![]() |
| Menu MBG dari SPPG Sandai yang diterima siswa pada Senin pertama masuk sekolah awal bulan Ramadhan kemarin berimbas SPPG ditutup sementara. |
Ketapang (Borneo Tribun) - Satu dapur Satuan Pengelola Pelayanan Gizi (SPPG) di Kecamatan Sandai di bawah Yayasan Gemilang Usaha Kapuas diberhentikan operasinya oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Keputusan BGN ini sebagai imbas dari pemberian menu ke siswa di bawah standar harga maupun standar gizi saat awal masuk sekolah Senin kemarin.
"Beberapa SPPG itu, salah satunya di Sandai, sudah keluar surat Pemberhentian Operasional dari BGN," ujar Kepala Program MBG wilayah Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, Rabu (25/02/2026).
Diketahui, keputusan penghentian ini dilakukan setelah BGN menerima laporan Koordinator Regional Provinsi Kalbar dan laporan Kepala SPPG Ketapang-Sandai.
Dalam surat yang beredar di kalangan wartawan, surat penghentian itu diteken oleh Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Wilayah III, Rudi Setiawan.
"Dalam rangka pelaksanaan Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026, untuk sementara SPPG Ketapang Sandai dihentikan operasionalnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan," demikian bunyi surat tersebut.
Dengan dihentikannya operasional SPPG Ketapang Sandai, distribusi MBG di wilayah tersebut untuk sementara waktu dipastikan terhenti hingga ada evaluasi dan keputusan lanjutan dari BGN.
SPPG Sandai diketahui dikelola Yayasan Gemilang Usaha Kapuas dengan total 3.330 penerima manfaat dari 13 sekolah, mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA.
Sebelumnya, SPPG Sandai ini viral dengan menu versi Ramadan berupa dua pisang, tiga butir kurma, dan dua roti.
Menu kering tersebut dinilai sejumlah orangtua tidak memenuhi standar gizi dan dianggap tidak sebanding dengan alokasi anggaran. Warga bahkan menjulukinya sebagai "Menu Diet Gratis" (MDG) karena dinilai terlalu minim.
"Jauh sebelum bulan puasa, saya sudah beritahu ke semua SPPG untuk berhati-hati dalam menentukan menu kering. Karena bisa dihitung secara nyata dan masyarakat kita sudah pintar," tandas Agus Kurniawi.
Penulis; Muzahidin.
