Berita BorneoTribun: Lahan Gambut hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Lahan Gambut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lahan Gambut. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2026

90 Kasus Karhutla Jadi Alarm, Penajam Siapkan Strategi Hadapi Kemarau

Penajam siaga hadapi kemarau 2026. BPBD petakan 128 titik rawan karhutla dan siapkan langkah antisipasi kebakaran hutan serta kekeringan.
Penajam siaga hadapi kemarau 2026. BPBD petakan 128 titik rawan karhutla dan siapkan langkah antisipasi kebakaran hutan serta kekeringan. (Gambar ilustrasi)

Penajam, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada April 2026, dengan puncaknya terjadi pada Agustus mendatang.

Langkah antisipatif ini dilakukan menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan karakteristik gambut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Nurlaila, menegaskan bahwa kondisi musim kemarau membuat lingkungan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.

“Saat musim kemarau hutan, lahan dan permukiman mudah terbakar, terutama lahan gambut yang sangat sensitif terhadap api,” ujarnya, Rabu.

Kesiapan Personel Dan Peralatan Diperkuat

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah daerah memastikan kesiapan maksimal, baik dari sisi personel maupun peralatan.

BPBD telah menyiapkan langkah strategis untuk:

  • Penanganan kebakaran hutan dan lahan

  • Antisipasi kebakaran permukiman warga

  • Penanganan dampak kekeringan, termasuk kekurangan air bersih

Langkah ini dinilai penting mengingat tren kebakaran yang masih cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Data Karhutla Jadi Alarm Serius

Berdasarkan data BPBD, sepanjang 2023 hingga 2025 tercatat:

  • 90 kasus karhutla

  • Total luas terbakar mencapai 208,35 hektare

Angka ini menjadi indikator kuat bahwa potensi kebakaran di wilayah PPU masih cukup tinggi dan perlu diantisipasi sejak dini.

128 Titik Rawan Sudah Dipetakan

Pemerintah daerah juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan kebakaran.

Total terdapat:

  • 128 titik rawan karhutla

    • 78 lokasi di Kecamatan Penajam

    • 50 lokasi di Kecamatan Waru, Babulu, dan Sepaku

Selain itu, terdapat sekitar:

  • 1.400 hektare lahan gambut
    yang tersebar di kawasan pesisir, terutama di Kecamatan Penajam, serta sebagian di Waru dan Babulu.

Lahan gambut dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi karena mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Imbauan Tegas Untuk Masyarakat

Pemerintah mengingatkan masyarakat agar lebih waspada selama musim kemarau, khususnya dalam aktivitas pembukaan lahan.

Warga diminta untuk:

  • Tidak membuka lahan dengan cara dibakar

  • Segera melaporkan jika terjadi kebakaran di sekitar lingkungan

Langkah cepat dari masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah api meluas dan menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Kemarau Basah Tetap Berisiko

Meski BMKG memprediksi adanya kecenderungan “kemarau basah”, pemerintah tetap menegaskan bahwa risiko karhutla tidak bisa dianggap remeh.

Kombinasi suhu panas, angin kering, dan kondisi lahan tetap berpotensi memicu kebakaran jika tidak diantisipasi dengan baik.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Kapan musim kemarau 2026 dimulai?
Diprediksi mulai April 2026 dan mencapai puncak pada Agustus 2026.

2. Apa yang dimaksud kemarau basah?
Kemarau dengan curah hujan masih terjadi, namun tetap memiliki potensi kekeringan dan kebakaran.

3. Mengapa lahan gambut berbahaya saat kemarau?
Karena mudah terbakar dan api bisa menyebar di bawah permukaan tanah.

4. Berapa jumlah titik rawan karhutla di PPU?
Sebanyak 128 titik yang sudah dipetakan pemerintah.

5. Apa yang harus dilakukan masyarakat saat terjadi kebakaran?
Segera melapor ke pihak berwenang agar penanganan cepat dilakukan.

Sabtu, 28 Maret 2026

Api Hanguskan Lahan Warga Di Kotim, BPBD Lakukan Pendinginan 6 Jam

BPBD Kotim berhasil memadamkan kebakaran lahan di Mentawa Baru Ketapang seluas 0,95 hektare. Warga diimbau waspada karhutla saat musim kering.
BPBD Kotim berhasil memadamkan kebakaran lahan di Mentawa Baru Ketapang seluas 0,95 hektare. Warga diimbau waspada karhutla saat musim kering.

