Berita BorneoTribun: BMKG hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label BMKG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BMKG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

Petani Kotim Didorong Terapkan Budi Daya Adaptif Antisipasi Musim Kemarau

DPKP Kotim mengintensifkan teknik budi daya adaptif untuk menghadapi wilayah rawan kekeringan dan menjaga produktivitas pertanian petani di musim kemarau.
DPKP Kotim mengintensifkan teknik budi daya adaptif untuk menghadapi wilayah rawan kekeringan dan menjaga produktivitas pertanian petani di musim kemarau.

SAMPIT — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus memperkuat langkah antisipasi terhadap wilayah rawan kekeringan dengan menerapkan teknik budi daya adaptif bagi para petani.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kotim, Yulita, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada petani terkait metode pertanian adaptif, baik untuk tanaman padi maupun palawija.

“Metode ini sudah kami sosialisasikan kepada petani, baik untuk tanaman padi maupun palawija agar mereka siap menghadapi kondisi kekeringan,” kata Yulita di Sampit, Selasa.

Teknik Budi Daya Adaptif Jadi Andalan Hadapi Perubahan Iklim

Menurut Yulita, teknik budi daya adaptif merupakan strategi pengelolaan pertanian yang disesuaikan secara fleksibel untuk mengantisipasi risiko perubahan iklim, seperti kekeringan, banjir, hingga serangan hama penyakit.

Metode ini mencakup sektor pertanian secara luas, termasuk tanaman pangan, perkebunan, hingga hortikultura.

Dalam praktiknya, petani dianjurkan menggunakan varietas tanaman yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan, seperti:

  • Padi Inpago 8

  • Jagung Bisi 18

  • Cabai Rawit Dewata 43

Varietas tersebut dinilai lebih cocok untuk lahan kering tanpa genangan air, sehingga risiko gagal panen bisa ditekan.

Mulsa dan Pengaturan Jarak Tanam Jadi Solusi Praktis

Selain penggunaan varietas unggul, petani juga didorong menerapkan pengaturan jarak tanam yang lebih renggang dan melakukan pengolahan tanah minimum.

Tujuannya adalah menjaga kelembaban tanah selama musim kemarau.

Teknik lain yang dinilai efektif adalah penggunaan mulsa dari bahan alami seperti jerami atau daun kering.

“Petani juga didorong menggunakan mulsa dari jerami atau daun kering guna mengurangi penguapan air serta menjaga kelembaban tanah,” jelas Yulita.

Teknik sederhana ini terbukti mampu mempertahankan ketersediaan air di lahan pertanian dalam kondisi minim hujan.

Penyesuaian Jadwal Tanam Berdasarkan Data BMKG

Penentuan jadwal tanam juga menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau.

Secara umum, terdapat tiga periode musim tanam yang menjadi acuan petani, yakni:

  • Oktober–Januari

  • Februari–Maret

  • Juni–September (musim kemarau)

Penentuan waktu tanam tersebut mengacu pada Kalender Tanam Terpadu (Katam) yang berbasis data dari BMKG.

Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.

Pada periode tersebut, petani disarankan menanam palawija atau melakukan tumpang sari, sementara tanaman padi dapat diistirahatkan jika kondisi lahan terlalu kering.

Teknologi Sederhana Hingga Hidroponik Jadi Alternatif

Selain teknik konvensional, DPKP Kotim juga mendorong penggunaan teknologi sederhana hingga metode hidroponik untuk tanaman hortikultura.

Metode hidroponik dinilai menjadi solusi alternatif ketika ketersediaan air di lahan semakin terbatas.

Yulita menegaskan bahwa ancaman kekeringan bukan hanya soal air, tetapi juga kesiapan teknologi dan kemampuan petani dalam beradaptasi.

“Antisipasi kekeringan tidak hanya soal ketersediaan air, tetapi juga bagaimana kita bijaksana menerapkan teknologi dan metode yang ada,” tegasnya.

Dua Kecamatan Di Kotim Masuk Wilayah Rawan Kekeringan

Berdasarkan hasil pemetaan wilayah pangan rawan kekeringan, terdapat dua kecamatan di Kotim yang menjadi perhatian utama, yaitu:

  • Kecamatan Teluk Sampit

    • Luas sawah: 8.565 hektare

    • Potensi produksi: 36.615 ton gabah kering panen (GKP)

  • Kecamatan Mentaya Hilir Selatan

    • Luas sawah: 765 hektare

    • Potensi produksi: 2.827 ton GKP

Selain dua wilayah tersebut, kawasan Pulau Hanaut dan beberapa kecamatan lainnya juga memiliki potensi terdampak kekeringan, meskipun dalam skala yang berbeda.

Komitmen DPKP Kotim Jaga Ketahanan Pangan

DPKP Kotim memastikan berbagai langkah antisipasi akan terus dilakukan secara maksimal, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pendampingan petani di lapangan.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah dalam lima tahun ke depan.

“Selain ikhtiar yang kita lakukan, kita juga berharap musim kemarau tidak berlangsung panjang sehingga tidak menyebabkan gagal panen,” tutup Yulita.

FAQ

1. Apa itu teknik budi daya adaptif?
Teknik budi daya adaptif adalah metode pertanian yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan, seperti kekeringan atau banjir, agar tanaman tetap produktif.

2. Tanaman apa saja yang tahan terhadap kekeringan?
Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain padi Inpago 8, jagung Bisi 18, dan cabai rawit Dewata 43.

3. Kapan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi?
Menurut prakiraan BMKG, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus.

4. Wilayah mana saja yang rawan kekeringan di Kotim?
Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan risiko kekeringan tertinggi.

5. Apa solusi sederhana yang bisa dilakukan petani saat kemarau?
Penggunaan mulsa dari jerami, pengaturan jarak tanam, serta pemilihan varietas tahan kering menjadi solusi yang efektif.

Kamis, 02 April 2026

Pemprov Kalbar Gandeng STMKG, Buka Peluang Emas Putra Daerah Jadi ASN BMKG

Pemprov Kalbar kerja sama dengan STMKG untuk membuka peluang pendidikan kedinasan BMKG bagi putra daerah dan mencetak SDM unggul menghadapi tantangan iklim.
Pemprov Kalbar kerja sama dengan STMKG untuk membuka peluang pendidikan kedinasan BMKG bagi putra daerah dan mencetak SDM unggul menghadapi tantangan iklim.

PONTIANAK - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Langkah ini bertujuan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Kalbar untuk menempuh pendidikan kedinasan di bawah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah, khususnya di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

“Kerja sama ini akan segera kami tindak lanjuti agar peluang bagi putra daerah Kalbar semakin besar untuk masuk STMKG,” ujar Harisson usai pertemuan di Pontianak, Kamis.

Respons Minimnya Perwakilan Kalbar

Harisson mengungkapkan, inisiatif ini muncul karena minimnya keterwakilan putra daerah Kalbar di STMKG dalam hampir satu dekade terakhir. Padahal, kebutuhan tenaga ahli di bidang tersebut terus meningkat, terutama untuk mendukung pembangunan berbasis mitigasi bencana dan perubahan iklim.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov Kalbar bersama STMKG akan membentuk tim kerja guna menyusun draft nota kesepahaman (MoU) sebagai dasar implementasi program.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi model kerja sama pendidikan kedinasan yang mampu mencetak SDM unggul dengan wawasan global, sekaligus tetap berorientasi pada pembangunan daerah.

STMKG Siapkan Kuota Afirmasi Mulai 2026

Rektor STMKG, Deni Septiadi, menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai langkah ini penting untuk memperluas akses pendidikan bagi putra-putri daerah, khususnya dari Kalbar.

“Kami berharap semakin banyak putra daerah Kalbar yang dapat kuliah di STMKG. Setelah lulus, mereka akan menjadi ASN dan kembali ke daerah untuk berkontribusi,” jelasnya.

Deni juga mengungkapkan bahwa salah satu kendala selama ini adalah tingginya ambang batas kelulusan. Untuk mengatasi hal tersebut, STMKG akan mulai memberikan kuota afirmasi khusus bagi calon mahasiswa asal Kalbar pada tahun 2026.

Pentingnya SDM Iklim Di Kalimantan Barat

Kerja sama ini dinilai sangat strategis mengingat Kalimantan Barat merupakan wilayah yang kerap menghadapi berbagai tantangan kebencanaan, seperti curah hujan tinggi, kemarau ekstrem, hingga fenomena El Nino.

Kondisi tersebut menuntut ketersediaan tenaga ahli di bidang meteorologi, klimatologi, geofisika, dan instrumentasi yang mumpuni.

Selain menjanjikan status aparatur sipil negara (ASN), lulusan STMKG juga memiliki peluang pengembangan karier yang luas, termasuk akses beasiswa melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta kerja sama internasional dengan perguruan tinggi di Inggris dan Tiongkok.

