Berita BorneoTribun: Antariksa hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antariksa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2026

Astronom Temukan Gua Raksasa di Venus, Bukti Kuat Adanya Terowongan Lava Bawah Permukaan

Astronom Temukan Gua Raksasa di Venus, Bukti Kuat Adanya Terowongan Lava Bawah Permukaan
Astronom Temukan Gua Raksasa di Venus, Bukti Kuat Adanya Terowongan Lava Bawah Permukaan.

JAKARTA -- Penelitian terbaru mengungkap temuan penting tentang aktivitas vulkanik di planet Venus. Tim ilmuwan internasional melaporkan adanya gua raksasa di bawah permukaan Venus, yang diyakini sebagai bukti paling kuat sejauh ini mengenai keberadaan terowongan lava (lava tubes) di planet yang kerap dijuluki “kembaran Bumi” tersebut.

Struktur bawah tanah itu ditemukan di sekitar gunung berapi perisai Nyx Mons, sebuah wilayah vulkanik luas dengan diameter sekitar 360 kilometer. Berdasarkan analisis radar, diameter rongga bawah tanah tersebut diperkirakan mencapai satu kilometer—lebih besar dibandingkan struktur serupa yang pernah ditemukan di Bumi maupun Mars.

Mengandalkan Data Radar karena Kondisi Ekstrem Venus

Permukaan Venus tidak bisa diamati secara langsung menggunakan teleskop optik biasa. Planet ini tertutup awan tebal yang mengandung sulfur dan karbon dioksida, yang menciptakan efek rumah kaca ekstrem. Suhu permukaannya mencapai lebih dari 465 derajat Celsius—cukup panas untuk melelehkan timbal.

Karena itu, para peneliti mengandalkan data radar dari misi lama milik NASA, yakni wahana Magellan yang mengorbit Venus pada 1990–1992. Dengan teknologi radar aperture sintetis, misi tersebut memetakan hampir seluruh permukaan Venus meski tertutup awan tebal.

Dari arsip data inilah para ilmuwan menganalisis area yang menunjukkan tanda-tanda runtuhan lokal pada permukaan. Runtuhan tersebut diduga sebagai “jendela” atau lubang runtuh (skylight) yang terbentuk ketika atap terowongan lava ambruk, sehingga membuka akses ke rongga di bawahnya.

Hasil analisis menunjukkan adanya kanal bawah permukaan berukuran besar di dekat salah satu lubang runtuhan tersebut. Meski baru sebagian yang dapat dikonfirmasi, struktur ini diperkirakan dapat memanjang setidaknya 45 kilometer.

Mengonfirmasi Hipotesis Lama tentang Vulkanisme Venus

Selama beberapa dekade, ilmuwan menduga bahwa Venus memiliki jaringan terowongan lava seperti yang ada di Bumi dan Mars. Permukaan Venus diketahui dipenuhi puluhan ribu gunung berapi, dataran lava luas, serta kanal-kanal vulkanik raksasa.

Namun hingga kini, proses yang terjadi di bawah permukaan Venus belum pernah diamati secara langsung. Keberadaan terowongan lava masih sebatas model teoretis.

Lorenzo Bruzzone, salah satu peneliti dari Universitas Trento, menegaskan bahwa pemahaman manusia tentang Venus masih sangat terbatas. Menurutnya, belum ada kesempatan untuk mengamati langsung proses geologi bawah permukaan di planet tersebut.

Penemuan rongga besar ini menjadi langkah penting karena memberikan bukti observasional yang mendukung teori lama mengenai aktivitas vulkanik intens di Venus.

Mengapa Lava Tubes di Venus Bisa Lebih Besar?

Salah satu pertanyaan utama yang ingin dijawab ilmuwan adalah bagaimana kondisi gravitasi dan atmosfer Venus memengaruhi pembentukan terowongan lava.

Gravitasi Venus sedikit lebih lemah dibandingkan Bumi. Dalam teori geologi planet, gravitasi yang lebih rendah memungkinkan struktur rongga lava memiliki ukuran lebih besar tanpa runtuh. Hal ini dapat menjelaskan mengapa diameter rongga yang terdeteksi di Nyx Mons mencapai sekitar satu kilometer—melebihi kebanyakan lava tube di Bumi.

Jika dikonfirmasi melalui misi masa depan, struktur semacam ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam tata surya.

Relevansi bagi Indonesia dan Riset Antariksa

Bagi Indonesia, temuan ini mungkin terasa jauh secara geografis. Namun secara ilmiah, riset tentang Venus memiliki dampak penting terhadap pemahaman perubahan iklim ekstrem dan evolusi planet.

Venus sering disebut sebagai “peringatan kosmik” tentang efek rumah kaca tak terkendali. Studi mengenai aktivitas vulkanik dan dinamika interiornya dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana atmosfer padat dan panas ekstrem dapat terbentuk dan bertahan dalam jangka panjang.

Bagi komunitas akademik Indonesia yang mulai aktif dalam riset astronomi dan ilmu keplanetan—termasuk melalui kolaborasi dengan lembaga internasional—temuan seperti ini menjadi referensi penting untuk pengembangan studi geologi planet dan eksplorasi antariksa.

Selain itu, misi-misi baru menuju Venus yang direncanakan beberapa badan antariksa dunia dalam dekade ini membuka peluang kolaborasi global, termasuk dalam pengolahan data dan pengembangan instrumen pengamatan radar.

Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Meski temuan ini menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa konfirmasi lebih lanjut masih diperlukan. Data dari Magellan memiliki keterbatasan resolusi, dan hanya sebagian struktur yang bisa diukur secara pasti.

Untuk membuktikan secara menyeluruh keberadaan jaringan terowongan lava raksasa, dibutuhkan misi baru dengan radar beresolusi tinggi yang mampu “menembus” lebih dalam ke bawah permukaan.

Beberapa misi masa depan yang dirancang untuk mengorbit Venus dengan teknologi radar canggih diharapkan mampu memberikan gambaran lebih detail tentang struktur bawah tanah planet tersebut.

Implikasi Jangka Panjang

Penemuan gua raksasa di Venus bukan sekadar kabar sensasional, melainkan kemajuan ilmiah yang memperdalam pemahaman manusia tentang evolusi planet berbatu.

Jika sistem terowongan lava di Venus benar-benar luas dan stabil, hal itu akan mengubah cara ilmuwan memandang dinamika geologi planet tersebut. Bahkan dalam jangka panjang, studi tentang struktur bawah permukaan ini bisa menjadi pertimbangan dalam skenario eksplorasi robotik, karena rongga bawah tanah secara teoretis dapat menawarkan perlindungan dari radiasi dan suhu ekstrem.

Untuk saat ini, struktur yang ditemukan di wilayah Nyx Mons tetap menjadi bukti paling kuat bahwa di bawah kerak Venus tersembunyi jaringan terowongan vulkanik raksasa—warisan dari aktivitas geologi yang sangat intens di masa lalu planet tersebut.

Temuan ini sekaligus mengingatkan bahwa meski sering disebut kembaran Bumi, Venus menyimpan dinamika internal yang jauh lebih ekstrem dan masih menyisakan banyak misteri untuk diungkap.

Jumat, 13 Februari 2026

iPhone Terbang ke Bulan! NASA Resmi Izinkan Astronaut Bawa Smartphone ke Misi Artemis II

iPhone Terbang ke Bulan! NASA Resmi Izinkan Astronaut Bawa Smartphone ke Misi Artemis II. (GAMBAR ILUSTRASI)
iPhone Terbang ke Bulan! NASA Resmi Izinkan Astronaut Bawa Smartphone ke Misi Artemis II. (GAMBAR ILUSTRASI)

JAKARTA -- Dunia antariksa baru saja mencetak sejarah kecil yang terasa sangat besar dampaknya. NASA akhirnya melonggarkan aturan lama dan memberi lampu hijau bagi astronaut untuk membawa iPhone serta smartphone modern lainnya ke orbit, bahkan hingga misi mengelilingi Bulan.

Keputusan ini mulai berlaku untuk misi Crew-12 dan Artemis II. Artinya, era baru eksplorasi luar angkasa resmi dimulai—era di mana teknologi yang kita genggam setiap hari ikut terbang menembus atmosfer.

Bukan Sekadar Gaya, Ini Langkah Strategis

Administrator NASA, Jared Isaacman, menegaskan bahwa perubahan ini bukan keputusan sembarangan. Ia menyebut NASA berhasil menembus “tembok lama” dengan mempercepat sertifikasi perangkat modern untuk kebutuhan luar angkasa.

Menurutnya, langkah ini memungkinkan NASA lebih fokus pada sains dan penelitian penting di orbit maupun di permukaan Bulan. Memang terdengar sederhana—hanya soal smartphone. Tapi di balik itu, ada lompatan besar dalam efisiensi dan fleksibilitas teknologi.

