MBG dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga. 

Menurutnya, orang tua berpotensi menghemat pengeluaran sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per anak setiap bulan sehingga dana tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti pembelian buku, seragam sekolah, maupun modal usaha.

"Di tengah harga bahan pokok yang fluktuatif, MBG adalah jaring pengaman sosial yang nyata," ujarnya.

Hidayat juga menilai program tersebut berpotensi menggerakkan perekonomian lokal apabila pelaksanaannya mengutamakan produk hasil pertanian, peternakan, dan perikanan dari Kalimantan Barat.

Ia menyebut kebutuhan bahan pangan MBG dapat dipenuhi dari berbagai daerah di Kalbar, seperti beras dari Sambas, telur dari Kubu Raya, sayuran dari Bengkayang, serta ikan dari Kapuas.

"MBG harus jadi ekosistem, bukan proyek impor," katanya.

Di sektor pendidikan, Hidayat menyebut anak yang memperoleh asupan makanan bergizi akan lebih fokus mengikuti proses belajar. 

Ia mengatakan laporan guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menyebut tingkat kehadiran siswa meningkat sejak pelaksanaan uji coba MBG.

"Perut kenyang, sekolah tenang, prestasi naik," ujarnya.
“Perut Kenyang, Sekolah Tenang”, Pesan dari Aksi Damai Warga Kalbar untuk Program MBG
Aliansi Masyarakat Kalbar bersama Ormas di Kalbar menggelar aksi damai dukungan penuh MBG. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto, di Bundaran Digulis Untan Pontianak, Sabtu 20 Juni 2026. Foto:ist
Ia juga menilai Program MBG merupakan bentuk keberpihakan Presiden Prabowo Subianto kepada masyarakat, khususnya dalam menjadikan pemenuhan gizi anak sebagai agenda utama negara.

Hidayat menyampaikan sasaran Program MBG di Kalimantan Barat diperkirakan mencakup sekitar 800 ribu siswa mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, serta ibu hamil dan balita. 

Menurutnya, apabila satu porsi makanan bernilai Rp15 ribu, maka perputaran ekonomi dari program tersebut dapat mencapai sekitar Rp12 miliar per hari bagi pelaku UMKM lokal.

Meski menyatakan dukungan, Hidayat menegaskan pihaknya tetap mengawal pelaksanaan program agar berjalan sesuai sasaran. 

Ia meminta data penerima manfaat dibuka dan diverifikasi sehingga bantuan diterima oleh kelompok yang berhak.

Selain itu, ia meminta penyusunan menu melibatkan ahli gizi dan BPOM dengan mengacu pada prinsip B2SA, yakni Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.

Hidayat juga mendorong transparansi anggaran, termasuk keterbukaan mengenai pemasok, harga, dan jumlah porsi makanan, serta menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik korupsi dalam pelaksanaan program tersebut.

Ia turut meminta sedikitnya 70 persen bahan baku MBG berasal dari Kalimantan Barat.

"Kami akan bentuk tim relawan pantau MBG Kalbar untuk cek dapur, cek menu, cek distribusi," katanya.

Hidayat mengatakan dukungan terhadap MBG tidak berarti mengabaikan fungsi pengawasan. Menurutnya, polemik tidak boleh mengorbankan hak anak untuk memperoleh makanan bergizi.

"Kepada Presiden Prabowo, MBG jalan terus, rakyat Kalbar mendukung dan juga mengawasi," ujarnya. ***

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang

Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)

SINTANG - Seorang remaja berusia 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dilaporkan tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan berusaha diselamatkan warga yang berada di sekitar lokasi.

Korban sebelumnya terlihat dalam kondisi membutuhkan bantuan. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian itu langsung berupaya memberikan pertolongan.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Salah seorang warga bahkan berhasil menjangkau korban dan sempat memegang tubuhnya. Namun nahas, korban terlepas dari pegangan saat proses penyelamatan berlangsung.

Korban kemudian tenggelam dan menghilang di perairan Danau Biru Sintang.

Informasi yang diperoleh menyebutkan korban merupakan warga Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sebelum tenggelam, korban sempat meminta tolong kepada warga yang berada di sekitar lokasi.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Meski warga telah berupaya melakukan penyelamatan dengan cepat, korban tidak berhasil dipertahankan dan akhirnya hilang di dalam danau.

