Selasa, 21 April 2026
Senin, 20 April 2026
Dua Kasus Kekerasan Dendam Terungkap, Air Keras dan Penikaman Jadi Sorotan
![]() |
| Dua kasus kekerasan berbasis dendam terungkap, penyiraman air keras terhadap aktivis dan penikaman tokoh politik jadi sorotan aparat. (Ilustrasi) |
JAKARTA - Fenomena kekerasan berbasis dendam kembali menjadi perhatian publik setelah dua kasus berbeda di Indonesia terungkap dalam waktu berdekatan. Satu kasus berupa penyiraman air keras terhadap seorang aktivis, sementara kasus lain berujung penikaman yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Kedua peristiwa ini menunjukkan bagaimana konflik personal dan dendam lama dapat berkembang menjadi tindakan kriminal serius dengan dampak luas.
Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis, Motif Dendam Pribadi Terungkap
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sempat memicu spekulasi luas di masyarakat.
Sejak awal kejadian, berbagai dugaan bermunculan di ruang publik, termasuk kemungkinan adanya motif politik di balik serangan tersebut.
Namun, fakta hukum yang diungkap dalam proses persidangan menunjukkan arah berbeda.
Dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada 16 April 2026, pihak Oditurat Militer II-07 Jakarta menyatakan bahwa penyiraman tersebut dipicu oleh dendam pribadi.
Empat prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) ditetapkan sebagai pelaku dalam kasus ini. Motif yang diungkap bukan terkait aktivitas korban sebagai aktivis, melainkan konflik personal yang berkembang menjadi rencana balas dendam.
Penggunaan air keras dalam serangan ini dinilai sebagai bentuk kekerasan yang berdampak permanen terhadap korban, baik secara fisik maupun psikologis.
Penikaman Di Maluku Diduga Berkaitan Dengan Konflik Lama
Kasus kedua terjadi di wilayah Maluku, di mana seorang tokoh politik daerah menjadi korban penikaman hingga meninggal dunia.
Korban diketahui merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar di Maluku Tenggara.
Nama Nus Kei muncul dalam rangkaian penyelidikan kasus tersebut. Sosok ini diketahui memiliki rekam jejak panjang dalam sejumlah konflik di wilayah Maluku.
Pihak berwenang menduga penikaman ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan konflik lama yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Wilayah Maluku sendiri memiliki sejarah konflik sosial yang panjang, sehingga potensi munculnya kekerasan akibat dendam personal maupun kelompok tetap menjadi perhatian aparat keamanan.
Dendam Pribadi Masih Jadi Pemicu Utama Kekerasan
Dua kasus ini menunjukkan pola serupa, yakni konflik personal yang tidak terselesaikan berujung pada kekerasan.
Dalam banyak kasus kriminal, motif dendam sering kali berawal dari masalah kecil yang berkembang tanpa penyelesaian yang tepat.
Ahli kriminologi menilai bahwa tindakan balas dendam sering dipilih karena pelaku ingin memberikan dampak maksimal terhadap korban, baik secara fisik maupun emosional.
Penggunaan air keras dan senjata tajam merupakan dua metode kekerasan yang kerap digunakan karena efeknya yang besar dan cepat.
Proses hukum yang berjalan dalam dua kasus ini menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem hukum.
Dalam kasus penyiraman air keras, proses peradilan militer menjadi mekanisme utama untuk menindak pelaku yang berasal dari institusi militer.
Sementara itu, dalam kasus penikaman di Maluku, aparat kepolisian terus melakukan penyelidikan guna mengungkap jaringan dan motif yang lebih luas.
Penegakan hukum yang tegas diharapkan mampu memberikan efek jera sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik personal yang tidak diselesaikan dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem.
Upaya penyelesaian konflik melalui jalur hukum, mediasi, maupun komunikasi terbuka dinilai lebih efektif dalam mencegah eskalasi kekerasan.
Kesadaran masyarakat untuk menahan emosi serta mengedepankan penyelesaian damai juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman.
FAQ
1. Apa motif penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS?
Motif yang diungkap dalam persidangan adalah dendam pribadi, bukan motif politik atau organisasi.
2. Berapa jumlah pelaku dalam kasus penyiraman air keras?
Empat prajurit TNI ditetapkan sebagai pelaku dalam kasus tersebut.
3. Siapa korban dalam kasus penikaman di Maluku?
Korban merupakan Ketua DPD Partai Golkar di Maluku Tenggara.
4. Apakah kasus penikaman terkait konflik lama?
Penyelidikan awal menunjukkan kemungkinan keterkaitan dengan konflik lama di wilayah tersebut.
5. Mengapa kekerasan berbasis dendam masih sering terjadi?
Karena konflik personal yang tidak terselesaikan sering berkembang menjadi tindakan balas dendam.
Foto AI hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
Senin, 30 Maret 2026
Heboh Video Viral 7 Menit Ibu Tiri Vs Anak Tiri, Ini Fakta Dan Bahayanya
![]() |
| Heboh video viral 7 menit ibu tiri vs anak tiri picu lonjakan pencarian. Waspada link palsu, ancaman malware, dan risiko hukum UU ITE. |
Jakarta, 30 Maret 2026 – Dalam beberapa hari terakhir, jagat maya Indonesia dihebohkan oleh rumor video berdurasi tujuh menit yang diklaim menampilkan adegan kontroversial dengan latar kebun sawit hingga dapur.
Isu ini cepat menyebar di berbagai platform seperti X (Twitter) dan Telegram, memicu lonjakan pencarian secara masif.
Fenomena ini bukan sekadar tren viral biasa. Para ahli keamanan siber menilai, ini adalah bagian dari pola rekayasa sosial (social engineering) yang dirancang untuk menjebak pengguna internet.
Lonjakan Pencarian dan Efek FOMO Netizen
Kata kunci seperti “video viral 7 menit ibu tiri vs anak tiri” langsung meroket di mesin pencari. Banyak pengguna berlomba mencari link, didorong rasa penasaran dan efek FOMO (Fear of Missing Out).
Namun di balik rasa penasaran itu, tersimpan ancaman serius.
Menurut analisis tren kuartal pertama 2026, pencarian dengan kata kunci “link video viral” memiliki tingkat risiko tertinggi terhadap klik ke situs berbahaya. Ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber sengaja memanfaatkan momentum viral.
Modus Penipuan: Dari Phishing Sampai APK Berbahaya
Skema penipuan yang beredar saat ini semakin canggih. Berikut pola yang paling umum ditemukan:
1. Phishing (Pencurian Data)
Pengguna diarahkan ke halaman login palsu yang menyerupai:
Facebook
Google
X (Twitter)
Begitu korban memasukkan email dan password, akun langsung diambil alih.
2. File APK Berbahaya
Modus yang lebih berbahaya adalah:
Pengguna diminta download “video player”
File berbentuk .apk (Android)
Padahal, file tersebut adalah malware yang bisa:
Membaca SMS (termasuk OTP bank)
Mengakses Mobile Banking
Merekam aktivitas layar
Menguras saldo tanpa disadari
Dampak Nyata: Dari Uang Raib Hingga Pencurian Identitas
Risiko dari klik sembarangan ini tidak main-main:
Kerugian Finansial
Saldo rekening bisa terkuras dalam hitungan menit.
Pencurian Identitas
Data seperti KTP, foto, dan kontak bisa disalahgunakan untuk pinjol ilegal.
Perangkat Jadi Botnet
HP korban bisa dikendalikan untuk serangan siber tanpa diketahui pemiliknya.
Ancaman Hukum: UU ITE Mengintai
Selain risiko teknis, ada konsekuensi hukum yang serius.
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) melarang:
Penyebaran konten melanggar kesusilaan
Distribusi atau akses terhadap konten ilegal
Pelanggaran dapat dikenakan:
Denda hingga miliaran rupiah
Hukuman penjara bertahun-tahun
Artinya, bukan cuma pembuat atau penyebar, pencari dan pengunduh juga bisa terkena dampaknya.
Tips Aman: Jangan Jadi Korban Berikutnya
Agar tetap aman saat berselancar di internet, lakukan langkah berikut:
✅ 1. Jangan Asal Klik Link
Terutama dari akun anonim atau komentar mencurigakan.
✅ 2. Cek Format File
Video asli tidak meminta download APK, EXE, atau RAR.
✅ 3. Aktifkan Safe Browsing
Gunakan fitur keamanan browser untuk deteksi situs berbahaya.
✅ 4. Tolak Semua Izin Aneh
Jika diminta akses kamera, kontak, atau notifikasi — langsung blok.
✅ 5. Verifikasi Informasi
Cek ke media resmi, bukan thread random di medsos.
Kesimpulan: Viral Bukan Berarti Aman
Kasus viral video 7 menit ini jadi bukti bahwa rasa penasaran bisa jadi celah kejahatan siber. Pelaku memanfaatkan emosi pengguna untuk menyebarkan malware dan mencuri data.
Kunci utama di era digital saat ini adalah:
lebih kritis, lebih waspada, dan jangan mudah terpancing.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Dicari)
1. Apakah video 7 menit itu benar ada?
Belum ada sumber resmi yang memverifikasi keberadaan video tersebut.
2. Kenapa banyak link beredar?
Karena dimanfaatkan pelaku untuk penipuan dan penyebaran malware.
3. Apa tanda link berbahaya?
Meminta login, download APK, atau izin akses aneh.
