Berita BorneoTribun: Badan Gizi Nasional hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Badan Gizi Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Badan Gizi Nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2026

Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi

Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi
Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi.

BENGKAYANG -- Bayangkan anak berangkat sekolah tanpa perut kosong, tubuh lebih segar, dan pikiran lebih siap menerima pelajaran. Inilah gambaran besar yang ingin diwujudkan pemerintah lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Sejak resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025, program ini langsung menjadi sorotan publik karena menyentuh kebutuhan paling mendasar: gizi dan kesehatan anak Indonesia.

MBG dirancang khusus untuk kelompok rentan, mulai dari anak usia sekolah, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui. Tujuannya jelas, memastikan asupan nutrisi terpenuhi sejak dini sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

MBG, Solusi Nyata Masalah Gizi Nasional

Masalah gizi buruk dan malnutrisi masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Karena itu, MBG hadir bukan sekadar program bagi-bagi makanan, tetapi sebagai strategi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia.

Secara nasional, program ini menargetkan 82,9 juta penerima manfaat dengan dukungan anggaran fantastis mencapai Rp171 triliun, yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional. Skala besar ini menjadikan MBG sebagai salah satu program intervensi gizi terbesar sepanjang sejarah kebijakan sosial Indonesia.

Dampak Nyata pada Kesehatan Siswa

Berbagai penelitian mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Jurnal ilmiah yang ditulis Dede Zainudin, dosen Universitas Indraprasta PGRI, mengungkapkan bahwa manfaat MBG paling cepat terlihat pada perbaikan kondisi fisik siswa.

Penelitian kuantitatif di SMAN 1 Pebayuran terhadap 250 siswa menemukan bahwa peserta MBG mengalami peningkatan energi, daya tahan tubuh, dan penurunan frekuensi sakit. Anak-anak menjadi lebih bugar dan tidak mudah kelelahan saat belajar.

Tak hanya itu, studi awal juga mencatat peningkatan asupan protein, vitamin, dan mineral, nutrisi penting dalam masa pertumbuhan. Secara teoritis, menu MBG bahkan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan gizi harian anak, sehingga berpotensi menekan risiko kekurangan gizi kronis.

“Program Makan Bergizi Gratis terbukti meningkatkan stamina dan menurunkan frekuensi sakit pada peserta didik,” tulis Dede Zainudin dalam laporannya.

Nutrisi Seimbang, Otak Lebih Fokus

Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi
Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi.

Manfaat MBG tak berhenti di fisik. Sejumlah jurnal nutrisi di Indonesia menyebutkan bahwa pola makan bergizi berkaitan erat dengan fungsi kognitif siswa, terutama dalam hal konsentrasi, daya ingat, dan pemahaman pelajaran.

Artinya, MBG bukan hanya intervensi kesehatan, tetapi juga alat pendukung proses belajar di sekolah. Anak yang gizinya tercukupi cenderung lebih fokus, aktif, dan siap menerima materi.

Kualitas Menu Jadi Kunci Keberhasilan

Namun, efektivitas MBG sangat ditentukan oleh kualitas dan komposisi menu. Studi di Makassar membandingkan menu MBG dengan susu dan tanpa susu. Hasilnya, menu dengan susu mampu menyumbang sekitar 742 kkal energi (28 persen RDA) dan 34,9 gram protein (46,5 persen RDA) untuk remaja.

Sementara itu, menu tanpa susu tetap unggul dalam pemenuhan mikronutrien penting seperti zat besi, yang mencapai lebih dari 50 persen kebutuhan harian. Temuan ini menegaskan bahwa perencanaan menu yang seimbang dan berkelanjutan sangat menentukan dampak MBG.

Bukan Sekadar Makan, Tapi Edukasi Gizi

Menariknya, MBG juga dibarengi dengan edukasi pola makan sehat di sekolah. Anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga diajak memahami pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan hidup sehat sejak dini.

Dalam panduan pelaksanaannya, peningkatan literasi gizi dan perubahan perilaku makan menjadi salah satu target utama MBG. Dengan cara ini, manfaat program diharapkan bertahan hingga jangka panjang.

Pengaruh ke Kehadiran dan Aktivitas Belajar

Dari sisi pendidikan, berbagai riset menyebutkan bahwa status gizi yang lebih baik berbanding lurus dengan kehadiran dan keterlibatan siswa di kelas. Anak yang cukup gizi cenderung lebih jarang absen dan lebih aktif dalam pembelajaran.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa prestasi akademik tidak hanya dipengaruhi gizi. Faktor lingkungan keluarga, kualitas sekolah, dan metode pengajaran tetap memegang peranan penting.

Tantangan dan Catatan Evaluasi

Evaluasi ilmiah juga mencatat bahwa dampak MBG pada konsentrasi dan absensi tidak selalu seragam. Penelitian di beberapa SD di Jakarta menunjukkan bahwa meskipun status gizi membaik, peningkatan konsentrasi belajar belum selalu signifikan secara statistik.

Hal ini menegaskan bahwa program gizi perlu didukung faktor eksternal, seperti peran keluarga dan lingkungan belajar yang kondusif.

Penilaian Awal dari BPS

Data awal dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui survei monitoring pertengahan 2025 menunjukkan respon positif masyarakat. MBG dinilai berdampak baik pada kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi lokal, termasuk penyerapan tenaga kerja dan penguatan rantai pasok pangan daerah.

Meski data rinci masih menunggu rilis nasional, sinyal awal ini menjadi angin segar bagi keberlanjutan program.

Kisah MBG di Bengkayang

Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi
Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru Anak Sekolah, Ini Fakta Dampaknya bagi Kesehatan dan Prestasi.

Di daerah, MBG juga mulai menunjukkan hasil. Kepala SMAN 1 Bengkayang, Sri Yanti, menuturkan bahwa program ini telah berjalan sejak Agustus 2025 dan distribusinya relatif lancar.

Bahkan, Forkopimda Kabupaten Bengkayang sempat turun langsung melakukan monitoring dengan makan siang bersama siswa penerima manfaat. Menu yang disajikan pun menyesuaikan bahan pangan lokal, seperti ketela dan jagung yang menjadi komoditas unggulan daerah.

Namun, ada catatan penting dari lapangan. Menurut Sri Yanti, ke depan pengelola diharapkan lebih kreatif dan variatif dalam menyusun menu, terutama dalam mengganti sumber protein. Pasalnya, telur yang sering digunakan ternyata kurang diminati oleh sebagian siswa.

Sekolah telah menyampaikan masukan tersebut dan mendapat respons positif dari pengelola. Harapannya, program strategis ini bisa terus berjalan optimal dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa.

Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045

Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan gizi, kesehatan, dan kualitas pendidikan masyarakat Indonesia. Dengan cakupan luas dan dukungan anggaran besar, MBG menjadi salah satu pilar penting pembangunan SDM nasional.

Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan, evaluasi berkelanjutan, serta kolaborasi pemerintah, sekolah, dan keluarga. Jika dijalankan dengan tepat, MBG bukan hanya memberi makan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan generasi Indonesia.

Penulis: Fran Asok

Senin, 02 Februari 2026

Jelang Ramadhan BGN Siapkan Strategi Jaga Harga Bahan MBG, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas

Jelang Ramadhan BGN Siapkan Strategi Jaga Harga Bahan MBG, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas
Peserta didik di salah satu sekolah di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, menyantap menu program MBG (ANTARA/Nyaman Bagus Purwaniawan)

JAKARTA -- Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat untuk memastikan ketersediaan bahan baku Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap stabil menjelang Ramadhan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga tetap terkendali sekaligus memastikan masyarakat tetap bisa mengakses gizi yang cukup.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam strategi ini. “Kami bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mengatur bahan makanan mana yang disarankan untuk dikonsumsi, mana yang ditahan dulu, dan bahan mana yang bisa diganti agar harga tetap stabil,” ujar Dadan saat ditemui di Sentul, Kabupaten Bogor, Senin.

Selain menjaga harga, BGN juga menyiapkan perluasan jangkauan MBG. Kali ini, program gizi ini akan menyasar lansia dan penyandang disabilitas, bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos). Dadan menyebut, pihaknya tengah membahas mekanisme distribusinya agar pemberian MBG bisa terintegrasi dalam satu kesatuan program di masing-masing daerah.

“MBG selama ini sudah menyasar ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, seluruh anak sekolah sampai usia 18 tahun, serta anak putus sekolah. Sekarang, lansia akan menjadi tambahan prioritas, dengan mekanisme penyaluran yang akan ditangani Kemensos,” jelas Dadan.

Dari sisi anggaran, BGN membuktikan komitmennya. Per Januari 2026, sudah dikeluarkan Rp19,5 triliun untuk program MBG. Tidak hanya meningkatkan gizi, program ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung.

“Contohnya, kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sabun mencapai sekitar 25 liter per hari. Hal ini membuka peluang wirausaha baru yang ikut memproduksi sabun, sehingga program ini juga mendukung ekonomi lokal,” kata Dadan.

BGN juga menegaskan, tata kelola MBG diperketat. SPPG yang melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) atau menyebabkan kasus keracunan akan diberi kartu kuning, sebagai peringatan sebelum tindakan lebih lanjut diambil.

“Saya ingin memastikan program ini berjalan aman dan tepat sasaran. SPPG yang menyalahi prosedur akan dievaluasi dan jika perlu dihentikan sementara,” tegas Dadan.

Dengan langkah ini, BGN berharap Ramadhan mendatang masyarakat tetap bisa menikmati makanan bergizi tanpa khawatir harga melonjak, sambil tetap mendukung perekonomian lokal.

