Berita BorneoTribun: Harita Grup hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Harita Grup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harita Grup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2026

Kekayaan Masa Lampau Kayong Utara dan Inovasi Pendidikan Bertemu di Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan

Pelajar mengamati karya foto pada Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara, Selasa (3/2/2026).
Pelajar mengamati karya foto pada Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara, Selasa (3/2/2026). 
Sukadana, 3 Februari 2025Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara bersama Jurnalis Kayong Utara menggelar Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan sebagai upaya menghubungkan perkembangan serta inovasi pendidikan dengan kekayaan sejarah dan kebudayaan masa lalu Kayong Utara. Kegiatan ini dimulai pada Senin, 2 Februari 2026, dan diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan.

Gunawan, Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Kayong Utara, yang hadir mewakili Bupati Kayong Utara. Gunawan dalam pidato pembukaan acara mengatakan, pameran ini bukan sekadar ajang unjuk kreativitas, melainkan jembatan penting yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kekayaan budaya Kayong Utara. 

Pada abad ke-16, di Sukadana pernah berdiri Kerajaan Sukadana, sebuah kerajaan Islam yang kuat dan makmur. Kerajaan ini menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah, baik di dalam maupun di luar Nusantara. Sukadana dikenal sebagai penghasil tambang emas, perak, dan intan yang menjadi komoditas utama perdagangan. Selain itu, Kerajaan Sukadana memiliki pelabuhan berskala internasional yang berfungsi sebagai tempat transit kapal-kapal dagang dari Asia Timur dan Asia Selatan.
Kekayaan Masa Lampau Kayong Utara dan Inovasi Pendidikan Bertemu di Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan
Pelajar secara simbolis menerima bantuan sepatu dan seragam sekolah pada Pameran Foto Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Dinas Pendidikan Kayong Utara, Selasa (3/2/2026).
“Melalui pameran ini, kita ingin menunjukkan bahwa pendidikan yang berkualitas harus berjalan beriringan dengan pemahaman dan pelestarian kebudayaan lokal. Pendidikan membentuk kecerdasan intelektual, sementara kebudayaan membentuk karakter, jati diri, dan kehalusan budi pekerti, di era globalisasi yang serba modern ini, sangat penting bagi generasi muda untuk tidak hanya pintar, tetapi juga mengenal akar budayanya sendiri,” katanya.

Pameran Foto bertajuk “Pendidikan dan Kebudayaan: Momen Membangun Masa Depan” yang dilaksanakan pada 2–6 Februari 2026 di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara menampilkan karya-karya jurnalis yang merekam pendidikan, kebudayaan, serta benda-benda dan jejak sejarah lokal yang masih terjaga hingga kini.

Melalui pameran foto ini, pengunjung diajak melihat bagaimana pendidikan berkembang di Kayong Utara tanpa melepaskan keterkaitannya dengan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masa lalu. Foto-foto yang ditampilkan menggambarkan berbagai aktivitas pendidikan, interaksi guru dan siswa, kegiatan ekstrakurikuler, serta ekspresi kebudayaan lokal yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Salah satu foto yang paling menyita perhatian para pelajar di Kayong Utara menampilkan anak-anak Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, yang sedang belajar di Taman Pendidikan Alquran. Gambar ini merefleksikan kuatnya sinergi antara masyarakat dan dunia usaha yang tumbuh di Kayong Utara, dengan memperlihatkan dukungan PT Dharma Inti Bersama selaku pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) terhadap keberlangsungan Taman Pendidikan Alquran di desa tersebut.

Selain pameran foto, kegiatan juga dilengkapi dengan diskusi dan talkshow pendidikan, kuis interaktif, serta pemutaran film oleh CANOPI Indonesia. Seluruh rangkaian ini dirancang sebagai ruang edukasi dan refleksi tentang pentingnya pendidikan yang berakar pada kebudayaan, sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 80 pasang sepatu diserahkan kepada siswa kurang mampu. Selain sepatu, siswa juga menerima bantuan seragam dan tas sekolah. Bantuan ini menjadi bagian dari kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan, agar siswa dapat mengikuti proses belajar dengan lebih layak dan bermartabat.

Ketua Jurnalis Kayong Utara (JKU), Muhammad Fauzi, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan media dalam mendukung dunia pendidikan. Ia juga mendorong agar organisasi perangkat daerah lainnya dapat mencontoh Dinas Pendidikan dalam membangun sinergi kegiatan.

“Kehadiran kami dalam kegiatan ini merupakan kontribusi untuk kemajuan Kayong Utara. Media memiliki peran penting dalam menyambung informasi dan mendorong kolaborasi yang positif,” jelasnya.

Untuk menyukseskan kegiatan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara menggandeng berbagai mitra, di antaranya Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), Yayasan Palong, CANOPI, Lembaga Simpang Mandiri, Program KREASI, Bank Kalbar, serta PT Dharma Inti Bersama (DIB). (*)

Senin, 26 Januari 2026

Peran Emak-Emak Desa Pelapis Kuatkan Ekonomi Keluarga

Lele marinasi sebagai produk hasil dari pelatihan pengolahan budidaya ikan lele yang dibeli oleh Kawasan Industri Pulau Penebang.
Lele marinasi sebagai produk hasil dari pelatihan pengolahan budidaya ikan lele yang dibeli oleh Kawasan Industri Pulau Penebang.

Pelapis, Januari 2026 – Peran perempuan dalam mendorong perekonomian desa semakin terasa di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Ibu-ibu di desa ini tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan produktif yang mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Keterlibatan mereka menjadi upaya nyata dalam memaksimalkan potensi wilayah pesisir sekaligus menambah pendapatan keluarga nelayan.

Salah satu tokoh perubahan tersebut adalah Suaibah, Ketua Kelompok Pengolahan Bakso Ikan Desa Pelapis. Ia menceritakan, sebelum adanya kegiatan pengolahan ikan, ibu-ibu nelayan tidak memiliki aktivitas produktif saat musim paceklik.

“Dulu kalau tidak ada ikan, kami hanya di rumah. Sekarang, kami bisa tetap bekerja dan punya penghasilan tambahan. Waktu bakso buatan kami terjual, kami merasa senang dan semakin semangat,” ujarnya.

Kesadaran akan pentingnya peran perempuan ini menjadi dasar bagi PT Dharma Inti Bersama (DIB), selaku pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), dalam merancang program pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan dibuat khusus untuk melibatkan ibu-ibu Desa Pelapis sebagai pelaku utama UMKM. Salah satunya adalah pelatihan dan produksi bakso serta nugget ikan, yang diikuti oleh 64 istri nelayan dari tiga dusun. Dalam satu kali produksi, kelompok ini mampu menghasilkan sekitar 86 kilogram bakso dan 45 kilogram nugget ikan, yang seluruhnya diserap oleh kawasan industri di Pulau Penebang.

Selain pengolahan bakso dan nugget, perempuan Desa Pelapis juga aktif dalam pengolahan hasil budidaya ikan lele. Panen perdana pada awal Januari lalu menghasilkan sekitar 700 kilogram ikan lele. Hasil panen kemudian dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, dikemas secara vakum, dan dipasarkan ke Pulau Penebang. Dari kegiatan ini, sebanyak 1.040 kemasan produk olahan lele berhasil terjual ke KIPP.

Sundusiyah dan Misnah, ibu rumah tangga dari Dusun Kelawar, menyatakan senang dapat terlibat dalam kegiatan marinasi lele. Menurut mereka, kegiatan ini memberikan peluang baru bagi perempuan di desa.

“Kalau tidak musim ikan, kami tetap bisa beraktivitas dan membantu ekonomi keluarga. Usaha seperti ini bagus dan harus dicoba,” kata mereka.

Pada kesempatan panen perdana tersebut, Hendra Budjang, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara, memberikan apresiasi kepada PT DIB dan tim CSR atas konsistensinya dalam membina masyarakat Desa Pelapis. Ia menilai desa ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki peternak lele di daerah lain, yaitu adanya kepastian pasar.

“Mari kita jadikan ini momentum, karena kelebihan Pelapis adalah kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada (DIB). Alhamdulillah, yang membeli sudah ada, tinggal kesiapan masyarakatnya,” ujarnya.

Seno Ario Wibowo, Government Relation Manager DIB, menjelaskan bahwa berbagai kegiatan di Desa Pelapis merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Program-program ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk meningkatkan keterampilan serta mengoptimalkan potensi lokal.

“Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan. Kami menjamin pihak perusahaan akan membantu sepenuhnya terkait hasil panen. Ikan lele ini pasti akan kami serap,” tegasnya.

Seno menekankan bahwa perusahaan menempatkan perempuan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.

“Sebagai perusahaan yang beroperasi dekat komunitas nelayan, kami memahami bahwa keberlanjutan ekonomi keluarga sangat bergantung pada kondisi alam yang dinamis. Karena itu, kami ingin memastikan para istri nelayan tetap memiliki sumber pendapatan, bahkan di luar musim tangkap,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan ekonomi masyarakat harus berbasis potensi lokal dan melibatkan seluruh anggota keluarga nelayan.

“Melalui pengolahan ikan air tawar, pembuatan bakso dan nugget, serta budidaya lele, perempuan dapat menjadi pelaku utama dalam menambah penghasilan keluarga. Ini merupakan bagian dari komitmen kami terhadap pemberdayaan masyarakat dan prinsip keberlanjutan,” pungkasnya.

Selain di bidang ekonomi, peran perempuan Desa Pelapis juga terlihat dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Ibu-ibu kader Posyandu di empat lokasi, bekerja sama dengan Puskesmas dan DIB, secara rutin melaksanakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak, disertai pemeriksaan dan sosialisasi kesehatan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

Senin, 19 Januari 2026

Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis

Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis
Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis.

Pelapis, 13 Januari 2025 - Setiap pagi dan sore, Suaka, warga Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kayong Utara, punya kegiatan favorit: memberi makan lele di kolam terpal di samping rumahnya yang berada di pinggir pantai.

Kolam terpal ini adalah bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas masyarakat setempat bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

“Waktu paling menyenangkan itu saat memberi umpan,” katanya suatu ketika. “Rasanya kalau bisa, tiap hari kasih makan terus. Senang saja melihat ikan-ikan itu berebut.”

Bagi Suaka, nelayan yang sejak kecil akrab dengan ombak dan jaring, kebiasaan baru itu awalnya terasa asing. Namun justru dari rutinitas sederhana itulah, sebuah perubahan pelan-pelan tumbuh. Perubahan yang pada Sabtu pagi, 10 Januari 2026, mencapai puncaknya: panen perdana budidaya ikan lele.

Setelah merawat ikan lele bersama rekan satu kelompoknya selama sekitar dua bulan, Suaka akhirnya merasakan panen perdana di awal Januari 2026.

Empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun akhirnya dipanen. Dari kolam-kolam sederhana itu, sekitar 700 kilogram ikan lele berhasil dihasilkan. Angka yang mungkin terdengar biasa bagi peternak besar, namun sangat berarti bagi masyarakat pesisir yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut.

