Berita BorneoTribun: Budaya hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

Fadli Zon Ungkap Pentingnya Data Lengkap Cagar Budaya Untuk Antisipasi Bencana

Fadli Zon percepat pencatatan cagar budaya hingga target seribu koleksi guna mendukung mitigasi bencana dan perlindungan aset budaya nasional.
Fadli Zon percepat pencatatan cagar budaya hingga target seribu koleksi guna mendukung mitigasi bencana dan perlindungan aset budaya nasional.

Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pemerintah terus mempercepat proses pencatatan benda yang masuk kategori cagar budaya di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai upaya strategis untuk memitigasi dampak bencana terhadap aset budaya nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Fadli saat ditemui di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada Selasa. Ia menekankan bahwa kelengkapan data menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia.

“Ya, pertama data kita ini harus lengkap ya, teregistrasi seperti yang saya sampaikan barusan. Pencatatan cagar budaya kita ini harus dipercepat, harus akseleratif,” ujar Fadli kepada awak media.

Target Lebih Dari Seribu Koleksi Cagar Budaya

Dalam upaya percepatan tersebut, Kementerian Kebudayaan menargetkan pencatatan lebih dari seribu koleksi cagar budaya, termasuk koleksi yang tersimpan di museum nasional.

Menurut Fadli, percepatan ini bukan sekadar target angka, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memastikan setiap aset budaya memiliki identitas dan perlindungan hukum yang jelas.

“Makanya saya targetkan lebih dari seribu termasuk koleksi-koleksi yang ada di museum nasional,” tegasnya.

Target ini dinilai realistis dengan dukungan dari berbagai instansi terkait, termasuk pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di berbagai wilayah Indonesia.

Prioritas Pada Koleksi Repatriasi Dan Makam Pahlawan

Fadli menjelaskan bahwa prioritas pencatatan akan difokuskan pada beberapa jenis koleksi penting, di antaranya:

  • Koleksi hasil repatriasi dari luar negeri

  • Koleksi yang berada dalam kewenangan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK)

  • Makam pahlawan nasional

  • Koleksi milik tokoh nasional dan keraton

Ia menambahkan bahwa makam pahlawan nasional dapat langsung ditetapkan sebagai cagar budaya karena memiliki nilai sejarah yang kuat.

“Makamnya itu kan bisa langsung menjadi cagar budaya,” kata Fadli.

Untuk koleksi milik pahlawan nasional serta koleksi keraton, menurutnya tidak memerlukan kajian tambahan karena dasar historisnya telah tersedia secara akademis.

Lonjakan Pencatatan Hingga 800 Persen

Data Kementerian Kebudayaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pencatatan benda cagar budaya selama periode 2024 hingga 2025.

Dalam kurun waktu tersebut, pencatatan mengalami kenaikan hingga 800 persen, dari hanya 10 pencatatan koleksi menjadi 85 pencatatan.

Sementara pada tahun 2026, tercatat sudah ada 70 penetapan cagar budaya, dan jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah.

Hal ini cukup penting mengingat potensi objek cagar budaya di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu objek.

Data Jadi Kunci Mitigasi Bencana

Selain pelestarian, pencatatan benda budaya juga memiliki peran penting dalam mitigasi bencana. Dengan adanya data yang terintegrasi, pemerintah dapat merancang strategi perlindungan yang lebih efektif ketika terjadi bencana alam.

Fadli menekankan bahwa tanpa pencatatan yang jelas, upaya mitigasi akan sulit dilakukan.

“Nah bagaimana kita mau menanggulangi, misalnya memitigasi bencana nanti, pencatatannya saja tidak ada. Kan dengan pencatatan itu terintegrasi dengan kajiannya, apa yang terjadi, apa asetnya di situ,” pungkasnya.

Peran Pemerintah Daerah Jadi Kunci

Keberhasilan program percepatan ini juga sangat bergantung pada keterlibatan pemerintah daerah. Dukungan dari BPK dan instansi daerah diharapkan mampu mempercepat proses pendataan hingga ribuan koleksi budaya.

Langkah kolaboratif ini dinilai penting mengingat Indonesia memiliki wilayah luas dengan keragaman budaya yang sangat besar.

Para pengamat kebudayaan menilai bahwa digitalisasi data cagar budaya juga perlu terus dikembangkan agar proses pencatatan lebih transparan dan mudah diakses lintas instansi.

FAQ

Apa tujuan percepatan pencatatan cagar budaya?

Tujuannya adalah untuk melindungi warisan budaya nasional sekaligus mempermudah mitigasi bencana melalui data yang terintegrasi dan akurat.

Berapa target pencatatan cagar budaya yang dicanangkan pemerintah?

Pemerintah menargetkan pencatatan lebih dari 1.000 koleksi cagar budaya dalam waktu dekat.

Apa saja yang menjadi prioritas pencatatan?

Prioritas meliputi koleksi hasil repatriasi, makam pahlawan nasional, koleksi milik tokoh nasional, serta benda budaya di bawah kewenangan BPK.

Berapa jumlah potensi cagar budaya di Indonesia?

Diperkirakan terdapat sekitar 50.000 objek cagar budaya di Indonesia yang berpotensi didata.

Mengapa pencatatan penting untuk mitigasi bencana?

Karena data yang lengkap membantu pemerintah mengetahui lokasi dan nilai aset budaya sehingga dapat direncanakan perlindungan saat terjadi bencana.

Rabu, 25 Februari 2026

Tari Sekar Jagat dan Pendet Warnai Pertukaran Budaya Indonesia Satukan Mahasiswa Jepang dan UI

Gamelan Jawa dan Tari Bali Memikat Mahasiswa Tokyo di Depok
Mahasiswa Tokyo University of Agriculture and Technology mengikuti workshop gamelan Jawa dan tari Bali di UI Depok. Program ini memperkuat diplomasi budaya dan pertukaran akademik Indonesia Jepang.

Gamelan Jawa dan Tari Bali Memikat Mahasiswa Tokyo di Depok

JAKARTA -- Mahasiswa dari Tokyo University of Agriculture and Technology mengikuti lokakarya seni budaya Indonesia di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, yang digelar oleh Direktorat Kebudayaan UI bersama Fakultas Teknik UI

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pertukaran budaya tahunan yang bertujuan memperkenalkan kekayaan seni Nusantara sekaligus mempererat hubungan Indonesia dan Jepang melalui pendekatan budaya.

Bertajuk Workshop Indonesian Art Cultural, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung atau learning by doing. Para mahasiswa Jepang tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi terlibat aktif memainkan alat musik tradisional dan mempraktikkan gerakan tari daerah.

Fasilitator dalam lokakarya tersebut adalah pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dan seniman profesional, Dr. Ari Prasetyo, M.Hum., serta Citra Cahyaning Sumirat, S.H., M.Pd. Mereka membimbing peserta memahami teknik sekaligus filosofi di balik setiap ekspresi seni yang dipelajari.

Pada sesi pertama, mahasiswa TUAT diperkenalkan dengan gamelan Jawa. Mereka mencoba memainkan saron, bonang, dan gong secara langsung. Tidak sekadar memukul instrumen, peserta diajak memahami makna harmoni, keseimbangan, dan kebersamaan yang menjadi ruh musik gamelan. Suasana penuh antusias terlihat ketika alunan nada mulai terdengar padu meski baru pertama kali dimainkan.

Memasuki sesi berikutnya, energi ruangan berubah saat para peserta mempelajari Tari Pendet dan Tari Sekar Jagat dari Bali. Dengan arahan penari profesional, mereka berlatih gerakan dasar seperti ngelo, agem, hingga seledet atau gerakan mata khas tari Bali. Meski awalnya terlihat kaku, tawa dan semangat kebersamaan mencairkan suasana, menjadikan proses belajar terasa hangat dan menyenangkan.

Perwakilan Direktorat Kebudayaan UI, Eko Sulistiyo, menyampaikan bahwa seni merupakan bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan latar belakang disiplin ilmu maupun budaya. Menurutnya, diplomasi budaya melalui gamelan dan tari tradisional membuktikan bahwa seni Indonesia mampu menginspirasi mahasiswa dari bidang pertanian dan teknologi.

Salah satu peserta, Yuki Tanaka, mengaku mendapatkan perspektif baru dari pengalaman tersebut. Sebagai mahasiswa teknik, ia melihat bagaimana ketepatan, ritme, dan kelembutan dalam seni Indonesia berpadu menjadi harmoni yang indah. Pengalaman ini dinilai membuka wawasan lintas budaya dan memperkaya pemahaman globalnya.

Program kolaborasi antara Fakultas Teknik UI dan TUAT ini diharapkan melahirkan duta budaya yang dapat memperkenalkan seni Indonesia di Jepang. Kegiatan ditutup dengan pertunjukan kolaboratif singkat dan sesi foto bersama sebagai simbol harmonisasi dua bangsa dalam satu panggung persahabatan.

Melalui inisiatif seperti ini, hubungan akademik dan budaya Indonesia-Jepang semakin kuat. Seni bukan sekadar pertunjukan, tetapi jembatan yang mempertemukan ide, nilai, dan rasa saling menghargai antarbangsa.

FAQ

Apa tujuan lokakarya seni budaya ini?
Untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada mahasiswa Jepang sekaligus mempererat hubungan bilateral melalui diplomasi budaya.

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini?
Direktorat Kebudayaan UI, Fakultas Teknik UI, serta mahasiswa dari Tokyo University of Agriculture and Technology.

Seni apa saja yang dipelajari peserta?
Gamelan Jawa serta Tari Pendet dan Tari Sekar Jagat dari Bali.

Mengapa kegiatan ini penting?
Karena memperkuat hubungan internasional, meningkatkan pemahaman lintas budaya, dan memperluas wawasan mahasiswa di luar bidang akademik utama mereka.

Senin, 16 Februari 2026

Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional

Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional
Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional.

JAKARTA -- Atraksi barongsai menjadi salah satu ikon perayaan Imlek di Indonesia yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna budaya dan spiritual. Di berbagai kota, pertunjukan barongsai rutin hadir saat Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, hingga festival budaya lintas komunitas. Lebih dari sekadar hiburan, barongsai di Indonesia berkembang sebagai simbol harmoni keberagaman sekaligus cabang olahraga yang melahirkan prestasi dunia.

Budayawan dan peneliti kajian ketionghoaan, Alexander Raymon atau Alex Cheung, menjelaskan bahwa barongsai bukan hanya seni pertunjukan, melainkan ekspresi spiritual masyarakat Tionghoa. Dalam tradisi Tiongkok, singa dipercaya sebagai simbol keberanian dan kekuatan yang mampu mengusir roh jahat serta membawa keberuntungan, kemakmuran, dan kedamaian.

“Di masa lampau, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa singa yang menari memiliki kekuatan mengusir kejahatan. Karena itu, dalam perayaan tahun baru Imlek atau perayaan Tionghoa lainnya, barongsai selalu dipersembahkan,” ujar Alex.

Jejak Sejarah dan Harmoni Keberagaman

Secara harfiah, barongsai dalam bahasa Mandarin disebut Wǔ shī yang berarti tarian singa. Di sejumlah daerah di Jawa, masyarakat mengenalnya sebagai “samsi” atau “siamsi” dalam dialek Hokkian. Kehadirannya di Indonesia seiring dengan migrasi dan perkembangan komunitas Tionghoa di Nusantara.

Pasca reformasi 1998, ruang ekspresi budaya Tionghoa terbuka lebih luas. Pertunjukan barongsai dan liong kini tampil bebas di ruang publik, tidak hanya terbatas pada perayaan Imlek. Atraksi ini kerap menghiasi pembukaan pusat perbelanjaan, festival pariwisata, acara pemerintahan, hingga perayaan pribadi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa barongsai telah menjadi bagian dari lanskap budaya Indonesia yang majemuk. Tidak lagi eksklusif sebagai tradisi etnis tertentu, barongsai justru menjadi medium interaksi antarbudaya.

Menurut Alex, seni barongsai di Indonesia juga mengalami proses adaptasi lokal. Muncul variasi seperti barongsai Jawa, penggunaan musik populer sebagai pengiring, hingga kolaborasi dengan tari modern. Sentuhan lokal itu, menurutnya, tidak menghapus identitas Tionghoa, melainkan memperkaya karakter pertunjukan di tiap daerah.

“Identitas budaya tidak memudar, justru semakin berwarna dengan kekhasan Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah perkumpulan Tionghoa seperti Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, Sin Ming Hui, Kuo Chi Yen Chiu She, Khong Kauw Hwee, Shantung Kung Hui, dan Kwong Siew Wai Kuan turut berperan menjaga kesinambungan seni barongsai di berbagai daerah.

Komunitas Inklusif dan Prestasi Dunia

Di tingkat komunitas, salah satu organisasi yang konsisten mengembangkan barongsai adalah Yayasan Barongsai Kong Ha Hong. Selama lebih dari dua dekade, yayasan ini telah membina generasi muda tanpa membedakan suku, agama, maupun ras.

Ketua Yayasan Barongsai Kong Ha Hong, Ronald Sjarif, menegaskan bahwa pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung, dengan batas usia minimal sekitar delapan tahun.

“Kami tidak menyaring berdasarkan latar belakang. Ini yayasan sosial, jadi kami melatih sampai bisa tampil, tanpa memungut bayaran,” kata Ronald.

Pendekatan inklusif tersebut membuahkan hasil. Yayasan ini tercatat lima kali meraih gelar juara dunia dalam kompetisi barongsai internasional pada 2009 dan 2015 di China, 2014 dan 2017 di Indonesia, serta 2019 di China. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa barongsai Indonesia tidak hanya berkembang secara budaya, tetapi juga kompetitif di level global.

Ketertarikan masyarakat pun terus meningkat, terutama setelah menyaksikan pertunjukan di pusat perbelanjaan atau festival. Dari ruang publik itulah regenerasi atlet barongsai kerap bermula.

Dari Tradisi ke Cabang Olahraga

Perkembangan signifikan terjadi ketika barongsai diakui sebagai cabang olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 2013. Sejak itu, barongsai mulai dipertandingkan secara resmi, termasuk pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016.

Pembinaan cabang olahraga ini berada di bawah naungan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). Dalam konteks olahraga, barongsai tidak hanya menekankan unsur estetika, tetapi juga teknik, kekuatan fisik, keseimbangan, dan tingkat kesulitan gerakan.

Pelatih Barongsai Kong Ha Hong, Andri Wijaya, menjelaskan adanya perbedaan antara barongsai sebagai budaya dan sebagai olahraga. Dalam konteks budaya, pertunjukan biasanya diawali ritual tertentu, seperti doa di vihara atau prosesi “ambil sayur” saat pembukaan usaha, yang memiliki makna simbolis keberuntungan.

Sebaliknya, dalam kompetisi olahraga, fokusnya terletak pada koreografi, sinkronisasi gerak dua penari dalam satu kostum, akurasi lompatan di atas tonggak (jongs), hingga kreativitas kombinasi gerakan yang sering dipadukan dengan unsur Kungfu atau Wushu.

“Karena sudah menjadi olahraga, tekniknya makin tinggi dan tingkat kesulitannya juga makin besar,” ujar Andri.

Standar penilaian dalam kompetisi meliputi teknik, ekspresi, kreativitas, dan ketepatan waktu. Latihan intensif diperlukan untuk membangun kekuatan kaki, koordinasi, serta kepercayaan antarpenari yang berada dalam satu kostum singa.

Masa Depan Barongsai di Indonesia

Pengakuan sebagai cabang olahraga membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk menekuni barongsai secara profesional. Selain menjaga warisan budaya, jalur olahraga memberi ruang prestasi, pembinaan terstruktur, dan kemungkinan dukungan anggaran.

Di sisi lain, barongsai tetap berfungsi sebagai jembatan sosial yang memperkuat toleransi dan persatuan. Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang mencerminkan praktik nyata keberagaman Indonesia.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara nilai tradisi dan tuntutan modernisasi. Adaptasi boleh dilakukan, namun akar filosofis dan spiritual tetap perlu dipertahankan agar barongsai tidak kehilangan makna.

Dengan dukungan komunitas, federasi, dan ruang publik yang inklusif, barongsai di Indonesia berpotensi terus tumbuh sebagai simbol harmoni budaya sekaligus sumber prestasi olahraga nasional. Lebih dari sekadar tarian singa, barongsai telah menjadi cermin perjalanan Indonesia dalam merawat keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan bersama.

Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral

Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral
Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral.

JAKARTA -- Perayaan Tahun Baru Imlek bertajuk “Imlek Vaganza Harmoni Nusantara” di Kelenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, Minggu (15/2), menjadi momentum penting diplomasi budaya.

Konsulat Jenderal (Konjen) China di Surabaya, Ye Su, turut hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam perayaan yang dipadati ribuan pengunjung tersebut.

Kehadiran perwakilan resmi Pemerintah China dalam perayaan Imlek di salah satu ikon wisata religi dan sejarah Jawa Tengah itu dinilai bukan sekadar simbolis, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok melalui jalur budaya.

Imlek sebagai Simbol Toleransi dan Kebhinekaan

Dalam sambutannya, Ye Su menyoroti besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap perayaan Tahun Baru Imlek. Menurutnya, perayaan Imlek di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi Tionghoa yang telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan nasional.

Ia juga menegaskan bahwa Imlek kini telah diakui dan dirayakan pada level kenegaraan di Indonesia. Kondisi ini, kata dia, menjadi indikator kuatnya toleransi beragama dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.

“Perayaan seperti ini bukan hanya tradisi komunitas, tetapi juga simbol harmoni dan kerja sama,” ujarnya.

Secara historis, Imlek sempat mengalami pembatasan pada masa lalu. Namun sejak era reformasi dan kebijakan pengakuan kembali hari besar keagamaan Tionghoa, perayaan Imlek berkembang menjadi agenda publik yang inklusif dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. 

Di kota-kota seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, perayaan Imlek bahkan menjadi daya tarik wisata budaya.

Diplomasi Budaya dan Layanan Konsuler Langsung

Tidak hanya menghadiri seremoni, Konjen China di Surabaya juga membuka layanan konsuler tatap muka bagi warga negara China maupun masyarakat yang membutuhkan pengurusan dokumen. Layanan ini meliputi perlindungan warga serta konsultasi administrasi.

Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk pendekatan langsung kepada komunitas dan penguatan fungsi perlindungan warga negara di wilayah kerja konsulat.

Selain itu, Ye Su membagikan suvenir seperti boneka, kaos, dan pin kepada pengunjung yang mampu menjawab pertanyaan seputar budaya Tionghoa. 

Momen yang paling menarik perhatian adalah ketika ia menulis langsung karakter “Fu” (福), huruf Tionghoa yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan berkah, untuk dibagikan kepada pengunjung.

Aksi tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan mempertegas nuansa budaya dalam kegiatan diplomatik yang dikemas secara humanis.

Peran Sam Poo Kong sebagai Pusat Akulturasi

Sebagai lokasi perayaan, Kelenteng Sam Poo Kong memiliki nilai historis yang kuat. Tempat ibadah ini dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung berabad-abad. Kompleks ini juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah unggulan di Semarang.

Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Konjen China dalam perayaan tersebut. Ia menilai partisipasi tersebut sebagai bentuk kerja sama yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Inilah bentuk kerja sama. Yang penting bukan dinilai dari jumlah atau mahalnya, tetapi dari niat baik untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.

Pihak yayasan juga menggratiskan tiket masuk mulai pukul 18.00 WIB guna membuka akses lebih luas bagi masyarakat. 

Perayaan dimeriahkan oleh penampilan artis nasional seperti Krisdayanti serta atraksi barongsai dengan 1.000 lampu LED yang diklaim hanya tampil setahun sekali.

Dorongan CSR dan Dampak Ekonomi Lokal

Mulyadi juga mengajak perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di kawasan industri Kendal dan Batang untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat Semarang.

Ajakan tersebut relevan mengingat pesatnya investasi China di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor manufaktur dan infrastruktur. 

Keterlibatan perusahaan dalam program sosial dinilai dapat memperkuat penerimaan masyarakat terhadap investasi asing sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga.

Dari sisi ekonomi, perayaan Imlek di Sam Poo Kong juga berdampak pada sektor pariwisata dan UMKM lokal. 

Peningkatan kunjungan wisatawan mendorong perputaran ekonomi, mulai dari pedagang kuliner, perajin suvenir, hingga pelaku jasa transportasi.

Imlek dan Masa Depan Hubungan Indonesia–China

Kehadiran Konjen China dalam perayaan Imlek di Semarang memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan China tidak hanya bertumpu pada kerja sama ekonomi dan investasi, tetapi juga pada diplomasi budaya dan hubungan antarmasyarakat.

Di tengah dinamika geopolitik kawasan, penguatan hubungan melalui jalur budaya dinilai lebih cair dan efektif dalam membangun saling pengertian. 

Perayaan Imlek yang inklusif menjadi ruang dialog sosial yang mempertemukan pemerintah, komunitas Tionghoa, pelaku usaha, dan masyarakat umum.

Ke depan, perayaan seperti Imlek Vaganza Harmoni Nusantara berpotensi menjadi agenda tahunan berskala nasional yang tidak hanya memperkuat identitas kebhinekaan Indonesia, tetapi juga mempererat hubungan bilateral secara lebih seimbang.

Dengan memadukan unsur budaya, pelayanan publik, serta kolaborasi sosial, perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong tahun ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi jembatan diplomasi—mendorong harmoni di dalam negeri sekaligus memperluas kerja sama lintas negara.

Rabu, 11 Februari 2026

Gubernur Ria Norsan Hadiri Pelantikan MABT Indonesia 2025–2030, Dorong Rumah Adat Tionghoa Jadi Simbol Persatuan Kalbar

Gubernur Ria Norsan Hadiri Pelantikan MABT Indonesia 2025–2030, Dorong Rumah Adat Tionghoa Jadi Simbol Persatuan Kalbar
Gubernur Ria Norsan Hadiri Pelantikan MABT Indonesia 2025–2030, Dorong Rumah Adat Tionghoa Jadi Simbol Persatuan Kalbar.

PONTIANAK -- Kabar penting datang dari Pontianak. Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, MM., MH., bersama Ketua TP PKK Kalbar, Dr. Hj. Erlina Ria Norsan, SH., MH., menghadiri pelantikan pengurus Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia masa bakti 2025–2030. Acara yang berlangsung di Ballroom Hotel Novotel Pontianak, Selasa 10 Februari 2026 itu berjalan khidmat dan penuh semangat kebersamaan.

Dalam momen bersejarah tersebut, Suyanto Tanjung resmi dilantik sebagai Ketua Umum DPP MABT Indonesia oleh Ketua Dewan Kehormatan MABT, Oesman Sapta Odang. Prosesi penyerahan bendera pataka menjadi simbol amanah besar yang kini diemban kepengurusan baru.

MABT Punya Peran Strategis di Tengah Keberagaman

Dalam sambutannya, Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa MABT bukan sekadar organisasi adat. Lebih dari itu, MABT memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta merawat harmonisasi sosial di tengah masyarakat Kalimantan Barat yang majemuk.

“Kalimantan Barat adalah rumah besar keberagaman. Di sini berbagai suku, agama, dan budaya hidup berdampingan dalam semangat kebhinekaan,” ujar Gubernur.

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga jembatan pemersatu. Di tengah tantangan zaman, menjaga harmoni antar-etnis adalah investasi sosial jangka panjang.

Rumah Adat Tionghoa Segera Dibangun, Usung Konsep Tidayu

Salah satu poin penting yang disampaikan Gubernur adalah komitmen Pemprov Kalbar dalam mendukung pembangunan Rumah Adat Tionghoa di Kalimantan Barat. Saat ini, proses pengukuran dan persiapan lahan tengah berjalan.

Rumah adat ini nantinya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kebersamaan lintas etnis.

Gubernur mengungkapkan konsep besar yang akan diusung, yaitu Tidayu—akronim dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Konsep ini menggambarkan semangat persatuan tiga etnis besar yang akan berada dalam satu kawasan budaya.

Bayangkan sebuah ruang yang bukan hanya memperlihatkan kekayaan tradisi, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bisa menyatu dalam harmoni.

Gubernur pun mengajak pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga pengusaha Tionghoa untuk berkolaborasi mewujudkan Rumah Bersama tersebut dalam semangat Paguyuban Merah Putih.

Pesan Tegas OSO untuk MABT Indonesia

Oesman Sapta Odang menyoroti perkembangan MABT yang kini bertransformasi menjadi organisasi tingkat nasional. Jika sebelumnya dikenal kuat di Kalbar, kini MABT telah berstatus MABT Indonesia.

Artinya, struktur kepengurusan perlu diperluas hingga ke 38 provinsi di seluruh Indonesia.

OSO juga mengingatkan agar organisasi berbasis budaya tetap berjalan sesuai koridor hukum negara. Pancasila dan UUD 1945 harus menjadi landasan utama dalam penyusunan AD/ART organisasi.

Pesan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya harus selaras dengan semangat kebangsaan.

Komitmen Ketua Umum Baru MABT Indonesia

Ketua Umum DPP MABT Indonesia, Suyanto Tanjung, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Kalbar yang telah menghibahkan lahan strategis untuk pembangunan Gedung MABT atau Rumah Adat Tionghoa.

Lokasi tersebut berada di antara Rumah Adat Melayu dan Rumah Adat Dayak—sebuah posisi simbolis yang menggambarkan persatuan tiga etnis besar di Kalbar.

Menurut Suyanto, pembangunan gedung ini diharapkan menjadi pusat pelestarian adat dan budaya Tionghoa sekaligus penguat kerukunan antar-etnis.

Ia juga berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah daerah agar pembangunan Rumah Bersama ini dapat segera direalisasikan.

Harapan untuk Kalbar yang Lebih Harmonis

Gubernur Ria Norsan menutup sambutannya dengan optimisme. Ia meyakini bahwa dengan persatuan dan kolaborasi, cita-cita membangun Kalimantan Barat yang damai dan maju dapat terwujud.

“Saya yakin dan haqqul yaqin, jika kita bersatu, insyaallah semua cita-cita membangun Kalimantan Barat akan tercapai,” tegasnya.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Anggota DPD RI Daud Jordan, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, para kepala daerah, unsur Forkopimda, serta tokoh lintas etnis lainnya.

