Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar: Warga Geram, Desak Audit Total Proyek Bermasalah

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 16 November 2025

Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar: Warga Geram, Desak Audit Total Proyek Bermasalah

Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)
Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)

Proyek Rp20 Miliar Rusak dalam Hitungan Bulan, Warga Tuntut Kejelasan

KAPUAS HULU - Pembangunan ruas Jalan Seberu–Nanga Lunggu di Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. 

Proyek yang menghabiskan dana sekitar Rp20 miliar itu diharapkan menjadi bukti hadirnya pembangunan untuk wilayah pedalaman. 

Namun kenyataannya, jalan tersebut baru berumur beberapa bulan, sudah kembali rusak dan penuh tambalan.

Di berbagai titik, kondisi aspal terlihat retak, mengelupas, dan berubah menjadi kubangan air ketika hujan turun. 

Banyak warga yang heran sekaligus kecewa, karena kualitas fisik proyek jauh dari kata layak untuk ukuran anggaran sebesar itu.

Aspal Diduga Terlalu Tipis, Kualitas Material Dipertanyakan

Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)
Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)

Temuan di lapangan menunjukkan dugaan bahwa ketebalan aspal jauh di bawah standar teknis. Beberapa bagian bahkan tampak seperti pengerjaan tambal sulam yang dilakukan sekadarnya. 

Warga mempertanyakan bagaimana proyek bernilai miliaran rupiah bisa tampil seperti pekerjaan darurat yang dikerjakan terburu-buru.

Bagi masyarakat Kapuas Hulu, jalan ini sangat penting. Akses ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan banyak bergantung pada ruas tersebut. Sayangnya, kondisi jalan yang cepat rusak justru membuat aktivitas warga semakin terhambat.

Dugaan “Permainan Kotor” Menguat, Pengawasan Lemah Jadi Sorotan

Bukan hanya kualitas pembangunan yang dipertanyakan, tetapi juga integritas para pihak yang terlibat. Masyarakat mencurigai adanya dugaan praktik tidak sehat antara pihak pelaksana proyek dan oknum pengawas.

Dugaan ini muncul bukan tanpa alasan. Pada 2023 lalu, kerusakan serupa pernah terjadi di lokasi yang sama. Sayangnya, tak ada tindak lanjut atau audit menyeluruh terhadap pihak yang bertanggung jawab. Pola yang berulang inilah yang membuat publik semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)
Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar:

  • Ke mana larinya dana Rp20 miliar tersebut?

  • Mengapa proyek infrastruktur dengan dana besar hanya bertahan beberapa bulan?

Risiko Korupsi Mengintai, Masyarakat Minta Aparat Bertindak

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka masalahnya bukan lagi sebatas jalan rusak. Ada indikasi kuat bahwa praktik korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan anggaran berpotensi terjadi. Minimnya transparansi dan lemahnya tindakan tegas dari aparat justru memperkuat dugaan adanya praktik tidak wajar di balik proyek ini.

Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)
Jalan Seberu–Nanga Lunggu Rusak Padahal Habiskan Rp20 Miliar. (Foto Tim Lapangan)

Masyarakat pun semakin vokal meminta pemerintah pusat turun tangan. Mereka mendesak Kementerian PUPR, khususnya Balai Pelaksana Jalan Nasional, melakukan audit teknis dan audit keuangan secara independen.

Mendesak Audit Menyeluruh, Pelaku Harus Ditindak Tanpa Kompromi

Masyarakat berharap audit dilakukan secara transparan dan melibatkan pihak yang benar-benar independen. 

Jika ditemukan adanya pelanggaran, semua pihak yang terlibat baik pejabat, konsultan pengawas, maupun kontraktor harus diproses hukum tanpa pandang bulu.

Jika tidak ada tindakan tegas, proyek Jalan Seberu–Nanga Lunggu dikhawatirkan hanya akan menjadi simbol lemahnya integritas pengelolaan anggaran, sementara masyarakat pedalaman kembali menjadi korban dari pembangunan yang tak sesuai harapan.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.