![]() |
| Gilang, mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Pontianak asal Desa Pelapis. |
Pontianak, 23 Desember 2025 - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terbaru yang menunjukkan bahwa Kabupaten Kayong Utara masih berada di peringkat terakhir di Kalimantan Barat. Meski demikian, angka IPM Kayong Utara menunjukkan tren positif. Pada 2025, IPM tercatat sebesar 67,60, meningkat dari 67,05 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa upaya pembangunan sumber daya manusia mulai menunjukkan hasil, sekaligus membuka ruang optimisme bagi masa depan daerah.
Peningkatan tersebut tidak lepas dari investasi jangka panjang di bidang pendidikan khususnya pada generasi muda yang akan menjadi penggerak kesejahteraan daerah di masa depan. Harapan itu tumbuh hingga ke wilayah pesisir seperti Desa Pelapis, yang terletak di Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara.
Sebagai desa pesisir, Desa Pelapis masih menghadapi keterbatasan akses, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor perikanan dengan penghasilan yang tidak menentu. Akses pendidikan yang tersedia pun masih terbatas hingga jenjang SMP. Kondisi ini membuat pendidikan tinggi kerap terasa sulit dijangkau bagi banyak anak muda di Desa Pelapis sehingga banyak dari mereka yang memilih tidak kuliah dan langsung bekerja demi membantu orang tua.
Meski begitu, di tengah realitas tersebut tumbuh semangat baru dari generasi muda yang berani melangkah lebih jauh. Mereka adalah Claudia, Tira, Florencia, dan Gilang, putra-putri dari Desa Pelapis yang melihat pendidikan sebagai jalan untuk membawa perubahan positif, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan tempat mereka berasal.
Hadirnya program beasiswa menjadi titik balik dalam perjalanan mereka. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan, tempat tinggal, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para penerima, tetapi juga oleh keluarga mereka. Orang tua dapat bekerja lebih tenang tanpa harus memikirkan biaya kuliah anak-anaknya. Sementara itu, dengan beban finansial yang berkurang, para penerima beasiswa pun dapat lebih fokus belajar dan menata masa depan dengan lebih percaya diri.
![]() |
| Mahasiswa Biologi, Universitas OSO asal Pelapis, Claudia. |
Seiring perjalanan perkuliahan, mimpi dan tujuan hidup para penerima beasiswa pun semakin terarah. Bagi Claudia, ketertarikannya pada biologi tumbuh seiring pemahamannya terhadap potensi dan tantangan wilayah pesisir. Ia bercita-cita menjadi peneliti laut dan ingin berkontribusi dalam upaya penyediaan air berkualitas bagi warga Desa Pelapis. “Setelah lama kuliah, pengen jadi peneliti laut di Desa Pelapis karena pengen orang-orang yang tinggal di sana lebih sejahtera,” kata Claudia.
![]() |
| Tira, mahasiswa Akuntansi, Universitas Tanjungpura asal Desa Pelapis. |
Tidak hanya Claudia, Tira pun ingin memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan daerah asalnya. Ia menargetkan berkarir di instansi pemerintah, khususnya di bidang bea cukai, atau di perusahaan multinasional agar memiliki stabilitas karier. Hal tersebut dimulai dari tekadnya untuk menjadi sarjana pertama di keluarganya. “Pengen jadi sarjana yang pertama di keluarga,” ucap Tira.
![]() |
| Florencia, mahasiswa Manajemen Internasional, Universitas Tanjungpura, Florencia. |
Mahasiswa Manajemen Internasional, Universitas Tanjungpura, Florencia memandang pendidikan sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Ia bercita-cita melanjutkan studi S2 dan membawa keluarganya merasakan pengalaman jalan-jalan ke luar negeri. “Setelah lulus pengen S2 keluar negeri untuk dapat exposure dan pandangan yang lebih luas. Pokoknya gimanapun caranya harus bisa keluar negeri,” ujarnya. Di masa depan, Florencia juga ingin membangun usaha sendiri sebagai bentuk kemandirian dan peningkatan taraf hidup bagi keluarganya.
![]() |
| Kisah Empat Anak Muda Desa Pelapis Jadi Sarjana Pertama Hingga Peneliti Laut. |
Sejalan dengan yang lainnya, kuliah membuka peluang yang lebih besar bagi Gilang. Selama kuliah, mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Pontianak ini semakin menunjukkan ketertarikannya pada dunia teknik sehingga ia bercita-cita menjadi seorang engineer. Di balik target profesional tersebut, Gilang menyimpan tujuan yang sederhana namun bermakna yakni membahagiakan orang tua dan suatu hari dapat memberangkatkan mereka menunaikan ibadah haji. “Cita-cita dari kecil pengen jadi engineer, pengen sukses biar bisa banggain orang tua dan bawa orang tua naik haji,” tuturnya.
Meski memiliki mimpi yang berbeda, keempatnya dipersatukan oleh motivasi yang sama, yaitu membanggakan orang tua, membuka peluang kehidupan yang lebih baik, serta membawa perubahan positif bagi Kayong Utara, khususnya Desa Pelapis. (*)
![]() |
| Mahasiswa asal Desa Pelapis bersama Wakil Bupati Kayong Utara Amru Chanwari dan manajemen PT DIB pada acara penyerahan beasiswa di Pontianak, September lalu. |
Program beasiswa dari PT DIB ini merupakan upaya untuk mendukung komitmen pemerintah daerah dalam memajukan dunia pendidikan, termasuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Barat, terutama di Kayong Utara. Sinergi antara sektor swasta dan pemerintah diharapkan dapat memperluas akses pendidikan dan membuka semakin banyak kesempatan bagi putra-putri Desa Pelapis untuk berkembang, membawa perubahan dan menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.





