![]() |
| Sindiran Halus dari Davos: Meta Dinilai Salah Lepas Yann LeCun, Godfather AI. |
Panggung World Economic Forum (WEF) di Davos pekan lalu mendadak panas, bukan karena debat politik atau ekonomi global, melainkan karena pernyataan tajam soal masa depan kecerdasan buatan (AI).
CEO Anthropic, Dario Amodei, memang tidak menyebut nama Mark Zuckerberg secara langsung. Tapi pesan yang ia sampaikan nyaris mustahil disalahartikan. Di hadapan para pemimpin dunia, Amodei membandingkan perusahaan AI yang dipimpin ilmuwan dengan perusahaan teknologi yang dikendalikan “generasi pengusaha media sosial”.
Timing-nya terasa pas—bahkan terlalu pas. Hanya beberapa minggu sebelumnya, Yann LeCun, peraih Turing Award dan sosok yang kerap dijuluki godfather of deep learning, resmi meninggalkan Meta setelah dikabarkan bersitegang dengan Zuckerberg soal arah pengembangan AI.
Ilmuwan vs Pengusaha: Dua Cara Pandang yang Berbeda
Dalam sesi bertajuk “The Day After AGI”, Amodei menekankan bahwa para ilmuwan punya tradisi panjang dalam memikirkan dampak teknologi yang mereka ciptakan.
“Ada tradisi ilmuwan yang merasa bertanggung jawab atas teknologi yang mereka bangun, bukan lari dari tanggung jawab,” ujar Amodei.
Ia lalu membandingkannya dengan era media sosial, di mana teknologi tumbuh cepat, mengejar skala besar, sementara dampak negatifnya sering “dirapikan belakangan”. Menurut Amodei, perbedaan cara berinteraksi—bahkan sampai ke level memanipulasi konsumen—melahirkan sikap yang sangat berbeda dalam membangun teknologi.
Pesannya jelas: pendiri berlatar belakang ilmuwan cenderung lebih berhati-hati, sementara pengusaha media sosial fokus pada pertumbuhan cepat.
Retaknya Hubungan LeCun dan Meta
Yann LeCun bukan figur sembarangan. Lebih dari satu dekade, ia membangun FAIR (Facebook AI Research), laboratorium riset AI Meta. Namun visinya tentang “world models”—AI yang memahami realitas fisik, bukan sekadar teks—tidak sejalan dengan dorongan Zuckerberg yang ingin Meta fokus penuh pada large language models (LLM).
Ketegangan memuncak setelah Llama 4 gagal bersinar pada April 2025, bahkan diterpa tuduhan manipulasi benchmark. Kepercayaan Zuckerberg terhadap tim riset pun dikabarkan menurun.
Situasi makin sensitif ketika Meta merekrut Alexandr Wang, pendiri Scale AI berusia 28 tahun, lewat kesepakatan fantastis senilai sekitar Rp240 triliun. Wang kemudian menjadi atasan langsung LeCun.
Bagi LeCun, itu batas terakhir.
“Anda tidak bisa memberi tahu peneliti apa yang harus dilakukan. Apalagi peneliti seperti saya,” kata LeCun kepada Financial Times setelah hengkang pada November.
Babak Baru: AMI Labs dan Harapan Eropa
Kini, LeCun memulai lembaran baru dengan mendirikan AMI Labs di Paris. Ia kembali mengejar riset world model berbasis open-source, didukung investor Eropa yang melihat peluang besar untuk menghadirkan alternatif serius di tengah dominasi raksasa AI Amerika Serikat dan China.
Putusan Diam-Diam dari Davos
Ucapan Amodei di Davos terdengar tenang, tapi sarat makna. Tanpa menyebut Meta atau Zuckerberg, ia seperti menjatuhkan vonis halus: melepaskan Yann LeCun adalah kesalahan besar.
Dalam dunia AI yang bergerak cepat dan penuh risiko, pesan ini terasa relevan bagi semua pemain teknologi bahwa kehilangan satu ilmuwan visioner bisa berarti kehilangan arah masa depan.