4. Apakah aman jika hanya klik tanpa download?
Tidak selalu aman. Beberapa situs bisa langsung menjalankan script berbahaya.
5. Apa yang harus dilakukan jika sudah terlanjur klik?
Segera:
Hapus file mencurigakan
Ganti password akun
Scan HP dengan antivirus
Senin, 09 Maret 2026
APBN Di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Disorot Ekonom
![]() |
| APBN Indonesia mendapat sorotan setelah kinerja Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menghadapi tekanan fiskal dan potensi defisit anggaran yang meningkat. |
JAKARTA – Perhatian publik terhadap kondisi fiskal Indonesia mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sorotan terutama tertuju pada kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Saat pertama kali menjabat, Purbaya sempat mendapat dukungan luas dari publik. Pernyataannya mengenai pembiayaan proyek kereta cepat Whoosh yang disebut tidak menggunakan APBN sempat menuai apresiasi dari masyarakat.
Namun dalam perkembangannya, sejumlah ekonom mulai mempertanyakan kondisi fiskal pemerintah. Dalam enam bulan terakhir, berbagai indikator ekonomi dinilai belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa kuartal terakhir. Angka tersebut dinilai stabil, tetapi belum memberikan percepatan ekonomi yang diharapkan untuk mendorong pemulihan dan ekspansi ekonomi nasional.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional juga mulai memberi sinyal kehati-hatian. Fitch Ratings merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, sementara Moody's Investors Service turut menyoroti sejumlah risiko fiskal yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Sorotan juga muncul terhadap program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program sosial ini dinilai penting untuk pembangunan sumber daya manusia, namun implementasinya menghadapi tantangan mulai dari kebutuhan anggaran hingga distribusi di lapangan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai sejumlah indikator menunjukkan adanya tekanan terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Salah satunya terlihat dari potensi pelebaran defisit anggaran.
Menurut Bhima, jika harga minyak dunia meningkat, defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,3 persen hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut melewati batas psikologis yang selama ini dijaga pemerintah, yakni di bawah 3 persen dari PDB.
Selain itu, cadangan fiskal atau fiscal buffer pemerintah disebut mulai menurun. Kondisi ini membuat ruang kebijakan fiskal menjadi lebih terbatas ketika pemerintah menghadapi tekanan ekonomi global.
Masalah transparansi anggaran juga ikut disorot. Dokumen APBN 2026 disebut mengalami keterlambatan dalam publikasi kepada masyarakat. Bagi investor global, keterlambatan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan serta akurasi data fiskal pemerintah.
Perubahan kebijakan penggunaan dana desa juga menjadi perhatian. Sekitar 58 persen dana desa disebut dialihkan untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi prioritas pembangunan daerah serta memicu distorsi dalam pengelolaan fiskal lokal.
Di tengah dinamika domestik tersebut, tekanan eksternal juga meningkat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak pada stabilitas pasar energi global.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu konsekuensi dari situasi tersebut. Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent sempat naik menjadi sekitar US$82,53 per barel, mendekati level tertinggi sejak awal 2025.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap APBN. Ahli strategi makro dari Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyarankan pemerintah mempertimbangkan mekanisme penyesuaian subsidi jika harga Brent menembus US$90 per barel dalam beberapa hari perdagangan.
Tekanan juga muncul dari sektor energi dalam negeri. Pembayaran kompensasi energi kepada Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara disebut belum sepenuhnya dilakukan secara rutin setiap bulan.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut, arus kas perusahaan energi negara berpotensi tertekan. Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu kebijakan penyesuaian harga energi yang berdampak langsung pada masyarakat.
Sejumlah ekonom menilai komunikasi kebijakan pemerintah juga perlu diperbaiki. Pernyataan yang dinilai terlalu optimistis dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat kepercayaan pasar apabila tidak diikuti realisasi kebijakan yang konsisten.
Dalam konteks pengelolaan fiskal, kepercayaan pasar menjadi faktor penting. Ketika stabilitas APBN dipandang kuat, investor cenderung merasa aman. Namun ketika muncul sinyal tekanan fiskal, respons pasar biasanya menjadi lebih berhati-hati.
Sumber: Rosadi Jamani
Kamis, 26 Februari 2026
Kelakuan AKBP Didik, Mengonsumsi Serbuk Haram sejak 2019
Saya tak bisa membayangkan betapa remuknya hati orang tua ketika anaknya terjerat narkoba. Kecanduan, mencuri uang dapur, membohongi ibu yang menunggu di ruang tamu seperti menunggu azan magrib. Anak itu sering kita salahkan. Padahal, kadang yang lebih biadab justru mereka yang berseragam. Tiap hari berslogan melindungi dan mengayomi. Ironisnya, ada yang malah jadi pengedar atau pengguna. Pagar makan tanaman, lalu dengan santainya berdiri di depan kamera sambil bicara integritas.
Kasus yang menyeret mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro, akhirnya meledak ke publik. Penyelidikan intensif menunjukkan adanya pemasok yang memberikan sekoper narkotika kepada yang bersangkutan. Sekoper. Bukan sachet, bukan plastik klip recehan. Sekoper. Seolah sedang bersiap liburan ke Bali, padahal yang dibawa bukan baju pantai, melainkan racun untuk generasi.
Sumber internal kepolisian mengungkap, Didik sudah menggunakan narkotika sejak 2019, jauh sebelum kasus ini mencuat. Artinya apa? Bertahun-tahun. Bertahun-tahun seorang aparat, seorang perwira, berjalan dengan dua wajah. Satu wajah penegak hukum. Satunya lagi wajah konsumen barang haram. Publik diminta percaya. Sementara di balik koper ada cerita yang lebih pahit dari empedu.
Polisi kini fokus menelusuri jalur distribusi dan pihak-pihak lain yang diduga terlibat. Tentu saja harus ditelusuri. Jangan cuma koper yang dibuka, tapi juga jejaringnya. Siapa pemasoknya? Siapa yang tahu? Siapa yang pura-pura tidak tahu? Masyarakat dan rekan sejawat dibuat terkejut, katanya. Terkejut? Atau sebenarnya sudah lama curiga tapi memilih diam karena hierarki lebih sakral dari nurani?
Barang bukti berupa sekoper narkotika telah diamankan untuk proses hukum lebih lanjut. Diamankan. Kata yang terdengar tenang. Padahal, isinya adalah bukti betapa bobroknya moral ketika kuasa tak diimbangi integritas. Penyidik menegaskan, tidak ada toleransi bagi oknum aparat yang terlibat narkoba, meski berpangkat tinggi. Kalimat yang indah untuk siaran pers. Publik tentu berharap itu bukan sekadar kalimat kosmetik.
Asal-usul narkotika dalam koper eks Kapolres Bima Kota ini terungkap dalam sidang etik. Kuasa hukumnya, Rofiq Ashari, menyebut barang tersebut diperoleh saat kliennya masih menjabat sebagai Wakasat Reserse Jakarta Utara. Katanya, itu barang tidak bertuan. Tidak terpakai. Tidak disita. Tidak menjadi barang bukti di pengadilan. Luar biasa. Barang haram tak bertuan, lalu entah bagaimana merasa menemukan tuannya dalam koper seorang perwira.
Alasannya untuk konsumsi pribadi. Sejak 2019. Disebut karena faktor ketergantungan. So, di satu sisi kita melihat anak-anak direhabilitasi karena kecanduan. Di sisi lain, seorang pejabat tinggi mengaku memakai sejak 2019 dan baru ketahuan ketika koper terbuka. Rakyat kecil kalau tertangkap, mungkin sudah dipajang di konferensi pers dengan wajah ditutup dan gelar perkara panjang. Ketika yang terseret adalah perwira, kita disuguhi istilah-istilah rapi, sidang Komisi Kode Etik Profesi, pemeriksaan internal, prosedur.
Majelis KKEP Polri menjatuhkan PTDH pada Kamis, 19 Februari 2026. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menyatakan sanksi itu dijatuhkan atas tindak pidana narkotika yang dilakukan Didik. Selain PTDH, ada sanksi administratif berupa penempatan khusus selama tujuh hari, 13 sampai 19 Februari 2026, di Ruang Patsus Biro Provos Divpropam Polri, dan telah dijalani.
Tujuh hari. Tujuh hari untuk sebuah cerita yang berlangsung sejak 2019. Perilakunya dinyatakan sebagai perbuatan tercela. Tercela? Kata yang terdengar sopan untuk sesuatu yang merusak sendi kepercayaan publik. Orang tua yang anaknya hancur karena narkoba mungkin membaca berita ini sambil menggigit bibir. Muak. Marah. Lelah.
Kita tidak butuh drama klarifikasi. Kita butuh keberanian membersihkan. Jika benar tak ada toleransi, buktikan dengan membongkar sampai ke akar. Jangan biarkan koper itu jadi simbol, hukum keras ke bawah, lembek ke atas. Sebab ketika pelindung justru jadi pengguna, yang hancur bukan cuma karier, melainkan kepercayaan satu generasi.
“Bang, kembali ke soal Meksiko, di sana itu penjahatnya jelas. Polisnya jelas. Kalau di sini, di kita, kok susah bedakannya.”
