Berita BorneoTribun: Aprilia Racing hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Aprilia Racing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aprilia Racing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Jorge Martin Optimistis Usai Libur Panjang, Siap Kejar Gelar MotoGP

Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.
Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.

JAKARTA - Pembalap asal Spanyol, Jorge Martín, menilai jeda panjang dalam kalender MotoGP musim ini bisa menjadi keuntungan besar bagi kondisi fisiknya. Meski di sisi lain, jeda tersebut juga berpotensi mengganggu momentum kuat tim Aprilia Racing yang tampil impresif di awal musim.

Jeda satu bulan antara seri di Circuit of the Americas (COTA) dan balapan di Circuito de Jerez terjadi akibat penundaan seri MotoGP Qatar Grand Prix. Situasi ini memberi waktu bagi tim-tim besar seperti Ducati Lenovo Team untuk menyusun ulang strategi dan memperbaiki performa.

Namun bagi Martin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca operasi musim dingin akibat cedera tahun lalu, jeda ini justru sangat dibutuhkan.

“Jeda panjang ini jelas akan membantu kondisi saya. Saya selalu merasa ketika mendorong tubuh sampai batas, lalu beristirahat, saat kembali mendorong batas itu jadi lebih jauh,” ujar Martin.

Ia mengakui saat tampil di COTA, kondisi fisiknya sudah berada di ambang batas, sehingga membutuhkan waktu istirahat agar performanya tetap stabil sepanjang musim.

Strategi Hemat Energi Berbuah Manis di COTA

Saat menjalani akhir pekan di Amerika Serikat, Martin mengaku fokus utamanya bukan hanya menang, tetapi memastikan bisa menyelesaikan balapan dengan aman.

Pendekatan itu terbukti efektif. Ia berhasil mencatat kemenangan Sprint pertamanya bersama Aprilia dengan menyalip pembalap Francesco Bagnaia pada lap terakhir, berkat strategi pemilihan ban belakang yang cerdas.

Tak berhenti di situ, pada balapan utama Grand Prix, Martin kembali tampil solid dengan finis di posisi kedua di belakang rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

Hasil tersebut membuat Martin pulang ke Eropa hanya tertinggal empat poin dari Bezzecchi yang memimpin klasemen sementara.

Dua Gaya Berbeda, Satu Tujuan Juara Dunia

Menariknya, meski berasal dari tim yang sama, Martin dan Bezzecchi memiliki pendekatan berbeda dalam meraih poin.

Bezzecchi tampil dominan dengan memenangi tiga Grand Prix berturut-turut, meski sempat terjatuh di dua Sprint Race. Sementara itu, Martin menunjukkan konsistensi tinggi dengan selalu finis di enam balapan pertama, mengoleksi satu kemenangan Sprint dan dua podium Grand Prix.

Perbedaan gaya ini berpotensi menciptakan duel internal yang menarik sepanjang musim, terutama jika keduanya bersaing ketat dalam perebutan gelar juara dunia.

Motivasi Tambahan Usai Drama Kontrak

Musim lalu menjadi periode sulit bagi Martin, bukan hanya secara profesional tetapi juga secara personal. Ia sempat menghadapi dinamika kontrak yang cukup kompleks sebelum akhirnya memutuskan tetap bersama Aprilia untuk musim 2026.

“Tahun lalu sangat berat, baik secara profesional maupun personal. Tapi saat saya membuat keputusan, saya langsung menjalankannya 100 persen,” ungkap Martin.

Ia juga menegaskan bahwa dukungan penuh dari tim Aprilia membuatnya mampu tampil maksimal sejauh ini.

Menurutnya, jika progres performa saat ini bisa terus dijaga, peluang untuk meraih pencapaian besar di akhir musim sangat terbuka.

Pengalaman Juara Jadi Modal Mental Penting

Martin bukan sosok baru dalam menghadapi tekanan tinggi. Ia sudah membuktikan kemampuannya dengan meraih gelar juara dunia MotoGP musim 2024 bersama tim Prima Pramac Racing, meski saat itu sudah menandatangani kontrak dengan Aprilia.

Pengalaman tersebut menjadi bekal mental penting dalam menghadapi musim panjang yang penuh tantangan.

