Berita BorneoTribun: Sam Altman hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Sam Altman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sam Altman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2026

Sam Altman Ingin Jadikan AI Seperti Listrik Dan Air, Solusi Atasi Kerugian OpenAI?

Sam Altman ingin menjadikan AI seperti listrik dan air. Di tengah kerugian besar OpenAI, model bayar sesuai penggunaan disebut jadi solusi masa depan teknologi.
Sam Altman ingin menjadikan AI seperti listrik dan air. Di tengah kerugian besar OpenAI, model bayar sesuai penggunaan disebut jadi solusi masa depan teknologi.

Teknologi -- Industri kecerdasan buatan (AI) sedang menghadapi tantangan besar. Di tengah euforia teknologi yang sempat memuncak, minat investor kini mulai melambat seiring meningkatnya biaya operasional perusahaan-perusahaan raksasa.

Salah satu yang jadi sorotan adalah Sam Altman, CEO OpenAI, yang mengungkapkan ide ambisius: menjadikan AI sebagai layanan utilitas, layaknya listrik dan air.

Kerugian OpenAI Diprediksi Tembus Rp224 Triliun

Berdasarkan laporan terbaru, OpenAI diperkirakan akan mengalami kerugian hingga sekitar US$14 miliar pada 2026, atau setara kurang lebih Rp224 triliun (kurs ± Rp16.000 per dolar AS).

Padahal, perusahaan ini sudah menghasilkan sekitar US$13 miliar per tahun (± Rp208 triliun) dari layanan seperti ChatGPT.

Namun, biaya operasionalnya juga tidak main-main:

  • Infrastruktur teknologi tinggi

  • Pelatihan model AI

  • Perekrutan talenta terbaik

  • Kebutuhan komputasi skala besar

Total pengeluaran bahkan bisa mencapai US$1,4 miliar (± Rp22,4 triliun) hanya untuk aspek tertentu saja.

Jika kondisi ini terus berlanjut, beberapa analis memperkirakan OpenAI bisa menghadapi tekanan finansial serius hingga potensi krisis pada 2027.

Ide Baru: AI Dibayar Sesuai Pemakaian

Dalam forum BlackRock Infrastructure Summit di Washington, Sam Altman menyampaikan gagasan yang cukup menarik.

Ia ingin menjadikan AI sebagai layanan utilitas—artinya, pengguna hanya membayar sesuai penggunaan, mirip seperti bayar listrik atau air.

Model ini dinilai punya beberapa keunggulan:

  • Pendapatan perusahaan jadi lebih stabil

  • Lebih fleksibel untuk pengguna kasual

  • Akses ke teknologi canggih tetap terbuka

Namun, ada juga sisi negatifnya.

Pengguna aktif justru bisa dirugikan karena biaya penggunaan bisa membengkak dibanding sistem langganan bulanan.

Tantangan Nyata: Data Dan Komputasi Jadi Hambatan

Para ahli menilai bahwa pertumbuhan AI saat ini mulai menemui batas.

Masalah utama meliputi:

  • Keterbatasan data berkualitas tinggi

  • Kurangnya kapasitas komputasi

  • Biaya infrastruktur yang terus meningkat

Akibatnya, perusahaan AI kemungkinan harus:

  • Menaikkan harga layanan (token)

  • Membatasi akses pengguna

  • Atau mencari model bisnis baru seperti yang diusulkan Altman

Masa Depan AI: Jadi Kebutuhan Dasar?

Jika ide ini terealisasi, AI bisa berubah dari sekadar teknologi tambahan menjadi kebutuhan dasar, seperti listrik, air, bahkan internet.

Artinya, di masa depan:

  • AI bisa digunakan hampir di semua sektor

  • Pembayaran berbasis konsumsi jadi standar

  • Kompetisi antar perusahaan AI makin ketat

Namun, apakah model ini benar-benar bisa menyelamatkan kondisi keuangan OpenAI? Waktu yang akan menjawab.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa itu model AI seperti utilitas?
Model ini berarti pengguna membayar AI berdasarkan penggunaan, seperti listrik atau air.

2. Kenapa OpenAI mengalami kerugian besar?
Karena biaya infrastruktur, pelatihan AI, dan komputasi sangat tinggi.

3. Siapa yang diuntungkan dari sistem ini?
Pengguna kasual yang tidak sering memakai AI.

4. Siapa yang dirugikan?
Pengguna aktif yang menggunakan AI setiap hari.

5. Apakah harga AI akan naik?
Kemungkinan iya, terutama jika biaya operasional terus meningkat.

Sabtu, 09 Agustus 2025

OpenAI Launches GPT-5, Free ChatGPT Now on Expert Level

ChatGPT interface showcasing the new GPT-5 model from OpenAI
ChatGPT interface showcasing the new GPT-5 model from OpenAI.

San Francisco – OpenAI has officially launched GPT-5, its most advanced flagship model for ChatGPT, now available to all users, including those on the free tier. 

OpenAI CEO Sam Altman, on Friday (Aug 9, 2025), called GPT-5 a “significant leap forward” compared to previous versions. 

He likened the upgrade to seeing the first iPhone with a Retina display—once you try it, there’s no going back.

Altman explained the generational differences: GPT-3 was like talking to a high school student, GPT-4 was on par with a college student, while GPT-5 now performs like a PhD-level expert. 

The model excels at logical problem-solving, makes fewer mistakes, and handles multi-step tasks with confidence. OpenAI describes GPT-5 as “the best model in the world” for programming, text generation, and even medical applications.

ChatGPT interface showcasing the new GPT-5 model from OpenAI
ChatGPT interface showcasing the new GPT-5 model from OpenAI.

Another major update is the new automatic “thinking mode” system. Previously, users had to manually select a model, but GPT-5 now activates itself when facing complex queries or when explicitly asked to “think deeper.” In the free version, there’s a usage limit—after a certain number of requests, the system will switch to GPT-5 mini. 

For developers, OpenAI offers three API versions—GPT-5, GPT-5 mini, and GPT-5 nano—at different price points. 

ChatGPT also introduces four new “personalities”: Cynic, Robot, Listener, and Bore, along with the ability to change chat theme colors.

In a live demo, GPT-5 generated hundreds of lines of code for a French language learning game within seconds, then successfully tested it on stage. 

The model underwent over 5,000 hours of safety testing to reduce “hallucinations” and provide safer responses.

 Altman believes GPT-5 brings OpenAI closer to achieving AGI (Artificial General Intelligence), though he admits it’s not perfect yet, as it cannot learn from real-time data. 

This launch marks a new chapter in the global AI race and is expected to influence chatbot usage trends worldwide.

OpenAI Rilis GPT-5, ChatGPT Gratis Kini Setara Pakar

Tampilan ChatGPT dengan model GPT-5 terbaru dari OpenAI
Tampilan ChatGPT dengan model GPT-5 terbaru dari OpenAI.

Jakarta – OpenAI resmi meluncurkan GPT-5, model terbaru dan paling canggih untuk ChatGPT, yang mulai tersedia bagi semua pengguna, termasuk versi gratis. 

CEO OpenAI, Sam Altman, pada Jumat (9/8/2025) menyebut GPT-5 sebagai “lompatan besar” dibanding generasi sebelumnya. 

Sam Altman bahkan mengibaratkan peningkatannya seperti pertama kali melihat iPhone dengan layar Retina sekali mencoba, sulit kembali ke versi lama.

Sam Altman menjelaskan, perbedaan tiap generasi terasa signifikan: GPT-3 seperti berbicara dengan siswa SMA, GPT-4 setara mahasiswa, sementara GPT-5 kini selevel pakar bergelar doktor. 

"Model ini lebih tangguh dalam pemecahan masalah logis, minim kesalahan, dan mampu menangani tugas multi-tahap dengan percaya diri", ungkap Sam Altman.

OpenAI menobatkan GPT-5 sebagai “model terbaik di dunia” untuk pemrograman, penulisan teks, hingga aplikasi medis.

Tampilan ChatGPT dengan model GPT-5 terbaru dari OpenAI
Tampilan ChatGPT dengan model GPT-5 terbaru dari OpenAI.

Fitur baru lainnya adalah sistem “thinking mode” otomatis. Sebelumnya, pengguna harus memilih model secara manual, namun kini GPT-5 akan aktif sendiri saat menghadapi pertanyaan rumit atau saat diminta untuk “berpikir lebih dalam”. 

Untuk versi gratis, ada batasan penggunaan: setelah kuota tertentu, model akan beralih ke GPT-5 mini. 

Bagi pengembang, OpenAI menyediakan tiga varian lewat API GPT-5, GPT-5 mini, dan GPT-5 nano dengan harga berbeda. 

ChatGPT juga kini punya empat “kepribadian” baru, yakni Cynic, Robot, Listener, dan Bore, serta opsi mengganti warna tema obrolan.

Dalam uji publik, GPT-5 mampu membuat ratusan baris kode untuk game edukasi bahasa Prancis hanya dalam hitungan detik, lalu mengujinya langsung di panggung. 

Model ini menjalani pengujian keamanan selama 5.000 jam untuk mengurangi “halusinasi” dan meningkatkan respons aman. 

Altman menilai GPT-5 semakin mendekatkan OpenAI ke visi AGI (Artificial General Intelligence), meski ia mengakui model ini belum sempurna karena belum bisa belajar dari data real-time. 

Peluncuran ini menandai babak baru persaingan AI global dan diprediksi akan mempengaruhi tren penggunaan chatbot di seluruh dunia.