![]() |
| Mikrofon Mati di Tengah Pidato Soal Palestina di PBB, PM Kanada dan Prabowo Alami Hal yang Sama. |
Borneo Tribun – Peristiwa unik terjadi di Sidang Tingkat Tinggi PBB yang membahas solusi dua negara bagi Palestina dan Israel. Sejumlah pemimpin dunia mengalami kendala teknis karena mikrofon mati di tengah pidato soal Palestina di PBB. Hal ini dialami oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto hingga Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Kejadian ini bukan karena gangguan teknis, melainkan aturan resmi yang diberlakukan. Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memimpin jalannya KTT bersama Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, sudah menegaskan bahwa setiap kepala negara hanya diberi waktu 5 menit untuk menyampaikan pidato. Sementara itu, para menteri atau perwakilan lain hanya diberi waktu 3 menit.
“Delegasi dibatasi 5 menit untuk kepala pemerintahan, dan untuk menteri dibatasi 3 menit. Mikrofon akan dimatikan secara otomatis,” jelas Macron sebelum membuka sesi pidato para pemimpin dunia.
Prabowo dan Momen Mikrofon Mati
Setelah aturan diumumkan, giliran Raja Yordania Abdullah II yang berbicara pertama, disusul Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Pada gilirannya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto juga sempat mengalami hal serupa.
Saat menyampaikan kalimat “Kami bersedia menyediakan pasukan perdamaian”, mikrofon yang digunakan Prabowo mendadak mati. Namun, Prabowo tetap melanjutkan pidatonya tanpa terhenti. Beliau mengakhiri pidatonya sekitar satu menit kemudian, dan langsung disambut tepuk tangan hangat dari para delegasi yang hadir.
Momen ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan bagaimana Prabowo tetap tenang meski aturan waktu membatasi penyampaian pesannya.
Mark Carney: “Kanada Mengakui Negara Palestina”
Tidak hanya Prabowo, PM Kanada Mark Carney juga mengalami kejadian serupa. Dalam pidatonya, Carney dengan tegas menyatakan dukungan penuh Kanada terhadap berdirinya negara Palestina.
“Sejak 1947, setiap pemerintahan Kanada mendukung solusi dua negara demi perdamaian abadi di Timur Tengah. Posisi ini adalah wujud dari visi untuk mendukung Palestina yang berdaulat dan demokratis, berdampingan dengan Israel,” ujar Carney dalam bahasa Inggris, lalu melanjutkan dalam bahasa Prancis.
Pernyataan Carney sontak disambut tepuk tangan meriah dari para delegasi. Bahkan, ia menegaskan secara terbuka: “Kanada mengakui negara Palestina.”
Lebih lanjut, Carney menegaskan bahwa negara Palestina seharusnya dipimpin otoritas Palestina, bukan kelompok Hamas. Ia juga menyebut bahwa perdamaian sejati di kawasan hanya bisa tercapai dengan solusi dua negara yang adil.
Namun, tepat setelah durasi 5 menit pidatonya berakhir, mikrofon Carney langsung mati. Meski begitu, sama seperti Prabowo, ia tetap melanjutkan pidatonya hingga selesai sekitar satu menit kemudian.
Aturan Ketat demi Efisiensi
Aturan batas waktu ini diberlakukan untuk memastikan semua pemimpin dunia yang hadir bisa mendapatkan kesempatan berbicara. Dengan banyaknya delegasi, pembatasan waktu dianggap sebagai solusi agar forum tetap berjalan efisien dan fokus.
Walaupun sempat menimbulkan momen menarik seperti mikrofon mati di tengah pidato soal Palestina di PBB, aturan ini justru menunjukkan bahwa semua pemimpin diperlakukan sama tanpa pengecualian, termasuk kepala negara besar maupun menteri.
Kejadian mikrofon mati di tengah pidato soal Palestina di PBB yang dialami oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan PM Kanada Mark Carney menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dunia. Meski mikrofon mati secara otomatis, keduanya tetap menyampaikan pesan pentingnya tentang dukungan terhadap solusi dua negara bagi Palestina dan Israel.
Momen ini sekaligus menegaskan komitmen para pemimpin dunia, bahwa meskipun waktu terbatas, pesan perdamaian tetap harus sampai.
