Petani Kotim Didorong Terapkan Budi Daya Adaptif Antisipasi Musim Kemarau
![]() |
| DPKP Kotim mengintensifkan teknik budi daya adaptif untuk menghadapi wilayah rawan kekeringan dan menjaga produktivitas pertanian petani di musim kemarau. |
SAMPIT — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus memperkuat langkah antisipasi terhadap wilayah rawan kekeringan dengan menerapkan teknik budi daya adaptif bagi para petani.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kotim, Yulita, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada petani terkait metode pertanian adaptif, baik untuk tanaman padi maupun palawija.
“Metode ini sudah kami sosialisasikan kepada petani, baik untuk tanaman padi maupun palawija agar mereka siap menghadapi kondisi kekeringan,” kata Yulita di Sampit, Selasa.
Teknik Budi Daya Adaptif Jadi Andalan Hadapi Perubahan Iklim
Menurut Yulita, teknik budi daya adaptif merupakan strategi pengelolaan pertanian yang disesuaikan secara fleksibel untuk mengantisipasi risiko perubahan iklim, seperti kekeringan, banjir, hingga serangan hama penyakit.
Metode ini mencakup sektor pertanian secara luas, termasuk tanaman pangan, perkebunan, hingga hortikultura.
Dalam praktiknya, petani dianjurkan menggunakan varietas tanaman yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan, seperti:
Padi Inpago 8
Jagung Bisi 18
Cabai Rawit Dewata 43
Varietas tersebut dinilai lebih cocok untuk lahan kering tanpa genangan air, sehingga risiko gagal panen bisa ditekan.
Mulsa dan Pengaturan Jarak Tanam Jadi Solusi Praktis
Selain penggunaan varietas unggul, petani juga didorong menerapkan pengaturan jarak tanam yang lebih renggang dan melakukan pengolahan tanah minimum.
Tujuannya adalah menjaga kelembaban tanah selama musim kemarau.
Teknik lain yang dinilai efektif adalah penggunaan mulsa dari bahan alami seperti jerami atau daun kering.
“Petani juga didorong menggunakan mulsa dari jerami atau daun kering guna mengurangi penguapan air serta menjaga kelembaban tanah,” jelas Yulita.
Teknik sederhana ini terbukti mampu mempertahankan ketersediaan air di lahan pertanian dalam kondisi minim hujan.
Penyesuaian Jadwal Tanam Berdasarkan Data BMKG
Penentuan jadwal tanam juga menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau.
Secara umum, terdapat tiga periode musim tanam yang menjadi acuan petani, yakni:
Oktober–Januari
Februari–Maret
Juni–September (musim kemarau)
Penentuan waktu tanam tersebut mengacu pada Kalender Tanam Terpadu (Katam) yang berbasis data dari BMKG.
Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.
Pada periode tersebut, petani disarankan menanam palawija atau melakukan tumpang sari, sementara tanaman padi dapat diistirahatkan jika kondisi lahan terlalu kering.
Teknologi Sederhana Hingga Hidroponik Jadi Alternatif
Selain teknik konvensional, DPKP Kotim juga mendorong penggunaan teknologi sederhana hingga metode hidroponik untuk tanaman hortikultura.
Metode hidroponik dinilai menjadi solusi alternatif ketika ketersediaan air di lahan semakin terbatas.
Yulita menegaskan bahwa ancaman kekeringan bukan hanya soal air, tetapi juga kesiapan teknologi dan kemampuan petani dalam beradaptasi.
“Antisipasi kekeringan tidak hanya soal ketersediaan air, tetapi juga bagaimana kita bijaksana menerapkan teknologi dan metode yang ada,” tegasnya.
Dua Kecamatan Di Kotim Masuk Wilayah Rawan Kekeringan
Berdasarkan hasil pemetaan wilayah pangan rawan kekeringan, terdapat dua kecamatan di Kotim yang menjadi perhatian utama, yaitu:
Kecamatan Teluk Sampit
Luas sawah: 8.565 hektare
Potensi produksi: 36.615 ton gabah kering panen (GKP)
Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Luas sawah: 765 hektare
Potensi produksi: 2.827 ton GKP
Selain dua wilayah tersebut, kawasan Pulau Hanaut dan beberapa kecamatan lainnya juga memiliki potensi terdampak kekeringan, meskipun dalam skala yang berbeda.
Komitmen DPKP Kotim Jaga Ketahanan Pangan
DPKP Kotim memastikan berbagai langkah antisipasi akan terus dilakukan secara maksimal, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pendampingan petani di lapangan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah dalam lima tahun ke depan.
“Selain ikhtiar yang kita lakukan, kita juga berharap musim kemarau tidak berlangsung panjang sehingga tidak menyebabkan gagal panen,” tutup Yulita.
FAQ
1. Apa itu teknik budi daya adaptif?
Teknik budi daya adaptif adalah metode pertanian yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan, seperti kekeringan atau banjir, agar tanaman tetap produktif.
2. Tanaman apa saja yang tahan terhadap kekeringan?
Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain padi Inpago 8, jagung Bisi 18, dan cabai rawit Dewata 43.
3. Kapan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi?
Menurut prakiraan BMKG, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus.
4. Wilayah mana saja yang rawan kekeringan di Kotim?
Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan risiko kekeringan tertinggi.
5. Apa solusi sederhana yang bisa dilakukan petani saat kemarau?
Penggunaan mulsa dari jerami, pengaturan jarak tanam, serta pemilihan varietas tahan kering menjadi solusi yang efektif.

















