Berita BorneoTribun: Budaya Dayak hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Budaya Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Dayak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2026

Pesta Adat Lom Plai 2026 Di Kaltim, Tradisi Dayak Wehea Tetap Eksis

Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.
Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.

KUTAI TIMUR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal. Salah satunya lewat penyelenggaraan Pesta Adat Lom Plai 2026 yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.

Acara ini bukan sekadar seremoni biasa. Lebih dari itu, Lom Plai jadi simbol kuat bagaimana masyarakat Dayak Wehea tetap menjaga identitas budaya mereka di tengah gempuran modernisasi.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa tradisi ini punya makna mendalam bagi masyarakat setempat.

“Pesta adat Lom Plai bukan hanya bentuk rasa syukur atas hasil panen, tapi juga bukti nyata keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga budaya,” ujarnya saat dikonfirmasi di Samarinda, Senin.

Yang bikin makin menarik, rangkaian acara Lom Plai 2026 ini juga masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Artinya, event ini punya daya tarik nasional bahkan berpotensi mendunia.

Rangkaian Ritual Sarat Makna

Tradisi Lom Plai dimulai sejak 23 Maret lewat prosesi sakral Ngesea Egung atau pemukulan gong sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian acara.

Setelah itu, masyarakat adat menjalankan ritual Laq Pesyai dengan berjalan bersama menuju hulu Sungai Wehea. Tujuannya? Mengambil hasil hutan seperti buah dan rotan yang nantinya dipakai dalam upacara adat.

Ritual berlanjut dengan Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, yang jadi simbol penegasan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

Keunikan budaya Dayak Wehea juga terlihat dalam ritual Ngelwung Pan. Di sini, perempuan adat menjalankan prosesi spiritual tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Masuk bulan April, suasana makin terasa. Warga mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai lewat tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menuju puncak acara.

Puncak Acara Penuh Atraksi Budaya

Momen paling ditunggu tentu saja Bob Jengea atau puncak perayaan. Di sini, berbagai atraksi budaya ditampilkan, mulai dari pawai adat, tarian Hudoq, hingga aksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal dengan Seksiang.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai pada 29 April 2026. Ritual ini dipercaya sebagai proses pembersihan kampung dari hal-hal buruk sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.

Ririn berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adat terus terjaga agar tradisi ini tetap lestari.

“Kami ingin tradisi ini terus hidup sebagai warisan budaya bangsa,” katanya.

Potensi Besar Wisata Budaya

Dengan masuknya Lom Plai ke dalam KEN 2026, peluang untuk menarik wisatawan semakin besar. Event ini bukan cuma soal budaya, tapi juga jadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan lokal Kalimantan Timur ke dunia luar.

Buat kamu yang suka wisata budaya, Lom Plai jelas jadi salah satu event yang wajib masuk wishlist tahun ini.

FAQ

1. Apa itu Pesta Adat Lom Plai?
Pesta adat tahunan masyarakat Dayak Wehea sebagai bentuk syukur panen sekaligus pelestarian budaya.

2. Di mana Lom Plai 2026 digelar?
Di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

3. Kapan puncak acara Lom Plai 2026?
Berlangsung hingga puncaknya di bulan April 2026, dengan penutupan pada 29 April.

4. Apa saja daya tarik utama Lom Plai?
Ritual adat, tarian Hudoq, pawai budaya, dan atraksi perang di sungai (Seksiang).

5. Apakah Lom Plai masuk event nasional?
Ya, termasuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Senin, 02 Februari 2026

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau
Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau.

SEKADAU -- Kegembiraan terlihat jelas ketika Tim Sekolah Adat Sekadau tiba di salah satu desa di Kabupaten Sekadau pada 14 April lalu. Bukan sekadar menyambut tamu, anak-anak sekolah dasar di sana tampil dengan penuh percaya diri, menari tarian adat Dayak sebagai bentuk kebanggaan dan penghormatan terhadap warisan budaya mereka.

Momen ini begitu istimewa karena seluruh penampil adalah anak-anak SD yang aktif mengikuti kegiatan Sekolah Adat. Meski masih kecil, mereka berani berdiri di depan tamu dan masyarakat, membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya Dayak bisa tumbuh sejak usia dini.

Salah satu penari cilik, Adek Nia, berbagi rasa senangnya. “Saya senang bisa menari adat. Ini budaya kita, orang Dayak, dan saya ingin terus belajar supaya tidak hilang,” ujarnya sambil tersenyum ceria.

Dena, peserta lainnya, menambahkan, “Belajar budaya lokal membuat saya lebih percaya diri. Kami diajar menari dan mendengar cerita adat. Bangga rasanya jadi orang Dayak, pemilik Borneo!”

Keberanian mereka tampil di depan umum tak lepas dari dukungan para pendamping. Ipa, salah satu murid Sekolah Adat, menuturkan, “Kakak-kakak di Sekolah Adat selalu bilang jangan malu dengan budaya sendiri. Makanya kami berani tampil.”

Tak kalah penting, peran Florentina Dessi, penggerak Sekolah Adat, sangat dirasakan anak-anak. Dengan bimbingan sabar dan metode belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya belajar seni tari, tetapi juga memahami nilai jati diri sebagai masyarakat adat Dayak.

