![]() |
| Wahana Lunar Trailblazer NASA saat simulasi misi pemetaan air di Bulan sebelum diluncurkan. |
JAKARTA - NASA resmi menghentikan misi Lunar Trailblazer pada 31 Juli 2025 setelah kehilangan kontak dengan wahana tersebut sejak 12 jam pasca peluncuran dari Florida, 26 Februari lalu. Misi ini seharusnya memetakan sumber air di Bulan sebagai bagian penting dari program Artemis untuk mendukung rencana kolonisasi satelit Bumi itu.
Lunar Trailblazer diluncurkan menggunakan roket SpaceX Falcon 9 dari Cape Canaveral, Florida, dan sempat berjalan sesuai rencana sebelum terjadi masalah.
![]() |
| Wahana Lunar Trailblazer NASA saat simulasi misi pemetaan air di Bulan sebelum diluncurkan. |
Menurut laporan NASA, wahana yang dioperasikan California Institute of Technology itu tiba-tiba hilang sinyal sebelum mesin pendorongnya sempat dinyalakan untuk koreksi lintasan menuju Bulan.
Data radar dari Bumi mengindikasikan wahana mengalami rotasi tak terkendali di luar angkasa, membuat panel suryanya tidak menghadap ke Matahari. Akibatnya, baterai cepat habis dan sistem mati total. Berbulan-bulan upaya menghubungi kembali wahana dilakukan, termasuk melibatkan lembaga internasional, namun semua gagal.
"Ini memang pukulan telak bagi program Artemis, tapi setiap misi selalu memberi pelajaran penting," kata perwakilan NASA dalam rilis resminya. NASA menegaskan bahwa teknologi yang dikembangkan, seperti spektrometer HVM3 buatan Jet Propulsion Laboratory, akan digunakan di proyek mendatang.
Meski misi ini gagal, NASA optimistis teknologi pengamatan seperti UCIS-Moon akan segera memberikan peta distribusi air dan mineral di Bulan dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya.
Namun, kegagalan Lunar Trailblazer membuat rencana pembangunan pangkalan manusia di Bulan terpaksa mundur dari jadwal awal. Dunia kini harus sedikit lebih sabar menunggu era koloni luar angkasa dimulai.