Komitmen Jangka Panjang Pembangunan SDM

Kerja sama antara Pemprov Kalbar dan STMKG menjadi bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun SDM unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim dan perkembangan global.

Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan semakin banyak generasi muda Kalbar yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus kembali membangun daerah asalnya.

FAQ

1. Apa tujuan kerja sama Pemprov Kalbar dengan STMKG?
Untuk membuka akses lebih luas bagi putra daerah Kalbar dalam pendidikan kedinasan dan mencetak SDM unggul di bidang iklim dan geofisika.

2. Apa keuntungan kuliah di STMKG?
Lulusan STMKG langsung diangkat menjadi ASN di lingkungan BMKG serta memiliki peluang karier dan beasiswa internasional.

3. Kapan kuota afirmasi STMKG untuk Kalbar mulai berlaku?
Kuota afirmasi khusus direncanakan mulai tahun 2026.

4. Kenapa Kalbar butuh SDM di bidang ini?
Karena wilayah Kalbar rentan terhadap bencana iklim seperti hujan ekstrem, kemarau panjang, dan El Nino.

5. Apa saja bidang yang dipelajari di STMKG?
Meteorologi, klimatologi, geofisika, dan instrumentasi.

Jumat, 27 Maret 2026

Hadapi Kemarau 2026, BPBD Kalbar Intensifkan Pembasahan Lahan

BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)
BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)

Pontianak – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang musim kemarau 2026 dengan mengintensifkan program pembasahan lahan, khususnya di wilayah gambut yang rawan terbakar.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan langkah ini menjadi strategi utama dalam menjaga kondisi lahan tetap lembap agar potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini.

“Pembasahan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi lahan gambut tetap lembap dalam skala luas, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini,” ujarnya di Pontianak, Jumat.

Fokus Wilayah Rawan Karhutla

Program pembasahan difokuskan pada daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, terutama lahan gambut yang mudah mengering saat musim kemarau. Upaya ini dinilai krusial untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi meluas.

Menurut Daniel, pembasahan lahan merupakan bagian dari strategi terpadu BPBD Kalbar dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain pembasahan, BPBD Kalbar juga meningkatkan patroli darat dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia serta instansi terkait lainnya.

Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan langkah pencegahan berjalan optimal di lapangan dan respons cepat bisa dilakukan jika ditemukan potensi kebakaran.

Tantangan Ketersediaan Air

Meski demikian, program pembasahan tidak lepas dari kendala, terutama keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD Kalbar membuka peluang mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana, termasuk opsi penggunaan teknologi modifikasi cuaca jika dibutuhkan.

Pantau Cuaca Secara Berkala

BPBD Kalbar juga terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

Selain kesiapan teknis, edukasi kepada masyarakat juga digencarkan agar kesadaran terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.

Upaya Minimalkan Dampak Karhutla

Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, BPBD Kalbar berharap program pembasahan lahan mampu menjadi langkah efektif dalam menekan risiko karhutla serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu program pembasahan lahan?
Program pembasahan lahan adalah upaya menjaga kelembapan tanah, khususnya gambut, agar tidak mudah terbakar saat musim kemarau.

2. Kenapa lahan gambut rawan terbakar?
Karena mudah kering dan mengandung material organik yang sangat mudah terbakar saat suhu tinggi.

3. Apa kendala utama program ini?
Keterbatasan sumber air di beberapa wilayah rawan karhutla.

4. Apa solusi yang disiapkan BPBD Kalbar?
Mengajukan bantuan ke BNPB dan mempertimbangkan teknologi modifikasi cuaca.

5. Bagaimana peran masyarakat?
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan ikut menjaga lingkungan.

Rabu, 23 Juli 2025

BMKG Dorong Kesiapsiagaan Hadapi Iklim dan Bencana Menuju Indonesia Emas 2045

BMKG Dorong Kesiapsiagaan Hadapi Iklim dan Bencana Menuju Indonesia Emas 2045
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nasional (HMKGN) ke-78, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat aksi dini sebagai strategi penting dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim. 

Ini adalah bagian dari langkah besar menuju Indonesia Emas 2045 sebuah visi Indonesia yang tangguh, mandiri, dan unggul di tengah tantangan zaman.

Peringatan HMKGN tahun ini menjadi momen reflektif sekaligus inspiratif. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyoroti meningkatnya frekuensi dan dampak bencana yang kini semakin tak terduga akibat dinamika iklim global.

“Bencana memang makin sering terjadi. Tapi di balik semua itu, kita juga diberi karunia alam yang luar biasa. Justru di situ ada ruang besar untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pembangunan berkelanjutan,” ujar Dwikorita dalam sambutannya di Jakarta, Senin (21/7/2025) kemarin.

Menurut Dwikorita, menghadapi bencana bukan hanya tugas pemerintah atau BMKG semata, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. 

Mulai dari instansi pemerintahan, sektor swasta, komunitas lokal, hingga individu, semuanya perlu bergerak bersama untuk membangun sistem peringatan dini yang tangguh dan responsif.

BMKG kini tidak hanya fokus pada pemantauan, tetapi juga membangun literasi publik melalui program edukasi seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI), MOSAIC, BMKG Goes to School, serta kerja sama aktif dengan pemerintah daerah.

Untuk menjawab tantangan masa depan, BMKG meluncurkan sejumlah terobosan teknologi peringatan dini, termasuk:

1. Earthquake Early Warning System (EEWS)

Sistem peringatan dini gempa bumi berbasis countdown ini sedang diuji coba di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung. 

EEWS mampu memberikan peringatan 5–10 detik sebelum guncangan keras terjadi, memberi jeda waktu penting untuk evakuasi dini.

Menurut Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG:

“Lima detik itu sangat berharga. Bisa menyelamatkan anak-anak di sekolah, pasien di rumah sakit, hingga penumpang di stasiun. Waktu singkat yang bisa mencegah banyak korban.”

2. Meteorology Early Warning System (MEWS)

Teknologi ini mampu memprediksi cuaca ekstrem hingga 10 hari ke depan, bahkan sampai ke tingkat kecamatan dan kelurahan. Akurasinya meningkat berkat integrasi data real-time dan pemodelan iklim terbaru.

3. Climate Early Warning System (CEWS)

Sistem ini fokus pada prediksi iklim jangka menengah dan panjang, yang sangat vital untuk sektor seperti pertanian, perikanan, energi, dan pengelolaan air.

Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, mengatakan:

“Dengan informasi yang akurat, petani bisa merencanakan tanam panen lebih baik, dan hasil panen pun meningkat. Ini bukti nyata bahwa teknologi iklim bisa langsung menyentuh kehidupan masyarakat.”

Uji coba dan implementasi sistem-sistem tersebut sudah menunjukkan hasil positif di beberapa wilayah Indonesia, terutama yang rawan gempa atau terdampak perubahan cuaca ekstrem. 

Respons cepat dan edukasi publik membuat masyarakat lebih waspada dan tidak panik saat bencana terjadi.

Transformasi ini bukan proses instan. BMKG telah memulai langkah-langkah inovatif sejak beberapa tahun terakhir dan akan terus berlanjut hingga 2045, seiring dengan visi besar menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan tangguh terhadap bencana.

Transformasi kelembagaan BMKG tidak hanya terfokus pada digitalisasi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem kesiapsiagaan nasional. 

Semua pihak baik pemerintah, masyarakat, hingga pelaku usaha perlu bergerak bersama dan lebih cepat.

Tema HMKGN ke-78: "Peringatan Dini untuk Semua, Aksi Dini oleh Semua" menjadi seruan moral bahwa setiap orang punya peran penting dalam menghadapi ancaman iklim dan bencana.

“Transformasi BMKG bukan hanya soal teknologi, tapi bagaimana membuat semua orang bisa bertindak sebelum bencana datang. Di situlah kuncinya. Aksi dini akan menyelamatkan banyak nyawa dan memperkuat fondasi Indonesia Emas 2045,” pungkas Dwikorita.

Bencana memang tak bisa dihindari, tapi dampaknya bisa diminimalkan. Melalui aksi dini, kolaborasi, dan inovasi teknologi, Indonesia bisa membangun ketahanan yang kokoh menghadapi masa depan.

Inilah saatnya kita semua tidak hanya menjadi penonton saat bencana terjadi, tapi menjadi bagian dari solusi. 

Dengan semangat gotong royong dan kesiapsiagaan, jalan menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi tapi visi yang bisa diwujudkan bersama.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan ke teman atau keluarga agar lebih banyak yang tahu pentingnya aksi dini dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim.

