Baru saja kita ngerumpikan Noel yang ngaku "gembong korupsi" eh sorenya udah ada ketangkap lagi. Kali ini Walkot Madiun, Maidi, tak berkutik di-OTT KPK lalu digelandang ke Jakarta. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Mari berdiri sejenak dan bertepuk tangan. Tidak semua orang bisa menjalani hidup sehalus brosur kampus dan seindah taman kota. Maidi adalah contoh sempurna buah unggulan republik. Kalau dikasih gelar Dr. Drs. H. Maidi, S.H., M.M., M.Pd. Beliau dari guru SMA menjadi wali kota dua periode. Dari kapur tulis ke kapling tanah. Dari ruang kelas ke ruang rapat anggaran. Sebuah kisah sukses yang kalau dijadikan buku motivasi, orang malas pun mendadak rajin bangun pagi.
Ia lahir di Plaosan, Magetan, 12 Mei 1961. Bukan anak pejabat, bukan pula pewaris konglomerat. Tapi tekun, akademis, dan rajin mengoleksi gelar. Riwayat pendidikannya panjang seperti daftar menu prasmanan: IKIP Surabaya, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Satyagama, Universitas PGRI Adi Buana, hingga Universitas Terbuka. Gelar berderet rapi. CV bersih. Baliho kinclong. Ia tampak seperti buah impor super premium, mengilap, tanpa cacat, dipajang di etalase kekuasaan.
Lalu datanglah Gerindra, partai besar dengan mesin politik yang tahu betul cara memilih buah matang. Maidi diusung, dipoles, dipasarkan. Pilkada 2018 dimenangkannya. Pilkada 2024 dimenangkannya lagi bersama Bagus Panuntun. Dua periode. Dua kali panen. Koalisi gemuk. Mesin partai bekerja sempurna. Rakyat diyakinkan bahwa inilah buah terbaik dari kebun politik nasional.
Harta kekayaannya tercatat rapi, Rp18,4 miliar, mayoritas tanah dan bangunan. Ia bukan sekadar wali kota, ia wali kebun. Kebun aset. Kebun properti. Kebun masa depan. Semua tampak sah, halal, dan patuh laporan. Kota Madiun dipercantik. Taman-taman tumbuh. Lampu LED menyala. Air mancur menari. Kota tampil seperti katalog wisata versi APBD. Maidi dipuja, dielu-elukan, dijadikan simbol keberhasilan pembangunan daerah. Buah manis reformasi lokal, kata mereka.
Namun buah yang terlalu sering dipuji, sering lupa diperiksa baunya. Pada 19 Januari 2026, KPK datang ke Madiun bukan membawa karangan bunga, melainkan surat tugas. Bukan untuk studi banding, melainkan operasi tangkap tangan. Lima belas orang diamankan. Sembilan di antaranya, termasuk sang wali kota, langsung diboyong ke Jakarta. Barang buktinya bukan transfer digital, bukan QRIS, bukan dompet elektronik. Uang tunai. Ratusan juta rupiah. Cash. Di era kecerdasan buatan, korupsinya masih analog, romantis, dan bau kertasnya tajam seperti buah busuk yang baru dibelah.
Kasusnya dugaan suap fee proyek dan penyalahgunaan dana CSR. Dana yang seharusnya menjadi vitamin sosial bagi masyarakat justru diduga berubah menjadi sari manis kekuasaan. CSR tidak lagi berarti tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan celengan sementara bagi mereka yang sedang berkuasa. Fee proyek bukan lagi transparansi, melainkan uang lelah yang membuat rakyat ikut lelah.
Yang membuat perut pembaca mual adalah waktunya. Maidi baru sebulan menjabat periode kedua. Belum sempat mengganti pot bunga, belum sempat menandatangani banyak proyek, belum sempat berpose lama dengan senyum jabatan baru. Tahu-tahu sudah berpose di depan penyidik KPK. Periode kedua yang seharusnya menjadi puncak kematangan, malah busuk sebelum sempat benar-benar matang.
Gerindra kini mau tak mau harus bercermin. Buah yang mereka rawat, banggakan, dan jual ke publik sebagai simbol keberhasilan kaderisasi, ternyata menyimpan pembusukan dari dalam. Apakah ini kecelakaan politik atau sekadar panen dari kebun yang salah urus, rakyat tak lagi tertarik bertanya. Mereka sudah hafal polanya. Yang berubah hanya nama, partai, dan jumlah nol di amplop.
Seperti biasa, partai akan berkata ini urusan pribadi. Seolah Maidi adalah buah liar yang jatuh sendiri dari pohon, bukan hasil pupuk sistem, air kekuasaan, dan sinar politik yang sama. Padahal publik tahu, busuk jarang datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, diam-diam, di balik kulit yang mengilap.
Mungkin kelak Maidi bisa menulis memoar dari balik jeruji, menceritakan perjalanannya dari kebun Gerindra ke Gedung Merah Putih. Atau membangun taman kecil di tahanan, lengkap dengan papan peringatan agar siapa pun yang lewat ingat bahwa kekuasaan tanpa integritas hanya akan menghasilkan buah busuk.
Di negeri ini, membangun taman kota memang mudah. Tinggal anggaran dan kontraktor. Tapi membangun moral, itu sering gagal panen. Dan rakyat, yang sejak lama dijejali buah-buah kekuasaan, kini sudah muak. Mereka tidak lagi meminta yang manis. Mereka hanya berharap, jangan lagi disuguhkan yang busuk.
Foto Ai hanya ilustrasi
Penulis:
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM