Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Budaya Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Dayak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2026

Gawai Naik Dango Bengkayang Dinilai Penting Jaga Identitas Budaya Dayak

Sebastianus Darwis mendorong pelestarian Gawai Dayak Naik Dango di Bengkayang sebagai upaya menjaga identitas budaya Dayak di tengah arus modernisasi. (FOTO ILUSTRASI)
Sebastianus Darwis mendorong pelestarian Gawai Dayak Naik Dango di Bengkayang sebagai upaya menjaga identitas budaya Dayak di tengah arus modernisasi. (FOTO ILUSTRASI)

BENGKAYANG - Perayaan Gawai Dayak Naik Dango kembali menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Momentum budaya tahunan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pesta adat pascapanen, tetapi juga dinilai sebagai upaya mempertahankan identitas budaya Dayak di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menegaskan pelestarian budaya daerah harus terus dijaga agar nilai tradisi leluhur tidak hilang seiring perkembangan zaman. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Gawai Dayak Naik Dango ke-3 tingkat Kecamatan Monterado, Kamis.

Sebastianus Darwis menyebut Gawai Naik Dango menjadi bagian penting dalam pemajuan kebudayaan daerah. Tradisi tersebut juga dianggap selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menurut Sebastianus Darwis, keberadaan budaya lokal memiliki peran besar dalam menjaga karakter masyarakat adat sekaligus memperkuat identitas bangsa yang berakar pada tradisi.

Selain menjadi ungkapan syukur atas hasil panen padi, Gawai Dayak Naik Dango juga dinilai mampu mempererat hubungan sosial masyarakat lintas etnis di Bengkayang. Pelaksanaan acara adat itu melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda hingga pemerintah daerah.

Sebastianus Darwis turut mengapresiasi pihak-pihak yang selama ini aktif menjaga keberlangsungan tradisi Dayak melalui kegiatan budaya rutin di Bengkayang.

Pemerintah Kabupaten Bengkayang juga disebut terus memperluas ruang pelestarian budaya melalui berbagai agenda adat yang masuk Kalender Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2026.

Beberapa agenda budaya yang telah dijadwalkan antara lain Nyabak Nitik Majaka Pade Bahu pada 22 Maret, Maka’ Ka’ Pongkot pada 5 April, Barape’ Sawa’ di Ramin Bantang pada 27 hingga 30 Mei, serta Nyabakng Sungkung pada 24 hingga 25 Juni.

Sebastianus Darwis menilai rangkaian kegiatan budaya tersebut tidak sekadar seremoni tahunan. Agenda adat itu diharapkan menjadi sarana memperkuat kebersamaan masyarakat multietnis sekaligus mengangkat kearifan lokal Bengkayang ke tingkat yang lebih luas.

Melalui pelestarian budaya daerah, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap tradisi Dayak tetap diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan budaya luar.

Sebastianus Darwis juga menyampaikan harapan agar Gawai Dayak Naik Dango tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat adat dan terus dilaksanakan secara berkelanjutan hingga generasi mendatang.

FAQ

Apa Itu Gawai Dayak Naik Dango?

Gawai Dayak Naik Dango merupakan tradisi adat masyarakat Dayak sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Di Mana Gawai Dayak Naik Dango Digelar?

Perayaan tersebut digelar di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, termasuk tingkat kecamatan seperti Monterado.

Mengapa Gawai Dayak Penting Dilestarikan?

Tradisi ini dinilai penting untuk menjaga identitas budaya Dayak, memperkuat nilai adat, dan mempertahankan kearifan lokal di tengah modernisasi.

Apa Saja Agenda Budaya Bengkayang Tahun 2026?

Beberapa agenda budaya yang masuk kalender kebudayaan 2026 antara lain Nyabak Nitik Majaka Pade Bahu, Maka’ Ka’ Pongkot, Barape’ Sawa’, dan Nyabakng Sungkung.

Siapa Yang Mendorong Pelestarian Budaya Dayak Di Bengkayang?

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menjadi salah satu tokoh yang aktif mendorong pelestarian budaya Dayak melalui agenda budaya daerah.

Selasa, 21 April 2026

Pemprov Kalbar Siapkan Pengembangan Situs Raja Mawikng, Fokus Pelestarian Budaya Dayak

Pemprov Kalbar menyiapkan pengembangan Situs Raja Mawikng di Landak pada 2027 sebagai cagar budaya, dengan fokus pelestarian budaya Dayak dan perbaikan infrastruktur.
Pemprov Kalbar menyiapkan pengembangan Situs Raja Mawikng di Landak pada 2027 sebagai cagar budaya, dengan fokus pelestarian budaya Dayak dan perbaikan infrastruktur.