Refensihttps://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-terus-lakukan-inovasi-sistem-peringatan-dini-hadapi-risiko-iklim-dan-bencana-menuju-indonesia-emas-2045

Jumat, 11 April 2025

Warga Bogor Dikejutkan Gempa Magnitudo 4,1 yang Terjadi pada Kamis Malam

Warga Bogor Dikejutkan Gempa Magnitudo 41 yang Terjadi pada Kamis Malam
Warga Bogor Dikejutkan Gempa Magnitudo 41 yang Terjadi pada Kamis Malam.

JAKARTA - Pada Kamis malam, 10 April 2025, warga Kota Bogor dan sekitarnya dikejutkan oleh guncangan gempa bumi yang cukup terasa. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa tersebut berkekuatan magnitudo 4,1 dan terjadi pada pukul 22.16 WIB.

Menurut informasi resmi dari BMKG Kota Bandung, pusat gempa berada sekitar 2 kilometer di tenggara Kota Bogor, tepatnya pada koordinat 6,62 Lintang Selatan dan 106,80 Bujur Timur. 

Gempa ini terjadi pada kedalaman yang cukup dangkal, yaitu hanya 5 kilometer di bawah permukaan tanah.

Guncangan Terasa di Sejumlah Wilayah

Meski magnitudonya tidak terlalu besar, gempa ini dirasakan cukup kuat oleh warga. Getarannya tidak hanya terasa di Kota Bogor, tapi juga menjalar hingga Kabupaten Bogor dan Kota Depok. 

Banyak warganet yang membagikan pengalaman mereka di media sosial, menyebutkan bahwa guncangan terasa seperti ada truk besar yang melintas di dekat rumah.

Berdasarkan peta tingkat guncangan atau shakemap BMKG serta laporan masyarakat, gempa ini tercatat pada skala intensitas III MMI. 

Artinya, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada kendaraan besar yang melintas, namun belum sampai menyebabkan kerusakan bangunan.

Belum Ada Laporan Kerusakan

Hingga artikel ini ditulis, belum ada laporan resmi mengenai adanya kerusakan bangunan atau korban akibat gempa tersebut. 

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengingat gempa dengan kedalaman dangkal seperti ini biasanya cukup terasa dan bisa memicu kepanikan.

BMKG juga belum menginformasikan secara pasti apa penyebab gempa kali ini, namun mengingat lokasinya berada di daratan dan cukup dangkal, kemungkinan besar ini merupakan gempa bumi tektonik yang terjadi akibat aktivitas patahan di sekitar wilayah Bogor.

Apa yang Perlu Dilakukan Saat Gempa?

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu siap siaga menghadapi bencana, termasuk gempa bumi. 

Berikut beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan saat terjadi gempa:

  • Segera lindungi kepala dan tubuh dengan tangan atau benda pelindung seperti bantal atau helm.

  • Jika berada di dalam rumah, berlindunglah di bawah meja yang kokoh dan jauhi jendela atau benda yang bisa jatuh.

  • Jika sedang berada di luar ruangan, hindari bangunan tinggi, pohon besar, dan tiang listrik.

  • Jangan panik dan usahakan tetap tenang agar bisa berpikir jernih.

Gempa bumi memang tidak bisa diprediksi, tapi kita bisa meminimalkan risikonya dengan selalu waspada dan mengetahui langkah-langkah penyelamatan yang tepat. 

Tetap ikuti informasi resmi dari BMKG atau pihak berwenang lainnya, dan jangan mudah terpancing isu yang belum jelas kebenarannya.

Senin, 11 Maret 2024

Pontianak dan Kubu Raya Siaga, BMKG Proyeksikan Hujan Lebat

Pontianak dan Kubu Raya Siaga, BMKG Proyeksikan Hujan Lebat
Hujan lebat mengguyur Pontianak dan Kubu Raya. (ANTARA/Rizki Fadriani).
PONTIANAK - BMKG Pontianak, Kalimantan Barat, mengingatkan masyarakat bahwa cuaca ekstrem berupa hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Pontianak dan Kubu Raya pada 12 Maret mendatang.

"Hujan dengan intensitas lebat diprediksi akan terjadi pada 12 Maret mendatang," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Pontianak, Sutikno di Sungai Raya, Sabtu.

Diproyeksikan bahwa kelembapan udara pada hari pertama puasa tersebut akan mencapai 100 persen, sementara kecepatan angin dapat mencapai 10 km/jam.

Sutikno juga menambahkan bahwa cuaca untuk Sabtu (9/3) masih diprediksi akan terjadi hujan dengan intensitas sedang.

Berdasarkan pemantauan satelit cuaca, terlihat adanya awan penghujan di sebelah selatan Kalimantan Barat. Oleh karena itu, Pontianak dan Kubu Raya masih berpotensi mengalami hujan pada siang hingga sore hari, dengan kelembapan udara sekitar 60 persen.

"Kami memperkirakan Pontianak dan Kubu Raya akan mengalami hujan pada hari ini dengan intensitas sedang," ujarnya.

Sutikno juga menjelaskan bahwa cuaca hari ini diperkirakan aman karena tidak ada potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

"Insyaallah cuaca akan aman untuk hari ini," katanya.

Hujan lebat yang terjadi di wilayah Pontianak dan Kubu Raya pada Jumat kemarin menyebabkan kemacetan akibat genangan air di beberapa jalan, bahkan penerbangan dari Jakarta-Pontianak pun terpaksa dialihkan ke Batam.

Berdasarkan informasi dari laman BMKG, pada Jumat 8 Maret 2024, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, dilanda hujan lebat dengan kecepatan angin mencapai 10 km/jam dan kelembapan udara sekitar 60 persen. Pada pukul 14.50 WIB, terjadi hujan deras di wilayah Kota Pontianak, Kubu Raya, dan Kayong Utara.

Sumber: Antara/Rizki Fadriani
Editor: Yakop

Rabu, 04 Januari 2023

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Di Sebagian Wilayah Indonesia

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Di Sebagian Wilayah Indonesia
BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Di Sebagian Wilayah Indonesia.
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk waspada akan potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah di Indonesia pada Rabu.

Dalam sistem peringatan dini cuaca, BMKG memprakirakan provinsi yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu.

Kemudian, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Lampung, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat. Lalu, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sumatra Selatan.

BMKG juga meminta masyarakat pesisir waspada potensi gelombang tinggi hingga enam meter di beberapa perairan Indonesia.

"Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada," kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo.

Ia mengatakan gelombang tinggi itu berpotensi terjadi pada 3-5 Januari 2023 seiring dengan pola angin di wilayah Indonesia.

Eko menjelaskan pola angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari barat laut-timur laut dengan kecepatan angin berkisar 6-20 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari Barat Daya-Barat Laut dengan kecepatan angin berkisar 8-35 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Jawa bagian timur, Samudra Hindia Selatan Jawa Tengah, Samudra Hindia Selatan Kupang, Laut Sawu, perairan Kupang-P. Rote, perairan P. Sabu, Laut Timor, Laut Arafuru bagian barat, dan Laut Sawu.

Gelombang 4-6 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur-NTT, Laut Timor, perairan P. Sabu, Selat Sumba bagian barat, perairan selatan Kupang-P. Rotte, Laut Sawu bagian selatan, perairan selatan Lombok-Sumbawa, perairan barat P. Sumba, hingga Laut Natuna Utara.

Oleh : Asep Firmansyah/Antara
Editor : Yakop

Sabtu, 13 Maret 2021

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Pada Periode Peralihan Musim

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Pada Periode Peralihan Musim

BorneoTribun Jakarta -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan selama memasuki masa pancaroba atau peralihan musim tahun ini.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba tahun ini,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan pers tertulis, Kamis (11/03/2021).

Disampaikannya, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021.

Salah satu ciri umum kejadian cuaca saat periode peralihan musim adalah adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat, di mana pada pagi-siang umumnya cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik yang diikuti dengan pembentukan awan yang signifikan dan hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang-sore hari.

“Selama periode peralihan musim, ada beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai, yaitu hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang; puting beliung; waterspout, dan hujan es,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (11/03/2021).

Guswanto mengatakan, fenomena hujan es merupakan fenomena yang umum terjadi selama periode peralihan musim, hal tersebut dipicu oleh pola konvektifitas massa udara dalam skala lokal-regional yang lebih signifikan selama periode peralihan musim.

Dalam sepekan ke depan, imbuhnya, juga diidentifikasi juga dinamika atmosfer yang  masih dapat berkontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

“Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi,” ujarnya.

Wilayah tersebut adalah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Banten Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Juga berpotensi terjadi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam, yaitu melalui https://www.bmkg.go.id, follow media sosial @infoBMKG, aplikasi iOS dan android “Info BMKG”, atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat. (HUMAS BMKG/UN)

Oleh: Humas Setkab