“Itukan hanya oknum, wak. Oknum yang jumlahnya banyak.” Ups.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Fatimah az-Zahra, Cahaya yang Tak Pernah Padam
Tulisan ke-15 Edisi Ramadan. Fatimah az-Zahra, anak kandung Nabi Muhammad SAW seperti cahaya tak pernah padam. Inspirasi bagi perempuan Muslim di seluruh dunia. Simak kisah singkatnya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Dalam panggung besar sejarah Islam, ketika nama-nama lelaki sering diperebutkan untuk legitimasi kuasa, ada satu perempuan yang justru menjadi poros moralnya, Fatimah az-Zahra. Putri bungsu Nabi Muhammad SAW dari Khadijah binti Khuwailid. Fatimah bukan sekadar anak kesayangan Rasul, tetapi simpul peradaban, istri dari Ali bin Abi Thalib, ibu dari Hasan ibn Ali dan Husayn ibn Ali, serta mata air garis Ahlul Bait. Gelarnya berderet: az-Zahra (yang bercahaya), al-Batul (yang suci), Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya), ash-Shiddiqah, al-Muhaddatsah, Sayyidah Nisa’ al-‘Alamin, hingga Sayyidah Nisa’ al-Jannah. Kalau hari ini, mungkin ia akan disebut “perempuan paling berpengaruh abad ke-7” tanpa perlu tim pencitraan.
Riwayatnya tercatat dalam al-Tabaqat al-Kubra karya Ibn Sa'd, Tarikh al-Tabari karya al-Tabari, hadis sahih Bukhari-Muslim, juga dalam Bihar al-Anwar dari al-Majlisi. Akademisi modern seperti Wilferd Madelung membedah fase suksesi dalam The Succession to Muhammad. Perbedaan Sunni-Syiah memang ada, soal tanggal lahir (605 M menurut mayoritas Sunni; 615 M menurut banyak riwayat Syiah), juga soal peristiwa pascawafat Nabi dan sebab wafatnya. Namun inti yang disepakati jelas, hidupnya adalah kombinasi kebahagiaan keluarga dan kesedihan mendalam, dijalani dengan sabar, cerdas, dan bermartabat.
Sejak kecil, ia tidak tumbuh di taman bermain, tetapi di tengah badai dakwah. Ia menyaksikan ayahnya dihina, bahkan pernah membersihkan kotoran unta yang dilemparkan ke punggung Nabi saat sujud. Di usia belia, ia sudah belajar, membela kebenaran tidak selalu disambut tepuk tangan. Tahun 619 M, Am al-Huzn, ibunya wafat, disusul Abu Thalib. Kesedihan bertumpuk seperti pajak progresif kehidupan. Namun ia tetap berdiri di sisi Nabi, hingga dijuluki Ummu Abiha karena kasihnya yang menguatkan.
Ia ikut merasakan boikot tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, menahan lapar dan isolasi. Hijrah ke Madinah bukan perjalanan wisata rohani. Ketabahan menjadi pakaian hariannya.
Tahun 2 H (624 M), ia menikah dengan Ali. Mahar sederhana, baju besi atau alat giling. Walimahnya cukup roti dan kurma. Tidak ada dekorasi berlebihan, tidak ada utang konsumtif demi gengsi. Rumah tangga mereka miskin secara materi, kaya secara nilai. Fatimah menggiling gandum hingga tangannya kapalan. Nabi mengajarkan tasbih 33-33-34 setiap malam sebagai kekuatan ruhani. Pendidikan spiritual menggantikan subsidi tenaga kerja.
Anak-anak mereka lahir: Hasan (3 H), Husain (4 H), Zainab, Ummu Kultsum, dan menurut riwayat Syiah, Muhsin yang wafat kecil. Dalam kisah nazar tiga hari puasa, saat makanan berbuka diberikan kepada miskin, yatim, dan tawanan, turun ayat Surah al-Insan 76:5–22 memuji ketulusan mereka. Lapar tiga hari, tetapi tetap berbagi. Di zaman kini, mungkin sudah dijadikan konten viral dengan tagar kepedulian. Mereka melakukannya tanpa kamera.
Ia hadir di Uhud, membersihkan luka Nabi. Dalam peristiwa Kisa, ia bersama Ali, Hasan, dan Husain berada di bawah mantel Nabi saat turun ayat Tathir (33:33). Simbol kemuliaan yang diakui lintas mazhab.
Lalu datang bab paling sensitif, wafatnya Nabi tahun 11 H (632 M). Dunia Fatimah runtuh. Ia teringat bisikan Nabi, ia akan menjadi keluarga pertama yang menyusul beliau. Namun sebelum itu, muncul polemik Fadak. Abu Bakr RA mengambilnya untuk baitul mal berdasar hadis “para nabi tidak mewariskan”. Fatimah menyampaikan khutbah di Masjid Nabawi, mengutip ayat-ayat warisan (misalnya 27:16), menuntut haknya. Sunni berpendapat ia akhirnya ridha; Syiah melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Sejarah mencatat ketegangan, dan politik umat sudah berdenyut sejak generasi pertama. Rupanya kursi kekuasaan selalu lebih panas dari gurun Hijaz.
Versi Syiah menyebut adanya tekanan ke rumahnya yang menyebabkan luka dan keguguran Muhsin; Sunni menolak tuduhan kekerasan itu. Perbedaan ini tetap menjadi diskursus panjang. Yang pasti, Fatimah wafat enam bulan setelah Nabi, usia muda (18–29 tahun tergantung versi), dimakamkan malam hari di Baqi’. Lokasi makamnya tidak diketahui, seolah ia ingin meninggalkan pesan sunyi, kemuliaan tidak butuh monumen megah.
Bagi perempuan, Fatimah adalah inspirasi yang lengkap. Berbakti pada orang tua tanpa kehilangan keberanian bersuara. Mengelola rumah tangga tanpa kehilangan intelektualitas. Sederhana tanpa kehilangan harga diri. Taat tanpa menjadi pasif. Ia menunjukkan, perempuan bisa menjadi pusat moral peradaban, bukan sekadar pelengkap narasi laki-laki.
Di tengah dunia yang gemar mempolitisasi simbol agama demi elektabilitas, Fatimah az-Zahra berdiri sebagai pengingat, kekuasaan bisa diperebutkan, tetapi kemuliaan hanya diraih dengan akhlak. Cahaya tidak perlu berteriak untuk bersinar. Ia cukup menjadi dirinya, dan sejarah yang akan bersaksi.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Bingung, Harus Bela Pedagang Takjil atau Satpol PP
Baru kali ini saya bingung. Membela pedagang takjil demi sesuap nasi. Atau, Satpol PP yang harus menjalankan tugas. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Selasa, 24 Februari 2026. Sore menjelang magrib. Di depan Masjid Raya Gunungtua, udara Ramadan yang mestinya wangi kolak berubah menjadi aroma drama kelas nasional. Lokasinya di Gunungtua, jantung Kabupaten Padang Lawas Utara. Tempat orang ingin menjemput pahala, tapi malah menyaksikan tragedi takjil paling sinematik tahun ini.
Empat sampai lima Satpol PP berseragam Korpri berdiri seperti pagar hidup. Wajah mereka datar, seperti lembaran perda yang tak mengenal air mata. Mereka datang untuk menertibkan. Alasan mereka kuat. Area depan masjid harus steril, tak boleh ada lapak yang mengganggu akses, lalu lintas, dan kekhusyukan. Pemerintah sudah menyiapkan pasar takjil resmi. Negara sudah menyediakan solusi. Secara teori, semua tampak rapi seperti notulen rapat.
Lalu ibu itu berdiri di hadapan mereka. Hijab biru. Baju panjang. Tatapan campuran antara lelah dan marah. Di hadapannya, meja pink berisi aneka kue, es buah dalam cup, kolak yang masih hangat, dan es dalam termos. Itu bukan sekadar dagangan. Itu tabungan harapan yang diracik sejak subuh.
Argumen terjadi. Kata-kata melesat seperti peluru tak terlihat. Kita tak mendengar semua kalimatnya, tapi nada protesnya cukup membuat aspal ikut tegang. Ketika kata-kata tak lagi cukup, sejarah kecil itu meledak.
Ia mengangkat termos.
Bukan sekadar mengangkat. Ia mengangkatnya seperti seorang jenderal yang memegang bendera terakhir. Lalu, BRAK! Termos itu dihempaskan ke aspal. Suaranya menggema, memantul, berserakan di atas aspal, mungkin sampai ke hati para penonton. Tutupnya terpental, cairan manis mengalir seperti sungai kecil yang tersesat di jalan raya. Es dan sirup bercampur dengan debu, menciptakan minuman rasa getir edisi terbatas.
Belum selesai.
Dengan satu gerakan tangan yang dramatis, setengah penyair, setengah gladiator, ia menyapu aneka kue dan minuman dari meja. Cup-cup takjil beterbangan seperti konfeti di pesta yang salah alamat. Kolak, gorengan, es buah, semuanya terlempar ke jalan. Meja pink terbalik, ember hijau terguling, pot tanah liat menggelinding seperti aktor figuran yang tak siap dengan adegan klimaks.
Sementara itu, Satpol PP berbaju Korpri hanya menonton.
Mereka berdiri. Diam. Tegap. Seperti patung birokrasi yang diberi nyawa sebentar lalu diminta tidak bereaksi. Tak ada tangan yang menahan. Tak ada langkah yang maju. Mereka menyaksikan takjil berubah jadi instalasi seni kontemporer di atas aspal. Mungkin dalam hati mereka bergolak, mungkin tidak. Wajah mereka tetap resmi, seperti surat edaran yang tak mengenal tanda seru.
Warga sekitar menonton dari jarak aman. Pengendara motor melambat. Anak-anak memandangi es buah yang kini menyatu dengan jalanan. Ramadan sore itu berubah jadi teater terbuka. Satu ibu, beberapa petugas, dan negara yang berdiri di antara aturan dan perut.
Lalu kita datang sebagai penonton digital. Video 1–2 menit itu viral. Netizen terbelah seperti gorengan dibagi dua. Ada yang menyebut ini kekejaman sistem pada pedagang kecil di bulan suci. Ada yang berkata aturan tetap aturan, lokasi resmi sudah disediakan, jangan menyalahkan petugas yang hanya menjalankan tugas.
Kita pun terjebak dalam dilema epik. Apakah yang lebih sakral, ketertiban kawasan masjid atau perjuangan seorang ibu menjelang berbuka? Apakah yang lebih dramatis, termos yang pecah di aspal atau empati yang pecah di kolom komentar?
Takjil itu habis bukan karena laris, melainkan karena dilempar. Termos itu kosong bukan karena diminum, melainkan karena dihempaskan. Satpol PP tetap berseragam rapi. Ibu itu mungkin pulang dengan tangan lengket sirup dan hati lebih lengket lagi oleh kecewa.
Lalu, kita? Kita masih berdiri di tengah, bingung membela siapa, sambil menunggu azan magrib yang entah kenapa terasa lebih lama dari biasanya.
Foto AI hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Rabu, 18 Februari 2026
Isu Boikot Pak Kades Hoho Menguat, Publik Bertanya: Tato atau Kinerja yang Lebih Penting?
![]() |
| Isu Boikot Pak Kades Hoho Menguat, Publik Bertanya: Tato atau Kinerja yang Lebih Penting? |
Nama Pak Kades Hoho mendadak jadi perbincangan hangat. Isu boikot terhadap jabatannya mencuat setelah pernyataan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang menyinggung soal penampilan kepala desa bertato.
Dalam pernyataannya, ia menilai bahwa pejabat publik seharusnya menjaga citra dan kepantasan sebagai representasi negara. Pernyataan ini langsung memicu diskusi luas di tengah masyarakat.
Namun, di balik polemik tersebut, muncul satu pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah tato lebih penting daripada kinerja nyata seorang pemimpin?
Perdebatan Menggema di Media Sosial
Sejak isu ini viral, kolom komentar media sosial dipenuhi pro dan kontra. Sebagian netizen setuju bahwa pemimpin publik memang harus menjaga penampilan. Namun tak sedikit pula yang justru membela Pak Kades Hoho.
“Yang penting bekerja untuk rakyat, bukan soal ada tato atau tidak,” tulis seorang warganet.
Pandangan ini seolah mewakili suara masyarakat yang menilai bahwa ukuran kepemimpinan seharusnya dilihat dari hasil kerja, keberpihakan kepada warga, dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat desa.
Standar Kepemimpinan: Citra atau Dampak?
Isu ini membuka diskusi yang lebih luas tentang standar kepemimpinan di Indonesia. Apakah seorang kepala desa harus dinilai dari tampilan luar? Ataukah dari program kerja, transparansi anggaran, serta kemampuannya menyelesaikan persoalan warga?
Dalam konteks pemerintahan desa, masyarakat tentu berharap pemimpinnya mampu:
Mengelola dana desa secara transparan
Mendorong pembangunan infrastruktur
Membuka lapangan kerja
Responsif terhadap keluhan warga
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari citra mereka hidup dari kebijakan dan keputusan yang berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.
Lebih dari Sekadar Isu Tato
Isu boikot Pak Kades Hoho kini bukan lagi sekadar soal tato. Ini tentang bagaimana publik memaknai kepemimpinan di era digital, ketika opini bisa menyebar cepat dan persepsi sering kali lebih dominan daripada fakta.
Sebagai pembaca, mungkin Anda juga bertanya dalam hati:
Jika seorang pemimpin bekerja dengan baik, transparan, dan berpihak pada rakyat, apakah penampilan fisiknya masih menjadi masalah utama?
Perdebatan ini bisa menjadi refleksi bersama. Sebab yang dibutuhkan rakyat sejatinya adalah pemimpin yang hadir, bekerja, dan memberi solusi bukan sekadar terlihat ideal di permukaan.
Kini, sorotan tertuju pada bagaimana isu ini akan berkembang. Satu hal yang pasti, masyarakat semakin kritis dalam menilai pemimpinnya. Dan itu adalah tanda demokrasi yang terus bergerak maju.
Sabtu, 14 Februari 2026
Ayu Ting Ting Ungkap Rencana Bekukan Sel Telur, Target Ingin Punya Tiga Anak
![]() |
| Ayu Ting Ting Ungkap Rencana Bekukan Sel Telur, Target Ingin Punya Tiga Anak. |
JAKARTA -- Pedangdut ternama Indonesia, Ayu Ting Ting, mengungkap rencananya untuk membekukan sel telur (egg freezing) sebagai langkah menjaga peluang memiliki anak di masa depan.
Keputusan itu disampaikan Ayu usai menghadiri acara tujuh bulanan kehamilan sang adik, Assyifa Nuraini, dan menjadi perbincangan publik karena menyentuh isu kesehatan reproduksi yang semakin relevan di Indonesia.
Ayu secara terbuka menyebut dirinya ingin memiliki tiga anak. Rencana pembekuan sel telur tersebut muncul dari saran sang adik yang mengingatkan bahwa kualitas sel telur perempuan akan menurun seiring bertambahnya usia.
Rencana Dibahas Usai Acara Tujuh Bulanan Sang Adik
Dalam kesempatan tersebut, Ayu mengaku belum lama ini menjalani pemeriksaan kondisi sel telurnya. Ia menyebut hasilnya masih dalam kondisi baik.
Namun, mempertimbangkan faktor usia dan rencana memiliki anak lagi di masa depan, ia mulai serius memikirkan penyimpanan sel telur sebagai langkah antisipasi.
Menurut Ayu, ide tersebut justru datang dari Assyifa. Sang adik menyarankan agar sel telur disimpan selagi kualitasnya masih optimal. Ayu pun mempertimbangkan untuk menjalani prosedur itu setelah adiknya melahirkan.
Ia juga menegaskan bahwa keinginannya memiliki tiga anak bukan sekadar wacana. Ayu berharap, jika jodohnya sudah datang, ia masih memiliki peluang reproduksi yang baik.
Ketika ditanya soal pasangan, Ayu hanya meminta doa dan menyebut bahwa ia belum mengetahui siapa sosok yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Keinginan Tambah Momongan Sudah Lama Diungkap
Keinginan Ayu untuk menambah momongan bukan hal baru. Dalam perbincangan dengan Nikita Mirzani beberapa tahun lalu, pelantun lagu “Sambalado” itu secara terbuka mengaku ingin menikah lagi dan memiliki anak laki-laki.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rencana pembekuan sel telur bukan sekadar respons spontan, melainkan bagian dari perencanaan jangka panjang terkait kehidupan pribadinya.
Langkah Ayu ini pun mencerminkan tren yang mulai berkembang di kalangan perempuan urban Indonesia: menunda kehamilan karena faktor karier, kesiapan mental, atau belum menemukan pasangan yang tepat.
Egg Freezing: Tren yang Mulai Dikenal di Indonesia
Pembekuan sel telur atau egg freezing merupakan prosedur medis untuk mengambil dan menyimpan sel telur perempuan dalam kondisi beku, agar dapat digunakan di masa depan melalui program bayi tabung (IVF).
Di Indonesia, layanan ini tersedia di sejumlah klinik fertilitas besar, meski biayanya relatif tinggi dan belum terjangkau semua kalangan.
Secara medis, kualitas dan jumlah sel telur memang menurun signifikan setelah usia 35 tahun. Itulah sebabnya, banyak dokter kandungan menyarankan perempuan yang ingin menunda kehamilan agar mempertimbangkan opsi penyimpanan sel telur sejak usia produktif.
Di sisi lain, prosedur ini tetap memerlukan evaluasi menyeluruh. Tidak semua perempuan membutuhkan egg freezing, dan keberhasilannya pun tidak bisa dijamin 100 persen.
Faktor kesehatan umum, kondisi rahim, serta kualitas sperma pasangan tetap berperan dalam keberhasilan kehamilan.
Dampak Sosial dan Perubahan Pola Pikir
Pengakuan Ayu Ting Ting soal rencana pembekuan sel telur turut membuka diskusi publik mengenai kesehatan reproduksi perempuan.
Selama ini, pembahasan tentang fertilitas kerap dianggap tabu atau terlalu privat untuk dibicarakan secara terbuka.
Sebagai figur publik dengan basis penggemar luas, langkah Ayu dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan reproduksi.
Masyarakat, khususnya perempuan muda, mulai menyadari pentingnya pemeriksaan kesuburan sejak dini dan memahami bahwa perencanaan keluarga bukan hanya soal menikah, tetapi juga kesiapan biologis.
Namun demikian, para ahli juga mengingatkan agar tren ini tidak disalahartikan sebagai “jaminan” kehamilan di usia matang.