Landak, Kalbar - Kunjungan kerja Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, ke situs keramat Raja Mawikng di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Dayak sekaligus kelestarian hutan adat.

Dalam agenda tersebut, pemerintah menyoroti pentingnya perlindungan situs budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat lokal. Kawasan Raja Mawikng dinilai memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat bagi komunitas Dayak, sehingga perlu dirawat bersama oleh pemerintah dan masyarakat.

Menurut Krisantus, situs keramat bukan sekadar lokasi ritual adat, melainkan simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pelestarian situs budaya merupakan langkah strategis untuk mempertahankan identitas daerah di tengah perkembangan zaman. Terlebih, kawasan hutan adat di sekitar situs juga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem Kalimantan Barat.

Rencana Anggaran Pengembangan Tahun 2027

Sebagai bentuk komitmen konkret, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat merencanakan alokasi anggaran pada tahun 2027 untuk pengembangan kawasan situs Raja Mawikng menjadi cagar budaya.

Pengembangan tersebut meliputi penyediaan fasilitas pendukung bagi kegiatan keagamaan dan adat, seperti area khusus untuk berdoa dan pelaksanaan ritual tradisional. Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki akses menuju lokasi melalui pembangunan jalan dan jembatan yang lebih layak.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat yang berkunjung, tanpa mengurangi nilai keaslian lingkungan sekitar.

Pemerintah memastikan bahwa setiap pembangunan tetap mempertahankan karakter alami kawasan hutan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai budaya situs tersebut.

Peran Generasi Muda Dalam Menjaga Warisan Leluhur

Dalam kesempatan itu, Krisantus juga mengajak generasi muda Dayak untuk aktif menjaga warisan leluhur, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi.

Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung pelestarian budaya, bukan justru menggerus nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menilai bahwa hilangnya situs budaya dan tradisi adat berpotensi melemahkan identitas masyarakat lokal. Karena itu, keterlibatan generasi muda sangat penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi dan lingkungan.

Dorong Kesadaran Pelestarian Lingkungan

Pemerintah daerah berharap rencana penetapan situs Raja Mawikng sebagai cagar budaya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap tradisi lokal.

Upaya ini tidak hanya bertujuan menjaga nilai budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan kawasan hutan adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan generasi muda, pelestarian situs budaya diharapkan dapat berjalan berkelanjutan serta memberi manfaat bagi generasi mendatang.

FAQ

1. Apa itu situs Raja Mawikng?
Situs Raja Mawikng merupakan kawasan keramat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi masyarakat Dayak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

2. Mengapa situs Raja Mawikng penting dilestarikan?
Karena situs ini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak serta memiliki fungsi spiritual dan ekologis.

3. Kapan pengembangan situs Raja Mawikng direncanakan?
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menargetkan pengembangan kawasan dimulai pada tahun 2027.

4. Apa saja rencana pengembangan kawasan tersebut?
Pengembangan meliputi fasilitas ritual adat, area berdoa, serta perbaikan jalan dan jembatan menuju lokasi.

5. Apa tujuan penetapan situs sebagai cagar budaya?
Untuk melindungi nilai sejarah, budaya, dan lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian tradisi.

Minggu, 19 April 2026

Festival Daren Kanderang Tingang Jadi Ajang Pelestarian Budaya Barito Selatan

Festival Daren Kanderang Tingang di Barito Selatan menjadi wadah pelestarian budaya dan penguatan UMKM lokal, khususnya kerajinan anyaman rotan dan purun di Dusun Hilir.
Festival Daren Kanderang Tingang di Barito Selatan menjadi wadah pelestarian budaya dan penguatan UMKM lokal, khususnya kerajinan anyaman rotan dan purun di Dusun Hilir.

Barito Selatan — Pemerintah Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya daerah melalui penyelenggaraan Festival Daren Kanderang Tingang (FDKT) yang digelar di Kelurahan Mangkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Sabtu.

Festival ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan menjadi wadah penting dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Barito Selatan, Eko Hermansyah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna strategis dalam menjaga identitas daerah.

“Kegiatan ini bukan hanya agenda seremonial, akan tetapi bentuk nyata pelestarian identitas daerah,” ujar Eko Hermansyah saat membuka kegiatan di Kelurahan Mangkatip.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia serta masyarakat Kecamatan Dusun Hilir yang terus menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya warisan leluhur.

