Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2026

Piala Dunia 2026: Persaingan Ketat Spanyol, Prancis, Inggris, Argentina, Brasil

Prediksi Juara Piala Dunia 2026 dibahas lengkap dengan analisis Spanyol, Prancis, Inggris, Argentina, dan Brasil sebagai kandidat kuat juara dunia.
Prediksi Juara Piala Dunia 2026 dibahas lengkap dengan analisis Spanyol, Prancis, Inggris, Argentina, dan Brasil sebagai kandidat kuat juara dunia.

Prediksi Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang Mengangkat Trofi?

JAKARTA - Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu turnamen paling besar dalam sejarah sepak bola modern. Untuk pertama kalinya, turnamen ini diikuti oleh 48 tim dan digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Perubahan format ini bukan hanya memperluas jumlah peserta, tetapi juga membuat persaingan menjadi jauh lebih terbuka, tidak terduga, dan penuh kejutan.

Dengan lebih banyak pertandingan, lebih banyak negara peserta, dan jadwal yang lebih padat, Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian besar bagi kedalaman skuad, strategi pelatih, dan mentalitas pemain di level tertinggi.

Format Baru yang Mengubah Peta Persaingan

Penambahan jumlah tim menjadi 48 membuat turnamen ini berbeda jauh dibanding edisi sebelumnya. Kini lebih banyak negara dari berbagai benua memiliki kesempatan tampil, termasuk tim-tim yang sebelumnya jarang lolos ke fase akhir.

Hal ini membuat:

  • Variasi gaya bermain semakin luas

  • Risiko kejutan semakin tinggi

  • Tim besar tidak lagi bisa menganggap enteng lawan

Dalam format seperti ini, tim dengan kedalaman skuad yang kuat akan lebih diuntungkan dibanding tim yang hanya mengandalkan beberapa pemain bintang.

Kandidat Terkuat Juara Piala Dunia 2026

Beberapa negara selalu muncul sebagai favorit utama berdasarkan analisis performa, kualitas pemain, dan konsistensi di turnamen besar.

Secara umum, Spanyol, Prancis, Inggris, Argentina, dan Brasil berada di jajaran teratas kandidat juara.

Namun, tidak ada dominasi mutlak seperti era sebelumnya. Semua tim besar memiliki kelemahan masing-masing.

Spanyol – Favorit Utama

Spanyol saat ini dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat juara. Generasi baru mereka tampil sangat matang dengan kombinasi pemain muda berbakat dan pemain berpengalaman.

Gaya bermain Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola, kontrol tempo, dan kerja sama tim membuat mereka sangat sulit dikalahkan jika sudah menemukan ritme permainan.

Kelebihan Spanyol:

  • Penguasaan bola sangat dominan

  • Generasi muda berkualitas tinggi

  • Sistem permainan rapi dan konsisten

  • Keseimbangan antar lini sangat baik

Kelemahan:

  • Kurang striker tajam yang benar-benar mematikan

  • Terkadang kesulitan menghadapi tim yang bermain sangat defensif

Prancis – Tim Paling Lengkap

Prancis hampir selalu menjadi kandidat juara di setiap turnamen besar. Mereka memiliki kedalaman skuad yang luar biasa di semua posisi.

Dengan pemain-pemain seperti Kylian Mbappé dan generasi muda yang terus bermunculan, Prancis memiliki kombinasi sempurna antara kecepatan, kekuatan, dan teknik.

Kelebihan Prancis:

  • Kedalaman skuad terbaik di dunia

  • Banyak pemain kelas dunia di setiap posisi

  • Sangat berbahaya dalam serangan balik

  • Pengalaman tampil di final-turnamen besar

Kelemahan:

  • Kadang inkonsisten dalam pertandingan tertentu

  • Potensi konflik ego antar pemain bintang

Inggris – Generasi Emas yang Siap Meledak

Inggris memiliki salah satu generasi terbaik dalam sejarah mereka. Banyak pemain muda berbakat yang sudah tampil di level tertinggi klub Eropa.

Nama-nama seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, dan Phil Foden menjadi tulang punggung tim yang sangat menjanjikan.

Kelebihan Inggris:

  • Generasi muda sangat kuat

  • Kedalaman skuad merata

  • Banyak pemain berpengalaman di liga top

Kelemahan:

  • Tekanan publik sangat besar

  • Sering kesulitan di fase semifinal atau final

Argentina – Juara Bertahan yang Masih Berbahaya

Sebagai juara Piala Dunia 2022, Argentina tetap menjadi kekuatan besar. Meski generasi lama mulai berganti, struktur tim mereka masih sangat solid.

Argentina dikenal memiliki mental juara yang kuat, terutama dalam pertandingan knockout.

Kelebihan Argentina:

  • Mental juara sangat kuat

  • Tim bermain dengan disiplin tinggi

  • Pengalaman turnamen besar

Kelemahan:

  • Regenerasi pemain sedang berlangsung

  • Tidak sekuat generasi emas sebelumnya

Brasil – Selalu Kandidat Kuat

Brasil selalu masuk dalam daftar favorit karena kualitas individu pemain mereka yang sangat tinggi.

Generasi baru seperti Vinícius Jr memberikan harapan besar bagi Brasil untuk kembali meraih gelar juara dunia.

Namun konsistensi masih menjadi tantangan utama. Dalam beberapa turnamen terakhir, Brasil sering tampil bagus tetapi gagal menjaga performa hingga akhir.

Kelebihan Brasil:

  • Talenta individu sangat tinggi

  • Kreativitas serangan luar biasa

  • Pengalaman panjang di Piala Dunia

Kelemahan:

  • Kurang konsisten

  • Terkadang rapuh di pertandingan besar

Kuda Hitam yang Bisa Mengejutkan

Selain tim favorit, selalu ada kemungkinan munculnya kejutan besar di Piala Dunia.

Beberapa tim yang berpotensi menjadi kuda hitam antara lain:

  • Belanda dengan sistem permainan yang stabil

  • Portugal dengan generasi pemain berbakat

  • Maroko yang semakin kuat secara taktik

  • Amerika Serikat sebagai tuan rumah

  • Norwegia dengan generasi baru yang menjanjikan

Dalam format 48 tim, peluang kejutan semakin besar karena variasi lawan yang lebih beragam.

Faktor Penentu Juara Piala Dunia 2026

Ada beberapa faktor utama yang akan menentukan siapa yang keluar sebagai juara:

1. Kedalaman skuad

Tim harus memiliki banyak pemain berkualitas untuk rotasi sepanjang turnamen.

2. Fleksibilitas taktik

Kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya permainan sangat penting.

3. Mental di fase knockout

Banyak tim kuat gugur bukan karena kualitas, tetapi karena tekanan mental.

4. Efektivitas serangan

Di level Piala Dunia, satu peluang bisa menentukan hasil akhir.

Prediksi Final Piala Dunia 2026

Berdasarkan kekuatan tim saat ini, beberapa kemungkinan final yang paling realistis adalah:

  • Spanyol vs Prancis

  • Inggris vs Argentina

  • Spanyol vs Inggris

Namun yang paling sering muncul dalam analisis kekuatan adalah:

Spanyol vs Prancis

Dua tim dengan keseimbangan terbaik antara taktik, kualitas pemain, dan kedalaman skuad.

Siapa yang Akan Juara?

Jika melihat keseluruhan kekuatan saat ini:

  • Spanyol menjadi favorit utama

  • Prancis adalah pesaing paling berbahaya

  • Inggris memiliki potensi besar

  • Argentina tetap punya mental juara

  • Brasil selalu bisa mengejutkan

Namun Piala Dunia selalu sulit diprediksi. Banyak kejutan terjadi justru ketika tim favorit gagal tampil maksimal.

Kesimpulan

Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu turnamen paling kompetitif sepanjang sejarah. Dengan format baru dan lebih banyak peserta, persaingan akan semakin ketat dan sulit ditebak.

Spanyol saat ini berada di posisi teratas dalam banyak prediksi, tetapi Prancis, Inggris, Argentina, dan Brasil masih memiliki peluang besar untuk menjadi juara.

Pada akhirnya, juara Piala Dunia bukan hanya ditentukan oleh statistik atau nama besar, tetapi oleh siapa yang paling siap secara mental, taktik, dan konsistensi di setiap pertandingan.

Dan seperti selalu dalam sepak bola: kejutan selalu lebih mungkin terjadi daripada kepastian.

Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut? Dolar AS Menguat, Harga BBM Naik, Utang Negara Membengkak, Mampukah Ekonomi Indonesia Bertahan?

Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut? Ulasan lengkap tentang dolar AS naik, harga BBM melonjak, dan utang Indonesia bertambah serta dampaknya bagi ekonomi nasional. (Foto Ilustrasi)
Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut? Ulasan lengkap tentang dolar AS naik, harga BBM melonjak, dan utang Indonesia bertambah serta dampaknya bagi ekonomi nasional. (Foto Ilustrasi)

Indonesia Emas 2045 menjadi cita-cita besar yang terus digaungkan pemerintah. Dengan bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan target masuk lima besar ekonomi dunia, Indonesia diyakini memiliki peluang besar menjadi negara maju dalam dua dekade mendatang.

Namun di tengah optimisme tersebut, berbagai tantangan ekonomi justru semakin nyata. Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan akibat penguatan dolar Amerika Serikat, harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan, sementara utang pemerintah terus bertambah setiap tahun.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang ramai diperbincangkan masyarakat, apakah Indonesia benar-benar sedang menuju Indonesia Emas atau justru menghadapi ancaman krisis ekonomi yang lebih besar?

Indonesia Emas 2045, Mimpi Besar Menjadi Negara Maju

Indonesia Emas 2045 merupakan visi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju bertepatan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Target tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki sejumlah modal besar yang tidak dimiliki banyak negara, mulai dari jumlah penduduk yang besar, bonus demografi, kekayaan mineral seperti nikel, tembaga, emas, batu bara, hingga pasar domestik yang kuat.

Berdasarkan berbagai proyeksi internasional, Indonesia berpotensi masuk dalam jajaran lima besar ekonomi dunia pada tahun 2045 apabila mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan.

Bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada periode 2030-2045 menjadi peluang emas bagi Indonesia. Pada masa itu, jumlah penduduk usia produktif akan jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Jika kualitas sumber daya manusia meningkat dan lapangan pekerjaan tersedia, kondisi tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat.

Namun, peluang besar tersebut juga dapat berubah menjadi ancaman apabila tidak dikelola dengan baik.

Dolar AS Menguat, Rupiah Semakin Tertekan

Salah satu tantangan yang saat ini dihadapi Indonesia adalah menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Pelemahan rupiah menyebabkan biaya impor menjadi lebih mahal. Padahal Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan strategis, mulai dari bahan baku industri, energi, hingga produk teknologi.

Ketika dolar naik, maka biaya produksi berbagai sektor ikut meningkat. Dampaknya kemudian merambat ke harga barang di tingkat konsumen.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, penguatan dolar juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta yang menggunakan mata uang asing.

Tekanan terhadap rupiah biasanya diperparah oleh berbagai faktor global seperti:

  • Kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

  • Konflik geopolitik dunia.

  • Ketidakpastian ekonomi global.

  • Arus keluar investasi asing.

  • Perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar.

Bank Indonesia selama ini terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang terlalu dalam.

Harga BBM Naik, Efek Domino ke Seluruh Sektor

Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut? Dolar AS Menguat, Harga BBM Naik, Utang Negara Membengkak, Mampukah Ekonomi Indonesia Bertahan?
Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut? Ulasan lengkap tentang dolar AS naik, harga BBM melonjak, dan utang Indonesia bertambah serta dampaknya bagi ekonomi nasional. (Foto Ilustrasi)

Kenaikan harga bahan bakar minyak menjadi salah satu isu yang paling dirasakan masyarakat. Sebab, BBM merupakan komponen penting dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Ketika harga BBM meningkat, biaya transportasi otomatis naik. Biaya distribusi barang juga bertambah. Pada akhirnya, harga berbagai kebutuhan pokok ikut mengalami kenaikan.

Efek domino dari kenaikan BBM biasanya menyentuh hampir seluruh sektor ekonomi, seperti:

1. Harga Sembako Berpotensi Naik

Biaya distribusi menjadi lebih mahal sehingga harga beras, sayuran, daging, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya ikut terdampak.

2. Ongkos Transportasi Meningkat

Tarif angkutan umum, jasa pengiriman, hingga biaya perjalanan menjadi lebih tinggi.

3. Dunia Usaha Menghadapi Beban Tambahan

Pelaku usaha harus menyesuaikan biaya produksi dan operasional yang meningkat.

4. Daya Beli Masyarakat Menurun

Ketika pengeluaran semakin besar sementara pendapatan tidak bertambah, daya beli masyarakat berpotensi melemah.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga inflasi agar tetap terkendali.

Utang Indonesia Terus Bertambah, Haruskah Masyarakat Khawatir?

Topik mengenai utang negara sering menjadi perdebatan publik. Sebagian masyarakat menganggap peningkatan utang sebagai tanda bahaya, sementara pemerintah menilai utang merupakan instrumen untuk membiayai pembangunan.

Pada kenyataannya, hampir seluruh negara di dunia memiliki utang. Persoalan utamanya bukan ada atau tidak adanya utang, melainkan bagaimana utang tersebut dikelola.

Pemerintah menggunakan pembiayaan utang untuk berbagai kebutuhan, seperti:

  • Pembangunan infrastruktur.

  • Pembiayaan pendidikan.

  • Program kesehatan.

  • Subsidi energi.

  • Program perlindungan sosial.

  • Belanja negara lainnya.

Selama rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada dalam batas aman, maka kondisi tersebut masih dapat dikelola.

Namun demikian, pertumbuhan utang yang terus meningkat tetap harus diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat.

Jika pendapatan negara tidak bertambah secara signifikan sementara kewajiban pembayaran bunga dan pokok utang semakin besar, ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit.

Akibatnya, anggaran negara dapat lebih banyak terserap untuk membayar utang dibandingkan membiayai pembangunan.

Ancaman Perlambatan Ekonomi Global

Ekonomi Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi dunia.

Ketika ekonomi global melambat, permintaan ekspor Indonesia ikut menurun. Harga komoditas dapat turun, investasi asing berkurang, dan pertumbuhan ekonomi nasional ikut terpengaruh.

Beberapa faktor global yang menjadi perhatian antara lain:

Konflik Geopolitik

Ketegangan di berbagai kawasan dunia memengaruhi harga energi dan stabilitas perdagangan internasional.

Kebijakan Suku Bunga Amerika Serikat

Kenaikan suku bunga The Fed membuat investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan kembali ke Amerika Serikat.

Perlambatan Ekonomi Tiongkok

Sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi Tiongkok dapat memengaruhi ekspor Indonesia.

Ketidakpastian Pasar Dunia

Harga minyak, emas, dan komoditas lainnya sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global.

Indonesia Belum Menuju Kebangkrutan

Meski berbagai tantangan ekonomi semakin kompleks, para ekonom menilai Indonesia belum berada dalam kondisi menuju kebangkrutan.

Ada beberapa alasan yang mendukung penilaian tersebut.

Cadangan Devisa Masih Kuat

Cadangan devisa Indonesia masih cukup besar untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memenuhi kebutuhan impor.

Sistem Perbankan Relatif Stabil

Perbankan nasional masih memiliki tingkat permodalan yang baik dan likuiditas yang memadai.

Rasio Utang Masih Terkendali

Dibandingkan sejumlah negara lain, rasio utang Indonesia terhadap PDB masih berada pada tingkat yang relatif aman.

Konsumsi Domestik Menjadi Penopang Ekonomi

Besarnya jumlah penduduk Indonesia membuat konsumsi masyarakat menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi.

Kekayaan Sumber Daya Alam

Indonesia memiliki cadangan mineral strategis yang menjadi incaran dunia, terutama nikel yang dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik.

Tantangan Besar Menuju Indonesia Emas

Meskipun peluang masih terbuka lebar, ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Kualitas Pendidikan

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang kompetitif agar mampu bersaing di tingkat global.

Lapangan Kerja

Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika tersedia lapangan pekerjaan yang cukup.

Hilirisasi Industri

Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan memperkuat industri bernilai tambah.

Korupsi dan Efisiensi Anggaran

Pengelolaan anggaran negara yang efisien menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Transformasi Digital

Persaingan ekonomi masa depan akan sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi dan inovasi.

Peluang Indonesia Masih Sangat Besar

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia masih memiliki sejumlah peluang besar.

Bonus Demografi

Jumlah penduduk usia produktif yang besar dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Hilirisasi Mineral

Cadangan nikel terbesar di dunia menjadi modal penting dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Investasi Asing

Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi menarik di Asia Tenggara.

Ekonomi Digital

Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan terus meningkat dan menjadi yang terbesar di kawasan ASEAN.

Infrastruktur yang Terus Berkembang

Pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing nasional.

Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya belum bisa ditentukan hari ini.

Kenaikan dolar AS, meningkatnya harga BBM, serta bertambahnya utang negara memang menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Namun kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sedang menuju kebangkrutan.

Sebaliknya, Indonesia juga belum otomatis akan mencapai Indonesia Emas hanya karena memiliki sumber daya alam melimpah dan bonus demografi.

Masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan pemerintah, stabilitas politik, kemampuan mengelola utang, kualitas pendidikan, serta daya saing sumber daya manusia.

Jika berbagai peluang mampu dimanfaatkan dengan baik, Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada tahun 2045.

Namun jika berbagai persoalan struktural seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, rendahnya produktivitas, dan ketergantungan terhadap komoditas mentah tidak segera dibenahi, maka cita-cita Indonesia Emas dapat berubah menjadi tantangan besar yang menghambat kemajuan bangsa.

Pada akhirnya, pertanyaan "Indonesia Emas atau Indonesia Bangkrut?" bukan sekadar persoalan optimisme atau pesimisme. Jawabannya akan ditentukan oleh langkah yang diambil hari ini, karena masa depan ekonomi Indonesia dibentuk oleh kebijakan dan keputusan yang dilakukan sejak sekarang.

Jumat, 19 Juni 2026

Pegang Sertifikat Rumah Asli Belum Tentu Aman! Ini Kesalahan Fatal Saat Meminjamkan Uang dengan Jaminan Properti

Pegang sertifikat rumah asli tidak otomatis membuat kreditur bisa menyita properti. Pahami APHT, Hak Tanggungan, dan pentingnya perjanjian utang agar terhindar dari kredit macet.
Pegang sertifikat rumah asli tidak otomatis membuat kreditur bisa menyita properti. Pahami APHT, Hak Tanggungan, dan pentingnya perjanjian utang agar terhindar dari kredit macet.

JAKARTA - Banyak orang percaya bahwa memegang sertifikat rumah asli milik orang lain berarti posisi mereka sudah aman ketika memberikan pinjaman. Padahal, dalam praktik hukum di Indonesia, anggapan tersebut merupakan kesalahan yang sangat berisiko.

Bayangkan seseorang meminjam uang Rp500 juta dengan menjaminkan rumah senilai Rp700 juta. Sertifikat rumah asli diserahkan kepada pemberi pinjaman. Semua terlihat aman. Namun ketika jatuh tempo lewat dan usaha si peminjam bangkrut, uang tidak kembali.

Saat pemberi pinjaman ingin mengambil rumah sebagai ganti pelunasan utang, ternyata ia tidak bisa begitu saja menyita rumah tersebut. Sertifikat asli yang berada di tangannya ternyata tidak memberikan hak otomatis untuk memiliki atau menjual properti tersebut.

Inilah kesalahan yang masih sering terjadi di masyarakat.

Mengapa Pegang Sertifikat Rumah Saja Tidak Cukup?

Secara hukum, sertifikat tanah atau rumah hanya merupakan bukti kepemilikan suatu aset. Memegang sertifikat asli milik orang lain tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemilik baru.

Tanpa adanya pengikatan jaminan yang sah, sertifikat tersebut pada dasarnya hanya menjadi selembar dokumen berharga yang tidak memiliki kekuatan eksekusi.

Banyak orang baru menyadari hal ini ketika kredit macet terjadi dan mereka ingin menyita aset jaminan. Sayangnya, pengadilan tidak akan serta-merta mengabulkan permintaan tersebut hanya karena seseorang memegang sertifikat asli.

Pentingnya APHT dalam Jaminan Properti

Kesalahan terbesar dalam transaksi utang dengan jaminan rumah adalah tidak membuat Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).

APHT dibuat di hadapan Notaris atau PPAT, kemudian didaftarkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setelah proses selesai, akan diterbitkan Sertifikat Hak Tanggungan.

Di dalam Sertifikat Hak Tanggungan terdapat titel eksekutorial yang memiliki kekuatan hukum khusus.

Dengan adanya Hak Tanggungan, kreditur memperoleh status sebagai kreditur preferen atau pihak yang diutamakan dalam pelunasan utang.

Artinya, ketika debitur wanprestasi atau gagal membayar, kreditur memiliki hak untuk:

  • Menjual objek jaminan melalui lelang KPKNL.

  • Tidak memerlukan persetujuan lagi dari debitur.

  • Tidak perlu menunggu proses gugatan perdata yang panjang.

Tanpa APHT, sertifikat rumah asli yang disimpan di lemari tidak banyak membantu.

Bahaya Memberikan Pinjaman Tanpa Perjanjian Tertulis

Kesalahan kedua yang tidak kalah berbahaya adalah memberikan pinjaman hanya berdasarkan rasa percaya.

Banyak orang merasa tidak enak hati jika harus membuat surat perjanjian dengan teman atau kerabat. Akibatnya, transaksi hanya dilakukan melalui transfer bank.

Padahal bukti transfer saja belum tentu cukup untuk membuktikan adanya hubungan utang-piutang.

Dalam persidangan, pihak yang menerima uang bisa saja berdalih bahwa dana tersebut merupakan:

  • Modal usaha bersama.

  • Investasi.

  • Hadiah atau pemberian.

  • Bentuk kerja sama bisnis.

Jika tidak ada kontrak tertulis, posisi pemberi pinjaman menjadi lemah.

Tidak sedikit kasus yang akhirnya berujung pada sengketa panjang dan biaya pengacara yang besar.

Surat Perjanjian Utang Sangat Penting

Dalam transaksi bernilai besar, perjanjian utang merupakan hal yang wajib dibuat.

Surat perjanjian tersebut minimal memuat:

Identitas Para Pihak

Nama lengkap, alamat, nomor identitas, dan informasi lain yang jelas.

Nilai Pinjaman

Jumlah pinjaman yang disepakati serta tujuan penggunaannya.

Jangka Waktu

Tanggal jatuh tempo pembayaran.

Bunga atau Imbal Hasil

Jika ada, besaran bunga harus disebutkan secara jelas.

Ketentuan Wanprestasi

Menjelaskan apa yang terjadi apabila debitur gagal membayar.

Objek Jaminan

Rumah atau aset yang dijadikan jaminan harus disebutkan secara detail.

Lebih baik lagi jika seluruh perjanjian dibuat secara notariil agar memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat.

Cara Aman Memberikan Pinjaman dengan Jaminan Properti

Jika ingin meminjamkan uang dalam jumlah besar, ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan.

1. Membuat Perjanjian Pokok

Perjanjian utang-piutang menjadi dasar hukum hubungan antara kreditur dan debitur.

2. Membuat Perjanjian Aksesori

Jaminan rumah harus diikat melalui APHT sehingga mempunyai kekuatan eksekusi.

3. Melibatkan Notaris atau PPAT

Notaris dan PPAT berperan memastikan seluruh proses dilakukan sesuai hukum yang berlaku.

4. Mendaftarkan Hak Tanggungan ke BPN

Tanpa pendaftaran, Hak Tanggungan belum lahir secara sempurna.

5. Menyimpan Seluruh Dokumen Pendukung

Bukti transfer, percakapan, kwitansi, dan dokumen lainnya sebaiknya disimpan dengan baik.

Mengapa Biaya Notaris Sebenarnya Tidak Mahal?

Sebagian orang merasa biaya jasa notaris terlalu mahal.

Padahal biaya tersebut sebenarnya merupakan investasi untuk mengurangi risiko hukum di masa depan.

Bayangkan jika seseorang menghemat biaya pembuatan akta beberapa juta rupiah, tetapi akhirnya kehilangan dana ratusan juta akibat kredit macet.

Jasa notaris bukan sekadar membuat dokumen. Mereka membantu memastikan transaksi memiliki perlindungan hukum yang memadai.

Karena itu, biaya yang dikeluarkan di awal sering kali jauh lebih kecil dibanding potensi kerugian yang bisa terjadi.

Skill Hukum yang Penting di Dunia Kerja

Pemahaman mengenai hukum jaminan juga menjadi nilai tambah bagi mereka yang ingin bekerja di perbankan, BUMN, maupun perusahaan besar.

Beberapa kemampuan yang banyak dicari antara lain:

Memahami Hukum Jaminan

Mengetahui perbedaan Hak Tanggungan dan Fidusia.

Kemampuan Menyusun Kontrak

Mampu membuat klausul yang melindungi kepentingan perusahaan.

Dasar Litigasi

Memahami mekanisme penyelesaian sengketa dan gugatan sederhana.

Kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam bidang legal, risk management, dan kredit.

Pelajaran Penting dari Kasus Kredit Macet

Ada satu kalimat yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.

"Hukum tidak melindungi orang yang naif. Hukum melindungi orang yang tertib administrasi."

Niat baik memang penting. Namun dalam dunia hukum, niat baik saja tidak cukup.

Jika ingin memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan jaminan properti, jangan hanya mengandalkan rasa percaya atau memegang sertifikat rumah asli.

Pastikan ada perjanjian utang yang jelas, APHT yang sah, dan seluruh proses dilakukan melalui Notaris atau PPAT.

Karena pada akhirnya, legalitas bukan sekadar formalitas, melainkan perlindungan agar uang dan aset yang dimiliki tidak hilang begitu saja.

Minggu, 14 Juni 2026

Kok Jadi Ramai Begini? Rebecca Klopper Tiba-tiba Jadi Perbincangan di Acara Jennifer Coppen

Rebecca Klopper dicibir netizen usai hadir di bridesmaid proposal Jennifer Coppen. Simak kronologi kejadian, klarifikasi, dan profil lengkapnya.
Rebecca Klopper dicibir netizen usai hadir di bridesmaid proposal Jennifer Coppen. Simak kronologi kejadian, klarifikasi, dan profil lengkapnya.

Rebecca Klopper Jadi Sorotan di Acara Bridesmaid Proposal Jennifer Coppen, Ini Profil Lengkapnya

JAKARTA - Aktris Rebecca Klopper menjadi perbincangan warganet usai menghadiri acara bridesmaid proposal bertema Bridgerton milik Jennifer Coppen yang digelar pada Sabtu (13/6/2026). Penampilannya saat acara tersebut memicu komentar beragam di media sosial, setelah sebagian netizen menilai busananya berbeda dari tamu lain.

Acara yang mengusung konsep Bridgerton itu awalnya berlangsung meriah dan penuh nuansa elegan khas pesta era klasik. Namun, perhatian publik justru tertuju pada gaya busana Rebecca yang dianggap tampil dengan warna berbeda.

Komentar warganet pun bermunculan, sebagian mempertanyakan pilihan outfit yang dikenakan sang aktris. Meski begitu, beberapa tamu lain juga diketahui mengenakan warna serupa sehingga tidak ada aturan baku terkait keseragaman busana dalam acara tersebut.

Menanggapi ramainya komentar tersebut, Rebecca memberikan penjelasan bahwa konsep acara tidak mengharuskan tamu tampil dengan warna yang sama persis. Ia juga menegaskan bahwa setiap acara pertemanan biasanya memiliki tema berbeda yang bersifat fleksibel.

“Jadi kemarin bridesmaid proposal itu temanya Bridgerton, terus kalian bilang ‘Becca pake biru sendiri?’ Temen gue satu lagi ada yang pakai biru juga,” ujar Rebecca.

Ia juga menyinggung bahwa di acara sebelumnya, konsep yang diusung justru lebih bebas dan ekspresif.
“Plis deh jangan kayak gitu. Nanti temen gue nggak mau dandan, gue omelin ya lu pada. Kemarin tema bachelor gue, glitch and glam jadi memang harus heboh,” tambahnya.

Rebecca Klopper memiliki nama lengkap Rebecca Ayu Putri Klopper. Ia lahir pada 21 November 2001 dan memiliki darah campuran Jawa dari sang ibu, Susana, serta Australia dari ayahnya, Joseph Klopper.

Kariernya di dunia hiburan dimulai sejak 2013 ketika ia masih berusia 12 tahun. Namun, namanya mulai dikenal luas setelah membintangi sejumlah sinetron remaja.

Rebecca pernah bermain dalam sinetron populer Mermaid in Love, yang juga dibintangi Amanda Manopo dan Jennifer Coppen. Sejak saat itu, ia aktif membintangi FTV hingga film layar lebar seperti Bisikan Iblis, Habibie & Ainun, Senior, Anak Garuda, dan Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi.

Di ranah kehidupan pribadi, Rebecca juga sempat menjadi sorotan publik karena hubungan asmaranya dengan model Fadly Faisal.

Perbincangan mengenai Rebecca kembali menghangat di media sosial, terutama terkait standar berpakaian dalam acara bertema. Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan lanjutan dari pihak terkait mengenai polemik tersebut.

Senin, 01 Juni 2026

Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan

Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan
Nilai TKA Siswa Indonesia Ambruk, Program MBG Mulai Dipertanyakan.
Sebenarnya tak enak nulis yang jelek-jelek. Tapi, ini fakta dunia pendidikan kita hari ini. Ambruknya nilai TKA siswa kita dari SD sampai SMP. Banyak bertanya, lantas apakah program MBG berpengaruh atau tidak? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang kabar yang membuat kalkulator masuk mode pesawat dan buku Matematika memilih mengasingkan diri ke puncak Gunung Semeru. Kemendikdasmen baru saja merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD dan SMP. Hasilnya bukan sekadar kurang memuaskan. Ini levelnya seperti menonton tim favorit kalah 0-7 di kandang sendiri, lalu kiper ikut mencetak gol bunuh diri.

Nilai rata-rata nasional Matematika SD sederajat tercatat hanya 43,41. Bahasa Indonesia masih mampu bertahan dengan 60,14. Sementara di SMP, Bahasa Indonesia memperoleh 60,83, tetapi Matematika kembali terkapar di angka 40,34. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati mengakui, Matematika menjadi mata pelajaran dengan nilai rata-rata paling rendah di kedua jenjang.

Kalau angka 40-an ini manusia, mungkin sudah duduk di warung kopi sambil berkata, "Aku menyerah, Bang. Jangan tanya lagi soal integral."

Yang bikin suasana makin horor, penyakit ini ternyata sudah lama bersarang. Hasil TKA SMA 2025 menunjukkan Bahasa Indonesia hanya 55,38, Matematika 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93.

Ya, dua puluh empat koma sembilan tiga. Angka itu begitu kecil sampai sempat dikira nomor antrean fotokopi, bukan nilai rata-rata Bahasa Inggris siswa SMA.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, secara terbuka menyebut hasil TKA ini "jeblok". Sebuah kata yang biasanya hanya muncul saat melihat genteng rumah diterbangkan angin puting beliung atau saham nyungsep tanpa rem.

Jika dibandingkan dengan KKM yang umumnya berada di kisaran 70 sampai 75, nilai Matematika Indonesia saat ini seperti sepeda tanpa rantai. Bentuknya ada, rodanya ada, tetapi susah diajak melaju.

JPPI kemudian membuka arsip lama yang membuat suasana semakin sendu. Ketika membandingkan hasil UN 2019 dengan TKA 2025, semua mata pelajaran mengalami penurunan. Matematika turun dari 39,2 menjadi 36,1. Bahasa Indonesia turun dari 67,8 menjadi 55,3. Bahasa Inggris paling mengenaskan, dari 54,6 menjadi 24,9. Apalagi Bahasa Prancis nanti.

Grafiknya bukan lagi turun gunung. Ini sudah terjun dari stratosfer tanpa payung sambil membawa kulkas dua pintu. 

Lalu datanglah tamparan berikutnya dari arena ASEAN. Berdasarkan PISA 2022, Singapura menjadi raja Matematika ASEAN sekaligus dunia dengan skor 575. Vietnam menyusul dengan 469. Brunei 442. Malaysia 409. Thailand 394.

Indonesia? 366. Peringkat keenam ASEAN.

Kita hanya unggul dari Filipina yang memperoleh 355 dan Kamboja 336. Selisih Indonesia dengan Vietnam mencapai lebih dari 100 poin. Menurut OECD, itu setara tiga hingga lima tahun pembelajaran.

Nuan bayangkan dua anak berangkat bersamaan menuju garis finis. Saat anak Vietnam sudah masuk stadion, naik podium, dan selfie membawa medali, kita masih sibuk mencari lokasi parkir.

Di tengah kondisi itulah Program MBG mulai ikut terseret ke meja pemeriksaan publik. Program yang digadang-gadang menjadi salah satu andalan pemerintah ini menghabiskan anggaran sekitar Rp223,5 triliun atau 29 persen dari total anggaran pendidikan.

Pada Agustus 2025, Wakil Menteri Pendidikan Stella Christie pernah menyampaikan, MBG berpotensi meningkatkan kemampuan Matematika dan Bahasa Inggris apabila dikemas secara kreatif dalam proses pembelajaran.

Logikanya sederhana. Anak kenyang, otak terang. Sayangnya, hasil TKA 2026 belum menunjukkan keajaiban tersebut.

Kritik pun bermunculan. Koordinator JPPI, Ubaid Matraji, menilai persoalan pendidikan Indonesia bukan semata-mata urusan makan siang. Menurutnya, masalah utama justru terletak pada kualitas guru, distribusi tenaga pendidik yang tidak merata, kurikulum yang sering berganti wajah, dan pembelajaran yang kehilangan arah.

Bahasa sederhananya, perut siswa memang mulai terisi, tetapi nilai Matematikanya masih seperti sinyal internet di tengah hutan.

Belum cukup sampai di situ. Profesor Martadi menemukan fakta yang membuat dahi berkerut. Saat supervisi TKA, ada siswa yang bermain TikTok ketika ujian berlangsung. Bahkan ditemukan peserta yang mengerjakan soal dengan pendamping di sampingnya.

Ini bukan lagi ujian akademik. Ini reality show pendidikan dengan unsur komedi, drama, misteri, dan sedikit sentuhan supranatural.

Para pengamat akhirnya hampir satu suara. Mereka menyebut persoalan ini bersifat sistemik. Kurikulum terlalu sering berganti, kualitas guru belum merata, pengawasan ujian lemah, budaya hafalan masih dominan, sementara kemampuan bernalar belum menjadi panglima.

Maka, ketika nilai TKA siswa Indonesia ambruk dan Program MBG mulai dipertanyakan, yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya kemampuan anak menghitung angka. Yang sedang diuji adalah arah pendidikan nasional itu sendiri.

Sebab kalau ratusan triliun rupiah sudah berputar, slogan sudah berkibar, seminar sudah digelar, baliho sudah terpasang, tetapi nilai Matematika tetap nyangkut di angka 40-an, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya muridnya.

Mungkin seluruh orkestra pendidikan sedang memainkan lagu yang salah, lalu heran mengapa penontonnya tidak ikut bernyanyi. 

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Senin, 18 Mei 2026

Wakil Ketua Buka Suara, Tuduhan ke Ketua PWI Kalbar Dinilai Sarat Opini dan Tak Berdasar

Wakil Ketua Multimedia PWI Kalbar, Yakop, membantah keras berbagai tuduhan yang diarahkan kepada Ketua PWI Kalbar. Ia menilai narasi yang berkembang hanya menggiring opini publik tanpa bukti dan proses etik resmi organisasi.
Wakil Ketua Multimedia PWI Kalbar, Yakop, membantah keras berbagai tuduhan yang diarahkan kepada Ketua PWI Kalbar.

PONTIANAK - Wakil Ketua Multimedia PWI Kalbar, Heri Yakop, menyikapi pernyataan pengamat sosial politik Kalimantan Barat, Drs. Syarif Usmulyadi Al Qadrie, M.Si, yang melayangkan surat terbuka kepada Persatuan Wartawan Indonesia dan Dewan Kehormatan PWI Pusat terkait polemik yang menyeret nama Ketua PWI Kalbar, Kundori. 

Yakop menilai narasi yang dibangun dalam pemberitaan salah satu media siber cenderung menggiring opini publik tanpa disertai dasar fakta serta mekanisme organisasi yang jelas. Menurutnya, tuduhan yang diarahkan kepada Kundori sejauh ini masih sebatas asumsi dan opini sepihak yang belum pernah dibuktikan melalui proses etik resmi di internal organisasi.

Yakop menegaskan, dalam organisasi profesi seperti PWI, setiap dugaan pelanggaran memiliki mekanisme dan prosedur yang harus ditempuh secara objektif, bukan dibentuk melalui tekanan opini di ruang publik. Ia menyebut, surat terbuka yang disampaikan pengamat sosial politik tersebut lebih banyak berisi tuduhan normatif tanpa menyampaikan data, bukti, maupun pelanggaran konkret yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Pernyataan yang dibangun dalam pemberitaan itu sangat tendensius karena seolah-olah sudah terjadi pelanggaran etik berat, padahal sampai hari ini tidak ada keputusan resmi Dewan Kehormatan PWI yang menyatakan Ketua PWI Kalbar melakukan pelanggaran,” kata Heri Yakop.

Menurut Yakop, kritik terhadap organisasi merupakan hal yang sah dalam demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara proporsional dan tidak membangun persepsi seakan-akan seseorang telah bersalah sebelum ada pemeriksaan resmi. Ia menilai, penggunaan istilah seperti “krisis integritas”, “penyalahgunaan jabatan”, hingga “degradasi legitimasi” justru berpotensi mencemarkan nama baik organisasi dan individu tanpa landasan hukum maupun fakta organisasi yang valid.

Yakop juga membantah anggapan bahwa Dewan Kehormatan PWI Kalbar bersikap pasif. Ia menegaskan bahwa setiap dinamika organisasi memiliki proses internal yang berjalan sesuai aturan rumah tangga organisasi dan tidak semua proses harus diumbar ke publik.

“Jangan sampai publik diarahkan pada kesimpulan bahwa ada pembiaran, padahal mekanisme organisasi tetap berjalan. Organisasi profesi tidak bekerja berdasarkan tekanan opini media sosial atau surat terbuka, tetapi berdasarkan aturan dan fakta,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama ini PWI Kalimantan Barat terus berkoordinasi dengan pengurus PWI Pusat hingga saat ini. Bahkan dalam waktu dekat, PWI Kalbar juga akan menyelenggarakan kegiatan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Pontianak sebagai bagian dari komitmen organisasi dalam memperkuat profesionalisme dan kualitas insan pers di daerah.

“Kalau memang ada anggapan organisasi tidak berjalan atau kehilangan legitimasi, tentu itu bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Komunikasi dengan PWI Pusat tetap berjalan baik dan agenda organisasi juga terus dilaksanakan,” kata Yakop.

Lebih lanjut, Yakop menilai narasi yang menyebut PWI Kalbar kehilangan legitimasi moral merupakan pernyataan berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi riil organisasi di lapangan. Hingga kini, kata dia, PWI Kalbar tetap menjalankan fungsi organisasi, pembinaan wartawan, uji kompetensi, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan secara normal.

Ia juga mengingatkan agar semua pihak tidak menjadikan polemik internal sebagai komoditas opini yang justru merusak marwah pers di Kalimantan Barat. Menurutnya, pers membutuhkan suasana yang sehat, profesional, dan mengedepankan asas praduga tak bersalah.

“Kalau ada dugaan pelanggaran, silakan tempuh jalur organisasi sesuai mekanisme yang ada. Tetapi jangan membangun opini liar yang akhirnya menyesatkan publik dan menyerang kehormatan seseorang tanpa bukti yang jelas,” tegas Yakop.

Yakop menambahkan, PWI sebagai organisasi wartawan memiliki sistem etik dan mekanisme pengawasan yang jelas. Karena itu, ia meminta semua pihak menghormati proses organisasi dan tidak memaksakan penghakiman di ruang publik sebelum adanya keputusan resmi dari lembaga yang berwenang.

“PWI Kalbar tetap berkomitmen menjaga profesionalisme, integritas, dan marwah organisasi. Jangan sampai opini yang belum terbukti justru menciptakan kegaduhan dan memecah solidaritas insan pers,” tutupnya.

Jumat, 15 Mei 2026

Warga Sekadau Tagih Janji PT Arvena, Lahan di Luar Izin Disebut Masih Dikelola

Warga di Kecamatan Nanga Mahap, Sekadau, meminta PT Arvena Sepakat mengembalikan lahan di luar izin usaha perkebunan yang hingga kini masih ditanami sawit.
Warga di Kecamatan Nanga Mahap, Sekadau, meminta PT Arvena Sepakat mengembalikan lahan di luar izin usaha perkebunan yang hingga kini masih ditanami sawit.

Sekadau - Warga di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, meminta PT Arvena Sepakat mengembalikan lahan yang diduga berada di luar izin usaha perkebunan (IUP) dan hak guna usaha (HGU) yang hingga kini masih dikelola perusahaan.

Permintaan itu kembali disampaikan setelah sebagian warga mengaku lahannya masih ditanami sawit dan belum dapat dimanfaatkan kembali oleh pemilik asli.

Masalah ini sebelumnya pernah dibahas dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sekadau pada 2010. Saat itu, DPRD membahas dugaan pengelolaan ribuan hektare lahan di luar izin oleh perusahaan yang merupakan anak usaha Gunas Group tersebut.

Lahan yang masuk dalam pembahasan berada di wilayah Kojang Tengah, Suak Mansi, Desa Nanga Suri, Desa Mahap, Desa Batu Pahat, dan Lembah Beringin di Kecamatan Nanga Mahap.

Dalam pertemuan tersebut, warga meminta perusahaan mengembalikan lahan di luar izin kepada pemilik. Sebagian warga disebut telah menerima pengembalian lahan disertai kompensasi, namun prosesnya dilakukan tanpa dokumen resmi maupun sanksi hukum.

Sejumlah warga lainnya mengaku hingga kini lahannya masih dikelola perusahaan. Sebagian tanaman sawit disebut terbengkalai, sementara sebagian lain tetap dirawat dan dipanen tanpa manfaat yang diterima pemilik lahan.

Acak, pemilik lahan di Dusun Belangir, Desa Tembesuk, mengatakan kondisi itu juga terjadi di lahannya. Ia menyebut perusahaan pernah memberikan kompensasi Rp5 juta per hektare kepada sebagian warga saat pengembalian lahan, namun tanpa berita acara resmi.

Menurutnya, lahan yang dikembalikan juga berada dalam kondisi rusak dengan tanaman sawit yang lama tidak dirawat masih berdiri di lokasi tersebut.

“Sawit itu tidak pernah dirawat. Kami ambil satu dua tandan, malah kena sanksi adat Rp500 ribu per tandan,” ujar Acak.

Ia meminta pemerintah membantu masyarakat agar lahan di luar izin yang tidak lagi dirawat segera dikembalikan kepada pemilik.

Keluhan serupa disampaikan Mukmin. Ia menyebut dari total 23,27 hektare lahannya, sekitar 11,54 hektare telah ditanami sawit meski berada di luar izin usaha perkebunan.

Menurut Mukmin, perusahaan hingga kini masih merawat dan memanen sawit di lahan tersebut. Ia juga mengingat pernyataan humas perusahaan saat itu, almarhum Stepanus Teseng, yang menyebut lahan di luar izin akan dikembalikan kepada pemilik beserta kompensasi dan penanaman bibit karet sebagai pengganti vegetasi yang rusak.

