![]() |
| Survei Celios: Masyarakat Lebih Pilih Beasiswa daripada Program Makan Bergizi Gratis. (Gambar ilustrasi) |
JAKARTA - Hasil survei terbaru dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan temuan menarik tentang preferensi masyarakat terhadap program bantuan pemerintah. Mayoritas responden menilai bahwa bantuan berupa beasiswa pendidikan jauh lebih dibutuhkan dibandingkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan pemerintah.
Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menjelaskan bahwa survei ini melibatkan lima opsi bantuan yang ditawarkan kepada masyarakat. Kelima opsi tersebut meliputi cash transfer (bantuan tunai), beasiswa pendidikan, bantuan kesenangan anak, bantuan kebutuhan pendidikan, dan MBG. Dari hasil survei tersebut, program MBG justru menempati posisi terakhir dalam tingkat pilihan masyarakat.
Menurut Media, para orang tua lebih memilih bantuan tunai dan beasiswa karena dianggap lebih fleksibel dan berdampak langsung pada kebutuhan keluarga maupun pendidikan anak. Sementara itu, program MBG dianggap memiliki manfaat yang lebih kecil dan tidak selalu tepat sasaran.
Nilai Manfaat MBG Jauh Lebih Rendah
Media menambahkan, jika program MBG diganti dengan bantuan tunai atau cash transfer, penerima manfaat sebenarnya bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih besar. Dalam simulasi Celios, masyarakat dapat memperoleh Rp50.000 per hari jika program MBG dialihkan ke bentuk bantuan tunai. Angka ini setara dengan lima kali lipat dari nilai manfaat MBG yang saat ini hanya sekitar Rp10.000 per porsi.
Ia juga menyoroti bahwa pemberian bantuan dalam bentuk uang tunai memungkinkan masyarakat untuk menentukan sendiri prioritas kebutuhan mereka. Misalnya, sebagian orang tua bisa mengalokasikan dana tersebut untuk membeli kebutuhan pendidikan anak, transportasi ke sekolah, atau bahkan menambah gizi keluarga secara mandiri.
Potensi Dampak terhadap Anggaran Pendidikan
Namun, Celios juga mengingatkan adanya potensi trade-off atau pertukaran kebijakan yang bisa muncul akibat pelaksanaan program MBG. Menurut Media, sebagian dana yang digunakan untuk mendanai MBG ternyata bersumber dari pos anggaran pendidikan nasional.
Kondisi ini mulai menimbulkan efek domino terhadap lembaga pendidikan. Beberapa kampus di Indonesia diketahui telah mengurangi alokasi beasiswa bagi mahasiswa, bahkan dalam beberapa kasus, pengurangannya mencapai hingga 50 persen.
Media menilai hal ini cukup mengkhawatirkan karena beasiswa merupakan salah satu instrumen penting dalam mendorong pemerataan akses pendidikan. Jika dana pendidikan dialihkan terlalu banyak ke program MBG, dikhawatirkan akan menurunkan kesempatan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Beasiswa Lebih Berdampak Langsung
Dalam konteks ekonomi dan sosial, beasiswa dinilai memberikan dampak jangka panjang yang lebih kuat. Dengan pendidikan yang lebih baik, penerima beasiswa memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup, memperoleh pekerjaan layak, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, manfaat program MBG cenderung bersifat jangka pendek dan belum tentu menyelesaikan masalah gizi secara berkelanjutan. Menurut beberapa pengamat, efektivitas MBG juga bergantung pada kualitas makanan yang diberikan serta pengawasan di lapangan.
Perlu Evaluasi Program Bantuan
Melihat hasil survei ini, Celios mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program bantuan sosial yang berjalan. Tujuannya agar kebijakan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak yang optimal.
Program beasiswa, bantuan pendidikan, dan bantuan tunai tetap menjadi prioritas utama masyarakat karena lebih mudah disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing keluarga.
Jika pemerintah ingin tetap melanjutkan program MBG, Media menyarankan agar alokasi anggaran tidak mengorbankan sektor pendidikan. Pemerintah perlu mencari sumber pendanaan tambahan atau skema kerja sama dengan pihak swasta agar program gizi tetap berjalan tanpa menekan anggaran beasiswa.
Survei Celios ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk meninjau ulang efektivitas program Makan Bergizi Gratis. Masyarakat kini berharap agar kebijakan bantuan sosial lebih diarahkan pada program yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar dan mendukung masa depan pendidikan generasi muda Indonesia.
