![]() |
| Air di Awan Venus Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan Ilmuwan. |
JAKARTA - Sekelompok peneliti Amerika Serikat menemukan bahwa awan di planet Venus ternyata mengandung lebih banyak air daripada yang selama ini dipercaya.
Temuan ini dihasilkan dari analisis ulang data misi Pioneer-Venus yang diluncurkan NASA pada akhir 1970-an.
Berdasarkan hasil penelitian tim gabungan dari California State Polytechnic University di Pomona, University of Wisconsin, University of Arizona, dan NASA, sekitar 60 persen partikel di awan Venus ternyata terdiri dari senyawa air.
Namun, air tersebut tidak berbentuk cair seperti di Bumi, melainkan terikat dalam bentuk hidrat mineral seperti sulfat besi dan magnesium.
Penelitian ini dipimpin oleh Rakesh Mogul dari Cal Poly Pomona, yang terinspirasi dari percakapannya dengan Sanjay Limaye, pakar planet Venus dari University of Wisconsin.
Keduanya memutuskan untuk meninjau ulang data lama dari instrumen Pioneer-Venus Large Probe yang telah tersimpan selama puluhan tahun di arsip NASA dalam bentuk mikrofilm.
Data tersebut kemudian berhasil ditemukan, dipindai, dan dianalisis kembali menggunakan teknologi modern.
Menurut laporan mereka, instrumen seperti neutral mass spectrometer (LNMS) dan gas chromatograph (LGC) ternyata merekam lebih banyak informasi daripada yang semula disadari para ilmuwan pada masa itu.
Selama penurunan wahana ke atmosfer Venus, lubang sensor sempat tersumbat oleh partikel aerosol dari awan.
Awalnya ini dianggap sebagai gangguan teknis, namun para peneliti justru melihatnya sebagai peluang.
Saat partikel-partikel itu meleleh di suhu tinggi, alat mendeteksi pelepasan gas yang menunjukkan adanya air pada suhu 185°C dan 414°C.
Hal ini mengindikasikan keberadaan hidrat sulfat besi dan magnesium.
Selain itu, sinyal kuat dari asam sulfat terdeteksi di suhu sekitar 215°C, sesuai dengan suhu dekomposisinya.
Menariknya, muncul juga lonjakan sulfur dioksida pada suhu 397°C dan jejak unsur besi yang kemungkinan berasal dari debu kosmik yang bercampur di atmosfer Venus.
Temuan ini mengguncang pandangan ilmiah lama yang menyebut bahwa awan Venus hanya terdiri dari asam sulfat pekat.
Faktanya, kandungan asam tersebut kini diketahui hanya sekitar 22 persen dari total partikel awan.
Sisanya didominasi oleh senyawa yang kaya air.
Bagi para ahli astrobiologi, ini merupakan kabar besar karena membuka kemungkinan bahwa kehidupan mikroba bisa bertahan di lapisan awan Venus yang sebelumnya dianggap terlalu kering.
Meski kondisi tetap ekstrem dengan suhu tinggi dan keasaman tinggi, adanya air dalam jumlah signifikan memberi harapan baru bagi studi tentang potensi kehidupan di planet tetangga Bumi tersebut.
Penelitian ini juga menjelaskan mengapa hasil pengamatan jarak jauh menggunakan spektroskopi seringkali tidak menunjukkan tanda-tanda air.
Metode itu hanya bisa mendeteksi uap air bebas, bukan air yang terikat dalam senyawa kimia seperti hidrat.
Langkah selanjutnya, para ilmuwan berencana menggunakan data dari misi terbaru, termasuk VERITAS dan DAVINCI+ yang dijadwalkan NASA, untuk memverifikasi hasil ini.
Jika terbukti benar, penemuan ini dapat mengubah cara kita memahami atmosfer Venus sekaligus memperluas definisi tentang di mana kehidupan bisa bertahan di luar Bumi.
