Bulan Sya’ban selalu datang tanpa ribut. Ia tidak membawa beduk, tidak pula poster jadwal imsak. Ia hanya menyelip di antara Rajab dan Ramadhan. Ramai kaum Muslim menyambut Sya’ban dengan penuh suka cita. Kali ini kita bahas seperti apa umat Islam menyambut bulan pintu gerbang puasa ini sambil seruput Koptagul, wak!
Dalam tradisi umat Islam, Sya’ban bukan bulan kosong. Ia diisi dengan puasa sunnah yang lebih sering, doa dan istighfar yang lebih panjang, zikir yang lebih pelan tapi dalam, serta bacaan Alquran yang mulai didekatkan kembali ke dada. Rasulullah sendiri memperbanyak puasa di bulan ini, seakan ingin memberi teladan, sebelum Ramadaan menguji ketahanan, Sya’ban lebih dulu menguji kesungguhan.
Ada satu malam yang membuat Sya’ban terasa lebih bercahaya, malam pertengahannya. Nisfu Sya’ban dipahami banyak kaum muslim sebagai waktu melimpahnya ampunan, saat doa-doa dipanjatkan dengan harap yang lebih jujur. Di masjid dan musholla, orang-orang berkumpul. Ada yang salat sunnah, ada yang membaca Alquran, ada yang hanya duduk menunduk, mengulang istighfar yang sama berkali-kali. Tidak ada tuntutan bentuk, yang penting hati hadir.
Tradisi Sya’ban di Indonesia tidak berhenti pada ruwahan di Jawa atau Sya’banan di Sambas. Di berbagai daerah, bulan ini disambut dengan cara yang berbeda namun satu rasa. Di Sumatera Barat ada balimau, mandi air limau di sungai sebagai simbol penyucian diri sebelum Ramadan. Di Banten dikenal munggahan, makan bersama keluarga dan masyarakat disertai doa dan ziarah kubur. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, nyadran atau ruwahan menjadi momentum ziarah massal, doa, dan sedekah makanan. Di Madura ada nyekar, menabur bunga dan kenduri untuk mendoakan leluhur. Di Aceh, masyarakat menggelar khanduri nisfu Sya’ban di meunasah dengan doa dan pembacaan Alquran. Sementara di tanah Sunda, malam pertengahan Sya’ban diisi Yasinan, tahlil, dan sedekah. Semua tradisi itu, meski berbeda rupa, berujung pada satu makna yang sama: membersihkan diri, merawat ingatan, dan menyiapkan hati sebelum Ramadan datang.
Khusu daerah saya, Kabupaten Sambas, Kalbar, Sya’ban terasa paling nyata justru dari dapur-dapur rumah warga. Orang-orang berlomba memberi makan. Pemuka agama dan jamaah masjid digilir, malam demi malam, dari satu rumah ke rumah lain. Mereka datang, makan bersama, lalu mendoakan tuan rumah. Tidak ada permintaan selain satu, keberkahan Sya’ban.
Di titik ini, Sya’ban tidak lagi sekadar bulan persiapan, tetapi praktik iman yang hidup. Puasa sunnah melatih diri menahan, sedekah makanan melatih diri memberi. Bacaan Alquran membersihkan batin, sementara silaturahmi membersihkan hubungan antarmanusia. Sya’ban menjadi ruang muhasabah, melunasi utang puasa, memaafkan yang lama disimpan, dan menata ulang niat agar Ramadan tidak disambut dengan hati yang berat.
Sebelum Ramadan datang dengan segala kemegahannya, Sya’ban kembali berbisik, siapkan hatimu, bukan hanya jadwalmu.
Sya’ban jembatan menuju puasa,
tempat jiwa belajar menata rasa.
Dosa disapu, dendam dilepasa,
agar Ramadan disambut bahagia.
Maka, bersuka cita menyambut Sya’ban bukan soal euforia. Ia tentang kesadaran. Tentang memberi makan sebelum menahan lapar. Tentang memohon ampun sebelum meminta pahala. Tentang memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia sebelum bulan suci mengetuk pintu.
Pesan terbesar bulan Sya’ban bukan terletak pada banyaknya ritual, melainkan pada kesungguhan menata hati sebelum Ramadan tiba. Bulan ini mengajarkan, ibadah tidak hanya soal hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga keberanian membersihkan dendam, memperbaiki relasi, memberi makan sebelum menahan lapar, dan memohon ampun sebelum meminta pahala. Sya’ban adalah undangan sunyi agar setiap muslim datang ke Ramadan dengan jiwa yang lebih ringan, niat yang lebih lurus, dan kepedulian yang lebih hidup, karena puasa yang paling sulit bukan menahan lapar, melainkan menahan ego.
Foto Ai hanya ilustrasi
Penulis:
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM