Berita BorneoTribun: Greenland hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Greenland. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Greenland. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2026

Ketegangan Memanas! Denmark Kirim Pasukan Tambahan ke Greenland, Trump Picu Krisis Baru NATO

Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA
Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA

Denmark - Situasi geopolitik di kawasan Arktik kembali memanas. Denmark dilaporkan mengirim pasukan tambahan ke Greenland di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, menyusul pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang kembali menyinggung keinginannya untuk menguasai wilayah tersebut.

Mengutip laporan media Denmark, pasukan tambahan dari Angkatan Darat Kerajaan Denmark mendarat di Kangerlussuaq, Greenland bagian barat, pada Senin malam waktu setempat. Kepala Angkatan Darat Denmark, Peter Boysen, ikut serta dalam pengiriman ini bersama puluhan personel militer sebagai bagian dari kontribusi besar Denmark untuk menjaga keamanan wilayah Arktik.

Sekitar 58 tentara baru tiba dan bergabung dengan kurang lebih 60 personel lain yang sebelumnya sudah berada di Greenland. Mereka terlibat dalam latihan militer multinasional bertajuk Operation Arctic Endurance, sebuah latihan rutin yang kini menjadi sorotan karena situasi politik yang memanas.

Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA
Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Pertahanan Denmark maupun Angkatan Bersenjata Denmark belum memberikan pernyataan resmi terkait pengiriman pasukan tersebut.

Langkah Denmark ini terjadi hanya beberapa jam setelah Donald Trump menolak memberikan jawaban tegas saat ditanya kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Dalam wawancara dengan media AS, Trump hanya menjawab singkat, “no comment”, yang justru memicu spekulasi dan kekhawatiran global.

Sebelumnya, Trump juga dikabarkan mengirim pesan kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre, menyatakan bahwa dirinya tidak lagi merasa perlu “berpikir semata-mata tentang perdamaian” setelah gagal meraih Nobel Perdamaian tahun ini. Pernyataan ini semakin memperkeruh suasana.

Di sisi lain, Denmark menegaskan sikapnya. Pemerintah Kopenhagen menyatakan terbuka terhadap peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Greenland, namun menolak keras gagasan penjualan wilayah tersebut. Denmark bahkan menilai bahwa upaya pengambilalihan Greenland secara paksa bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan NATO.

Desakan Trump agar Greenland berada di bawah kendali AS disebut-sebut telah membawa hubungan Amerika Serikat dan Eropa ke titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Kekhawatiran akan retaknya NATO pun menguat, mengingat aliansi ini mengusung prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, turut turun tangan. Ia menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt untuk membahas penguatan keamanan Arktik, termasuk wacana pembentukan misi bersama NATO di Greenland.

Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA
Sejumlah besar tentara tempur Denmark diperkirakan akan tiba di Kangerlussuaq, lokasi bandara internasional utama Greenland, pada Senin malam, menurut stasiun televisi Denmark TV2. | Mads Claus Rasmussen/EPA

Dalam pernyataannya, Rutte menegaskan pentingnya kawasan Arktik bagi keamanan bersama negara-negara NATO. Ia juga menyoroti peningkatan investasi pertahanan yang dilakukan Denmark di wilayah tersebut.

“Kami akan terus bekerja sama sebagai sekutu untuk menjaga keamanan bersama,” ujar Rutte.

Troels Lund Poulsen pun menekankan pentingnya persatuan. Ia mengapresiasi dukungan negara-negara sekutu terhadap Denmark dan Greenland di tengah tekanan politik yang meningkat.

Tak hanya soal militer, ketegangan ini juga merembet ke sektor ekonomi. Ancaman Trump untuk mengenakan tarif perdagangan terhadap Denmark dan sejumlah negara Eropa lainnya memicu kekhawatiran akan perang dagang lintas Atlantik. Uni Eropa bahkan dijadwalkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas kemungkinan langkah balasan, termasuk penggunaan mekanisme anti-pemaksaan perdagangan yang dijuluki “trade bazooka”.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa kedaulatan Denmark dan Greenland harus dihormati sepenuhnya. Ia menyebut hal ini sebagai prinsip penting dalam menjaga hubungan transatlantik yang sehat.

Menariknya, suara rakyat Greenland sendiri cukup jelas. Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar 85 persen warga Greenland menolak bergabung dengan Amerika Serikat. Hanya sebagian kecil, sekitar 6 persen, yang mendukung gagasan tersebut.

Dengan situasi yang terus berkembang, dunia kini menyoroti Greenland bukan hanya sebagai wilayah kaya sumber daya, tetapi juga sebagai titik krusial dalam peta politik dan keamanan global.

@borneotribun.com Ancaman Trump Bikin Geger Denmark Kirim Puluhan Tentara ke Greenland Jaga Wilayah Strategis Situasi geopolitik di kawasan Arktik kembali memanas. Denmark dilaporkan mengirim pasukan tambahan ke Greenland di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, menyusul pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang kembali menyinggung keinginannya untuk menguasai wilayah tersebut. Mengutip laporan media Denmark, pasukan tambahan dari Angkatan Darat Kerajaan Denmark mendarat di Kangerlussuaq, Greenland bagian barat, pada Senin malam waktu setempat. Kepala Angkatan Darat Denmark, Peter Boysen, ikut serta dalam pengiriman ini bersama puluhan personel militer sebagai bagian dari kontribusi besar Denmark untuk menjaga keamanan wilayah Arktik. Sekitar 58 tentara baru tiba dan bergabung dengan kurang lebih 60 personel lain yang sebelumnya sudah berada di Greenland. Mereka terlibat dalam latihan militer multinasional bertajuk Operation Arctic Endurance, sebuah latihan rutin yang kini menjadi sorotan karena situasi politik yang memanas. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Pertahanan Denmark maupun Angkatan Bersenjata Denmark belum memberikan pernyataan resmi terkait pengiriman pasukan tersebut. Kunjungi & Ikuti: https://www.borneotribun.com/ https://www.youtube.com/@borneotribun https://www.instagram.com/borneotribun https://www.tiktok.com/@borneotribun.com https://www.threads.com/@borneotribun https://x.com/borneotribun https://id.pinterest.com/borneotribun/ #geopolitik #greenland #nato #donaldtrump #beritainternasional ♬ suara asli - Borneotribun

Senin, 19 Januari 2026

Eropa Murka dan Bersatu, Ancaman Trump soal Greenland Picu Ketegangan Serius dengan AS

Eropa Murka dan Bersatu, Ancaman Trump soal Greenland Picu Ketegangan Serius dengan AS
Eropa Murka dan Bersatu, Ancaman Trump soal Greenland Picu Ketegangan Serius dengan AS.

JAKARTA - Eropa jarang berbicara dengan satu suara. Namun kali ini berbeda. Benua Biru tampak kompak dan bergerak cepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terkait Greenland, wilayah otonomi milik Denmark.

Situasi memanas sejak Trump mengumumkan rencana sanksi dan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang menolak klaim Amerika Serikat atas Greenland. Pernyataan itu langsung mengundang reaksi keras, apalagi muncul di tengah aksi protes besar di ibu kota Greenland, Nuuk. Sekitar seperempat penduduk kota itu turun ke jalan menolak kemungkinan aneksasi.

Tak butuh waktu lama, para duta besar Uni Eropa menggelar pertemuan darurat di Brussel pada Minggu. Banyak pemimpin Eropa menilai langkah Trump bukan sekadar ancaman ekonomi, tapi juga berpotensi merusak fondasi aliansi transatlantik yang selama ini dibangun bersama.

Presiden Prancis Emmanuel Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Presiden Prancis Emmanuel Macron berada di barisan terdepan. Ia menegaskan bahwa ancaman tarif tersebut tidak bisa diterima. Macron menyebut Eropa tidak akan gentar oleh intimidasi apa pun, baik terkait Ukraina, Greenland, maupun isu global lainnya. Menurutnya, jika ancaman itu benar-benar direalisasikan, Eropa akan merespons secara bersatu demi menjaga kedaulatan kawasan.

Nada serupa datang dari Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menilai penerapan tarif terhadap sesama sekutu NATO sebagai langkah yang keliru. Baginya, menghukum negara sahabat justru melemahkan upaya keamanan kolektif.

Italia pun ikut bersuara. Perdana Menteri Giorgia Meloni, yang selama ini dikenal memiliki hubungan cukup baik dengan Trump, secara terbuka menyebut kebijakan tersebut sebagai sebuah kesalahan. Ia mengaku sudah berbicara langsung dengan Trump dan menegaskan ketidaksetujuannya terhadap ide pemberian tarif pada negara-negara yang turut berkontribusi menjaga keamanan Greenland.

Solidaritas Eropa makin terlihat ketika delapan negara, termasuk Inggris, Jerman, dan Prancis, merilis pernyataan bersama. Mereka menilai ancaman tarif hanya akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu spiral konflik yang berbahaya.

Di sisi lain, Trump berdalih bahwa penguasaan Greenland diperlukan Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman China dan Rusia di kawasan Arktik. Ia juga mengaitkannya dengan rencana sistem pertahanan rudal yang disebut Golden Dome untuk melindungi Amerika Utara.

Namun para ahli menilai alasan itu lemah. Amerika Serikat sebenarnya tidak perlu memiliki Greenland untuk membangun sistem pertahanan di sana. Sejak 1951, sudah ada perjanjian yang memberi hak bagi AS untuk membangun fasilitas pertahanan di pulau tersebut. Salah satu contohnya adalah Pangkalan Antariksa Pituffik yang berfokus pada peringatan dini rudal dan pengawasan luar angkasa.

Banyak politisi Eropa khawatir langkah sepihak Trump justru menguntungkan Rusia dan China. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut kedua negara itu akan diuntungkan jika sekutu Barat terpecah. Pandangan senada disampaikan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. Ia memperingatkan bahwa tindakan militer AS terhadap Greenland bisa merusak NATO dan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin “tersenyum paling lebar”.

Sanchez bahkan menyebut, jika Amerika Serikat menggunakan kekuatan, itu bisa menjadi akhir dari NATO. Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola juga mengingatkan bahwa kebijakan semacam ini tidak akan meningkatkan keamanan Arktik, justru sebaliknya, bisa menyemangati musuh bersama.

Dampaknya tak berhenti di isu geopolitik. Ancaman tarif ini juga membayangi kesepakatan dagang AS-Uni Eropa yang disepakati tahun lalu. Ketua fraksi terbesar di Parlemen Eropa, Manfred Weber, menegaskan bahwa dengan situasi seperti ini, persetujuan kesepakatan tersebut sulit dilakukan.

Sebetulnya, Eropa sudah sering terkejut oleh retorika keras Gedung Putih di era Trump. Namun banyak pihak menilai periode kepemimpinan Trump kali ini jauh lebih tajam dan konfrontatif, bahkan sejak pidato para pejabatnya yang menyinggung Eropa soal demokrasi, imigrasi, hingga identitas nasional.

Intinya, hubungan transatlantik kini tak lagi dianggap krusial oleh Gedung Putih seperti sebelumnya. Tantangan terbesar bagi Eropa bukan hanya bersuara keras, tetapi membangun kemandirian pertahanan dan keamanan, sesuatu yang butuh waktu panjang.

Sejarah pun kembali diingat. Mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill pernah berkata, ada satu hal yang lebih buruk daripada berperang bersama sekutu, yaitu berperang tanpa mereka. Kalimat lama itu kini terasa relevan di tengah retaknya kepercayaan antara Eropa dan Amerika Serikat.

@borneotribun.com Eropa Murka dan Bersatu Ancaman Trump Soal Greenland Picu Krisis Besar dengan Amerika Eropa jarang berbicara dengan satu suara. Namun kali ini berbeda. Benua Biru tampak kompak dan bergerak cepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terkait Greenland, wilayah otonomi milik Denmark. Situasi memanas sejak Trump mengumumkan rencana sanksi dan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang menolak klaim Amerika Serikat atas Greenland. Pernyataan itu langsung mengundang reaksi keras, apalagi muncul di tengah aksi protes besar di ibu kota Greenland, Nuuk. Sekitar seperempat penduduk kota itu turun ke jalan menolak kemungkinan aneksasi. Tak butuh waktu lama, para duta besar Uni Eropa menggelar pertemuan darurat di Brussel pada Minggu. Banyak pemimpin Eropa menilai langkah Trump bukan sekadar ancaman ekonomi, tapi juga berpotensi merusak fondasi aliansi transatlantik yang selama ini dibangun bersama. Editor: Heri Yakop Kunjungi & Ikuti: https://www.borneotribun.com/ https://www.youtube.com/@borneotribun https://www.instagram.com/borneotribun https://www.tiktok.com/@borneotribun.com https://www.threads.com/@borneotribun https://x.com/borneotribun https://id.pinterest.com/borneotribun/ #eropabersatu #greenland #donaldtrump #politikglobal #geopolitik ♬ suara asli - Borneotribun

Minggu, 11 Januari 2026

Trump Kembali Panaskan Dunia, Muncul Isu Rencana Serbu Greenland Demi Keamanan AS

Trump Kembali Panaskan Dunia, Muncul Isu Rencana Serbu Greenland Demi Keamanan AS

Isu mengejutkan kembali datang dari Donald Trump. Presiden Amerika Serikat itu dikabarkan meminta petinggi pasukan khusus AS menyusun skenario ekstrem terkait kemungkinan pengambilalihan Greenland. Kabar ini langsung menyita perhatian dunia internasional.

Menurut sumber di Washington, tim Trump disebut semakin gelisah melihat posisi strategis Greenland yang dinilai rawan direbut oleh Rusia atau China. Kekhawatiran ini muncul setelah operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang diklaim sebagai keberhasilan besar kekuatan militer Amerika Serikat.

Tekanan Internal dari Kelompok Garis Keras

Di lingkaran dalam Trump, sejumlah tokoh berhaluan keras disebut terus mendorong langkah cepat. Salah satu nama yang paling vokal adalah Stephen Miller, penasihat politik yang dikenal agresif dalam isu keamanan nasional.

Mereka mendesak agar Amerika Serikat segera mengamankan Greenland sebelum negara lain melangkah lebih dulu. Padahal, Greenland merupakan wilayah otonom milik Denmark dan bagian dari kawasan NATO.

Militer AS Disebut Menolak Rencana Ekstrem

Militer AS Disebut Menolak Rencana Ekstrem

Sumber internal menyebut Trump meminta Joint Special Operations Command untuk menyiapkan rencana operasi. Namun, para petinggi militer di lapangan dikabarkan menolak ide tersebut.

Alasannya cukup jelas. Operasi militer ke Greenland dinilai ilegal, berisiko tinggi, dan hampir pasti ditentang oleh Kongres Amerika Serikat. Para jenderal bahkan disebut mencoba mengalihkan perhatian Trump ke opsi lain yang dianggap lebih aman, seperti pengawasan kapal bayangan Rusia atau tekanan terhadap Iran.

Dugaan Manuver Politik Jelang Pemilu

Sejumlah diplomat Eropa menilai pernyataan Trump soal Greenland bisa jadi bukan murni soal keamanan. Ada dugaan kuat isu ini sengaja dimunculkan untuk mengalihkan perhatian publik Amerika dari masalah ekonomi menjelang pemilu paruh waktu.

Washington disebut sudah melakukan simulasi yang mereka sebut sebagai skenario eskalasi, yaitu situasi di mana tekanan militer atau politik digunakan untuk memisahkan Greenland dari Denmark.

Hasil simulasi tersebut bahkan disebut mengarah pada skenario terburuk, yakni runtuhnya NATO dari dalam.

NATO Terancam Pecah

NATO Terancam Pecah

Seorang sumber diplomatik menyebut beberapa pejabat Eropa curiga bahwa tujuan akhir kelompok garis keras di sekitar Trump adalah melemahkan NATO.

Karena Trump tidak bisa keluar dari NATO tanpa persetujuan Kongres, penguasaan Greenland dinilai bisa memicu konflik internal yang membuat negara-negara Eropa memilih meninggalkan aliansi tersebut.

Ada juga skenario kompromi, di mana Denmark tetap berdaulat, tetapi memberikan akses militer penuh kepada Amerika Serikat dan menutup pintu bagi Rusia serta China. Meski AS sudah memiliki akses militer di Greenland, kesepakatan ini akan memperkuatnya secara hukum.

Penolakan Tegas dari Denmark dan Greenland

Penolakan Tegas dari Denmark dan Greenland

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, sudah memperingatkan bahwa langkah militer Amerika ke Greenland bisa menandai berakhirnya NATO.

Sementara itu, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, dengan tegas menolak wacana tersebut. Dalam pernyataan bersama para pemimpin lokal, ia menegaskan bahwa masa depan Greenland hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

Ia juga menanggapi pernyataan Trump yang menyebut bisa mengambil Greenland dengan cara mudah atau sulit.

“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika. Kami juga tidak ingin menjadi orang Denmark. Kami ingin tetap menjadi orang Greenland,” tegas Nielsen.

Trump Bersikukuh Soal Keamanan Nasional

Trump Bersikukuh Soal Keamanan Nasional

Trump sendiri terus menekankan bahwa Greenland adalah prioritas keamanan nasional bagi Amerika Serikat. Ia berulang kali menyebut jika AS tidak bertindak, Rusia atau China akan lebih dulu menguasai pulau strategis tersebut.