PALANGKARAYA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat langsung bergerak cepat melakukan penanganan di lokasi kejadian.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan kebakaran terjadi di lahan perkebunan milik warga bernama Muhajirin yang berada di Desa Bangkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

“Lahan yang terbakar kurang lebih tiga hektare. Namun pemilik lahan tidak mengetahui adanya kebakaran tersebut,” ujarnya di Sampit, Jumat.

Api Muncul Sejak Rabu Sore

Kebakaran diketahui mulai terjadi sejak Rabu sore (25/3). Tim gabungan langsung turun ke lapangan untuk melakukan pemadaman hingga malam hari, dan dilanjutkan kembali keesokan harinya.

Sebanyak 10 personel BPBD Kotim diterjunkan, dibantu 7 personel Manggala Agni. Akses menuju lokasi cukup menantang, karena tim harus melewati jalur darat sepanjang 4,2 kilometer dari Jalan Poros Sampit–Samuda melalui Desa Eka Bahurui.

Lahan Gambut Jadi Tantangan Pemadaman

Kondisi lahan yang terbakar berupa semak belukar di atas tanah gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Api pada lahan gambut dikenal sulit dipadamkan karena bisa merambat hingga ke dalam tanah.

Proses pemadaman hingga pendinginan berlangsung cukup lama, yakni lebih dari enam jam, mulai pukul 10.00 WIB hingga 16.11 WIB.

“Total lahan yang berhasil dipadamkan sekitar 0,95 hektare. Saat ini kami fokus melakukan pendinginan karena masih ada sisa asap,” jelas Multazam.

Kebakaran Juga Terjadi Di Lokasi Lain

Sehari sebelumnya, kebakaran lahan juga dilaporkan terjadi di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang. Hal ini menunjukkan potensi karhutla di wilayah Kotim mulai meningkat.

BPBD Imbau Warga Tidak Bakar Lahan

Melihat kondisi cuaca yang mulai kering dan intensitas hujan yang menurun, BPBD Kotim mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Langkah pencegahan ini dinilai sangat penting mengingat sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau.

“Kalau sudah terbakar, apinya bisa masuk ke dalam tanah dan sulit dipadamkan. Jadi pencegahan jauh lebih efektif,” tegas Multazam.

Ia berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap lingkungan agar kejadian serupa tidak terus berulang, sekaligus mencegah munculnya kabut asap yang berdampak pada kesehatan.

FAQ

1. Di mana lokasi kebakaran lahan di Kotim terjadi?

Kebakaran terjadi di Desa Bangkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

2. Berapa luas lahan yang terbakar?

Total lahan yang terdampak sekitar 0,95 hektare yang berhasil dipadamkan.

3. Apa penyebab kebakaran lahan tersebut?

Penyebab pasti belum diketahui, bahkan pemilik lahan tidak menyadari adanya kebakaran.

4. Kenapa lahan gambut mudah terbakar?

Karena saat kering, gambut mudah menyala dan api bisa merambat hingga ke bawah permukaan tanah.

5. Apa imbauan BPBD kepada masyarakat?

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara dibakar untuk mencegah karhutla.

Jumat, 27 Maret 2026

Hadapi Kemarau 2026, BPBD Kalbar Intensifkan Pembasahan Lahan

BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)
BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)

Pontianak – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang musim kemarau 2026 dengan mengintensifkan program pembasahan lahan, khususnya di wilayah gambut yang rawan terbakar.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan langkah ini menjadi strategi utama dalam menjaga kondisi lahan tetap lembap agar potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini.

“Pembasahan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi lahan gambut tetap lembap dalam skala luas, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini,” ujarnya di Pontianak, Jumat.

Fokus Wilayah Rawan Karhutla

Program pembasahan difokuskan pada daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, terutama lahan gambut yang mudah mengering saat musim kemarau. Upaya ini dinilai krusial untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi meluas.

Menurut Daniel, pembasahan lahan merupakan bagian dari strategi terpadu BPBD Kalbar dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain pembasahan, BPBD Kalbar juga meningkatkan patroli darat dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia serta instansi terkait lainnya.

Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan langkah pencegahan berjalan optimal di lapangan dan respons cepat bisa dilakukan jika ditemukan potensi kebakaran.

Tantangan Ketersediaan Air

Meski demikian, program pembasahan tidak lepas dari kendala, terutama keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD Kalbar membuka peluang mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana, termasuk opsi penggunaan teknologi modifikasi cuaca jika dibutuhkan.

Pantau Cuaca Secara Berkala

BPBD Kalbar juga terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

Selain kesiapan teknis, edukasi kepada masyarakat juga digencarkan agar kesadaran terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.