936 Atlet Forbasi Kalbar Siap Berlaga di FORPROV II Singkawang

Foto: Atlet Forbasi Kalbar untuk FORPROV II di Singkawang 

SINGKAWANG – Sebanyak 936 atlet Forbasi Kalimantan Barat siap berlaga pada FORPROV II Kalimantan Barat yang akan berlangsung di Kota Singkawang.

Pertandingan cabang olahraga masyarakat dari Inorga Forbasi dijadwalkan digelar 11 Juli 2026 di GOR Mulia STIE Singkawang. Sebanyak 6 kategori dipertandingkan, meliputi RUKIBRA U-15, RUKIBRA U-19, LOBB U-15, LOBB U-19, VARFORMUS U-15, dan VARFORMUS U-19.

Ketua Forbasi Kalimantan Barat Syarif Rudiansyah Al-Qadrie, S.H. mengatakan, Inorga Forbasi yang merupakan bagian dari INORGA KORMI Kalimantan Barat menjadi salah satu inorga dengan jumlah peserta terbanyak di FORPROV II.



Penyelenggaraan FORPROV II Kalimantan Barat melibatkan 22 Inorga KORMI Kalimantan Barat dan berlangsung pada 5-12 Juli 2026 di Kota Singkawang. 

“Kami berharap kegiatan ini bisa berdampak pada peningkatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Singkawang,” ujar Syarif Rudiansyah. (Red)


Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalian pasti dengar teriak para pendemo pro MBG. “Kalau ada masalah, diperbaiki." "Kalau ada kebocoran, dibenahi." "Kalau ada korupsi, pelakunya ditangkap." "Jangan programnya yang dihentikan." Begitukan? 

Sekilas terdengar masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Siapa juga yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Siapa yang berani terang-terangan bilang anak sekolah tidak perlu makan siang?

Masalahnya bukan di situ. Masalahnya justru ada pada pertanyaan paling sederhana yang terus dihindari, “Diperbaiki bagaimana?”

Karena yang sedang dihadapi bukan sekadar kesalahan teknis. Bukan sekadar nasi kurang matang atau lauk kurang garam. Yang sedang dihadapi adalah penyakit kronis bernama korupsi yang sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ birokrasi. Sudah jadi budaya, local wisdom, ciri khas negeri.

Kalau pipa bocor, ya diganti. Kalau jalan berlubang, ya ditambal. Kalau mental korupsi sudah akut, mau ditambal pakai apa? Lem Korea? Lakban anti-air? Atau doa bersama tiga malam berturut-turut?

Publik sudah terlalu sering mendengar janji "perbaikan tata kelola". Kalimat itu sudah seperti ringtone lama yang diputar berulang-ulang sejak KPK ngejar Harun Masiku.

Setiap ada skandal, jawabannya sama. Perbaiki tata kelola. Perkuat pengawasan. Tingkatkan transparansi. Evaluasi menyeluruh.

Hasilnya? Koruptor baru lahir lebih cepat dari laporan evaluasinya selesai.

Lihat saja apa yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Baru seumur jagung, belum juga program berjalan penuh ke seluruh Indonesia, publik sudah disuguhi parade tersangka. Gerombolan Haji Dadan cs betapa rakus mengeruk uang rakyat. Siswa dapat jatah MBG seharga Rp10 ribu, mereka sehari Rp1 miliar. Sudah enam jadi tersangka. 

Enam. Bukan satu. Bukan dua. Enam. Jumlah yang cukup untuk membuat satu tim futsal korupsi lengkap dengan pemain cadangan.

Lalu muncul lagi pernyataan yang lebih bikin jidat berkerut. Menurut Sony, ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Empat puluh satu. Kalau angka itu benar, berarti yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus.

Yang ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Yang lebih menarik, Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman.

Artinya apa? Artinya cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka. Karena itulah publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi. Bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan. Bukan juga karena mereka membenci MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi.

Hari ini ditemukan korupsi. Besok diumumkan perbaikan. Lusa ditemukan korupsi baru. Minggu depan diumumkan reformasi. Bulan depan muncul tersangka tambahan. Siklusnya berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan. Lalu ada pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program.

Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?

Karena masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu. Bukan soal telur atau susu. Bukan soal ayam atau tempe. Masalah terbesar MBG adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang.

Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya. Maka ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik.

Baik. Diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju?

Sebab kalau jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir, yang sedang diperbaiki bukan programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.