Bagi warga Pelapis, panen ini bukan sekadar soal kilogram dan rupiah. Ia menjadi bukti bahwa diversifikasi penghidupan, ternyata bisa diwujudkan. Di tengah cuaca laut yang kian sulit diprediksi, lele-lele di kolam terpal menjadi simbol alternatif, bahkan harapan.

Suaka berdiri di dekat kolam dengan senyum yang sulit disembunyikan. Tangannya sesekali menunjuk ikan-ikan yang bergerak lincah.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujarnya tulus. “Mudah-mudahan dengan adanya budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa jadi tolok ukur bagi kawan-kawan di dua dusun lainnya.”

Perjalanan menuju panen perdana, diakuinya, tidak selalu mulus. Kualitas air yang berubah, risiko penyakit, hingga kekhawatiran ikan mati sempat menghantui. Namun pendampingan rutin dari tenaga lapangan DIB menjadi penopang penting. Air kolam dipantau, pakan diatur agar tidak berlebihan, dan masalah diatasi satu per satu.

“Airnya memang harus dijaga supaya tetap bagus, kadang juga ada timbul penyakit ikan,” cerita Suaka. “Tapi alhamdulillah, di kolam yang kami kelola ini ikan yang sakit cuma satu dua.”

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, yang turut hadir dalam panen perdana itu, memahami betul tantangan di balik keberhasilan tersebut. Mengajak nelayan tangkap mencoba usaha budidaya bukan perkara mudah. Laut sudah menjadi identitas, sekaligus sandaran hidup selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, budi daya ikan tawar di Desa Pelapis ini hasilnya bagus,” ujarnya.

Menurut Mikrad, keberhasilan panen ini membuka peluang besar. Budidaya lele dapat menjadi sumber penghasilan tambahan saat cuaca laut tidak bersahabat. Lebih dari itu, pasarnya sudah jelas. Kawasan Industri Pulau Penebang siap menyerap hasil produksi.

“Kedepannya, produknya bisa diakomodir untuk konsumsi di Penebang,” jelasnya. “Ikan air tawar ini hal yang baru, tapi sekarang anak-anak sudah mau makan ikan air tawar. Produknya diambil untuk Penebang.”

Ia optimistis, jika dikelola dengan serius, usaha yang kini masih bersifat sampingan itu bisa tumbuh menjadi sumber penghasilan utama.

“Kan tidak selalu ke laut karena cuaca,” tambahnya. “Jadi budidaya lele ini bisa jadi penghasilan tambahan. Perekonomian masyarakat bisa meningkat.”

Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Hendra. Mantan Camat Kepulauan Karimata ini mengingatkan bahwa keberhasilan ini adalah awal dari proses panjang.

“Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” katanya memberi motivasi. “Yang penting, kita belajar dan terus maju.”

Ia menilai Pelapis memiliki keunggulan yang belum tentu dimiliki peternak ikan di semua wilayah: kepastian pasar.

“Kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada,” ujarnya merujuk pada KIPP. “Tinggal kesiapan masyarakatnya.”

Ke depan, ia mendorong pengembangan budidaya tidak berhenti pada pembesaran ikan, tetapi juga merambah pembibitan dan pembuatan pakan mandiri. Dengan begitu, rantai nilai ekonomi bisa semakin panjang dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.

Dari sisi perusahaan, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur bisa menyaksikan langsung panen perdana tersebut.

“Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya.

Seno menjelaskan, Seno menjelaskan, program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama pada musim paceklik.

“Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan,” tegasnya. “Kami menjamin hasil panen akan kami serap.”

Sabtu, 10 Januari 2026

KIPP Tingkatkan Kapasitas SDM Kalimantan Barat Lewat Pelatihan Bahasa Mandarin

KIPP Tingkatkan Kapasitas SDM Kalimantan Barat Lewat Pelatihan Bahasa Mandarin
KIPP Tingkatkan Kapasitas SDM Kalimantan Barat Lewat Pelatihan Bahasa Mandarin.
Pontianak, Januari 2026 – Sebanyak 140 peserta yang dinyatakan lolos seleksi Operation Development Program (ODP) akan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) bahasa Mandarin secara intensif selama tiga bulan. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara investor Proyek Strategis Nasional (PSN) di Pulau Penebang, Confucius Institute Universitas Tanjungpura (Untan), dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama (STBHB). Kurikulum pelatihan disusun secara khusus dan aplikatif untuk menjawab kebutuhan industri di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Direktur Confucius Institute Untan, Ina, S.E., M.Ed., dalam acara penandatanganan kesepakatan program pelatihan tersebut menyampaikan bahwa bahasa Mandarin saat ini merupakan salah satu kompetensi utama dalam komunikasi global. Dengan sistem pembelajaran yang terstruktur, ilmiah, serta didukung frekuensi latihan yang proporsional, peserta diharapkan mampu mencapai target keterampilan bahasa Mandarin kejuruan sesuai kebutuhan industri.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan STBHB, Dr. Hartono Azas, S.E., M.B.A., menyampaikan apresiasi kepada pihak swasta yang berinvestasi di Kabupaten Kayong Utara. Ia menilai penguasaan bahasa Mandarin menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi era hilirisasi aluminium yang terhubung dengan mitra internasional, khususnya Tiongkok. Menurutnya, program ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme tenaga kerja sekaligus mendorong terjadinya alih teknologi dan alih pengetahuan kepada putra-putri daerah, terutama dari Kabupaten Kayong Utara.