Menurut Eko, Kecamatan Dusun Hilir memiliki potensi budaya dan ekonomi yang besar dan perlu dipromosikan secara berkelanjutan agar dikenal lebih luas oleh masyarakat luar daerah.

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah pameran hasil kerajinan anyaman tradisional berbahan rotan dan purun yang telah lama menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi komoditas unggulan daerah.

“Produk kerajinan ini punya nilai estetika tinggi dan peluang pasar yang luas jika dikelola dengan baik,” jelasnya.

Kerajinan anyaman rotan dan purun selama ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Dusun Hilir, baik sebagai kebutuhan rumah tangga maupun produk bernilai ekonomi.

Pemerintah Kabupaten Barito Selatan menilai bahwa warisan budaya seperti anyaman tradisional perlu terus didorong agar berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Langkah ini diharapkan mampu membawa UMKM lokal naik kelas, dari sekadar produksi skala rumah tangga menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar regional bahkan nasional.

Selain itu, pengembangan sektor budaya juga dinilai mampu berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat jika dilakukan secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Peran Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya

Selain aspek ekonomi, keterlibatan generasi muda menjadi perhatian penting dalam festival ini.

Pemerintah daerah menekankan bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Eko Hermansyah mengajak generasi muda untuk memanfaatkan festival sebagai ruang belajar sekaligus ruang berkarya.

“Jadikan festival ini sebagai ruang belajar dan ruang berkarya. Budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita membawa jati diri tersebut menuju masa depan,” pesannya.

Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda diharapkan semakin mengenal teknik kerajinan tradisional, mencintai seni budaya daerah, serta bangga menggunakan produk lokal sebagai bagian dari identitas daerah.

Pemerintah Kabupaten Barito Selatan berharap Festival Daren Kanderang Tingang dapat terus digelar secara rutin sebagai agenda tahunan daerah.

Tidak hanya sebagai sarana pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, serta pelaku UMKM, festival ini diyakini dapat menjadi daya tarik budaya sekaligus peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Barito Selatan.

FAQ

1. Apa itu Festival Daren Kanderang Tingang (FDKT)?
Festival Daren Kanderang Tingang adalah kegiatan budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Barito Selatan untuk melestarikan budaya lokal sekaligus mendukung pengembangan UMKM.

2. Di mana festival ini dilaksanakan?
Festival dilaksanakan di Kelurahan Mangkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

3. Apa tujuan utama festival ini?
Tujuan utama festival adalah melestarikan budaya lokal, mempromosikan kerajinan tradisional, serta meningkatkan ekonomi masyarakat melalui UMKM.

4. Produk apa yang menjadi unggulan dalam festival?
Produk unggulan yang ditampilkan adalah kerajinan anyaman tradisional berbahan rotan dan purun.

5. Mengapa generasi muda dilibatkan dalam festival ini?
Generasi muda dilibatkan agar mereka memahami budaya lokal, menjaga tradisi, serta ikut mengembangkan produk budaya di masa depan.

Selasa, 24 Maret 2026

Pesta Adat Lom Plai 2026 Di Kaltim, Tradisi Dayak Wehea Tetap Eksis

Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.
Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.

KUTAI TIMUR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal. Salah satunya lewat penyelenggaraan Pesta Adat Lom Plai 2026 yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.

Acara ini bukan sekadar seremoni biasa. Lebih dari itu, Lom Plai jadi simbol kuat bagaimana masyarakat Dayak Wehea tetap menjaga identitas budaya mereka di tengah gempuran modernisasi.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa tradisi ini punya makna mendalam bagi masyarakat setempat.

“Pesta adat Lom Plai bukan hanya bentuk rasa syukur atas hasil panen, tapi juga bukti nyata keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga budaya,” ujarnya saat dikonfirmasi di Samarinda, Senin.

Yang bikin makin menarik, rangkaian acara Lom Plai 2026 ini juga masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Artinya, event ini punya daya tarik nasional bahkan berpotensi mendunia.

Rangkaian Ritual Sarat Makna

Tradisi Lom Plai dimulai sejak 23 Maret lewat prosesi sakral Ngesea Egung atau pemukulan gong sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian acara.

Setelah itu, masyarakat adat menjalankan ritual Laq Pesyai dengan berjalan bersama menuju hulu Sungai Wehea. Tujuannya? Mengambil hasil hutan seperti buah dan rotan yang nantinya dipakai dalam upacara adat.

Ritual berlanjut dengan Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, yang jadi simbol penegasan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

Keunikan budaya Dayak Wehea juga terlihat dalam ritual Ngelwung Pan. Di sini, perempuan adat menjalankan prosesi spiritual tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Masuk bulan April, suasana makin terasa. Warga mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai lewat tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menuju puncak acara.

