Jelang Ramadhan BGN Siapkan Strategi Jaga Harga Bahan MBG, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.

Senin, 02 Februari 2026

Jelang Ramadhan BGN Siapkan Strategi Jaga Harga Bahan MBG, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas

Ikuti kami:
Google
Jelang Ramadhan BGN Siapkan Strategi Jaga Harga Bahan MBG, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas
Peserta didik di salah satu sekolah di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, menyantap menu program MBG (ANTARA/Nyaman Bagus Purwaniawan)

JAKARTA -- Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat untuk memastikan ketersediaan bahan baku Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap stabil menjelang Ramadhan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga tetap terkendali sekaligus memastikan masyarakat tetap bisa mengakses gizi yang cukup.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam strategi ini. “Kami bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mengatur bahan makanan mana yang disarankan untuk dikonsumsi, mana yang ditahan dulu, dan bahan mana yang bisa diganti agar harga tetap stabil,” ujar Dadan saat ditemui di Sentul, Kabupaten Bogor, Senin.

Selain menjaga harga, BGN juga menyiapkan perluasan jangkauan MBG. Kali ini, program gizi ini akan menyasar lansia dan penyandang disabilitas, bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos). Dadan menyebut, pihaknya tengah membahas mekanisme distribusinya agar pemberian MBG bisa terintegrasi dalam satu kesatuan program di masing-masing daerah.

“MBG selama ini sudah menyasar ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, seluruh anak sekolah sampai usia 18 tahun, serta anak putus sekolah. Sekarang, lansia akan menjadi tambahan prioritas, dengan mekanisme penyaluran yang akan ditangani Kemensos,” jelas Dadan.

Dari sisi anggaran, BGN membuktikan komitmennya. Per Januari 2026, sudah dikeluarkan Rp19,5 triliun untuk program MBG. Tidak hanya meningkatkan gizi, program ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung.

“Contohnya, kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sabun mencapai sekitar 25 liter per hari. Hal ini membuka peluang wirausaha baru yang ikut memproduksi sabun, sehingga program ini juga mendukung ekonomi lokal,” kata Dadan.

BGN juga menegaskan, tata kelola MBG diperketat. SPPG yang melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) atau menyebabkan kasus keracunan akan diberi kartu kuning, sebagai peringatan sebelum tindakan lebih lanjut diambil.

“Saya ingin memastikan program ini berjalan aman dan tepat sasaran. SPPG yang menyalahi prosedur akan dievaluasi dan jika perlu dihentikan sementara,” tegas Dadan.

Dengan langkah ini, BGN berharap Ramadhan mendatang masyarakat tetap bisa menikmati makanan bergizi tanpa khawatir harga melonjak, sambil tetap mendukung perekonomian lokal.

Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Add on Google
Ria Sartika
Ria Sartika
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Bagikan artikel ini

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.

IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.
IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.