Ke depan, Martin juga diperkirakan akan bergabung dengan Yamaha Factory Racing Team pada era mesin baru 850cc yang dijadwalkan mulai tahun 2027.

Dampak Jeda Panjang: Risiko dan Peluang

Jeda panjang di tengah musim memang membawa dua sisi berbeda. Di satu sisi, tim-tim rival seperti Ducati punya waktu untuk mengejar ketertinggalan. Namun di sisi lain, pembalap yang membutuhkan pemulihan fisik seperti Martin bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk kembali ke kondisi terbaik.

Jika kondisi fisiknya benar-benar pulih, bukan tidak mungkin performa Martin akan semakin stabil di paruh kedua musim.

Dan jika konsistensi tetap terjaga, peluang perebutan gelar dunia bisa menjadi lebih sengit dari yang diperkirakan.

FAQ

1. Mengapa jeda panjang MotoGP dianggap penting bagi Jorge Martin?
Karena ia masih dalam masa pemulihan cedera. Waktu istirahat tambahan membantu tubuhnya pulih dan meningkatkan performa fisik.

2. Apa pencapaian Jorge Martin di seri COTA?
Ia memenangkan Sprint Race dan finis kedua pada balapan Grand Prix utama.

3. Siapa pesaing terdekat Jorge Martin saat ini?
Rekan setimnya di Aprilia, Marco Bezzecchi, yang memimpin klasemen sementara.

4. Apakah Jorge Martin akan tetap di Aprilia?
Untuk musim 2026 ia tetap bersama Aprilia, namun diperkirakan pindah ke Yamaha pada era 850cc tahun 2027.

5. Apa dampak jeda panjang bagi tim lain?
Tim rival seperti Ducati mendapatkan waktu tambahan untuk memperbaiki performa dan strategi.

Jorge Martin Ungkap Rahasia Aprilia, Teknik Rem Jadi Pembeda Ducati

Jorge Martin ungkap teknik pengereman Aprilia jadi kunci performa, beda jauh dari Ducati dan bantu naik podium beruntun di MotoGP 2026.
Jorge Martin ungkap teknik pengereman Aprilia jadi kunci performa, beda jauh dari Ducati dan bantu naik podium beruntun di MotoGP 2026.

JAKARTA - Musim balap 2026 menjadi momen kebangkitan bagi Jorge Martin setelah menjalani awal yang cukup menantang bersama Aprilia Racing. Meski sempat mengalami debut yang terganggu dan minim waktu tes musim dingin, pembalap asal Spanyol itu kini justru muncul sebagai salah satu kejutan terbesar di ajang MotoGP musim ini.

Dalam empat balapan terakhir, Martin sukses naik podium secara beruntun. Bahkan, ia berhasil meraih kemenangan pertamanya bersama Aprilia pada Sprint Race di Circuit of the Americas (COTA). Hasil konsisten tersebut membuatnya kini bertengger di posisi kedua klasemen sementara, tepat di belakang rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

Aerodinamika Jadi Awal Perubahan Besar

Menurut Martin, salah satu faktor utama yang membuat performanya meningkat adalah pembaruan pada sektor aerodinamika motor Aprilia RS-GP. Ia mengaku langsung merasa nyaman sejak pertama kali mencoba pengembangan terbaru tersebut.

“Saya rasa aerodinamika terbaru jadi kunci buat saya. Saya langsung merasa cocok sejak awal,” ujar Martin saat berada di Amerika Serikat.

Pengembangan aerodinamika memang menjadi fokus utama banyak tim MotoGP dalam beberapa musim terakhir. Teknologi ini berpengaruh besar terhadap stabilitas motor, terutama saat menikung cepat dan melakukan pengereman mendadak.

Teknik Pengereman Berbeda dari Ducati

Selain faktor aerodinamika, Martin juga mengungkap adanya perubahan besar pada gaya berkendaranya, khususnya saat pengereman. Ia menyebut teknik pengereman di Aprilia sangat berbeda dibandingkan saat masih membela Ducati.

Meski enggan membocorkan detail teknis secara spesifik, Martin memberi gambaran bahwa pendekatan pengereman di Aprilia membutuhkan adaptasi khusus pada penggunaan tuas rem.

