Manchester United dan Liverpool Tekan X Hapus Konten AI Grok Yang Singgung Tragedi

Senin, 09 Maret 2026

Manchester United dan Liverpool Tekan X Hapus Konten AI Grok Yang Singgung Tragedi

Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.
Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.

JAKARTA -- Dua raksasa sepak bola Inggris, Manchester United dan Liverpool FC, berhasil mendesak platform media sosial X (Twitter) milik Elon Musk untuk menghapus sejumlah unggahan yang dibuat oleh chatbot AI Grok. Konten tersebut memicu kecaman karena dianggap menyinggung tragedi kelam yang pernah dialami kedua klub.

Kasus ini mencuat setelah sejumlah pengguna anonim meminta Grok AI yang dikembangkan oleh xAI—untuk membuat unggahan yang secara sengaja menyinggung para penggemar Manchester United dan Liverpool. Permintaan tersebut bahkan secara eksplisit bertujuan “benar-benar menyinggung” fans kedua klub.

Unggahan yang kemudian beredar di media sosial itu menyinggung tragedi besar dalam sejarah sepak bola Inggris. Setelah mendapat protes resmi dari kedua klub, unggahan tersebut akhirnya dihapus dari platform X pada hari yang sama.

AI Grok Singgung Tragedi Sepak Bola

Konten yang dibuat oleh Grok merujuk pada beberapa tragedi yang sangat sensitif bagi komunitas sepak bola Inggris. Salah satunya adalah Munich Air Disaster pada 1958 yang menewaskan sejumlah pemain Manchester United.

Selain itu, unggahan juga menyinggung Hillsborough Disaster pada 1989, tragedi desak-desakan di stadion yang menewaskan puluhan suporter Liverpool. Peristiwa lain yang ikut disebut adalah wafatnya penyerang Liverpool Diogo Jota pada musim panas lalu.

Topik-topik tersebut memicu kemarahan karena dianggap mengeksploitasi tragedi demi memancing reaksi dan provokasi di media sosial.

Fenomena “Tragedy Chanting” Di Dunia Sepak Bola

Dalam budaya sepak bola Inggris, tindakan mengejek tragedi yang menimpa klub rival dikenal sebagai “tragedy chanting”. Praktik ini telah lama menjadi masalah, terutama di stadion maupun di ruang publik.

Selama beberapa dekade, ejekan semacam ini muncul dalam bentuk nyanyian suporter, grafiti, hingga provokasi antar fans. Kini, media sosial memperluas fenomena tersebut ke ranah digital.

Sebagai dua klub tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris, Manchester United dan Liverpool sering menjadi target ejekan semacam ini.

Seruan Klub Dan Pelatih Untuk Menghentikan Ejekan

Pada 2023, pelatih Manchester United saat itu, Erik ten Hag, bersama pelatih Liverpool Jürgen Klopp, pernah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam praktik tersebut.

Ten Hag menegaskan bahwa menggunakan tragedi yang menyebabkan hilangnya nyawa untuk menyerang klub rival adalah tindakan yang tidak dapat diterima.

Sementara Klopp menyatakan atmosfer sepak bola memang seharusnya penuh gairah dan persaingan, namun tidak boleh melampaui batas dengan ejekan yang tidak pantas.

Pemerintah Inggris Soroti Tanggung Jawab AI

Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.
Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.

Kasus ini juga memicu perhatian pemerintah Inggris. Anggota parlemen dari wilayah Liverpool West Derby, Ian Byrne, menyebut unggahan tersebut sebagai sesuatu yang “mengerikan dan sepenuhnya tidak dapat diterima”.

Ia mempertanyakan bagaimana teknologi seperti Grok bisa menghasilkan konten bernada kebencian di platform besar.

Menurutnya, perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab untuk memastikan produk AI mereka tidak digunakan untuk menyebarkan pelecehan atau kebencian.

Regulasi Online Safety Act

Pemerintah Inggris sendiri telah memberlakukan Online Safety Act pada 2023 untuk mengatur konten digital dan teknologi AI.

Dalam regulasi tersebut, penyebaran komunikasi yang mengandung ancaman atau kebencian dapat dianggap sebagai pelanggaran pidana. Layanan AI, termasuk chatbot, juga diwajibkan mencegah penyebaran konten ilegal atau berbahaya.

Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi Inggris menyatakan bahwa unggahan tersebut “menjijikkan dan tidak bertanggung jawab” serta bertentangan dengan nilai dan etika publik.

Kasus ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap penggunaan kecerdasan buatan dalam menghasilkan konten yang berpotensi menyinggung atau menyebarkan kebencian. Tekanan dari klub sepak bola besar seperti Manchester United dan Liverpool berhasil memaksa penghapusan konten tersebut, namun perdebatan tentang tanggung jawab platform dan AI diperkirakan akan terus berlanjut.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar