Berita BorneoTribun: Ekonomi Nasional hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2025

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah
Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai menunjukkan tanda perlambatan. Berdasarkan hasil survei BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2025 tercatat sebesar 115.

Angka ini memang masih berada di atas batas optimistis (skor 100), namun mengalami penurunan dari posisi Agustus yang mencapai 117,2. Bahkan, capaian September ini menjadi yang terendah sejak April 2022, menandakan bahwa masyarakat mulai berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi ke depan.

Secara sederhana, IKK mencerminkan seberapa percaya diri konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan ke depan. Ketika indeks berada di atas 100, artinya konsumen masih optimis. Namun jika di bawah 100, berarti masyarakat mulai pesimis.

Kondisi Ekonomi Saat Ini Mulai Dirasakan Berat

Dari data Bank Indonesia, Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 102,7 pada September, turun dari 105,1 pada Agustus. Angka ini menggambarkan penurunan persepsi masyarakat terhadap situasi ekonomi yang sedang mereka rasakan, baik dari sisi penghasilan maupun peluang kerja.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap ekonomi enam bulan mendatang juga menurun, dari 129,2 pada Agustus menjadi 127,2 di September. Meski masih cukup tinggi, tren penurunan ini menunjukkan mulai munculnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi jangka pendek.

Komponen Pendukung Turun, Lapangan Kerja Jadi Sorotan

Jika dilihat dari komponen pembentuk IKE, yakni Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG), dan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), ketiganya mengalami penurunan pada September.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja menjadi perhatian utama karena turun ke zona pesimistis, yaitu di angka 92, melemah dari 93,2 pada Agustus. Artinya, masyarakat mulai merasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mempertahankan pekerjaan yang ada.

Menariknya, pesimisme ini paling tinggi terjadi di kalangan masyarakat berpendidikan SMA dan Akademi/Diploma. Berdasarkan survei, indeks keyakinan terhadap lapangan kerja bagi kelompok pendidikan SMA berada di 86,4 dan bagi lulusan Diploma di 99,5.

Sementara dua komponen lainnya, IPSI dan IPDG, masih menunjukkan optimisme meski juga menurun. Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat di 112,9, turun dari 116,9 pada bulan sebelumnya. Sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama berada di 103,2, sedikit melemah dari Agustus yang sebesar 105,1.

Apa Artinya Bagi Ekonomi dan Konsumen?

Turunnya IKK menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kemungkinan mulai tertahan. Ketika konsumen merasa tidak yakin dengan kondisi ekonomi atau ketersediaan pekerjaan, mereka cenderung menunda pembelian barang-barang non-esensial seperti elektronik, kendaraan, atau perabot rumah tangga.

Kondisi ini bisa berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun, BI menilai bahwa secara umum kepercayaan masyarakat masih berada di level optimistis karena skor IKK masih jauh di atas 100. Meski begitu, pemerintah perlu mewaspadai tren pelemahan ini agar tidak berlanjut pada kuartal berikutnya.

Langkah-langkah seperti menjaga stabilitas harga pangan, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat dapat menjadi kunci untuk menjaga optimisme konsumen tetap terjaga.

Secara keseluruhan, survei Bank Indonesia pada September 2025 mencerminkan bahwa masyarakat masih optimis terhadap ekonomi Indonesia, namun dengan kewaspadaan yang meningkat. Penurunan IKK dari 117,2 ke 115 menjadi sinyal agar pemerintah dan pelaku usaha lebih fokus menjaga kestabilan ekonomi dan lapangan kerja.

Kehati-hatian konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi kenaikan harga pangan menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi domestik dalam beberapa bulan ke depan.

Jika kepercayaan masyarakat bisa dijaga melalui kebijakan yang tepat sasaran, optimisme ekonomi diperkirakan bisa pulih kembali di akhir tahun.

Survei Celios: Masyarakat Lebih Pilih Beasiswa daripada Program Makan Bergizi Gratis

Survei Celios: Masyarakat Lebih Pilih Beasiswa daripada Program Makan Bergizi Gratis
Survei Celios: Masyarakat Lebih Pilih Beasiswa daripada Program Makan Bergizi Gratis. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Hasil survei terbaru dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan temuan menarik tentang preferensi masyarakat terhadap program bantuan pemerintah. Mayoritas responden menilai bahwa bantuan berupa beasiswa pendidikan jauh lebih dibutuhkan dibandingkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan pemerintah.

Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menjelaskan bahwa survei ini melibatkan lima opsi bantuan yang ditawarkan kepada masyarakat. Kelima opsi tersebut meliputi cash transfer (bantuan tunai), beasiswa pendidikan, bantuan kesenangan anak, bantuan kebutuhan pendidikan, dan MBG. Dari hasil survei tersebut, program MBG justru menempati posisi terakhir dalam tingkat pilihan masyarakat.

