Kampung Anggur Duyu Bangkit: Dari Trauma Gempa Menjadi Sumber Rezeki Baru bagi Warga Palu

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan

Sabtu, 22 November 2025

Kampung Anggur Duyu Bangkit: Dari Trauma Gempa Menjadi Sumber Rezeki Baru bagi Warga Palu

Kampung Anggur Duyu Bangkit: Dari Trauma Gempa Menjadi Sumber Rezeki Baru bagi Warga Palu
Kampung Anggur Duyu Bangkit: Dari Trauma Gempa Menjadi Sumber Rezeki Baru bagi Warga Palu.

PALU - Program Kampung Reforma Agraria benar-benar mengubah kehidupan masyarakat di Desa Duyu, Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Setelah dihantam gempa besar pada 2018, banyak warga kehilangan semangat dan aktivitas sehari-hari. 

Namun kehadiran kebun-kebun anggur yang lahir dari program Reforma Agraria perlahan menjadi titik balik bagi desa ini. 

Tanaman yang awalnya tumbuh dari upaya sederhana pasca bencana, kini berkembang menjadi sumber penghasilan yang mampu menghidupkan tidak hanya petani, tetapi juga warga sekitar.

Salah satu yang merasakan perubahan besar adalah Vicky, usia 30 tahun, yang kini menjadi Ketua Kelompok Usaha Doyou Grape. 

Kelompok ini membina sekitar 20 anggota, sebagian besar adalah para ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. 

Bersama kelompoknya, Vicky mengolah hasil kebun anggur menjadi berbagai produk menarik, mulai dari keripik daun anggur, mie daun anggur, sampai selai dan sirup.

“Dulu banyak ibu-ibu di kampung yang tidak punya kegiatan. Setelah Duyu ditetapkan sebagai Kampung Reforma Agraria dan mulai menanam anggur, kami sepakat membentuk kelompok. Kami sering ikut pelatihan dari BPN dan dinas. Alhamdulillah, sekarang bisa punya penghasilan sendiri,” kata Vicky, Selasa (04/11/2025).

Kelompok Doyou Grape mulai berdiri tahun 2021. Pendorongnya sederhana: warga melihat pesatnya perkembangan kebun anggur di Desa Duyu. 

Pengolahan dilakukan di rumah sekretariat, sementara penjualan dilakukan berdasarkan pesanan. 

Setiap kali ada undangan pameran dari BPN atau pemerintah kota, kelompok ini rutin hadir sekaligus menjual produk buatan mereka. 

“Kadang ada pesanan khusus untuk oleh-oleh, bahkan sampai dibawa ke Jawa,” tambah Vicky bangga.

Manfaat lainnya dirasakan oleh Ibu Sartini yang kini berusia 60 tahun. Ia memelihara enam pohon anggur di halaman rumahnya, tiga di antaranya merupakan bantuan dari program Kampung Anggur Duyu Bangkit. 

“Sekali panen bisa dapat sekitar satu juta rupiah,” ujarnya sambil menunjukkan pohon anggur yang tumbuh subur dan berbuah lebat.

Meski panen tidak terjadi setiap bulan, tambahan penghasilan itu sangat membantu kebutuhan keluarganya. Pembeli pun datang dari berbagai daerah seperti Makassar, Gorontalo, hingga Poso. 

Saat musim panen tiba, halaman rumahnya selalu ramai oleh mobil dan pengunjung yang ingin membeli langsung. 

“Bangga sekali lihat kampung ini jadi terkenal. Banyak orang datang,” ucapnya dengan senyum malu-malu.

Kini, Kampung Anggur Duyu Bangkit bukan hanya soal buah anggur, tapi juga tentang harapan yang tumbuh kembali di tengah masyarakat. 

Para ibu yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan kini sibuk merawat tanaman dan mengolah hasil kebun. 

Reforma Agraria memberi ruang bagi warga untuk kembali berdiri dan berkembang. 

Dari halaman kecil tempat pohon anggur tumbuh, lahirlah kebanggaan baru bagi Desa Duyu – bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.