Semoga dibaca yang masih bersemangat mendukung MBG. Kalau merasa baper, yok kita seruput Koptagul, malam minggu ni, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Tak Ada yang Menyangka, Bos Besar di Negeri Konoha Ini Justru Jatuh Hati pada Ajudannya Sendiri

Tak Ada yang Menyangka, Bos Besar di Negeri Konoha Ini Justru Jatuh Hati pada Ajudannya Sendiri
Tak Ada yang Menyangka, Bos Besar di Negeri Konoha Ini Justru Jatuh Hati pada Ajudannya Sendiri

Bayang-Bayang di Negeri Konoha

Di Negeri Konoha, sebuah negeri yang terkenal dengan kemajuan teknologi dan kekuatan industrinya, berdiri sebuah perusahaan raksasa bernama Cakrawala Nusantara Group. Perusahaan itu dipimpin oleh seorang pria berusia enam puluhan bernama Pradana Wirakusuma.

Pradana dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas, disiplin, dan memiliki kharisma yang membuat banyak orang segan. Ia memulai usahanya dari bawah hingga berhasil membangun kerajaan bisnis yang menaungi berbagai sektor, mulai dari energi, pertanian, hingga teknologi.

Di balik kesuksesannya, Pradana memiliki seorang istri bernama Ratih. Mereka telah menikah selama lebih dari tiga puluh tahun dan dikaruniai dua orang anak yang telah beranjak dewasa.

Bagi publik, kehidupan keluarga mereka tampak sempurna. Namun, seperti banyak kisah lain, tidak semua yang terlihat indah dari luar benar-benar tanpa retakan.

Kehadiran Ajudan Baru

Kehadiran Ajudan Baru
Kehadiran Ajudan Baru. (Ilustrasi)

Suatu hari, perusahaan menunjuk seorang staf khusus baru untuk mendampingi aktivitas Pradana. Namanya Larasati.

Perempuan berusia tiga puluh tahun itu dikenal cerdas, disiplin, dan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik. Penampilannya yang elegan dan kepribadiannya yang ramah membuat banyak orang mudah merasa nyaman saat berbicara dengannya.

Awalnya, hubungan Larasati dan Pradana hanya sebatas atasan dan bawahan. Larasati bertugas mengatur jadwal, menyiapkan berbagai pertemuan penting, serta mendampingi sang pemimpin dalam berbagai perjalanan bisnis.

Hari demi hari berlalu.

Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama karena tuntutan pekerjaan. Larasati mulai memahami kebiasaan Pradana, bahkan mengetahui kapan pria itu sedang lelah atau sedang berada dalam tekanan besar.

Sementara itu, Pradana merasa ada sesuatu yang berbeda.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menghadapi dunia bisnis yang keras. Ia jarang memiliki waktu untuk berbicara tentang hal-hal pribadi. Namun Larasati, dengan caranya yang tenang, sering menjadi pendengar yang baik.

Di sinilah semuanya mulai berubah.

Kesepian yang Tak Terucapkan

Di rumah, hubungan Pradana dan Ratih sebenarnya tidak buruk. Namun kesibukan dan waktu yang terus berjalan membuat komunikasi mereka semakin dingin.

Ratih lebih banyak mengurus kegiatan sosial dan yayasan keluarga. Anak-anak mereka sudah mandiri dan tinggal di kota lain.

Mereka masih makan malam bersama sesekali, tetapi percakapan yang terjadi lebih banyak mengenai jadwal atau urusan keluarga.

Pradana mulai merasakan kesepian yang sulit dijelaskan.

Suatu malam, setelah rapat panjang yang melelahkan, ia duduk di ruang kerjanya sambil memandang hujan dari balik jendela.

Larasati yang masih berada di kantor menghampirinya.

"Pak, jangan terlalu memaksakan diri. Bapak belum makan sejak siang."

Pradana tersenyum kecil.

"Kamu selalu memperhatikan hal-hal kecil, Laras."

"Itu memang tugas saya."

"Tidak semua orang melakukannya."

Mereka tertawa kecil.

Sejak malam itu, hubungan mereka menjadi semakin dekat secara emosional.

Desas-desus di Perusahaan

Kedekatan mereka mulai menjadi bahan pembicaraan para pegawai.

Sebagian menganggap hal itu wajar karena Larasati memang selalu mendampingi Pradana dalam berbagai kegiatan.

Namun sebagian lainnya mulai berbisik-bisik.

