![]() |
| Rusia Tunggu Hasil Tes Resmi Usai Klaim Racun Epibatidine pada Navalny. |
Isu penyebab kematian oposisi Rusia, Alexei Navalny, kembali menjadi sorotan internasional. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara tegas menyatakan bahwa pemerintah AS tidak terlibat dalam klaim sejumlah negara Eropa terkait dugaan penggunaan racun epibatidine dalam kasus tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Rubio saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Slowakia, Robert Fico, di Bratislava, Minggu (15/2). Dalam kesempatan tersebut, Rubio menegaskan bahwa Washington tidak sedang “berselisih” dengan negara-negara Eropa terkait laporan yang beredar.
“Itu adalah laporan mereka dan mereka yang menerbitkannya,” ujar Rubio, menekankan bahwa Amerika Serikat tidak berada di balik rilis dokumen tersebut.
Lima Negara Eropa Rilis Laporan Bersama
Sebelumnya, lima negara Eropa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia mengeluarkan laporan bersama yang menyebut bahwa Alexei Navalny diduga meninggal akibat paparan racun epibatidine.
Epibatidine dikenal sebagai racun sangat mematikan yang secara alami ditemukan pada kulit katak panah beracun di kawasan Amerika Selatan. Zat ini memiliki efek toksik ekstrem, bahkan dalam dosis sangat kecil.
Klaim tersebut langsung memicu perhatian dunia, mengingat posisi Navalny sebagai aktivis anti-korupsi dan tokoh oposisi paling vokal terhadap Kremlin.
Respons Rusia: Tunggu Hasil Tes Resmi
Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan pihaknya akan memberikan komentar resmi setelah hasil pengujian laboratorium dirilis.
Sikap ini menunjukkan bahwa Moskow masih menunggu data ilmiah sebelum mengambil posisi tegas atas tuduhan tersebut.
Kronologi Kematian Navalny
Navalny dilaporkan meninggal dunia pada 16 Februari 2024 saat menjalani hukuman penjara di Rusia. Berdasarkan informasi awal, ia sempat berjalan-jalan sebelum tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Laporan awal menyebutkan kemungkinan pembekuan darah sebagai penyebab kematian. Sementara itu, Komite Investigasi Rusia telah membuka penyelidikan prosedural untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden tersebut.
