Semakin Ramai Bicarakan Koptagul

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Kamis, 05 Februari 2026

Semakin Ramai Bicarakan Koptagul

Semakin Ramai Bicarakan Koptagul
Semakin Ramai Bicarakan Koptagul.

Koptagul memang tak bisa dipisahkan dari saya. Ia sudah seperti bayangan. Ke mana tulisan pergi, di situ Koptagul nongkrong. Kadang saya merasa bukan lagi menulis artikel, melainkan menuangkan kopi ke dalam paragraf. Aneh tapi nyata, setiap tulisan selalu saja ada kata Koptagul. Bahkan netizen pun ikut-ikutan. Ada yang berkomentar panjang lebar, ada yang cuma nyengir, lalu ditutup dengan salam sakral: salam Koptagul. Bukan salam olahraga, bukan salam literasi, tapi salam pahit nan elegan.

Padahal awalnya sederhana. Sesederhana kopi tanpa gula. Saya memang orang yang tak percaya pada manis-manis berlebihan. Dalam hidup, dalam politik, apalagi dalam narasi. Maka saya sering bilang, seruput kopi tanpa gula. Sampai suatu hari, seorang netizen bernama Umar, asal Bukittinggi—daerah yang hawanya dingin tapi otaknya hangat—meninggalkan komentar cerdas. Katanya, “Bang, singkat saja jadi Koptagul. Biar ada rasa Turkinya.” Saya baca, saya ketawa, saya angguk. Deal. Dari situlah lahir satu diksi yang tak pernah masuk KBBI, tapi sukses masuk kepala orang.

Sejak saat itu, Koptagul bukan lagi sekadar singkatan. Ia naik pangkat menjadi gaya hidup. Ia menjelma bumbu wajib untuk narasi yang bikin dahi mengernyit, mata menyipit, dan hati bergumam, “Lah kok gini?” Koptagul hadir setiap kali kenyataan terlalu pahit untuk ditelan mentah-mentah. Ia menjadi jembatan antara fakta yang kejam dan humor yang menyelamatkan kewarasan.

Kini, orang ramai membicarakan Koptagul. Seolah-olah ia seorang influencer. Padahal tak pernah membuka endorsement, tak punya akun resmi, dan tak butuh centang biru. Tapi pengaruhnya berjalan. Diam-diam. Licin. Di kolom komentar, di obrolan warung kopi, di status yang sengaja atau tak sengaja meniru gaya. Inilah fenomena paling berbahaya dalam dunia tulis-menulis: ketika sebuah kata berubah menjadi identitas.

Secara edukatif, ini menarik. Dalam ilmu komunikasi, kata yang terus diulang dengan konteks kuat akan membangun asosiasi mental. Dalam sosiologi, simbol yang dipakai bersama akan melahirkan rasa kebersamaan. Dalam psikologi, rasa pahit justru lebih diingat dibanding manis. Koptagul bekerja di semua lini itu, tanpa pernah mengaku-ngaku. Ia lahir dari obrolan netizen, tumbuh di narasi, lalu dewasa di kepala pembaca.

Yang paling lucu sekaligus inspiratif, Koptagul membuktikan bahwa pengaruh tak selalu datang dari teori berat atau istilah asing berbahasa Inggris. Kadang ia lahir dari candaan, dari kopi tanpa gula, dari komentar jujur seorang Umar di Bukittinggi. Dunia boleh ribut soal influence, engagement, dan algoritma. Koptagul memilih jalan sunyi: pahit, konsisten, dan jujur.

Maka jika hari ini orang bicara tentang Koptagul seperti ia sebuah aliran, saya hanya bisa tersenyum. Ini bukan soal saya. Ini soal bagaimana sebuah kata bisa hidup, berjalan, dan bekerja di alam bawah sadar publik. Seperti kopi pahit yang tak semua orang suka, tapi sekali cocok, susah pindah ke yang lain.

Siap, wak. Ini pesan moralnya—ringkas tapi nancep, pahit tapi bikin melek:

Hidup tak selalu butuh gula. Kadang justru kepahitan yang membuat kita terjaga, berpikir, dan tetap waras di tengah dunia yang hobi memaniskan kebohongan.

Koptagul mengajarkan satu hal penting:
Jangan takut pada rasa pahit, karena di sanalah kejujuran tinggal. Yang terlalu manis sering cuma tipu-tipu, yang pahit justru apa adanya.

Maka seruputlah hidup seperti kopi tanpa gula.
Tak selalu enak di lidah, tapi jujur di rasa.
Orang yang berani pahit, biasanya lebih lama diingat.

Silakan seruput pelan-pelan. Kalau dahi mulai berkerut, berarti Koptagul bekerja. Seruput Koptagul-nya, wak!

Foto AU hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.