Kunjungan Tim Sekolah Adat Sekadau menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Ini adalah ruang belajar bersama sekaligus penguat semangat pelestarian budaya lokal. Penampilan anak-anak yang berani menari adat menjadi simbol bahwa budaya Dayak masih hidup dan terus diwariskan ke generasi penerus.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Adat Sekadau diharapkan terus menjadi tempat tumbuhnya rasa bangga, keberanian, dan cinta budaya bagi anak-anak Dayak—pemilik tanah Borneo yang kaya akan warisan leluhur.

Jumat, 18 Juli 2025

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.

Sintang – Budaya adalah jati diri, dan jati diri tak boleh hilang begitu saja. Itulah pesan mendalam yang disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, saat menghadiri Pekan Gawai Dayak (PGD) Sintang ke-12 yang berlangsung meriah di Rumah Betang Tampun Juah, Desa Jerora Satu, pada Rabu, 16 Juli 2025.

Dengan penuh rasa syukur, Krisantus menyampaikan bahwa bisa hadir di tengah masyarakat adat Dayak merupakan sebuah berkah yang luar biasa. Baginya, acara budaya seperti ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk menyatukan hati dan kembali mengenang akar budaya yang diwariskan para leluhur.

“Kita patut bersyukur masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk berkumpul di acara penuh makna ini. Gawai Dayak bukan hanya hiburan, tapi bentuk syukur atas karir, kesehatan, dan seluruh berkat yang telah kita terima selama satu tahun terakhir,” ujarnya dengan semangat.

Gawai Dayak: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Wujud Syukur dan Identitas

Gawai Dayak, yang rutin diselenggarakan setiap tahun, adalah salah satu acara budaya terbesar yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Dalam acara ini, masyarakat adat Dayak tak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Wakil Gubernur Kalbar menegaskan bahwa gawai memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar makan minum atau musik tradisional.

“Gawai Dayak adalah bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur. Ini bukan acara seremonial biasa, tapi warisan spiritual yang punya nilai tinggi bagi masyarakat Dayak,” tegas Krisantus.

Tantangan Budaya di Era Modern: Tetap Eksis di Tengah Arus Teknologi

Satu hal yang jadi perhatian serius adalah bagaimana budaya lokal bisa tetap eksis di tengah kemajuan zaman. Di era digital dan globalisasi seperti sekarang, sangat mudah bagi budaya tradisional tergeser oleh budaya luar. Krisantus mengingatkan, jika kita lengah, budaya bisa hilang dan hanya menjadi cerita.

“Kalau kita tidak jaga budaya kita sendiri, lama-lama bisa punah. Budaya adalah identitas, dan identitas adalah harga diri. Kalau kita kehilangan itu, kita kehilangan segalanya,” katanya dengan penuh ketegasan.

Oleh karena itu, ia mendorong agar seluruh masyarakat, terutama generasi muda, tak hanya bangga dengan budaya Dayak, tapi juga aktif melestarikannya lewat berbagai cara — mulai dari ikut kegiatan adat, belajar bahasa daerah, hingga menggunakan media sosial untuk memperkenalkan budaya ke dunia.

Apresiasi atas Perubahan Positif: Infrastruktur Meningkat, Semangat Bertambah

Kehadiran Krisantus juga menjadi momen untuk melihat langsung perkembangan fasilitas di lokasi acara. Salah satu yang mendapat sorotan adalah perbaikan halaman Rumah Betang Tampun Juah, yang kini sudah rapi dan disemen.

“Saya ingat dulu kalau pakai sepatu putih ke sini pasti kotor karena becek. Tapi sekarang sudah dibeton, ini menunjukkan bahwa panitia dan masyarakat punya komitmen untuk membuat Gawai Dayak semakin baik setiap tahun,” ucapnya sambil tersenyum puas.

Perbaikan ini tak hanya mempermudah pelaksanaan acara, tapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan keinginan bersama untuk memajukan budaya Dayak secara menyeluruh.

Komitmen Pemprov Kalbar: Budaya Dayak Harus Mendunia

Tak berhenti di acara lokal, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen untuk terus mendorong agar Gawai Dayak bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Krisantus mengatakan, pelestarian budaya bukan hanya tugas satu kelompok, tapi tanggung jawab semua pihak.

Sebagai bentuk dukungan nyata, ia pun menyerahkan bantuan secara simbolis kepada panitia PGD Sintang ke-12 yang diterima langsung oleh Ketua Panitia. Bantuan ini diharapkan bisa mendorong semangat panitia dan masyarakat dalam menggelar kegiatan budaya yang lebih meriah dan bermutu di tahun-tahun mendatang.

Menjaga Budaya Adalah Menjaga Masa Depan

Dalam suasana penuh kearifan lokal dan semangat persaudaraan, pesan yang dibawa Wakil Gubernur Kalbar terasa sangat kuat: budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tapi fondasi masa depan. Apa jadinya kita jika kehilangan akar dan identitas? Karena itu, menjaga budaya adalah investasi untuk generasi yang akan datang.

Acara Gawai Dayak ke-12 di Sintang ini bukan hanya perayaan, tapi juga bentuk cinta yang tulus kepada tradisi, nilai, dan warisan luhur yang tak ternilai harganya. Semoga semangat ini terus menyala di hati masyarakat Kalimantan Barat dan Indonesia pada umumnya.