Egg freezing adalah salah satu opsi, bukan solusi mutlak. Edukasi medis yang tepat tetap menjadi kunci.
Perspektif Kebijakan dan Akses Layanan
Di Indonesia, prosedur fertilitas seperti bayi tabung telah diatur dalam regulasi kesehatan dan umumnya diperuntukkan bagi pasangan suami istri yang sah.
Meski pembekuan sel telur sendiri merupakan prosedur medis yang legal, penggunaannya untuk kehamilan tetap mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.
Hal ini menjadi catatan penting dalam konteks perencanaan keluarga. Diskursus mengenai teknologi reproduksi berbantu di Indonesia masih berkembang, seiring perubahan sosial dan kebutuhan masyarakat urban.
Bagi publik figur seperti Ayu Ting Ting, keputusan ini bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat tentang pilihan reproduksi modern.
Perencanaan Reproduksi Semakin Disadari
Rencana Ayu Ting Ting untuk membekukan sel telur menegaskan bahwa isu kesehatan reproduksi kini semakin mendapat perhatian di Indonesia.
Keinginan memiliki tiga anak membuatnya mempertimbangkan langkah medis sebagai bentuk perencanaan jangka panjang.
Langkah tersebut mencerminkan perubahan pola pikir perempuan modern yang lebih sadar akan batas biologis sekaligus ingin tetap memiliki kontrol atas masa depan keluarga mereka.
Ke depan, diskusi mengenai egg freezing kemungkinan akan semakin terbuka, terutama jika semakin banyak figur publik berbagi pengalaman serupa.
Namun, edukasi medis yang komprehensif dan kepatuhan pada regulasi tetap menjadi fondasi utama agar teknologi reproduksi digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Kamis, 12 Februari 2026
Viral Konsumen Kecewa Pelayanan Showroom Motor Honda Soal STNK Tak Jelas Hingga Datang Jauh dari Nias Barat
![]() |
| Viral Konsumen Kecewa Pelayanan Showroom Motor Honda Soal STNK Tak Jelas Hingga Datang Jauh dari Nias Barat. |
Pelayanan showroom kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, seorang konsumen mengungkapkan kekecewaannya terhadap layanan sebuah showroom motor Honda terkait proses pengambilan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang dinilai berlarut-larut dan tidak transparan.
Kisah ini bermula dari pembelian satu unit sepeda motor pada Desember 2025. Saat transaksi berlangsung, pihak showroom menyampaikan bahwa STNK bisa diambil sekitar dua bulan kemudian, tepatnya pada 9 Februari 2026. Informasi tersebut menjadi pegangan konsumen untuk menunggu dengan sabar.
Namun, menjelang tanggal yang dijanjikan, situasi justru berubah. Konsumen mengaku sudah berulang kali mencoba menghubungi pihak showroom melalui telepon maupun WhatsApp untuk memastikan apakah STNK sudah tersedia. Sayangnya, tidak ada jawaban yang diterima. Pesan tak dibalas, panggilan pun tak direspons.
Merasa tidak mendapat kepastian, konsumen akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke showroom. Ia menempuh perjalanan dari Kabupaten Nias Barat menuju Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Bagi sebagian orang, perjalanan ini bukanlah hal ringan waktu, tenaga, dan biaya transportasi tentu ikut terpakai.
Namun setibanya di lokasi, harapan untuk mendapatkan kejelasan justru tidak terpenuhi. Konsumen mengaku tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai status STNK miliknya. Pihak showroom disebut-sebut tidak bisa memberikan penjelasan detail dan bahkan menyarankan agar konsumen menanyakan langsung ke kantor Samsat.
Situasi semakin memanas ketika terjadi ketegangan di lokasi. Konsumen mengungkapkan adanya sikap kurang menyenangkan dari salah satu pihak showroom, termasuk tindakan memukul meja sebelum akhirnya momen tersebut terekam dan videonya beredar luas di media sosial. Sejak saat itu, kasus ini pun menjadi perbincangan warganet.
Peristiwa ini tentu menjadi pengingat penting bagi pelaku usaha otomotif. Dalam dunia bisnis, pelayanan bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga memastikan konsumen merasa dihargai dan mendapatkan kepastian atas haknya. STNK adalah dokumen vital bagi pemilik kendaraan. Tanpa dokumen tersebut, aktivitas berkendara bisa terganggu dan berisiko terkena sanksi di jalan.
Konsumen berharap kejadian ini bisa menjadi evaluasi bersama, khususnya bagi showroom dan pihak terkait agar komunikasi lebih terbuka, respons lebih cepat, dan pelayanan lebih profesional. Transparansi proses pengurusan STNK sangat dibutuhkan agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga.
Bagi Anda yang berencana membeli kendaraan, pastikan untuk menanyakan secara detail estimasi pengurusan dokumen dan simpan bukti komunikasi sebagai langkah antisipasi. Hak sebagai konsumen wajib diperjuangkan, namun pelayanan yang baik seharusnya tidak perlu diperjuangkan dengan cara seperti ini.
Bagaimana menurut Anda? Apakah pelayanan seperti ini masih bisa ditoleransi?
Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami
![]() |
| Viral Kasus Baskara Bongkar Fakta Rasisme Netizen Korea Selatan yang Jarang Dipahami. |
JAKARTA -- Belakangan ini, nama Baskara ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena prestasi atau sensasi biasa, tetapi karena dugaan perlakuan rasis dari sejumlah netizen Korea Selatan. Namun, di tengah perdebatan yang memanas, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar memahami makna rasisme dalam konteks Korea Selatan?
Mari kita bahas dengan sudut pandang yang lebih jernih.
Selama ini, banyak orang menganggap rasisme selalu berkaitan dengan warna kulit, suku, atau agama seperti yang sering terjadi di Amerika atau Eropa. Padahal, di Korea Selatan, bentuk rasisme yang kerap muncul memiliki pola yang sedikit berbeda.
Di sana, perlakuan diskriminatif sering kali bukan semata-mata karena warna kulit, melainkan karena asal negara seseorang.
Ambil contoh kasus Baskara. Ia berasal dari Indonesia, negara yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Dalam pandangan sebagian masyarakat Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara sering dianggap berada di bawah standar ekonomi dan teknologi mereka. Persepsi inilah yang kemudian memicu sikap merendahkan.
Kita mungkin pernah mendengar stereotip lama tentang Indonesia. Bahkan ada sebagian orang di negara lain yang masih membayangkan Indonesia sebagai wilayah penuh hutan tanpa perkembangan modern. Padahal, realitanya Indonesia terus bertumbuh, baik dari sisi ekonomi, infrastruktur, hingga teknologi digital.
Menariknya, ada contoh lain yang memperkuat pola pikir ini. Dalam sebuah unggahan media sosial, seorang netizen Korea Selatan menyebut bahwa Jepang tidak lebih hebat dari Korea. Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana sebagian orang mengklasifikasikan atau menilai individu berdasarkan negaranya, bukan kualitas pribadinya.
Artinya, ukuran yang dipakai bukan siapa Anda sebagai individu, melainkan dari mana Anda berasal.
Itulah sebabnya, banyak orang dari Asia Tenggara kerap merasakan perlakuan berbeda. Tidak peduli seberapa sukses, seberapa menarik, atau seberapa kaya seseorang — yang pertama dilihat tetaplah paspor dan asal negaranya.
Sebaliknya, jika seseorang berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Inggris, potensi menerima perlakuan rasis cenderung lebih kecil. Status negara asal menjadi “nilai tambah” di mata sebagian orang.
Namun penting untuk digarisbawahi, tidak semua warga Korea Selatan memiliki pandangan seperti ini. Banyak juga yang berpikiran terbuka, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi kesetaraan. Sama seperti di negara mana pun, selalu ada oknum yang bersuara lebih keras di media sosial.
Lalu, apa yang bisa kita pelajari?
Pertama, jangan langsung menyamaratakan satu bangsa karena ulah sebagian orang.
Kedua, kita sebagai masyarakat Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas diri dan bangsa agar stereotip negatif perlahan terkikis.
Ketiga, edukasi tentang makna rasisme harus terus digaungkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Kasus Baskara ini bukan hanya soal individu. Ini menjadi pengingat bahwa di era digital, persepsi bisa membentuk opini dengan cepat. Karena itu, mari lebih bijak dalam menyikapi isu sensitif seperti ini.
Bagaimana menurut Anda? Apakah pengalaman serupa pernah Anda rasakan? Diskusi yang sehat justru bisa membuka wawasan dan memperkuat rasa saling menghargai.
Selasa, 10 Februari 2026
Rahasia Alat Sadap KPK yang Diam-diam Menjatuhkan Pejabat Korup di Indonesia
![]() |
| Rahasia Alat Sadap KPK yang Diam-diam Menjatuhkan Pejabat Korup di Indonesia. |
Pernah dengar cerita pejabat yang baru beli ponsel mahal, tapi besoknya sudah ganti lagi? Alasannya sederhana tapi bikin merinding: takut disadap KPK. Cerita seperti ini bukan isapan jempol. Di balik operasi tangkap tangan atau OTT yang sering bikin publik kaget, ada teknologi penyadapan canggih yang bekerja senyap, rapi, dan legal.