“Sampai sekarang lahan itu masih dikelola perusahaan. Kami minta dikembalikan sesuai janji,” kata Mukmin.

Sementara itu, Ajan mengaku tidak pernah menerima sosialisasi dari perusahaan terkait penanaman sawit di lahannya yang berada di sempadan Sungai Ketaman.

Ia mengatakan baru mengetahui bahwa penanaman sawit di kawasan sempadan sungai tidak diperbolehkan. Warga khawatir aktivitas perkebunan di kawasan tersebut dapat berdampak pada lingkungan dan sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

“Sekarang kami baru tahu itu tidak boleh. Kami minta lahan kami dikembalikan,” ujar Ajan.

Warga lainnya, Radu dari Dusun Riam Batang, Desa Nanga Suri, mengaku awalnya perusahaan hanya meminta akses jalan di lahannya dengan ganti rugi sekitar Rp100 ribu.

Namun kini, menurutnya, lahan tersebut telah dipenuhi tanaman sawit milik perusahaan.

“Dulu hanya untuk jalan. Sekarang sudah penuh sawit,” kata Radu.

Selain meminta pengembalian lahan, warga juga meminta pemerintah memeriksa izin pemanfaatan kayu (IPK) perusahaan. Mereka mempertanyakan legalitas pembukaan lahan dan penebangan kayu di area yang disebut berada di luar izin usaha perkebunan.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera menindaklanjuti persoalan tersebut agar kepastian pengelolaan lahan sesuai ketentuan dapat terlaksana.

Redaksi: Konflik Lahan yang Terus Membayangi Warga Kecamatan Nanga Mahap

Warga Sekadau Tagih Janji PT Arvena, Lahan di Luar Izin Disebut Masih Dikelola
Warga di Kecamatan Nanga Mahap, Sekadau, meminta PT Arvena Sepakat mengembalikan lahan di luar izin usaha perkebunan yang hingga kini masih ditanami sawit.

Persoalan dugaan pengelolaan lahan di luar izin usaha perkebunan yang disampaikan warga Kecamatan Nanga Mahap menunjukkan bahwa konflik agraria di wilayah perkebunan masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. 

Dari keterangan sejumlah warga, inti persoalan bukan hanya soal kepemilikan lahan, tetapi juga menyangkut kepastian hukum, transparansi pengelolaan, dan tindak lanjut terhadap lahan yang disebut berada di luar IUP maupun HGU.

Redaksi melihat keluhan warga memiliki pola yang serupa. Beberapa pemilik lahan mengaku lahannya telah ditanami sawit dan masih dikelola perusahaan, meski sebelumnya disebut akan dikembalikan. 

Sebagian warga bahkan menyebut proses pengembalian lahan pernah dilakukan tanpa dokumen resmi atau berita acara yang jelas. 

Kondisi ini memunculkan ketidakpastian bagi masyarakat yang ingin kembali memanfaatkan lahannya sebagai sumber penghidupan.

Keterangan warga juga memperlihatkan adanya persoalan komunikasi dan sosialisasi di lapangan. Ada warga yang mengaku tidak mengetahui bahwa lahan di kawasan sempadan sungai tidak diperbolehkan untuk penanaman sawit. 

Hal ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan aspek lingkungan dan keberlanjutan sumber air masyarakat sekitar.

Di sisi lain, warga menyampaikan bahwa upaya mediasi secara kekeluargaan telah dilakukan, namun belum menghasilkan penyelesaian menyeluruh. 

Permintaan agar pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap izin pemanfaatan kayu (IPK) dan aktivitas pembukaan lahan juga menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan adanya kepastian terhadap legalitas pengelolaan kawasan tersebut.

Redaksi menilai persoalan seperti ini memerlukan penanganan yang terbuka dan berbasis data agar tidak terus berlarut. 

Pemerintah daerah maupun instansi terkait perlu memastikan kejelasan batas izin usaha, status lahan masyarakat, serta mekanisme penyelesaian yang dapat diterima semua pihak.

Di tengah besarnya ketergantungan masyarakat terhadap lahan sebagai sumber ekonomi, kepastian hak kelola menjadi hal penting. 

Penyelesaian yang transparan dan sesuai ketentuan diharapkan dapat mencegah munculnya konflik berkepanjangan di kemudian hari.

Senin, 11 Mei 2026

Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak

Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak
Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak.
Kita lanjutkan kisah kezaliman juri LCC 4 Pilar MPR RI. Kita sudah bejjek Dyastasita WB, juri yang ngasih skor -5. Sekarang giliran kawan jurinya yang meng-skakmat regu SMAN 1 Pontianak dengan teriakan “artikulasi.” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Namanya Indri Wahyun. Sekarang ia bukan lagi sekadar nama pejabat di lingkungan Setjen MPR RI. Di mata netizen, dia sudah berubah jadi simbol kemarahan nasional. Simbol bagaimana anak SMA bisa dipermalukan di depan publik hanya gara-gara satu mantra sakti yang diucapkan berkali-kali seperti kaset rusak, “artikulasi”.

Dia adalah Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi Setjen MPR RI. Jabatan elite. ASN eselon III. Orang penting dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar kebangsaan. Tapi ironinya luar biasa. Saat rakyat berharap melihat lomba cerdas cermat penuh sportivitas, yang muncul justru drama penilaian yang bikin publik merasa sedang menonton pengadilan anak SMA dengan hakim paling dingin sedunia.

Dalam Final LCC 4 Pilar Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026, Indri Wahyuni bersama Dyastasita Widya Budi langsung menjadi pusat amarah publik. Bukan karena ketegasan yang bijak. Tapi karena dianggap terlalu ngotot membela keputusan juri sampai publik merasa akal sehat sedang ditabrak truk kontainer.

Kalimat legendarisnya langsung meledak di internet, “Artikulasi itu penting... Dewan juri berhak memberikan nilai -5.”

Selesai. Tamat. Indonesia mendidih.

Netizen langsung bereaksi seperti gunung meletus. Timeline X berubah jadi arena gladiator digital. Nama Indri Wahyuni dilempar ke mana-mana dengan julukan “Mrs Artikulasi”, “Bu Artikulasi”, sampai “Ratu Minus Lima”. Orang-orang marah bukan cuma karena skor. Tapi karena melihat siswa SMA seperti sedang diadili oleh birokrasi yang kehilangan rasa empati.

Publik merasa para peserta diperlakukan seperti robot pidato Istana. Sedikit pelafalan meleset langsung dihukum brutal. Seolah lomba kebangsaan berubah jadi audisi penyiar radio tahun 1987. Netizen pun ngamuk karena yang dipermasalahkan bukan substansi jawaban, melainkan cara pengucapan. Indonesia yang tiap hari ribut soal korupsi, jalan rusak, dan harga pangan tiba-tiba dipaksa percaya masa depan bangsa ditentukan huruf “R”.

Yang bikin kemarahan makin liar, Indri dianggap paling defensif. Bukannya meredakan suasana, publik justru melihat sikap yang dianggap menyalahkan siswa. Internet Indonesia punya aturan tak tertulis. Jangan pernah terlihat arogan di depan anak sekolah. Sekali publik merasa pelajar dizalimi, gelombang amarahnya bisa lebih ganas dari suporter bola kalah final.

Netizen mulai membongkar profilnya. Jabatan. Aktivitas kelembagaan. Sampai LHKPN. Data tahun 2025 menunjukkan total kekayaan bersihnya mencapai Rp3.986.628.752. Aset tanah dan bangunan di Palembang mencapai Rp4,35 miliar. Ada harta bergerak Rp525 juta, kas Rp110 juta, serta utang hampir Rp1 miliar. Semua angka itu kini ikut diseret ke tengah kemarahan publik, seolah rakyat sedang berkata, “Dengan jabatan dan fasilitas sebesar itu, masa menangani anak SMA saja publik merasa tidak adil?”

Yang lebih ironis lagi, Indri selama ini aktif dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan dan berbagai LCC daerah. Tapi kini namanya justru viral sebagai tokoh yang dianggap merusak citra lomba pendidikan. Belum ditemukan akun media sosial pribadinya. Hanya muncul di akun resmi kelembagaan seperti Instagram Badan Sosialisasi MPR, IG @badsosmpr,  dan akun resmi MPR, IG @mprgoid. 

Sekarang, setiap kata “artikulasi” di internet terasa seperti sirene perang. Publik telanjur marah besar. Di mata netizen, ini bukan lagi soal lomba. Ini soal kesombongan kekuasaan kecil yang dianggap menghancurkan semangat anak-anak daerah di depan jutaan orang.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi

Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi
Pesta Babi dan Meja Makan Para Dewa Investasi.
Tulisan ini agak panjang. Mirip laporan investigasi. Saya mesti riset dulu karena isunya sangat sensitif. Saat riset ditemani Koptagul asal Sorong, Kopi Senang. Masih ada di rak dapur, oleh-oleh pernah empat hari berada di ibukota Papua Barat Daya. Simak narasinya sambil seruput Kopi Senang, wak!

Papua sekarang seperti meja makan raksasa. Di atas meja itu ada peta hutan, tanah adat, sungai, rawa, sagu, babi, manusia. Duduklah para bangsawan proyek nasional sambil membawa istilah manis: ketahanan pangan, hilirisasi, bioetanol, transisi energi, dan PSN. Semua terdengar ilmiah, modern, futuristik. Padahal kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat, “Hutan kalian kami pinjam dulu, mungkin selamanya.”

Film dokumenter Pesta Babi seolah membuka tirai kasino raksasa bernama Papua Selatan. Di sana, sekitar 2 juta hektare hutan disiapkan untuk tebu bioetanol, padi, sawit, dan agribisnis skala dewa. Dua juta hektare. Itu bukan lagi proyek pembangunan. Itu operasi bedah geografi. Hutan dibuka seperti kaleng sarden. Sementara rakyat adat diminta percaya, semua ini demi masa depan bangsa. Bangsa yang mana dulu nih?

Di tengah hiruk-pikuk proyek itu, satu kalimat terus menggema dari masyarakat adat, mahasiswa Papua, aktivis lingkungan, sampai diskusi-diskusi kampus yang dibubarkan, “Papua bukan tanah kosong.” Kalimat sederhana, tapi seperti tamparan keras ke wajah logika investasi yang melihat hutan hanya sebagai lahan tidur. Sebab bagi banyak elite pembangunan, tanah dianggap hidup kalau sudah ada alat berat, pagar perusahaan, dan papan bertuliskan “Proyek Strategis Nasional.” Sebelum itu? Dianggap kosong. Sunyi. Belum produktif. Seolah manusia yang hidup turun-temurun di sana cuma wallpaper alam.

Padahal bagi suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, hutan bukan tanah kosong. Itu supermarket, rumah sakit, sekolah, pasar, bank kehidupan, sekaligus rumah leluhur. Sungai bukan sekadar aliran air, tapi jalur sejarah. Pohon sagu bukan sekadar tanaman, tapi jaminan hidup. Maka ketika negara dan korporasi datang membawa peta konsesi, masyarakat adat merasa bukan hanya tanah mereka yang diambil, tapi juga ingatan dan masa depan mereka.