Puncak Acara Penuh Atraksi Budaya

Momen paling ditunggu tentu saja Bob Jengea atau puncak perayaan. Di sini, berbagai atraksi budaya ditampilkan, mulai dari pawai adat, tarian Hudoq, hingga aksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal dengan Seksiang.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai pada 29 April 2026. Ritual ini dipercaya sebagai proses pembersihan kampung dari hal-hal buruk sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.

Ririn berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adat terus terjaga agar tradisi ini tetap lestari.

“Kami ingin tradisi ini terus hidup sebagai warisan budaya bangsa,” katanya.

Potensi Besar Wisata Budaya

Dengan masuknya Lom Plai ke dalam KEN 2026, peluang untuk menarik wisatawan semakin besar. Event ini bukan cuma soal budaya, tapi juga jadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan lokal Kalimantan Timur ke dunia luar.

Buat kamu yang suka wisata budaya, Lom Plai jelas jadi salah satu event yang wajib masuk wishlist tahun ini.

FAQ

1. Apa itu Pesta Adat Lom Plai?
Pesta adat tahunan masyarakat Dayak Wehea sebagai bentuk syukur panen sekaligus pelestarian budaya.

2. Di mana Lom Plai 2026 digelar?
Di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

3. Kapan puncak acara Lom Plai 2026?
Berlangsung hingga puncaknya di bulan April 2026, dengan penutupan pada 29 April.

4. Apa saja daya tarik utama Lom Plai?
Ritual adat, tarian Hudoq, pawai budaya, dan atraksi perang di sungai (Seksiang).

5. Apakah Lom Plai masuk event nasional?
Ya, termasuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Senin, 02 Februari 2026

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau

Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau
Anak SD Berani Tampil Menari Adat Dayak, Bukti Cinta Budaya Sejak Dini di Sekadau.

SEKADAU -- Kegembiraan terlihat jelas ketika Tim Sekolah Adat Sekadau tiba di salah satu desa di Kabupaten Sekadau pada 14 April lalu. Bukan sekadar menyambut tamu, anak-anak sekolah dasar di sana tampil dengan penuh percaya diri, menari tarian adat Dayak sebagai bentuk kebanggaan dan penghormatan terhadap warisan budaya mereka.

Momen ini begitu istimewa karena seluruh penampil adalah anak-anak SD yang aktif mengikuti kegiatan Sekolah Adat. Meski masih kecil, mereka berani berdiri di depan tamu dan masyarakat, membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya Dayak bisa tumbuh sejak usia dini.

Salah satu penari cilik, Adek Nia, berbagi rasa senangnya. “Saya senang bisa menari adat. Ini budaya kita, orang Dayak, dan saya ingin terus belajar supaya tidak hilang,” ujarnya sambil tersenyum ceria.

Dena, peserta lainnya, menambahkan, “Belajar budaya lokal membuat saya lebih percaya diri. Kami diajar menari dan mendengar cerita adat. Bangga rasanya jadi orang Dayak, pemilik Borneo!”

Keberanian mereka tampil di depan umum tak lepas dari dukungan para pendamping. Ipa, salah satu murid Sekolah Adat, menuturkan, “Kakak-kakak di Sekolah Adat selalu bilang jangan malu dengan budaya sendiri. Makanya kami berani tampil.”

Tak kalah penting, peran Florentina Dessi, penggerak Sekolah Adat, sangat dirasakan anak-anak. Dengan bimbingan sabar dan metode belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya belajar seni tari, tetapi juga memahami nilai jati diri sebagai masyarakat adat Dayak.

Kunjungan Tim Sekolah Adat Sekadau menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Ini adalah ruang belajar bersama sekaligus penguat semangat pelestarian budaya lokal. Penampilan anak-anak yang berani menari adat menjadi simbol bahwa budaya Dayak masih hidup dan terus diwariskan ke generasi penerus.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Adat Sekadau diharapkan terus menjadi tempat tumbuhnya rasa bangga, keberanian, dan cinta budaya bagi anak-anak Dayak—pemilik tanah Borneo yang kaya akan warisan leluhur.

Jumat, 18 Juli 2025

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman

Warisan Tak Ternilai: Wagub Kalbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak di Tengah Gempuran Zaman
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.

Sintang – Budaya adalah jati diri, dan jati diri tak boleh hilang begitu saja. Itulah pesan mendalam yang disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, saat menghadiri Pekan Gawai Dayak (PGD) Sintang ke-12 yang berlangsung meriah di Rumah Betang Tampun Juah, Desa Jerora Satu, pada Rabu, 16 Juli 2025.