Upaya Minimalkan Dampak Karhutla

Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, BPBD Kalbar berharap program pembasahan lahan mampu menjadi langkah efektif dalam menekan risiko karhutla serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu program pembasahan lahan?
Program pembasahan lahan adalah upaya menjaga kelembapan tanah, khususnya gambut, agar tidak mudah terbakar saat musim kemarau.

2. Kenapa lahan gambut rawan terbakar?
Karena mudah kering dan mengandung material organik yang sangat mudah terbakar saat suhu tinggi.

3. Apa kendala utama program ini?
Keterbatasan sumber air di beberapa wilayah rawan karhutla.

4. Apa solusi yang disiapkan BPBD Kalbar?
Mengajukan bantuan ke BNPB dan mempertimbangkan teknologi modifikasi cuaca.

5. Bagaimana peran masyarakat?
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan ikut menjaga lingkungan.

Rabu, 04 Februari 2026

🔥 Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara

Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara
Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara.

SINGKAWANG -- Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Singkawang Selatan terus dikebut. Api yang melanda kawasan Jalan Bandara, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tercatat telah menghanguskan lahan seluas kurang lebih lima hektare dan masih menyisakan titik-titik api yang berpotensi meluas.

Tim gabungan dari berbagai instansi turun langsung ke lapangan sejak beberapa hari terakhir. Fokus pemadaman dilakukan di dua lokasi utama, yakni Kelurahan Sedau dan Kelurahan Pangmilang. Dari hasil pemantauan di lapangan, sekitar dua hektare lahan terbakar di Sedau, sementara tiga hektare lainnya berada di Pangmilang.

Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin, menyampaikan bahwa tim masih berjibaku di lapangan demi memastikan api benar-benar bisa dikendalikan.

“Kami terus melakukan pemadaman agar karhutla di kawasan Jalan Bandara Singkawang ini segera tertangani dan tidak meluas,” ujar Yuyu saat ditemui di Singkawang, Selasa.

🔥 Lahan Gambut dan Angin Kencang Jadi Tantangan Utama

Pemadaman karhutla kali ini bukan perkara mudah. Yuyu menjelaskan, sejak Minggu (1/2) hingga Selasa, api belum sepenuhnya padam. Kondisi lahan gambut yang didominasi vegetasi pakis, akasia, kelapa sawit, serta semak belukar membuat api cepat menyebar.

Belum lagi, hembusan angin dengan kecepatan sekitar 11 kilometer per jam memperparah situasi. Api dan asap dengan cepat merambat, membuat tim harus bekerja ekstra keras.

“Karakter lahan gambut memang rawan. Api bisa muncul kembali jika tidak benar-benar dipadamkan. Karena itu, pemadaman akan terus kami lanjutkan sampai tuntas,” tegasnya.

🚒 Baru Separuh Lahan Berhasil Dipadamkan

Hingga saat ini, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 2,5 hektare lahan, sementara sisanya masih dalam tahap penanganan. Di sejumlah titik, api masih terlihat menyala dengan asap tebal, sehingga petugas melakukan pembasahan intensif dan penyekatan untuk mencegah kebakaran meluas ke area lain.

👥 71 Personel Dikerahkan, Peralatan Lengkap Disiagakan

Operasi pemadaman darat melibatkan 71 personel gabungan, terdiri dari:

  • Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang

  • Koramil Singkawang Selatan

  • Unsur Kecamatan Singkawang Selatan

  • Kompi Brimob Singkawang

  • Polres dan Polsek Singkawang Selatan

  • BPBD Kota Singkawang

  • Masyarakat Peduli Api (MPA)

Berbagai peralatan dikerahkan, mulai dari mesin pompa air, selang hisap dan selang kirim, kendaraan operasional, hingga peralatan manual pemadam kebakaran. Untuk suplai air, tim memanfaatkan parit terdekat dengan lebar dan kedalaman sekitar satu meter.

⚠️ Warga Diminta Tetap Waspada

Yuyu menegaskan, proses pemadaman akan terus dilakukan hingga seluruh titik api dinyatakan aman. Hal ini penting untuk mencegah kebakaran susulan, mengingat lahan gambut sangat mudah terbakar kembali meski api terlihat sudah padam.

Bagi masyarakat sekitar, kewaspadaan tetap diperlukan. Dukungan dan kepedulian bersama menjadi kunci agar karhutla tidak kembali terjadi dan lingkungan tetap terjaga.

🔥 Karhutla bukan hanya soal api, tapi juga soal masa depan lingkungan kita. Mari sama-sama jaga alam Singkawang.