![]() |
| Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. |
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dipastikan tidak akan menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan ini. Keputusan itu diumumkan langsung oleh pihak penyelenggara pada Senin, dan disebut sebagai langkah yang “tidak tepat” di tengah situasi memprihatinkan di Iran.
Padahal sebelumnya, Araghchi sudah dijadwalkan menjadi pembicara pada Selasa dalam ajang tahunan yang biasanya dihadiri para pemimpin dunia, pengusaha besar, dan elite global tersebut.
Namun rencana itu berubah drastis. Sejumlah aktivis dan kelompok HAM mendesak WEF agar membatalkan kehadiran Menlu Iran, menyusul aksi keras aparat keamanan terhadap demonstran yang oleh kelompok hak asasi manusia disebut sebagai pembantaian.
Melalui akun resminya di X, World Economic Forum menegaskan bahwa Menlu Iran tidak jadi datang ke Davos. WEF menjelaskan, meski undangan telah dikirim sejak musim gugur tahun lalu, tewasnya banyak warga sipil Iran dalam beberapa pekan terakhir membuat kehadiran pemerintah Iran di Davos dinilai tidak pantas tahun ini.
Gelombang protes di Iran sendiri pecah sejak akhir Desember. Aksi ini dipicu oleh kemarahan publik atas tekanan ekonomi yang semakin berat dan dengan cepat berkembang menjadi tantangan serius bagi kepemimpinan Iran, yang disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Unjuk rasa tersebut akhirnya mereda setelah pemerintah melakukan penindakan besar-besaran, termasuk pemutusan komunikasi nasional yang dimulai pada 8 Januari.
Organisasi Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan telah memverifikasi 3.428 demonstran tewas akibat tindakan aparat keamanan. Data tersebut diklaim diperoleh dari sumber internal sistem kesehatan Iran, saksi mata, serta sumber independen lainnya.
Meski begitu, organisasi tersebut memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Hingga kini, media internasional belum bisa mengonfirmasi angka tersebut secara independen, sementara pemerintah Iran juga belum merilis data resmi mengenai total korban jiwa.
Situasi ini membuat Iran kembali menjadi sorotan dunia internasional, dan absennya Menlu Iran di Davos menjadi simbol kuat meningkatnya tekanan global terhadap Teheran.
