Berita BorneoTribun: BRICS hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label BRICS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRICS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2026

Kebijakan Baru Iran Di Hormuz Guncang Dominasi Dolar Global

Iran menerapkan biaya transit di Selat Hormuz dengan mata uang non-dolar. Langkah ini dinilai mempercepat tren de-dolarisasi dan mengancam dominasi petrodollar global.
Iran menerapkan biaya transit di Selat Hormuz dengan mata uang non-dolar. Langkah ini dinilai mempercepat tren de-dolarisasi dan mengancam dominasi petrodollar global.

Iran mulai mengambil langkah baru yang membuat dunia energi dan keuangan global ikut waspada. Negara tersebut dikabarkan menerapkan kebijakan baru terkait jalur pelayaran penting Selat Hormuz yang bisa berdampak langsung pada dominasi dolar Amerika di perdagangan minyak dunia, Selasa, (7/4/2026).

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur laut paling vital di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global biasanya melewati wilayah sempit ini. Ketika terjadi ketegangan geopolitik, jalur ini menjadi titik strategis yang bisa mempengaruhi harga energi hingga ekonomi global.

Iran Terapkan Biaya Jalur Hormuz dengan Mata Uang Alternatif

Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan biaya bagi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Uniknya, pembayaran tidak lagi berfokus pada dolar Amerika, melainkan menggunakan mata uang lain seperti yuan China atau sistem pembayaran non-dolar.

Langkah ini dinilai sebagai strategi besar yang tidak hanya berkaitan dengan keamanan wilayah, tetapi juga menyentuh sistem keuangan global. Selama puluhan tahun, perdagangan minyak internasional hampir selalu menggunakan dolar Amerika, yang dikenal sebagai sistem petrodollar.

Jika kebijakan pembayaran non-dolar ini terus diterapkan secara konsisten, maka dampaknya bisa meluas. Negara-negara yang bergantung pada jalur Hormuz kemungkinan harus menyesuaikan sistem pembayaran mereka agar tetap bisa mengirimkan minyak ke pasar dunia.

Dampak Langsung ke Sistem Petrodollar

Sistem petrodollar sudah menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi Amerika sejak tahun 1970-an. Dengan sebagian besar transaksi minyak dilakukan dalam dolar, permintaan terhadap mata uang tersebut selalu tinggi.

Namun kebijakan Iran ini dianggap sebagai tantangan langsung terhadap sistem tersebut. Jika semakin banyak transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang selain dolar, maka dominasi dolar dalam perdagangan global bisa perlahan berkurang.

Para analis menilai langkah ini bukan berarti dolar akan langsung tergantikan. Namun perubahan kecil yang terus berulang dalam jangka panjang bisa mempercepat tren yang dikenal sebagai de-dolarisasi, yaitu peralihan penggunaan dolar ke mata uang lain dalam perdagangan internasional.

Peran Negara BRICS dalam Perubahan Sistem Keuangan

Kelompok negara BRICS yang terdiri dari beberapa ekonomi besar dunia juga disebut berperan dalam mempercepat tren de-dolarisasi. Negara-negara ini telah lama membahas sistem pembayaran alternatif yang tidak bergantung pada dolar.

Iran dinilai memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara tersebut, terutama yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.

Selain itu, penggunaan mata uang alternatif juga dianggap sebagai cara untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi yang selama ini banyak memanfaatkan sistem dolar global.

Risiko bagi Pasar Energi Dunia

Kebijakan baru di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sistem keuangan, tetapi juga pada stabilitas pasokan energi dunia. Ketika jumlah kapal yang melintas berkurang atau proses pembayaran menjadi lebih rumit, harga minyak global berpotensi naik.

Jika situasi ini berlangsung lama, dampaknya bisa dirasakan hingga ke berbagai negara, termasuk meningkatnya harga bahan bakar dan biaya logistik.

Meski begitu, sebagian pengamat menyebut perubahan ini masih dalam tahap awal. Dolar Amerika tetap menjadi mata uang dominan dunia, sehingga perubahan besar kemungkinan terjadi secara bertahap, bukan secara mendadak.