Momentum ini bukan sekadar pelantikan organisasi, tetapi sinyal kuat bahwa Kalimantan Barat terus bergerak menjaga persatuan dalam keberagaman.

Dan bagi kita semua, pesan yang bisa diambil sederhana namun mendalam: ketika budaya dirawat dan persatuan dijaga, masa depan daerah akan semakin kokoh.

Senin, 02 Februari 2026

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau
Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau.

SEKADAU -- Kegembiraan terlihat jelas ketika Tim Sekolah Adat Sekadau tiba di salah satu desa di Kabupaten Sekadau pada 14 April lalu. Bukan sekadar menyambut tamu, anak-anak sekolah dasar di sana tampil dengan penuh percaya diri, menari tarian adat Dayak sebagai bentuk kebanggaan dan penghormatan terhadap warisan budaya mereka.

Momen ini begitu istimewa karena seluruh penampil adalah anak-anak SD yang aktif mengikuti kegiatan Sekolah Adat. Meski masih kecil, mereka berani berdiri di depan tamu dan masyarakat, membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya Dayak bisa tumbuh sejak usia dini.

Salah satu penari cilik, Adek Nia, berbagi rasa senangnya. “Saya senang bisa menari adat. Ini budaya kita, orang Dayak, dan saya ingin terus belajar supaya tidak hilang,” ujarnya sambil tersenyum ceria.

Dena, peserta lainnya, menambahkan, “Belajar budaya lokal membuat saya lebih percaya diri. Kami diajar menari dan mendengar cerita adat. Bangga rasanya jadi orang Dayak, pemilik Borneo!”

Keberanian mereka tampil di depan umum tak lepas dari dukungan para pendamping. Ipa, salah satu murid Sekolah Adat, menuturkan, “Kakak-kakak di Sekolah Adat selalu bilang jangan malu dengan budaya sendiri. Makanya kami berani tampil.”

Tak kalah penting, peran Florentina Dessi, penggerak Sekolah Adat, sangat dirasakan anak-anak. Dengan bimbingan sabar dan metode belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya belajar seni tari, tetapi juga memahami nilai jati diri sebagai masyarakat adat Dayak.

Kunjungan Tim Sekolah Adat Sekadau menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Ini adalah ruang belajar bersama sekaligus penguat semangat pelestarian budaya lokal. Penampilan anak-anak yang berani menari adat menjadi simbol bahwa budaya Dayak masih hidup dan terus diwariskan ke generasi penerus.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Adat Sekadau diharapkan terus menjadi tempat tumbuhnya rasa bangga, keberanian, dan cinta budaya bagi anak-anak Dayak—pemilik tanah Borneo yang kaya akan warisan leluhur.

Minggu, 01 Februari 2026

Festival Melayu Ke-IV Kabupaten Sekadau Resmi Dibuka

Foto: Pembukaan Festival Melayu Ke-IV Kabupaten Sekadau tahun 2026 terpusat di Rumah Adat Budaya Melayu Kabupaten Sekadau, Sabtu (31/1/2026)

SEKADAU - Festival Melayu Ke-IV Kabupaten Sekadau Tahun 2026 resmi dibuka oleh Bupati Sekadau, Aron, SH, pada Sabtu malam (31/1/2026) di Rumah Adat Budaya Melayu Kabupaten Sekadau. Pelaksanaan festival ini mencatat sejarah baru bagi masyarakat Melayu, karena untuk pertama kalinya kegiatan budaya Melayu digelar secara terpusat di rumah adat tersebut.

Festival yang berlangsung hingga 3 Februari 2026 ini diikuti oleh perwakilan Dewan Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu (DPD MABM) kecamatan se-Kabupaten Sekadau serta sanggar-sanggar seni yang ada di wilayah Kabupaten Sekadau. Berbagai cabang lomba seni dan budaya khas Melayu dipertandingkan sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan panitia.

Dalam wawancara dengan awak media usai membuka kegiatan, Bupati Sekadau, Aron, SH, menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana dan MABM Kabupaten Sekadau atas terselenggaranya Festival Melayu Ke-IV Tahun 2026. 

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sekadau mendukung penuh kegiatan pelestarian adat, seni, dan budaya Melayu.

“Festival Melayu ini merupakan bagian penting dari upaya kita menjaga warisan budaya daerah.

Pemerintah Daerah tentu mendukung penuh agar kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjadi agenda rutin tahunan,” ujar Bupati Aron.

Festival Melayu Ke-IV Kabupaten Sekadau diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan seni budaya, tetapi juga menjadi sarana pemersatu masyarakat, wadah pembinaan seniman muda, serta upaya berkelanjutan dalam menjaga dan melestarikan adat dan budaya Melayu di Kabupaten Sekadau. 

Ketua MABM Kabupaten Sekadau, H. Syafi'i Yanto menyatakan bahwa festival ini menjadi momentum penting untuk menggali kembali potensi budaya Melayu yang hampir punah, sekaligus membangkitkan semangat generasi muda agar aktif dalam pelestarian budaya daerah. (Red/Jm)

Sabtu, 25 Oktober 2025

Wabup Landak Erani Dukung Pelestarian Budaya Dayak di HUT ke-9 PBRTB: “Kita Harus Bangga dengan Warisan Leluhur

Wabup Landak Erani Dukung Pelestarian Budaya Dayak di HUT ke-9 PBRTB: “Kita Harus Bangga dengan Warisan Leluhur

Landak, Kalimantan Barat — Suasana penuh semangat dan kebanggaan terasa di Desa Semade, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, pada Kamis (23/10/2025). Perayaan Hari Ulang Tahun ke-9 Yayasan Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya (PBRTB) berlangsung meriah, dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Landak, Erani, ST., MT.

Dalam kesempatan itu, Erani menyampaikan apresiasinya atas kiprah PBRTB selama sembilan tahun dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya suku Dayak. Ia menilai, kehadiran PBRTB membawa dampak positif, tidak hanya dalam bidang kebudayaan, tetapi juga sosial dan pembinaan generasi muda.

“Selamat ulang tahun ke-9 untuk Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya. Semoga semakin maju, semakin bersinar, dan semakin berdampak, bukan hanya di daerah ini, tapi juga di luar negeri. Saya bangga melihat tamu-tamu dari Brunei dan Sarawak hadir di sini. Ini bukti bahwa budaya kita diakui dan dihargai,” ujar Erani.

Dukungan Penuh Pemerintah Daerah

Wakil Bupati Landak menegaskan bahwa kehadirannya adalah bentuk dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Landak terhadap upaya PBRTB dalam melestarikan budaya Dayak. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga semangat gotong royong.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, mari kita saling bantu, saling dukung, dan tetap menjaga kebersamaan. Kalau ada kritik atau protes dari warga, itu tugas kita untuk menjelaskan dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman,” jelas Erani.

Pesan dari Panglima Tambak Baya

Ketua sekaligus Panglima Tambak Baya, Marselinus Mian, SE., MM, turut menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran para tamu undangan, termasuk perwakilan PBRTB dari luar negeri. Ia menegaskan bahwa tujuan utama berdirinya PBRTB adalah untuk menjaga warisan budaya Dayak agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

“Kami berdiri untuk melestarikan adat dan budaya Dayak agar tidak punah. Terima kasih atas doa dan dukungan semua pihak, terutama Bapak Wakil Bupati. Semoga PBRTB semakin kuat dan kompak di usia ke-9 ini,” ungkap Marselinus.

Dalam sambutannya, Marselinus juga menyoroti tindakan seorang konten kreator yang sempat menghina rumah adat Dayak, radank, di media sosial. Ia berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran agar masyarakat lebih menghargai budaya lokal.

“Jangan sembarangan menilai budaya orang lain. Budaya dan adat adalah kodrat dari Tuhan, sedangkan agama adalah pilihan sesuai undang-undang. Jadi, mari saling menghormati,” tegasnya.

Budaya yang Terus Hidup

Wabup Landak Erani Dukung Pelestarian Budaya Dayak di HUT ke-9 PBRTB: “Kita Harus Bangga dengan Warisan Leluhur

Perayaan HUT PBRTB ke-9 tidak hanya berisi seremonial, tetapi juga diwarnai berbagai pertunjukan menarik seperti tarian adat Dayak, silat, Barongsai, dan Tatung, yang menggambarkan kekayaan dan keberagaman budaya Kalimantan Barat.

Marselinus mengajak seluruh masyarakat untuk terus melestarikan adat dan budaya leluhur agar nilai-nilai luhur tersebut bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya adalah jati diri kita. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?” ujarnya penuh semangat.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Landak Erani, Camat Banyuke Hulu Andrew Gormico, Kepala Desa Semade Jalani, Ketua DAD Banyuke Hulu Abetnego, serta perwakilan PBRTB dari dalam dan luar negeri.

Perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat pelestarian budaya Dayak masih sangat kuat di tengah masyarakat. Melalui kerja sama antara pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat, nilai-nilai kearifan lokal di Kabupaten Landak diharapkan terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. (Tino)

Kamis, 28 Agustus 2025

Kisah DPP Majelis Adat Budaya Tionghoa: Pilu di Balik Pesta Kekuasaan Tumbang

Kisah DPP Majelis Adat Budaya Tionghoa: Pilu di Balik Pesta Kekuasaan Tumbang
Kisah DPP Majelis Adat Budaya Tionghoa: Pilu di Balik Pesta Kekuasaan Tumbang.
PONTIANAK - Ini bukan drama. Ini nyata. Sebuah organisasi besar, Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), tersandung pada lubang yang digali sendiri.
 
Di panggung yang seharusnya suci, yang dipertontonkan adalah kasus kelam tentang ambisi, ketidakpatuhan, dan kekosongan wewenang. 

Sebuah cerita yang berawal dari seorang ketua umum yang berhalangan tetap ditahan sebagai tersangka, namun bayang-bayangnya masih saja merangkul rapat, menerbitkan surat, seolah hukum organisasi dan negara tak berlaku. 

Lalu, di mana para penjaga gawang? Di mana Dewan Pimpinan Wilayah (DPW)? Mereka hilang. Entah ke mana. Yang ada hanya Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang kebingungan, dipaksa memainkan peran yang bukan haknya. 

Inilah potret buramnya kelam tentang sebuah organisasi yang lupa pada tata kramanya sendiri.

Ketua Bayang Hukum

Paulus Mursalim. Namanya menghiasi setiap pembicaraan. Ia adalah Ketua Umum DPP MABT yang, dalam narasi hukum, telah “berhalangan tetap”. 

Status tersangka seharusnya memutus segala kewenangannya. Ia tak boleh lagi menandatangani surat, memimpin rapat, apalagi mengambil keputusan strategis. 

Tapi, anomali terjadi. Tanggal 8 Agustus 2025, sebuah Surat Keputusan (SK) panitia terbit atas namanya. 

Sebuah SK yang lahir dari dunia lain, seolah sang ketua masih bebas berkeliaran, bukan terkurung dalam jeruji. 

Ini bukan saja melanggar aturan organisasi, tapi juga melecehkan logika berpikir paling dasar. 

Bagaimana mungkin seorang tersangka masih bisa mengeluarkan SK? Ini adalah paling getir ketika hukum organisasi mati suri di ruang interograsi.

Hilangnya Sang DPW

Dalam struktur MABT, DPW adalah jantung demokrasi. Ia penengah antara DPP di pusat dan DPD di daerah. DPW-lah yang seharusnya memilih DPP, dan DPD memilih DPW. 

Sebuah siklus yang menjamin checks and balances. Tapi kini, jantung itu berhenti berdetak. 

DPW kosong, menghilang bagai ditelan bumi. Lantas, kenapa bisa hilang? 
Ceritanya kembali pada sebuah lompatan magis.

Ketua MABT Kalbar, terpilih secara sah di tingkat provinsi, tiba-tiba saja melompat ke kursi Ketua DPP. 

Ia bagai Gubernur yang dalam semalam menjadi Presiden tanpa pemilihan umum. Lompatan ini meninggalkan kekosongan. 

DPW Kalbar kehilangan pimpinan, dan secara struktural, lumpuh. Kekosongan ini adalah awal dari seluruh kekacauan. Tanpa DPW, seluruh piramida organisasi goyah.

DPD Pesta Kekuasaan Cacat

Dengan DPW hilang, DPD menjadi aktor tunggal di lapangan. Mereka yang seharusnya hanya memilih DPW, tiba-tiba diberi mandat atau memaksakan mandat untuk memilih DPP langsung. Sebuah tindakan inkonstitusional yang nyata. 

AD/ART MABT dengan tegas menyatakan DPP dipilih oleh DPW, bukan DPD. Memaksakan DPD memilih DPP adalah seperti meminta rakyat langsung memilih menteri, melangkahi parlemen. 

Konsekuensinya? 

Pertama, secara prosedural, DPP terpilih tidak sah. Ia cacat hukum sejak lahir. 

Kedua, setiap keputusan yang dikeluarkan DPP ini mulai dari kebijakan, penggunaan dana, hingga kerjasama berpotensi batal demi hukum. 

Ketiga, lahirnya dualisme kepemimpinan.  Kalau nanti DPW terbentuk dan menolak mengakui DPP ini, maka MABT pecah menjadi dua kubu.

Skandal Dana Bansos

Kekacauan tidak berhenti di situ. Ada lagi skandal masa jabatan yang memilukan. AD/ART dengan jelas menyatakan seorang pengurus DPD hanya boleh menjabat dua periode. 

SK pengangkatannya harus diterbitkan oleh DPW. Tapi kenyataannya? DPW tidak ada. Lalu, siapa yang menerbitkan SK? DPP-lah yang melakukannya. 

Sebuah tindakan yang melampaui kewenangan. DPP menerbitkan SK untuk DPD, padahal itu wewenang DPW. Ini seperti Presiden mengangkat camat, melangkahi Gubernur. 

Akibatnya, banyak DPD yang sudah dua periode masih saja diangkat ulang, melanggar aturan main. 

Lalu, bagaimana dengan dana Bantuan Sosial (Bansos) atau hibah dari pemerintah? Yang berhak menerima bansos tingkat provinsi adalah DPW. Tapi DPW kosong. 

Lalu, kemana dana bansos itu mengalir? Kemungkinan besar ke DPD atau bahkan DPP. Jika benar, ini bukan hanya pelanggaran AD/ART, tapi sudah masuk ranah pidana korupsi. 

Dana yang ditujukan untuk struktur yang sah, dialihkan ke struktur yang tidak sah. Sebuah drama pilu tentang nafsu menguasai dana publik.

Caretaker? Simbol Kebingungan

Di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat, masalah semakin runyam. Masa jabatan DPD sudah berakhir. 

Lalu, DPP menunjuk seorang Penjabat Sementara (Plt.) dari Pengurus DPP di Kota Pontianak. Ini lagi-lagi kesalahan fatal. 

Plt hanya boleh ditunjuk jika ketua berhalangan tetap. Sementara jika masa jabatan sudah habis, yang diperlukan adalah Caretaker (pelaksana tugas) yang dipilih melalui musyawarah di tingkat DPD sendiri. 

Itupun, Caretaker seharusnya berasal dari pengurus DPW. Tapi lagi-lagi, DPW tidak ada. Yang terjadi adalah intervensi dari pusat yang tidak sah. 

DPP, yang statusnya sendiri dipertanyakan, seenaknya menunjuk orang untuk menguasai daerah. Ini adalah bentuk lain dari penjajahan struktural.

Sebuah Kelam Terprediksi

Akar dari semua masalah ini adalah dua hal pertama, ketidakpatuhan pada AD/ART. AD/ART adalah konstitusi organisasi. Ia dibuat untuk menjaga tata kelola yang sehat. 

Mengabaikannya sama saja dengan membangun menara di atas pasir. Kedua, konsentrasi kekuasaan. 

Ketua DPP yang seharusnya sudah tidak sah masih bisa menerbitkan SK. Ini menunjukkan sistem yang sangat sentralistik dan rentan disalahgunakan. 

Ketiga, hilangnya budaya musyawarah. Budaya Tionghoa yang menjunjung tinggi musyawarah dan hierarki, ternodai oleh arogansi kekuasaan.

Dampaknya sangat serius. Pertama, legalitas MABT di mata pemerintah (Kesbangpol) akan dipertanyakan. 

Pencatatan kepengurusan bisa ditolak. Kedua, kerjasama dengan pihak eksternal (pemerintah, sponsor) akan terhambat karena status kepengurusan yang tidak jelas. 

Ketiga, kepercayaan anggota runtuh. Organisasi seperti ini tidak akan maju, hanya berputar-putar dalam skandal.

Sebenarnya, solusinya jelas. Pertama, segera bentuk DPW. Kumpulkan semua DPD untuk memilih DPW di masing-masing wilayah. 

Kedua, selenggarakan Munas Luar Biasa untuk mengangkat Plt. yang sah atau mengamendemen AD/ART sementara jika memang dalam kondisi darurat. 

Ketiga, libatkan tokoh-tokoh senior dan penasehat untuk menjadi penengah yang netral. 

Keempat, audit semua penerimaan bansos dan hibah untuk memastikan tidak ada penyimpangan.

Tapi, semua solusi itu membutuhkan niat baik dan kerendahan hati. Persoalannya, apakah para pengurus masih punya itu? 

Ataukah nafsu kekuasaan telah membutakan segala hal? Kisah MABT ini adalah cermin bagi semua organisasi. 

Ia adalah sekelumit tentang bagaimana kekuasaan bisa menghancurkan tatanan, jika tak diimbangi dengan integritas dan kepatuhan pada aturan. 

Inilah masalah memalukan yang terpaling sangat memilukan. Inilah tentang manusia yang lupa, bahwa yang ia pimpin bukanlah kerajaan, tapi amanah.

Rabu, 30 Juli 2025

Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur: Pelestarian Budaya Lokal Dayak, Kutai, dan Banjar Lewat Festival, Museum, dan Film

Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur: Pelestarian Budaya Lokal Dayak, Kutai, dan Banjar Lewat Festival, Museum, dan Film
Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur: Pelestarian Budaya Lokal Dayak, Kutai, dan Banjar Lewat Festival, Museum, dan Film. (Gambar ilustrasi)

SAMARINDA -- Pelestarian budaya lokal Dayak, Kutai, dan Banjar semakin kreatif lewat festival, museum, dan film tradisi. Yuk, lihat bagaimana budaya ini terus hidup di era modern!

Warisan Budaya Tak Boleh Hilang Begitu Saja

Kamu pernah datang ke festival budaya di Kalimantan? Atau melihat film dokumenter tentang tradisi suku Dayak? 

Atau mungkin, mampir ke museum yang memajang warisan Kesultanan Kutai dan budaya Banjar?

Semua itu bukan sekadar tontonan. Di balik gemerlapnya, ada upaya besar untuk menjaga identitas dan kebanggaan daerah.

Pelestarian budaya lokal kini bukan cuma soal melestarikan tari-tarian atau pakaian adat. Ini soal narasi bagaimana sebuah komunitas ingin terus eksis di tengah arus modernisasi. 

Dan Kalimantan Timur serta Kalimantan Selatan punya cerita menarik soal ini.

Festival Budaya: Meriah, Penuh Makna, dan Mengedukasi

1. Erau: Festival Legendaris dari Kerajaan Kutai Kartanegara

Kalau bicara soal pelestarian budaya Kutai, nama Festival Erau pasti langsung terlintas. Festival ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Kutai Kartanegara, dan kini menjadi ikon budaya tahunan.

Apa yang bikin Erau spesial?

  • Upacara adat beluluh, yaitu pembersihan diri dan lingkungan.

  • Lomba perahu naga di Sungai Mahakam.

  • Pertunjukan seni dari daerah lain bahkan negara tetangga.

Festival Erau jadi jembatan antara generasi tua dan muda untuk terus mengenal akar sejarah mereka. Bahkan, wisatawan dari mancanegara pun penasaran ingin datang.

2. Festival Budaya Dayak: Jejak Kearifan Lokal yang Hidup

Suku Dayak dikenal punya kekayaan budaya yang luar biasa, dari ritual adat, tato sakral, sampai seni ukir dan tenun. 

Di banyak kabupaten di Kalimantan Timur, seperti Mahakam Ulu dan Kutai Barat, festival budaya Dayak menjadi agenda tahunan.

Beberapa contohnya:

  • Gawai Dayak di Mahulu, sebagai bentuk syukur panen.

  • Festival Tanaa’ Ulen yang menampilkan ritual adat dan seni Dayak Bahau.

Yang menarik, festival ini juga melibatkan generasi muda. Mereka tampil sebagai penari, musisi, bahkan pembawa acara. 

Jadi, budaya tidak sekadar diwariskan, tapi juga dikreasikan kembali.

3. Festival Budaya Banjar: Memperkuat Identitas di Kalimantan Selatan

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, budaya Banjar juga tidak kalah hidup. Festival seperti Baiman dan Festival Pasar Terapung bukan hanya ajang pesta rakyat, tapi juga sarana edukasi dan promosi budaya.

Di sinilah tarian Baksa Kembang, sastra lisan madihin, hingga kuliner khas Banjar diperkenalkan ke publik luas.

Museum: Penjaga Memori Kolektif Budaya

Kalau festival adalah panggung budaya, maka museum adalah ruang kontemplasi. Di sinilah warisan budaya disimpan, dijaga, dan diceritakan kembali secara sistematis.

1. Museum Mulawarman: Napak Tilas Kejayaan Kutai

Terletak di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Museum Mulawarman dulunya adalah istana Kesultanan Kutai. Kini, museum ini menyimpan ribuan koleksi:

  • Keris dan tombak kerajaan.

  • Singgasana Sultan Kutai.

  • Kain tenun dan permata khas Kutai.

  • Prasasti Yupa (peninggalan Hindu tertua di Indonesia!).

Museum ini menjadi bukti otentik bagaimana budaya Kutai bukan sekadar legenda, tapi bagian nyata dari sejarah bangsa.

2. Museum Daerah Kalimantan Timur: Surga Informasi Budaya

Di Samarinda, kamu bisa mampir ke Museum Daerah Kaltim yang menyimpan banyak informasi tentang etnis Dayak dan Banjar. 

Mulai dari replika rumah panjang Dayak, alat musik tradisional, sampai artefak arkeologi.

Museum ini penting karena:

  • Menjadi referensi bagi pelajar dan peneliti.

  • Mengedukasi pengunjung soal keberagaman budaya.

  • Mendorong kebanggaan lokal melalui pameran interaktif.

Film Tradisional: Medium Baru untuk Narasi Budaya

Di era digital, film jadi salah satu cara paling efektif untuk memperkenalkan budaya lokal, apalagi ke generasi muda yang sudah lekat dengan YouTube dan media sosial.

1. Film Dokumenter: Suara Asli dari Komunitas

Beberapa sineas lokal di Kalimantan sudah mulai mengangkat kisah-kisah dari akar rumput. Misalnya:

“Suara dari Sungai Mahakam” – mengisahkan perjuangan masyarakat Dayak dalam menjaga hutan adat mereka.

“Lanting Banua” – menggambarkan kehidupan warga Banjar di bantaran sungai, serta budaya pasar terapung yang makin tergerus.

Dokumenter seperti ini membuka mata penonton luar bahwa ada kebijaksanaan lokal yang perlu dihargai.

2. Film Fiksi Berbahasa Daerah: Menyentuh Sekaligus Menghibur

Beberapa komunitas kreatif juga membuat film pendek atau serial web dalam bahasa Banjar dan Dayak. Walau skalanya kecil, dampaknya besar:

  • Bahasa daerah tetap hidup.

  • Nilai-nilai adat bisa masuk ke ranah pop culture.

  • Menumbuhkan rasa bangga pada identitas lokal.

Kolaborasi Adalah Kunci: Pemerintah, Komunitas, dan Generasi Muda

Pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kerja sama lintas sektor.

1. Peran Pemerintah Daerah

Pemprov dan pemkab di Kalimantan Timur dan Selatan sudah banyak memberi dukungan:

  • Bantuan dana untuk festival dan komunitas budaya.

  • Revitalisasi museum dan situs sejarah.

  • Pelatihan kreatif untuk generasi muda.

2. Komunitas Adat dan Seniman Lokal

Mereka adalah garda terdepan pelestarian budaya. Misalnya:

  • Komunitas Tenun Ikat Dayak Benuaq di Kutai Barat.

  • Seniman madihin Banjar yang rutin tampil di festival daerah.

3. Keterlibatan Generasi Muda

Anak muda sekarang bisa jadi storyteller budaya lewat media sosial, podcast, atau film pendek. Dengan pendekatan yang segar, budaya tidak akan kaku dan kuno justru jadi keren!

FAQ: Pertanyaan Seputar Pelestarian Budaya Dayak, Kutai, dan Banjar

Apa saja contoh festival budaya yang populer di Kalimantan Timur?

Beberapa festival budaya yang populer antara lain Festival Erau di Kutai Kartanegara, Festival Gawai Dayak di Mahakam Ulu, dan Festival Tanaa’ Ulen di Kutai Barat.

Museum apa yang wajib dikunjungi untuk mengenal budaya Kutai?

Museum Mulawarman di Tenggarong adalah destinasi utama untuk mempelajari sejarah dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara.

Apakah budaya Banjar juga dilestarikan lewat film?

Ya, beberapa film dokumenter dan fiksi pendek berbahasa Banjar telah dibuat oleh komunitas lokal untuk mempromosikan budaya mereka.

Bagaimana cara anak muda ikut melestarikan budaya?

Anak muda bisa ikut melalui berbagai cara, seperti membuat konten budaya di media sosial, ikut komunitas seni, atau bahkan membuat film dan dokumenter lokal.

Pelestarian budaya Dayak, Kutai, dan Banjar bukanlah nostalgia semata. Ini adalah investasi identitas. Lewat festival, museum, dan film, budaya lokal menemukan jalan baru untuk tetap hidup, bahkan berkembang.

Kalau kamu tinggal di Kalimantan atau punya akses ke budaya-budaya ini, yuk ikut andil! 

Entah dengan datang ke festival, mengunjungi museum, atau sekadar membagikan film budaya di media sosial setiap langkah kecil punya arti besar.

Karena budaya bukan cuma milik masa lalu, tapi warisan untuk masa depan.

Jumat, 18 Juli 2025

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.

Sintang – Budaya adalah jati diri, dan jati diri tak boleh hilang begitu saja. Itulah pesan mendalam yang disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, saat menghadiri Pekan Gawai Dayak (PGD) Sintang ke-12 yang berlangsung meriah di Rumah Betang Tampun Juah, Desa Jerora Satu, pada Rabu, 16 Juli 2025.

