Berita BorneoTribun: Screen Time hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Screen Time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Screen Time. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2026

Anak Sering Main Gadget? Waspadai Dampak Serius Pada Saraf Dan Otak

Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)
Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)

Jakarta — Penggunaan gawai pada anak kini jadi perhatian serius para ahli kesehatan. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan anak, termasuk sistem saraf.

Menurut Tuty, dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat dari perubahan fisik seperti postur tubuh yang membungkuk. Lebih dari itu, efeknya bisa menjalar ke sistem saraf anak.

“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital di Jakarta, Selasa (17/3).

Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak

Tuty menjelaskan, paparan gawai yang berlebihan pada usia lima hingga 15 tahun—fase penting dalam tumbuh kembang anak—dapat memengaruhi perkembangan secara keseluruhan.

Risiko gangguan ini sangat dipengaruhi oleh:

  • Intensitas penggunaan gawai

  • Durasi waktu layar

  • Keseimbangan aktivitas anak

Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terus-menerus terpaku pada layar.

Potensi Gangguan Hingga Dewasa

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi memicu:

  • Masalah postur tubuh

  • Gangguan otot

  • Penurunan fungsi saraf

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Tuty juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mengawasi penggunaan gawai. Ia menyebut, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas bisa menjadi langkah penting dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi.

Namun, aturan saja tidak cukup.

“Peran keluarga sangat penting, mulai dari mengatur, mendampingi, hingga mengawasi penggunaan gawai anak,” tegasnya.

Otak Anak Butuh Stimulasi Beragam

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi, terutama pada masa golden age.

Namun, jika anak hanya mendapatkan stimulasi yang monoton—misalnya dari game atau konten digital yang berulang perkembangan otak bisa terhambat.

“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi perkembangan kognitif akibat kurangnya variasi stimulasi.

Teknologi Boleh, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya

Rose menegaskan bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan jumlah koneksi antar-saraf. Koneksi ini terbentuk dari pengalaman yang beragam.

Karena itu, anak perlu:

  • Interaksi sosial

  • Aktivitas fisik

  • Pengalaman baru di luar layar

“Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” tutupnya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apakah gawai berbahaya untuk anak?
Tidak selalu. Gawai aman jika digunakan secara bijak dan dengan pengawasan orang tua.

2. Berapa batas aman penggunaan gawai?
Idealnya disesuaikan usia, namun anak tetap harus punya waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial.

3. Apa dampak utama gawai berlebihan?
Mulai dari gangguan postur, masalah saraf, hingga perkembangan kognitif yang tidak optimal.

4. Apa itu brain drop?
Kondisi ketika perkembangan otak tidak maksimal akibat kurangnya variasi stimulasi.

Rabu, 25 Februari 2026

Orang Tua Wajib Tahu Bahaya Screen Time bagi Tumbuh Kembang Anak

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua
Dokter IDAI mengingatkan bahaya screen time berlebih pada anak, mulai dari speech delay, gangguan tidur, obesitas hingga risiko virtual autism. Orang tua perlu batasi dan dampingi penggunaan gawai. (Gambar ilustrasi IA)

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua

JAKARTA -- Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K), mengingatkan bahwa paparan layar atau screen time berlebihan pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesehatan. Dalam seminar media yang digelar secara daring di Jakarta pada Selasa, ia menegaskan bahwa dampak screen time tidak hanya terasa dalam waktu singkat, tetapi juga bisa berlanjut hingga bertahun-tahun.

Menurut dr. Farid, dampak jangka pendek screen time berlebih umumnya muncul dalam kurun waktu kurang dari lima tahun paparan. Risiko ini terutama mengintai balita, khususnya anak usia di bawah dua tahun. Anak dapat mengalami keterlambatan motorik, speech delay atau keterlambatan bicara, gangguan perkembangan kognitif, hingga masalah perilaku seperti hiperaktif, impulsif, dan sulit berkonsentrasi.

Ia juga menyoroti fenomena yang kerap disebut sebagai virtual autism, yaitu kondisi gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang gejalanya menyerupai autisme. Meski bukan autisme secara klinis, pola perilakunya bisa sangat mirip sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

Tak hanya itu, screen time berlebih juga berdampak pada kualitas tidur anak. Paparan cahaya biru buatan dari gawai dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, anak menjadi sulit tidur, jam istirahat berkurang, dan kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.

Dalam jangka panjang, paparan layar tanpa kontrol selama lebih dari lima tahun berisiko menyebabkan gangguan fokus, penurunan prestasi akademik, obesitas, hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk di depan layar juga memperbesar kemungkinan anak mengalami masalah berat badan.

Dr. Farid menekankan bahwa screen time disebut berlebihan bukan semata-mata karena durasi, tetapi juga karena tidak adanya seleksi konten dan minimnya pendampingan orang tua. Ia mengingatkan, orang tua tidak cukup hanya duduk di samping anak. Pendampingan harus aktif, dengan membantu anak memahami apa yang ditonton dan menghubungkannya dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini penting agar penggunaan gawai tidak menggantikan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan stimulasi langsung yang sangat dibutuhkan dalam masa emas tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan lebih bijak dalam mengatur waktu layar serta memastikan konten yang dikonsumsi sesuai usia dan bernilai edukatif.