Direktur Operasional, Surya Mahendra, menjadi salah satu orang yang paling tidak menyukai situasi tersebut.

Surya telah bekerja bersama Pradana selama dua puluh tahun. Ia melihat perubahan sikap sang pemimpin.

Pradana mulai lebih sering menolak rapat penting.

Beberapa keputusan strategis tertunda.

Dan yang paling mengkhawatirkan, perhatian Pradana terhadap perusahaan mulai berkurang.

Suatu hari Surya memberanikan diri berbicara.

"Pak, saya ingin bicara sebagai sahabat."

Pradana mengangguk.

"Ada apa?"

"Bapak terlihat berubah."

"Maksudmu?"

"Perusahaan membutuhkan fokus Bapak."

Pradana tersenyum tipis.

"Aku masih sama."

Surya menghela napas.

"Semoga begitu."

Kecurigaan Ratih

Di rumah, Ratih mulai menyadari perubahan suaminya.

Pradana lebih sering tersenyum sendiri saat membaca pesan.

Ia juga menjadi lebih sering melakukan perjalanan mendadak.

Ratih yang selama ini sangat percaya kepada suaminya mulai merasakan kegelisahan.

Namun ia memilih diam.

Sampai suatu malam.

Pradana pulang larut.

Ratih yang sedang membaca buku menatap suaminya.

"Kamu makan malam di luar?"

"Iya, ada urusan kantor."

"Dengan siapa?"

"Tim."

Ratih mengangguk pelan.

"Tidak biasanya kamu menjawab sesingkat itu."

Pradana hanya tersenyum.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya selama tiga puluh tahun pernikahan mereka, Ratih menangis diam-diam.

Rahasia yang Terbongkar

Beberapa minggu kemudian, Ratih menemukan sebuah foto dalam ponsel suaminya.

Foto itu menunjukkan Pradana dan Larasati sedang tersenyum saat menghadiri acara perusahaan di luar kota.

Tidak ada yang aneh dalam foto itu.

Namun yang membuat Ratih terdiam adalah sebuah pesan sederhana.

"Terima kasih sudah selalu ada untuk saya."

Kalimat itu cukup membuat hatinya hancur.

Ratih tidak marah.

Ia tidak berteriak.

Namun ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini ia jaga.

Malam itu, ia duduk berhadapan dengan suaminya.

"Pradana."

"Iya?"

"Kamu bahagia?"

Pradana terdiam.

Ratih tersenyum sedih.

"Jawab dengan jujur."

Pradana menundukkan kepala.

"Aku tidak tahu."

"Apakah ada orang lain?"

Pradana memejamkan mata.

Dan keheningan menjadi jawaban.

Ratih menangis.

Bukan karena kemarahan.

Melainkan karena perempuan itu merasa pria yang selama ini menjadi teman hidupnya sudah berubah menjadi orang asing.

Larasati Memilih Mundur

Larasati Memilih Mundur
Larasati Memilih Mundur. (Ilustrasi)

Keesokan harinya, Larasati dipanggil oleh Ratih.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada bentakan.

Ratih hanya berkata lembut.

"Saya tidak membenci kamu."

Larasati terkejut.

"Saya minta maaf."

Ratih menggeleng.

"Kadang manusia tersesat. Saya hanya ingin bertanya, apakah kamu mencintainya?"

Larasati menangis.

"Saya menghormati beliau."

"Itu bukan jawaban."

Larasati terdiam.

Ratih tersenyum.

"Kalau kamu benar mencintainya, kamu seharusnya tahu bahwa ia sedang kehilangan dirinya sendiri."

Kalimat itu menghantam hati Larasati.

Malamnya, Larasati menemui Pradana.

"Bapak."

"Iya?"

"Saya mengundurkan diri."

Pradana terkejut.

"Apa?"

"Saya rasa ini yang terbaik."

"Laras!"

"Bapak harus kembali menjadi diri Bapak."

Pradana terdiam.

"Terima kasih atas semua kepercayaan Bapak."

Larasati pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pradana merasakan kesepian yang jauh lebih dalam.

Keruntuhan Sang Pemimpin

Tanpa Larasati, Pradana seperti kehilangan arah.

Ia mulai sadar bahwa selama ini dirinya terlalu larut dalam perhatian yang ia terima.

Perusahaan juga mulai mengalami masalah.

Harga saham menurun.

Beberapa proyek besar tertunda.

Para investor mulai khawatir.

Dewan komisaris meminta penjelasan.

