![]() |
| Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral. |
JAKARTA -- Perayaan Tahun Baru Imlek bertajuk “Imlek Vaganza Harmoni Nusantara” di Kelenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, Minggu (15/2), menjadi momentum penting diplomasi budaya.
Konsulat Jenderal (Konjen) China di Surabaya, Ye Su, turut hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam perayaan yang dipadati ribuan pengunjung tersebut.
Kehadiran perwakilan resmi Pemerintah China dalam perayaan Imlek di salah satu ikon wisata religi dan sejarah Jawa Tengah itu dinilai bukan sekadar simbolis, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok melalui jalur budaya.
Imlek sebagai Simbol Toleransi dan Kebhinekaan
Dalam sambutannya, Ye Su menyoroti besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap perayaan Tahun Baru Imlek. Menurutnya, perayaan Imlek di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi Tionghoa yang telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan nasional.
Ia juga menegaskan bahwa Imlek kini telah diakui dan dirayakan pada level kenegaraan di Indonesia. Kondisi ini, kata dia, menjadi indikator kuatnya toleransi beragama dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.
“Perayaan seperti ini bukan hanya tradisi komunitas, tetapi juga simbol harmoni dan kerja sama,” ujarnya.
Secara historis, Imlek sempat mengalami pembatasan pada masa lalu. Namun sejak era reformasi dan kebijakan pengakuan kembali hari besar keagamaan Tionghoa, perayaan Imlek berkembang menjadi agenda publik yang inklusif dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.
Di kota-kota seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, perayaan Imlek bahkan menjadi daya tarik wisata budaya.
Diplomasi Budaya dan Layanan Konsuler Langsung
Tidak hanya menghadiri seremoni, Konjen China di Surabaya juga membuka layanan konsuler tatap muka bagi warga negara China maupun masyarakat yang membutuhkan pengurusan dokumen. Layanan ini meliputi perlindungan warga serta konsultasi administrasi.
Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk pendekatan langsung kepada komunitas dan penguatan fungsi perlindungan warga negara di wilayah kerja konsulat.
Selain itu, Ye Su membagikan suvenir seperti boneka, kaos, dan pin kepada pengunjung yang mampu menjawab pertanyaan seputar budaya Tionghoa.
Momen yang paling menarik perhatian adalah ketika ia menulis langsung karakter “Fu” (福), huruf Tionghoa yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan berkah, untuk dibagikan kepada pengunjung.
Aksi tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan mempertegas nuansa budaya dalam kegiatan diplomatik yang dikemas secara humanis.
Peran Sam Poo Kong sebagai Pusat Akulturasi
Sebagai lokasi perayaan, Kelenteng Sam Poo Kong memiliki nilai historis yang kuat. Tempat ibadah ini dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung berabad-abad. Kompleks ini juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah unggulan di Semarang.
Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Konjen China dalam perayaan tersebut. Ia menilai partisipasi tersebut sebagai bentuk kerja sama yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
“Inilah bentuk kerja sama. Yang penting bukan dinilai dari jumlah atau mahalnya, tetapi dari niat baik untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.
Pihak yayasan juga menggratiskan tiket masuk mulai pukul 18.00 WIB guna membuka akses lebih luas bagi masyarakat.
Perayaan dimeriahkan oleh penampilan artis nasional seperti Krisdayanti serta atraksi barongsai dengan 1.000 lampu LED yang diklaim hanya tampil setahun sekali.
Dorongan CSR dan Dampak Ekonomi Lokal
Mulyadi juga mengajak perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di kawasan industri Kendal dan Batang untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat Semarang.
Ajakan tersebut relevan mengingat pesatnya investasi China di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor manufaktur dan infrastruktur.
Keterlibatan perusahaan dalam program sosial dinilai dapat memperkuat penerimaan masyarakat terhadap investasi asing sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga.
Dari sisi ekonomi, perayaan Imlek di Sam Poo Kong juga berdampak pada sektor pariwisata dan UMKM lokal.
Peningkatan kunjungan wisatawan mendorong perputaran ekonomi, mulai dari pedagang kuliner, perajin suvenir, hingga pelaku jasa transportasi.
Imlek dan Masa Depan Hubungan Indonesia–China
Kehadiran Konjen China dalam perayaan Imlek di Semarang memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan China tidak hanya bertumpu pada kerja sama ekonomi dan investasi, tetapi juga pada diplomasi budaya dan hubungan antarmasyarakat.
Di tengah dinamika geopolitik kawasan, penguatan hubungan melalui jalur budaya dinilai lebih cair dan efektif dalam membangun saling pengertian.
Perayaan Imlek yang inklusif menjadi ruang dialog sosial yang mempertemukan pemerintah, komunitas Tionghoa, pelaku usaha, dan masyarakat umum.
Ke depan, perayaan seperti Imlek Vaganza Harmoni Nusantara berpotensi menjadi agenda tahunan berskala nasional yang tidak hanya memperkuat identitas kebhinekaan Indonesia, tetapi juga mempererat hubungan bilateral secara lebih seimbang.
Dengan memadukan unsur budaya, pelayanan publik, serta kolaborasi sosial, perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong tahun ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi jembatan diplomasi—mendorong harmoni di dalam negeri sekaligus memperluas kerja sama lintas negara.
