![]() |
| Bangkit dari Nol, Dominic Calvert-Lewin Jadi Senjata Mematikan Leeds Jelang Duel Panas Lawan Man United. |
JAKARTA - Dominic Calvert-Lewin benar-benar seperti terlahir kembali. Striker yang sempat dianggap habis ini kini justru tampil sebagai penyerang Inggris paling tajam saat ini. Bersama Leeds United, namanya kembali diperbincangkan, bahkan mulai dikaitkan lagi dengan Timnas Inggris.
Jika akhir pekan ini ia mampu membantu Leeds menaklukkan Manchester United, statusnya akan naik level. Dari pemain yang dulu diragukan, menjadi pahlawan baru di Elland Road.
Gol Dianulir, Tapi Ancaman Tetap Nyata
Momen itu nyaris sempurna. Naluri tajam, gerakan spontan, dan penyelesaian di kotak enam yard. Ciri khas Dominic Calvert-Lewin. Gol kedelapannya dalam tujuh laga hampir tercipta saat Leeds mengejutkan Liverpool di Anfield.
Sayangnya, bendera asisten wasit terangkat. Ujung sepatu kanannya sedikit melewati garis. Gol dianulir, tapi pesan sudah jelas. Leeds kini punya penyerang paling panas di Inggris.
Rekrutan yang Awalnya Diremehkan
Kilas balik ke Agustus lalu. Saat Daniel Farke mengumumkan langsung bahwa Calvert-Lewin akan bergabung, reaksinya justru dingin. Banyak fans Leeds merasa kurang puas.
Setelah menjuarai Championship, Leeds butuh striker kuat untuk bertahan di Premier League. Joel Piroe memang tajam, tapi dinilai kurang fisik. Masalahnya, kondisi keuangan klub memaksa Farke mengambil risiko: menghidupkan kembali karier striker yang dikenal rawan cedera.
Catatan Calvert-Lewin memang bikin khawatir. Dalam lima tahun terakhir, ia absen 31 pertandingan karena cedera hamstring. Belum lagi statistik xG yang menunjukkan seharusnya ia bisa mencetak hampir 50 gol, tapi realitanya hanya 38.
Tak sedikit yang menilai Leeds hanya mengganti Patrick Bamford dengan versi lain yang sama-sama inkonsisten.
Awal Buruk, Lalu Titik Balik
Debutnya jauh dari kata manis. Masuk sebagai pemain pengganti di ajang Piala Liga melawan Sheffield Wednesday, ia gagal memanfaatkan tiga peluang emas. Drama berlanjut saat tendangan penaltinya melambung tinggi.
Gol perdananya datang lewat sundulan melawan Wolves, tapi setelah itu kembali menghilang selama tujuh laga. Posisi Farke bahkan sempat terancam.
Namun semuanya berubah saat Calvert-Lewin mencuri gol penyeimbang melawan Manchester City. Setelah itu, kran gol terbuka. Tap-in jarak dekat saat menumbangkan Chelsea, penalti krusial kontra Liverpool, hingga sundulan keras ke gawang Brentford.
Leeds pun mulai percaya. Elland Road kembali bersorak. Dan pembicaraan soal Timnas Inggris mulai terdengar lagi.
Lebih Segar, Lebih Kuat, Lebih Fokus
Calvert-Lewin mengaku perubahan mental jadi kunci kebangkitannya. Musim panas ia habiskan bersama keluarga dan menikmati peran sebagai ayah. Jeda itu memberinya perspektif baru.
Pendekatan fisiknya juga berubah. Bukan lagi sekadar membatasi menit bermain, tapi membangun ketahanan tubuh. Hasilnya terasa. Ia mengaku kini berada dalam kondisi paling bugar dalam waktu yang lama.
Dulu dikenal sebagai model majalah, sekarang ia lebih sering berpose dengan trofi Player of the Match.
Layak Kembali ke Timnas Inggris?
Sudah empat setengah tahun sejak caps terakhirnya bersama Inggris. Total empat gol dari 11 penampilan bukan catatan buruk. Ia juga bagian dari skuad Euro 2020 yang kalah di final.
Statistik musim ini bikin pelatih mana pun melirik. Ia masuk 92 persen teratas duel udara dibanding striker di lima liga top Eropa. Sentuhannya sedikit, tapi golnya efektif. Tipikal striker kotak penalti murni.
Dengan performa Ollie Watkins yang naik turun, Ivan Toney yang kurang difavoritkan, dan Callum Wilson yang jarang starter, peluang Calvert-Lewin terbuka lebar sebagai opsi alternatif Harry Kane.
Hantu di Kotak Penalti
Uniknya, Calvert-Lewin sering tak terlihat sepanjang laga. Ia bukan tipe striker yang banyak berlari atau memancing emosi penonton. Tapi saat bola masuk kotak penalti, ia selalu ada.
Sistem Farke yang fleksibel sangat membantunya. Dengan partner di lini depan dan jumlah penyerang yang banyak, Calvert-Lewin bebas mencari ruang. Ia bisa berdiri di posisi yang tak terduga, bahkan tampak offside, lalu muncul sepersekian detik lebih cepat dari bek lawan.
Dua golnya ke gawang Crystal Palace lahir dari situasi lemparan jauh. Reaksi cepat, insting tajam, dan ketenangan jadi senjatanya.
Panggung Besar Menanti
Laga melawan Manchester United bukan pertandingan biasa. Ini duel penuh sejarah, rivalitas War of the Roses, dan kenangan klasik dari Charlton bersaudara hingga gol legendaris Jermaine Beckford.
Enam belas tahun lebih sejak momen ikonik itu, kini giliran Dominic Calvert-Lewin menulis cerita. Jika ia kembali bersinar, bukan cuma kemenangan yang diraih Leeds, tapi juga tiket menuju mimpi terbesarnya: tampil di Piala Dunia musim panas nanti.
Dari pemain yang sempat dianggap gagal, kini ia berdiri sebagai simbol kebangkitan. Dan cerita ini tampaknya belum selesai.