Tradisi Pesta Babi dalam film itu menjadi simbol yang menyakitkan. Orang Papua memelihara babi bertahun-tahun untuk pesta antar-klan. Babi bukan sekadar hewan. Ia simbol relasi sosial, harga diri, budaya, dan ikatan komunitas. Tapi bagaimana mau pelihara babi kalau hutannya dibabat? Mau kasih makan apa? PowerPoint kementerian?

Lalu datanglah ironi paling mahal di republik ini, proyek yang katanya untuk ketahanan pangan justru mengancam sumber pangan asli masyarakat adat. Ini seperti orang merampas dapur ibunya lalu berkata, “Tenang Bu, nanti kami kirim mi instan.”

Data 2025 memperlihatkan lonjakan deforestasi Papua yang seperti roket lepas kendali. Tahun 2024 sekitar 17.341 hektare hilang. Tahun 2025 melonjak jadi 77.678 hektare. Naik 348 persen. Tambahan lebih dari 60 ribu hektare dalam setahun. Kalau hutan bisa teriak, mungkin seluruh Papua sudah terdengar sampai Jakarta. Kabupaten Merauke jadi salah satu titik paling brutal. Sementara Sorong ikut masuk daftar nasional dengan sekitar 7.168 hektare kehilangan hutan pada 2025. Global Forest Watch mencatat Papua Selatan sebagai hotspot kehilangan hutan primer. Tapi tenang, di konferensi pers nanti biasanya ada kata-kata “tetap memperhatikan keberlanjutan.”

Yang lebih membuat bulu kuduk berdiri adalah pola pengamanannya. Berdasarkan riset independen Project Multatuli dan Suara Papua akhir 2025, total personel TNI dan Polri organik di Tanah Papua mencapai 83.177 orang. Sekitar 56.517 TNI dan 26.660 Polri. Rasio kasarnya hampir 1 aparat untuk 70 penduduk. Ini Papua atau kompleks NATO tropis?

Lucunya, semua ini disebut demi menjaga stabilitas investasi dan keamanan nasional. Di republik ini, pohon sagu ditebang demi ketahanan pangan, lalu aparat ditambah demi menjaga keamanan akibat konflik yang lahir dari penebangan itu sendiri. Siklusnya indah sekali. Seperti ular memakan ekornya sambil tersenyum.

Film itu juga memperlihatkan sesuatu yang sangat mengganggu para pemuja pembangunan absolut. Rakyat Papua ternyata bisa bicara sendiri. Mereka tidak sedang menunggu diselamatkan. Mereka marah. Mereka sadar. Mereka melawan. Itu rupanya lebih menakutkan dari hutan terbakar.

Jangan heran kalau pemutaran film ini dibubarkan di berbagai tempat. Di Universitas Mataram pada 7 Mei 2026, rektorat dan satpam membubarkan acara sebelum film tayang. Alasannya menjaga kondusivitas kampus. Ada Wakil Rektor III yang menyarankan mahasiswa lebih baik nonton bola. Mungkin karena dribble sepak bola dianggap lebih aman dari dribble fakta.

Besoknya di UIN Mataram, film baru berjalan tiga menit sebelum proyektor dimatikan. Tiga menit saja sudah bikin panik. Kalau satu setengah jam penuh, mungkin langsung dianggap ancaman terhadap stabilitas galaksi.

Di Benteng Oranje, nobar yang diadakan AJI dan SIEJ dibubarkan aparat TNI karena dianggap provokatif. Menarik sekali. Hutan dibabat jutaan hektare tidak provokatif. Tapi film dokumenternya yang dianggap bahaya.

Padahal reaksi banyak orang Papua justru mendukung film itu. Esau Klagilit di Sorong bilang apa yang ditampilkan adalah kenyataan hidup Orang Asli Papua. Aktivis LBH Pos Sorong juga menyebut masyarakat adat terus menjadi korban di tanah sendiri. Banyak mahasiswa Papua di Kalimantan, Bandung, hingga Papua sendiri mendukung pemutaran film karena merasa inilah wajah asli yang selama ini ditutupi jargon pembangunan.

Di tengah semua itu, konflik bersenjata tetap membara. Pemerintah menyebut mereka KKB. Mereka menyebut diri TPNPB-OPM. Tahun 2025 saja tercatat 104 kasus kekerasan. Korbannya 94 orang tewas: 9 TNI, 6 Polri, 64 warga sipil, 15 anggota KKB. Ada 120 orang luka-luka. Ironisnya, warga sipil Papua lagi-lagi jadi korban utama. Papua seperti dipaksa hidup di tengah dua mesin, mesin investasi dan mesin konflik.

Sementara itu mahasiswa Papua turun ke jalan pada 27 April 2026 membawa tema “Papua Darurat Militer” dan “Papua Darurat Kemanusiaan.” Bentrok terjadi di Jayapura, Waena, dan Abepura. Gas air mata ditembakkan. Sekolah diliburkan. Aspirasi diterima DPR Papua dengan janji klasik paling terkenal di Indonesia: “akan diteruskan ke pusat.” Kalimat yang mungkin sudah lebih tua dari pohon-pohon Papua sendiri.

Lalu beberapa hari setelahnya, Persipura kalah 0-1 dari Adhyaksa FC dan gagal promosi ke Liga 1. Stadion ricuh. Kursi rusak. Mobil dibakar. Gas air mata lagi. Bagi banyak orang Papua, Persipura bukan sekadar klub bola. Itu simbol harga diri. Ketika identitas ditekan bertahun-tahun, sepak bola kadang menjadi satu-satunya tempat orang merasa masih punya kebanggaan.

Di sinilah benang merahnya mulai terlihat seperti kabel listrik telanjang. Hutan hilang. Aparat bertambah. Film dibungkam. Mahasiswa turun jalan. Konflik bersenjata berlanjut. Simbol kebanggaan rakyat runtuh. Semua terjadi hampir bersamaan. Seolah Papua sedang diperas dalam kecepatan tinggi agar segera cocok dengan cetak biru investasi nasional.

Yang paling tragis, rakyat Papua sering diposisikan seperti figuran di tanah sendiri. Mereka diminta bersyukur atas pembangunan yang tidak mereka minta, diam atas hutan yang hilang, dan tepuk tangan saat hidup mereka dikonversi menjadi statistik pertumbuhan ekonomi.

Mungkin benar ini bukan kolonialisme lama. Tidak ada lagi topi baja dan kapal perang. Sekarang kolonialisme datang memakai drone, presentasi investasi, istilah green energy, dan rompi proyek strategis nasional. Lebih modern. Lebih wangi. Tapi bagi rakyat yang hutannya hilang, hasil akhirnya tetap sama, mereka disuruh minggir dari meja makan. Sementara pesta besar terus berlangsung di atas tanah leluhur mereka sendiri.

“Bang, bagaimana dengan Kalbar sendiri?”

“Mulai mirip Papua juga, wak. Cuma belum ada filmnya saja.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Veda Ega yang Patut Kita Banggakan

Veda Ega yang Patut Kita Banggakan
Veda Ega yang Patut Kita Banggakan.
Awali Senin dengan senyuman, maksudnya dengan berita yang membanggakan. Soalnya hampir setiap hari kita membaca berita korupsi merajalela, narkoboy, judol, pejabat ditangkap, dll. Kali ini kita sebagai rakyat Indonesia patut bangga untuk Veda Ega  yang bersinar di Moto3. 

“Bukannya yang membanggakan negeri ini, MBG dan Kopdes, Bang.”

“Hus, ente ni jangan nyinggung itulah. Ini cerita balap-membalap.” Ups

Maaf, kawan saya itu mulutnya lamir, efek belum kena Koptagul, wak. Kita lanjutkan soal balap. Namanya, Veda Ega Pratama. Anak muda Indonesia yang sekarang mulai bikin paddock Moto3 gelisah seperti caleg gagal lihat hasil quick count.

Di GP Prancis 2026 di Bugatti Circuit, Veda finis keempat. Tambahan 13 poin membuat rider Honda Team Asia itu kini mengoleksi 50 poin dan duduk di posisi kelima klasemen sementara Moto3 2026. Posisi lima! Ini bukan lomba balap karung tujuhbelasan. Ini Moto3, tempat bocah-bocah Eropa menikung seperti utang pinjol sudah jatuh tempo.

Yang bikin dunia balap mulai batuk kecil sambil melirik curiga adalah catatan awal Veda ternyata lebih ganas dibanding debut Valentino Rossi dan Marc Marquez.

Rossi pada debut 125cc musim 1996 cuma mengumpulkan 33 poin dalam empat balapan awal. Marquez malah lebih seret lagi. Debut 125cc musim 2008, dia hanya dapat empat poin dari empat race awal. Sementara Veda? Lima seri awal langsung 50 poin.

Lima puluh!

Ini angka yang bikin paddock Moto3 mulai bertanya, “ini anak Indonesia dikasih makan apa?” Karena selama ini Indonesia dikenal sebagai bangsa penonton MotoGP paling barbar sedunia. Jam dua pagi rela begadang sambil teriak di depan TV seperti komentator bayaran. Tapi sekarang beda. Indonesia mulai punya monster sendiri.

Sebelumnya Veda sudah naik podium di GP Brasil. Sekarang finis keempat di Le Mans. Total 50 poin membuatnya menggeser Marco Morelli yang turun ke posisi keenam dengan 48 poin. Jarak ke Valentin Perrone di posisi empat cuma dua poin. Ke Alvaro Carpe di posisi tiga hanya tiga angka. Tipis sekali. Lebih tipis daripada janji politik menjelang pemilu.

Memang Maximo Quiles masih nyaman di puncak klasemen dengan 115 poin bersama CFMOTO Gaviota Aspar Team. Adrian Fernandez juga masih kuat di posisi kedua dengan 69 angka. Tapi masalahnya bukan di situ. Yang bikin kagum adalah untuk pertama kalinya Indonesia tidak cuma numpang lewat di arena Grand Prix.

Selama ini kita cuma jadi penonton fanatik. Beli jersey, debat Rossi vs Marquez sampai putus silaturahmi, tapi pembalap Indonesia sendiri jarang benar-benar diperhitungkan. Veda mengubah itu semua.

Seperti biasa, kalau ada prestasi begini, para pejabat mulai siap-siap pidato, seolah sejak bayi mereka sudah mengajari Veda racing line. Padahal dulu mungkin proposal olahraga nyasar di bawah map studi banding.

Tapi sudahlah. Kali ini rakyat mau menikmati saja. Karena akhirnya ada anak Merah Putih yang bikin dunia balap melirik Indonesia bukan karena pasar penonton terbesar, melainkan karena ancaman baru di lintasan.

Veda Ega Pratama bukan cuma pembalap muda. Dia sedang berubah menjadi simbol, anak Indonesia ternyata bisa ikut mengacak-acak arena yang selama ini terasa eksklusif milik Eropa.

Jujur saja, melihat Merah Putih mulai diperhitungkan di Grand Prix dunia rasanya lebih menyegarkan dari mendengar pidato pejabat yang katanya “menuju Indonesia emas” sambil rakyat masih debat panas soal “benaran swasembada pangan.” 