Bayangkan, perangkat yang biasa kita pakai untuk foto selfie atau video call, kini akan digunakan di lingkungan ekstrem luar angkasa.

Dari Kamera Jadul ke Kamera Canggih di Genggaman

Selama ini, astronaut NASA memang sudah menghasilkan foto-foto luar biasa dari International Space Station. Namun peralatan mereka terbilang “jadul”, seperti kamera DSLR Nikon keluaran 2016 dan GoPro generasi lama.

Teknologinya jelas kalah cepat dibanding kamera smartphone masa kini yang sudah dibekali:

  • Sensor canggih beresolusi tinggi

  • Mode malam berbasis AI

  • Stabilisasi video tingkat lanjut

  • Fitur editing instan

Dengan smartphone modern, astronaut bisa menangkap momen eksperimen, fenomena kosmik, hingga pemandangan Bumi dari jendela kapsul dengan kualitas lebih praktis dan efisien.

Dan yang paling menyentuh? Mereka bisa membagikan momen tersebut langsung kepada keluarga dan dunia.

Smartphone di Luar Angkasa, Bukan Hal Baru

Sebenarnya, ini bukan kali pertama iPhone terbang ke orbit. Pada 2011, dua iPhone 4 pernah dibawa ke luar angkasa. Namun, belum jelas apakah perangkat tersebut benar-benar digunakan secara maksimal atau hanya sebagai uji coba.

Saat ini, di ISS para kru lebih banyak mengandalkan tablet untuk komunikasi dan akses internet. Tapi dengan aturan baru ini, smartphone akan menjadi bagian resmi dari perlengkapan misi.

Ini bukan sekadar alat komunikasi—ini adalah simbol modernisasi eksplorasi luar angkasa.

Crew-12 dan Artemis II Jadi Titik Awal

Misi Crew-12 merupakan penerbangan berawak ke-12 menggunakan kapsul Crew Dragon milik SpaceX menuju ISS. Peluncurannya dijadwalkan pada 15 Februari.

Sementara itu, Artemis II akan menjadi misi berawak pertama menggunakan pesawat ruang angkasa Orion yang akan mengelilingi Bulan selama sekitar 10 hari. Peluncurannya direncanakan tidak lebih awal dari 6 Maret.

Bayangkan momen ketika astronaut memotret Bulan dari jarak dekat menggunakan smartphone—sebuah kombinasi antara teknologi konsumen dan eksplorasi antariksa paling ambisius abad ini.

Kenapa Keputusan Ini Penting untuk Kita?

Mungkin Anda bertanya, “Apa hubungannya dengan saya?”

Jawabannya sederhana: inovasi luar angkasa sering kali kembali ke Bumi dalam bentuk teknologi yang kita nikmati sehari-hari. GPS, kamera digital, hingga teknologi komunikasi satelit adalah contoh nyata.

Ketika NASA membuka pintu bagi smartphone di luar angkasa, itu berarti:

  • Standar ketahanan perangkat makin tinggi

  • Inovasi kamera dan baterai akan terus didorong

  • Kolaborasi antara industri teknologi dan antariksa semakin kuat

Siapa tahu, teknologi yang nantinya kita pakai di smartphone generasi berikutnya lahir dari kebutuhan ekstrem di orbit atau bahkan di sekitar Bulan.

Era Baru Eksplorasi Dimulai

Keputusan NASA ini memang terlihat kecil, tapi dampaknya besar. Ini adalah simbol bahwa eksplorasi luar angkasa tak lagi eksklusif dengan teknologi berat dan mahal saja. Kini, perangkat yang akrab di tangan masyarakat pun bisa menjadi bagian dari sejarah perjalanan manusia ke Bulan.

Dari Bumi ke orbit, dari genggaman tangan ke cakrawala antariksa—smartphone kini resmi naik kelas.

Dan mungkin, suatu hari nanti, foto Bulan terbaik yang pernah Anda lihat bukan diambil oleh kamera raksasa, melainkan oleh iPhone yang terbang bersama astronaut NASA.

Serius Nih, iPhone Bakal Ikut Terbang ke Bulan? NASA Bikin Publik Melongo

Serius Nih, iPhone Bakal Ikut Terbang ke Bulan? NASA Bikin Publik Melongo. (Gambar ilustrasi)
Serius Nih, iPhone Bakal Ikut Terbang ke Bulan? NASA Bikin Publik Melongo. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Selama ini banyak orang mengira smartphone cuma dipakai buat foto selfie, main media sosial, atau sekadar kirim pesan. Tapi siapa sangka, perangkat yang tiap hari ada di genggaman kita justru akan ikut dalam perjalanan paling ambisius umat manusia: misi ke Bulan. Kabar ini mencuat setelah NASA memberi lampu hijau bagi astronot untuk membawa smartphone pribadi, termasuk iPhone, dalam misi luar angkasa mendatang.

Keputusan ini langsung bikin heboh. Pasalnya, selama puluhan tahun perangkat yang dibawa ke luar angkasa harus melewati proses pengujian ketat dan biasanya bukan barang konsumsi umum. Semua alat dipilih secara khusus agar tahan radiasi, perubahan suhu ekstrem, dan kondisi tanpa gravitasi. Jadi ketika smartphone modern diizinkan ikut terbang, publik tentu bertanya-tanya: memangnya aman?

Langkah ini rencananya akan diterapkan pada misi mendatang, termasuk perjalanan menuju Moon dan kunjungan ke International Space Station. Artinya, iPhone dan ponsel pintar lain bukan cuma jadi alat komunikasi di Bumi, tapi juga akan menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan luar angkasa.

Lalu apa manfaatnya?

Pertama, soal dokumentasi. Kamera smartphone sekarang sudah sangat canggih. Bahkan dalam kondisi cahaya minim sekalipun, hasil fotonya tetap tajam. Dengan membawa iPhone, astronot bisa mengambil gambar dan video dengan lebih praktis tanpa harus selalu bergantung pada kamera profesional berukuran besar. Ini membuat momen-momen penting di luar angkasa bisa direkam dengan lebih spontan dan personal.

Kedua, efisiensi. Astronot tentu sudah sangat familiar dengan cara menggunakan smartphone. Jadi mereka tidak perlu belajar sistem baru yang rumit. Semakin sederhana alat yang dipakai, semakin kecil risiko kesalahan teknis. Dalam misi yang penuh tekanan dan perhitungan detail, kemudahan penggunaan menjadi nilai tambah besar.

Ketiga, ini juga menunjukkan betapa pesatnya perkembangan teknologi konsumen. Produk dari Apple Inc. misalnya, kini dinilai cukup mumpuni untuk mendukung kebutuhan dokumentasi di luar angkasa. Tentu tetap ada penyesuaian dan pengawasan keamanan, tapi fakta bahwa smartphone biasa bisa lolos pertimbangan lembaga antariksa menjadi bukti kualitasnya.

Namun perlu dipahami, membawa iPhone ke luar angkasa bukan berarti bisa bebas menggunakannya seperti di Bumi. Tidak ada sinyal seluler biasa di sana. Smartphone kemungkinan besar difungsikan sebagai kamera tambahan atau alat pencatat, bukan untuk berselancar di internet. Semua penggunaannya tetap mengikuti aturan ketat demi keselamatan kru dan misi.

Lalu bagaimana “cara konsumsi” atau lebih tepatnya cara penggunaan smartphone di luar angkasa?

Pertama, perangkat harus dipastikan dalam kondisi aman dan tidak mengganggu sistem utama pesawat. Biasanya baterai, jaringan nirkabel, dan fitur tertentu akan dibatasi. Kedua, penggunaannya lebih difokuskan pada dokumentasi visual dan pencatatan pribadi. Ketiga, perangkat akan disimpan dengan prosedur khusus agar tidak melayang bebas di kabin tanpa gravitasi.

Bagi masyarakat umum, kabar ini sebenarnya membawa pesan penting. Teknologi yang kita pakai sehari-hari punya potensi jauh lebih besar dari sekadar hiburan. Smartphone bisa menjadi alat edukasi, dokumentasi, bahkan inspirasi bagi generasi muda untuk tertarik pada sains dan eksplorasi ruang angkasa.

Bayangkan anak-anak sekolah melihat foto Bulan yang diambil langsung dari smartphone astronot. Kedekatan teknologi ini membuat luar angkasa terasa tidak lagi terlalu jauh dan asing. Ada rasa bahwa dunia antariksa bukan hanya milik ilmuwan, tapi juga bagian dari kehidupan modern kita.

Pada akhirnya, keputusan ini bukan sekadar soal iPhone terbang ke Bulan. Ini tentang bagaimana batas antara teknologi sehari-hari dan teknologi luar angkasa semakin tipis. Bagi kita di Bumi, solusi terbaik adalah memanfaatkan teknologi dengan bijak, terus belajar, dan melihat gadget bukan cuma sebagai alat hiburan, tapi sebagai jendela menuju kemungkinan yang lebih luas.

Kalau smartphone saja bisa sampai ke luar angkasa, mungkin sudah waktunya kita juga berani melangkah lebih jauh dalam mimpi dan inovasi.

Senin, 02 Februari 2026

Wow! Ditemukan Planet Mirip Bumi Hanya 150 Tahun Cahaya dari Kita, Bisa Jadi Tempat Hidup Masa Depan?

Wow! Ditemukan Planet Mirip Bumi Hanya 150 Tahun Cahaya dari Kita, Bisa Jadi Tempat Hidup Masa Depan?
Wow! Ditemukan Planet Mirip Bumi Hanya 150 Tahun Cahaya dari Kita, Bisa Jadi Tempat Hidup Masa Depan?

JAKARTA -- Bayangkan, hanya 150 tahun cahaya dari Bumi kita, para astronom menemukan sebuah planet yang disebut HD 137010 b—dan planet ini punya banyak kesamaan dengan Bumi! Penemuan ini tentu bikin penasaran: apakah ini “Bumi kedua” yang bisa kita impikan suatu hari nanti?

Planet HD 137010 b mengorbit bintang yang mirip Matahari, tapi sedikit lebih dingin dan redup. Radiusnya hampir sama dengan Bumi, dan orbitnya juga berbentuk hampir lingkaran sempurna, mirip orbit Bumi kita. 

Satu “tahun” di sana, yaitu waktu planet ini mengelilingi bintangnya, diperkirakan antara 300 hingga 555 hari—cukup mirip dengan panjang tahun di Bumi.

Namun, ada tantangan besar. Karena bintangnya lebih dingin, HD 137010 b hanya menerima sekitar sepertiga cahaya yang Bumi dapatkan dari Matahari. 

Artinya, planet ini kemungkinan sangat dingin. Para ilmuwan memperkirakan ada sekitar 50% kemungkinan planet ini berada di luar zona layak huni

Meski begitu, model komputer menunjukkan jika planet ini punya atmosfer lebih tebal dengan kandungan karbon dioksida tinggi, suhu permukaannya bisa lebih hangat dan memungkinkan kehidupan berkembang.

Yang menarik, planet sebesar Bumi seperti ini bukan hanya soal “mirip Bumi”, tapi juga jadi laboratorium alami bagi para ilmuwan. 

Karena kita hanya punya satu contoh kehidupan—yaitu Bumi—mencari planet dengan karakteristik yang familiar jadi langkah logis untuk memahami kemungkinan kehidupan di alam semesta.

Tantangan berikutnya adalah memastikan keberadaan HD 137010 b. Dengan periode orbit yang panjang, pengamatan tidak mudah. 

Para ilmuwan akan menggunakan teleskop canggih seperti TESS dan CHEOPS, serta misi masa depan Plato dan Ariel, untuk mendapatkan data lebih detail. 

Setiap pengamatan bisa membuka peluang baru untuk memahami kondisi planet ini dan potensinya sebagai kandidat tempat hidup di masa depan.

Meski kemungkinan “Bumi kedua” ini masih kecil, penemuan HD 137010 b mengingatkan kita betapa luasnya alam semesta dan betapa banyak misteri yang belum terpecahkan. 

Bagi pecinta astronomi atau sekadar yang suka membayangkan perjalanan antarplanet, kabar ini tentu memicu imajinasi dan rasa ingin tahu yang luar biasa.

Jadi, meski kita belum bisa berkunjung ke HD 137010 b sekarang, penemuan ini memberi kita satu hal penting: harapan dan inspirasi. 

Masa depan eksplorasi antariksa semakin nyata, dan siapa tahu suatu hari manusia bisa menjelajahi dunia yang mirip Bumi ini. 

Sementara itu, kita bisa terus menatap langit malam, membayangkan planet baru, dan tetap menjaga Bumi yang kita punya karena, sejauh apapun penemuan di luar sana, Bumi tetap rumah satu-satunya yang kita kenal.

Sabtu, 22 November 2025

Asal Usul Planet Misterius Theia Terungkap: Tetangga Bumi yang Hilang dan Pembentuk Bulan

Asal Usul Planet Misterius Theia Terungkap: Tetangga Bumi yang Hilang dan Pembentuk Bulan

JAKARTA - Para ilmuwan akhirnya menemukan jawaban yang lebih jelas tentang asal-usul planet misterius Theia planet yang diyakini pernah bertabrakan dengan Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu dan menjadi awal terbentuknya Bulan. 

Temuan terbaru ini datang dari para peneliti di Institut Fisika Max Planck, yang mempelajari jejak-jejak kimiawi yang tersisa baik di batuan Bumi maupun di batuan Bulan.

Meski planet Theia disebut telah hancur total akibat tabrakan dahsyat tersebut, “jejak tubuhnya” masih tersimpan rapi dalam komposisi batuan yang bisa kita analisis hingga sekarang. 

Para peneliti menjelaskan bahwa komposisi suatu benda langit dapat mengungkap seluruh perjalanan dan asal-usulnya.

Mereka meneliti isotop besi, kromium, molibdenum, dan zirkonium yang ditemukan pada sampel batuan Bulan serta batuan yang ada di Bumi. Hasilnya mengejutkan komposisinya sangat mirip. 

Ini memperkuat dugaan bahwa Bumi dan Theia berasal dari bahan yang sama dan memiliki hubungan yang sangat dekat sejak awal pembentukan tata surya.

Untuk memperdalam analisis, para ilmuwan kemudian menggunakan metode “reverse engineering” guna merekonstruksi kemungkinan komposisi Theia dan Bumi pada masa-masa awal pembentukan mereka.

Hasilnya benar-benar tidak terduga: sebagian besar “bahan bangunan” kedua planet ini ternyata berasal dari wilayah bagian dalam Tata Surya. 

Artinya, Bumi dan Theia kemungkinan besar adalah tetangga sejak awal. Bedanya, Theia diduga berada sedikit lebih dekat ke Matahari dibandingkan posisi Bumi.

Penemuan ini juga menjelaskan mengapa komposisi Bulan sangat mirip dengan Bumi. Karena material yang membentuk Bulan berasal dari campuran sisa tabrakan Theia dan Bumi, wajar jika kedua objek ini memiliki jejak kimia yang hampir sama.

Para ilmuwan memperkirakan ukuran Theia sebanding dengan Mars. Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, planet ini menabrak Bumi secara miring. 

Tabrakan itu membuat inti kedua planet bergabung, sementara sebagian besar mantel silikat terlempar ke luar angkasa. 

Kumpulan puing itulah yang kemudian menyatu dan menjadi Bulan yang kita lihat setiap malam.

Temuan terbaru ini tidak hanya membuka misteri tentang bagaimana Bulan lahir, tetapi juga memberikan gambaran baru tentang sejarah awal Bumi dan tetangganya yang telah hilang—Theia.

Sumber foto: CC0 Public Domain

Jumat, 21 November 2025

Keajaiban Langit: Teleskop James Webb Temukan Sistem Bintang Langka Mirip “Embrio Kosmik”

Keajaiban Langit: Teleskop James Webb Temukan Sistem Bintang Langka Mirip “Embrio Kosmik”

JAKARTA - Teleskop luar angkasa James Webb kembali membuat para ilmuwan terpukau. Kali ini, Webb berhasil menangkap gambar menakjubkan dari sebuah sistem bintang super langka bernama Apep sebuah struktur kosmik yang begitu unik hingga digambarkan mirip embrio raksasa bercahaya yang melayang di tengah kegelapan angkasa.

Pemandangan Aneh dan Indah dari Sistem Tiga Bintang

Apep bukan sistem bintang biasa. Ia dikelilingi oleh struktur debu yang sangat rumit, berbentuk spiral berlapis-lapis seperti pusaran misterius. 

Keindahan ini tercipta dari dua bintang bertipe Wolf–Rayet, yaitu jenis bintang yang terkenal ekstrem: sangat panas, tidak stabil, dan memuntahkan angin bintang berkecepatan tinggi.

Hanya ada sekitar seribu bintang Wolf–Rayet yang diketahui di seluruh Galaksi Bima Sakti

Jadi, menemukan dua bintang langka ini berada dalam satu sistem saja sudah menjadi kejadian luar biasa.

Bagaimana Spiral Apep Terbentuk?

Kedua bintang Wolf–Rayet itu saling mengitari satu sama lain. Ketika jarak mereka semakin dekat, aliran materi yang keluar dari permukaan bintang bertabrakan. 

Tabrakan dahsyat ini menciptakan debu kaya karbon yang kemudian terbentuk menjadi spiral raksasa.

Menariknya, setiap “lingkaran” spiral baru muncul sekitar setiap 25 tahun, lalu perlahan meluas ke luar layaknya gelombang yang menjalar.

Kehadiran Bintang Ketiga yang Lebih Besar

Keunikan Apep tidak berhenti sampai di situ. Sistem ini ternyata memiliki bintang ketiga yang ukurannya lebih masif daripada dua bintang lainnya. 

Bukti keberadaannya terlihat dari area kosong berbentuk corong di bagian dalam spiral debu. 

Struktur itu terbentuk ketika aliran materi dari bintang ketiga ini berinteraksi dengan angin bintang dari pasangan Wolf–Rayet.

Hasilnya adalah bentuk visual yang begitu khas—seolah ada pusaran raksasa yang “mengukir” ruang angkasa.

Akhir Tragis: Tiga Bintang yang Akan Meledak

Meskipun tampak menakjubkan, ketiga bintang ini sedang berada dalam tahap akhir kehidupannya. 

Para ilmuwan memprediksi seluruh anggota sistem Apep pada akhirnya akan meledak sebagai supernova.

  • Dua bintang Wolf–Rayet dapat menghasilkan ledakan gamma yang sangat kuat dan akhirnya berubah menjadi lubang hitam.

  • Sementara bintang ketiga yang lebih masif kemungkinan akan berevolusi menjadi sebuah bintang neutron.

Fenomena ini membuat Apep bukan hanya indah, tetapi juga penting untuk mempelajari evolusi bintang masif.

Jumat, 10 Oktober 2025

Ilmuwan Ungkap Video Menakjubkan Terbang di Atas Ngarai Mars

Pemandangan ngarai Mars Xanthe Terra dari video Mars Express yang dirilis Badan Antariksa Eropa.
Ilustrasi Pemandangan ngarai Mars Xanthe Terra dari video Mars Express yang dirilis Badan Antariksa Eropa.

JAKARTA - Para ilmuwan dari Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja merilis video luar biasa yang menampilkan pemandangan terbang di atas salah satu wilayah paling menarik di Planet Mars, yaitu daerah bernama Xanthe Terra. Video tersebut merupakan hasil animasi yang dibuat menggunakan data dari kamera stereo beresolusi tinggi milik wahana antariksa Mars Express.

Dalam tayangan itu, penonton bisa melihat keindahan lanskap Mars dengan detail yang menakjubkan. Terlihat saluran-saluran panjang yang terbentuk oleh aliran air purba, pulau-pulau kecil yang masih bertahan dari proses erosi, hingga kawasan yang tampak seperti labirin penuh perbukitan. Semua itu memberikan gambaran jelas tentang bagaimana permukaan Mars terbentuk miliaran tahun lalu.

Salah satu bagian paling menarik yang ditampilkan adalah lembah panjang bernama Shalbatana Vallis yang memiliki panjang sekitar 1.300 kilometer. Lembah ini mengalir dari dataran tinggi Xanthe Terra menuju dataran rendah Chryse Planitia yang lebih halus. Menurut para ilmuwan, miliaran tahun yang lalu air pernah mengalir deras melalui saluran ini dan membentuk relief yang masih bisa kita lihat hingga sekarang.

Video tersebut diakhiri dengan pemandangan spektakuler berupa kawah besar berdiameter sekitar 100 kilometer. Kawah ini terbentuk akibat tumbukan benda langit yang menghantam permukaan Mars di masa lampau.

Jika diperhatikan lebih teliti, penonton juga dapat melihat fenomena menarik yang disebut “dichotomy Mars”, yaitu perbedaan mencolok antara wilayah selatan yang penuh kawah dan dataran tinggi dengan wilayah utara yang lebih halus dan datar. Para ilmuwan hingga kini masih meneliti penyebab pasti dari perbedaan besar ini, meski sudah ada beberapa dugaan yang kuat.

Wilayah Xanthe Terra sendiri mendapatkan namanya dari International Astronomical Union (IAU) pada tahun 1979. Nama tersebut berarti “tanah berwarna keemasan”. Sementara nama “Shalbatana” berasal dari bahasa Akkadia kuno yang berarti “Mars”.

Misi Mars Express telah mengorbit planet merah sejak tahun 2003. Awalnya, misi ini hanya direncanakan berlangsung selama dua tahun, tetapi hingga kini, lebih dari 20 tahun kemudian, wahana tersebut masih aktif dan terus mengirimkan data berharga ke Bumi. Kamera beresolusi tinggi di dalamnya terus digunakan untuk mempelajari geologi Mars dan membantu pencarian tanda-tanda kehidupan purba di planet tersebut.

Penemuan ini tidak hanya memperlihatkan betapa menakjubkannya lanskap Mars, tetapi juga membantu manusia memahami sejarah air dan evolusi geologis di planet tetangga kita ini. Melalui misi seperti Mars Express, harapan untuk menemukan jejak kehidupan masa lalu di Mars menjadi semakin terbuka.

Rabu, 08 Oktober 2025

Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer

Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer
Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer.

JAKARTA - Sebuah momen luar biasa terjadi di luar angkasa ketika wahana antariksa China, Tianwen-2, berhasil mengambil foto selfie dengan latar belakang Bumi yang tampak jelas dari jarak sekitar 43 juta kilometer. Foto ini diambil saat Tianwen-2 sedang dalam perjalanan menuju asteroid Kamooalewa, menggunakan kamera yang dipasang di lengan robotiknya.

Dalam gambar tersebut, Bumi terlihat sebagai titik biru bercahaya dengan formasi awan yang masih dapat dikenali, meskipun jaraknya sudah lebih dari seperempat jarak antara Bumi dan Matahari. Untuk perbandingan, jarak Bumi ke Matahari adalah sekitar 150 juta kilometer, artinya Tianwen-2 berada di posisi sekitar sepertiga jarak itu. Foto ini sekaligus menandai tahap penting dalam perjalanan panjang misi luar angkasa China yang semakin ambisius.

Menurut laporan dari media China, Tianwen-2 kini sudah mencapai setengah perjalanan menuju asteroid Kamooalewa, salah satu dari hanya tujuh kvasisatellite atau “kvasisatellite” Bumi yang dikenal para ilmuwan. Sebelum melanjutkan ke tahap utama, wahana ini telah berhasil melewati serangkaian uji orbit dan pemeriksaan sistem elektroniknya. Selain itu, perangkat untuk pengambilan sampel juga telah berhasil diuji dan dikonfirmasi siap digunakan.

Misi Tianwen-2 dijadwalkan tiba di asteroid Kamooalewa pada Juli 2026. Setelah tiba, wahana ini akan melakukan pemetaan detail permukaan asteroid serta mengumpulkan sampel batuan dan debu. Jika semua berjalan sesuai rencana, material yang dikumpulkan akan dikirim kembali ke Bumi melalui kapsul khusus pada tahun 2027. Menariknya, misi ini tidak berhenti di sana. Setelah menyelesaikan tahap pertama, Tianwen-2 akan melanjutkan perjalanan menuju objek misterius lain bernama 311P/PANSTARRS, yang ditemukan pada 2013 dan dikenal karena memiliki enam ekor seperti komet. Target kedua ini diharapkan dapat dicapai pada Januari 2035, menjadikannya salah satu misi eksplorasi terpanjang dalam sejarah China.

Langkah ini memperlihatkan keseriusan China dalam memperkuat posisinya di kancah eksplorasi ruang angkasa global. Negeri tersebut terus memperluas cakupan misinya secara mandiri, tanpa bergantung pada kerja sama dengan badan luar angkasa lain seperti NASA atau ESA. Sebelumnya, China telah sukses mengirimkan dan mengembalikan sampel tanah Bulan melalui misi Chang’e-5 dan Chang’e-6. Selain itu, pada 2021, misi Tianwen-1 berhasil menempatkan wahana orbit, pendarat, dan rover di permukaan Mars, menjadikan China negara kedua setelah Amerika Serikat yang mampu melakukan operasi kompleks tersebut.

Keberhasilan selfie Tianwen-2 di ruang angkasa bukan sekadar pencapaian visual, tetapi juga simbol kemampuan teknologi canggih China dalam navigasi, komunikasi jarak jauh, dan operasi robotik antariksa. Dengan serangkaian misi yang terus berlanjut, para ahli menilai bahwa China kini berada di jalur cepat untuk menjadi kekuatan besar di bidang eksplorasi tata surya.

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi
Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi.

JAKARTA - Sampel tanah Bulan yang dikumpulkan lebih dari 50 tahun lalu ternyata menyimpan kejutan besar bagi para ilmuwan. Tim peneliti yang dipimpin oleh James Dottin, dosen Ilmu Bumi, Lingkungan, dan Planet di Universitas Brown, menemukan adanya anomali isotop sulfur yang tak biasa dalam material vulkanik dari wilayah Taurus-Littrow. Sampel tersebut dikumpulkan selama misi Apollo 17 pada tahun 1972 oleh dua astronot NASA, Eugene Cernan dan Harrison Schmitt, lalu disimpan rapat dalam tabung logam berisi helium untuk penelitian masa depan.