Di tengah tekanan itu, Surya kembali datang.

"Kamu tahu apa masalahmu?"

Pradana menatap sahabatnya.

"Aku tua, Surya."

"Bukan."

"Lalu?"

"Kamu lupa alasan kenapa dulu membangun semua ini."

Pradana terdiam.

Surya melanjutkan.

"Kamu bukan kehilangan cinta. Kamu kehilangan tujuan."

Kalimat itu membuat Pradana termenung selama berhari-hari.

Surat Ratih

Suatu pagi, Ratih meninggalkan sebuah surat.

"Pradana.

Aku tidak pernah membencimu.

Aku hanya sedih karena kita terlalu lama berjalan bersama tanpa benar-benar saling mendengarkan.

Aku juga punya kesalahan.

Kita sama-sama sibuk.

Kita sama-sama berubah.

Kalau kamu masih ingin memperbaiki semuanya, aku masih ada.

Namun kalau tidak, aku akan tetap mendoakanmu.

Karena cinta tidak selalu berarti memiliki.

Ratih."

Pradana membaca surat itu berkali-kali.

Air matanya jatuh.

Ia teringat perjuangan mereka saat masih muda.

Saat Ratih mendampinginya ketika perusahaan hampir bangkrut.

Saat mereka hanya memiliki satu mobil tua.

Saat mereka tertawa bersama dalam kesederhanaan.

Ia sadar, yang hilang bukan cinta.

Yang hilang adalah perhatian yang selama ini mereka lupakan.

Pertemuan Terakhir

Pradana menemui Larasati untuk terakhir kalinya.

"Laras."

Perempuan itu tersenyum.

"Bapak terlihat lebih tenang."

"Aku ingin mengucapkan terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kamu membuatku menyadari banyak hal."

Larasati tersenyum.

"Bapak tahu?"

"Tahu apa?"

"Saya tidak pernah berniat menghancurkan keluarga Bapak."

"Aku tahu."

"Kembalilah kepada orang yang telah menemani Bapak selama puluhan tahun."

Pradana mengangguk.

Dan mereka berpisah sebagai dua orang yang saling menghormati.

Kembali ke Rumah

Sore itu, Pradana pulang lebih awal.

Ratih sedang menyiram bunga.

Perempuan itu terkejut melihat suaminya.

Pradana mendekat.

"Ratih."

"Iya?"

"Boleh aku belajar lagi menjadi suami yang baik?"

Ratih tersenyum.

"Kita belajar bersama."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka makan malam tanpa membicarakan bisnis.

Mereka berbicara tentang anak-anak.

Tentang masa muda.

Tentang mimpi yang sempat terlupakan.

Dan di luar rumah, hujan turun perlahan.

Pradana menyadari satu hal penting.

Kadang manusia tidak kehilangan cinta.

Mereka hanya lupa cara merawatnya.

Dan bagi seorang pemimpin, tantangan terbesar bukanlah mengelola perusahaan atau membangun kerajaan bisnis.

Melainkan menjaga hati agar tidak tersesat oleh kesepian, kesibukan, dan perhatian sesaat yang tampak indah.

Karena pada akhirnya, kemewahan, kekuasaan, dan pujian akan berlalu.

Tetapi orang-orang yang tetap tinggal di saat paling sulit, merekalah yang sesungguhnya pantas diperjuangkan.

Disclaimer: Cerita ini merupakan karya fiksi semata yang dibuat untuk tujuan hiburan dan imajinasi. Segala nama, tokoh, tempat, maupun peristiwa yang terdapat dalam cerita tidak dimaksudkan untuk menggambarkan orang atau kejadian nyata. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, atau alur dengan peristiwa maupun individu tertentu, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulis.

Akhirnya Pulang, 354 Jamaah Haji HSU Kloter 11 Tiba di Tanah Air dengan Selamat

Sebanyak 354 jamaah haji asal Hulu Sungai Utara yang tergabung dalam Kloter 11 Debarkasi Banjarmasin tiba di tanah air. Total jamaah yang telah pulang mencapai 3.943 orang.
Sebanyak 354 jamaah haji asal Hulu Sungai Utara yang tergabung dalam Kloter 11 Debarkasi Banjarmasin tiba di tanah air. Total jamaah yang telah pulang mencapai 3.943 orang.

BANJARBARU — Sebanyak 354 jamaah haji asal Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, yang tergabung dalam Kloter 11 Debarkasi Banjarmasin telah kembali ke Indonesia setelah menuntaskan ibadah haji 2026 di Tanah Suci Arab Saudi.

Rombongan jamaah tiba pada Jumat sekitar pukul 12.55 Wita melalui Bandara Internasional Syamsuddin Noor Banjarmasin. Kedatangan mereka menjadi bagian dari gelombang kedua pemulangan jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan dari Madinah.

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Banjarmasin, Eddy Khairani, memastikan proses kepulangan berlangsung lancar. Setelah mendarat, para jamaah langsung diarahkan menuju Asrama Haji untuk mengikuti penyambutan sekaligus beristirahat sebelum kembali ke daerah masing-masing.

"Alhamdulillah, kondisi kesehatan jamaah haji kloter 11 cukup baik, hanya kebanyakan memang mengalami flu dan batuk," kata Eddy Khairani.

Kondisi Jamaah Haji HSU Umumnya Baik

Meski sebagian jamaah mengalami gangguan kesehatan ringan seperti flu dan batuk, secara keseluruhan kondisi mereka dinyatakan baik. Hal ini menjadi kabar positif mengingat perjalanan panjang dari Arab Saudi menuju Indonesia membutuhkan kondisi fisik yang prima.

Kloter 11 merupakan salah satu kelompok yang dipulangkan melalui Madinah. Sementara jamaah gelombang pertama sebelumnya diberangkatkan dari Makkah dan kembali ke Indonesia melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.

Pemulangan Jamaah Haji Debarkasi Banjarmasin Terus Berlanjut

Dengan tibanya Kloter 11, jumlah jamaah yang telah kembali melalui Debarkasi Banjarmasin mencapai 3.943 orang.

Pada musim haji 2026, Debarkasi Banjarmasin melayani total 6.804 jamaah yang terbagi dalam 19 kloter. Rinciannya, 14 kloter berasal dari Kalimantan Selatan dan lima kloter dari Kalimantan Tengah.

Hingga saat ini, masih terdapat delapan kloter yang berada di Arab Saudi dan menunggu jadwal kepulangan ke Tanah Air.

Proses pemulangan jamaah haji Debarkasi Banjarmasin sendiri telah dimulai sejak 4 Juni 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 1 Juli 2026.

Harapan PPIH Bagi Jamaah yang Telah Kembali

Selain memastikan pelayanan kepulangan berjalan aman dan nyaman, PPIH Debarkasi Banjarmasin juga berharap para jamaah dapat mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Menurut Eddy Khairani, perjalanan haji bukan hanya tentang keberangkatan dan kepulangan, tetapi juga bagaimana para jamaah menjaga semangat ibadah, kesabaran, keikhlasan, serta kepedulian sosial setelah kembali ke tengah masyarakat.

"Semoga seluruh jamaah menjadi haji dan hajjah yang mabrur serta membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, daerah, dan bangsa," ujarnya.

PPIH Debarkasi Banjarmasin menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan terbaik hingga seluruh kloter tiba kembali di daerah masing-masing dengan aman, tertib, dan nyaman.

Bukan Sekadar Ziarah, Kapolri Kenang Warisan Gus Dur untuk Profesionalisme Polri

Kapolri Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Gus Dur di Jombang menjelang Hari Bhayangkara ke-80. Ziarah ini menjadi refleksi nilai pengabdian dan profesionalisme Polri.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Gus Dur di Jombang menjelang Hari Bhayangkara ke-80. Ziarah ini menjadi refleksi nilai pengabdian dan profesionalisme Polri.

Kapolri Listyo Sigit Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Jejak Reformasi dan Profesionalisme Polri

JAKARTA - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolri melakukan doa bersama dan menaburkan bunga di pusara Gus Dur sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu tokoh bangsa yang memiliki peran besar dalam perjalanan reformasi Indonesia. Kegiatan itu juga menjadi momen refleksi bagi institusi Polri dalam memperkuat nilai pengabdian, toleransi, dan profesionalisme.

Ziarah Kapolri ke Makam Gus Dur

Berdasarkan keterangan Divisi Humas Polri, ziarah yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Kehadiran orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu menjadi simbol penghormatan kepada para tokoh bangsa yang telah meletakkan fondasi penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia.

Kapolri tiba di kompleks makam Gus Dur dengan mengenakan peci hitam. Kedatangannya disambut Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin. Sebelum berdoa dan melakukan tabur bunga, Kapolri menerima pengalungan surban sebagai bentuk penghormatan.

Suasana khidmat menyelimuti prosesi ziarah yang berlangsung di salah satu lokasi yang menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah tersebut.

Peran Penting Gus Dur dalam Reformasi Polri

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 pada periode 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001. Di bawah kepemimpinannya, berbagai agenda reformasi terus didorong, termasuk pembenahan sektor keamanan nasional.

Salah satu langkah bersejarah yang dilakukan pada era pemerintahan Gus Dur adalah pemisahan institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Kebijakan tersebut diperkuat melalui Ketetapan MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta Ketetapan MPR Nomor VII Tahun 2000 mengenai Peran TNI dan Polri.

Kebijakan itu menjadi tonggak penting reformasi sektor keamanan di Indonesia. Pemisahan kedua institusi tersebut dilakukan untuk memperjelas fungsi pertahanan negara dan keamanan dalam negeri sesuai prinsip demokrasi dan supremasi sipil.

Gus Dur dan Nilai Toleransi yang Terus Dikenang

Selain dikenal sebagai Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga dikenang sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan pluralisme, keberagaman, serta toleransi antarumat beragama dan antaretnis.

Pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur hingga kini masih menjadi inspirasi bagi berbagai kalangan, termasuk aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya secara profesional dan humanis.

Nilai pengabdian kepada masyarakat, penghormatan terhadap perbedaan, serta semangat menjaga persatuan menjadi bagian dari warisan yang terus relevan di tengah kehidupan bangsa yang majemuk.

Momentum Hari Bhayangkara ke-80

Ziarah ke makam Gus Dur menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan Polri menjelang Hari Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026. Melalui kegiatan tersebut, Polri berupaya mengenang keteladanan para tokoh bangsa sekaligus memperkuat semangat pengabdian dalam memberikan pelayanan, perlindungan, dan penegakan hukum kepada masyarakat.

Momentum Hari Bhayangkara tahun ini tidak hanya menjadi peringatan hari lahir institusi kepolisian, tetapi juga menjadi ajang refleksi atas perjalanan reformasi dan komitmen Polri dalam meningkatkan profesionalisme di tengah tantangan yang terus berkembang.

Kasus Rp145,5 Miliar Belum Selesai, KPK Kini Temukan Jejak Baru dari Bali

KPK menyita barang bukti dari Kantor Imigrasi Denpasar dan dua lokasi di Bali untuk mengusut kasus dugaan pemerasan izin tinggal WNA yang diduga menghasilkan Rp145,5 miliar.
KPK menyita barang bukti dari Kantor Imigrasi Denpasar dan dua lokasi di Bali untuk mengusut kasus dugaan pemerasan izin tinggal WNA yang diduga menghasilkan Rp145,5 miliar.

KPK Sita Barang Bukti dari Kantor Imigrasi Denpasar, Dalami Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sejumlah barang bukti elektronik dan dokumen dari Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar, Bali, dalam rangkaian penggeledahan yang dilakukan pada 17-19 Juni 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari penyidikan kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA).

Selain Kantor Imigrasi Denpasar, tim penyidik juga menggeledah dua lokasi lainnya, yakni PT Visa Empat Bali dan CV Visa Agung Bali Teratai Promenade. Dari ketiga lokasi tersebut, penyidik mengamankan barang bukti berupa perangkat elektronik serta berbagai dokumen yang diduga berkaitan dengan perkara yang tengah diusut.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan seluruh barang bukti yang telah disita akan dianalisis lebih lanjut guna memperjelas konstruksi perkara.

“Barang bukti yang disita selanjutnya akan dianalisis oleh penyidik guna mengungkap perkara ini menjadi terang,” kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Sabtu.

Penggeledahan KPK di Bali Perkuat Penyidikan Kasus Imigrasi

Penggeledahan yang dilakukan selama tiga hari tersebut menjadi bagian dari pengembangan penyidikan kasus dugaan korupsi dalam pengurusan izin tinggal WNA. KPK berupaya menelusuri aliran dana serta keterlibatan sejumlah pihak yang diduga memperoleh keuntungan dari praktik tersebut.

Dalam proses penyidikan, KPK juga memeriksa Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan periode 2024-2026, Silmy Karim, pada 19 Juni 2026. Pemeriksaan dilakukan terkait dugaan penerimaan hasil pemerasan dan gratifikasi.

Menurut Budi Prasetyo, penyidik turut mendalami asal-usul sejumlah aset yang telah disita dalam perkara tersebut.

“Materi pemeriksaan terkait dugaan penerimaan oleh SK dari pemerasan dan gratifikasi, serta dikonfirmasi terkait asal-usul aset-aset yang telah disita,” ujarnya.

Berawal dari OTT KPK pada Awal Juni 2026

Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK pada 2-3 Juni 2026. Operasi tersebut menjadi OTT ke-11 yang dilakukan lembaga antirasuah sepanjang tahun 2026.

Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan 17 orang yang terdiri dari delapan penyelenggara negara atau aparatur sipil negara (ASN) serta sembilan pihak swasta. Mereka diduga memiliki peran dalam praktik pengurusan dokumen keimigrasian bagi warga negara asing.

Sehari setelah operasi dilakukan, Silmy Karim mendatangi Gedung KPK pada 3 Juni 2026 untuk menyerahkan diri.

Delapan Orang Ditetapkan sebagai Tersangka

Pada 4 Juni 2026, KPK resmi menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan pengurusan izin tinggal WNA yang terjadi selama periode 2022-2026 di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang kemudian beralih ke Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Para tersangka diduga memperoleh keuntungan mencapai Rp145,5 miliar dari praktik tersebut.

Delapan tersangka itu antara lain Silmy Karim yang pernah menjabat Direktur Jenderal Imigrasi periode 2023-2024, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi periode 2024-2025 Saffar Muhammad Godam, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Barat Jaya Saputra, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Jakarta Barat Ronald Arman Abdullah, serta Kepala Subdirektorat pada Direktorat Izin Tinggal dan Status Keimigrasian Tessar Bayu Setyaji dan Bagus Bramantyo.

Selain itu, Ketua Tim Alih Status Izin Tinggal Terbatas (ITAS) Juniadi Sri Priambudi dan Staf Subdirektorat Izin Tinggal Gusti Benardiansyah juga ditetapkan sebagai tersangka.

KPK Masih Telusuri Aliran Dana dan Barang Bukti

Penyitaan dokumen dan barang bukti elektronik dari tiga lokasi di Bali menjadi langkah penting dalam mengungkap lebih jauh dugaan praktik pemerasan yang terjadi di lingkungan keimigrasian.

KPK memastikan seluruh barang bukti yang telah diamankan akan dianalisis untuk memperkuat proses penyidikan. Penyidik juga masih terus menelusuri aliran dana, asal-usul aset yang disita, serta kemungkinan adanya pihak lain yang turut terlibat dalam perkara tersebut.

Pria Ditemukan Meninggal di Rumah Kosong, Polisi: Tidak Ada Tanda Kekerasan

Foto: Lokasi Penemuan Mayat Seorang Pria di Rumah Kosong 

SUNGAI RAYA - Seorang pria ditemukan meninggal dunia di teras rumah kosong di Jalan Parit Nomor 2, Gang Flamboyan 2, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Jumat 19 Juni 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Penemuan bermula dari laporan sekelompok anak yang mencium aroma tidak sedap saat bermain di sekitar lokasi. Mereka kemudian mendapati sesosok pria terbujur kaku di teras rumah kosong dan langsung melapor ke warga sekitar.

Warga yang menerima laporan segera mendatangi lokasi dan menghubungi Polsek Sungai Raya. Tim Identifikasi Polres Kubu Raya bersama personel Polsek Sungai Raya langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kasubsie Penamas Polres Kubu Raya Aiptu Ade membenarkan peristiwa tersebut. Korban diketahui berinisial WH, 31 tahun, warga setempat.

“Saat ditemukan, jenazah WH berada dalam posisi telentang di teras rumah dengan mengenakan kaos berwarna cokelat dan celana pendek abu-abu. Di sekitar lokasi dipenuhi tumpukan sampah plastik,” ujar Ade, Sabtu 19 Juni 2026.

Hasil pemeriksaan luar Tim Identifikasi tidak menemukan luka menganga atau tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh maupun kepala korban. Dari keterangan saksi dan keluarga, diketahui korban mengalami gangguan jiwa semasa hidupnya.

Pihak keluarga telah menyatakan ikhlas dan menolak dilakukan visum maupun autopsi. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dan pengurus Yayasan Budi Bhakti Marga Chai untuk dimakamkan. Situasi di lokasi saat ini sudah kondusif. (Tim)