Untuk sekarang, biarkan dulu rakyat menikmati ini. Sebab di tengah berita yang isinya sering bikin migrain nasional, akhirnya ada satu kabar yang membuat Indonesia bisa tersenyum tanpa perlu sensor dan klarifikasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Sabtu, 09 Mei 2026

Mengenal Chyntia, Bupati Sitaro Diduga Makan Rp22,7 M Diborgol Kejati

Mengenal Chyntia,  Bupati Sitaro Diduga Makan  Rp22,7 M Diborgol Kejati
Mengenal Chyntia, Bupati Sitaro Diduga Makan Rp22,7 M Diborgol Kejati.
Biasanya cewek itu halus perasaannya. Tidak dengan bupati cewek ini. Bantuan untuk korban letusan gunung api malah disikat sampai 70 persen, senilai Rp22,7 miliar. Predikat tikus got gorong-gorong pun melekat, dan harus diborgol Kejati Sulut. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Namanya Chyntia Ingrid Kalangit, lahir di Manado pada 6 April 1985. Ia anak sulung pasangan pendidik Drs Hans Kalangit M Si dan Dra Carolin Manuahe M Si. Lulusan S.KM Universitas Sam Ratulangi. Pernah jadi PNS. Pensiun dini. Jadi pengusaha. Menikah dengan Reinol Tumbio SE. Punya empat anak; Floreinchya, Frainny, Frailly, dan Fabian. Paket lengkap perempuan sukses Sulawesi Utara. Kalau dibikin brosur kampanye, tinggal tambah musik piano sedih dan footage drone laut Sitaro, langsung menang penghargaan pencitraan nasional.

Memang benar, rakyat dibuat terharu. Didukung Golkar, Gerindra, NasDem, PSI, PKB, dan Hanura, Chyntia melenggang jadi Bupati Sitaro periode 2025–2030 dengan kemenangan telak 56,22 persen suara. Satu-satunya bupati perempuan di Sulawesi Utara. Simbol perempuan tangguh. Simbol perubahan. Simbol harapan.

Sayangnya, harapan rakyat ternyata mungkin cuma dijadikan proposal proyek.

Baru beberapa bulan duduk di kursi bupati definitif setelah masa Penjabat Bupati, nama Chyntia justru meledak bukan karena prestasi, tapi dugaan korupsi bantuan erupsi Gunung Ruang. Ini bukan angka receh hilang di kantong celana. Total dana bantuan stimulan rumah korban bencana mencapai Rp35,7 miliar. Dari jumlah itu, dugaan kerugian negara mencapai Rp22,7 miliar. Hampir 70 persen! Astaga. Gunung Ruang meletus saja mungkin malu melihat daya ledak kasus ini.

Ngana bayangkan itu. Rakyat Tagulandang kehilangan rumah. Ada yang tidur di pengungsian. Ada yang menunggu semen, seng, kayu, dan bantuan untuk membangun hidup lagi. Tapi menurut dugaan penyidik, justru terjadi permainan penunjukan toko penyalur, proyek material “titipan”, sampai lingkaran distribusi yang aromanya makin dekat ke kroni kekuasaan. Bantuan BNPB yang seharusnya langsung menyelamatkan warga malah diduga dijadikan ATM berjalan oleh elite yang mestinya melindungi rakyat.

Ini bikin orang muak setengah mati. Bencana alam saja belum selesai, eh datang lagi bencana moral dari pejabat sendiri. Abu vulkanik belum hilang dari atap rumah warga, tapi aroma busuk korupsi sudah lebih dulu memenuhi udara politik Sulawesi Utara.

Lucunya, pola pejabat negeri ini selalu sama. Saat kampanye ngomong pengabdian, kesejahteraan, perempuan hebat, dekat rakyat, siap melayani. Begitu duduk di kursi empuk, APBD dan bantuan bencana diperlakukan seperti saldo e-wallet keluarga. Seolah jabatan itu bukan amanah, tapi franchise rebutan untuk memperkaya diri sebelum periode habis.

Pendidikan kesehatan masyarakat yang dimiliki Chyntia mestinya dipakai untuk menolong rakyat yang sedang trauma akibat bencana. Tapi kalau dugaan ini benar, ilmu itu malah lebih cocok disebut ilmu menyehatkan rekening kroni. Sungguh efisien. Satu jabatan, satu kasus, ratusan keluarga menjerit, puluhan miliar melayang.

Tanggal 6 Mei 2026 malam jadi episode paling memalukan dalam drama ini. Setelah diperiksa sekitar sembilan jam oleh Kejati Sulut, Chyntia langsung mengenakan rompi oranye dan ditahan di Rutan Malendeng selama 20 hari ke depan. Dari kepala daerah jadi headline kriminal. Dari baliho senyum manis jadi foto tahanan. Cepat sekali roda kekuasaan berputar kalau aparat sedang rajin.

Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan cuma angka Rp22,7 miliar itu. Tapi kenyataan, uang tersebut diduga berasal dari penderitaan rakyat yang baru kena musibah. Ini bukan korupsi proyek taman kota. Ini dana korban gunung meletus. Dana orang susah. Dana orang yang hidupnya hancur dalam semalam.

Di negeri ini, selalu ada pejabat yang tega mengubah tangisan rakyat menjadi peluang bisnis. Rakyat disuruh sabar. Rakyat disuruh kuat. Tapi elite malah diduga sibuk menghitung setoran. Kadang rasanya korupsi di Indonesia bukan lagi kejahatan, tapi budaya onboarding sebelum masuk kekuasaan. Tinggal pilih mau makan bansos, proyek jalan, tambang, atau bantuan bencana.

Sungguh, kita bukan cuma marah. Kita sudah muak sampai tulang belakang. Kalau bantuan korban gunung api saja masih tega dimainkan, lalu apa lagi yang belum sempat mereka makan?

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Ngacirnya Pak Ahmad Lebih Geger dari Pesta Babi

Ngacirnya Pak Ahmad Lebih Geger dari Pesta Babi
Ngacirnya Pak Ahmad Lebih Geger dari Pesta Babi.
Pesta Babi memang lagi heboh, sepakat. Tahu ente ndak wak, justru Pak Ahmad jauh lebih geger. Begitu keluar gedung KPK, ia lari terbirit-birit, ngacir kencang, pakai langkah seribu. Asli saya yang nonton videonya sampai kram perut ngakak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia memang negeri ajaib. Di saat rakyat masih ribut soal pesta babi yang bikin jagat maya mendidih, tiba-tiba muncul tontonan baru yang jauh lebih menghibur. Seorang pegawai Bea Cukai keluar dari Gedung KPK lalu berubah jadi atlet lari nasional dadakan.

Namanya Ahmad Dedi. Sumpah, gegernya lebih heboh dari pesta babi. Kalau pesta babi bikin netizen debat soal deforestasi di Papua, aksi Pak Ahmad justru menyatukan bangsa. Semua kompak tertawa. Semua kompak bertanya, “Kenapa bapak lari?”

Video itu sekarang sudah seperti warisan budaya digital Indonesia. Begitu keluar dari Gedung Merah Putih KPK, wartawan mendekat pelan seperti singa mengintai rusa. Kamera siap. Mic siap. Pertanyaan siap.

“Pak Ahmad, boleh komentar?” Eh beliau malah aktifkan mode escape. Bukan jalan cepat ya. Ini lari tipe “aku baru lihat tagihan pinjol tiga generasi.” Langkahnya panjang. Kencang. Fokus. Tatapannya lurus ke depan seperti habis dengar suara sirene kiamat.

Wartawan sampai teriak, “Jangan lari pak!” Tapi Pak Ahmad terus melesat menuju arah Royal Kuningan. Kamera goyang. Nafas wartawan putus-putus. Satu reporter hampir nyerah lalu buka lowongan kerja baru di LinkedIn karena merasa profesinya berubah jadi pelari estafet.

Netizen langsung heboh. Ada yang bilang beliau cocok masuk Olimpiade cabang “menghindari kenyataan.” Ada yang usul Kementerian Pemuda dan Olahraga segera menghubungi beliau untuk Asian Games. Karena jujur saja, sejak video itu muncul, pesta babi langsung tenggelam. 

Biasanya Indonesia kalau ada isu heboh bisa tahan seminggu. Tapi ini beda. Timeline langsung penuh analisis langkah kaki Pak Ahmad. Bahkan ada yang menghitung kecepatan larinya pakai ilmu fisika SMA. Katanya kalau ditambah efek suara Naruto, beliau bisa menembus dimensi Bea Cukai Multiverse.

Yang bikin rakyat makin ngakak adalah konteksnya. Beliau diperiksa KPK terkait dugaan penerimaan uang dalam perkara importasi barang di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai. KPK mendalami kemungkinan adanya aliran dana dari pihak swasta, termasuk PT Blueray. Nah di sinilah aroma sinetron birokrasi mulai tercium.

Menurut KPK, ada dugaan pengaturan jalur impor supaya barang-barang tertentu bisa masuk tanpa pemeriksaan ketat. Bahasa sederhananya, barang lewat seperti tamu VIP di kondangan pejabat. Tidak dicek. Tidak ditanya. Tinggal lewat sambil senyum.

Padahal rakyat kecil kalau beli barang online dari luar negeri kadang diperlakukan seperti mau impor tank tempur. Beli sepatu? Dicek. Beli tas? Dicek. Beli action figure? Ditahan dulu seperti tersangka kriminal lintas negara. Tapi kalau dugaan ini benar, barang KW malah bisa melenggang santai seperti anak magang titipan. Luar biasa.

KPK juga sudah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus ini. Ada pejabat Bea Cukai dan pihak swasta. Nama-namanya panjang seperti line-up grup WA proyek nasional. Namun tetap saja, di mata rakyat, bintang utama episode ini bukan daftar tersangka.

Tapi Pak Ahmad dan jurus langkah seribunya. Karena jujur saja, rakyat Indonesia itu gampang lupa kasus korupsi. Saking seringnya, otak sudah kebal. Tapi kalau ada pejabat sprint dari wartawan seperti dikejar 40 ormas, nah itu baru membekas di hati.

Bahkan ada yang bilang, “Kalau benar tidak bersalah, kenapa lari?” Pertanyaan sederhana, tapi menghantui republik ini lebih lama dari lagu jedag-jedug TikTok.

Begitulah negeri saya, negeri ente, dan negeri kita, wak. Negeri tempat pesta babi bisa kalah viral oleh bapak-bapak kemeja putih yang mendadak jadi Mardi Lestari.

Besok-besok mungkin wartawan investigasi wajib tes VO2 max sebelum liputan. Siapa tahu narasumber berikutnya bukan cuma lari, tapi sekalian parkour lewat halte TransJakarta.

Satu hal yang pasti. Di negara ini, korupsi mungkin sudah biasa. Tapi koruptor cardio? Nah, itu hiburan premium. Selamat menikmati malam minggu dengan segelas Koptagul. Don’t miss it!

