![]() |
| Tumpul di Depan Gawang, Tottenham Bikin Thomas Frank Geram Saat Kembali ke Markas Brentford. |
JAKARTA - Tottenham Hotspur pulang tanpa gol saat bertandang ke markas Brentford. Laga yang digelar di Gtech Community Stadium, Kamis waktu setempat, berakhir dengan skor kacamata 0-0. Hasil ini membuat pelatih Spurs, Thomas Frank, kembali meluapkan rasa frustrasinya, terutama soal performa timnya di lini serang.
Pertandingan ini terasa spesial bagi Frank karena menjadi momen pertamanya kembali ke Brentford sejak meninggalkan klub tersebut. Sambutan hangat dari publik tuan rumah memang membuatnya tersenyum di awal, namun semuanya berubah setelah peluit tanda laga dimulai.
Dalam gaya khasnya yang blak-blakan, Frank menilai Tottenham masih belum cukup tajam untuk mencetak gol. Menurutnya, masalah utama ada pada kreativitas dan banyaknya kesalahan sendiri yang seharusnya bisa dihindari.
“Rasanya sangat menyenangkan dan spesial bisa kembali ke sini. Sambutannya luar biasa,” ujar Frank.
“Tapi begitu pertandingan dimulai, semuanya soal bisnis. Kami ingin menang. Sayangnya, kami tidak menciptakan peluang yang cukup.”
Sepanjang laga, Spurs memang kesulitan menembus pertahanan rapat Brentford. Peluang terbaik Tottenham datang di menit-menit akhir melalui Richarlison, namun sepakan penyerang asal Brasil itu masih terlalu lemah dan mudah diamankan kiper tuan rumah.
Di sisi lain, Brentford sebenarnya sempat membuat pendukungnya bersorak saat Kevin Schade mencetak gol cepat di menit kelima. Sayangnya, gol tersebut dianulir karena offside. Setelah itu, peluang juga sempat dimiliki Keane Lewis-Potter, Vitaly Janelt, dan Igor Thiago, namun tak satu pun berbuah gol.
Secara keseluruhan, pertandingan ini minim hiburan. Bahkan, laga ini tercatat sebagai salah satu dari sangat sedikit pertandingan Premier League musim ini yang nyaris tanpa peluang emas. Sebuah duel yang membuat penonton harus ekstra sabar.
Frank mengakui timnya cukup solid dalam bertahan. Brentford hanya mampu melepaskan tujuh tembakan sepanjang laga, sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, menurutnya, itu belum cukup.
“Kami berhasil mengatasi separuh tantangan karena Brentford sangat kuat saat bermain di kandang. Mereka hanya punya tujuh tembakan, dan itu bagus,” lanjut Frank.
“Tapi di sisi lain, kesalahan-kesalahan tanpa tekanan hari ini terlalu banyak. Itu yang membuat kami tidak berkembang.”
Absennya Brennan Johnson juga menjadi sorotan. Pemain timnas Wales itu tidak masuk dalam skuad pertandingan karena disebut-sebut sedang menyelesaikan proses kepindahan ke Crystal Palace. Nilai transfernya kabarnya mencapai sekitar Rp700 miliar.
Johnson sendiri bukan sosok asing bagi Tottenham. Ia telah mencatatkan lebih dari 100 penampilan di semua kompetisi, mencetak 27 gol, termasuk gol penentu di final Liga Europa, serta menyumbang 14 assist.
“Sepertinya memang sudah cukup dekat. Itu saja yang bisa saya katakan,” ucap Frank singkat soal masa depan Johnson.
Sementara itu, dari kubu tuan rumah, hasil imbang ini membuat Brentford memperpanjang catatan tak terkalahkan mereka di liga menjadi empat pertandingan. Meski begitu, laga ini juga menambah daftar hasil imbang tanpa gol Brentford di Premier League sejak 2021.
Pelatih Brentford, Keith Andrews, merasa timnya sebenarnya layak mendapatkan kemenangan. Menurutnya, jika ada satu tim yang pantas membawa pulang tiga poin, itu adalah Brentford.
“Senang bertemu Thomas lagi. Saya sangat menghormatinya dan menikmati kerja sama kami musim lalu,” kata Andrews.
“Saya rasa kami sedikit lebih unggul. Kalau ada yang harus menang, mungkin kami. Musim lalu mereka mengalahkan kami dua kali, dan itu pantas. Tapi hari ini ceritanya berbeda.”
Andrews juga menyinggung soal tempo permainan di babak kedua. Ia menilai timnya ingin bermain cepat, sementara Tottenham justru mencoba memperlambat ritme.
“Kiper mereka sampai mendapat kartu kuning karena buang-buang waktu. Itu sudah cukup menggambarkan jalannya pertandingan,” tambahnya.
Meski hanya meraih satu poin, Brentford nyaris mendekati papan atas klasemen. Namun bagi Tottenham, hasil imbang ini kembali menjadi alarm keras bahwa masalah ketajaman di lini depan masih belum terselesaikan. Jika ingin bersaing lebih serius, Frank jelas menuntut lebih dari para pemainnya, terutama di sepertiga akhir lapangan.
