Berita BorneoTribun: Ekonomi Dunia hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Dunia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Diplomat China Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah Pada Energi Dunia

Diplomat China memperingatkan konflik Timur Tengah berdampak besar pada energi global dan stabilitas ekonomi dunia, memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak internasional.
Diplomat China memperingatkan konflik Timur Tengah berdampak besar pada energi global dan stabilitas ekonomi dunia, memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak internasional.

Jumat, (17/4/2026) — Situasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global. Kali ini, seorang diplomat tinggi dari China mengingatkan bahwa dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi juga bisa mengguncang keamanan energi dunia.

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di beberapa wilayah strategis yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia. Banyak pihak mulai menilai bahwa jika konflik terus berlangsung, dampaknya bisa terasa hingga ke sektor ekonomi global.

Energi Global Dalam Tekanan

Diplomat senior China menyebut bahwa konflik di Timur Tengah saat ini telah memberikan tekanan serius terhadap stabilitas energi global. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi dan distribusi minyak terbesar di dunia.

Ketika konflik terjadi, jalur distribusi minyak dan gas menjadi tidak stabil. Kondisi ini membuat harga energi cenderung naik dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan di berbagai negara.

Banyak negara di Asia, termasuk kawasan Asia Tenggara, sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Ketika distribusi terganggu, biaya transportasi dan produksi bisa ikut melonjak.

Selain itu, jalur laut penting seperti Selat Hormuz menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak secara global.

Dampak Tidak Hanya Soal Energi

Menurut diplomat China tersebut, dampak konflik Timur Tengah tidak hanya terbatas pada sektor energi. Stabilitas ekonomi global juga berisiko terganggu jika ketegangan terus meningkat.

Ketika harga energi naik, biaya produksi barang juga ikut meningkat. Hal ini bisa memicu inflasi di berbagai negara dan membuat harga kebutuhan pokok semakin mahal.

Tak hanya itu, gangguan pada distribusi energi juga bisa memengaruhi sektor transportasi, industri, hingga perdagangan internasional. Banyak negara mulai memantau situasi dengan lebih serius karena dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor kehidupan.

Seruan Untuk Menghentikan Konflik

Dalam pernyataannya, pihak China juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Mereka menilai bahwa konflik berkepanjangan tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.

Sebaliknya, konflik yang terus berlangsung hanya akan memperbesar risiko terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. Oleh karena itu, semua pihak diminta untuk menahan diri dan mencari solusi damai melalui dialog.

Seruan ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan energi dan stabilitas pasar internasional. Banyak negara berharap agar situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Dunia Mulai Bersiap Hadapi Risiko Energi

Seiring meningkatnya ketegangan, sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipasi untuk menjaga pasokan energi tetap stabil. Beberapa di antaranya meningkatkan cadangan energi nasional dan mempercepat diversifikasi sumber energi.

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah tertentu. Jika konflik berlangsung lama, negara yang tidak siap bisa menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat.

Para analis juga menilai bahwa krisis energi global bisa menjadi salah satu dampak terbesar dari konflik Timur Tengah saat ini. Jika jalur distribusi utama terganggu dalam waktu lama, dampaknya bisa terasa hingga ke tingkat rumah tangga.

Situasi Masih Terus Dipantau

Hingga saat ini, situasi konflik di Timur Tengah masih terus berkembang dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda sepenuhnya. Banyak negara dan organisasi internasional terus memantau perkembangan terbaru dengan cermat.

Peringatan dari diplomat China menjadi sinyal bahwa dunia harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Tidak hanya dari sisi keamanan, tetapi juga dari sisi ekonomi dan energi.

Jika konflik dapat diselesaikan melalui jalur damai, dampak terhadap energi global mungkin bisa diminimalkan. Namun jika situasi terus memanas, dunia berpotensi menghadapi tekanan energi yang lebih berat dalam waktu dekat.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Trump Ancam Balas Ekonomi China di Tengah Ketegangan Perdagangan Rare Earth

Donald Trump Ancam Balasan Ekonomi untuk China atas Kebijakan Ekspor Rare Earth
Presiden China, Xi Jinping.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan mengejutkan. Melalui media sosialnya, ia menuduh China menjadi semakin “bermusuhan” setelah Beijing memperketat kontrol ekspor terhadap rare earths atau logam tanah jarang yang sangat penting bagi industri teknologi dunia.

Trump bahkan mengancam akan melakukan pembalasan ekonomi terhadap China dan menyatakan tidak lagi melihat alasan untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam kunjungan yang dijadwalkan akhir bulan ini.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis bahwa China kini berusaha membatasi ekspor terhadap hampir semua unsur penting dalam produksi rare earths. Ia menilai langkah itu bisa mengacaukan pasar global dan menyulitkan banyak negara, termasuk China sendiri.

Trump menambahkan, jika China tetap bersikeras dengan kebijakan barunya, maka Amerika Serikat akan mengambil langkah finansial sebagai balasan. “Untuk setiap unsur yang mereka monopoli, kami punya dua,” ujarnya dengan nada tegas.

China Perketat Ekspor Rare Earth

Langkah Beijing memperluas daftar mineral yang dikontrol dan membatasi teknologi produksinya dianggap sebagai upaya memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dagang dengan AS. Pembatasan ini juga mencakup penggunaan bahan-bahan tersebut untuk kepentingan militer dan semikonduktor.

Kebijakan ini langsung menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Washington. Pemerintah AS disebut telah lama berupaya memperkuat rantai pasokan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada China.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintahan Trump telah mengumumkan investasi senilai 400 juta dolar AS di perusahaan MP Materials Corp, satu-satunya produsen rare earths di Amerika Serikat.

Namun, para pejabat AS mengakui bahwa proses ini akan memakan waktu lama. Kondisi tersebut membuat AS dan sekutunya tetap rentan terhadap kebijakan strategis China dalam jangka pendek.

Pertemuan Trump dan Xi Terancam Batal

Trump mengungkapkan bahwa dirinya awalnya dijadwalkan bertemu Xi Jinping dalam acara APEC di Korea Selatan. Namun, setelah kebijakan baru dari China ini diumumkan, Trump menyatakan tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan pertemuan tersebut.

Sumber di Gedung Putih menyebutkan bahwa langkah China dianggap sebagai “eskalasi besar” dalam hubungan kedua negara. Bahkan sebelum Trump menulis di media sosial, para pejabat sudah memperkirakan pertemuan itu mungkin akan dibatalkan.

China sendiri sempat mengundang Trump untuk berkunjung ke Beijing, namun undangan tersebut ditolak karena tidak ada kesepakatan konkret yang bisa dicapai.

Dampak ke Pasar Saham

Pernyataan Trump langsung mengguncang pasar saham. Indeks Dow Jones anjlok 550 poin atau sekitar 1,2 persen, sementara S&P 500 turun 1,5 persen dan Nasdaq jatuh hingga 2 persen.

Investor khawatir perang dagang antara AS dan China akan kembali memanas, terutama karena perdagangan dengan China sangat penting bagi perekonomian AS menjelang musim liburan.

Sebelumnya, pada awal tahun, ketegangan serupa sempat membuat pasar hampir masuk ke zona bear market akibat tarif balasan yang saling diberlakukan oleh kedua negara. Walaupun situasi sempat membaik setelah ada pengurangan tarif, kini ketegangan itu muncul kembali dan memicu kekhawatiran baru.

Rare Earth, Sumber Daya Strategis Dunia

Rare earths atau logam tanah jarang merupakan komponen vital dalam pembuatan berbagai produk teknologi, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, hingga peralatan militer.

China selama ini menguasai sebagian besar produksi dan pasokan global rare earths, sehingga setiap kebijakan ekspor dari negara tersebut dapat mengguncang pasar internasional.

Bagi Amerika Serikat, ketergantungan pada pasokan China telah menjadi isu strategis sejak lama. Karena itu, langkah terbaru Beijing dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan ekonomi dan teknologi nasional AS.

Meskipun situasi masih bisa berubah, ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas global, terutama dalam sektor industri dan teknologi tinggi.

Rabu, 08 Oktober 2025

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven
Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven.

