Iklan Tutup X

Sabtu, 20 Juni 2026

Geopark Sangkulirang-Mangkalihat: Harta Karun Karst Kalimantan Timur yang Menuju Panggung Dunia UNESCO

Ikuti kami:
Google
Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur terus diproses menuju UNESCO Global Geopark, dengan 26 geosite dan kekayaan alam serta sejarah purba.
Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur terus diproses menuju UNESCO Global Geopark, dengan 26 geosite dan kekayaan alam serta sejarah purba.

SAMARINDA - Kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur kini menjadi sorotan setelah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama berbagai pihak pada 2026 mendorong pengusulan statusnya sebagai Geopark Nasional hingga kandidat UNESCO Global Geopark. 

Wilayah ini membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau dengan luas mencapai 1,8 juta hektare, menjadikannya ekosistem karst terbesar di Pulau Kalimantan.

Di balik bentang alamnya yang dramatis, kawasan ini menyimpan kombinasi langka antara kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan jejak peradaban manusia purba yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun.

Warisan Karst Terluas dan Situs Prasejarah Dunia

Sangkulirang-Mangkalihat dikenal dengan tebing-tebing batu raksasa, lorong gua alami, serta hutan hujan tropis yang masih sangat terjaga. Salah satu titik paling penting adalah Goa Beloyot, yang menjadi lokasi ditemukannya lukisan prasejarah.

Di dinding gua tersebut, terdapat gambar telapak tangan berwarna merah, adegan berburu, hingga ilustrasi hewan seperti babi hutan dan kura-kura. Penelitian memperkirakan lukisan ini berusia sekitar 40.000 tahun, menjadikannya salah satu bukti awal kehidupan manusia di Asia Tenggara.

Akses menuju lokasi ini tidak mudah. Dari Kampung Merabu, pengunjung harus berjalan kaki sekitar dua jam melewati jalur hutan, sungai kecil, dan medan berlumpur. Di dalam gua, lorong sempit dan ruang rendah menuntut kewaspadaan tinggi dari setiap pengunjung.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Geopark Berkelanjutan

Pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak dilakukan secara tunggal. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggandeng berbagai pihak seperti Universitas Mulawarman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), pelaku usaha, hingga Pusat Kajian Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kolaborasi ini bertujuan menjaga keseimbangan antara konservasi alam, pendidikan, dan penggerak ekonomi masyarakat.

Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi dan Keuangan Pemprov Kaltim, Siti Fahri Syahliana, menegaskan pentingnya sinergi berbagai pihak.

“Dukungan pemerintah daerah, masyarakat, ilmuwan, dan pengusaha adalah fondasi utama dalam mewujudkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” ujarnya.

Dari Inventarisasi hingga 26 Geosite Resmi

Upaya pengusulan geopark ini dimulai sejak 2019 melalui proses inventarisasi menyeluruh. Tim gabungan turun langsung ke lapangan untuk memetakan geologi, biodiversitas, serta warisan budaya.

Hasilnya, pada 2024 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan 26 geosite di kawasan ini. Sebanyak 15 titik berada di Berau dan 11 lainnya di Kutai Timur, dengan total kawasan mencapai 1.867.676 hektare.

Ketua Kelompok Kerja Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menyebutkan bahwa dokumen pengusulan telah memenuhi syarat administrasi dan teknis untuk melangkah ke tahap verifikasi lapangan.

Menuju Verifikasi UNESCO Global Geopark

Tahap penting berikutnya adalah verifikasi lapangan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM yang dijadwalkan pada 6–10 Juli 2026. Tim akan meninjau langsung situs geologi, budaya, dan ekowisata di Kutai Timur dan Berau.

Jika lolos, kawasan ini akan ditetapkan sebagai Taman Bumi Nasional sebelum diajukan ke UNESCO Global Geopark.

Menurut akademisi Universitas Mulawarman, Prof Widi Sunaryo, geopark ini memiliki dampak luas lintas sektor, mulai dari pendidikan hingga ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Konsep Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat

Salah satu prinsip utama pengembangan kawasan ini adalah keberlanjutan. Infrastruktur wisata akan dibangun dengan pendekatan ramah lingkungan, termasuk pembatasan kendaraan dan desain yang tidak merusak ekosistem karst yang sudah terbentuk ribuan tahun.

Masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan. Mereka dilibatkan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, hingga pelaku UMKM berbasis budaya lokal. Model ini diharapkan membuat manfaat ekonomi langsung dirasakan warga sekitar.

Masa Depan Pariwisata Geopark Kalimantan Timur

Jika berhasil meraih status UNESCO Global Geopark, Sangkulirang-Mangkalihat akan memperkuat citra Kalimantan Timur sebagai wilayah yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan geologi dan sejarah kelas dunia.

Kawasan ini juga selaras dengan visi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengedepankan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian lingkungan.

Dengan kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang menyatu, Geopark Sangkulirang-Mangkalihat bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam raksasa yang menyimpan cerita panjang peradaban manusia.

Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Follow
Wenny Lidia
Wenny Lidia
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.