Dokter ahli jelaskan cara ameba masuk dan menginfeksi otak

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Selasa, 23 September 2025

Dokter ahli jelaskan cara ameba masuk dan menginfeksi otak

Jakarta - Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto dr. Sholihul Muhibbi, SpN menyampaikan bahwa "ameba pemakan otak" Naegleria fowleri bisa masuk ke tubuh manusia saat berenang di kolam atau danau air tawar di daerah yang beriklim tropis dan hangat.

Kepada ANTARA pada Selasa, dokter Sholihul menyampaikan bahwa spesies ameba tersebut bisa masuk ke otak melalui sel saraf penghidu atau penciuman di bagian atap rongga hidung.

Ia mengatakan bahwa tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan tubuh tambahan yang kuat untuk melindungi otak, yang disebut Blood-brain Barrier (BBB) atau sawar darah-otak.

Sistem yang ada dalam sistem saraf pusat sebagian besar vertebrata tersebut memisahkan darah dari cairan ekstraseluler otak.

Sistem ini berperan penting dalam mengatur transportasi zat-zat penting untuk fungsi otak sekaligus melindunginya dari zat asing dalam darah yang dapat merusak otak, termasuk bakteri dan kuman yang masuk ke pembuluh darah.

Namun demikian, dokter Sholihul mengatakan, spesies ameba Naegleria fowleri bisa masuk ke otak melalui saraf penciuman dan menyebabkan kerusakan jaringan otak yang dapat berujung kematian.

"Kemampuan ini yang menjadikan spesies N. fowleri berbahaya," katanya.

Paparan ameba berbahaya tersebut berpeluang terjadi di wilayah Indonesia yang beriklim tropis dan hangat.

Oleh karena itu, dokter Sholihul mengatakan, demi keamanan lebih baik menggunakan bahan seperti klorin untuk membersihkan air kolam sebelum berenang. 

Dia juga menganjurkan pengolahan air tawar dari alam untuk memastikan air yang diminum bebas dari kontaminasi kuman berbahaya.

"Pada umumnya air mentah langsung dari alam yang sudah diberikan perlakuan sehingga bisa dikonsumsi seperti dimasak dengan dididihkan, difiltrasi dengan sinar UV atau dengan bahan kimia cenderung aman dan tidak mengandung bakteri yang berbahaya," ia menjelaskan.

Pewarta : Fitra Ashari/ANTARA
  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.