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Timnas Futsal Tembus Ranking 14, Timnas U17 Selangkah Lagi ke Piala Dunia

Timnas Futsal Tembus Ranking 14, Timnas U17 Selangkah Lagi ke Piala Dunia
Timnas Futsal Tembus Ranking 14, Timnas U17 Selangkah Lagi ke Piala Dunia.
Netizen sering bertanya, apa sih yang dibanggakan dari negeri kita, Bang? Faktanya, negeri ini tiap hari dihajar korupsi, narkoba, judol, mafia proyek, dan politisi yang kalau bohong mukanya tetap tenang seperti kasur hotel bintang lima. Sabar, ngana ajak ngopi dulu tu Bupati Sitaro, Chyntia yang baru dijebloskan ke jeruji. Yang jelas, ada yang patut dibanggakan.

Timnas Futsal Indonesia naik ke peringkat 14 dunia! Lalu, Timnas U17 selangkah lagi ke Piala Dunia. Gimana bangga ndak? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Empat belas dunia! Dunia! Bukan ranking RW, bukan juara lomba pidato “kami mendengar aspirasi rakyat”, bukan juga juara bertahan cabang olahraga lempar tanggung jawab. Ini FIFA! Organisasi yang tidak peduli siapa pamanmu yang sudah pensiun.

Indonesia melompat brutal dari posisi 24 ke 14 dunia. Naiknya bukan pelan-pelan seperti pembangunan jalan proyek lima tahun yang baru jadi pas pemilu mau datang. Ini naiknya seperti emak-emak lihat diskon minyak goreng, ganas, cepat, tanpa ampun!

Di Asia, Indonesia sekarang duduk di posisi keempat. Di bawah Iran, Thailand, dan Jepang. Sidak bayangkan! Jepang yang biasanya bikin kita minder karena teknologinya sudah seperti anime hidup, kini mulai merasakan napas Garuda di tengkuk mereka. Vietnam juga dibabat. Dulu kita sering dihina cuma jago bikin komentar “semangat Garuda” di media sosial. Sekarang? Lawan mulai deg-degan lihat Indonesia masuk lapangan.

Semua ini terjadi karena Timnas Futsal Indonesia menggila di Piala Asia Futsal AFC 2026. Anak-anak Garuda melaju sampai final. Mereka menghajar tim-tim kuat seperti Vietnam dan Jepang. Di final lawan Iran, Indonesia memang kalah adu penalti 4-5 setelah drama skor 5-5. Tapi kalah kayak gitu lebih terhormat dari kalah pemilu lalu tiba-tiba bilang “demokrasi dicederai” sambil tetap rebutan kursi komisaris.

Belum selesai sampai situ. Indonesia juga masuk final Kejuaraan Futsal ASEAN 2026 sebelum kalah tipis 1-2 dari Thailand. Artinya apa? Artinya Asia Tenggara sekarang mulai sadar kalau Indonesia bukan cuma pasar mi instan dan penonton TikTok, tapi monster baru futsal Asia.

Malam ini, rasa bangga rakyat Indonesia akan diuji lagi. Qatar U-17 akan menghadapi Timnas Indonesia U-17 pukul 23.30 WIB, Sabtu malam. Sebelumnya Garuda Muda sukses menaklukkan China 1-0. Iya, China! Negara yang bikin semua barang di dunia dari sendok sampai satelit. Kalau malam ini Indonesia menang lawan Qatar, Garuda Muda resmi lolos ke Piala Dunia U-17.

Sepak bola dan futsal memang ajaib. Mereka bisa menyatukan rakyat lebih cepat dari program pemerintah mana pun. Tidak perlu baliho senyum politisi ukuran dinosaurus. Tidak perlu slogan “bersama rakyat” sambil naik mobil alphard. Cukup satu gol Indonesia, seluruh warung kopi berubah jadi parlemen rakyat paling jujur di muka bumi.

Yang paling lucu, prestasi ini lahir justru ketika banyak elite sibuk pamer pencitraan. Atlet-atlet kita bertanding dengan fasilitas yang kadang bikin sedih. Tapi mental mereka keras seperti kerupuk kena matahari. Sementara sebagian pejabat baru kena kritik sedikit sudah ngambek seperti mantan belum move on.

Pelatih Hector Souto sukses mengubah Garuda menjadi makhluk buas. Main cepat, disiplin, ganas. Sangat berbeda dengan sebagian elite negeri ini yang gerakannya lambat kalau urusan rakyat, tapi super cepat kalau pembagian jabatan.

Hari ini rakyat Indonesia pantas bangga. Karena di tengah negeri yang kadang terasa seperti reality show absurd tanpa ending, ternyata masih ada anak-anak muda yang membuat Merah Putih naik tinggi lewat keringat, bukan lewat drama.

Jujur saja, satu gol Timnas rasanya jauh lebih menyentuh dari seribu janji politik yang biasanya hilang lebih cepat dari es teh gratis saat kampanye.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Minggu, 03 Mei 2026

Mengenal Erwin, Sahabat Dekat yang Sudah Menyandang Gelar Profesor

Mengenal Erwin, Sahabat Dekat yang Sudah Menyandang Gelar Profesor
Mengenal Erwin, Sahabat Dekat yang Sudah Menyandang Gelar Profesor.
Saya merasa senang sekaligus kagum. Ini bukan kalimat pembuka basa-basi yang biasa dipakai orang saat kehabisan ide, tapi benar-benar perasaan datang seperti banjir bandang di musim hujan. Sahabat saya resmi menjadi Guru Besar. Profesor. Prof Dr Erwin Mahrus, M.Ag. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Ia memang layak. Bukan karena ia pandai tampil, tapi karena ia terlalu sibuk bekerja. Kecintaannya pada sejarah Islam, khususnya di Kalimantan, itu bukan lagi hobi, itu sudah seperti hubungan serius tanpa jeda. Dari dulu, saat kami masih kuliah, ia dikenal cerdas, cepat, dan… agak “tidak sehat” dalam arti positif. Orang lain membaca untuk ujian, dia membaca untuk membongkar dunia. Tak main-main.

Saya pernah ke rumahnya. Rumah sederhana di Tebas, Sambas. Anak petani. Tidak ada aura “ini calon profesor besar” yang biasanya dibayangkan orang, tidak ada perpustakaan megah, tidak ada pendingin ruangan yang bikin mikir lebih cepat. Tapi di situlah letak keajaibannya. Dari tempat sederhana itu lahir pikiran yang sanggup menembus batas daerah, bahkan menembus lupa.

Kami pernah berkolaborasi menulis buku. Waktu itu saat saya masih wartawan yang energinya lebih banyak dari ilmunya, dan ia baru tamat S2 tapi pikirannya sudah seperti dosen yang lagi menilai skripsi dunia. Kami memburu satu nama, Syech Ahmad Khatib Sambas. Ini bukan tokoh sembarangan. Disebut oleh Martin van Bruinessen dan Prof. Dr. H. Said Agil Siradj. Pendiri tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah. Penulis Fathul Arifin. Guru para ulama Nusantara. Levelnya kalau diibaratkan sekarang, bukan influencer, tapi “influencer para influencer.”

Masalahnya satu. Di Sambas sendiri, orang tak kenal. Ini bukan sekadar ironi. Ini sudah masuk kategori “lupa berjamaah.” Kami keliling dari Tebas, Teluk Keramat, sampai Sambas. Bertanya ke sana-sini. Hasilnya? Nihil. Kosong. Sejarah seperti menghilang, mungkin ikut merantau.

Tapi kami nekat. Seperti cerita film yang kalau ditulis terasa lebay tapi ini nyata, kami akhirnya sampai di Selakau. Bertemu seorang pengurus masjid yang entah bagaimana seperti dikirim khusus oleh semesta. Dari tangannya keluar kitab Fathul Arifin. Di situ saya hampir merasa seperti menemukan harta karun. Bedanya ini tidak bisa dijual, ini harus diselamatkan.

Kami pinjam, fotokopi, lalu kembalikan. Dari situlah lahir buku Shaykh Ahmad Khatib Sambas (1803–1875). Buku itu diluncurkan di Hotel Kapuas, dibedah oleh KH Said Agil Siradj. Sampai sekarang masih dicari. Nuan bayangkan, dari pencarian yang awalnya seperti “misi bunuh diri intelektual”, lahir karya yang justru jadi rujukan. Ini bukti, kadang yang nekat itu bukan yang bodoh, tapi yang belum kehabisan harapan.

Sebagai akademisi, Prof. Dr. Erwin Mahrus, M.Ag. bukan tipe yang sibuk membuat sensasi. Ia membuat karya. Dengan sekitar 843 sitasi di Google Scholar, ia membangun reputasi yang tidak teriak-teriak tapi berdiri tegak. Karyanya “Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam” (bersama Syamsul Kurniawan) sangat banyak dikutip, lalu “Falsafah dan Gerakan Pendidikan Islam: Maharaja Imam Sambas, Muhammad Basiuni Imran (1885–1976)”, “Sejarah Pendidikan Islam”, “Shaykh Ahmad Khatib Sambas (1803–1875)”, dan berbagai tulisan tentang naskah Islam Sambas, moderasi beragama, hingga transmisi ilmu di Borneo. Ini bukan sekadar daftar, ini seperti “menu utama” bagi siapa pun yang serius belajar Islam di Kalimantan.

Ia dosen senior di IAIN Pontianak, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Fokusnya jelas, sejarah pendidikan Islam, tokoh ulama Kalimantan Barat, tasawuf, naskah klasik Borneo. Ia juga aktif sebagai editor jurnal, peneliti, pembicara, dan reviewer. Kalau diibaratkan mesin, ini bukan mesin biasa, ini mesin diesel. Tidak ribut, tapi tahan lama dan kuat menarik beban.

Sekarang, gelar Guru Besar di bidang Sejarah Pendidikan Islam resmi melekat. Sebuah pengakuan yang terasa seperti “akhirnya sistem akademik tidak salah pilih.” Di saat kita sering melihat orang naik cepat karena jalur yang… ya sudahlah, kita semua tahu, sosok seperti beliau justru naik pelan tapi pasti. Seperti air mendidih, diam, tapi pasti sampai titiknya.

Kisahnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sering dilupakan, menjadi besar itu tidak harus berisik. Anak petani dari Tebas bisa menjadi profesor yang karyanya dikutip ratusan kali. Mencari kitab tua di kampung orang bisa lebih bermakna dari debat panjang yang tak menghasilkan apa-apa.

Yang paling penting, ia membuktikan, ilmu itu bukan sekadar untuk diketahui, tapi untuk diperjuangkan. Kadang harus jalan jauh, kadang harus ditertawakan karena “ngapain sih cari hal begituan,” tapi pada akhirnya, dunia akan diam sejenak… lalu mengakui.

Saya kagum. Bukan karena ia profesor. Tapi karena ia tetap menjadi orang yang sama, yang dulu nekat mencari sejarah yang hilang, dan sekarang justru menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Maaf tak bisa ngirimkan karangan bunga atau flyer, cukup dengan tulisan ini saya ucapkan, “Selamat dan Sukses buat sahabat saya, Prof. Erwin.” Ada waktu kita ngopi, wak!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM