Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 15 Februari 2026

Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat

Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat
Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat.

JAKARTA -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Abdul Muhaimin Iskandar menghadiri perayaan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara, Jakarta Barat, Minggu. 

Kehadiran Cak Imin sapaan akrabnya bersama jajaran elite PKB menjadi simbol komitmen partai dalam merawat kebhinekaan dan memperkuat dialog lintas agama di Indonesia.

Dalam keterangannya kepada media usai acara, Cak Imin menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena PKB dapat merayakan Imlek secara langsung di vihara. 

Ia berharap Tahun Baru Imlek membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pesan Moral di Tahun Kuda Api

Perayaan Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Tahun Kuda Api dimaknai Cak Imin sebagai momentum untuk memperkuat keberanian dan ketangguhan, namun tetap berpijak pada moralitas dan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, semangat keberanian harus diiringi dengan kepedulian sosial. “Keberanian maupun ketangguhan harus diikuti dengan semangat moral yang tinggi dan kepedulian, serta kemanusiaan. Itu semua mewujudkan komitmen kita membela yang paling lemah,” ujarnya.

Pesan tersebut selaras dengan karakter PKB yang selama ini menempatkan isu keadilan sosial dan perlindungan kelompok rentan sebagai agenda politik utama. 

Dalam konteks nasional, pernyataan ini dapat dibaca sebagai upaya menegaskan posisi partai di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang masih menghadirkan tantangan bagi masyarakat bawah.

Makna Kehadiran PKB dalam Perayaan Imlek

Kehadiran jajaran DPP PKB dalam perayaan Imlek di vihara memiliki makna simbolik yang kuat. Sebagai partai yang lahir dari tradisi Nahdlatul Ulama, PKB selama ini dikenal berbasis pada komunitas Muslim. 

Partisipasi dalam perayaan keagamaan umat Buddha dan Tionghoa memperlihatkan komitmen terhadap prinsip toleransi dan inklusivitas.

Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh PKB, antara lain Faisol Riza, Rusdi Kirana, Daniel Johan, serta Abdul Halim Iskandar. 

Kehadiran kolektif elite partai menunjukkan bahwa partisipasi ini bukan sekadar simbol personal, melainkan bagian dari sikap kelembagaan.

Di sisi lain, langkah tersebut juga mencerminkan dinamika politik Indonesia yang semakin menempatkan pluralisme sebagai fondasi penting dalam membangun stabilitas sosial. 

Dalam beberapa tahun terakhir, narasi moderasi beragama dan persatuan nasional terus digaungkan pemerintah maupun partai politik.

Sambutan Maha Bhiksu dan Harapan untuk Bangsa

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan apresiasi atas kehadiran Cak Imin dan jajaran DPP PKB. Ia berharap Tahun Kuda Api membawa semangat kemajuan bagi bangsa dan negara.

“Semoga semua rakyat hidupnya bisa lebih sejahtera dan mampu menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perayaan Imlek tidak semata-mata ritual budaya atau keagamaan, tetapi juga momentum refleksi kolektif atas kondisi sosial-ekonomi nasional. 

Di tengah tekanan global, fluktuasi harga kebutuhan pokok, serta tantangan lapangan kerja, harapan akan stabilitas dan kesejahteraan menjadi aspirasi lintas komunitas.

Imlek dan Politik Kebangsaan

Secara historis, perayaan Imlek di Indonesia mengalami dinamika panjang, terutama pada masa pembatasan ekspresi budaya Tionghoa di era Orde Baru. Sejak reformasi dan ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional, perayaan ini menjadi bagian dari kalender resmi kenegaraan.

Kehadiran tokoh politik dalam perayaan Imlek kini dipandang sebagai wujud pengakuan negara terhadap keberagaman budaya dan agama. Dalam perspektif politik kebangsaan, momen ini juga menjadi ruang membangun komunikasi dengan komunitas Tionghoa dan umat Buddha yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.

Analis politik dari sejumlah lembaga kajian menilai, pendekatan inklusif semacam ini berkontribusi pada stabilitas sosial. Dialog lintas agama yang dilakukan secara terbuka dapat meredam potensi polarisasi dan memperkuat kohesi nasional.

Implikasi ke Depan

Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara yang dihadiri Cak Imin dan jajaran DPP PKB memperlihatkan pentingnya simbol persatuan dalam praktik politik Indonesia. Di tengah dinamika demokrasi yang kerap diwarnai kompetisi keras, pesan moral tentang keberanian, ketangguhan, dan kepedulian menjadi relevan untuk terus digaungkan.

Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa nilai toleransi bukan sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam ruang-ruang politik. Tahun Kuda Api, sebagaimana disampaikan dalam sambutan, diharapkan membawa energi pembaruan dan semangat membangun kesejahteraan bersama.

Ke depan, konsistensi sikap inklusif dari para pemimpin politik akan menjadi kunci dalam menjaga harmoni sosial. Perayaan Imlek yang dirayakan bersama lintas komunitas menunjukkan bahwa keberagaman Indonesia dapat menjadi kekuatan, bukan perbedaan yang memecah belah.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.