Penelitian ini merupakan bagian dari program Apollo Next Generation Sample Analysis (ANGSA), yang membuka kembali sampel berusia puluhan tahun untuk dianalisis dengan teknologi modern. Dottin menggunakan spektrometri massa ion sekunder, metode analisis isotop berpresisi tinggi yang belum tersedia pada era 1970-an. Hasilnya mengejutkan: kandungan sulfur dalam batuan vulkanik tersebut menunjukkan kadar isotop sulfur-33 (³³S) yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan sulfur di Bumi. Perbedaan ini dianggap sangat tidak biasa dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

“Saya benar-benar tidak percaya ketika pertama kali melihat hasilnya,” kata Dottin. “Kami memeriksa ulang semuanya, dan ternyata memang benar. Nilai isotop sulfur ini sangat berbeda dari apa pun yang pernah kami lihat di Bumi.” Sebelumnya, para ilmuwan mengira bahwa mantel Bulan memiliki komposisi isotop sulfur yang sama seperti Bumi, tetapi hasil ini menunjukkan kemungkinan lain yang jauh lebih kompleks.

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi
Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi.

Menurut Dottin dan timnya, ada dua kemungkinan penyebab perbedaan mencolok ini. Teori pertama menyebutkan bahwa perbandingan isotop tersebut mungkin terbentuk akibat proses kimia di atmosfer awal Bulan miliaran tahun lalu. Pada masa itu, Bulan mungkin sempat memiliki atmosfer tipis yang memungkinkan interaksi antara sulfur dan sinar ultraviolet, menghasilkan rasio isotop yang berbeda. Jika teori ini benar, maka penemuan ini bisa menjadi bukti adanya pertukaran material antara permukaan dan mantel Bulan pada masa lalu, mirip seperti proses tektonik di Bumi, meski Bulan tidak memiliki lempeng tektonik.

Teori kedua mengaitkan temuan ini dengan asal usul Bulan itu sendiri. Berdasarkan hipotesis populer, Bulan terbentuk setelah sebuah benda langit sebesar Mars bernama Theia menabrak Bumi pada tahap awal pembentukannya. Fragmen dari tabrakan besar tersebut kemudian bersatu membentuk Bulan. Dottin berpendapat bahwa Theia mungkin memiliki komposisi isotop sulfur yang berbeda dari Bumi, dan perbedaan itu tertinggal di mantel Bulan hingga kini.

Hingga saat ini, para peneliti belum bisa memastikan teori mana yang paling akurat. Dottin berharap, studi lanjutan terhadap isotop sulfur dari planet lain seperti Mars dapat membantu menjawab misteri ini. Menurutnya, memahami distribusi isotop sulfur di berbagai benda langit akan membuka wawasan baru tentang bagaimana tata surya terbentuk dan berevolusi sejak miliaran tahun lalu.

Air di Awan Venus Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan Ilmuwan

Air di Awan Venus Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan Ilmuwan
Air di Awan Venus Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan Ilmuwan.

JAKARTA - Sekelompok peneliti Amerika Serikat menemukan bahwa awan di planet Venus ternyata mengandung lebih banyak air daripada yang selama ini dipercaya.

Temuan ini dihasilkan dari analisis ulang data misi Pioneer-Venus yang diluncurkan NASA pada akhir 1970-an.

Berdasarkan hasil penelitian tim gabungan dari California State Polytechnic University di Pomona, University of Wisconsin, University of Arizona, dan NASA, sekitar 60 persen partikel di awan Venus ternyata terdiri dari senyawa air.

Namun, air tersebut tidak berbentuk cair seperti di Bumi, melainkan terikat dalam bentuk hidrat mineral seperti sulfat besi dan magnesium.

Penelitian ini dipimpin oleh Rakesh Mogul dari Cal Poly Pomona, yang terinspirasi dari percakapannya dengan Sanjay Limaye, pakar planet Venus dari University of Wisconsin.

Keduanya memutuskan untuk meninjau ulang data lama dari instrumen Pioneer-Venus Large Probe yang telah tersimpan selama puluhan tahun di arsip NASA dalam bentuk mikrofilm.

Data tersebut kemudian berhasil ditemukan, dipindai, dan dianalisis kembali menggunakan teknologi modern.

Menurut laporan mereka, instrumen seperti neutral mass spectrometer (LNMS) dan gas chromatograph (LGC) ternyata merekam lebih banyak informasi daripada yang semula disadari para ilmuwan pada masa itu.

Selama penurunan wahana ke atmosfer Venus, lubang sensor sempat tersumbat oleh partikel aerosol dari awan.

Awalnya ini dianggap sebagai gangguan teknis, namun para peneliti justru melihatnya sebagai peluang.

Saat partikel-partikel itu meleleh di suhu tinggi, alat mendeteksi pelepasan gas yang menunjukkan adanya air pada suhu 185°C dan 414°C.

Hal ini mengindikasikan keberadaan hidrat sulfat besi dan magnesium.

Selain itu, sinyal kuat dari asam sulfat terdeteksi di suhu sekitar 215°C, sesuai dengan suhu dekomposisinya.

Menariknya, muncul juga lonjakan sulfur dioksida pada suhu 397°C dan jejak unsur besi yang kemungkinan berasal dari debu kosmik yang bercampur di atmosfer Venus.

Temuan ini mengguncang pandangan ilmiah lama yang menyebut bahwa awan Venus hanya terdiri dari asam sulfat pekat.

Faktanya, kandungan asam tersebut kini diketahui hanya sekitar 22 persen dari total partikel awan.

Sisanya didominasi oleh senyawa yang kaya air.

Bagi para ahli astrobiologi, ini merupakan kabar besar karena membuka kemungkinan bahwa kehidupan mikroba bisa bertahan di lapisan awan Venus yang sebelumnya dianggap terlalu kering.

Meski kondisi tetap ekstrem dengan suhu tinggi dan keasaman tinggi, adanya air dalam jumlah signifikan memberi harapan baru bagi studi tentang potensi kehidupan di planet tetangga Bumi tersebut.

Penelitian ini juga menjelaskan mengapa hasil pengamatan jarak jauh menggunakan spektroskopi seringkali tidak menunjukkan tanda-tanda air.

Metode itu hanya bisa mendeteksi uap air bebas, bukan air yang terikat dalam senyawa kimia seperti hidrat.

Langkah selanjutnya, para ilmuwan berencana menggunakan data dari misi terbaru, termasuk VERITAS dan DAVINCI+ yang dijadwalkan NASA, untuk memverifikasi hasil ini.

Jika terbukti benar, penemuan ini dapat mengubah cara kita memahami atmosfer Venus sekaligus memperluas definisi tentang di mana kehidupan bisa bertahan di luar Bumi.

Minggu, 07 September 2025

Mineral Misterius Ditemukan di Asteroid Ryugu Bikin Ilmuwan Terkejut

JAKARTA - Sebuah penemuan mengejutkan diumumkan oleh tim ilmuwan Amerika Serikat yang meneliti sampel asteroid Ryugu. Dalam penelitian yang dilakukan di Brookhaven National Laboratory, Selasa (2/9/2025), para peneliti menemukan mineral aneh yang tidak pernah ditemukan di Bumi. Mineral tersebut berasal dari sampel langka seberat 9,3 miligram yang dikirim ke Bumi oleh wahana Jepang Hayabusa-2. Temuan ini dianggap penting karena mineral tersebut ternyata lebih tua dari batuan mana pun di planet kita.

Para peneliti menggunakan metode pencitraan sinar-X untuk meneliti partikel kecil dari asteroid tersebut. Hasil analisis mengungkap keberadaan berbagai unsur seperti selen, mangan, besi, sulfur, silikon, kalsium, hingga fosfor. Menariknya, fosfor ditemukan dalam dua bentuk berbeda: satu dalam bentuk umum yang juga terdapat pada tulang dan gigi manusia, dan satu lagi dalam bentuk senyawa fosfida langka yang belum pernah dijumpai di Bumi. Dari situlah kemudian ilmuwan berhasil mengidentifikasi mineral baru bernama HAMP (Hydrated Ammonium Magnesium Phosphate).

Mineral Misterius Ditemukan di Asteroid Ryugu Bikin Ilmuwan Terkejut
Mineral Misterius Ditemukan di Asteroid Ryugu Bikin Ilmuwan Terkejut.

Mineral HAMP disebut mirip dengan struvite, mineral yang bisa terbentuk di tubuh manusia dalam bentuk batu ginjal. Namun, keberadaannya di asteroid Ryugu justru menambah keyakinan ilmuwan bahwa materi luar angkasa bisa saja memainkan peran besar dalam munculnya kehidupan di Bumi miliaran tahun lalu. “Setiap butir dari Ryugu adalah kapsul waktu. Ini adalah bahan paling tua yang bisa membantu kita memahami awal mula tata surya,” ujar astrobiolog Matthew Pasek.

