![]() |
| Indonesia Pimpin D-8, Perkuat Ekonomi Negara Muslim di Tengah Ketidakpastian Global. |
JAKARTA -- Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir menegaskan bahwa kepemimpinan Indonesia di Developing Eight (D-8) tahun ini fokus untuk memperkuat posisi ekonomi negara-negara Muslim di tengah gejolak ekonomi global yang masih terasa.
“Tujuan kita di D8 tahun ini adalah membantu negara-negara Muslim menghadapi situasi global yang tidak stabil, terutama di sektor ekonomi,” ujar Wamenlu Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, saat ditemui di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin lalu.
Tata menambahkan, persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 sudah dimatangkan, dengan koordinasi intens antara wakil menteri luar negeri dan wakil menteri sekretaris negara yang rampung pada pekan lalu.
“Kami juga mendorong agar para kepala negara anggota hadir langsung dalam KTT yang digelar di Jakarta pada 15 April mendatang. Meski nama-nama resmi belum bisa diumumkan, beberapa pemimpin sudah memberi sinyal positif kehadiran mereka,” jelas Tata.
Selain KTT, rangkaian acara D-8 juga akan mencakup Konferensi Tingkat Menteri (KTM) dan pertemuan khusus membahas isu Palestina. Tata menegaskan, pertemuan ini akan menghadirkan anggota D-8 dan lima negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lainnya. “Pertemuan ini dijadwalkan pada siang hari tanggal 15 April,” tambahnya.
D-8 sendiri merupakan organisasi kerja sama pembangunan yang didirikan pada 1997 oleh delapan negara berkembang yang mayoritas tergabung dalam OKI. Anggota D-8 adalah Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Organisasi ini fokus pada kerja sama ekonomi, perdagangan, dan pembangunan untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kepemimpinan Indonesia di D-8, diharapkan negara-negara anggota dapat menghadapi ketidakpastian ekonomi global secara lebih solid dan memperkuat posisi ekonomi mereka di pentas internasional.