Artikel ini mengajak Anda mengulik bagaimana alat sadap KPK bekerja, kenapa banyak pejabat akhirnya tumbang, dan mengapa teknologi ini jadi “momok” di balik layar kekuasaan. Santai saja bacanya, seperti ngobrol sambil ngopi, tapi isinya tetap berbobot.
Korupsi Tak Pernah Berisik, Tapi Negara Mendengar
Korupsi jarang dilakukan terang-terangan. Tidak ada teriak-teriak atau rapat terbuka. Biasanya justru dibicarakan pelan, lewat telepon, pesan singkat, atau obrolan singkat yang dianggap aman. Banyak yang yakin, selama komunikasi dilakukan diam-diam, negara tidak akan tahu.
Masalahnya, sejak KPK dibekali kewenangan penyadapan, asumsi itu runtuh. Negara seolah memasang “telinga raksasa” di ruang-ruang sunyi kekuasaan. Bukan untuk mendengar gosip, tapi mencatat siapa bicara apa, kapan, dan dengan siapa.
Penyadapan KPK Lewat Jalur Resmi dan Legal
Penting untuk dipahami, penyadapan KPK bukan tindakan sembarangan. Semua dilakukan melalui mekanisme resmi yang disebut lawful interception. Artinya, penyadapan dilakukan sesuai hukum dan lewat kerja sama dengan operator seluler.
Dari ruang monitoring khusus, komunikasi target yang sudah sah secara hukum akan dialihkan ke sistem KPK. Ponsel target tetap terlihat normal: sinyal aman, pulsa tidak berkurang, tidak ada notifikasi mencurigakan. Namun di balik layar, setiap percakapan kini tercatat rapi sebagai arsip negara. Ini bukan adegan film, ini prosedur administratif yang serius.
ATIS, Mesin Utama Penyadapan KPK
Salah satu “otak” penyadapan KPK adalah sistem bernama ATIS, buatan Jerman. Nilainya mencapai miliaran rupiah jika dikonversi ke mata uang Indonesia. Jangan bayangkan alat kecil yang ditempel di ponsel. ATIS lebih mirip pusat kendali bandara, hanya saja yang “mendarat” adalah data komunikasi.
Begitu nomor target dimasukkan, sistem akan menyalin percakapan suara dan data langsung dari jaringan operator. Semua direkam otomatis, diberi penanda waktu, nomor, durasi, lalu diamankan dengan enkripsi. Kapasitasnya besar, mampu merekam ratusan jam percakapan sekaligus. Penyidik cukup membaca pola, tanpa perlu ikut mendengarkan satu per satu.
Reuven-GSMSL, Pemetaan Awal Jaringan
Untuk komunikasi GSM yang lebih konvensional, KPK juga menggunakan Reuven-GSMSL. Alat ini efektif membaca telepon dan SMS, terutama untuk memetakan pola hubungan. Siapa sering menghubungi siapa, di jam berapa, dan seberapa intens.
Dari sinilah biasanya muncul kejanggalan. Menjelang proyek cair atau keputusan penting, intensitas komunikasi tiba-tiba melonjak. Alat ini ibarat peta awal, membantu penyidik menentukan arah sebelum masuk ke tahap pembuktian yang lebih kuat.
Pegasus, Spyware yang Bikin Pejabat Gelisah
Nama Pegasus sering disebut sebagai momok. Spyware asal Israel ini dikenal sangat canggih. Namun dalam konteks KPK, Pegasus bukan alat harian. Ia hanya digunakan untuk target besar dan kasus luar biasa.
Berbeda dari penyadapan lewat operator, Pegasus bekerja dengan mengeksploitasi celah sistem ponsel. Tanpa klik, tanpa disadari, data pesan, lokasi, bahkan mikrofon bisa diakses. Semua informasi dikirim dalam kondisi terenkripsi ke server kendali. Karena dampaknya sangat besar, penggunaan alat ini diawasi super ketat.
Mitos Mobil Sadap dan Fakta di Lapangan
Banyak orang masih membayangkan penyadapan dilakukan dengan mobil gelap yang parkir di depan rumah target. Faktanya, itu lebih cocok jadi adegan sinetron. Metode utama KPK bersifat terpusat, berbasis server, dan minim kontak fisik.
Alat seperti IMSI-catcher memang ada, tapi biasanya digunakan untuk pelacakan lokasi darurat, bukan menyadap isi percakapan rutin. Pendekatan fisik justru berisiko dan lemah jika dijadikan bukti di pengadilan.
Kenapa Masih Ada Buronan yang Lolos?
Teknologi boleh canggih, tapi manusia juga belajar. Ada buronan yang sangat paham pola kerja KPK, sehingga mampu menghindar. Ini membuktikan satu hal: alat hanyalah alat. Keberhasilan penegakan hukum tetap bergantung pada strategi, timing, dan integritas manusia di baliknya.
Telinga Negara yang Bekerja Diam-diam
Pada akhirnya, alat sadap KPK bukan mesin jahat. Ia bukan untuk mengintai rakyat biasa atau mengumpulkan gosip. Ia bekerja legal, terbatas, dan terukur. Banyak pejabat tumbang bukan karena negara terlalu pintar, melainkan karena terlalu percaya diri bahwa tak ada yang mendengar.
Di ruang-ruang sunyi kekuasaan, ternyata negara sudah lama hadir, mendengarkan dengan tenang.
Catatan: ilustrasi foto bersifat visual AI | Sumber Narasi: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
Minggu, 08 Februari 2026
Warisan Rp 86 Triliun Dibagi 1750 Tahun, Anak Cuma Dapat Uang Bulanan Rp 4 M
![]() |
| Warisan Rp 86 Triliun Dibagi 1750 Tahun, Anak Cuma Dapat Uang Bulanan Rp 4 M. |
JAKARTA -- Bayangkan punya kekayaan puluhan triliun rupiah, tapi anak cucu tidak bisa menikmatinya sekaligus.
Inilah kisah mengejutkan dari Hui Sai Fun, miliarder properti asal Hong Kong, yang hingga kini masih jadi bahan perbincangan dunia bisnis dan publik.
Hui Sai Fun meninggal dunia pada 2018 di usia 97 tahun. Alih-alih meninggalkan warisan dalam jumlah besar secara langsung, ia justru merancang skema pembagian harta yang tak lazim.
Total kekayaannya yang diperkirakan mencapai 42 miliar dolar Hong Kong atau sekitar Rp 86,8 triliun tidak dibagikan sekaligus, melainkan dicairkan secara bertahap hingga 1.750 tahun ke depan.
Seluruh aset itu dimasukkan ke dalam sebuah perwalian (trust). Melalui skema ini, sebanyak 15 anggota keluarga Hui, termasuk putra tunggalnya Julian Hui, hanya menerima tunjangan bulanan sekitar 2 juta dolar Hong Kong atau setara Rp 4,1 miliar.
Jumlahnya memang besar, tapi jika dibandingkan dengan total kekayaan yang ada, banyak pihak menilai pembagian ini terlalu ketat.
Tak heran, media Hong Kong sempat memberi Hui Sai Fun julukan kontroversial sebagai “miliarder paling pelit”.
Julian Hui dan istrinya bahkan sempat menjadi sasaran sindiran publik karena dianggap hidup dari “uang saku” sang ayah, bukan mengelola warisan secara bebas.
Namun, jika menilik ke belakang, keputusan Hui Sai Fun tidak muncul begitu saja. Kekayaan keluarga Hui dibangun dari nol oleh ayahnya, Hui Oi Chow.
Berasal dari keluarga petani miskin di Guangdong dan tanpa pendidikan formal, Oi Chow memulai hidup sebagai kuli angkut di pelabuhan sejak usia belasan tahun.
Dengan kerja keras dan disiplin menabung, ia berhasil membeli kapal kargo pertamanya hingga dikenal sebagai “raja kapal” di industri transportasi laut, sebelum akhirnya merambah bisnis properti.
Hui Sai Fun, anak bungsu Oi Chow, mengambil alih bisnis keluarga setelah dua kakak laki-lakinya meninggal dunia.
Berbeda dengan sang ayah yang gemar tampil mencolok, Hui justru hidup sederhana dan jauh dari sorotan.
Ia memilih strategi bisnis yang aman dan stabil, tetap fokus di sektor logistik dan properti, lalu memperluas usaha ke perbankan dan media. Perlahan tapi pasti, namanya masuk jajaran 10 orang terkaya di Hong Kong.
Awalnya, Hui berencana menyerahkan kendali bisnis kepada putra sulungnya. Namun takdir berkata lain, sang putra meninggal dunia akibat sakit. Pilihan pun jatuh kepada Julian Hui, putra tunggal yang tersisa.
Sayangnya, Julian lebih dikenal publik sebagai “pewaris playboy”, gemar berpesta dan sering dikaitkan dengan kehidupan glamor bersama selebritas.
Minat dan kemampuannya dalam mengelola bisnis keluarga pun kerap dipertanyakan.
Banyak pengamat menilai, inilah alasan utama Hui Sai Fun memilih skema perwalian superpanjang.
Ia ingin memastikan kekayaan keluarga tetap terjaga lintas generasi, tidak habis karena gaya hidup, dan tidak runtuh akibat salah kelola.
Kisah Hui Sai Fun memberi pelajaran penting: harta melimpah tidak selalu berarti kebebasan tanpa batas.
Bagi Hui, warisan bukan sekadar soal uang, melainkan cara menjaga nilai kerja keras dan kesinambungan keluarga, bahkan jika harus membentang hingga ribuan tahun ke depan.