“Saya mengubah sedikit gaya saya saat pengereman, dan itu membuat saya merasa jauh lebih nyaman dengan Aprilia,” jelas Martin.

Ia juga menambahkan bahwa teknik tersebut sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan oleh rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

“Saya tidak mau terlalu detail menjelaskan, karena tentu saya tidak ingin membantu pembalap lain. Tapi yang jelas, teknik ini sangat berbeda dibandingkan Ducati,” lanjutnya.

Aprilia Kini Makin Kuat Saat Pengereman

Keunggulan Aprilia dalam sektor pengereman ternyata juga diakui oleh pembalap rival. Francesco Bagnaia, pembalap tim pabrikan Ducati, bahkan secara langsung memuji peningkatan performa pengereman motor Aprilia setelah duel sengit di Sprint Race COTA.

“Kalian sekarang jauh lebih kuat saat pengereman,” ujar Bagnaia kepada Martin saat menuju podium.

Komentar tersebut memperlihatkan bahwa Aprilia tidak hanya mengalami peningkatan di atas kertas, tetapi juga diakui oleh pesaing langsung di lintasan.

Isu Transfer Besar Musim Depan

Selain performa di lintasan, masa depan Martin juga menjadi sorotan di paddock MotoGP. Ia dikabarkan akan hengkang dari Aprilia pada musim depan dan berpotensi bergabung dengan Yamaha.

Di sisi lain, Francesco Bagnaia disebut-sebut akan menggantikan posisi Martin di Aprilia. Jika benar terjadi, pergerakan ini diperkirakan menjadi salah satu transfer paling menarik dalam bursa pembalap MotoGP mendatang.

Perubahan komposisi tim ini tentu akan memengaruhi dinamika persaingan di musim berikutnya.

Analisis: Adaptasi Jadi Faktor Penentu

Kisah kebangkitan Jorge Martin menunjukkan bahwa adaptasi terhadap karakter motor menjadi faktor penting dalam dunia balap modern. Tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga bagaimana pembalap menyesuaikan teknik berkendara dengan teknologi yang tersedia.

Perubahan kecil pada gaya pengereman bisa menghasilkan dampak besar terhadap performa keseluruhan. Hal inilah yang kini membuat Martin tampil lebih konsisten dan kompetitif.

Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Martin akan menjadi penantang serius dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026.

FAQ

1. Apa faktor utama peningkatan performa Jorge Martin di Aprilia?
Faktor utamanya adalah pembaruan aerodinamika motor dan perubahan teknik pengereman yang lebih sesuai dengan karakter Aprilia RS-GP.

2. Apa perbedaan teknik pengereman Aprilia dan Ducati?
Teknik pengereman Aprilia disebut membutuhkan pendekatan berbeda pada penggunaan tuas rem dibandingkan Ducati, meski detailnya tidak diungkapkan secara lengkap.

3. Berapa posisi Jorge Martin di klasemen MotoGP 2026?
Saat ini Jorge Martin berada di posisi kedua klasemen sementara di belakang Marco Bezzecchi.

4. Apakah Jorge Martin akan pindah tim musim depan?
Ia dikabarkan berpotensi pindah ke Yamaha, sementara Francesco Bagnaia disebut-sebut akan menggantikannya di Aprilia.

5. Apa arti kemenangan Sprint di COTA bagi Martin?
Kemenangan tersebut menjadi kemenangan Sprint pertama Martin bersama Aprilia dan menandai peningkatan performanya musim ini.

Senin, 30 Maret 2026

Marco Bezzecchi Ungkap Batas Kemampuan Usai Menang Dominan Di MotoGP Amerika

Marco Bezzecchi akui batas kemampuannya usai menang dominan di MotoGP Amerika 2026 dan pecahkan rekor lap terbanyak.
Marco Bezzecchi akui batas kemampuannya usai menang dominan di MotoGP Amerika 2026 dan pecahkan rekor lap terbanyak.

Performa luar biasa kembali ditunjukkan oleh Marco Bezzecchi dalam seri MotoGP Amerika 2026 di Circuit of The Americas (COTA). Meski tampil dominan saat balapan utama, pembalap Aprilia ini justru mengaku sempat menyentuh batas kemampuannya, terutama setelah insiden di sprint race sehari sebelumnya.

Pada sprint race hari Sabtu, Bezzecchi harus mengubur ambisinya setelah terjatuh saat berada di posisi kedua. Hasil tersebut membuatnya masih belum meraih kemenangan di format sprint sepanjang musim 2026.

Namun, situasi berbalik total di balapan utama. Bezzecchi tampil tanpa cela dan langsung mengambil alih posisi terdepan dari Pedro Acosta sejak lap pertama, meski sempat terjadi kontak di tikungan 11.

“Di sprint kemarin, kalian bisa lihat batas saya. Saat mencoba terlalu keras, jaraknya sangat tipis,” ujar Bezzecchi.

Ia menjelaskan bahwa mengendarai motor MotoGP selalu berada di ambang limit. Sedikit kesalahan saja bisa berujung fatal.

Duel Sengit Dan Momen Nyaris Bencana

Momen paling menegangkan terjadi saat Bezzecchi mencoba menyalip Acosta. Keduanya melebar di tikungan akibat dorongan angin, lalu kembali ke racing line secara bersamaan.

Kontak pun tak terhindarkan.

Akibat insiden tersebut, bagian belakang motor Aprilia milik Bezzecchi mengalami kerusakan. Meski begitu, ia tetap mampu melanjutkan balapan dengan performa impresif hingga finis pertama.

“Dengan ride-height device, sangat sulit menghindari kontak. Saya bahkan tidak tahu apakah motornya juga rusak atau tidak,” tambahnya.

Rekor Baru Lampaui Jorge Lorenzo

Kemenangan ini tidak hanya mempertegas dominasi Bezzecchi, tetapi juga mengukir sejarah baru. Ia kini memegang rekor lap terdepan terbanyak secara beruntun di MotoGP, melampaui catatan sebelumnya milik Jorge Lorenzo yang mencatatkan 103 lap.

Bezzecchi kini mencatatkan total 121 lap berturut-turut di posisi terdepan.

“Sulit menjelaskan perasaan ini. Saya bekerja keras seperti semua pembalap lain, tapi tidak pernah menyangka bisa mencapai ini,” ungkapnya.

Dari sudut pandang performa, kemenangan ini menunjukkan konsistensi dan mental kuat Bezzecchi setelah kegagalan di sprint. Secara teknis, penguasaan lintasan COTA dan keberanian mengambil risiko di awal balapan menjadi faktor kunci.

Namun, pengakuan soal “limit” menunjukkan bahwa dominasi tersebut bukan tanpa celah. Ini menjadi sinyal bahwa persaingan MotoGP 2026 masih sangat terbuka, terutama dengan munculnya talenta muda seperti Acosta.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Kenapa Bezzecchi gagal di sprint race?
Karena terjatuh saat mencoba mempertahankan posisi kedua.

2. Apa kunci kemenangan Bezzecchi di COTA?
Start agresif, overtake cepat di lap awal, dan konsistensi hingga finis.

3. Apa rekor baru yang dibuat Bezzecchi?
121 lap berturut-turut memimpin balapan, melampaui rekor sebelumnya.

4. Apakah insiden dengan Acosta berbahaya?
Ya, kontak cukup keras dan berpotensi menyebabkan crash bagi keduanya.

5. Apakah Bezzecchi tak terkalahkan musim ini?
Tidak, ia sendiri mengakui masih memiliki batas performa.

Jorge Martin Akui Kehabisan Cara Kejar Bezzecchi di MotoGP Amerika 2026

Jorge Martin akui gagal kejar Bezzecchi di MotoGP Amerika 2026 akibat strategi keliru, ban overheat, dan masalah fisik di lap akhir.
Jorge Martin akui gagal kejar Bezzecchi di MotoGP Amerika 2026 akibat strategi keliru, ban overheat, dan masalah fisik di lap akhir.

Austin – Balapan MotoGP Amerika Serikat 2026 di Circuit of The Americas (COTA) menghadirkan drama sengit di barisan depan. Jorge Martin akhirnya angkat bicara usai gagal mengejar Marco Bezzecchi dalam perebutan posisi teratas.