Menurut Media, para orang tua lebih memilih bantuan tunai dan beasiswa karena dianggap lebih fleksibel dan berdampak langsung pada kebutuhan keluarga maupun pendidikan anak. Sementara itu, program MBG dianggap memiliki manfaat yang lebih kecil dan tidak selalu tepat sasaran.

Nilai Manfaat MBG Jauh Lebih Rendah

Media menambahkan, jika program MBG diganti dengan bantuan tunai atau cash transfer, penerima manfaat sebenarnya bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih besar. Dalam simulasi Celios, masyarakat dapat memperoleh Rp50.000 per hari jika program MBG dialihkan ke bentuk bantuan tunai. Angka ini setara dengan lima kali lipat dari nilai manfaat MBG yang saat ini hanya sekitar Rp10.000 per porsi.

Ia juga menyoroti bahwa pemberian bantuan dalam bentuk uang tunai memungkinkan masyarakat untuk menentukan sendiri prioritas kebutuhan mereka. Misalnya, sebagian orang tua bisa mengalokasikan dana tersebut untuk membeli kebutuhan pendidikan anak, transportasi ke sekolah, atau bahkan menambah gizi keluarga secara mandiri.

Potensi Dampak terhadap Anggaran Pendidikan

Namun, Celios juga mengingatkan adanya potensi trade-off atau pertukaran kebijakan yang bisa muncul akibat pelaksanaan program MBG. Menurut Media, sebagian dana yang digunakan untuk mendanai MBG ternyata bersumber dari pos anggaran pendidikan nasional.

Kondisi ini mulai menimbulkan efek domino terhadap lembaga pendidikan. Beberapa kampus di Indonesia diketahui telah mengurangi alokasi beasiswa bagi mahasiswa, bahkan dalam beberapa kasus, pengurangannya mencapai hingga 50 persen.

Media menilai hal ini cukup mengkhawatirkan karena beasiswa merupakan salah satu instrumen penting dalam mendorong pemerataan akses pendidikan. Jika dana pendidikan dialihkan terlalu banyak ke program MBG, dikhawatirkan akan menurunkan kesempatan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Beasiswa Lebih Berdampak Langsung

Dalam konteks ekonomi dan sosial, beasiswa dinilai memberikan dampak jangka panjang yang lebih kuat. Dengan pendidikan yang lebih baik, penerima beasiswa memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup, memperoleh pekerjaan layak, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, manfaat program MBG cenderung bersifat jangka pendek dan belum tentu menyelesaikan masalah gizi secara berkelanjutan. Menurut beberapa pengamat, efektivitas MBG juga bergantung pada kualitas makanan yang diberikan serta pengawasan di lapangan.

Perlu Evaluasi Program Bantuan

Melihat hasil survei ini, Celios mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program bantuan sosial yang berjalan. Tujuannya agar kebijakan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang optimal.

Program beasiswa, bantuan pendidikan, dan bantuan tunai tetap menjadi prioritas utama masyarakat karena lebih mudah disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing keluarga.

Jika pemerintah ingin tetap melanjutkan program MBG, Media menyarankan agar alokasi anggaran tidak mengorbankan sektor pendidikan. Pemerintah perlu mencari sumber pendanaan tambahan atau skema kerja sama dengan pihak swasta agar program gizi tetap berjalan tanpa menekan anggaran beasiswa.

Survei Celios ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk meninjau ulang efektivitas program Makan Bergizi Gratis. Masyarakat kini berharap agar kebijakan bantuan sosial lebih diarahkan pada program yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar dan mendukung masa depan pendidikan generasi muda Indonesia.

Selasa, 05 Agustus 2025

Kredit Konsumsi dan KPR Melemah, Sinyal Waspada dari Daya Beli Masyarakat

Grafik pertumbuhan kredit konsumsi dan KPR Indonesia periode Maret hingga Juni 2025
Grafik pertumbuhan kredit konsumsi dan KPR Indonesia periode Maret hingga Juni 2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan kredit konsumsi dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus melemah hingga pertengahan 2025. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit konsumsi tercatat tumbuh 8,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2025, melambat dibandingkan 9,2% pada Maret lalu. 

Tak hanya konsumsi, sektor properti juga ikut tertekan. Pertumbuhan KPR menurun tajam dari 8,9% di Maret menjadi hanya 7,7% di bulan Juni. 

Angka ini menunjukkan kehati-hatian konsumen dalam membelanjakan uang mereka.