Sabtu, 07 Februari 2026
Dari Wakil Tuhan ke Tikus Got Gorong-gorong
Kamis, 05 Februari 2026
Semakin Ramai Bicarakan Koptagul
Koptagul memang tak bisa dipisahkan dari saya. Ia sudah seperti bayangan. Ke mana tulisan pergi, di situ Koptagul nongkrong. Kadang saya merasa bukan lagi menulis artikel, melainkan menuangkan kopi ke dalam paragraf. Aneh tapi nyata, setiap tulisan selalu saja ada kata Koptagul. Bahkan netizen pun ikut-ikutan. Ada yang berkomentar panjang lebar, ada yang cuma nyengir, lalu ditutup dengan salam sakral: salam Koptagul. Bukan salam olahraga, bukan salam literasi, tapi salam pahit nan elegan.
Padahal awalnya sederhana. Sesederhana kopi tanpa gula. Saya memang orang yang tak percaya pada manis-manis berlebihan. Dalam hidup, dalam politik, apalagi dalam narasi. Maka saya sering bilang, seruput kopi tanpa gula. Sampai suatu hari, seorang netizen bernama Umar, asal Bukittinggi—daerah yang hawanya dingin tapi otaknya hangat—meninggalkan komentar cerdas. Katanya, “Bang, singkat saja jadi Koptagul. Biar ada rasa Turkinya.” Saya baca, saya ketawa, saya angguk. Deal. Dari situlah lahir satu diksi yang tak pernah masuk KBBI, tapi sukses masuk kepala orang.
Sejak saat itu, Koptagul bukan lagi sekadar singkatan. Ia naik pangkat menjadi gaya hidup. Ia menjelma bumbu wajib untuk narasi yang bikin dahi mengernyit, mata menyipit, dan hati bergumam, “Lah kok gini?” Koptagul hadir setiap kali kenyataan terlalu pahit untuk ditelan mentah-mentah. Ia menjadi jembatan antara fakta yang kejam dan humor yang menyelamatkan kewarasan.
Kini, orang ramai membicarakan Koptagul. Seolah-olah ia seorang influencer. Padahal tak pernah membuka endorsement, tak punya akun resmi, dan tak butuh centang biru. Tapi pengaruhnya berjalan. Diam-diam. Licin. Di kolom komentar, di obrolan warung kopi, di status yang sengaja atau tak sengaja meniru gaya. Inilah fenomena paling berbahaya dalam dunia tulis-menulis: ketika sebuah kata berubah menjadi identitas.
Secara edukatif, ini menarik. Dalam ilmu komunikasi, kata yang terus diulang dengan konteks kuat akan membangun asosiasi mental. Dalam sosiologi, simbol yang dipakai bersama akan melahirkan rasa kebersamaan. Dalam psikologi, rasa pahit justru lebih diingat dibanding manis. Koptagul bekerja di semua lini itu, tanpa pernah mengaku-ngaku. Ia lahir dari obrolan netizen, tumbuh di narasi, lalu dewasa di kepala pembaca.
Yang paling lucu sekaligus inspiratif, Koptagul membuktikan bahwa pengaruh tak selalu datang dari teori berat atau istilah asing berbahasa Inggris. Kadang ia lahir dari candaan, dari kopi tanpa gula, dari komentar jujur seorang Umar di Bukittinggi. Dunia boleh ribut soal influence, engagement, dan algoritma. Koptagul memilih jalan sunyi: pahit, konsisten, dan jujur.
Maka jika hari ini orang bicara tentang Koptagul seperti ia sebuah aliran, saya hanya bisa tersenyum. Ini bukan soal saya. Ini soal bagaimana sebuah kata bisa hidup, berjalan, dan bekerja di alam bawah sadar publik. Seperti kopi pahit yang tak semua orang suka, tapi sekali cocok, susah pindah ke yang lain.
Siap, wak. Ini pesan moralnya—ringkas tapi nancep, pahit tapi bikin melek:
Hidup tak selalu butuh gula. Kadang justru kepahitan yang membuat kita terjaga, berpikir, dan tetap waras di tengah dunia yang hobi memaniskan kebohongan.
Koptagul mengajarkan satu hal penting:
Jangan takut pada rasa pahit, karena di sanalah kejujuran tinggal. Yang terlalu manis sering cuma tipu-tipu, yang pahit justru apa adanya.
Maka seruputlah hidup seperti kopi tanpa gula.
Tak selalu enak di lidah, tapi jujur di rasa.
Orang yang berani pahit, biasanya lebih lama diingat.
Silakan seruput pelan-pelan. Kalau dahi mulai berkerut, berarti Koptagul bekerja. Seruput Koptagul-nya, wak!
Foto AU hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Mulyono, Pegawai Pajak, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK
Duh, Mulyono kok jadi begini. Tapi ini bukan Mulyono yang itu. Ini Mulyono, pegawai pajak, anak buah Menkeu Purbaya. Ditangkap KPK karena nilep uang rakyat yang rajin dan patuh bayar pajak. Mari kita berkenalan dengan spesies Mulyono, tikus got gorong-gorong, sambil seruput Koptagul, wak!
Nama lengkapnya Mulyono Purwo Wijoyo, alias Ki Mulyono, Kepala KPP Madya Banjarmasin. Ia dalang wayang kulit yang di panggung piawai menggerakkan tokoh dari balik kelir, dan di dunia nyata ternyata juga piawai. Piawai menggerakkan uang restitusi PPN puluhan miliar dari balik meja kantor. Bravo. Aktingnya natural. Metodenya profesional.
Secara CV, Ki Mulyono ini ASN paket lengkap. Lulusan PKN STAN dan Universitas Indonesia. Kariernya menanjak mulus. Dari KPP Banjarmasin, lalu menjabat Kepala KPP Pratama Tanjung (2023). Puncaknya, Kepala KPP Madya Banjarmasin sejak Juni 2025. Eselon III.a. Jabatan empuk, ruangan adem, stempel sakti.
Di luar kantor, citranya makin bercahaya. Founder sanggar seni, dalang kondang, lakon-lakonnya bicara keadilan dan kebenaran. Akun Instagram @ki_mulyono.pw diikuti 43 ribu orang yang percaya beliau figur inspiratif. Lengkap. Tinggal satu yang bolong: integritas.
Tanggal 4 Februari 2026, KPK datang bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemutus cerita. Operasi tangkap tangan di Banjarmasin. Tiga orang diamankan: Ki Mulyono, satu ASN pajak lainnya, dan satu pihak swasta yang kemungkinan besar sebelumnya senyum-senyum sambil berharap urusan lancar.
Barang bukti? Uang tunai lebih dari Rp1 miliar. Kalau ditumpuk bisa jadi bukit kecil. Di sini, uang itu cuma pelumas untuk mempercepat restitusi PPN sektor perkebunan. Prosesnya kilat. Negara bisa menunggu bertahun-tahun, tapi kalau ada fee, urusan kelar sekejap. Adil? Tentu. Adil versi pelaku.
Jangan salah, ini bukan kejadian tunggal. Januari 2026, KPK lebih dulu menggelar episode pembuka di KPP Madya Jakarta Utara. Delapan orang ditangkap, termasuk tiga pegawai pajak. Modusnya lebih sadis: memangkas pajak hingga 80 persen lewat paket “all in” Rp23 miliar. Barang bukti berupa emas, valuta asing, dan uang tunai Rp6,38 miliar.
Sekarang Februari baru empat hari, Banjarmasin ikut menyusul. Dua OTT pegawai pajak dalam sebulan. Rasanya KPK lagi main bingo korupsi: pajak, pajak lagi. Tinggal menunggu kolom lain terisi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun angkat bicara dengan nada super tenang. Ini, katanya, “shock therapy.” Shock therapy? Lebih mirip terapi kejut yang gagal total, karena tiap bulan masih saja ada yang kesetrum ulang. “Biar proses hukum berjalan,” katanya, sambil menjanjikan pendampingan hukum tanpa intervensi. Terjemahan bebasnya: silakan masuk penjara, kami antar pakai lawyer. Rakyat mendengar, lalu bertanya lirih, ini pendampingan hukum atau pendampingan agar koruptor nyaman di sel?
Yang bikin darah makin naik, Mulyono ini bukan pegawai kaleng-kaleng. Di panggung, ia bercerita tentang dharma, moral, dan perjuangan melawan kejahatan. Di kantor, ceritanya berubah. Keadilan untuk yang setor fee. Kebenaran versi restitusi kilat. Dan perjuangan melawan… saldo kas negara.
Wayang di panggung cuma kayu. Tapi di kantor pajak, wayangnya hidup. Menggerakkan uang rakyat ke saku pribadi.
Di tengah ironi ini, DJP sebenarnya punya maskot resmi bernama Kojib, singkatan dari Kontribusi Wajib. Bentuknya lebah lucu, simbol kerja keras mengumpulkan “madu” pajak untuk sarang bernama negara. Filosofinya manis. Edukasinya niat. Sayangnya, di dunia nyata, madu itu bocor sebelum masuk sarang.
Lebah-lebah jujur capek terbang, sementara tawon-tawon berkemeja rapi datang belakangan, menjilat madu, lalu ceramah soal integritas. Kalau Kojib punya perasaan, mungkin dia sudah pensiun dini.