Dengan penuh rasa syukur, Krisantus menyampaikan bahwa bisa hadir di tengah masyarakat adat Dayak merupakan sebuah berkah yang luar biasa. Baginya, acara budaya seperti ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk menyatukan hati dan kembali mengenang akar budaya yang diwariskan para leluhur.

“Kita patut bersyukur masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk berkumpul di acara penuh makna ini. Gawai Dayak bukan hanya hiburan, tapi bentuk syukur atas karir, kesehatan, dan seluruh berkat yang telah kita terima selama satu tahun terakhir,” ujarnya dengan semangat.

Gawai Dayak: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Wujud Syukur dan Identitas

Gawai Dayak, yang rutin diselenggarakan setiap tahun, adalah salah satu acara budaya terbesar yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Dalam acara ini, masyarakat adat Dayak tak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Wakil Gubernur Kalbar menegaskan bahwa gawai memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar makan minum atau musik tradisional.

“Gawai Dayak adalah bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur. Ini bukan acara seremonial biasa, tapi warisan spiritual yang punya nilai tinggi bagi masyarakat Dayak,” tegas Krisantus.

Tantangan Budaya di Era Modern: Tetap Eksis di Tengah Arus Teknologi

Satu hal yang jadi perhatian serius adalah bagaimana budaya lokal bisa tetap eksis di tengah kemajuan zaman. Di era digital dan globalisasi seperti sekarang, sangat mudah bagi budaya tradisional tergeser oleh budaya luar. Krisantus mengingatkan, jika kita lengah, budaya bisa hilang dan hanya menjadi cerita.

“Kalau kita tidak jaga budaya kita sendiri, lama-lama bisa punah. Budaya adalah identitas, dan identitas adalah harga diri. Kalau kita kehilangan itu, kita kehilangan segalanya,” katanya dengan penuh ketegasan.

Oleh karena itu, ia mendorong agar seluruh masyarakat, terutama generasi muda, tak hanya bangga dengan budaya Dayak, tapi juga aktif melestarikannya lewat berbagai cara — mulai dari ikut kegiatan adat, belajar bahasa daerah, hingga menggunakan media sosial untuk memperkenalkan budaya ke dunia.

Apresiasi atas Perubahan Positif: Infrastruktur Meningkat, Semangat Bertambah

Kehadiran Krisantus juga menjadi momen untuk melihat langsung perkembangan fasilitas di lokasi acara. Salah satu yang mendapat sorotan adalah perbaikan halaman Rumah Betang Tampun Juah, yang kini sudah rapi dan disemen.

“Saya ingat dulu kalau pakai sepatu putih ke sini pasti kotor karena becek. Tapi sekarang sudah dibeton, ini menunjukkan bahwa panitia dan masyarakat punya komitmen untuk membuat Gawai Dayak semakin baik setiap tahun,” ucapnya sambil tersenyum puas.

Perbaikan ini tak hanya mempermudah pelaksanaan acara, tapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan keinginan bersama untuk memajukan budaya Dayak secara menyeluruh.

Komitmen Pemprov Kalbar: Budaya Dayak Harus Mendunia

Tak berhenti di acara lokal, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen untuk terus mendorong agar Gawai Dayak bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Krisantus mengatakan, pelestarian budaya bukan hanya tugas satu kelompok, tapi tanggung jawab semua pihak.

Sebagai bentuk dukungan nyata, ia pun menyerahkan bantuan secara simbolis kepada panitia PGD Sintang ke-12 yang diterima langsung oleh Ketua Panitia. Bantuan ini diharapkan bisa mendorong semangat panitia dan masyarakat dalam menggelar kegiatan budaya yang lebih meriah dan bermutu di tahun-tahun mendatang.

Menjaga Budaya Adalah Menjaga Masa Depan

Dalam suasana penuh kearifan lokal dan semangat persaudaraan, pesan yang dibawa Wakil Gubernur Kalbar terasa sangat kuat: budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tapi fondasi masa depan. Apa jadinya kita jika kehilangan akar dan identitas? Karena itu, menjaga budaya adalah investasi untuk generasi yang akan datang.

Acara Gawai Dayak ke-12 di Sintang ini bukan hanya perayaan, tapi juga bentuk cinta yang tulus kepada tradisi, nilai, dan warisan luhur yang tak ternilai harganya. Semoga semangat ini terus menyala di hati masyarakat Kalimantan Barat dan Indonesia pada umumnya.

Selasa, 15 Juli 2025

Gadis Dayak-Tionghoa yang Menyulam Budaya, Menjaga Alam dan Menginspirasi Generasinya

Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.

Lovenia Joan Shannia: Domia Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau

SANGGAU - Selasa malam, 8 Juli 2025 boleh jadi bakal jadi malam yang paling dikenang oleh Lovenia Joan Shannia, yang akrab disapa Shannia, dara 17 tahun asal Pusat Damai, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. 

Meski semarak Gawai Dayak Nosu Minu Podi bukan hal baru untuknya, namun malam itu, bersama rekan satu kontingen – DAD Kecamatan Parindu,  Felix Ricky Aditama, dinobatkan sebagai juara 1 Domia Gawai Dayak Nosu Minu Padi XXI Sanggau. 

Ricky dan Shannia sukses menyandingkan “Domamang dan Domia”, Adam dan Hawa dalam legenda Dayak Bidayuh. 

Ini sebuah sejarah sepanjang pagelaran Gawai Dayak Nosu Minu Podi. Di mana pemenang lomba “Domamang dan Domia” diborong oleh satu kontingen.

Langkah anggun gemulai Shannia di atas panggung Gawai Dayak Nosu Minu Podi 2025 memang begitu memikat. Bulu enggang hiasan kepalanya serupa doa dan harapan yang menjulang. 

Dia tidak sekadar memikat sacara ragawi, kecerdasannya dalam menjawab sejumlah pertanyaan juri, membuat para juri tak ragu menabalkannya sebagai pemenang. 

Ia memang layak, bukan semata karena kecantikannya, terutama karena misi yang tersimpan dalam benaknnya. 

Maka, ketika namanya disebut sebagai pemenang lomba Domia, langit Betang Raya Dori’ Mpulor serasa runtuh oleh tempik sorak para pendukungnya. 

Shannia adalah perpaduan sempurna Dayak Panu dan Tionghoa, yang mengalir dalam jiwanya.

Di atas panggung malam itu, Shannia tersenyum lembut tapi tegas, berbusana adat yang agung dan penuh makna.
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.
Shannia, buah cinta dari dua darah yang berpadu, Martinus Nomensen, ST, SE, MM – ayahnya, Dayak Pandu, figur birokrat yang dihormati di lingkungan Pemerintah kabupaten Sanggau. 

Sedangkan ibunya Mui Sian Indrawati, Tionghoa Pemangkat adalah pewaris nilai tanggung jawab dan cinta budaya. 

Dari keduanya, dara  kelahiran Pontianak, 4 Desember 2007 mendapat akar yang kokoh dan sayap yang lentur, tegak berdiri dalam adat, tapi bebas mengepak cita-cita ke cakrawala dunia. 

Dengan dinobatkan sebagai Domia Kabupaten Sanggau Tahun 2025 – semacam putri Gawai Dayak – gelar bergengsi yang bukan hanya menilai rupa, tetapi menakar hati, visi, dan dedikasi terhadap budaya. 

Dengan kemenangan ini, Shannia dan Ricky resmi menjadi Duta Kabupaten Sanggau untuk ajang Bujang Dara Pekan Gawai Dayak Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026. 

Shannia bukan sekedar pemenang, tetapi representasi generasi muda Dayak yang berpijak pada akar budaya dan menatap masa depan dengan tekad dan percaya diri.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya bukan beban masa lalu, melainkan pelita yang menerangi jalan ke depan,” ujar Shannia ketika dihubungi melalui media social whatsapp. Suaranya terdengar sumringah.

Shannia adalah buah dari pohon yang tumbuh dari di dua dunia: Dayak dan Tionghoa, lokal dan global. 

Ia mengawali pendidikan di SD Subsidi Pusat Damai, melanjutkan ke SMP Gembala Baik Pontianak, SMA Santa Maria Yogyakarta, dan kini diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember. 

Shannia beruntung tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, pengabdian dan iman.

Perjalanan pendidikan Shannia mencerminkan tekad, disiplin, dan arah hidup yang jelas. Meski tak pernah bergabung dalam sanggar seni, kecintaan Shannia pada budaya terus tumbuh. Ia kerap tampil dalam lomba dan kegiatan publik. 

Ketika di SMA ia menjabat Ketua Osis. Ketika SMP Shannia meraih medali perunggu pada ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) Bidang IPS Tingkat Nasional. 

Di Yogyakarta, ia pernah menjadi MC pentas budaya di Plaza Malioboro dan Perayaan Natal dan Kartini di Titik Nol Kilometer. Ini prestasi luar biasa untuk seorang siswi SMA.