Government Relations KIPP, Sumarno, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menyiapkan tenaga kerja lokal agar siap bersaing di tingkat global. Menurutnya, penguasaan bahasa asing menjadi kompetensi penting dalam rantai nilai industri yang dijalankan perusahaan. Karena itu, KIPP tidak hanya melakukan rekrutmen, tetapi juga berinvestasi dalam peningkatan kapasitas generasi muda Kalimantan Barat agar mampu tumbuh dan berkembang bersama perusahaan. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh mitra institusi pendidikan yang telah mendukung terselenggaranya program ini.

Selama tiga bulan, seluruh peserta akan mengikuti pelatihan intensif di Pontianak dengan materi bahasa Mandarin dasar hingga menengah, percakapan teknis dan bisnis, pengenalan budaya kerja, serta persiapan ujian standar internasional. Kemampuan peserta ditargetkan setara Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK) tingkat 2 atau HSK tingkat 3 dasar.

Setelah menyelesaikan pelatihan bahasa, peserta akan melanjutkan pelatihan ke Tiongkok untuk mendalami pengoperasian mesin smelter dan refinery atau ditempatkan langsung di Pulau Penebang sebagai operator atau engineer sesuai kebutuhan operasional perusahaan. Peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan masih akan melanjutkan tugas kerja selama sekurang-kurangnya satu setengah hingga dua tahun di posisi yang relevan dengan pelatihan guna memastikan terjadinya alih pengetahuan, kesinambungan kompetensi, serta dampak ekonomi bagi daerah asal peserta.

Program pelatihan bahasa ini melengkapi inisiatif KIPP dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Kalimantan Barat. Pada September 2025, PT Dharma Inti Bersama (DIB) selaku pengelola KIPP memberikan beasiswa kepada 15 mahasiswa asal Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Penerima beasiswa tidak hanya memperoleh bantuan biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup.

Penyerahan beasiswa dilakukan oleh pimpinan PT DIB, Rasnius Pasaribu, dan disaksikan Wakil Bupati Kayong Utara, Amru Chanwari, di Pontianak. “Investasi hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah. Pendidikan menjadi kunci penting dalam memajukan daerah,” ujar Rasnius.

Selasa, 23 Desember 2025

Kisah Empat Anak Muda Desa Pelapis Jadi Sarjana Pertama Hingga Peneliti Laut

Gilang, mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Pontianak asal Desa Pelapis
Gilang, mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Pontianak asal Desa Pelapis.
Pontianak, 23 Desember 2025 - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terbaru yang menunjukkan bahwa Kabupaten Kayong Utara masih berada di peringkat terakhir di Kalimantan Barat. Meski demikian, angka IPM Kayong Utara menunjukkan tren positif. Pada 2025, IPM tercatat sebesar 67,60, meningkat dari 67,05 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa upaya pembangunan sumber daya manusia mulai menunjukkan hasil, sekaligus membuka ruang optimisme bagi masa depan daerah.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari investasi jangka panjang di bidang pendidikan khususnya pada generasi muda yang akan menjadi penggerak kesejahteraan daerah di masa depan. Harapan itu tumbuh hingga ke wilayah pesisir seperti Desa Pelapis, yang terletak di Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. 

Sebagai desa pesisir, Desa Pelapis masih menghadapi keterbatasan akses, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor perikanan dengan penghasilan yang tidak menentu. Akses pendidikan yang tersedia pun masih terbatas hingga jenjang SMP. Kondisi ini membuat pendidikan tinggi kerap terasa sulit dijangkau bagi banyak anak muda di Desa Pelapis sehingga banyak dari mereka yang memilih tidak kuliah dan langsung bekerja demi membantu orang tua. 

Meski begitu, di tengah realitas tersebut tumbuh semangat baru dari generasi muda yang berani melangkah lebih jauh. Mereka adalah Claudia, Tira, Florencia, dan Gilang, putra-putri dari Desa Pelapis yang melihat pendidikan sebagai jalan untuk membawa perubahan positif, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan tempat mereka berasal.