Trump bahkan menyatakan siap bertindak apa pun bentuknya demi memastikan Amerika tidak memiliki “tetangga baru” dari negara rival.

“Saya lebih suka membuat kesepakatan dengan cara mudah. Tapi jika itu tidak bisa dilakukan, maka kami akan melakukannya dengan cara sulit,” ujar Trump dalam pernyataan terbarunya.

Dunia Menunggu Langkah Selanjutnya

Dunia Menunggu Langkah Selanjutnya

Hingga kini, belum ada keputusan resmi. Namun, para pejabat Eropa disebut khawatir waktu terus menipis. Beberapa analis memperkirakan titik krusial bisa terjadi menjelang pertemuan NATO pada awal Juli.

Apakah ini hanya manuver politik atau benar-benar rencana serius, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Trump dan dampaknya bagi stabilitas global.

Trump Tegas Ingin Ambil Greenland: Ancaman “Cara Mudah atau Sulit” Jadi Sorotan Dunia

Trump Tegas Ingin Ambil Greenland: Ancaman “Cara Mudah atau Sulit” Jadi Sorotan Dunia

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengejutkan dunia dengan pernyataannya soal Greenland pada Jumat lalu. Ia menegaskan, jika AS tidak bisa mendapatkan wilayah ini dengan “cara mudah”, maka pihaknya akan menempuh “cara sulit”.

Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, “Kami akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak, karena jika kami tidak bertindak, Rusia atau China bisa mengambil alih. Kami tidak mau Rusia atau China jadi tetangga dekat kami.”

Pernyataan ini memicu reaksi keras dari pemimpin politik Greenland. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin partai, termasuk oposisi, menegaskan: “Kami tidak ingin menjadi Amerika, kami tidak ingin menjadi Denmark. Kami ingin tetap menjadi orang Greenland. Masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.”

Mengapa Greenland Penting bagi Trump?

Greenland, pulau besar di wilayah Arktik, dihuni lebih dari 56.000 orang dan merupakan wilayah otonom Denmark. Trump menekankan bahwa langkah ini dianggap perlu untuk mencegah Rusia atau China mengambil alih Greenland di masa depan.

“Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara mudah, tapi jika tidak bisa, kami akan menempuh cara sulit. Omong-omong, saya juga penggemar Denmark. Mereka sangat baik kepada saya, saya harus akui,” ujar Trump.

Belakangan muncul laporan bahwa AS bahkan mempertimbangkan memberi kompensasi uang kepada warga Greenland agar bersedia bergabung dengan AS. Namun Trump menolak membahas soal itu lebih lanjut: “Saya belum bicara soal uang untuk Greenland.”

Warga Greenland sendiri sudah menolak keras ide ini. Simon Kjeldskov, warga ibukota Nuuk, menyatakan kepada Reuters: “Tidak, terima kasih. Kami jelas tidak ingin itu.” Sementara Juno Michaelsen menambahkan: “Berapapun jumlah uangnya, kami tetap akan mengatakan tidak. Ini milik kami, hanya kami yang berhak.”

Reaksi Pemerintah Denmark dan NATO

Diplomat top Denmark dan Greenland yang berbasis di Washington telah bertemu pejabat Gedung Putih pada Kamis. Denmark diwakili Duta Besar Jesper Møller Sørensen, sementara Greenland diwakili Jacob Isbosethsen. Pertemuan ini membahas ancaman Trump soal kemungkinan pengambilalihan wilayah.

Para pemimpin Greenland, termasuk Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen, kembali menegaskan penolakan mereka. Mereka juga berencana mempercepat pertemuan parlemen Greenland, Inatsisartut, untuk merespons ancaman dari pemerintah AS. Parlemen terakhir bertemu November lalu dan dijadwalkan kembali pada 3 Februari mendatang.

Sementara itu, para pemimpin Eropa memperingatkan konsekuensi serius jika AS nekat mengambil Greenland dengan paksa. Dalam pernyataan bersama, pemimpin dari Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Polandia, dan Spanyol menekankan: “Greenland milik rakyat Greenland.”

Langkah Trump ini menyoroti pentingnya Greenland dari sisi strategis, khususnya posisi geografisnya di Arktik, sekaligus menunjukkan ketegangan geopolitik global yang semakin meningkat.