Dunia Masuk Era Persaingan Mata Uang Energi

Langkah Iran di Selat Hormuz menjadi salah satu sinyal bahwa dunia mulai bergerak menuju sistem perdagangan energi yang lebih beragam dalam hal mata uang.

Bagi banyak negara, situasi ini menjadi momentum untuk mencari alternatif sistem pembayaran yang lebih fleksibel. Sementara itu, bagi pasar global, perubahan ini bisa menjadi awal dari babak baru dalam persaingan ekonomi antarnegara.

Yang jelas, kebijakan di jalur laut paling penting dunia ini akan terus menjadi perhatian utama, karena dampaknya tidak hanya menyangkut geopolitik, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat di berbagai negara.

Sabtu, 04 Maret 2023

Indonesia dan Negara Lain Bergabung dengan BRICS dan SCO? Berpotensi Gagalkan Sanksi Ekonomi Barat Terhadap Rusia

Indonesia dan Negara Lain Bergabung dengan BRICS dan SCO? Berpotensi Gagalkan Sanksi Ekonomi Barat Terhadap Rusia
KTT SCO di Astana dengan lambang SCO di atasnya.

JAKARTA - Konflik antara Rusia dan Ukraina berakibat pada terjadinya perang dagang di seluruh dunia. 

Beberapa negara saat ini bermaksud untuk menjadi mitra perdagangan Rusia melalui BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Barat dan sekutunya memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia akibat perang di Ukraina. 

Namun, Indonesia, bersama dengan sejumlah negara lain seperti Turki, Meksiko, Argentina, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan beberapa negara Afrika, bergabung dengan BRICS dan SCO.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan bahwa negara-negara yang ingin menjadi anggota BRICS dan SCO memiliki peran penting di wilayah mereka. 

Jumlah negara yang ingin bergabung dengan BRICS dan SCO meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sekitar dua lusin negara.

Lavrov mendesak Rusia untuk meningkatkan interaksi dengan organisasi-organisasi tersebut dan menekankan status tinggi BRICS dan SCO

Diplomat itu juga mengatakan bahwa organisasi-organisasi tersebut memiliki format yang ditujukan khusus untuk kerja sama antar provinsi di negara anggota.

Wakil Afrika Selatan untuk BRICS, Anil Sooklal, mengatakan bahwa para anggota sedang menyusun kriteria untuk perluasan kelompok tersebut dan diharapkan siap dalam tiga bulan ke depan. 

Otoritas China mendukung perluasan blok BRICS dan mengatakan bahwa kerja sama yang bermanfaat di antara negara-negara anggota akan mempercepat pemulihan ekonomi domestik di negara-negara BRICS.

BRICS merupakan aliansi dagang yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afsel). 

Aliansi ini merupakan rumah bagi lebih dari 40% populasi global dan menyumbang hampir seperempat dari produk domestik bruto dunia. 

BRICS didirikan pada tahun 2009.

Meskipun merupakan sebuah aliansi dagang, beberapa anggota BRICS memiliki pandangan yang berbeda terkait serangan Rusia ke Ukraina

Namun, mereka belum memutuskan akses dagang dan perekonomian dengan Rusia.

China, Afsel, dan India telah abstain dari pemungutan suara PBB untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina

Beijing dan Delhi memiliki hubungan militer yang kuat dengan Rusia dan membeli sejumlah besar minyak dan gas negara tersebut. 

Sementara itu, Brasil mendukung pemungutan suara PBB untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina, tetapi menegaskan bahwa penerapan sanksi sembarangan terhadap Rusia tidak mengarah pada rekonstruksi dialog.

SCO merupakan aliansi dagang dan pertahanan yang terdiri dari China, India, Rusia, serta beberapa kawasan Asia Tengah hingga Pegunungan Kaukasus. 

Organisasi ini telah memiliki beberapa jenis kerjasama internasional, salah satunya dengan ASEAN. (*)