Hadirnya program beasiswa menjadi titik balik dalam perjalanan mereka. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan, tempat tinggal, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para penerima, tetapi juga oleh keluarga mereka. Orang tua dapat bekerja lebih tenang tanpa harus memikirkan biaya kuliah anak-anaknya. Sementara itu, dengan beban finansial yang berkurang, para penerima beasiswa pun dapat lebih fokus belajar dan menata masa depan dengan lebih percaya diri.
Mahasiswa Biologi, Universitas OSO asal Pelapis, Claudia.
Mahasiswa Biologi, Universitas OSO asal Pelapis, Claudia.
Seiring perjalanan perkuliahan, mimpi dan tujuan hidup para penerima beasiswa pun semakin terarah. Bagi Claudia, ketertarikannya pada biologi tumbuh seiring pemahamannya terhadap potensi dan tantangan wilayah pesisir. Ia bercita-cita menjadi peneliti laut dan ingin berkontribusi dalam upaya penyediaan air berkualitas bagi warga Desa Pelapis. “Setelah lama kuliah, pengen jadi peneliti laut di Desa Pelapis karena pengen orang-orang yang tinggal di sana lebih sejahtera,” kata Claudia.
Tira, mahasiswa Akuntansi, Universitas Tanjungpura asal Desa Pelapis.
Tira, mahasiswa Akuntansi, Universitas Tanjungpura asal Desa Pelapis.
Tidak hanya Claudia, Tira pun ingin memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan daerah asalnya. Ia menargetkan berkarir di instansi pemerintah, khususnya di bidang bea cukai, atau di perusahaan multinasional agar memiliki stabilitas karier. Hal tersebut dimulai dari tekadnya untuk menjadi sarjana pertama di keluarganya. “Pengen jadi sarjana yang pertama di keluarga,” ucap Tira.
Florencia, mahasiswa Manajemen Internasional, Universitas Tanjungpura, Florencia.
Florencia, mahasiswa Manajemen Internasional, Universitas Tanjungpura, Florencia.
Mahasiswa Manajemen Internasional, Universitas Tanjungpura, Florencia memandang pendidikan sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Ia bercita-cita melanjutkan studi S2 dan membawa keluarganya merasakan pengalaman jalan-jalan ke luar negeri. “Setelah lulus pengen S2 keluar negeri untuk dapat exposure dan pandangan yang lebih luas. Pokoknya gimanapun caranya harus bisa keluar negeri,” ujarnya. Di masa depan, Florencia juga ingin membangun usaha sendiri sebagai bentuk kemandirian dan peningkatan taraf hidup bagi keluarganya. 
Kisah Empat Anak Muda Desa Pelapis Jadi Sarjana Pertama Hingga Peneliti Laut
Kisah Empat Anak Muda Desa Pelapis Jadi Sarjana Pertama Hingga Peneliti Laut.
Sejalan dengan yang lainnya, kuliah membuka peluang yang lebih besar bagi Gilang. Selama kuliah, mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Pontianak ini semakin menunjukkan ketertarikannya pada dunia teknik sehingga ia bercita-cita menjadi seorang engineer. Di balik target profesional tersebut, Gilang menyimpan tujuan yang sederhana namun bermakna yakni membahagiakan orang tua dan suatu hari dapat memberangkatkan mereka menunaikan ibadah haji. “Cita-cita dari kecil pengen jadi engineer, pengen sukses biar bisa banggain orang tua dan bawa orang tua naik haji,” tuturnya.

Meski memiliki mimpi yang berbeda, keempatnya dipersatukan oleh motivasi yang sama, yaitu membanggakan orang tua, membuka peluang kehidupan yang lebih baik, serta membawa perubahan positif bagi Kayong Utara, khususnya Desa Pelapis. (*)
Mahasiswa asal Desa Pelapis bersama Wakil Bupati Kayong Utara Amru Chanwari dan manajemen PT DIB pada acara penyerahan beasiswa di Pontianak, September lalu.
Mahasiswa asal Desa Pelapis bersama Wakil Bupati Kayong Utara Amru Chanwari dan manajemen PT DIB pada acara penyerahan beasiswa di Pontianak, September lalu.
Program beasiswa dari PT DIB ini merupakan upaya untuk mendukung komitmen pemerintah daerah dalam memajukan dunia pendidikan, termasuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Barat, terutama di Kayong Utara. Sinergi antara sektor swasta dan pemerintah diharapkan dapat memperluas akses pendidikan dan membuka semakin banyak kesempatan bagi putra-putri Desa Pelapis untuk berkembang, membawa perubahan dan menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.

Kamis, 18 Desember 2025

DIB Latih 64 Ibu Pesisir Pelapis Kembangkan Produk Bakso dan Nugget Ikan

DIB Latih 64 Ibu Pesisir Pelapis Kembangkan Produk Bakso dan Nugget Ikan
DIB Latih 64 Ibu Pesisir Pelapis Kembangkan Produk Bakso dan Nugget Ikan.

Pelapis, Kayong Utara, Desember 2025 - Upaya mendorong kemandirian ekonomi perempuan pesisir terus dilakukan di Desa Pelapis, Kecamatan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Sebanyak 64 ibu rumah tangga dari tiga dusun mengikuti pelatihan pengolahan hasil perikanan yang diinisiasi PT Dharma Inti Bersama (DIB), guna meningkatkan keterampilan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Pelatihan ini diikuti peserta dari Dusun Kelawar sebanyak 28 orang, Dusun Jaya 22 orang, dan Dusun Raya 14 orang. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan peserta dari semua dusun di desa Pelapis, yang mencerminkan besarnya minat untuk mengembangkan usaha olahan ikan sebagai sumber pendapatan tambahan keluarga.

Kegiatan pelatihan dipandu oleh tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan didukung tim CSR DIB yang aktif mendampingi program pemberdayaan masyarakat di Desa Pelapis. Berdasarkan evaluasi pasca pelatihan, para peserta dinilai telah mampu menghasilkan produk olahan ikan dengan kualitas yang baik, mulai dari bentuk, tekstur, hingga cita rasa, serta memenuhi standar mutu.
DIB Latih 64 Ibu Pesisir Pelapis Kembangkan Produk Bakso dan Nugget Ikan
DIB Latih 64 Ibu Pesisir Pelapis Kembangkan Produk Bakso dan Nugget Ikan.
Program ini merupakan hasil kolaborasi PT DIB dengan Pemerintah Desa Pelapis dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat sesuai karakter wilayah pesisir. Seluruh produk hasil pelatihan telah memiliki jaminan pasar dan akan diserap oleh proyek Penebang yang tengah berjalan. Meski demikian, peluang pemasaran ke segmen yang lebih luas tetap terbuka dan akan dikembangkan secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi dan kelengkapan perizinan.

Produk utama yang dikembangkan dalam pelatihan ini meliputi bakso ikan dan nugget ikan. Selain pelatihan teknis pengolahan, peserta juga mendapatkan pembekalan terkait pengemasan produk, penerapan sanitasi dan higienitas produksi, serta perhitungan modal dan biaya usaha untuk memperkuat pemahaman aspek bisnis.