Dengan pengawasan yang tepat, teknologi tetap bisa dimanfaatkan secara positif. Namun tanpa kontrol, dampaknya bisa memengaruhi masa depan anak. Karena itu, peran keluarga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara dunia digital dan perkembangan optimal buah hati.

FAQ

Apa itu screen time pada anak?
Screen time adalah durasi waktu yang dihabiskan anak untuk menatap layar seperti ponsel, tablet, televisi, atau komputer.

Berapa batas aman screen time untuk balita?
Anak di bawah dua tahun sebaiknya sangat dibatasi atau dihindarkan dari paparan layar, kecuali untuk komunikasi video dengan pendampingan orang tua.

Apa dampak screen time berlebih pada balita?
Risikonya meliputi keterlambatan bicara, gangguan motorik, masalah perilaku, hingga gangguan tidur.

Apa yang dimaksud virtual autism?
Istilah ini merujuk pada gejala gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang menyerupai autisme.

Bagaimana cara mencegah dampak buruk screen time?
Batasi durasi, pilih konten sesuai usia, dampingi secara aktif, dan dorong anak melakukan aktivitas fisik serta interaksi sosial langsung.

Verifikasi Usia Digital Diperkuat dengan Teknologi Age Inferential

Pemerintah dan platform digital bentuk sistem pengawasan bersama melalui dashboard terpadu dan teknologi age inferential untuk memperkuat perlindungan anak dari konten negatif di ruang digital.
Pemerintah dan platform digital bentuk sistem pengawasan bersama melalui dashboard terpadu dan teknologi age inferential untuk memperkuat perlindungan anak dari konten negatif di ruang digital.

Pemerintah dan Platform Digital Bentuk Sistem Pengawasan Bersama Lindungi Anak dari Konten Negatif

JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital bersama sejumlah platform digital resmi membentuk sistem pengawasan bersama untuk memperkuat perlindungan anak dari paparan konten negatif di ruang digital. Langkah ini dibahas dalam sejumlah pertemuan dan menjadi tindak lanjut implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa mekanisme pengawasan telah disepakati bersama para Penyelenggara Sistem Elektronik atau platform digital. Pernyataan tersebut disampaikan dalam siniar di Antara Heritage Center, Jakarta, Selasa.

Menurut Nezar, pemerintah dan platform digital sepakat membangun dashboard bersama sebagai sistem monitoring dan pelaporan. Dashboard ini akan menjadi pusat laporan dari para PSE untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan perlindungan anak di ruang digital.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas, yang dirancang untuk memperkuat tata kelola sistem elektronik agar lebih ramah dan aman bagi anak.

Dashboard Bersama untuk Pengawasan Digital

Melalui dashboard bersama, pemerintah dapat memantau laporan secara lebih terintegrasi dan real-time. Sistem ini memungkinkan pengawasan terhadap konten yang berpotensi membahayakan anak, termasuk kekerasan, pornografi, hingga eksploitasi digital.

Kehadiran sistem ini menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua atau sekolah. Anak dapat mengakses internet kapan saja melalui gawai pribadi, sehingga tanggung jawab juga melekat pada penyelenggara platform digital.

Dorongan Fitur Screen Time dan Digital Wellness

Pemerintah juga mendorong platform digital untuk memperkuat fitur pengaturan waktu layar atau screen time serta fitur digital wellness. Tujuannya agar penggunaan gawai oleh anak lebih terkontrol dan seimbang.

Fitur-fitur ini diharapkan mampu membantu orang tua memantau aktivitas anak sekaligus mendorong kebiasaan digital yang sehat. Dengan kolaborasi teknologi dan regulasi, perlindungan anak menjadi lebih komprehensif.

Teknologi Age Inferential Jadi Solusi Baru

Salah satu inovasi yang didorong adalah teknologi age inferential. Teknologi ini memungkinkan algoritma membaca pola perilaku pengguna untuk memperkirakan usia berdasarkan konten yang dikonsumsi.

Jika sistem mendeteksi pola penggunaan yang menunjukkan perilaku anak pada akun yang terdaftar sebagai dewasa, maka akses terhadap konten berisiko dapat dibatasi secara otomatis.

Nezar menilai metode ini lebih akurat dibandingkan verifikasi usia konvensional yang hanya mengandalkan input tanggal lahir saat registrasi. Beberapa platform digital global bahkan tengah melakukan uji coba untuk menguji efektivitas teknologi tersebut.

Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan platform digital dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan ramah anak.

FAQ Seputar Sistem Pengawasan Digital untuk Perlindungan Anak

Apa itu dashboard pengawasan bersama?
Dashboard ini adalah sistem terpadu yang digunakan pemerintah dan platform digital untuk memantau serta menerima laporan terkait perlindungan anak di ruang digital.

Apa tujuan PP Tunas?
PP Tunas bertujuan memperkuat tata kelola sistem elektronik agar lebih melindungi anak dari paparan konten negatif dan risiko digital lainnya.

Bagaimana cara kerja teknologi age inferential?
Teknologi ini membaca pola perilaku pengguna berdasarkan aktivitas dan konten yang dikonsumsi untuk memperkirakan usia secara otomatis.

Apakah orang tua masih memiliki peran penting?
Tentu. Meski ada sistem teknologi dan regulasi, pengawasan dan edukasi dari orang tua tetap menjadi fondasi utama perlindungan anak.