Sekarang bayangkan posisi wajib pajak. Gaji dipotong. Kendaraan ditagih. Properti dikejar. Telat sedikit, denda. Salah isi, diperiksa. Sementara yang jaga gerbang pajak malah main sulap miliaran. Negara rugi, infrastruktur setengah jadi, bansos tersendat.
Koruptor ini parasit super. Menghisap darah negara sambil tampil sebagai pahlawan budaya. Kalau ada penghargaan “Koruptor Paling Multitalenta 2026”, Ki Mulyono hampir pasti juara umum: main wayang, main pajak, main duit rakyat.
Malam ini, ironi makin lengkap. Timnas Indonesia akan menghadapi Jepang di semifinal futsal AFC. Di lapangan, anak-anak muda berlari habis-habisan, keringat bercucuran, membawa Merah Putih dengan jujur. Di tribun, rakyat berteriak nasionalisme. Di rumah, pajak tetap dibayar.
Sementara di gedung KPP, nasionalisme versi lain dipraktikkan. Main belakang, main cepat, main fee. Timnas butuh tenaga dan strategi untuk satu gol. Pegawai pajak cukup tanda tangan untuk miliaran. Bedanya, kalau Timnas kalah, rakyat sedih. Kalau pajak dikorupsi, rakyat muak.
Kalau tren 2026 ini berlanjut, mungkin KPK memang perlu membuka kantor cabang permanen di setiap KPP. Atau sekalian ganti nama instansi: Direktorat Jenderal Pajak dan Fee Tambahan. Biar transparan dari awal. Karena hari ini, OTT bukan lagi kejutan, melainkan agenda rutin. Episode ini selesai, besok lanjut episode baru.
Satu pesan saja untuk wajib pajak: lebah kartun disuruh kerja jujur, tapi yang kenyang justru dalang manusia. Selama itu terus terjadi, jangan heran jika kepercayaan publik makin habis, lebih cepat dari restitusi yang “dipercepat”.
Foto AI hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Senin, 02 Februari 2026
BoP Gak Berarti Apa-Apa: Israel Tetap Hajar Gaza, Anak-Anak Jadi Korban!
![]() |
| BoP Gak Berarti Apa-Apa: Israel Tetap Hajar Gaza, Anak-Anak Jadi Korban! |
Aku kira dengan dibentuknya Board of Peace (BoP), Israel bakal berhenti nyerang Gaza. Ternyata enggak. Zionist tetap haus darah. Simak ceritanya sambil nyeruput kopi, wak!
Akhir Januari sampai awal Februari 2026, Gaza kembali diguncang bom. Padahal gencatan senjata masih berlaku. Judulnya damai, tapi kenyataannya pemakaman yang muncul. Lebih dari 30 orang tewas, termasuk enam anak-anak. Rumah warga hancur, tenda pengungsi rata tanah, bahkan kantor polisi ikut kena serang. Dan ini bukan salah sasaran. Sasaran memang sudah ditentukan: Gaza.
Respons dunia? Santai banget. BoP, badan baru yang namanya damai tapi kelakuannya pending, tidak mengeluarkan kecaman keras. Sunyi. Hening. Seperti grup alumni yang cuma aktif saat reuni. Negara anggota seperti Hungaria dan Bulgaria malah memilih mode “read only”. Negara lain cuma keluarkan pernyataan diplomatis panjang, rapi, tapi sama sekali enggak menyebut siapa yang ngebom siapa.
Amerika Serikat, penggagas BoP, bahkan enggak repot-repot pura-pura. Saat Gaza diserang, Washington tetap mendukung Israel dengan menjual senjata baru. Damai di forum, senjata di gudang. Kalau Gaza hancur? Itu bonus fitur.
Sampai akhir Januari 2026, sekitar 26 negara resmi bergabung dengan BoP. Laporan lain bilang jumlahnya bisa sampai 35 negara. Banyak, tapi efeknya? Nol besar. Ini seperti kumpulan pemadam kebakaran internasional yang rajin rapat, tapi lupa bawa air.
Daftar anggota terdengar gagah: Indonesia gabung Januari 2026, Turki, Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Uni Emirat Arab ikut masuk. Negara-negara yang biasanya lantang bicara soal Palestina. Tapi begitu Gaza dibombardir, BoP mendadak alergi kata “Israel”. Tidak ada langkah kolektif, tidak ada tekanan, tidak ada apa-apa. Damai versi PowerPoint.
PBB pun tampil konsisten… konsisten terlambat. Kecaman baru keluar setelah bom jatuh, sidang baru digelar setelah korban dikubur. Kecaman yang rapi, seperti laporan cuaca, “Hari ini hujan bom, besok kemungkinan berlanjut.”
Israel tetap pakai jurus lama: “hak membela diri.” Jurus ini bisa mengubah tenda pengungsi jadi target sah dan anak-anak jadi kerusakan tambahan. Dunia? Mengangguk, pura-pura paham, lalu balik ke agenda masing-masing.
Gaza hari ini bukan kota lagi. Ia berubah jadi spreadsheet penderitaan global. Angkanya dicatat, dibahas, lalu disimpan. BoP cuma menambah satu kolom baru: harapan palsu.
Jangan sebut ini kegagalan. Ini kesepakatan diam-diam. Diamnya rapi, kolektif, terorganisir. Semua tahu apa yang terjadi, tapi semua sepakat untuk tidak benar-benar bertindak.
Kalau ini yang disebut perdamaian internasional, mungkin kita perlu kamus baru. Di Gaza, damai artinya bom tetap jatuh, konferensi tetap jalan, dunia tetap merasa sudah “menjalankan tugasnya.”
Solusinya? Meski BoP enggak bergerak, informasi tetap bisa jadi senjata. Dunia perlu tahu fakta, masyarakat global harus sadar, dan tekanan publik bisa jadi energi untuk mendorong langkah nyata. Damai itu bukan nama badan atau konferensi, tapi tindakan nyata yang melindungi nyawa, bukan menghancurkan.
Gaza bukan komedi. Ini tragedi gelap paling mahal abad ini. Dan kita, yang menonton dari jauh, harus tetap bicara, menulis, dan menekan agar kata “damai” tidak cuma jadi dekorasi.
Foto Ai hanya ilustrasi | Rosadi Jamani | Ketua Satupena Kalbar | #camanewak | #jurnalismeyangmenyapa | #JYM
Bayi Sapi Menggemaskan Ini Diselamatkan dari Dingin, Tidur Nyenyak di Sofa Bersama Anak-anak
![]() |
| Bayi Sapi Menggemaskan Ini Diselamatkan dari Dingin, Tidur Nyenyak di Sofa Bersama Anak-anak. |
JAKARTA --- Di tengah musim dingin yang menusuk, sebuah kisah hangat datang dari Kentucky, Amerika Serikat. Bayi sapi yang baru lahir nyaris menghadapi bahaya karena cuaca ekstrem. Untungnya, keluarga peternak setempat segera bertindak cepat untuk menyelamatkannya.
Bayi sapi ini lahir pada hari Sabtu di peternakan keluarga Sorrell di kota Mount Sterling. Menurut sang pemilik, Macey Sorrell, bayi sapi itu mulai kedinginan tak lama setelah lahir. “Kami melihat dia menggigil, jadi segera kami bawa ke dalam rumah,” ungkap Macey. Tindakan cepat ini sangat krusial, karena keluarga tersebut pernah kehilangan anak sapi sebelumnya akibat hipotermia.
Setelah masuk rumah, bayi sapi diberi makanan, dibersihkan, dan dipanaskan. Tak butuh waktu lama, dia pun beristirahat dengan nyaman di sofa, tepat di samping dua anak keluarga Sorrell. Lucunya, sang anak berusia tiga tahun memberi nama bayi sapi itu “Sally”, terinspirasi dari karakter favoritnya dari film animasi.
Kisah hangat ini bukan hanya menyentuh hati keluarga, tapi juga membuat banyak orang di internet ikut tersenyum. Aksi sederhana untuk melindungi makhluk kecil dari dingin ekstrim ini menjadi contoh kepedulian dan empati yang bisa dilakukan siapa pun. Selain itu, pengalaman keluarga Sorrell juga memberikan pelajaran penting bagi peternak lainnya: jangan menunggu sampai terlambat saat kondisi hewan muda terancam cuaca ekstrem.
Praktik seperti ini sederhana tapi efektif. Pertama, pastikan bayi sapi atau hewan muda selalu berada di tempat hangat saat cuaca dingin. Kedua, setelah lahir, hewan sebaiknya segera diberi makan dan dibersihkan agar tetap sehat. Ketiga, interaksi dengan manusia dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman, seperti yang terlihat saat Sally tidur nyenyak di sofa.
Keesokan harinya, Sally dikembalikan ke induknya, dan kondisi kesehatan bayi sapi itu baik-baik saja. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa tindakan cepat dan penuh perhatian bisa menyelamatkan nyawa. Bagi para peternak maupun pecinta hewan, ini adalah pengingat bahwa kadang tindakan sederhana seperti menghangatkan bayi sapi di rumah dapat membuat perbedaan besar.
Jadi, meski musim dingin terasa menantang, perhatian ekstra dan sedikit kreativitas dalam merawat hewan muda bisa menciptakan momen hangat yang tak terlupakan — baik untuk hewan maupun manusia.
