BI menyebutkan, perlambatan ini terjadi karena tekanan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. 

Selain itu, ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan juga cenderung hati-hati. 

“Konsumen cenderung menunda belanja besar, termasuk untuk hunian, karena masih mencermati arah inflasi dan suku bunga,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulis, Senin (4/8/2025).

Sejumlah analis menilai pelemahan ini bisa menjadi indikator awal perlambatan ekonomi secara menyeluruh, terutama jika tren penurunan kredit konsumsi berlanjut di kuartal III. 

Di sisi lain, perbankan juga menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit, mengikuti pengetatan likuiditas global serta kebijakan makroprudensial yang lebih berhati-hati.

Dampaknya, sektor properti dan industri ritel berpotensi mengalami penurunan penjualan dalam beberapa bulan ke depan. 

Bila tidak segera diantisipasi, perlambatan ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Pemerintah dan BI diperkirakan akan mengkaji insentif lanjutan untuk menjaga daya beli dan memacu pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini.

Senin, 04 Agustus 2025

Riduan Resmi Jadi Dirut Bank Mandiri Gantikan Darmawan, Ini Susunan Lengkap Direksi Baru

Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri yang baru, resmi menggantikan Darmawan Junaidi pada RUPSLB 4 Agustus 2025
Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri yang baru, resmi menggantikan Darmawan Junaidi pada RUPSLB 4 Agustus 2025.

JAKARTA - Riduan resmi diangkat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri menggantikan Darmawan Junaidi dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, di Jakarta. Pengangkatan ini sekaligus merombak struktur jajaran direksi dan dewan komisaris Bank Mandiri, termasuk menunjuk Henry Panjaitan sebagai Wakil Direktur Utama yang baru.

Dikutip dari laman resmi Bank Mandiri, Riduan bukanlah sosok baru di dunia perbankan nasional. Pria kelahiran Palembang, 5 November 1970 ini, menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi Akuntansi dan Magister Manajemen di Universitas Sriwijaya. Ia telah bergabung di Bank Mandiri sejak tahun 1999 dan malang melintang di berbagai posisi strategis. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wadirut melalui hasil RUPST 25 Maret 2025.

Selama kariernya, Riduan pernah menduduki posisi sebagai Direktur Keuangan dan Investasi di PT Askes (Persero) dan BPJS Kesehatan pada 2013–2016, serta menjabat sebagai Komisaris PT Mandiri Sekuritas sejak 2018. Ia juga pernah dipercaya sebagai Direktur Commercial Banking (2019–2024) dan Direktur Corporate Banking pada awal 2024 sebelum dipromosikan menjadi Wadirut.

Perubahan susunan direksi dan komisaris ini diklaim sebagai bagian dari strategi penguatan kepemimpinan untuk mendukung transformasi bisnis Bank Mandiri ke depan. “Langkah ini dilakukan guna memperkuat tata kelola dan mempercepat implementasi transformasi digital serta ekspansi bisnis di sektor strategis nasional,” demikian pernyataan tertulis dari pihak Bank Mandiri.

Berikut susunan lengkap jajaran Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mandiri hasil RUPSLB 4 Agustus 2025:

Dewan Komisaris Bank Mandiri:

  • Komisaris Utama/Independen: Kuswiyoto

  • Wakil Komisaris Utama/Independen: Zainudin Amali

  • Komisaris: Muhammad Yusuf Ateh

  • Komisaris: Luky Alfirman

  • Komisaris: Yuliot

  • Komisaris Independen: Mia Amiati

  • Komisaris Independen: Zulkifli Zaini

Direksi Bank Mandiri:

  • Direktur Utama: Riduan

  • Wakil Direktur Utama: Henry Panjaitan

  • Direktur Operations: Timothy Utama

  • Direktur Information Technology: Sunarto Xie

  • Direktur Human Capital & Compliance: Eka Fitria

  • Direktur Risk Management: Danis Subyantoro

  • Direktur Commercial Banking: Totok Priyambodo

  • Direktur Corporate Banking: M. Rizaldi

  • Direktur Consumer Banking: Saptari

  • Direktur Network & Retail Funding: Jan Winston Tambunan

  • Direktur Treasury & International Banking: Ari Rizaldi

  • Direktur Finance & Strategy: Novita Widya Anggraini

Dengan komposisi baru ini, Bank Mandiri diharapkan mampu memperkuat posisi sebagai bank nasional yang adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk mempercepat adopsi teknologi dan inklusi keuangan di seluruh Indonesia. 

Di bawah kepemimpinan Riduan, Bank Mandiri disebut-sebut akan mendorong percepatan transformasi layanan berbasis digital serta memperluas ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor produktif.