Paul Northrup, seorang ahli geologi yang terlibat dalam riset ini, juga menegaskan pentingnya melindungi sampel tersebut. “Dari seluruh misi Hayabusa-2, hanya ada 5,4 gram bahan yang tersedia untuk dianalisis. Itu membuat setiap butir sangat berharga, mengingat ratusan peneliti berebut akses untuk menelitinya,” jelas Northrup. Karena itu, tim ilmuwan menggunakan teknik non-destruktif agar sampel tetap utuh untuk penelitian di masa depan.

Penemuan mineral misterius di asteroid Ryugu bukan hanya memberi gambaran lebih jelas soal proses kimia yang terjadi di awal tata surya, tetapi juga membuka kemungkinan baru tentang asal-usul kehidupan. Jika benar mineral seperti HAMP ikut berperan dalam membentuk lingkungan awal Bumi, maka penelitian ini bisa menjadi titik penting dalam astrobiologi modern. Ke depan, hasil riset ini diprediksi akan semakin memperkuat alasan bagi misi luar angkasa lain yang bertujuan membawa pulang sampel asteroid atau planet kecil untuk diteliti.

Kamis, 04 September 2025

Es Krim Raksasa Dunia A23a Pecah, Kehilangan Sepertiga Luasnya

JAKARTA - Raksasa es terbesar di dunia, gunung es A23a, dilaporkan pecah menjadi beberapa bagian dan kehilangan sekitar sepertiga dari luasnya selama tiga bulan musim dingin di Antarktika. Menurut data dari Arkticheskiy i Antarkticheskiy Nauchno-Issledovatelskiy Institut (AANII), luas A23a yang pada Juni 2025 masih mencapai 2.730 kilometer persegi—setara dengan wilayah Moskow—kini menyusut menjadi hanya 1.750 kilometer persegi, atau kurang lebih sebesar kota Saint Petersburg.

Dari hasil pengamatan, A23a terbelah menjadi tiga bongkahan besar sekaligus. Potongan es yang terlepas berukuran antara 60 hingga 300 kilometer persegi. Para ilmuwan menyebut proses pecahnya gunung es ini dipengaruhi oleh kuatnya arus laut di kawasan Antarktika. Arus tersebut bukan hanya memicu retakan, tetapi juga mengubah jalur pergerakan gunung es raksasa itu.

Foto udara gunung es A23a di Antarktika yang pecah menjadi beberapa bagian setelah kehilangan sepertiga luasnya
Foto udara gunung es A23a di Antarktika yang pecah menjadi beberapa bagian setelah kehilangan sepertiga luasnya.

Kini, A23a terpantau berada sekitar 70 kilometer di utara Pulau Georgia Selatan. Dalam kurun waktu musim dingin saja, es raksasa ini telah menempuh perjalanan sejauh 930 kilometer. Setelah sempat mengitari pulau, A23a terus melanjutkan perjalanannya mengikuti arus laut di sekitar kawasan tersebut.

Menurut catatan sejarah, A23a terbentuk pada tahun 1986 setelah terlepas dari Gletser Filchner dengan luas awal 4.170 kilometer persegi. Selama lebih dari 30 tahun, gunung es ini terjebak di dasar laut dangkal di Laut Weddell, hingga akhirnya kembali bergerak pada 2023. Bahkan, pada Januari 2025, A23a sempat kembali kandas di kedalaman dangkal sekitar 80 kilometer dari Pulau Georgia Selatan dan baru bisa bergerak lagi pada Mei tahun yang sama.

Para peneliti menilai, pecahnya A23a menjadi momen penting dalam studi perubahan iklim dan dinamika arus laut. Jika bongkahan es ini terus menyusut dan hancur, ada potensi perubahan ekosistem di lautan sekitar, khususnya bagi hewan laut yang bergantung pada stabilitas lingkungan Antarktika. A23a juga berpotensi menjadi jalur navigasi baru bagi kapal riset maupun jalur alami bagi hewan laut, tergantung ke arah mana arus membawa pecahan-pecahannya.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Kunci Asal-usul Bumi: Teleskop James Webb Tunjukkan Foto Spektakuler Taman Langit Tumanah Bidadari

Foto Nebula Kupu-Kupu NGC 6302 dari teleskop James Webb menampilkan sayap bercahaya gas panas yang membentang di angkasa
Foto Nebula Kupu-Kupu NGC 6302 dari teleskop James Webb menampilkan sayap bercahaya gas panas yang membentang di angkasa.

JAKARTA - Teleskop antariksa James Webb (JWST) kembali mencetak sejarah. Kali ini, teleskop paling canggih milik NASA itu berhasil mengabadikan pemandangan luar biasa dari Taman Langit Tumanah Bidadari atau dikenal sebagai Nebula Kupu-Kupu (NGC 6302). Objek kosmik ini berada di rasi bintang Scorpius, sekitar 3.400 tahun cahaya dari Bumi. Foto terbaru yang dirilis ilmuwan pada akhir Agustus 2025 ini menjadi kunci penting dalam memahami proses kematian bintang dan asal mula material pembentuk planet, termasuk Bumi.

Berbeda dengan hasil tangkapan teleskop Hubble sebelumnya, James Webb mampu menyingkap detail lebih dalam dari nebula ini. Untuk pertama kalinya, para astronom bisa melihat jelas bintang kerdil putih super panas yang berada di pusatnya. Bintang tersebut adalah sisa dari bintang mirip Matahari yang tengah berada di fase akhir kehidupannya. Saat sekarat, bintang itu melepaskan lapisan luarnya ke angkasa, membentuk dua sayap gas panas yang menyerupai kupu-kupu bercahaya. Tak hanya itu, James Webb juga menangkap piringan debu berbentuk donat yang mengelilingi inti nebula, serta semburan energi ganda yang melesat ke ruang antarbintang.

“Ini adalah lompatan besar dalam memahami bagaimana material dasar planet seperti Bumi terbentuk dan tersebar di galaksi,” ujar astrofisikawan Mikako Matsuura dari Cardiff University, Inggris, yang memimpin penelitian tersebut. Menurutnya, data dari Webb memperlihatkan betapa kompleksnya “alkimia kosmik” yang terjadi ketika bintang memasuki masa kematiannya. Hasil pengamatan ini diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Studi tersebut juga membeberkan kandungan kimiawi di dalam Nebula Kupu-Kupu. Di sana, ilmuwan menemukan molekul kuarsa, besi, nikel, hingga karbon dalam bentuk senyawa organik yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Menariknya, senyawa organik inilah yang diyakini bisa menjadi bahan awal pembentukan planet berbatu seperti Bumi. “Apa yang kita lihat di nebula ini mungkin adalah bahan mentah dari dunia baru yang suatu hari bisa menyerupai planet kita,” kata Matsuura.

Temuan ini dianggap sangat penting karena bisa membantu menjawab misteri lama: bagaimana elemen-elemen pembentuk kehidupan sampai ke Bumi miliaran tahun lalu. Dengan teknologi Webb, para astronom kini bisa menelusuri lebih jauh bagaimana bintang yang sekarat menyumbangkan “debu kehidupan” ke ruang kosmik. Penelitian lanjutan diperkirakan akan fokus pada pemetaan distribusi senyawa organik di nebula, yang berpotensi membuka wawasan baru soal kemungkinan adanya planet serupa Bumi di sistem bintang lain.

Sabtu, 23 Agustus 2025

NASA Ungkap Foto Bumi dan Bulan dari Jarak 290 Juta Kilometer di Angkasa

Foto Bumi dan Bulan dari jarak 290 juta kilometer yang diabadikan wahana antariksa NASA Psyche
Foto Bumi dan Bulan dari jarak 290 juta kilometer yang diabadikan wahana antariksa NASA Psyche.

JAKARTA - NASA kembali memamerkan pemandangan langka dari luar angkasa. Pesawat antariksa Psyche yang diluncurkan pada Oktober 2023 berhasil menangkap gambar Bumi dan Bulan dari jarak sekitar 290 juta kilometer. Foto tersebut diambil pada Juli 2025 saat tim misi melakukan uji coba kamera pesawat sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju asteroid kaya logam bernama (16) Psyche yang berada di antara orbit Mars dan Jupiter.

Dalam gambar yang dibagikan NASA, Bumi tampak sebagai titik kecil berkilau di hamparan gelap kosmos, sementara Bulan terlihat samar sedikit di atasnya. Pemandangan ini mengingatkan publik pada foto legendaris “Pale Blue Dot” yang diabadikan oleh Voyager 1 pada 1990 dari jarak 6 miliar kilometer. Meski jaraknya jauh lebih dekat dibanding momen ikonik tiga dekade lalu, foto terbaru ini tetap menyuguhkan rasa takjub sekaligus kesadaran akan betapa rapuhnya Bumi di tengah luasnya semesta.

Menurut penjelasan tim misi, uji coba kamera ini dilakukan untuk memastikan instrumen mampu merekam objek yang memantulkan cahaya matahari dengan jelas. “Pengujian ini sangat penting sebelum Psyche sampai ke tujuan utamanya. Jika kamera berhasil menangkap Bumi dan Bulan yang relatif kecil dari jarak ratusan juta kilometer, artinya sistem sudah siap merekam asteroid dengan detail yang dibutuhkan,” kata salah satu insinyur misi NASA dalam keterangan resminya.

Asteroid Psyche sendiri punya diameter sekitar 280 kilometer dan diyakini sebagai inti logam telanjang dari sebuah protoplanet purba. Objek ini berputar di bagian luar sabuk asteroid utama, dan menjadi target menarik bagi ilmuwan karena bisa memberikan petunjuk bagaimana inti logam planet terbentuk. Untuk mencapainya, wahana antariksa harus menempuh perjalanan total sekitar 3,54 miliar kilometer. Jika semua berjalan sesuai rencana, Psyche diperkirakan tiba di orbit asteroid tersebut pada Juli 2029.

Foto Bumi dan Bulan yang dibagikan NASA ini bukan sekadar hasil uji coba teknis, melainkan juga pengingat visual tentang posisi manusia di alam semesta. Para peneliti menilai setiap misi jarak jauh seperti ini memberi peluang baru untuk menguji teknologi sekaligus membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga planet tempat kita tinggal. Sementara itu, para ilmuwan tengah bersiap menganalisis data lebih lanjut dari kamera Psyche yang mampu merekam cahaya tampak maupun inframerah teknologi yang nantinya akan membuka lebih banyak rahasia tentang komposisi logam asteroid tujuan mereka.

Jumat, 22 Agustus 2025

NASA Ungkap Ceres Pernah Miliki Kondisi untuk Kehidupan Mikroba

Ilustrasi planet kerdil Ceres di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter menurut data NASA
Ilustrasi planet kerdil Ceres di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter menurut data NASA.

JAKARTA - NASA mengungkap fakta mengejutkan soal Ceres, planet kerdil terbesar di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Berdasarkan analisis terbaru, sekitar 2,5 miliar tahun lalu Ceres diduga memiliki sumber energi kimia yang stabil komponen penting yang bisa mendukung keberlangsungan kehidupan mikroba. Temuan ini diumumkan setelah analisis lanjutan data dari misi Dawn yang berakhir pada 2018 lalu.

Ceres memang lama jadi perhatian ilmuwan. Saat misi Dawn mengorbitinya, para peneliti menemukan bintik terang di permukaannya yang ternyata merupakan sisa garam dari cairan yang pernah naik ke atas dari bawah tanah. Pada 2020, data menunjukkan keberadaan reservoir air asin di bawah permukaan Ceres. Lebih jauh lagi, molekul organik yang dikenal sebagai “bahan dasar kehidupan” juga pernah ditemukan di sana. Dengan tambahan bukti terbaru berupa energi kimia jangka panjang, ilmuwan menilai Ceres sempat punya “ekosistem” internal yang menyerupai proses hidrotermal di Bumi.

Dalam laporan resminya, NASA menjelaskan bahwa panas internal Ceres di masa lalu dihasilkan oleh peluruhan radioaktif dalam inti bebatuan. Panas ini mendorong air bercampur gas dari kedalaman menuju lautan bawah permukaan. “Fenomena ini mirip dengan aktivitas hidrotermal di Bumi, yang kita tahu dapat menjadi tempat subur bagi mikroba,” ungkap salah satu peneliti NASA dalam keterangan resminya. Sayangnya, kondisi itu tidak bertahan lama. Saat ini, Ceres sudah terlalu dingin dan kehilangan sebagian besar airnya, menyisakan cairan pekat berupa larutan asin.

Meski begitu, penemuan ini punya arti lebih luas bagi ilmu pengetahuan. Ceres menunjukkan bahwa objek kecil di Tata Surya dengan diameter hanya sekitar 940 kilometer bisa saja mengalami fase “kehidupan” yang lebih dinamis dibanding dugaan awal. Hal ini memberi gambaran bahwa dunia es lain, seperti beberapa bulan Jupiter atau Saturnus, mungkin juga menyimpan cerita serupa. NASA menegaskan bahwa pemahaman tentang Ceres akan membantu dalam pencarian tanda-tanda kehidupan di luar Bumi. Saat ini, wahana Dawn tetap berada di orbit tak terkendali mengelilingi Ceres dan akan terus begitu hingga setidaknya pertengahan abad ke-21.

Rabu, 20 Agustus 2025

Mars Rover NASA Temukan Helm Perang di Planet Merah, Ilmuwan Curiga Ada Jejak Air Bawah Tanah

JAKARTA - NASA mengumumkan penemuan unik di Mars setelah rover Perseverance memotret batu berbentuk mirip helm perang pada 5 Agustus 2025 lalu. 

Batu yang diberi nama Horneflya ini terlihat jelas lewat kamera Mastcam-Z, lengkap dengan puncak tajam dan tekstur bulat menyerupai lapisan baju zirah kuno. 

Para ilmuwan menduga bentuknya bisa menjadi petunjuk penting tentang adanya aktivitas air di bawah permukaan Mars.

Mars Rover NASA Temukan ‘Helm Perang’ di Planet Merah, Ilmuwan Curiga Ada Jejak Air Bawah Tanah
Mars Rover NASA Temukan ‘Helm Perang’ di Planet Merah, Ilmuwan Curiga Ada Jejak Air Bawah Tanah.

Menurut tim ilmuwan, hampir seluruh permukaan Horneflya dipenuhi butiran bulat kecil yang disebut sferula. Struktur inilah yang langsung menarik perhatian. 

“Bukan bentuknya yang membuat batu ini luar biasa, tapi komposisinya,” ujar David Egla, perwakilan tim Perseverance

Ia menjelaskan, di Bumi, formasi serupa kerap muncul akibat proses kimia dari air tanah yang menembus celah batuan sedimen, atau bisa juga dari aktivitas vulkanik.

Kamera Mastcam-Z yang dibawa Perseverance memang dirancang untuk merekam detail permukaan Mars dengan resolusi tinggi, termasuk dalam format stereo. 

Dari kamera inilah publik sebelumnya sudah dibuat heboh dengan foto-foto batu berbentuk “donat” hingga “avokad”. 

Fenomena ini disebut pareidolia, yakni kecenderungan otak manusia mengenali pola atau bentuk familiar dalam objek acak. Meski demikian, para peneliti tetap menekankan bahwa di balik “wajah” lucu bebatuan itu tersimpan data geologi penting.

Ke depan, NASA berencana mengumpulkan lebih banyak sampel untuk memastikan asal-usul formasi Horneflya. 

Jika benar sferula terbentuk akibat air bawah tanah, maka temuan ini bisa menambah bukti bahwa Mars pernah atau mungkin masih menyimpan cadangan air di bawah permukaan. 

Penemuan ini sangat penting untuk memahami sejarah iklim Mars, sekaligus membuka peluang penelitian tentang kemungkinan adanya kehidupan mikroba di masa lalu.

Minggu, 10 Agustus 2025

Teleskop James Webb Temukan Lalu Kehilangan Eksoplanet Raksasa Dekat Alpha Centauri yang Diduga Punya Air

Ilustrasi eksoplanet raksasa di dekat bintang Alpha Centauri A yang diamati teleskop James Webb.
Ilustrasi eksoplanet raksasa di dekat bintang Alpha Centauri A yang diamati teleskop James Webb.

JAKARTA - Sebuah temuan mengejutkan datang dari tim astronom internasional. Pada 2024, teleskop luar angkasa James Webb mendeteksi sebuah eksoplanet raksasa berukuran mirip Saturnus di dekat Alpha Centauri A, salah satu bintang terdekat dari Bumi. 

Namun, pada 2025 ini, upaya pencarian ulang planet tersebut gagal total. 

Para ilmuwan menduga, planet itu sementara “menghilang” karena tertelan silau cahaya bintangnya, sehingga tak terlihat oleh instrumen Webb.

Menurut perhitungan peneliti, objek ini kemungkinan akan muncul kembali pada 2026 atau 2027. 

Jika keberadaannya terkonfirmasi, eksoplanet ini akan menjadi dunia terdekat yang berada di zona laik huni—wilayah di sekitar bintang yang suhunya memungkinkan air tetap cair. 

Meski begitu, ukurannya yang sangat besar membuat peluang adanya kehidupan mirip Bumi terbilang kecil. 

“Sinyalnya sangat tipis, nyaris di batas kemampuan teleskop. Jadi semua kesimpulan masih butuh verifikasi,” ujar salah satu ilmuwan yang terlibat dalam riset ini.

Ilustrasi eksoplanet raksasa di dekat bintang Alpha Centauri A yang diamati teleskop James Webb.
Ilustrasi eksoplanet raksasa di dekat bintang Alpha Centauri A yang diamati teleskop James Webb.

Alpha Centauri sendiri merupakan sistem tiga bintang yang terdiri dari Alpha Centauri A, Alpha Centauri B, dan Proxima Centauri yang berjenis katai merah. 

Letaknya hanya sekitar empat tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya target emas bagi pencarian planet-planet luar tata surya. 

Untuk mengamati objek misterius ini, tim memanfaatkan instrumen inframerah James Webb yang dilengkapi koronograf perangkat yang memblokir cahaya bintang demi menangkap objek yang lebih redup di sekitarnya.

Rencananya, pada 2027 pencarian ini akan mendapat dukungan dari teleskop luar angkasa baru bernama Nancy Grace Roman. 

Teleskop ini diklaim mampu memindai area langit 100 kali lebih luas dibanding Hubble dengan resolusi setara, plus memiliki koronograf eksperimental untuk mengamati eksoplanet secara langsung. 

Jika dua teleskop raksasa ini bekerja sama, peluang membuktikan keberadaan planet raksasa tersebut akan jauh lebih besar, sekaligus membuka babak baru dalam pencarian dunia asing yang berpotensi dihuni.

Langit Hari ini 10 Agustus Dihiasi Parade Enam Planet, Begini Cara Melihatnya

Parade enam planet di langit pagi bersama Venus, Jupiter, dan Bulan saat fenomena langka Agustus 2025
Parade enam planet di langit pagi bersama Venus, Jupiter, dan Bulan saat fenomena langka Agustus 2025.

JAKARTA - Mulai hari ini, Minggu (10/8/2025), hingga 23 Agustus mendatang, warga di berbagai wilayah Rusia bisa menikmati fenomena astronomi langka berupa parade enam planet di langit pagi. 

Keenam planet tersebut adalah Merkurius, Venus, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. 

Empat di antaranya Merkurius, Venus, Jupiter, dan Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang menjelang subuh, sedangkan Uranus dan Neptunus memerlukan bantuan teleskop atau binokular. 

Fenomena ini paling optimal diamati sekitar satu jam sebelum matahari terbit.

Menurut penjelasan Observatorium Astronomi Moskow, parade planet ini meski tidak membentuk garis lurus sempurna, tetap menyuguhkan pemandangan spektakuler. 

“Fenomena seperti ini jarang terjadi. Bahkan jika susunannya tidak lurus sempurna, keindahan visualnya tetap luar biasa, apalagi diiringi suasana fajar,” ujar salah satu peneliti observatorium tersebut. 

Di Moskow, matahari terbit pukul 04.52 waktu setempat, sehingga waktu terbaik mengamati adalah sekitar pukul 03.45–04.30.

Parade enam planet di langit pagi bersama Venus, Jupiter, dan Bulan saat fenomena langka Agustus 2025
Parade enam planet di langit pagi bersama Venus, Jupiter, dan Bulan saat fenomena langka Agustus 2025.

Sorotan utama dari parade ini adalah momen kedekatan Venus dan Jupiter, dua benda langit paling terang setelah Matahari dan Bulan. 

Pada 11–12 Agustus, keduanya akan berada hanya satu derajat terpisah, lebih dekat dibandingkan dua purnama penuh yang terlihat berdampingan. 

Lalu pada 19–20 Agustus, sabit tipis Bulan akan ikut bergabung membentuk formasi segitiga yang sangat fotogenik. 

Menariknya, parade ini juga bertepatan dengan puncak hujan meteor Perseid, memberi bonus “taburan bintang jatuh” di langit malam.

Fenomena ini memang tidak berdampak langsung terhadap Bumi, tetapi menjadi momen berharga bagi pecinta astronomi dan fotografer langit. 

Sejumlah observatorium di berbagai kota diperkirakan akan mengadakan sesi pengamatan publik. 

Bagi yang ingin menyaksikannya, pilih lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. 

Dengan peralatan sederhana dan cuaca mendukung, Anda bisa melihat enam planet sekaligus dalam satu pandangan momen yang mungkin baru terjadi lagi bertahun-tahun ke depan.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Perseverance Tunjukkan Panorama Mars Paling Jernih Sepanjang Misi

Panorama resolusi tinggi Mars dari rover Perseverance, menampilkan bekas pengeboran, bukit sejauh 65 km, dan batu besar di atas pasir berbentuk sabit.
Panorama resolusi tinggi Mars dari rover Perseverance, menampilkan bekas pengeboran, bukit sejauh 65 km, dan batu besar di atas pasir berbentuk sabit.

JAKARTA - NASA kembali mencuri perhatian pecinta sains antariksa. Rover Perseverance berhasil mengabadikan panorama paling jernih dari permukaan Mars sejak awal misinya pada 2021. 

Foto ini diambil saat momen langka turunnya debu di atmosfer planet merah pada awal Agustus 2025, tepat di wilayah kawah Jezero, lokasi utama eksplorasi rover tersebut.

Panorama ini tersusun dari 96 foto resolusi tinggi yang diambil secara bertahap ketika debu Mars sedang mereda peristiwa yang hanya terjadi sekitar sekali setiap dua tahun. 

Momen tersebut dimanfaatkan tim pengolah citra NASA untuk menghasilkan pemandangan yang sangat detail. 

Dalam foto itu, terlihat jelas bekas pengeboran batu untuk pengambilan sampel di bagian depan, jajaran bukit sejauh 65 kilometer di kejauhan, hingga jejak roda yang menjadi saksi perjalanan Perseverance menuju titik pemotretan.

NASA menyebut salah satu objek paling menarik dalam panorama ini adalah sebuah batu besar yang terletak di atas pola pasir berbentuk sabit. 

Para ilmuwan menjulukinya floating rock atau “batu mengapung” karena posisinya terlihat tidak biasa. 

Batu ini diperkirakan berpindah ke lokasi tersebut akibat tiupan angin kuat, aliran air di masa lalu, atau bahkan peristiwa longsor. 

"Asal-usul pastinya masih menjadi misteri yang ingin kami ungkap," tulis tim NASA dalam rilis resminya.

Hasil jepretan ini bukan hanya sekadar pamer kecanggihan kamera Perseverance, tetapi juga menjadi data penting bagi studi geologi Mars. 

Dengan kualitas visual yang lebih bersih dari biasanya, peneliti dapat mengidentifikasi tekstur tanah, pola angin, hingga potensi lokasi pengambilan sampel berikutnya. 

Ke depan, NASA berencana merilis versi interaktif panorama ini agar publik bisa “menjelajahi” Mars secara virtual dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya.

Curiosity Temukan ‘Koral’ di Mars, Bukti Kuat Planet Merah Pernah Punya Lautan

Batu di Mars berbentuk mirip karang laut yang ditemukan rover Curiosity NASA
Batu di Mars berbentuk mirip karang laut yang ditemukan rover Curiosity NASA.

Jakarta – Rover Curiosity milik NASA kembali membuat penemuan unik di Mars. Kali ini, wahana penjelajah itu menemukan batu di permukaan Planet Merah yang bentuknya sangat mirip dengan karang laut di Bumi. 

Meskipun bukan organisme hidup, formasi batuan ini diyakini terbentuk miliaran tahun lalu saat Mars masih memiliki lautan, menurut penjelasan ilmuwan NASA, Jumat (8/8/2025).

NASA menjelaskan, struktur seperti “koral” ini tercipta ketika mineral meresap ke dalam retakan batuan, lalu air yang mengalir di Mars menguap, meninggalkan endapan kristal. 

Seiring waktu, terpaan angin membentuk pola rumit yang terlihat saat ini. 

“Formasi seperti ini adalah jejak masa lalu Mars yang basah dan berpotensi layak huni,” kata juru bicara tim sains Curiosity.

Penemuan ini juga memperkuat teori bahwa air di Mars tidak sepenuhnya hilang. Sebagian besar kini ada dalam bentuk es di kutub, namun ada dugaan masih tersisa cadangan air cair di bawah permukaan, mungkin dalam bentuk lautan bawah tanah. 

“Setiap struktur mineral unik memberi kita potongan puzzle untuk memahami sejarah geologi Mars,” tambah NASA.

Temuan ini menambah deretan “benda aneh” yang berhasil diabadikan dari Mars. Sebelumnya, Curiosity dan rover Perseverance pernah memotret batuan berbentuk “donat”, “avokadо”, hingga “wajah kucing” dan “muka beruang”. 

Foto-foto ini bukan sekadar fenomena unik, tapi menjadi bukti visual penting untuk riset masa depan, termasuk misi mencari tanda-tanda kehidupan purba di Mars.