Ajang Gawai Dayak Nosu Minu Podi sendiri tak asing baginya. Meski tak menjadi juara, ia pernah menjadi peserta Lomba Abang Ayong Gawai Dayak Nosu Minu Podi tahun 2014 dan 2018. 

Shannia berhasil membuktikan, bahwa anak daerah bisa bersaing dengan anak-anak lain. 

Namun di balik semua itu, ia tetap Shannia yang sederhana, yang jatuh cinta pada tanah, hutan, bahasa dan adat Dayak. Di kampung halaman ayahnya, ia terbiasa menyaksikan ritual, nyanyian, dan tarian adat. 

Bagi Shannia, budaya bukan sekadar tampilan visual atau gelar kehormatan, tetapi jati diri arah hidup dan cara mencintai alam. 

Maka, penampilannya dalam pemilihan Domia Sanggau 2025 terlihat maksimal. Ia tampil dengan penuh kepekaan dan kekuatan personal yang menyatu. 

“menjadi Domia bukan soal gelar. Ini soal menjaga warisan, memperjuangkan ruang perempuan, dan menyuarakan pentingnya merawat alam,” ucap Shannia. 
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.
Salah satu kekuatan Shannia adalah kemampuannya dalam menguasai beberapa bahasa asing. 

Dengan kefasihan berbahasa Inggris, Shannia ingin menjembatani nilai-nilai adat dengan dunia luar, membuka ruang dialog antara tradisi dan masa depan. 

“Bahasa bisa membuka pintu. Tapi budaya adalah kunci yang menjaga rumah kita tetap utuh,” ujarnya berfalsafah.

Di balik pesona panggung, Shannia menyimpan satu misi pribadi yang kuat: melindungi hutan dan air tanah Kalimantan. 

Ia sadar bahwa keberlangsungan budaya tidak bisa dilepaskan dari kelestarian alam. 

“Tanpa hutan, taka da rumah bagi budaya Dayak. Tanpa air, taka da kehidupan. Maka saya ingin menjadi suara yang mengingatkan, bukan hanya merayakan,” tegas gadis yang baru saja diterima sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jember ini. 

Mengikuti ajang Domia Gawai Dayak Nosu Minu Podi Kabupaten Sanggau, menurut Shannia, adalah bagian dari perjuangannya mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang kesetaraan gender. 

“Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan itu hebat dan mengambil peran penting dalam pelestarian budaya dan pembangunan,” tuturnya.

Keberhasilan Shannia tak dicapainya sendiri. Ia menyebut peran besar dari DAD (Dewan Adat Dayak) Kecamatan Parindu, juga bang Patra dan Kak Dea yang telah membimbingnya sebagai mentor. 

“Saya hanya satu daun dari pohon besar yang ditanam oleh banyak tangan,” ucapnya dengan rendah hati.

Sang ayah, ASN di lingkungan Pemkab Sanggau pun menyampaikan harapan tulus, “Tentu bangga, tapi kami berharap Shannia tetap membumi. Gelar ini bukan akhir, melainkan awal. Semoga ia terus bertumbuh dalam penyertaan Tuhan,” ujar Martinus Nomensen yang pernah menjabat Plt Camat Bonti dan kini bekerja di inspektorat Kabupaten Sanggau.

Dengan kemenangannya, Shannia hendak menyampaikan pesan, bahwa perempuan Dayak bisa berdiri dengan kepala tegak di panggung adat maupun forum akademik. 

Bahwa suara suara budaya tidak boleh mati, hanya karena perubahan zaman. Bahwa kehormatan sejati tumbuh dari cinta, kerja keras, dan akar yang tak tercerabut. 

“Aku ingin menjadi jembatan – antara akar dan bintang; antara hutan dan harapan; antara ibu tanah dan anak zaman,” pungkas Shannia penuh semangat.*

Willibrordus W., penulis, cerpenis, penyair, peminat sastra dan budaya, tinggal di Sintang, sahabat ayah Shannia.

Sabtu, 26 April 2025

Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata

Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

PONTIANAK – Suasana Kota Pontianak, Kalimantan Barat, semakin semarak dengan pelaksanaan Pawai Budaya Naik Dango II Tahun 2025 yang digelar Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Sabtu (26/4/2025). 

Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, secara resmi melepas pawai dari Rumah Betang di Jalan Letjen Sutoyo. Para peserta kemudian bergerak melintasi Jalan Ahmad Yani I, Jalan Sultan Abdurrahman, hingga finis di Rumah Radangk, Jalan Sultan Syahrir.

Puluhan kendaraan hias dari enam kontingen DAD kecamatan se-Kota Pontianak turut memeriahkan pawai ini. Meski hujan mengguyur saat pelepasan, para peserta tetap bersemangat mengikuti pawai hingga akhir.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

Deru musik tradisional menggema di sepanjang rute, menambah semarak suasana. Personel Polresta Pontianak mengawal jalannya pawai untuk memastikan ketertiban dan keamanan, sementara dua kelompok petugas Pemadam Kebakaran swasta di Pontianak turut bersiaga mendukung kelancaran acara. 

Peserta pawai tampil disiplin karena panitia Naik Dango II juga melakukan penilaian terhadap penampilan mereka.

Ketua Panitia Naik Dango II, Vinsensius Lintas, menegaskan bahwa pawai ini menjadi bagian penting dalam upaya mempromosikan budaya Dayak dan pariwisata Kota Pontianak.

"Agenda pawai budaya ini bertujuan untuk mendukung promosi pariwisata budaya di Pontianak, sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi Dayak kepada wisatawan. Meski hujan turun saat start, semangat peserta tidak luntur. Kami mengapresiasi partisipasi enam DAD kecamatan dan sanggar-sanggar budaya di Kota Pontianak," ungkap Vinsensius.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

Setelah pawai berakhir, acara dilanjutkan dengan ritual adat Ngantat Panompok, sebuah prosesi sakral dalam tradisi Dayak Kanayatn. Enam kontingen DAD kecamatan mengikuti prosesi ini sambil diiringi alunan gamelan dan suling tradisional.

Ngantat Panompok, atau mengantar hasil pertanian ke tempat penyimpanan, menggambarkan rasa syukur atas hasil panen. Panitia dan pengurus DAD Kota Pontianak menyambut peserta ritual ini dengan penuh khidmat.

"Ritual ini mengajarkan kita mengingat kembali perjuangan leluhur, dari menanam padi hingga memanen. Tarian panompok menjadi simbol syukur kepada Jubata dan para leluhur atas hasil panen tahun lalu. Selanjutnya, hasil-hasil panen disimpan di dangau padi sebagai bentuk penghormatan," terang Vinsen.

Acara ini juga dihadiri tamu lintas etnis serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pontianak. 

Panitia menyampaikan terima kasih kepada Polresta Pontianak atas dukungan penuh selama acara berlangsung. Panitia juga mengimbau seluruh peserta dan pengunjung untuk menjaga keamanan, kebersihan, serta kondusivitas hingga seluruh rangkaian acara selesai.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

Minggu, 08 September 2024

Vero Aprolonius dari Komunitas Tawak Borneo Terima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor dari PJ. Gubernur Kalimantan Barat

Vero Aprolonius dari Komunitas Tawak Borneo Terima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor dari PJ. Gubernur Kalimantan Barat
Vero Aprolonius dari Komunitas Tawak Borneo Terima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor dari PJ. Gubernur Kalimantan Barat.
PONTIANAK – Vero Aprolonius, pemerhati budaya sekaligus pendiri Komunitas Tawak Borneo, menerima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor dari Penjabat (PJ) Gubernur Kalimantan Barat, Harisson, dalam acara malam puncak peringatan Hari Tenun Nasional dan Anugerah Kebudayaan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat bekerja sama dengan Pelestari Ragam Hayati dan Cipta Fondasi Kalimantan Barat, bertempat di Grand Anggrek, lantai 3, Ibis Hotel Pontianak, Sabtu (7/9/24).

Plt. Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau, Martinus Siden, dalam keterangan persnya menyampaikan ucapan selamat kepada Vero Aprolonius atas penghargaan yang diterimanya. “Kami bangga dan mengucapkan selamat kepada saudara Vero Aprolonius atas diterimanya anugerah kebudayaan sebagai pelopor pelestarian kebudayaan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau,” ujar Martinus.

Dalam keterangan persnya, Vero Aprolonius juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Komunitas Tawak Borneo. “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada TYME, keluarga, Bapak Jeffray Raja Tugam, YFG, HS, LB, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau, serta sahabat-sahabat di Tawak Borneo atas dukungan dan support-nya selama ini. Semoga penghargaan ini semakin memotivasi kami untuk terus melestarikan kebudayaan di Kalimantan Barat,” ucapnya.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi Vero dalam memajukan dan melestarikan kebudayaan lokal Kalimantan Barat di Kabupaten Sekadau melalui Komunitas Tawak Borneo. (ST)