Pembalap asal Spanyol itu mengaku sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, namun tetap tak mampu menandingi kecepatan rivalnya hingga garis finis.

Sejak awal balapan, Martin terlihat cukup nyaman berada di posisi ketiga. Situasi berubah ketika Pedro Acosta melakukan kesalahan, yang membuka peluang bagi Martin untuk naik posisi.

Namun momentum tersebut tidak sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

“Saya mencoba mendorong Marco sampai batasnya. Tapi saya rasa saya salah memahami situasi balapan,” ujar Martin kepada media.

Strategi Yang Berujung Bumerang

Martin mengungkapkan bahwa dirinya sempat memilih strategi bertahan di belakang dua pembalap terdepan. Ia mengira pendekatan itu akan lebih efektif untuk menyerang di akhir balapan.

Namun keputusan tersebut justru berdampak negatif.

Ban depan motornya mengalami overheat, yang membuat performanya menurun drastis.

“Saya pikir lebih baik berada di belakang Pedro dan Marco. Tapi ternyata ban depan saya terlalu panas dan saya tidak bisa melakukan apa pun,” jelasnya.

Meski sempat memperkecil jarak hingga kurang dari satu detik di lap-lap akhir, Martin tetap tidak mampu memberikan tekanan signifikan kepada Bezzecchi.

Kondisi Fisik Jadi Kendala

Masalah tak berhenti di strategi. Dalam tiga lap terakhir, Martin juga mengalami kendala fisik serius pada lengan kirinya.

Ia mengaku tidak lagi mampu melakukan pengereman maksimal, khususnya di tikungan 12 yang dikenal krusial di COTA.

“Saya sudah mendorong semaksimal mungkin. Tapi di tiga lap terakhir, saya harus menyerah karena lengan kiri saya benar-benar hancur,” katanya.

Kondisi tersebut membuat peluangnya untuk menyalip praktis hilang.

Bezzecchi Tampil Luar Biasa

Di sisi lain, performa Bezzecchi mendapat pujian langsung dari Martin. “Dia sangat cepat. Levelnya luar biasa hari ini,” ungkap Martin.

Kemenangan ini sekaligus menjadi pembuktian konsistensi Bezzecchi setelah sebelumnya gagal finis di sprint race akibat crash.

Klasemen Makin Ketat

Hasil balapan ini berdampak langsung pada klasemen sementara MotoGP 2026.

Martin sempat memimpin klasemen setelah memenangkan sprint race—yang menjadi kali pertama sejak 2024 ia kembali ke puncak.

Namun setelah finis di posisi kedua pada balapan utama, ia harus rela kembali turun ke posisi kedua.

Kini selisih poin antara Martin dan Bezzecchi hanya terpaut empat angka, menandakan persaingan gelar dunia semakin panas.

Dari sudut pandang teknis, kasus yang dialami Martin menunjukkan pentingnya manajemen suhu ban depan di lintasan seperti COTA yang memiliki banyak tikungan teknis. Selain itu, faktor fisik pembalap tetap menjadi penentu krusial di fase akhir balapan.

Sebagai catatan, kondisi “arm pump” atau kelelahan otot lengan memang sering menjadi kendala serius di MotoGP, terutama pada trek dengan pengereman berat.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Kenapa Jorge Martin gagal mengejar Bezzecchi?
Karena kombinasi strategi yang kurang tepat, ban depan overheat, dan masalah fisik pada lengan kiri.

2. Apa yang dimaksud overheat pada ban depan?
Kondisi di mana suhu ban terlalu tinggi sehingga grip berkurang dan motor sulit dikendalikan.

3. Apakah Martin sempat memimpin klasemen?
Ya, setelah memenangkan sprint race, namun kembali turun setelah balapan utama.

4. Seberapa dekat selisih poin mereka sekarang?
Hanya terpaut 4 poin, sangat ketat.

5. Apakah kondisi fisik sering memengaruhi pembalap MotoGP?
Sangat sering, terutama di lintasan teknis dengan banyak pengereman keras.