External Relation Manager PT Dharma Inti Bersama, Seno Ario Wibowo, mengatakan perusahaan berkomitmen mendukung peningkatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. “Sebagai pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang, kami ingin memastikan masyarakat pesisir, khususnya keluarga nelayan, memiliki sumber pendapatan tambahan di luar musim tangkap,” ujarnya.

Ia menambahkan, produk olahan yang dihasilkan saat ini telah mengantongi sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan tengah dalam proses pengurusan perizinan lanjutan. “Prioritas kami adalah sertifikasi halal. Selanjutnya, pengajuan izin BPOM direncanakan pada 2026 agar produk dapat dipasarkan lebih luas dan memenuhi standar keamanan pangan,” pungkasnya.

Jumat, 12 Desember 2025

Talenta Insinyur Muda Kalimantan Barat Menjemput Peluang dari Pulau Penebang

Talenta Insinyur Muda Kalimantan Barat Menjemput Peluang dari Pulau Penebang
Talenta Insinyur Muda Kalimantan Barat Menjemput Peluang dari Pulau Penebang.
Pontianak, 12 Desember 2025 - Menjadi provinsi dengan luas terbesar kedua di Indonesia, serta potensi kekayaan alam yang dimiliki menjadikan Kalimantan Barat memiliki peluang dan tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana putra daerah dapat terlibat dan berkontribusi dalam proses pembangunan dan pemanfaatan potensi yang dimiliki. Saat ini sesuai dengan Permenko No. 16/2025, terdapat sembilan kawasan industri di Pulau Kalimantan yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Empat diantaranya berada di Kalimantan Barat.

Kondisi ini menunjukan bahwa saat ini dan kedepan pembangunan di Kalbar akan berjalan sangat masif. Pembangunan PSN dan beberapa proyek strategis pemerintah provinsi Kalbar tentu akan membutuhkan sumber daya manusia (SDM) dengan berlatar ilmu dan kemampuan di bidang teknik. Kebutuhan insinyur dari berbagai spesialisasi akan meningkat.

Merespon tantangan dan kebutuhan ini, PT Dharma Inti Bersama sebagai pengelola Kawasan Industri Penebang (KIPP) salah satu PSN di Kalimantan Barat melakukan program Operations Development Program (ODP). Program ini adalah bentuk inisiatif, perhatian dan kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan SDM di Kalimantan Barat. Dengan keyakinan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi, talenta dan tenaga muda yang perlu didukung dan diberi kesempatan, kegiatan ODP ini menjadi bukti peran positif swasta terhadap pembangunan SDM daerah, tidak semata pembangunan fisik semata namun juga SDM yang akan membangunnya.
Talenta Insinyur Muda Kalimantan Barat Menjemput Peluang dari Pulau Penebang
Talenta Insinyur Muda Kalimantan Barat Menjemput Peluang dari Pulau Penebang.
Operations Development Program (ODP) dilakukan DIB sebagai upaya perusahan untuk memprioritaskan dan memaksimalkan penyerapan tenaga kerja asli Kalimantan Barat. Di KIPP serapan tenaga kerja lokal menjadi prioritas. Kehadiran KIPP tidak hanya membangun industri, tetapi juga membuka peluang bagi putra-putri daerah untuk maju dan bersama membangun daerah serta  meningkatkan kesejahteraan keluarga. ODP berlangsung pada awal Desember 2025, bertempat di Ruang Conference Universitas Tanjungpura (Untan), acara ini mampu mengumpulkan ratusan kandidat putra daerah dari berbagai kabupaten untuk selanjutnya akan mendapatkan pembekalan intensif berupa penguatan leadership, technical skill, hingga exposure ke praktik industri modern. Tidak hanya itu, program ini juga membuka kesempatan bagi peserta untuk memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, seperti Tiongkok.

Antusiasme para peserta yang hadir saat Walk-in Interview ODP terlihat dari jumlah peserta yang hadir, namun juga dari cerita yang disampaikan dalam proses wawancara. Tidak hanya sekedar membawa CV, peserta yang hadir juga menunjukan tekad dan semangat untuk ambil bagian dalam pembangunan tanah kelahirannya. Bagi mereka, ODP yang dilakukan DIB bukan sekadar event. Ini adalah peluang untuk menjadi engineer muda di industri besar.

Di antara pelamar, ada yang menempuh perjalanan panjang, naik kapal berjam-jam demi mengikuti proses rekrutmen. Beberapa di antara mereka bahkan sudah mencoba melamar berkali-kali sebelum akhirnya lolos seleksi.

“Program ini bisa mewujudkan mimpi saya sebagai seorang engineer. Saya berharap dapat mengembangkan karier di KIPP. Melalui ODP ini, para fresh graduate seperti saya punya kesempatan dan dipersiapkan untuk bersaing serta membangun jalur karir yang lebih jelas kedepannya,” ucap Robin, salah satu pelamar asal Kayong Utara.

Saat ini, 69 persen tenaga kerja yang terserap di KIPP adalah pekerja yang berasal dari Kalimantan Barat, dan angka akan terus diupayakan untuk meningkat. Dengan semakin banyak tenaga kerja setempat yang terserap, diharapkan menimbulkan multiplier effect bagi Kabupaten Kayong Utara, sehingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kayong Utara terus meningkat.

Kamis, 20 November 2025

DIB Salurkan Lampu Celup untuk Dongkrak Hasil Nelayan Pelapis

DIB Salurkan Lampu Celup untuk Dongkrak Hasil Nelayan Pelapis
DIB Salurkan Lampu Celup untuk Dongkrak Hasil Nelayan Pelapis.
Sukadana (Borneo Tribun) — Di tengah musim tangkap ikan yang menjadi periode paling dinantikan nelayan kelong di Desa Pelapis, PT Dharma Inti Bersama (PT DIB) menyalurkan bantuan puluhan unit lampu celup bawah air kepada sekitar 130 nelayan. Bantuan ini diyakini mampu meningkatkan efektivitas penangkapan ikan dan cumi di perairan Kepulauan Karimata.

Momentum penyerahan bantuan ini menjadi sangat tepat, karena nelayan Desa Pelapis tengah memasuki musim puncak penangkapan ikan, di mana aktivitas di kelong meningkat tajam. Pada periode ini, keberhasilan menangkap ikan sangat ditentukan oleh kelengkapan alat tangkap, termasuk pencahayaan yang memadai untuk menarik gerombolan ikan berkumpul di sekitar kelong.

Lampu celup, alat bantu cahaya bawah air, kini menjadi teknologi yang semakin banyak digunakan oleh nelayan di berbagai daerah. Beberapa nelayan dampingan CSR PT DIB yang telah lebih dulu mencobanya melaporkan kenaikan hasil tangkapan yang cukup signifikan, terutama pada ikan teri dan cumi-cumi, dua komoditas utama nelayan kelong di Desa Pelapis.
DIB Salurkan Lampu Celup untuk Dongkrak Hasil Nelayan Pelapis
DIB Salurkan Lampu Celup untuk Dongkrak Hasil Nelayan Pelapis.
Lampu celup diterima sekitar 130 orang nelayan dari tiga dusun, yakni Dusun Raya, Dusun Jaya, dan Dusun Kelawar. Para nelayan yang hadir menyambut bantuan ini dengan antusias, mengingat alat ini langsung dapat digunakan dalam musim tangkap yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun mendatang.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kecamatan Kepulauan Karimata, Saruji, turut menyampaikan apresiasi atas inisiatif PT DIB.

“Kami dari Kecamatan Pulau Karimata mengucapkan terima kasih kepada DIB atas bantuan lampu celup ini. Semoga alat ini membantu meningkatkan hasil tangkap nelayan di kelong. Sekarang awal musim kelong dan beberapa masyarakat sudah mulai dapat hasil. Mudah-mudahan dengan lampu celup, hasilnya bisa lebih banyak lagi,” ujarnya.

Para nelayan juga merasakan manfaat awal dari teknologi ini. Tomo, nelayan setempat, mengatakan lampu celup memberikan peluang lebih besar untuk meningkatkan hasil pada musim yang hanya datang sekali setahun.

“Banyaknya hasil tangkapan tergantung banyak hal. Tapi kalau alat lengkap dan tempatnya pas, bisa lebih maksimal. Saya lihat kelong teman yang sudah pakai lampu celup, ikan teri langsung berputar mengelilinginya. Harapannya, ikan makin banyak masuk setelah pakai alat ini,” tuturnya. 

External Relation Manager PT DIB, Seno Ario Wibowo, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari CSR Bidang Ekonomi yang ditujukan untuk mendukung optimalisasi perikanan tangkap masyarakat pesisir.

“Bantuan lampu celup ini kami berikan agar nelayan bisa memanfaatkan musim tangkap secara maksimal. PT DIB berkomitmen mendukung peningkatan ekonomi masyarakat Pelapis melalui alat tangkap yang efektif dan ramah lingkungan. Kami berharap manfaatnya bisa dirasakan langsung pada musim ini,” kata Seno.

Menurutnya, program ini tidak hanya berhenti pada distribusi alat, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan teknis dan monitoring penggunaan, agar alat dapat bekerja optimal dan memberikan hasil yang konsisten bagi nelayan.

Program optimalisasi perikanan tangkap ini, yang dilengkapi dengan pengembangan budidaya ikan air tawar melalui kolam akuaponik serta kegiatan pengolahan hasil laut oleh kelompok ibu-ibu di Desa Pelapis, merupakan bagian dari program CSR PT DIB. Inisiatif ini menjadi wujud sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat perekonomian di Kayong Utara, khususnya di Desa Pelapis.  ***

Momentum Harkesnas, PT CMI Ketapang Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis di Dua Kecamatan

Momentum Harkesnas, PT CMI Ketapang Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis di Dua Kecamatan
Momentum Harkesnas, PT CMI Ketapang Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis di Dua Kecamatan.

Ketapang – Memperingati Hari Kesehatan Nasional (Harkesnas) yang jatuh pada 12 November, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CMI) mengadakan kegiatan sosial berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional tambang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (10/11) di Kantor Desa Karya Baru, Kecamatan Air Upas, dan Kamis (13/11) di SDN 08 Sandai, Kecamatan Sandai. Program tersebut menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.

Dalam pelaksanaannya, PT CMI menghadirkan tenaga medis perusahaan dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dari Puskesmas Marau dan Puskesmas Sandai. Berbagai layanan kesehatan dasar disediakan, mulai dari pengecekan berat badan, tekanan darah, gula darah, asam urat, kolesterol, hingga pemeriksaan kehamilan oleh bidan. Seluruh layanan diberikan secara gratis sebagai bentuk deteksi dini berbagai gangguan kesehatan.

Selain pemeriksaan kesehatan, Puskesmas Marau turut memberikan edukasi mengenai pencegahan hipertensi dan kanker mulut rahim. Sementara itu, Puskesmas Sandai melakukan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk siswa-siswi SDN 08 Sandai.

Kepala Puskesmas Marau, Silus, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu masyarakat di wilayahnya.

“Dengan adanya kegiatan ini, sasaran kami dapat terpenuhi. Masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis,” ujarnya.