JAKARTA - Harga emas dunia resmi menorehkan sejarah baru setelah menembus level psikologis US$4.000 per troy ons di pasar spot pada Rabu pagi, 8 Oktober 2025. Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.31 WIB harga emas tercatat di posisi US$4.006,08 atau naik 0,56 persen. Lonjakan ini menandai pertama kalinya logam mulia tersebut menyentuh level tersebut, sekaligus memperkuat reli panjang yang sudah berlangsung sejak awal tahun.

Kenaikan harga emas ini tak lepas dari meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Sepanjang 2025, harga emas di pasar spot sudah terbang hingga 51,82 persen, menjadikannya salah satu komoditas dengan performa terbaik di tahun ini. Sementara itu, di pasar kontrak berjangka Amerika Serikat (AS), harga emas bahkan sudah lebih dulu menembus US$4.000 sejak perdagangan Selasa waktu setempat.

Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven
Harga Emas Dunia Pecah Rekor Tembus $4000 Investor Panik Berebut Safe Haven.

Pasar utama perdagangan emas spot, yaitu London over-the-counter (OTC), tetap menjadi acuan harga global. Analis menilai, faktor utama yang memicu reli ini adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed), meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, serta pelemahan dolar AS.

Tai Wong, analis logam independen, mengatakan bahwa pasar kini semakin percaya pada reli emas kali ini. “Target berikutnya jelas di angka psikologis US$5.000, apalagi jika The Fed terus menurunkan suku bunga,” ujarnya. Meski begitu, ia juga mengingatkan kemungkinan adanya guncangan jangka pendek jika tercapai gencatan senjata permanen di Timur Tengah atau Ukraina. Namun secara umum, Wong menilai faktor pendorong utama seperti utang global yang membengkak, diversifikasi cadangan devisa, dan lemahnya dolar AS akan tetap menopang harga emas dalam jangka menengah.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menambahkan bahwa efek "fear of missing out" atau ketakutan tertinggal juga ikut memperkuat reli ini. “Sekarang banyak investor yang tetap membeli emas meski harganya sudah tinggi, dan justru hal itu semakin mendorong harga naik lebih jauh,” jelasnya.

Selain faktor fundamental, kondisi politik di AS turut menambah sentimen positif bagi emas. Pemerintah federal Amerika tengah menghadapi penutupan (shutdown) selama tujuh hari berturut-turut hingga Selasa, yang membuat publikasi data ekonomi utama tertunda. Akibatnya, investor harus mengandalkan indikator non-pemerintah untuk memperkirakan langkah The Fed selanjutnya. Berdasarkan data FedWatch, pasar memperkirakan akan ada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini, dengan satu kali tambahan pemangkasan lagi pada Desember mendatang.

Sementara itu, gejolak politik di Prancis dan Jepang juga memicu peningkatan permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai. Banyak investor institusional mulai mengalihkan aset mereka dari saham dan obligasi ke emas untuk mengantisipasi risiko global yang terus meningkat.

Dalam dua tahun terakhir, emas menunjukkan tren positif yang luar biasa. Setelah naik 27 persen pada 2024, kini logam mulia itu telah melonjak lebih dari 50 persen hanya dalam waktu sembilan bulan pertama 2025. Para analis memperkirakan bahwa momentum bullish ini bisa berlanjut hingga awal 2026, terutama jika ketidakpastian ekonomi global belum mereda dan The Fed benar-benar melonggarkan kebijakan moneternya.

Kenaikan harga emas ini juga berdampak luas bagi negara-negara produsen dan importir. Bagi Indonesia, harga emas dunia yang tinggi berpotensi mengangkat kinerja ekspor emas batangan dan menambah devisa negara, meski di sisi lain membuat harga perhiasan di dalam negeri semakin mahal. Investor lokal kini mulai ramai berburu emas Antam dan UBS sebagai bentuk lindung nilai terhadap pelemahan rupiah.

Dengan harga emas yang kini menembus US$4.000 per troy ons, banyak pelaku pasar memprediksi level berikutnya yang akan diuji adalah US$4.200 sebelum menuju ke US$5.000. Namun, semua akan bergantung pada arah kebijakan moneter global dan stabilitas geopolitik dalam beberapa bulan mendatang.