Dengan penuh rasa syukur, Krisantus menyampaikan bahwa bisa hadir di tengah masyarakat adat Dayak merupakan sebuah berkah yang luar biasa. Baginya, acara budaya seperti ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk menyatukan hati dan kembali mengenang akar budaya yang diwariskan para leluhur.

“Kita patut bersyukur masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk berkumpul di acara penuh makna ini. Gawai Dayak bukan hanya hiburan, tapi bentuk syukur atas karir, kesehatan, dan seluruh berkat yang telah kita terima selama satu tahun terakhir,” ujarnya dengan semangat.

Gawai Dayak: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Wujud Syukur dan Identitas

Gawai Dayak, yang rutin diselenggarakan setiap tahun, adalah salah satu acara budaya terbesar yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Dalam acara ini, masyarakat adat Dayak tak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Wakil Gubernur Kalbar menegaskan bahwa gawai memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar makan minum atau musik tradisional.

“Gawai Dayak adalah bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur. Ini bukan acara seremonial biasa, tapi warisan spiritual yang punya nilai tinggi bagi masyarakat Dayak,” tegas Krisantus.

Tantangan Budaya di Era Modern: Tetap Eksis di Tengah Arus Teknologi

Satu hal yang jadi perhatian serius adalah bagaimana budaya lokal bisa tetap eksis di tengah kemajuan zaman. Di era digital dan globalisasi seperti sekarang, sangat mudah bagi budaya tradisional tergeser oleh budaya luar. Krisantus mengingatkan, jika kita lengah, budaya bisa hilang dan hanya menjadi cerita.

“Kalau kita tidak jaga budaya kita sendiri, lama-lama bisa punah. Budaya adalah identitas, dan identitas adalah harga diri. Kalau kita kehilangan itu, kita kehilangan segalanya,” katanya dengan penuh ketegasan.

Oleh karena itu, ia mendorong agar seluruh masyarakat, terutama generasi muda, tak hanya bangga dengan budaya Dayak, tapi juga aktif melestarikannya lewat berbagai cara — mulai dari ikut kegiatan adat, belajar bahasa daerah, hingga menggunakan media sosial untuk memperkenalkan budaya ke dunia.

Apresiasi atas Perubahan Positif: Infrastruktur Meningkat, Semangat Bertambah

Kehadiran Krisantus juga menjadi momen untuk melihat langsung perkembangan fasilitas di lokasi acara. Salah satu yang mendapat sorotan adalah perbaikan halaman Rumah Betang Tampun Juah, yang kini sudah rapi dan disemen.

“Saya ingat dulu kalau pakai sepatu putih ke sini pasti kotor karena becek. Tapi sekarang sudah dibeton, ini menunjukkan bahwa panitia dan masyarakat punya komitmen untuk membuat Gawai Dayak semakin baik setiap tahun,” ucapnya sambil tersenyum puas.

Perbaikan ini tak hanya mempermudah pelaksanaan acara, tapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan keinginan bersama untuk memajukan budaya Dayak secara menyeluruh.

Komitmen Pemprov Kalbar: Budaya Dayak Harus Mendunia

Tak berhenti di acara lokal, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen untuk terus mendorong agar Gawai Dayak bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Krisantus mengatakan, pelestarian budaya bukan hanya tugas satu kelompok, tapi tanggung jawab semua pihak.

Sebagai bentuk dukungan nyata, ia pun menyerahkan bantuan secara simbolis kepada panitia PGD Sintang ke-12 yang diterima langsung oleh Ketua Panitia. Bantuan ini diharapkan bisa mendorong semangat panitia dan masyarakat dalam menggelar kegiatan budaya yang lebih meriah dan bermutu di tahun-tahun mendatang.

Menjaga Budaya Adalah Menjaga Masa Depan

Dalam suasana penuh kearifan lokal dan semangat persaudaraan, pesan yang dibawa Wakil Gubernur Kalbar terasa sangat kuat: budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tapi fondasi masa depan. Apa jadinya kita jika kehilangan akar dan identitas? Karena itu, menjaga budaya adalah investasi untuk generasi yang akan datang.

Acara Gawai Dayak ke-12 di Sintang ini bukan hanya perayaan, tapi juga bentuk cinta yang tulus kepada tradisi, nilai, dan warisan luhur yang tak ternilai harganya. Semoga semangat ini terus menyala di hati masyarakat Kalimantan Barat dan Indonesia pada umumnya.