Momentum Harkesnas, PT CMI Ketapang Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis di Dua Kecamatan
Momentum Harkesnas, PT CMI Ketapang Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis di Dua Kecamatan.

Sebagai bentuk apresiasi, peserta yang hadir juga berkesempatan memperoleh doorprize melalui sistem undian. Antusiasme warga terlihat dari tingginya partisipasi, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan serta memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Dokter perusahaan, dr. Marhara S.I.P. Pasaribu, mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan pemeriksaan, pengobatan gratis, dan edukasi PHBS dapat berjalan dengan baik. Ia juga memaparkan hasil temuan layanan kesehatan tersebut.

“Dari total 225 peserta, penyakit tertinggi adalah kolesterol dengan 64 kasus, diikuti ISPA sebanyak 38 kasus, hipertensi 37 kasus, dan asam urat 23 kasus. Kami juga menemukan empat anak dengan kondisi gizi kurang yang langsung diberikan terapi kuratif serta edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan, baik penyakit menular maupun tidak menular. Dominasi kasus kolesterol, hipertensi, dan asam urat mengindikasikan pentingnya pola hidup sehat, sementara ISPA menegaskan perlunya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kondisi gizi kurang pada anak juga menjadi perhatian khusus bagi pihak kesehatan.

Kepala Desa Karya Baru, Budi Arman, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Kegiatan PT CMI sangat membantu masyarakat di desa kami, terutama karena selama ini mereka harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengobatan gratis tersebut sangat bermanfaat bagi warganya.
“Masyarakat sangat antusias karena pelayanan ini memudahkan mereka untuk berobat tanpa harus pergi ke kecamatan,” tambahnya.

Sementara itu, Pjs Site Manager Sandai, Wildan S. Romadhon, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

“Melalui kegiatan ini, PT CMI tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatan. Semoga kegiatan ini memberi manfaat besar bagi masyarakat dan menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi peningkatan derajat kesehatan di lingkungan pertambangan,” tuturnya.

Rabu, 10 September 2025

Evaluasi Perbaikan Jalan Peku, Bupati Ketapang Sebut Masih Ada Perusahaan yang Belum Komitmen

Alexander Wilyo bersama dengan Kadis PUPR Deneri saat melihat progres pekerjaan ruas jalan Pelang Kepuluk (istimewa).
Ketapang - Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyebut salah satu perusahaan di Ketapang belum memenuhi komitmenya  untuk gotong royong membantu memperbaiki ruas jalan Peku (Pelang Kepuluk) Batu Tajam. 

Bupati Alex pun mengingatkan soal kesepakatan yang sudah dibuat Pemda Ketapang sebelumnya di Jakarta bersama dengan petinggi perusahaan itu untuk dijalankan. 

Alex mengingatkan agar proses pekerjaan dipercepat, mengingat saat ini sedang masuk musim penghujan sehingga dikhawatirkan mengganggu proses pekerjaan jalan tersebut..

"Harapan saya mereka serius, konsisten dan komitmen, dengan kesepakatan yang kita buat di Jakarta," kata Alexander Wilyo, dikutip dari sorot10, Rabu (10/09/2025).

Berdasar penjelasan yang dirinya peroleh, perusahaan yang dimaksud itu saat ini sedang dalam proses tender guna melaksanakan pekerjaan perbaikan jalan Peku Batu Tajam. 

"Informasi yang saya terima, saat ini mereka proses tender, semoga saja bisa dipercepat," ujarnya. 

Dirinya mengaku tak sungkan akan melakukan upaya lain terhadap perusahaan tersebut jikalau komitmen tidak dijalankan. 

"Kita akan lakukan langkah-langkah,  upaya lain, nanti saya akan minta pendapat dengan Forkopimda, pak Kapolres, pak Kajari dan pak Dandim untuk menyikapi hal ini," tegas Bupati. 

Bupati Alex menjelaskan, ruas jalan Pelang Kepuluk Batu Tajam dibagi dalam tujuh segmen. 

Saat ini, 6 segmen sedang dalam pengerjaan oleh pihak perusahaan yakni BGA grup, Cargil grup, Sinar Mas grup, FR Grup, Nova grup dan CMI grup.

Sementara segmen 7 yang menjadi komitmen yang dikerjakan oleh grup Harita sampai sekarang belum dikerjakan. 

"Segmen 1 dikerjakan oleh PT Nova Segmen 2 BGA Grup, kemudian segmen 3 CMI grup, segmen 4 Sinar Mas grup, segmen 5 Cargill grup, segmen 6 FR grup dan segmen 7 perusahaan yang tidak masuk dalam grup," kata Alex. 

Diketahui, Bupati Ketapang sedang fokus memperbaiki jalan Peku sampai Batu Tajam. Salah satu caranya mengajak perusahaan swasta memakai dana CSR. 

Dalam surat edaran yang ditekenya dan beredar kepada beberapa perusahaan swasta, Alex menyampaikan, hal tersebut sebagai salah satu ikhtiar pihaknya menanggulangi persoalan infrastruktur di Ketapang. 

"Sebagai Bupati Ketapang, saya meminta agar perusahaan yang ada di Ketapang bisa memberikan dukungan tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap perbaikan kerusakan ruas jalan di Ketapang," kata Alex. 

Rencana aksipun dilakukan dengan mengundang perusahaan rapat di kantor Bupati.

Dan, munculah kesepakatan pembagian segmen pekerjaan kepada beberapa perusahaan, salah satunya PT Harita grup. Namun sampai sekarang, perusahaan itu belum merealisasikan kesepakatan yang dibuat. Hal inilah yang membuat bupati geram. 

Penulis: Muzahidin