Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Rabu, 08 Oktober 2025

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven
Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven.

JAKARTA - Harga emas dunia resmi menorehkan sejarah baru setelah menembus level psikologis US$4.000 per troy ons di pasar spot pada Rabu pagi, 8 Oktober 2025. Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.31 WIB harga emas tercatat di posisi US$4.006,08 atau naik 0,56 persen. Lonjakan ini menandai pertama kalinya logam mulia tersebut menyentuh level tersebut, sekaligus memperkuat reli panjang yang sudah berlangsung sejak awal tahun.

Kenaikan harga emas ini tak lepas dari meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Sepanjang 2025, harga emas di pasar spot sudah terbang hingga 51,82 persen, menjadikannya salah satu komoditas dengan performa terbaik di tahun ini. Sementara itu, di pasar kontrak berjangka Amerika Serikat (AS), harga emas bahkan sudah lebih dulu menembus US$4.000 sejak perdagangan Selasa waktu setempat.

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven
Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven.

Pasar utama perdagangan emas spot, yaitu London over-the-counter (OTC), tetap menjadi acuan harga global. Analis menilai, faktor utama yang memicu reli ini adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed), meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, serta pelemahan dolar AS.

Tai Wong, analis logam independen, mengatakan bahwa pasar kini semakin percaya pada reli emas kali ini. “Target berikutnya jelas di angka psikologis US$5.000, apalagi jika The Fed terus menurunkan suku bunga,” ujarnya. Meski begitu, ia juga mengingatkan kemungkinan adanya guncangan jangka pendek jika tercapai gencatan senjata permanen di Timur Tengah atau Ukraina. Namun secara umum, Wong menilai faktor pendorong utama seperti utang global yang membengkak, diversifikasi cadangan devisa, dan lemahnya dolar AS akan tetap menopang harga emas dalam jangka menengah.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menambahkan bahwa efek "fear of missing out" atau ketakutan tertinggal juga ikut memperkuat reli ini. “Sekarang banyak investor yang tetap membeli emas meski harganya sudah tinggi, dan justru hal itu semakin mendorong harga naik lebih jauh,” jelasnya.

Selain faktor fundamental, kondisi politik di AS turut menambah sentimen positif bagi emas. Pemerintah federal Amerika tengah menghadapi penutupan (shutdown) selama tujuh hari berturut-turut hingga Selasa, yang membuat publikasi data ekonomi utama tertunda. Akibatnya, investor harus mengandalkan indikator non-pemerintah untuk memperkirakan langkah The Fed selanjutnya. Berdasarkan data FedWatch, pasar memperkirakan akan ada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini, dengan satu kali tambahan pemangkasan lagi pada Desember mendatang.

Sementara itu, gejolak politik di Prancis dan Jepang juga memicu peningkatan permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai. Banyak investor institusional mulai mengalihkan aset mereka dari saham dan obligasi ke emas untuk mengantisipasi risiko global yang terus meningkat.

Dalam dua tahun terakhir, emas menunjukkan tren positif yang luar biasa. Setelah naik 27 persen pada 2024, kini logam mulia itu telah melonjak lebih dari 50 persen hanya dalam waktu sembilan bulan pertama 2025. Para analis memperkirakan bahwa momentum bullish ini bisa berlanjut hingga awal 2026, terutama jika ketidakpastian ekonomi global belum mereda dan The Fed benar-benar melonggarkan kebijakan moneternya.

Kenaikan harga emas ini juga berdampak luas bagi negara-negara produsen dan importir. Bagi Indonesia, harga emas dunia yang tinggi berpotensi mengangkat kinerja ekspor emas batangan dan menambah devisa negara, meski di sisi lain membuat harga perhiasan di dalam negeri semakin mahal. Investor lokal kini mulai ramai berburu emas Antam dan UBS sebagai bentuk lindung nilai terhadap pelemahan rupiah.

Dengan harga emas yang kini menembus US$4.000 per troy ons, banyak pelaku pasar memprediksi level berikutnya yang akan diuji adalah US$4.200 sebelum menuju ke US$5.000. Namun, semua akan bergantung pada arah kebijakan moneter global dan stabilitas geopolitik dalam beberapa bulan mendatang.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.