Kamis, 09 Oktober 2025

Indonesia Terancam Kekurangan Pasokan Ayam Akibat Program Makan Bergizi Gratis

Indonesia Terancam Kekurangan Pasokan Ayam Akibat Program Makan Bergizi Gratis. (Gambar ilustrasi)
Indonesia Terancam Kekurangan Pasokan Ayam Akibat Program Makan Bergizi Gratis. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kekurangan pasokan ayam dalam waktu dekat. Hal ini seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah.

Menurut Dadan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG melayani sekitar 3.000 penerima manfaat setiap hari. Dari angka tersebut, diperkirakan dibutuhkan sekitar 350 ekor ayam per hari untuk memenuhi kebutuhan menu bergizi. Jika menu berbasis ayam diberikan dua kali dalam seminggu, maka kebutuhan ayam per SPPG bisa mencapai 700 ekor.

“Artinya, dalam satu bulan setiap SPPG memerlukan sekitar 2.800 ekor ayam,” kata Dadan. Ia menambahkan, seiring dengan perluasan program MBG di seluruh wilayah Indonesia, maka ketersediaan ayam juga harus ditingkatkan agar pasokan tetap terjaga dan tidak menimbulkan kelangkaan di pasaran.

Dadan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan pelaku usaha di sektor pangan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan daging ayam. Ia menyarankan agar jumlah peternak ayam ditambah serta didukung dengan fasilitas pakan dan distribusi yang memadai, sehingga pasokan tetap stabil tanpa mengganggu harga di tingkat konsumen.

Selain itu, BGN juga tengah memantau kualitas bahan makanan yang digunakan dalam program MBG. Pasalnya, baru-baru ini terjadi insiden keracunan massal di salah satu lokasi pelaksanaan program.

Kegiatan SPPG Kota Soe 1 di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Timor Tengah Selatan, untuk sementara dihentikan setelah 384 siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sesak napas pada 3 Oktober 2025. Gejala itu muncul setelah mereka mengonsumsi menu MBG berupa soto ayam suwir.

Tim BGN bersama dinas kesehatan setempat telah turun langsung untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut. Berdasarkan laporan awal, dugaan sementara menunjukkan adanya kesalahan dalam proses penyimpanan atau pengolahan bahan makanan.

Dadan memastikan bahwa kasus ini menjadi pelajaran penting untuk memperkuat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia. Ia menegaskan, pihaknya akan memperketat pengawasan serta memberikan pelatihan tambahan bagi tenaga dapur agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Tujuan program ini adalah memberikan makanan bergizi dan aman bagi anak-anak kita, bukan malah menimbulkan masalah kesehatan,” ujarnya.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang dirancang untuk mengatasi masalah stunting dan gizi buruk di kalangan pelajar. Dengan menu yang seimbang dan bergizi, diharapkan anak-anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.

Namun demikian, tantangan terbesar yang kini dihadapi adalah ketersediaan bahan pangan dalam jumlah besar dan kualitas yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan rantai pasok dari peternak hingga dapur MBG berjalan efisien agar program ini tidak menimbulkan dampak ekonomi negatif, seperti lonjakan harga ayam di pasar tradisional.

Para ahli pangan juga menyarankan agar pemerintah memperluas sumber protein alternatif seperti ikan, telur, dan tempe untuk menyeimbangkan kebutuhan gizi tanpa terlalu bergantung pada satu jenis bahan makanan. Dengan langkah ini, diharapkan program MBG bisa berjalan lancar dan berkelanjutan tanpa menimbulkan risiko kekurangan pasokan ayam nasional.

Selasa, 07 Oktober 2025

Membangkang Instruksi, SPPG Dikelola Yayasan Kayong Mitra Sejahtera Teluk Melano Tetap Beroperasi

Foto: Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kayong Utara 

KAYONG UTARA - Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola yayasan Kayong Mitra Sejahtera (KMS) di Kabupaten Kayong Utara terkesan membangkang instruksi Badan Gizi Nasional (BGN) Region Kalimantan Barat untuk stop menyuplai makanan gratis. 

Dapur ini menyuplai 2.161 porsi makanan setiap harinya untuk anak-anak PAUD, SD, SMP dan SMA/SMK di wilayah kecamatan Simpang Hilir Kayong Utara. 

Instruksi ini dikeluarkan BGN Kalbar pasca dapur ini menyebabkan sembilan orang siswa SMP PGRI Pulau Kumbang diduga alami keracunan seusai menyantap makanan berupa telur dan oseng-oseng sayur tumis. Kasus ini terjadi pada Senin 29 September 2025 lalu. 

Dari jumlah itu, tiga orang diantara siswa-siswi itu sampai harus opname di Puskesmas setempat. Sisanya observasi ketat dari petugas Puskesmas. 

