![]() |
| Indonesia Terancam Kekurangan Pasokan Ayam Akibat Program Makan Bergizi Gratis. (Gambar ilustrasi) |
JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kekurangan pasokan ayam dalam waktu dekat. Hal ini seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah.
Menurut Dadan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG melayani sekitar 3.000 penerima manfaat setiap hari. Dari angka tersebut, diperkirakan dibutuhkan sekitar 350 ekor ayam per hari untuk memenuhi kebutuhan menu bergizi. Jika menu berbasis ayam diberikan dua kali dalam seminggu, maka kebutuhan ayam per SPPG bisa mencapai 700 ekor.
“Artinya, dalam satu bulan setiap SPPG memerlukan sekitar 2.800 ekor ayam,” kata Dadan. Ia menambahkan, seiring dengan perluasan program MBG di seluruh wilayah Indonesia, maka ketersediaan ayam juga harus ditingkatkan agar pasokan tetap terjaga dan tidak menimbulkan kelangkaan di pasaran.
Dadan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan pelaku usaha di sektor pangan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan daging ayam. Ia menyarankan agar jumlah peternak ayam ditambah serta didukung dengan fasilitas pakan dan distribusi yang memadai, sehingga pasokan tetap stabil tanpa mengganggu harga di tingkat konsumen.
Selain itu, BGN juga tengah memantau kualitas bahan makanan yang digunakan dalam program MBG. Pasalnya, baru-baru ini terjadi insiden keracunan massal di salah satu lokasi pelaksanaan program.
Kegiatan SPPG Kota Soe 1 di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Timor Tengah Selatan, untuk sementara dihentikan setelah 384 siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sesak napas pada 3 Oktober 2025. Gejala itu muncul setelah mereka mengonsumsi menu MBG berupa soto ayam suwir.
Tim BGN bersama dinas kesehatan setempat telah turun langsung untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut. Berdasarkan laporan awal, dugaan sementara menunjukkan adanya kesalahan dalam proses penyimpanan atau pengolahan bahan makanan.
Dadan memastikan bahwa kasus ini menjadi pelajaran penting untuk memperkuat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia. Ia menegaskan, pihaknya akan memperketat pengawasan serta memberikan pelatihan tambahan bagi tenaga dapur agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Tujuan program ini adalah memberikan makanan bergizi dan aman bagi anak-anak kita, bukan malah menimbulkan masalah kesehatan,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang dirancang untuk mengatasi masalah stunting dan gizi buruk di kalangan pelajar. Dengan menu yang seimbang dan bergizi, diharapkan anak-anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.
Namun demikian, tantangan terbesar yang kini dihadapi adalah ketersediaan bahan pangan dalam jumlah besar dan kualitas yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan rantai pasok dari peternak hingga dapur MBG berjalan efisien agar program ini tidak menimbulkan dampak ekonomi negatif, seperti lonjakan harga ayam di pasar tradisional.
Para ahli pangan juga menyarankan agar pemerintah memperluas sumber protein alternatif seperti ikan, telur, dan tempe untuk menyeimbangkan kebutuhan gizi tanpa terlalu bergantung pada satu jenis bahan makanan. Dengan langkah ini, diharapkan program MBG bisa berjalan lancar dan berkelanjutan tanpa menimbulkan risiko kekurangan pasokan ayam nasional.
