Musibah Kapal Karam di Pelindo Sukabangun, Muncul Spekulasi Pungli dari Tambat Tongkang BBM Industri

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Sabtu, 07 Februari 2026

Musibah Kapal Karam di Pelindo Sukabangun, Muncul Spekulasi Pungli dari Tambat Tongkang BBM Industri

Musibah Kapal Karam di Pelindo Sukabangun, Muncul Spekulasi Pungli dari Tambat Tongkang BBM Industri
FOTO: Tongkang Rezeki Kapuas bemuatan BBM Solar bertambat di kawasan Pelindo Sukabangun Ketapang.

Ketapang (Borneo Tribun) - Bangkai Kapal Layar motor (KLM) Barokah yang karam pada April 2024 di perairan kawasan pelabuhan Pelindo II di Sukabangun Ketapang sampai saat ini masih belum bisa di evakuasi. 

Dampaknya, tongkang Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikatakan kepala pengelola kawasan Pelindo Sukabangun Rudi Hartono adalah kepunyaan PT AKR tidak bisa keluar dari areal dermaga Pelindo karena terhalang kapal karam tersebut. 

Nah, dibalik musibah ini, muncul dugaan praktek pungutan liar (Pungli) dengan modus penyimpangan pengelolaan uang jasa pelabuhan ataupun uang jasa tambat tongkang serta jasa kenavigasian yang seharusnya masuk ke kas negara (PNBP) tetapi disalahgunakan. 

Pantauan lapangan, tongkang dengan nama lambung Rezeki Kapuas ini bertambat nempel di pelabuhan Pelindo. Nampak terlihat, instalasi pipa-pipa besi untuk kepentingan bongkar BBM lengkap terpasang. BBM dari tongkang ini dialirkan ke instalasi pipa di darat yang berfungsi memasukan BBM ke mobil tangki. 

Berdasarkan regulasi, Permenhub nomor 52 Tahun 2021, pelaku usaha industri termasuk BBM wajib memiliki Terminal Khusus (Tersus) atau Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS). Pembangunan maupun pengoperasianya haruslah berada di luar pelabuhan milik Pemerintah seperti Pelindo. 

Kepala pengelola kawasan Pelindo Sukabangun Ketapang, Rudi, Rabu (04/02/2026) mengatakan, upaya mendesak pemilik kapal beserta perusahaan pelayaran agar mengangkat badan kapal karam tersebut sudah dilakukan. Namun, Ia mengakui, pihaknya kehilangan jejak dengan mereka sehingga bangkai kapal masih bercokol. 

"Jujur ya, kami kini lost kontak, kehilangan jejak dengan mereka, kabarnya pemilik kapal dan perusahaan pelayaran sudah meninggal. Desas desusnya, keluarga pemilik kapal juga sedang bermasalah," ujar Rudi Rabu pekan ini. 

Terkait keberadaan tongkang tersebut, Rudi menjelaskan, bahwa perusahaan AKR melakukan salin muatan BBM dari tongkang bermuatan BBM ke tongkang Rezeki Kapuas.

"Dari laut, tongkang bermuatan BBM merapat ke tongkang itu, salin muatan lewat pipa mereka," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan warga yang mengetahui peristiwa tersebut menyampaikan, KLM Barokah karam karena benturan dengan tongkang BBM.

Kapal alami kebocoran dan langsung karam. Barang muatan berupa pupuk sebanyak 325 ton tak bisa diselamatkan. Meskipun demikian, warga itu bilang kalau peristiwa ini tak memakan korban jiwa, seluruh Anak Buah Kapal berhasil menyelamatkan diri. 

"Saat kejadian itu, subuh, kapal banyak muat pupuk, nabrak tongkang BBM AKR, bocor langsung karam," kata warga itu. (MUZAHIDIN).

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.