Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Kamis, 12 Februari 2026

Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami

Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami
Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami.

JAKARTA -- Belakangan ini, nama Baskara ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena prestasi atau sensasi biasa, tetapi karena dugaan perlakuan rasis dari sejumlah netizen Korea Selatan. Namun, di tengah perdebatan yang memanas, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar memahami makna rasisme dalam konteks Korea Selatan?

Mari kita bahas dengan sudut pandang yang lebih jernih.

Selama ini, banyak orang menganggap rasisme selalu berkaitan dengan warna kulit, suku, atau agama seperti yang sering terjadi di Amerika atau Eropa. Padahal, di Korea Selatan, bentuk rasisme yang kerap muncul memiliki pola yang sedikit berbeda.

Di sana, perlakuan diskriminatif sering kali bukan semata-mata karena warna kulit, melainkan karena asal negara seseorang.

Ambil contoh kasus Baskara. Ia berasal dari Indonesia, negara yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Dalam pandangan sebagian masyarakat Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara sering dianggap berada di bawah standar ekonomi dan teknologi mereka. Persepsi inilah yang kemudian memicu sikap merendahkan.

Kita mungkin pernah mendengar stereotip lama tentang Indonesia. Bahkan ada sebagian orang di negara lain yang masih membayangkan Indonesia sebagai wilayah penuh hutan tanpa perkembangan modern. Padahal, realitanya Indonesia terus bertumbuh, baik dari sisi ekonomi, infrastruktur, hingga teknologi digital.

Menariknya, ada contoh lain yang memperkuat pola pikir ini. Dalam sebuah unggahan media sosial, seorang netizen Korea Selatan menyebut bahwa Jepang tidak lebih hebat dari Korea. Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana sebagian orang mengklasifikasikan atau menilai individu berdasarkan negaranya, bukan kualitas pribadinya.

Artinya, ukuran yang dipakai bukan siapa Anda sebagai individu, melainkan dari mana Anda berasal.

Itulah sebabnya, banyak orang dari Asia Tenggara kerap merasakan perlakuan berbeda. Tidak peduli seberapa sukses, seberapa menarik, atau seberapa kaya seseorang — yang pertama dilihat tetaplah paspor dan asal negaranya.

Sebaliknya, jika seseorang berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Inggris, potensi menerima perlakuan rasis cenderung lebih kecil. Status negara asal menjadi “nilai tambah” di mata sebagian orang.

Namun penting untuk digarisbawahi, tidak semua warga Korea Selatan memiliki pandangan seperti ini. Banyak juga yang berpikiran terbuka, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi kesetaraan. Sama seperti di negara mana pun, selalu ada oknum yang bersuara lebih keras di media sosial.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, jangan langsung menyamaratakan satu bangsa karena ulah sebagian orang.
Kedua, kita sebagai masyarakat Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas diri dan bangsa agar stereotip negatif perlahan terkikis.
Ketiga, edukasi tentang makna rasisme harus terus digaungkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Kasus Baskara ini bukan hanya soal individu. Ini menjadi pengingat bahwa di era digital, persepsi bisa membentuk opini dengan cepat. Karena itu, mari lebih bijak dalam menyikapi isu sensitif seperti ini.

Bagaimana menurut Anda? Apakah pengalaman serupa pernah Anda rasakan? Diskusi yang sehat justru bisa membuka wawasan dan memperkuat rasa saling menghargai.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.