Senin, 23 Maret 2026

Hasil MotoGP Brasil 2026: Bezzecchi Menang, Marquez Gagal Podium

Marco Bezzecchi menjuarai MotoGP Brasil 2026 dan memperkuat dominasi Aprilia, sementara Marc Marquez gagal podium usai kesalahan di lap akhir.
Marco Bezzecchi menjuarai MotoGP Brasil 2026 dan memperkuat dominasi Aprilia, sementara Marc Marquez gagal podium usai kesalahan di lap akhir.

Goiania, Brasil – Pembalap Marco Bezzecchi dari Aprilia Racing kembali menunjukkan performa luar biasa dengan menjuarai MotoGP Brasil 2026 yang digelar di Sirkuit Ayrton Senna, Senin dini hari WIB.

Bezzecchi sukses finis tercepat dengan waktu 30 menit 19,760 detik, melanjutkan tren positifnya setelah menang di seri pembuka Thailand pekan lalu. Kemenangan ini makin mengukuhkan statusnya sebagai kandidat kuat juara dunia musim ini.

Di posisi kedua, Jorge Martin dari Prima Pramac Racing finis dengan selisih 3,231 detik. Sementara podium ketiga diamankan Fabio Di Giannantonio dari Pertamina Enduro VR46 Racing Team dengan gap 3,780 detik.

Juara bertahan Marc Marquez harus puas di posisi keempat setelah melakukan kesalahan di lap akhir saat duel sengit memperebutkan podium dengan Di Giannantonio.

Sejak start, Bezzecchi langsung tancap gas dari posisi pole dan memimpin balapan. Ia diikuti Di Giannantonio dan Marquez, sementara Martin berada di posisi keempat. Pedro Acosta tampil agresif dengan melesat dari posisi sembilan ke lima.

Memasuki lap kedua, Marquez sempat naik ke posisi dua, tetapi ritme balapan berubah di lap keenam saat Di Giannantonio melakukan manuver agresif. Insiden kecil itu dimanfaatkan Martin untuk naik ke posisi kedua.

Di grup tengah, persaingan juga nggak kalah panas. Alex Marquez sempat naik ke posisi lima sebelum mendapat tekanan dari Ai Ogura.

Di barisan depan, Bezzecchi tetap dominan. Meski Martin sempat memangkas jarak, gap tetap aman hingga garis finis.

Drama terjadi di perebutan posisi ketiga. Marquez sempat unggul, tapi kesalahan di tikungan membuatnya kembali disalip Di Giannantonio.

Balapan juga diwarnai sejumlah insiden. Jack Miller gagal finis akibat crash di tikungan pertama. Disusul Brad Binder, Joan Mir, dan Francesco Bagnaia yang juga terjatuh.

Hasil ini membuat Bezzecchi memimpin klasemen pembalap, sementara Aprilia memuncaki klasemen konstruktor—sebuah start musim yang nyaris sempurna.

📊 Hasil Lengkap MotoGP Brasil 2026

  1. Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) – 30:19,760

  2. Jorge Martin (Aprilia Racing) +3,231

  3. Fabio Di Giannantonio (VR46 Racing) +3,780

  4. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) +4,089

  5. Ai Ogura (Trackhouse MotoGP) +8,403

  6. Alex Marquez (Gresini Racing) +8,918

  7. Pedro Acosta (KTM Factory) +10,687

  8. Fermin Aldeguer (Gresini Racing) +11,359

  9. Johann Zarco (LCR Honda) +12,907

  10. Raul Fernandez (Trackhouse) +16,370

❓ FAQ (Pertanyaan Populer)

1. Siapa pemenang MotoGP Brasil 2026?
Marco Bezzecchi dari Aprilia Racing.

2. Berapa selisih kemenangan Bezzecchi?
Ia unggul 3,231 detik dari Jorge Martin.

3. Kenapa Marc Marquez gagal podium?
Karena kesalahan di lap akhir saat duel dengan Di Giannantonio.

4. Apakah Aprilia memimpin klasemen?
Ya, Aprilia memimpin klasemen konstruktor.

5. Siapa saja pembalap yang crash?
Jack Miller, Brad Binder, Joan Mir, dan Francesco Bagnaia.