Sesuai pantauan, pada hari ini, dapur yang menempati bangunan ruko dua lantai berlokasi di pinggir jalan arah Teluk Melano -Teluk Batang di desa Teluk Melano kecamatan Simpang Hilir ini masih mensuplai makanan ke sejumlah sekolahan di wilayah kecamatan Simpang Hilir. Salah satunya kepada SDN 33 Sungai Sambas desa Nipah Kuning. 

Menu yang diantar ke sekolah itu untuk hari ini, Selasa (7/10/2025) saat dilihat terdiri dari nasi kuning, 1 buah tahu goreng, telur goreng, oseng-oseng sayur wortel campur timun dan satu buah jeruk. 

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Kalimantan Barat, Agus Kurniawi menegaskan SPPG dikelola Yayasan KMS harusnya sudah berhenti operasi. Hal itu disampaikanya saat dikonfirmasi Borneo Tribun hari ini. 

"Saya memerintahkan untuk berhenti operasional," tegas Agus Kurniawi, Kepala BGN Region Kalbar dikonfirmasi Borneo Tribun, Senin sore (6/10/2025). 

Borneo Tribun juga mengkonfirmasi kasus terbaru yang terjadi tepatnya pada Senin 06 Oktober 2025, dimana mobil boks SPPG ini menabrak seorang pengendara motor di ruas jalan arah Teluk Melano - Teluk Batang, di persimpangan jalan keluar masuk dusun Sungai Sambas desa Nipah Kuning. 

Kecelakaan itu membuat pengendara motor yang diketahui warga Trans Rantau Panjang alami luka serius pada bagian tubuh dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Djamaludin Sukadana. 

Sedangkan mobil boks sempat ditahan di halaman Mapolsek Simpang Hilir tetapi pagi ini mobil boks itu sudah kembali beroperasi. 

Terkait insiden ini, Agus Kurniawi menyampaikan sedang meminta informasi dari koordinator wilayah (Korwil) MBG kabupaten Kayong Utara. 

"Saya coba konfirmasi ke Korwil sana terlebih dahulu," kata Agus Kurniawi. 

Dalam operasional mengantar makanan ke siswa, dapur yang dikepalai oleh kepala dapur bernama Ansori ini menggunakan dua unit mobil boks khusus dari BGN.

Dari informasi yang diperoleh, pengurus SPPG ini sebanyak 70 orang sebagai karyawan berasal dari warga sekitar dapur, mempunyai satu orang tenaga ahli gizi. 

(Muzahidin)

Sabtu, 09 Agustus 2025

18 Ribu Kader PKB dan PLKB Siap Jadi Ujung Tombak Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu dan Balita

Kader PKB dan PLKB sedang mendistribusikan paket makan bergizi gratis kepada ibu hamil dan balita di sebuah posyandu desa.
Kader PKB dan PLKB sedang mendistribusikan paket makan bergizi gratis kepada ibu hamil dan balita di sebuah posyandu desa.

Jakarta – Sebanyak 18 ribu kader Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) siap menjadi ujung tombak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Program ini ditujukan khusus untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak PAUD, serta balita, terutama yang berusia di bawah 2 tahun.

 Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, saat menghadiri diskusi bertema "Peran Pembangunan Keluarga dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045" di Jakarta, Sabtu (9/8/2025).

Isyana menjelaskan bahwa program MBG tidak hanya menyasar anak sekolah, tapi juga ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita dan PAUD yang selama ini belum terjangkau oleh program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 

"MBG ini adalah langkah nyata pemerintah untuk memastikan gizi optimal sejak dini, karena peran kami di Kemendukbangga sangat vital dengan adanya kader PKB dan PLKB yang siap digerakkan," ujarnya. 

Selain itu, Kemendukbangga berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri untuk membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berjumlah 600 ribu orang di seluruh Indonesia. 

TPK terdiri dari tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat, serta kader PKK dan kader KB yang membantu distribusi MBG di lapangan.

Lebih lanjut Isyana menegaskan pentingnya pemberian gizi yang baik dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yang menurutnya adalah masa paling krusial untuk mencegah stunting. 

"Masa 1.000 hari pertama itu tidak hanya dimulai saat bayi lahir, tapi sejak dalam kandungan. Jadi memastikan ibu hamil mendapatkan asupan bergizi adalah kunci kualitas sumber daya manusia masa depan," katanya. 

Program ini juga menjadi bagian dari target pembangunan keluarga yang tertuang dalam Asta Cita ke-4, yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimulai dari keluarga dan sejak dini.

Dengan adanya peran aktif 18 ribu kader PKB dan PLKB serta ratusan ribu anggota Tim Pendamping Keluarga, pemerintah optimistis program MBG dapat tersalurkan merata dan tepat sasaran. 

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.